Showing posts with label TNI. Show all posts
Showing posts with label TNI. Show all posts

Tuesday, 8 December 2015

Megawati Bilang Indonesia Keok jika Diserang Singapura

Presiden Indonesia Kelima, Megawati Soekarnoputri. (Dok. Sindo).

Kekuatan tempur TNI dinilai tidak mampu menahan serangan negara tetanggap seperti Singapura. Maka itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) diminta segera memperbarui peralatan tempur milik TNI.

Presiden Indonesia kelima, Megawati Soekarnoputri menceritakan pengalamannya ketika berlayar menggunakan kapal perang milik TNI. Pada kesempatan itu dia dikabarkan akan ada penyerangan dari sebuah kapal selam.

"Saya diminta pura-pura kalau ada penyerangan dari kapal selam. Tapi saya tanya kepada Jenderal TNI, kapal selam dari mana," ujar Megawati ketika memberikan sambutan dalam Simposium Kebangsaan, Refleksi Nasional Praktek Konstitusi dan Ketatanegaraan Pasca Reformasi di Gedung Nusantara IV, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (7/12/2015).

Kemudian dia mendapat kabar dari seorang Master of Ceremony (MC) kapal perang yang ditumpangi akan melakukan tembakan ke bawah laut untuk membidik kapal selam musuh. Beberapa saat kemudian bom diluncurkan. "Tapi setelah ditunggu beberapa saat, kok sepi. Bom tidak meledak," ucapnya.

Dia menambahkan, peralatan tempur milik TNIyang sudah usang bukan hanya di Angkatan Laut (AL) saja. Menurutnya, peralatan tempur milik TNI Angkatan Udara (AU) dan Angkatan Darat (AD) juga banyak yang sudah usang.

"Saya bilang kalau Singapura pesawatnya serang Indonesia, bisa keok kita. Ini bukan menghina, tapi begitu memang nyatanya," tandasnya.


Sindonews

Detik-detik Menegangkan TNI Taklukan Kota Dili dari Fretilin

Mengenang 40 Tahun Penerjunan Nanggala V Kopasandha

Ilustrasi, (SINDOphoto).

Desingan peluru menghujani anggota Kopassandha saat melakukan penerjunan di Kota Dili, Timor Leste pada 6 Desember 1975 silam.

Beberapa prajurit dari pasukan elite TNI itu selamat, namun beberapa di antaranya terpaksa mendarat di tiang listrik, pepohonan, dan di laut. Bahkan, tidak sedikit yang tewas menjadi martir akibat tertembus peluru dari senjata musuh.

Tercatat, sebanyak 13 prajurit Kopassandha tewas, lima hilang setelah terjun di laut, tujuh prajurit luka-luka. Sedangkan 72 prajurit lainnya batal diterjunkan karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Minimnya informasi intelijen mengenai kekuatan persenjataan musuh, kondisi cuaca, lokasi penerjunan menjadi penyebab utama operasi tidak berjalan mulus.

Namun berkat kegigihan dan keberanian para prajurit yang kini disebut Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Kota Dili berhasil dikuasai hanya dalam waktu tiga jam dari tangan Fretilin, kelompok bersenjata yang berideologi komunis.

Begitulah suasana 40 tahun lalu, ketika pasukan Baret Merah berusaha merebut daerah yang pernah menjadi provinsi terakhir Indonesia.

"Serbuan ke Kota Dili saya anggap sebagai tragedi kemanusiaan yang dialami Group Parako Nanggala V. Itu sangat sulit saya lupakan," kenang mantan Komandan Detasemen Nanggala V Kopassandha, Letjen Purn. Soegito saat menghadiri Peringatan 40 Tahun Penerjunan di Kota Dili, di Gedung Chandrasa, Mako Kopassus, Cijantung, kemarin.

Bagaimana tidak, minimnya persiapan membuat prajurit berlatih secara sederhana dengan perbekalan yang tidak memadai.

Bahkan di tengah ketidakpastian mengenai waktu operasi, para prajurit yang saat itu berada di Lanud Iswahjudi, Madiun, tidak mendapat perawatan dan pelayanan semestinya sebagai pasukan yang akan bertempur memertaruhkan nyawanya.

"Sungguh sangat menyedihkan, saya sebagai komandan terpaksa mengambil tindakan dengan menarik uang lauk pauk anggota supaya latihan bisa dilaksanakan. Sebanyak 263 prajurit untuk makan saja harus cari sendiri," tuturnya.

Bahkan ketika waktu penerjunan akan dilaksanakan, para prajurit Kopassandha harus duduk berdesak-desakan selama enam jam penerbangan dengan dibebani perlengkapan seperti, payung utama, payung cadangan, senjata lengkap dan perbekalan seberat total 35 Kg.

"Tentu saja itu menyisakan letih, lelah, frustasi, karenanya begitu pintu pesawat terbuka banyak anggota Kopassandha yang terkejut disambut dengan Desingan peluru musuh," tuturnya.

 "Tapi sebagai pasukan yang memang disiapkan, kami tidak pernah menyesali dan menyalahkan siapapun. Kami hanya berharap semua ini bisa jadi pelajaran," imbuhnya.

Pengalaman yang sama juga dirasakan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan, yang saat itu menjabat posisi sebagai Komandan Kompi A.

"Saya masih ingat semuanya dengan jelas, apa yang namanya perjalanan kita itu. Saya terharu karena saya bisa begini karena prajurit kita yang sudah pergi (gugur)," ucapnya sambil meneteskan air mata.

Diakui oleh Luhut, saat itu semua prajurit dalam kondisi tertekan, dan tegang. Saat terbang menuju lokasi penerjunan prajurit pun harus berdesak-desakan selama enam jam dengan perlengkapan yang cukup berat, sehingga tidak memungkin untuk bergerak.

Bahkan dirinya harus berdiri sekitar satu jam sebelum terjun, sebuah kondisi yang tidak biasa, mengingat penerjun biasanya hanya berdiri selama 10 menit.

"Kami di pesawat begitu keluar dari pesawat bukan karena berani saja tapi juga karena kelelahan. Ada prajurit yang kencing dan buang air di celana karena sudah tidak bisa apa-apa," kenang mantan Dansat Gultor 81 ini.

Meski memiliki keterbatasan, namun operasi dinyatakan berhasil karena tiga sasaran berupa, bandara, pusat pemerintahan dan pelabuhan mampu direbut Kopassandha.

"Saya ingin memberikan pelajaran kepada prajurit-prajurit Kopassus untuk melakukan perencanaan yang baik dan yang paling penting saya pikir adalah spirit pasukan khusus itu tidak pernah menyerah," tandas Luhut.

Sidonews

Monday, 23 November 2015

TNI Tarik Pasukan Kebakaran Hutan

Sebanyak 1.050 anggota Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan asal Yon Kav 1 Cijantung, Armed 9 (Purwakarta, Jawa Barat), dan Marinir (Cilandak, Jakarta) yang ditugaskan memadamkan api di Sumsel dipulangkan ke satuan masing-masing melalui jalur laut di Pelabuhan Boom Baru Palembang Senin, (23/11/2015).

Tim kedua ini dipulangkan setelah bertugas memadamkan lahan sejak 22 Oktober lalu. Mereka dikembalikan ke satuan masing-masing usai berhasil menunaikan tugas.

Pelepasan anggota TNI tim kedua tersebut dipimpin langsung oleh Panglima Kodam (Pangdam) II/Sriwijaya Mayjend TNI Purwandi Mukson yang juga didampingi Kapolda Sumsel, Irjen Pol Iza Fadri.

Purwadi usai pelepasan TNI mengatakan, apa yang dilakukan tim kedua ini terbilang luar biasa, mereka melanjutkan tugas yang dilakukan tim pertama, di antaranya normalisasi sekat kanal di delapan titik hingga mencapai jarak 200 km.

Selain itu, yang patut diapresiasi yakni penemuan lokasi pembalakan liar di Musi Banyuasin. Kasus pidana ini sudah diserahkan ke pihak kepolisian untuk ditidaklanjuti dalam pencarian tersangkanya.
Dalam kasus pembalakan liar ini, personel TNI menemukan beberapa unit sepeda motor yang sudah dimodifikasi untuk mengangkut kayu yang sudah ditinggalkan pemiliknya.

Ke depan Purwadi mengatakan perlu dilakukan evaluasi mengenai kesiapan dalam menanaggulangi bencana kabut asap.

jakartagreater

Saturday, 21 November 2015

Sikap Militer Tunduk kepada Sipil Dinilai Sudah Kebablasan

PANGLIMA TNI JADIKAN KEBERSAMAAN TNI DAN POLRI SEBAGAI DENYUT DALAM PENGABDIAN - Pendidikan ini mengandung arti sebuah kebersamaan, kekompakan, rasa setia kawan, senasib dan seperjuangan, maka jadikan kebersamaan antara TNI dengan Polri dalam denyut pengabdianmu kelak. Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada acara Wisuda Prajurit dan Bhayangkara Akademi TNI dan Akpol sebanyak 800 orang, di Lapangan Upacara Sapta Marga Akmil Magelang, Jawa Tengah, Selasa (3/11/2015). TRIBUNNEWS/Puspen TNI

 Sikap militer yang sudah terlalu tunduk kepada sipil dinilai sudah kebablasan. Karena itu sekarang tidak perlu melakukan reformasi lagi di tubuh TNI, sebaliknya kalangan sipil yang harus direformasi. "Lihat saja sekarang ini ada Prajurit TNI yang tunduk pada otoritas bandara dan pelabuhan, karena dia bertugas sebagai satpam di situ. Perilaku seperti ini jelas harus diluruskan," ujar Kepala Staf Umum (Kasum) TNI 2011-2012 Letnan Jenderal Purnawirawan J Suryo Prabowo dalam pernyataannya, Kamis(19/11/2015).

Menurut Suryo Prabowo rasanya berlebihan apabila banyak pihak saat ini mempertanyakan realisasi dari reformasi TNI. Secara faktual, lanjut Suryo Prabowo reformasi di tubuh TNI sudah tuntas.

"Sepertinya berlebihan, bila hari gini masih ada yang mempertanyakan realisasi dari reformasi TNI. Secara faktual Reformasi TNI ini sudah tuntas," ujar Suryo Prabowo.

Lebih jauh Suryo Prabowo menjelaskan penilaian dirinya terhadap sudah tuntasnya reformasi TNI bukan penilaian subjektif semata. Sebelumnya,kata dia Presiden keenam SBY sudah menyebut hal tersebut.


"Itu (reformasi di TNI sudah tuntas, red) bukan penilaian subyektif saya, melainkan penilaian Presiden SBY setahun lalu saat HUT TNI. Saat itu ditegaskan bahwa Reformasi TNI dapat diselesaikan dan dituntaskan,"ujarnya.

Menurut Mantan Pangdam Jaya ini, bila reformasi hanya diartikan tunduknya militer pada otoritas sipil, maka TNI sudah berperilaku lebih dari itu. Malah sudah kebablasan. Peraih Adhi Makayasa 1986 ini menambahkan sekarang ini yang perlu direformasi justru pemerintah (otoritas sipil) di pusat dan di daerah yang senang bergaya militeristik.

Hal seperti ini tentu tidak boleh dibiarkan begitu saja agar mereka tidak menyalahgunakan TNI untuk melindungi kekuasaannya, dan tidak seenaknya minta TNI untuk menyelesaikan tugas-tugas kementeriannya yang terbengkalai.

"TNI itu alat negara. Bukan alatnya menteri. Bukan juga alatnya gubernur yang bisa seenaknya diperintah seperti Satpol PP untuk ngawal truk sampah," pungkas Suryo.


 Tribunnews

Hujan Mulai Turun, Seribu Serdadu Kembali ke Barak

Seorang anggota TNI berusaha memadamkan api yang membakat area perkebunan di Kampar, Riau, 11 September 2015. Ratusan orang sakit pernafasan akibat asap yang ditimbulkan. REUTERS/YT Haryono

Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan bakal ditarik Markas Besar Tentara Nasional Indonesia. Penarikan dilakukan setelah hujan mulai turun di wilayah itu. Sejak turun hujan, jumlah titik api semakin berkurang dan asap hampir menghilang dari wilayah itu.
Kepala Penerangan Kodam II Sriwijaya Kolonel Arh Syaepul Mukti Ginanjar mengatakan personel akan dikembalikan ke kesatuan asal. "Senin nanti akan dilepas langsung oleh Bapak Pangdam," ucap Syaepul Mukti, Sabtu, 21 November 2015.

Menurut dia, pada gelombang kedua ini, terdapat seribu prajurit TNI dari Mabes TNI yang terdiri atas 2 SSY personel TNI Angkatan Darat (kostrad) dengan kekuatan 660 orang, 1 SSY dari marinir dengan kekuatan 330 orang, dan 10 personel Pokko TNI AD. Direncanakan, Satgas Karhutla yang sudah bertugas sejak 22 Oktober lalu akan dilepas dan dikembalikan ke induk pasukan pada Senin pekan depan di Pelabuhan Boom Baru, Palembang.

Penarikan Satgas dilakukan menyusul sudah turunnya hujan dan semakin menurunnya jumlah titik api di Sumatera Selatan, khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Musi Banyuasin. Walaupun demikian, sambil melaksanakan konsolidasi dan menunggu waktu kembali, Satgas Karhutla yang sudah bertugas di wilayah Sumatera Selatan sekitar sebulan ini masih terus bekerja.

Komandan Satgas Karhutla Sumatera Selatan Kolonel Inf Tri Winarno menuturkan seribu prajurit yang akan mengakhiri tugas pemadaman ini menggantikan 1.059 personel, yang juga berasal dari kostrad dan marinir pada September 2015. Selanjutnya tugas operasi akan diserahkan kepada pihak Kodam II Sriwijaya. "Ada personel dari Kodam II Sriwijaya, termasuk dari Korem Gapo, yang masuk pos," ucap Tri Winarno, yang juga menjabat Danrem Garuda Dempo.
 

Tempo

Tuesday, 17 November 2015

Seribu Personil TNI Terjun Subuh ‘Bebaskan Sandera’ di Morotai

Penerjunan yang dilakukan pasukan LINUD Selasa (17/11) pagi

Latihan perang yang digelar TNI di kawasan pulau Morotai  dimulai Selasa (17/11) pagi subuh sekitar pukul 05.00 WIT. Untuk latihan ini diawali dengan  adanya seribu personil anggota TNI melakukan penerjunan   membebaskan Morotai. Mereka yang ikut terjun itu berasal dari pasukan lintas udara (LINUD).Pasukan ini diangkut menggunakan pesawat milik TNI T50KOK.




Dalam penerjunan ini, pasukan ini digambarkan melakukan pembebasan bandara  yang telah dikuasai pasukan musuh.  Simulasi ini sendiri merupakan bagian dari latihan perang yang digelar TNI di Pulau Morotai.  Dalam latihanitu, LINUD TNI mengepung  Bandar Leo Watimena untuk membebaskan para sandera yang disandera pasukan  musuh. 

Danlanal Morotai Letkol  (P)  Iwan Kusumah SE menjelaskan, dalam waktu yang sama dalam latihan lainnya  pasukan TNI Angkatan darat melakukan simulasi  membebaskan sandera di kantor bupati.  Simulasi ini juga digelar Selasa pagi subuh. Dalam simulasi ini  pihak TNI menggerakan ribuan personilnya mengepung  kantor Bupati   di kawasan Desa Darume. Aksi ini untuk membebaskan para sandera yang ditawan pasukan separatis.



Sementara itu di saat yang sama juga, kapal perang milik TNI Angkatan laut ikut menyandera salah satu kapal musuh  untuk membebaskan para sandera yang disandera di kapal perang milik kelompok separatis itu. Proses pembebasan para sandera ini dilaksanakan sekitar pukul 08,00 WIT. (tapsek)

Monday, 16 November 2015

TNI AL Godok Pasukannya Miliki Kemampuan Hadapi Ancaman Teror

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAL) Laksamana Ade Supandi 

TNI Angkatan Laut terus melakukan pembinaan pasukan untuk meningkatkan kemampuan prajurit menjawab tantangan masa depan yang lebih berat.
 
Kepada wartawan saat ditanya kesiapan TNI AL soal aksi terorisme yang kembali marak Kepala Staf Angkatan Udara (KSAL) Laksamana Ade Supandi mengatakan, pihaknya siap mengantisipasi tindakan terorisme.

"Sudah dilakukan, itu komando Gabungan Khusus TNI untuk penanggulangan teror ini. Kami harus solid dengan Polri mengantisipasi aksi terorisme," kata Ade saat ditemui usai upacara HUT ke-70 Marinir di Markas Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (15/11/2015).

Dikatakan Ade, bukan hanya pasukan gabungan antar kesatuan di tubuh TNI saja yang mempersiapkan menghadapi aksi teror. Angkatan Laut sendiri melalui pasukan elitnya sudah dibekali kemampuan untuk menghadapi ancaman teror.

"Untuk kegiatan pembinaan kompetensi satuan, kami tetap melaksanakan, dalam hal ini TNI AL lakukan persiapan Denjaka untuk mampu melakukan peperangan khusus, juga penanggulangan terorisme. Selain itu juga pasukan Taipip, intai amphibi ini kan pasukan khusus, dua satuan ini juga disiapkan, selain pasukan katak," kata Ade.

Diketahui, sebuah bom meledak di luar Stade de France, Paris tempat laga persahabatan antara Perancis dan Jerman, Jumat (13/11/2015) malam.

Selain bom, Paris juga diteror aksi penembakan di enam titik, akibatnya beberapa objek wisata di Paris pun ditutup sementara. Pengelola Menara Eiffel mengumumkan bahwa obyek wisata ternama itu akan ditutup hingga waktu yang tidak terbatas mulai Sabtu (14/11/2015) siang ini.

Sebelumnya, pemerintah kota Paris telah memutuskan bahwa fasilitas umum, seperti perpustakaan, museum, gelanggang olahraga, universitas, dan sekolah, akan ditutup pada Sabtu akhir pekan ini.

Kendaraan TNI Kecelakaan di Poso, Lima Orang Meninggal


Rombongan Batalyon Infanteri Lintas Udara (Linud) 433/JS Komando Strategis Angkatan Darat mengalami kecelakaan di Padeha, Desa Sedoa, Lore Utara, Poso, Minggu (15/11) pagi. Rencananya rombongan tersebut akan menggelar latihan rutin.

Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Tatang Sulaiman menuturkan kecelakaan terjadi karena salah satu kendaraan pengangkut berisikan pasukan dari Lanud 433/JS Kostrad berusaha menyalip kendaraan di depannya.

"Sementara informasi yang diterima, kecelakaan terjadi ketika akan melakukan latihan. Rencananya besok Panglima TNI akan meninjau langsung ke lokasi," ujar tanag kepada CNN Indonesia, Minggu (15/11).

Tatang mengatakan evakuasi sudah selesai dilakukan dan korban luka telah dilarikan ke rumah sakit. Sementara, korban meninggal disemayamkan di markas komando Linud 433/JS Kostrad.

"Bila sudah selesai semuanya, korban akan diserahkan kerumah duka masing-masing untuk disemayamkan. Prosesi pemakaman akan dilakukan oleh satuan teritorial atau komando daerah militer yang berada di tempat tinggal anggota yang meninggal," ujar Tatang.

Tatang menceritakan kornologi kecelakaan bermula ketika Satuan Tugas Operasi Camar Maleo 4 dari Batalyon Linud 433/JS Kostrad dengan menggunakan lima unit truk yang salah satunya dikemudikan oleh Kapten Yustianto berangkat dari Markas Yonif 711/RKS menuju sektor 4 yang berada di kawasan Napu, Poso. Sekitar pukul 04.30 WITA, Minggu (15/11), konvoi pasukan tersebut mampir ke Markas Kepolisian Sekitar (Polsek) Palolo, Kabupaten Sigi untuk beristirahat dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju Napu sekitar pukul 08.00 WITA.

"Pada pukul 10.00 WITA di daerah Padeha, kendaraan yang dikemudikan oleh Kapten Yustianto brusaha menyalip kendaraan yang barada di depannya yang dikemudikan oleh Letnan Satu Syarif. Saat menyalip kendaraan tersebut, terjadi kecelakaan yang menyebabkan mobil terbalik dan para penumpang masuk ke jurang," ujar Tatang.Tatang menyampaikan kecelakaan tersebut menyebabkan lima orang meninggal dunia, di antaranya Prajurit Kepala (Praka) Ahmad Darman, Praka Sulaiman, Praka Mukhtar, Praka Makmur dan Sersan Dua (Serda) Junaedi.

Sementara itu, 16 korban yang mengalami kondisi luka-luka, di antaranya Kapten Yuskaryanto, Prajurit Satu (Pratu) Arnol, Kopral Dua (Kopda) Ridwan, Sersan Mayor (Serma) Rohani, Praka Efendi, Pratu Sainal, Praka Dedi, Praka Salam, Prajurit Dua (Prada) Abdul Aziz, Sersan Satu (Sertu) Asalaudi, Kopda Sulaiman, Kopral Kepala (Kopka) Risman, Praka Rismani, Sertu Hagani, Kopda Ruslin dan seorang supir dari kalangan sipil bernama Syaiful. (gir/gir)


CNN 

Sunday, 15 November 2015

Kopassus Ajak Mahasiswa Ekspedisi NKRI Papua Barat 2016

Tim Ekspedisi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengajak Mahasiswa Sorong untuk menjadi peserta Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016.

Tim Ekspedisi Komando Pasukan Khusus (Kopassus) mengajak Mahasiswa Sorong untuk menjadi peserta Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Operasi Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016 Letkol Inf Rachmad PS, pada pelaksanaa sosialisasi Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016 di Aula Kodim 1704/Sorong, Papua Barat, Sabtu (14/11/2015).

"Ekspedisi NKRI ini merupakan kolaborasi antara TNI AD,TNI AL,TNI AU ,Polri, Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah, Perguruan Tinggi ,Mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat dibawah koordinator Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan," kata Rachmad.

Dia berharap mahasiswa Papua banyak yang ikut terlibat sebagai peserta ekspedisi NKRI 2016,karena ekspedisi ini selain sebagai silaturahmi nasional juga memberikan manfaat bagi mahasiswa dan kontribusi kepada pemerintah daerahnya.

Ekspedisi yang mengusung tema 'Peduli dan lestarikan alam Indonesia' bertujuan mendata dan memetakan semua potensi sumber daya alam dan sumber Daya manusia, mendorong peningkatan kesejahteraan sosial, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan pertahanan keamanan nasional.

Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016 dibuka untuk umum baik Mahasiswa maupun masyarakat umum sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan. Informasi pendaftaran dapat dilihat di website Ekspedisi NKRI www.ekspedisinkri.com , twitter @ekspedinkri atau kepada staf Posko Utama Ekspedisi NKRI : Kapten inf Fiktor 0813222244092, Pelda Ary Nugroho 081389028902, serka Aliki 081383367052.

Saturday, 14 November 2015

Prajurit TNI Ajarkan Cara Bercocok Tanam pada Masyarakat Lokal Afrika Tengah

Prajurit TNI Satgas Kizi (Satuan Tugas Kompi Zeni) Kontingen Garuda XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) dibawah pimpinan Letkol Czi Denden Sumarlin, S.E. selaku Komandan Satgas (Dansatgas) yang tengah melaksanakan misi perdamaian PBB di Central Africa Republic (CAR), juga mengajarkan cara bercocok tanam kepada masyarakat lokal di Afrika Tengah. FOTO: DOK.TNI for JPNN.com

Benua Afrika dikenal dengan suhunya yang sangat ekstrem serta tumbuhan Kaktus yang menjadi ciri khas di daerah gurun. Namun, dengan metode dan tata cara tanam yang benar, tanaman sayuran dapat juga tumbuh dengan subur, seperti yang dilakukan oleh Prajurit TNI Satgas Kizi (Satuan Tugas Kompi Zeni) Kontingen Garuda XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) dibawah pimpinan Letkol Czi Denden Sumarlin, S.E. selaku Komandan Satgas (Dansatgas) yang tengah melaksanakan misi perdamaian PBB di Central Africa Republic (CAR).

Menurut Letkol Czi Denden Sumarlin, jenis sayuran yang telah dikembangkan di Kota Bangui, Afrika Tengah diantaranya tomat, cabe, kangkung, kacang panjang dan ubi kayu. 


“Selain sebagai tambahan sumber protein nabati, menanam sayuran tersebut juga menjadi kegiatan yang bermanfaat guna mengisi waktu luang anggota Kontingen Garuda pada sore hari, yang mana dari pagi hingga siang melaksanakan aktivitas,” ujar Letkol Czi Denden Sumarlin seperti siaran pers Perwira Penerangan Konga XXXVII-B/Minusca, Mayor Marinir Daulat Situmorang melalui Pusat Penerangan TNI, Jumat (13/11).

Letkol Czi Denden Sumarlin, juga menyampaikan bahwa kegiatan bercocok tanam yang dilakukan oleh personel Satgas Kizi TNI dengan memanfaatkan area atau tanah kosong yang berada di dalam Camp Bumi Garuda Indoengcoy, Mpoko Bangui. Kegiatan tersebut tidak hanya sampai disitu saja, akan tetapi ilmu cara bercocok tanam yang dimiliki anggotanya juga diberikan kepada masyarakat lokal yang berada di sekitar Camp Garuda.

“Masyarakat lokal diajari bagaimana menyiapkan lahan sebelum ditanam, proses penanaman, pemupukkan serta perawatan sayuran tersebut. Hal ini dilakukan juga pada sore hari sebelum melaksanakan olah raga,” ujarnya.

Dengan bekal ilmu bercocok tanam yang telah diperoleh, Dansatgas Kizi TNI Letkol Czi Denden Sumarlin, mengharapkan masyarakat setempat dapat mempraktekkan sendiri dikampungnya masing-masing, dimana masih terdapat banyak lahan kosong.

“Selain dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka, juga dapat menambah penghasilan, yaitu dengan menjual hasilnya dipasar,” katanya.(fri/jpnn)
jpnn 

Friday, 13 November 2015

Pemerintah Berencana Tambah Anggaran TNI

Prajurit TNI AD membawa pompa usai membasahkan lahan gambut di sekat kanal Pulang Pisau, Kalteng, Sabtu (31/10). Pembasahan gambut itu guna mencegah terjadinya kebakaran di lahan tersebut. (ANTARA FOTO/Saptono)

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah akan terus memperbesar anggaran sektor pertahanan. Pemerintah mengambil langkah tersebut sebagai persiapan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi yang besar.

Luhut memaparkan, dalam jangka pendek pemerintah menargetkan anggaran pertahanan meningkat 0,8 hingga satu persen setiap tahun."Ini (peningkatan anggaran) bagus untuk ke depan. Kalau Indonesia berkembang menjadi satu dari tujuh kekuatan ekonomi dunia, pada saat yang sama kita sudah mempunyai TNI yang bagus," ucapnya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Rabu (11/11).

Meski alokasi anggaran pertahanan meningkat, Luhut berkata, pemerintah tetap bertekad mengembangkan industri pertahanan dalam negeri yang tangguh. Menurutnya, jika industri dalam negeri sudah mampu menyediakan pelbagai peralatan militer bagi TNI, Indonesia tidak akan lagi bergantung pada industri asing.Pada tahun 2015, dana pertahanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara mencapai Rp102 triliun. Sementara itu, sebelum rancangan APBN 2016 disetujui DPR, alokasi dana pertahanan turun menjadi Rp96,7 triliun.

Di sisi lain, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan. Beleid itu mengamanatkan pemerintah untuk mengembangkan industri pertahanan menjadi kuat, mandiri dan berdaya saing.

Industri pertahanan yang dimaksud undang-undang itu mencakup industri alat utama, komponen utama dan penunjang, perbekalan hingga industri bahan baku.

Untuk mewujudkan cita-cita industri pertahanan dalam negeri yang mandiri, beleid itu mengharuskan pemerintah membentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Dalam nomenklaturnya, komite itu diketuai oleh presiden. Sementara itu, Menteri Pertahanan dan Menteri Badan Usaha Milik Negara masing-masing berfungsi sebagai ketua dan wakil ketua harian KKIP.

TNI diperbolehkan membeli persenjataan dari luar negeri, namun dengan tujuh syarat, antara lain industri dalam negeri tidak mampu memproduksi peralatan senjata itu, adanya alih teknologi, serta adanya imbal dagang dan kandungan lokal paling rendah 85 persen. (utd)


CNN 

Thursday, 12 November 2015

Sritex Produksi Seragam Militer Kamboja

Ilustrasi pasukan TNI

PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex tidak hanya dikenal sebagai produsen di bidang tekstil dan garmen dengan kualitas ekspor.

Emiten berkode SRIL ini juga dikenal karena memproduksi seragam militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun militer berbagai negara di dunia.

Guna melebarkan sayap bisnisnya di mancanegara, Sritex kini akan segera memproduksi dan menjual seragam militer Kamboja.

Menurut Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino, Sritex akan bekerjasama dengan perusahaan lokal untuk mendirikan sebuah perusahaan baru di Kamboja. Kemudian, seragam militer akan dijual kepada pemerintah Kamboja.

Allan memaparkan, saat ini Sritex sedang mematangkan perjanjian kerjasama ini, baik dengan perusahaan lokal maupun pemerintah Kamboja.

Dia memprediksi, perjanjian tersebut akan selesai pada akhir tahun 2015 ini. "MoU (perjanjian kerjasama) selesai akhir tahun ini. Tahun depan mulai produksi dan trading," sebut Allan di Jakarta, Rabu (11/11/2015).

Allan mengaku, perseroan belum dapat memastikan jangka waktu kontrak perjanjian produksi dan pengadaan seragam militer Kamboja tersebut.

Meskipun demikian, dia menuturkan bahwa nilai transaksi seragam militer Kamboja itu cukup besar, yakni mencapai kisaran 50 juta dollar AS per tahun.

"Maunya pemerintah Kamboja produknya dijual ke perusahaan Kamboja. Kemudian perusahaan ini yang jual ke pemerintahnya. Nilai kontraknya belum tahu, tapi bisa puluhan juta dollar AS. Mungkin kalau kita bisa bikin seragam buat tentara dan militer di sana, ke pemerintahannya di sana itu bisa sampai 50 juta dollar AS per tahun," tutur Allan.

Sekedar informasi, Sritex kini memproduksi seragam militer untuk setidaknya untuk 30 negara di dunia.

Adapun delapan dari negara-negara tersebut adalah negara di kawasan Eropa. Sritex pun memproduksi seragam militer untuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.

Tidak hanya itu, Sritex juga merupakan satu-satunya pemegang lisensi di Asia yang berhak memproduksi seragam militer Jerman.
 

Monday, 9 November 2015

Tips Lolos Seleksi TNI

Bagaimana caranya agar lolos seleksi menjadi anggota TNI? Yang pasti, untuk bisa lolos seleksi menjadi anggota TNI tidaklah secepat kilat. Dibutuhkan waktu relatif lama, yakni enam bulan hingga satu tahun.

Menurut buku Siap Tempur Tembus Tes masuk TNI/POLRI, karya Soenardi Hardjosoemitro, ada poin-poin yang harus dipersiapkan untuk menjadi prajurit TNI. Nah, bagi Anda yang memang bercita-cita untuk memasuki dunia militer, silakan membaca tips ini dengan seksama. Apa aja sih poin-poinnya?

Kualitas Kesehatan

Lakukan segera general check up di rumah sakit militer terdekat yang membuka poliklinik untuk umum guna mengetahui beberapa hal berikut.

– Tekanan darah, idealnya kita memiliki tekanan darah 120/80 untuk bisa lolos seleksi.
– Detak jantung ideal, yakni 60-90 detak per menit.
– Hemoglobin darah yang ideal adalah 14-16 per gram
– Gula darah normal
– Kolesterol normal
– Hasil rontgen paru-paru baik/normal
– Gigi sehat/tidak ada bolong
– Tidak menderita ambein /wasir
– Tidak menderita varikokel
– Tidak menderita pembengkakan di pembuluh darah balik di betis kaki
– Jantung sehat
– Mata normal dan tidak buta warna
Segera lakukan penyembuhan atau perbaikan bila ada yang belum ideal berdasarkan hasil pemeriksaan dokter militer tersebut.
Kualitas Kejiwaan

Kondisi kejiwaan untuk menghadapi psikotes bagi mereka yang ingin menembus seleksi masuk TNI harus baik dan kuat. Oleh karena itu perlu dipersiapkan beberapa hal, yakni :

  1. Perkokoh niat menjadi prajurit dan pejuang profesional, yakni yang bersedia mengorbankan jiwa raga untuk kepentingan bangsa dan negara. Juga tanamkan terus setelah cinta kepada Allah, serta cinta kedua, bukan pada orangtua atau pacar melainkan pada kejayaan bangsa dan negara.
  2. Lepaskan berbagai masalah dan kepentingan pribadi yang selalu membelenggu Anda selama ini.
  3. Baca sejarah perjuangan para pahlawan, seperti Jenderal Sudirman dan sebagainya, agar merasuk ke dalam kalbu semangat perjuangan Anda.
  4. Lakukanlah latihan menggambar orang, pohon, dan rumah yang harmonis.
  5. Pelajari dan sugestikan prinsip “Do the best, God takes the rest”.
Beberapa poin di atas dapat menjadi rujukan untuk mempersiapkan diri Anda agar lolos ujian masuk TNI. Usahakan tetap menjaga stamina agar saat test berlangsung, Anda tetap sehat dan segar. Jika sudah mempersiapkan diri dengan baik, maka langkah terakhir jangan lupa untuk berdoa.


Saturday, 7 November 2015

Susi Bisa Kendalikan TNI AL di Satgas Anti Illegal Fishing

Presiden Joko Widodo resmi meneken Perpres No 115 tahun 2015 tentang Satgas Pemberantasan Penangkapan Ikan Ilegal. Perpres ini pun menuai tanggapan dari kalangan militer. Mengapa?

Perpres ini sebenarnya mengatur tentang Satgas yang bisa langsung menenggelamkan kapal pencuri ikan tanpa melalui proses pengadilan. Hanya saja dalam pasal 6 huruf b tentang pedoman umum pelaksanaan operasi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebagai Komandan Satgas diberi kewenangan atau otoritas untuk melaksanakan komando dan kendala terhadap unsur-unsur satgas. Termasuk TNI AL maupun kapal-kapalnya.

Sejumlah pihak menyebut aturan ini bertentangan dengan UU pertahanan dan mencederai TNI. Padahal untuk kendali TNI maupun unsur-unsurnya, TNI harus bertanggung jawab terhadap Panglima TNI.

"Hanya masalahnya berkaitan dengan organisasi saja dengan dibentuknya satgas dalam Perpres No 115. Selama ini illegal fishing secara tidak langsung kita juga melaksanakan kegiatan amanah dari UU perikanan, itu pendekatan hukum publik," ungkap KSAL Laksamana Ade Supandi saat dimintai tanggapan dalam gathering media di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (6/11/2015).

Dalam Perpres ini diatur bahwa Satgas terdiri dari lintas instansi dan aparat terkait dengan melibatkan KKP, TNI AL, Polri, Kejagung, Bakamla, SKK Migas, Pertamina dan lainnya. Komandan adalah Menteri KP, Kepala Pelaksana Harian adalah Wakil KSAL, dan 3 wakil kepala pelaksana harian yaitu Kepala Bakamla, Kepala Baharkam Polri, dan Jaksa Agung Tindak Pidana Umum.

"Itu kalau kita analogikan, kita juga di bawahnya Basarnas waktu itu. Jadi sebenarnya ini (TNI AL) di bawah koordinasi (KKP). Toh selama ini nggak ada masalah. Misalnya illegal fishing sama kan. Makanya sekarang ditentukan di Perpres ini," kata Ade.

Terkait kewenangan menggerakan kapal TNI AL atau KRI yang diberikan kepada Menteri Susi, Ade mencoba menjelaskan. Bahwa memang untuk tugas operasi maupun misi, unsur-unsur TNI berada dalam otoritas Panglima TNI. Jika nantinya terjadi dualisme komando dalam penegakan hukum terkait ilegal fishing, dalam Perpres ini disebut KSAL sudah diatur.

"Jadi ada tugas-tugas KRI yang soal pertahanan negara di bawah Panglima TNI, dan ada juga tugas-tugas operasi yang berkaitan dengan kapal, kalau itu berkaitan operasi contohnya dengan keamanan laut, itu juga di bawah panglima TNI. Kemudian kalau dalam tugas-tugas tertentu melaksanakan tugas penegakkan hukum sipil, terkait masalah UU perikanan, ini di pasal 5 dari Perpres No 115 sudah ada," jelas Ade.

"Bahwa dalam satgas ini dalam perencanaan itu mendapat arahan dari Menkopolhukam, Panglima TNI. Kalau Panglima TNI memandang bahwa ada dualisme dalam pergerakkan unsur, nanti itu juga akan ditentukan di sana," sambung mantan Pangarmatim itu.

Jadi apakah ini artinya TNI AL tidak masalah mendapat komando dari Menteri Susi?

"Toh, selama ini AL juga melaksanakan tugas penegakkan hukum di laut," tukas Ade.

Sebelumnya pada menjelang pertengahan Oktober 2015 lalu, Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Perpres No 155 tahun 2015 tentang Satgas Pemberantasan Illegal Fishing. Saat mengumumkannya, Susi terlihat sangat girang.

"Kapal tanpa izin di teritorial kita, langsung tenggelamkan. Sekarang enggak usah nunggu berbulan-bulan (proses pengadilan), langsung kita tenggelamkan saja. Satgas bertanggung jawab langsung pada Presiden," ujar Susi, Rabu (21/10).

Dalam tugasnya nanti, satgas berwenang menentukan target operasi. Kemudian juga melakukan koordinasi dalam pengumpulan data dan informasi, membentuk serta memerintahkan unsur-unsur satgas untuk melakukan penegakan hukum. Lantas yang terakhir adalah melaksanakan komando dan pengendalian. (elz/bag)

Wednesday, 4 November 2015

TNI Kembali Gelar Ekspedisi NKRI 2016

Papua Barat Jadi Tujuan

Komando Pasukan Khusus (Kopassus) kembali menggelar Ekspedisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ekspedisi NKRI 2015 ini akan dilakukan di Kepulauan Nusa Tenggara.(dok/sindophoto)

Ekspedisi NKRI yang sudah memasuki tahun keenam ini bertajuk 'Ekspedisi NKRI Koridor Papua Barat 2016' dengan tema “Peduli dan lestarikan alam Indonesia”.

"Ekspedisi NKRI ini adalah kolaborasi TNI AD, TNI AL, TNI AU, Polri, Pemerintah Pusat dan pemerintah daerah, perguruan tinggi, mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI M. Herindra melalui siaran pers, Selasa (3/11/2015).

Ekspedisi yang bernaung di bawah Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tersebut akan melibatkan sekitar 1.650 orang dari berbagai kalangan.

Danjen Kopassus pun sudah melaksanakan sosialisasi di markas Kopassus dan dihadiri oleh rektor, mahasiswa perguruan tinggi se-Jabodetabek.

Herindra melanjutkan, ekspedisi ini tidak berbeda jauh dengan ekspedisi sebelumnya. Tim akan mendata dan memetakan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia di wilayah tujuan.
"Tim juga akan menggelar acara yang punya tujuan mendorong peningkatan kesejahteraan sosial, menumbuhkan rasa cinta tanah air dan meningkatkan pertahanan keamanan nasional," kata Herindra.

Nantinya, para peserta akan ditempatkan di delapan subkorwil, yakni subkorwil-1 Tambraw, subkorwil-2 Sorong, subkorwil-3 Sorong Selatan, subkorwil-4 Manokwari Selatan, subkorwil-5 Bintuni, subkorwil-6 Wondama, subkorwil-7 Fak-Fak dan subkorwil-8 Kaimana.

kompas 

Thursday, 29 October 2015

KSAD: TNI Tak Akan Lindungi Prajurit Salah

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Mulyono. 

Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Mulyono menegaskan institusi TNI tidak akan melindungi anggotanya terkait kasus  Dandim Sidoarjo Letkol Kav Rizeki Indrawijaya
dengan anggota DPR Arzetti Bilbina yang tertangkap sedang bersama di Hotel Arjuna, Lawang, Malang, Jawa Timur, Ahad (25/10).

"Yakinilah bahwa TNI tak akan melindungi anggota kita yang bersalah, kita lebih sayang dengan institusi bukan melindungi individu," ujar Mulyono di Markas Besar TNI Angkatan Darat, Jalan Veteran, Jakarta Pusat," Rabu (28/10).

TNI, sambung dia, tidak akan menutup-nutupi jika ada anggota TNI yang bersalah. Setiap kesalahan yang dilakukan oleh anggota TNI akan diproses sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku

Saat ini, lanjut Mulyono, Rizeki sedang diperiksa Denpom TNI AD Malang. Letkol Rizeki pun belum bisa dipastikan melakukan pelanggaran atau bertindak lalai karena TNI sendiri menerapkan asas praduga tak bersalah dalam menangani kasus ini.

"Kita tunggu hasil pemeriksaannya," ucapnya.

Nantinya, jika terbukti melanggar, sanksi yang akan diberikan kepada Rizeki pun tergantung dari tingkat kesalahannya. Bila melakukan pelanggaran berat maka anggota Dandim itu akan langsung dipecat. Ia pun berjanji bila sudah diperoleh hasil penyelidikannya akan disampaikan secara transparan ke publik.

Kisah TNI Melawan Kabut Asap, Depan Api Belakang Buaya

Prajurit TNI menuju ke tengah hutan untuk memadamkan api di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Rabu (28/10/2015). 

Sebanyak 1.000 prajurit TNI dikerahkan untuk memadamkan kebakaran hutan yang menimbulkan kabut asap di Sumatera Selatan. Berbagai upaya penanganan di tengah hutan tak jarang menemui hambatan, bahkan mengancam keselamatan para prajurit.

Dari 1.000 prajurit, sebanyak 130 personel ditugaskan di lokasi penanaman kayu akasia milik sebuah perusahaan swasta yang luas totalnya mencapai 190 ribu hektare. Para prajurit dipimpin oleh seorang Komandan Rayon Kavaleri 1 Kostrad Mayor Andre Henry Masengi. Upaya penanganan kebakaran hutan dibagi menjadi tiga tahap, selama 24 jam. Pertama, para prajurit mencari dan menemukan titik api. Kedua, melakukan pemadaman api, dan yang ketiga menghilangkan asap.

"Yang paling sering adalah pemadaman api. Kami patroli dari pagi sampai malam hari, kami buat shift. Pada dasarnya, kami dengan pihak perusahaan berusaha semaksimal mungkin untuk memadamkan api," ujar Andre, saat ditemui Kompas.com, Rabu (28/10/2015).
Setiap hari, sekitar 30 hingga 40 prajurit diberangkatkan menuju kawasan hutan. Sementara, sisanya bertugas di posko dan sebagian lagi beristirahat untuk mengganti prajurit yang kembali dari melakukan tugas pemadaman.

Dalam upaya pemadaman, prajurit TNI lebih banyak melakukan penyiraman secara manual menggunakan pompa. Saat menemukan titik api, para prajurit harus mencari sumber air, memasang pompa, dan membentangkan selang menuju titik api. Jika lokasi sulit dijangkau dan intensitas kebakaran cukup besar, para prajurit di lapangan dapat meminta pemadaman lewat udara, atau water bombing.

Penuh Risiko

Berbagai hal yang dilakukan prajurit TNI tersebut memiliki tantangan tersendiri. Letnan Satu Kavaleri Panji Prawira menceritakan pengalaman yang dialami beberapa prajurit saat berada di tengah hutan.

“Semaksimal mungkin kita harus dekat dengan sumber air di kanal dan dekat dengan api, karena selangnya juga ambil dari sumber air itu. Tetapi harus berhati-hati, di kanal-kanal terkadang ada buaya juga,” kata Panji.

Panji mengisahkan, pada suatu saat, angin kencang membawa api sehingga para prajurit harus mencari tempat aman. Namun, saat menghindari kobaran api yang bergerak cepat, mereka justru terjebak kanal yang dipenuhi buaya.

“Api yang merambat seperti mahluk hidup, jadi bayangkan saja kita dikejar-kejar api yang hidup. Harus diantisipasi, jangan sampai di belakang kanal buaya di depannya ada api, tinggal pilih saja,” ujar Panji, sambil tertawa.

Seperti di kawasan hutan lainnya di Indonesia, hutan di Sumatera Selatan juga dipenuhi berbagai satwa liar. Beberapa yang ditemui saat upaya pemadaman seperti ular piton, ular tanah, babi hutan, hingga beruang madu.

Kabut asap cukup tebal juga berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Menurut Panji, dalam kelompok prajurit yang telah bertugas selama satu setengah bulan di Kabupaten OKI, sebanyak 57 prajurit mengalami gangguan pernapasan akibat asap.

Bekal makanan dan peralatan

Para prajurit TNI yang bertugas melakukan pemadaman kebakaran selalu dibekali makanan dan peralatan yang cukup. Setiap kali perjalanan menuju hutan, setiap prajurit membawa makanan kaleng siap saji, biskuit, dan susu untuk menetralisir kadar karbondioksida yang terbawa melalui asap masuk ke dalam tubuh.

Sementara, untuk peralatan, selain alat pemadaman, para prajurit TNI dilengkapi dengan peralatan sesuai standar keamanan seperti topi rimba, water bag, sarung tangan, kaca mata, dan masker agar asap tidak masuk ke rongga pernapasan.

“Ini sudah risiko kami dalam penanggulangan bencana. Kami tidak mengeluh, yang penting dinikmati saja semuanya,” kata Panji. (Kompas.com/Abba Gabrillin)

Panglima TNI Santuni Keluarga Anggota Kostrad yang Tewas Ditabrak

Foto: Bagian Penerangan Kodam II/Sriwijaya

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memberi santunan sebesar Rp 100 juta kepada keluarga almarhum Kopda Dadi Santoso yang tewas ditabrak saat berusaha melerai keributan di Pekanbaru, Riau. Santunan diberikan di rumah duka yang diwakili oleh Kasdam II/Swj Brigjen TNI Komaruddin Simanjuntak.

"Saya mewakili Panglima TNI, mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya kepada keluarga almahrum, semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan sabar menghadapi cobaan dan marilah kita sama-sama mendoakan semoga almahrum tenang di alam baqa sana," kata Komarudin, di rumah duka, Jalan Bambang Utoyo, Palembang, seperti dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (28/10/2015).

Santunan diterima istri alhmarhum, Anggi Angraini. Selain Komarudin, jajaran anggota Kodam II/Sriwijaya juga terus berdatangan ke rumah duka untuk menyampaikan bela sungkawa.

Kopda Dadi Santoso tewas ditabrak oleh sekelompok orang di Pekanbaru saat melerai keributan. TNI pun sudah menangkap 2 orang pelaku dalam kejadian tersebut.

Kejadian berawal saat Dadi melihat ada sekelompok orang yang menggunakan motor dan mobil terlibat keributan. Dadi coba melerai hanya saja pelaku justru menabrakan mobilnya ke arah Dadi yang menyebabkan prajurit yang berdinas di Batalyon Kesehatan (Yonkes) Divisi I Pekanbaru itu meninggal dunia. (rna/imk)

detik 

Wednesday, 28 October 2015

Kewenangan TNI Tidak Perlu Diperluas

Dokumentasi personel TNI shalat minta hujan di Base Ops Pangkalan Udara TNI Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (22/10). Mereka shalat memohon hujan dan perlindungan agar selamat dalam melakukan operasi pemadaman kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan. (ANTARA FOTO/Nova Wahyudi) 

TNI telah menyusun rancangan peraturan presiden mengenai perluasan kewenangan TNI yang nanti menjadi dasar hukum penggunaan senjata untuk meningkatkan keamanan terhadap ancaman non-militer. 

Menanggapi itu, Wakil Presiden, Jusuf Kalla, menilai kewenangan TNI tidak perlu diperluas melalui peraturan presiden karena keberadaannya sudah diatur dalam undang-undang.

"TNI khan sudah diatur dalam undang-undang, dan kewenangannya sudah ada di konstitusi dan undang-undang. Jadi tidak perlu ada PP atau perpres untuk penambahan (kewenangan) itu," kata Kalla, di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa.

Pada sisi lain, ada desakan dari sementara masyarakat agar Presiden Joko Widodo menolak menandatangani naskah rancangan itu.

Dalam rancangan tersebut diatur mengenai penambahan peran TNI sebagai alat keamanan negara, pelaksanaan pemberdayaan wilayah melalui pembinaan teritorial, serta pembentukan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan.

Antara

Monday, 26 October 2015

TNI Jadi Institusi Paling Dipercaya Publik

Prajurit TNI saat Peringatan ke-70 Hari TNI di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, 5 Oktober 2015. (CNN Indonesia/Safir Makki)

Center for Strategic and International Studies merilis hasil survei tingkat kepercayaan publik terhadap institusi politik dan hukum. Berdasarkan hasil survei tersebut, Tentara Nasional Indonesia memperoleh kepercayaan tertinggi mengalahkan Komisi Pemberantasan Korupsi yang berada di peringkat dua.

"Kepercayaan publik terhadap TNI sebesar 90 persen, disusul KPK sebesar 80,8 persen," kata Philips Jusario Vermonte, Ketua Departemen Politik dan Hubungan Internasional CSIS, dalam konferensi pers di kawasan Senayan, Jakarta, Minggu (25/10).

Reformasi di tubuh TNI secara terus-menerus untuk tidak berpolitik, kata Philips, menjadi faktor kuat yang membuat TNI dipercaya publik. Selain itu, peran TNI dalam menjaga keamanan juga berkontribusi meningkatkan kepercayaan publik. Sementara itu, peneliti CSIS Joseph Kristiadi mengatakan TNI meraih kepercayaan tinggi karena diandalkan dalam berbagai hal yang dinilai tidak mampu dilakukan oleh masyarakat sipil.

"Misalnya ketika terjadi kabut asap dan kebakaran hutan, TNI masuk untuk memadamkan api dan mengatasinya," ujar Kristiadi. Kristiadi menyatakan besarnya kepercayaan terhadap TNI bukan berarti pertanda publik ingin TNI kembali berkuasa seperti ketika Orde Baru. Di sisi lain, Dewan Perwakilan Rakyat dan Kepolisian menjadi institusi politik dan hukum yang memperoleh kepercayaan terendah dari masyarakat.

"Polisi mendapat kepercayaan 63,5 persen, sedangkan DPR 53 persen," ujar Philips. Ketidakpuasaan publik kepada DPR juga tinggi, yakni 67,5 persen. Hal tersebut karena fungsi DPR dinilai tidak berjalan dengan maksimal. Dalam fungsi legislasi, 52,4 persen responden menyatakan DPR buruk. Terkait fungsi anggaran, 54,7 persen responden juga menyatakan kinerja DPR buruk. Hal serupa juga berlaku dalam fungsi pengawasan, di mana 48,7 persen responden mengatakan pengawasan DPR selama ini buruk.

Namun meski kinerja DPR buruk, publik mengapresiasi keberadaan partai oposisi yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Sebesar 57,6 persen responden berpendapat KMP memberi manfaat. Namun publik menilai hubungan eksekutif dan legislatif tidak harmonis setahun ini. "Saya kira ini potret menarik dari politik Indonesia, di mana masyarakat mengapresiasi keberadaan partai oposisi. Publik kita semakin lama makin rasional.

Mereka bisa melihat manfaat partai oposisi untuk mengimbangi pemerintah," ujar Philips. Selanjutnya, 79,7 persen responden lebih percaya kepada Presiden Jokowi ketimbang Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dipercaya 75,2 persen responden. Survei CSIS ini dilakukan terhadap 1.183 orang di 34 provinsi di Indonesia dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (agk)

CNN