Showing posts with label rusia. Show all posts
Showing posts with label rusia. Show all posts

Tuesday, 29 December 2015

Indonesia dan Rusia Akan Gelar Latihan Gabungan

Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhael Y. Galuzin. (Victor Maulana/Sindonews)

Dalam waktu dekat Angkatan Laut Indonesia dan Angkatan Laut Rusia akan melakukan latihan perang bersama. Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhael Y. Galuzin.

Berbicara saat menggelar konfrensi pers di atas kapal perang tipe penghancur Rusia "Bystriy" yang sedang berlabuh di Tanjung Priok, Jakarta, Senin (28/12), Galuzin menuturkan, latihan perang paling dekat akan dilakukan pada esok hari.

"Besok kapal perang "Bystry" akan menggelar latihan perang dengan Angkatan Laut Indonesia, latihan perang akan berfokus pada latihan komunikasi dan startegi perang," ucap Galuzin.

Selain akan melakukan latihan perang dengan Angkatan Laut Indonesia pada esok hari, tahun depan Rusia juga akan terlibat dalam latihan perang gabungan antara beberapa negara yang akan berlangsung di kawasan Nusa Tenggara Timur.

"Tahun depan, Angakatan Laut kami akan terlibat dalam latihan gabungan inernasional "Komodo" yang digelar oleh pemerintah Indonesia," sambung diplomat senior Rusia tersebut di hadapan awak media.

Sindonews

Saturday, 12 December 2015

[Dunia] Takut Diserang Jet Pembom Kremlin, Inggris dan Rusia Diskusi

Pesawat jet tempur Typhoon Inggris saat mencegat pesawat jet pembom Rusia. | (BBC)

Para pejabat militer Inggris telah mengadakan pembicaraan dengan para pejabat militer Rusia setelah London waswas diserang pesawat-pesawat jet pembom Kremlin yang kerap bermanuver di dekat wilayah Inggris.

Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon, mengatakan pesawat-pesawat pembom Rusia berpotensi melakukan serangan di seluruh wilayah Inggris. Pembicaraan itu, kata dia, bertujuan untuk menemukan cara penanganan untuk setiap kesalahan perhitungan atau kecelakaan.”

Pesawat-pesawat pembom Rusia selama ini belum menyeberang ke wilayah udara Inggris, tetapi telah terbang di dekat perbatasan negara anggota NATO itu.



Bulan lalu, pesawat jet tempur Typhoon dari pangkalan Angkatan Udara Inggris (RAF) Lossiemouth melesat untuk mencegat dua pesawat pembom Rusia, Tu-160 Blackjack di atas kawasan Atlantik. Dua pesawat pembom Rusia itu dikawal RAF sampai menjauh dari wilayah Inggris.

Insiden serupa terjadi di Laut Utara pada bulan Oktober. Di awal tahun 2015 dan pada tahun 2014, pesawat pebom strategis Rusia dalam beberapa kesempatan juga dicegat pesawat jet tempur RAF.
 
Berbicara di kelompok think tank Dewan Atlantik di Amerika Serikat, Fallon mengkonfirmasi diskusi militer Inggris dan Rusia itu. ”Ada diskusi dengan Rusia tentang pengaturan beberapa cara guna menghindari (insiden) salah perhitungan dengan yang jarak penerbangan,” katanya, seperti dikutip BBC, Sabtu (12/12/2015).

Kami telah melihat sejumlah serangan ke wilayah Inggris (dari) informasi penerbangan selama beberapa bulan terakhir,” katanya lagi. ”Pesawat ini belum merespons komunikasi dari petugas kontrol lalu lintas udara, atau pesawat kami mengirim sinyal hingga mencegat mereka.
 

Sindonews

[Dunia] Militer Rusia Dapat Tambahan 35 Rudal Balistik Baru

Rusia melakukan modernisasi peralatan militernya

Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu mengatakan, pihak militer negara itu telah menerima 35 rudal balistik antar benua baru tahun ini. Pengadaan rudal balistik baru ini adalah bagian dari upaya Kremlin memodernisasi persenjataan militer mereka.

Selain mendapatkan 35 rudal balistik baru, militer Rusia juga telah menerima 243 pesawat, 90 sistem pertahanan udara dan 1.172 tank dan kendaraan lapis baja lainnya sepanjang tahun ini, seperti dikutip dari laman US News, Jumat (11/12/2015).

Shoigu juga mengungkapkan,  Angkatan Laut Rusia telah menerima dua kapal selam bertenaga nuklir baru yang dilengkapi dengan rudal balistik antar benua, dua kapal selam untuk keperluan umum dan delapan kapal perang.

Dia juga mengatakan, serangkaian latihan militer telah membantu meningkatkan kemampuan prajurit dan berkontribusi pada keberhasilan kinerja pilot Rusia selama melakukan serangan udara di Suriah.


Sindonews

Thursday, 26 November 2015

[Dunia] Rusia Tuding NATO dan Turki Menikmati Minyak ISIS


Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin menyebut NATO dan Turki ikut menikmati minyak ilegal ISIS | (Sindonews/Ian)

Duta Besar Rusia, Mikhail Galuzin menuding Turki dan NATO mendukung kelompok ekstrimis ISIS. Pasalnya, NATO dan Turki ikut menikmati minyak ilegal dari ISIS.

"Kami mempunyai bukti jika Turki melakukan perdagangan minyak ilegal dengan ISIS di wilayahnya. Dan, Turki kemudian menjualnya ke negara lain," kata Galuzin dalam jumpa persnya di Kedubes Rusia, Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Ia kemudian mengungkapkan bagaimana reaksi negara-negara Barat saat Rusia mulai melakukan operasi udara di Suriah. Mereka beramai-ramai mengutuk tindakan Rusia yang membombardir sejumlah basis, fasilitas, dan sejumlah kilang minyak milik ISIS.

"Padahal, kami melakukan itu berdasarkan permintaan dari Pemerintah Suriah untuk memerangi ISIS. Itu kenapa, NATO dan Turki melawan Rusia, sebab mereka meamng mendukung ISIS. Mereka melakukan hal itu karena minyak yang dimiliki oleh ISIS," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi informasi jika ISIS telah berhasil mengirimkan sejumlah minyak mentah dari kilang-kilang minyak yang dikuasai kelompok itu ke wilayah Turki.

Putin lantas mengatakan, jika militan ISIS memperoleh ratusan juta dolar dari perdagangan minyak dan menikmati perlindungan dari Angkatan Bersenjata "dari seluruh pemerintah," maka tidak heran mereka bisa berperilaku begitu berani. (ian)


Sindonews

[Dunia] Dubes Rusia: NATO Organisasi Berbahaya

Pakta pertahanan Atlantik utara atau NATO | (Nato)

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin mengatakan, Pakta Atlantik Utara atau NATO adalah organisasi yang sangat berbahaya. Merujuk pada insiden penembakan pesawat tempur Rusia oleh pesawat tempur Turki, hal itu menunjukkan jika NATO adalah organisasi yang kebal hukum.

"Bayangkan, pesawat militer milik negara anggota NATO bisa menembak pesawat asing (Rusia) di negara asing (Suriah) yang merupakan negara anggota PBB. Mereka beralasan, apa yang dilakukan oleh Turki adalah tindakan melindungi diri. Padahal, tindakan ini jelas-jelas melanggar hukum internasional, melanggar piagam PBB," kata Galuzin dalam jumpa persnya di Kedubes Rusia, Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Tidak hanya itu, NATO juga terlihat begitu agresif akhir-akhir ini dalam menyikapi sejumlah isu internasional. Salah satunya adalah permasalahan di wilayah Laut China Selatan.

Menurut Galuzin, Amerika Serikat (AS) yang merupakan pimpinan NATO tengah berusaha melakukan ekspansi ke wilayah Laut China Selatan. Hal ini dapat dilihat dari tindakan AS yang berulangkali melakukan aksi provokatif di Laut China Selatan.

"Ini sangat berbahaya bagi Indonesia atau negara-negara lain di kawasan itu. Bukan tidak mungkin akan terjadi 'hard war' di Laut China Selatan," tukas Galuzin. (ian)



Sindonews

Thursday, 19 November 2015

5 Senjata Nuklir Rusia Yang Harus Ditakuti Amerika


Rusia modern bukanlah Uni Soviet. Sementara Uni Soviet sebagai salah satu negara pertama yang menganut kebijakan penggunaan senjata nuklir.  Rusia modern yang menjatuhkan pada bulan November 1993 mengatakan Moskow berhak untuk menggunakan senjata nuklirnya selama konflik apapun.

Namun senjata nuklir warisan Soviet sudah cukup kuno. Hingga akhir-akhir ini Rusia melakukan investasi besar-besaran untuk membuat kekuatan nuklirnya bangkit kembali dan sejajar dengan negara lain, khususnya Amerika.

Berikut adalah lima nuklir Rusia Systems berpikir senjata bukan hanya nuklir, tapi sistem yang memiliki “komponen nuklir” yang menimbulkan ancaman bagi Amerika Serikat.

1. Kapal Selam Rudal Balistik Kelas Borei

 Kapal Selam Nuklir Vladimir Monomakh

Kapal selam rudal balistik adalah bagian paling survivable dari penangkal nuklir suatu negara. Uni Soviet mempertahankan armada kelas Boomer Delta dan Typhoon, tetapi mereka sudah sangat tua dan perlu diganti. Penerus Delta dan Typhoon adalah Proyek 955 kapal selam nuklir Borei kelas baru.

Jauh lebih kecil dari besar Proyek 941 Akula- juga dikenal sebagai Typhoon, kapal selam baru ini masih lebih besar dari kelas Ohio Angkatan Laut AS. Kelas Borei mampu yang dapat membawa 16 Bulava kapal selam rudal balistik. Kapal selam ini juga dikenal cukup tenang dan memiliki hidrodinamika efisien.

Tiga kapal telah selesai, ada tiga lagi sedang dibangun-beberapa di antaranya merupakan turunan ditingkatkan bahwa beberapa laporan telah menyarankan membawa 20 rudal. Rusia berharap untuk membangun 10 Borei meski diragukan apakah mereka memiliki dana yang cukup.

2. Rudal Balistik Kapal Selam Bulava

 Rudal Bulava yang diluncurkan dari kapal selam kelas Borei

Kapal Selam kelas Borei akan tidak ada gunanya tanpa persenjataan nuklir yang harus mereka bawa. Kapal selam dipersenjatai dengan rudal RSM-56 Bulava berbahan bakar padat. Sementara Rusia memiliki banyak kesulitan mengembangkan senjata ini baik jumlah rudal atau mengalami kegagalan lain selama pengujian karena masalah kontrol kualitas. Sebagian besar masalah tersebut tampaknya telah dipecahkan, tetapi hanya waktu yang akan memberitahu pasti.

Di atas kertas, Bulava merupakan senjata yang sangat handal. Rudal seberat 37-ton memiliki jangkauan 6.200 mil laut dan dapat membawa sebanyak 10 150-kiloton hulu ledak nuklir.

3. Kapal Selam Proyek 855 Yasen


Kapal selam serangan kelas Yasen adalah bagian dari kapal selam serang generasi baru Rusia. Kapal pertama direncanakan masuk pada tahun 1993, tetapi baru 2011 teralisasi karena sulitnya Rusia mendapatkan anggaran. Meskipun demikian, Severodvinsk, kapal selam Yasen pertama  adalah mesin yang mengesankan. Begitu mengesankan bahwa kepala program pembangunan kapal selam Angkatan Laut AS memiliki model itu dibangun untuk kantornya.

“Kami akan menghadapi lawan tangguh potensial. Satu hanya untuk melihat Severodvinsk, versi Rusia dari [nuklir kapal selam rudal dipandu] (SSGN). Saya sangat terkesan dengan kapal ini bahwa saya telah Carderock membangun model dari data unclassified,” kata Laksamana. Dave Johnson, pejabat eksekutif Program Naval Sea Systems Command (PEO) untuk program kapal selam.
Rusia sedang membangun versi yang lebih baik dari Proyek 855 yang menggabungkan pelajaran sejak tahun 1993. Kelas Yasen yang tidak senjata nuklir strategis, namun mereka bisa dipersenjatai dengan rudal jelajah berujung nuklir.

4. Nuklir Taktis Arsenal Rusia


Sementara senjata nuklir taktis Rusia tidak sebesar apa yang Uni Soviet pernah dipertahankan, negara ini diyakini memiliki setidaknya 2.000 senjata nuklir taktis, tetapi bisa memiliki sebanyak 5.000 hulu ledak seperti ketika senjata non-dikerahkan diperhitungkan . Uni Soviet diyakini memiliki antara 15.000 dan 25.000 nuklir taktis.

Rusia menggunakan senjata nuklir taktis untuk mengimbangi kelemahan relatif konvensional kekuatan-tetapi tidak jelas persis berapa banyak dari jenis senjata yang mereka miliki. Perlu dicatat bahwa senjata nuklir taktis tidak tercakup oleh perjanjian pengurangan nuklir.

Ada sejumlah cara Rusia dapat memberikan hulu ledak nuklir taktis untuk target-satu metode tersebut mereka akan menjadi rudal balistik 9K720 Iskander. Senjata yang bisa dikerahkan ke tempat-tempat seperti Kaliningrad Oblast di pantai Baltik untuk menyerang  situs pertahanan rudal balistik AS di Polandia, misalnya.

5. ICBM RS-24 Yars

 RS-24 Yars

Rusia terus memodernisasi kekuatan strategis darat dalam beberapa tahun terakhir. RS-24 Yars-juga dikenal sebagai SS-27 Mod 2-adalah rudal balistik antarbenua terbaru Rusia. Hal ini dapat membawa sekitar empat hulu ledak independen dan dapat diluncurkan baik dari silo atau peluncur jalan-mobile.

Ada juga ICBM berat Rusia lain yang sedang dikembangkan disebut Sarmat, yang dirancang untuk mengatasi sistem pertahanan rudal balistik. Tidak banyak yang diketahui tentang senjata ini kecuali bahwa ia akan berbahan bakar cair dan membawa sebanyak 15 hulu ledak. Rudal ini akan menjadi pengganti rudal k era Perang Dingin SS-18 Satan (R-36M).

Sumber: Business Insider

Saturday, 14 November 2015

[Dunia] Rusia Kembangkan Rudal Nuklir untuk Menembus Pertahanan AS

Menurut Putin, Amerika Serikat dan negara NATO selama ini mencoba mengantisipasi serangan nuklir Rusia dengan membangun sistem pertahanan rudal. (Reuters/Aleksei Nikolsky)

Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia akan mengembangkan rudal nuklir yang mampu menembus sistem pertahanan serangan udara Amerika Serikat. Menurut Putin, AS dan negara NATO selama ini mencoba mengantisipasi serangan nuklir Rusia dengan membangun sistem pertahanan rudal.

Dikutip dari kantor berita Rusia, TASS, Putin dalam pertemuan membahas pengembangan angkatan bersenjata Rusia Selasa pekan ini mengatakan bahwa kemajuan rudal nuklir akan menjadi target angkatan bersenjata mereka satu dekade ke depan demi merespon tantangan dari negara pesaing.


 "Kami akan mengembangkan sistem pertahanan anti-rudal juga, tapi di tahap pertama, kami juga akan mengerakan sistem serangan yang mampu menembus semua tameng pertahanan anti-rudal," kata Putin.

Pernyataan Putin disampaikan di tengah upaya AS membangun pertahanan anti-rudal di negara-negara anggota NATO. Bulan lalu, sembilan negara NATO melakukan uji gabungan sistem anti rudal di kapal perang Aegis di perairan Skotlandia.

Beberapa hari kemudian, AS melakukan uji coba intersepsi serangan nuklir yang merogoh kocek hingga US$230 juta di Pulau Wake di Pasifik.

Rencana sistem pertahanan rudal NATO ini pertama kali digagas oleh Presiden AS Ronald Reagan dan dilanjutkan oleh George W. Bush tahun 2002. Barack Obama tahun 2008 juga melanjutkan program ini namun mengurangi biayanya.

Jika beroperasi penuh, kapal dengan sistem pertahanan Aegis akan berpatroli dari Spanyol. Di Romania dan Polandia, akan ditempatkan roket pengintersepsi, sedangkan di Turki, Jerman dan beberapa negara NATO lainnya akan ditempatkan radar.

Rencana ini tahun 2007 dikecam Rusia setelah Polandia dan Republik Ceko mengizinkan pangkalan rudal di wilayah mereka. Ceko belakangan mundur dari rencana pertahanan AS itu.

Sejauh ini, menurut Putin, protes dan keresahan Rusia diabaikan oleh AS dan sekutunya. Putin mengatakan, alasan AS yang ingin mempertahankan NATO dari serangan rudal nuklir Iran dan Korea Utara hanyalah omong kosong.

Menurut dia, tujuan utama pertahanan rudal AS di negara NATO adalah demi mengantisipasi kekuatan militer Rusia yang kian pesat.

"Tujuan sebenarnya dari AS adalah untuk menghadapi serangan dari negara pemilik senjata nuklir lainnya, kecuali AS dan sekutunya, terutama ancaman nuklir dari negara kita, Rusia. AS ingin berkuasa dengan semua konsekuensinya," kata Putin.

Dalam tiga tahun terakhir industri pertahanan Rusia telah sukses menguji persenjataan yang bisa menembus sistem pertahanan rudal berlapis, kata Putin.

Juni lalu, Putin mengumumkan Rusia akan menambah lagi 40 rudal balistik antarbenua generasi terbaru tahun ini.

"Kami telah mengatakan di banyak kesempatan bahwa Rusia akan melakukan semua langkah yang diperlukan demi memperkuat persenjataan nuklir strategis," tegas Putin. (den)


CNN 

Saturday, 7 November 2015

Pelajaran Berharga Perang Suriah

Prototype Bom produksi Indonesia
Ada pelajaran yang menarik bila melihat kampanye udara yang dilakukan Rusia di Suriah. Selama ini militer Suriah pimpinan Bashar Al Assad, kesulitan memukul mundur pemberontak FSA maupun ISIS. Gerakan militer Suriah lebih terfokus ke operasi Angkatan Darat.
Namun semua berubah dengan cepat, ketika Rusia datang dan melakukan serangan lewat udara maupun rudal jarak jauh.

Serangan Rusia ini efektif. Gerakan FSA dan ISIS berhasil dipukul mundur. 

Kini inisatif peperangan ada di Angkatan Darat Suriah. Bahkan mereka terlihat mulai leluasa bergerak karena mendapatkan bantuan udara dari Rusia. Pesawat pesawat Rusia, dengan cepat melumat, bila ada pergerakan FSA maunpun ISIS. Persembunyian dan depot logistik FSA/ISIS juga dihancurkan.

Teater model perang seperti ini sebenanrnya, pertama kali digelar AS dalam perang Teluk di Irak dan berhasil menggulingkan Saddam Hussein.

Saya jadi teringat ke situasi di dalam negeri, bagaimana TNI memberantas gerakan separatis GAM di Aceh. Sulit bagi TNI bisa memulul GAM dalam waktu yang cepat. GAM melakukan peperangan hit and run.

Sesekali TNI menggunakan roket FFAR yang ditembakkan lewat helikopter NBO-105. Tentu efek dari roket itu tidak signifikan. Selain efek ledak yang kecil, helikopter itu, tidak bisa cepat datang ke lokasi.

Dalam operasi militer di Aceh, tidak terdengar ada skenario, pemngeboman lewat udara, untuk posisiatau markas GAM. Yang ada tentara di darat, gabungan Angkatan Darat dan Marinir, bergerak susah payah, mengejar persembunyian GAM, antara lain ke pegunungan Bukit Barisan.
Cara peperangan yang ditunjukkan Rusia di Suriah, bisa menjadi pelajaran bagi Indonesia di kemudian hari. Kalau bisa menggempur musuh dengan mudah, mengapa harus memilih langkah yang sulit.

Tentu untuk melakukan teater peperangan udara seperti Rusia di Suriah, membutuhkan teknologi UAV, komunikasi dan satelit yang canggih. Tapi itu semua, bisa dilakukan Indonesia jika mau.
Gambar di atas menunjukkan prototype sejumlah bom yang dibuat di dalam negeri. Next kalau ada gerakan separatis di Papua yang angkat senjata dan sudah terdeteksi UAV, bisa saja langsung dibombardir lewat jet tempur Sukhoi atau pesawat tempur Super Tucano.

Tuesday, 27 October 2015

[Dunia] Rusia-NATO Menuju Perang Dingin Mediterania?

Apakah kita menuju Perang Dingin baru di laut Mediterania dan Hitam? Intervensi militer Rusia di Suriah telah memunculkan skenario ini, bersama dengan tumbuhnya aktivitas kapal perang dan kapal selam sekitar Mediterania, Laut Hitam dan di pelabuhan Suriah Latakia (28 mil dari perbatasan Turki)  yang menjadi pangkalan utama Angkatan Laut Rusia.

Situasi geostrategis semakin berkembang ketika NATO menggelar latihan terbesar dan  paling ambisius dalam lebih dari satu dekade terakhir dengan melibatkan sekitar 36.000 tentara, lebih dari 140 pesawat dan 60 kapal dari lebih 30 negara.

Selain sekutu NATO, peserta latihan termasuk Australia, Austria, Bosnia dan Herzegovina, Finlandia, Makedonia, Swedia dan Ukraina. Latihan Trident Juncture 2015  dibuka 19 Oktober di Pangkalan Udara Trapani, Sisilia, dan akan diselenggarakan oleh Italia, Spanyol dan Portugal sampai 6 November “Kami sangat prihatin tentang peningkatan militer Rusia,” kata Wakil Sekretaris NATO Jenderal Alexander Vershbow kepada wartawan. “Mereka meningkatkan konsentrasi pasukan di Kaliningrad, Laut Hitam dan, sekarang, di Mediterania timur yang menimbulkan beberapa tantangan tambahan.”
Pada upacara pembukaan, NATO memamerkan kekuatan serangan udara dengan Typhoon, F/A-18, F-16, Tornado dan AMX, serta drone MQ-9 Reaper.

Tapi pekan lalu juga terjadi dua peristiwa luar biasa lainnya terkait dengan skenario Mediterania. Pada tanggal 20 Oktober, Angkatan Laut AS mengumumkan perusak USS Ross berhasil mencegat rudal balistik di Samudra Atlantik Utara dalam sebuah latihan penembakan dengan delapan negara lainnya. Kapal tersebut saat ini ada di pangkalan Navy Base Rota Spanyol, dekat Mediterania.

“Ini adalah pertama kalinya interceptor Standard Missile-3 Block IA dipecat di luar negara Amerika dan pertama kalinya mencegat rudal balistik di teater Eropa,” kata Angkatan Laut AS. Latihan ini hanya dua minggu setelah empat kapal perang Angkatan Laut Rusia meluncurkan 26 rudal jelajah dari Laut Kaspia ke target di Suriah. Peluncuran rudal Rusia telah mengejutkan banyak pihak karena hanya menggunakan kapal yang relatif kecil yang selama ini dianggap tidak mampu.

Selain itu pada 20 Oktober, perusak Porter di Batumi, Georgia, sebuah negara yang terlibat perang melawan pasukan Rusia pada tahun 2008 dan mencoba untuk bergabung dengan NATO. Porter merupakan salah satu dari empat kapal perusak yang berbasis di Rota bersama Ross, Donald Cook dan Carney.

“Operasi Porter di Laut Hitam dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan maritim dan stabilitas, kesiapan, dan kemampuan angkatan laut dengan sekutu dan mitra kami,” kata siaran Angkatan Laut AS.
Apakah NATO benar-benar melakukan skenario Perang Dingin baru?

“Kami tidak percaya Rusia ingin konflik militer dengan NATO, tapi ya, kami memiliki kegiatan yang sedang berlangsung pada tingkat rendah lainnya seperti di Perang Dingin seperti manajemen informasi, serangan cyber, mata-mata militer,” kata seorang pejabat NATO kepad Defense News Senin 26 Oktober 2015.

“Namun, ada dua perbedaan penting sekarang,” kata pejabat itu. “Tidak ada ancaman eksistensial di Eropa, dan sekarang isu regional dari pertarungan antara dua negara adidaya. Kekhawatiran ini telah meningkat dengan intervensi militer Rusia di Suriah dan ancaman di Turki.”
 
Laut Hitam, yang berbatasan dengan Turki, Rumania dan Bulgaria yang semuanya adalah negara NATO, dan juga Rusia, Ukraina dan Georgia, tampaknya menjadi faktor kunci dalam skenario NATO-Rusia baru ini.

Di Trapani, seorang pejabat senior yang menolak untuk disebutkan namanya kepada Reuters mengatakan bahwa Rusia telah menggunakan perang Suriah sebagai dalih untuk meningkatkan kehadirannya di Laut Mediterania.

“Kita harus memperhitungkan bahwa Rusia akan memiliki kehadiran yang lebih besar dengan kemampuan untuk menghambat kebebasan manuver dan navigasi kami,” kata pejabat itu.
Semenanjung Krimea, yang dianeksasi Rusia dari Ukraina pada tahun 2014, menurut pejabat itu telah menjadi benteng bersenjata Rusia.

Kehadiran terus menerus sebuah kapal perusak Aegis di Laut Hitam adalah salah satu strategi AS untuk mempelajari upaya mengganti rudal Patriot yang digunakan untuk melindungi Turki, yang sedang ditarik.

Trident Junture 2015 telah dimulai, tapi tidak ada pejabat NATO secara terbuka menyatakan Rusia merupakan masalah di sisi selatan. Vershbow membantah latihan ini ditujukan untuk ancaman Rusia. “Memang [tidak untuk Rusia], terinspirasi oleh negara-negara Afrika,” katanya. Latihan ini mensimulasikan konflik di daerah Tanduk Afrika dan Sudan, dengan Kamon, Lakuta dan Tytan sebagai negara imajiner.

Saturday, 17 October 2015

[Dunia] Rusia Ancang-ancang Tumpuk Militer di Asia Tengah

Rusia berencana menumpuk kekuatan militer di wilayah Asia Tengah. | (RIA Novosti)

Para pemimpin negara-negara pecahan Uni Soviet berkumpul di Kazakhstan untuk menghadiri forum Commonwealth of Independent States (CIS), sebuah organisasi regional yang didominasi Rusia. Dalam forum itu, negara-negara tersebut akan meneken dokumen tentang rencana Rusia menumpuk kekuatan militer di Asia Tengah.

Dokumen itu, seperti dikutip BBC, Jumat (16/10/2015), merupakan konsep kerjasama militer CIS hingga 2020. Rusia sendiri sudah terikat perjanjian dengan Tajikistan dan Kirgistan untuk memperpanjang izin pangkalan militernya masing-masing sampai 2042 dan 2032.

Rusia juga berencana untuk memperbaharui armada pangkalan udara di Kant, Kirgistan pada tahun 2016. Hal itu akan diikuti dengan pengiriman selusin pesawat jet tempur Su-25 versi baru dan modifikasi untuk menggantikan pesawat-pesawat tua.

Rusia juga telah berjanji untuk memberikan bantuan militer sebesar USD1 miliar kepada Kirgistan. Sedangkan Tajikistan telah menerima bantuan militer Rusia, tapi nominalnya tidak diketahui.

Alexander Golts, seorang analis militer yang berbasis di Moskow, mengatakan bahwa selama latihan militer, Rusia tidak hanya melatih pasukannya tetapi juga meningkatkan kontak antara para pemimpinan politik. Tujuannya untuk bekerja pada skenario guna mendapatkan "hak sah" untuk campur tangan dari pasukan Rusia ketika terjadi konflik.

Sementara itu, Kremlin sebelumnya mengkonfirmasi bahwa peningkatan kehadiran militer di wilayah Asia Tengah tak lepas dari ancaman yang ada seperti dari militan Afghanistan dan pihak luar.

”Ada ancaman yang berkembang bahwa kelompok teroris dan ekstremis yang dapat menembus ke dalam wilayah yang berbatasan Afghanistan,” kata Presiden Rusia, Vladimir Putin dalam forum Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif di Dushanbe, September lalu. Putin menambahkan bahwa situasi itu diperparah dengan munculnya ISIS di Afghanistan.


Thursday, 15 October 2015

Rusia Siap Latih Tentara Indonesia

Ketua Dewan Federasi Rusia mengusulkan pelaksanaan latihan militer bersama antara kedua negara
 
KRI Irian 201, Simbol Persahabatan Soviet dan Indonesia di Tahun 60-an 

Rusia tertarik mengembangkan kerja sama lebih lanjut dengan Indonesia di bidang militer dan teknologi. Demikian hal ini dinyatakan Ketua Dewan Federasi Rusia Valentina Matvienko dalam pertemuannya dengan Ketua DPD RI Irman Gusman.

Dalam pertemuan tersebut, Matvienko menegaskan bahwa kerja sama teknis militer secara tradisional telah menjadi salah satu bidang yang sangat penting, yang sudah terjalin dalam hubungan antara kedua negara.

“Kami bersedia untuk bekerja sama membangun pusat pelayanan teknis di Indonesia. Kami juga mempertimbangkan kemungkinan memulai produksi barang-barang militer di wilayah Indonesia atas dasar lisensi atau perusahaan bersama,” tutur Matvienko. 

Selain itu, Matvienko juga mengusulkan pertukaran delegasi militer, pelaksanaan latihan militer bersama, dan dilanjutkannya kegiatan masuknya kapal-kapal perang Rusia ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia.

Sang ketua Dewan Federasi juga menyatakan bahwa Rusia siap mempertimbangkan kemungkinan para personil militer Indonesia untuk belajar di sekolah-sekolah militer di Rusia.

RBTH 

[Dunia] Bagaimana Nasib Suriah Selanjutnya?

Dua Koalisi Melawan Daesh

Peta konflik di Suriah antara koalisi AS, ISIS dan pro-Rusia. (Daily Mirror) 

Seminggu setelah Rusia meluncurkan serangan udara terhadap ISIS di Suriah, harapan untuk koalisi yang lebih luas dalam memerangi militan ISIS yang merebut sejumlah besar wilayah Suriah menguap. Harapan bahwa musuh bersama, yang merepresentasikan tantangan peradaban, dapat mendekatkan kembali Rusia dan Barat, ternyata prematur.

Di luar kritik tajam Barat terhadap serangan Rusia, yang menuduh Rusia menyerang oposisi Suriah bukannya ISIS, militer Rusia bersikeras bahwa serangan tersebut terbukti efektif sejauh ini. Menghadapi langkah Rusia yang cukup tegas, Presiden AS Barack Obama mengumumkan rencana strategis untuk meluncurkan serangan umum secara de facto ke ibu kota ISIS, kota Raqqa di timur laut Suriah.

Operasi tersebut akan melibatkan 20 ribu tentara Kurdi dan sekitar lima ribu pemberontak yang merepresentasikan oposisi Suriah, didukung oleh AU Amerika. Inisiatif Obama untuk meluncurkan serangan pada ISIS di Suriah, yang tak dilakukan selama lebih dari setahun sejak kehadiran koalisi yang dipimpin AS, hanya memperburuk hubungan Moskow dan Obama terkait strategi memerangi ISIS.

Ada kecurigaan di kalangan pengamat Rusia bahwa rencana tersebut tak lain hendak menunjukan kompetensi AS untuk ‘menyelesaikan hal yang tak tertangani oleh Rusia’. Sementara, koalisi anti-ISIS yang mulai terbentuk antara Russia, Iran, dan Irak serata Damaskus menggunakan caranya sendiri untuk bersatu sebagai sebuah pasukan anti-ISIS. Koalisi baru ini membentuk pusat koordinasi di Baghdad untuk melakukan pengintaian dan analisis, dan unit tersebut akan mulai beroperasi dalam beberapa minggu mendatang.

Pendatang baru di koalisi anti-ISIS kedua, yang dipimpin oleh Moskow, yakni Irak, membuat komitmen tegas. Dilihat sebagai negara klien setelah lebih dari satu dekade kehadiran militer Amerika di negara tersebut sejak jatuhnya diktator Saddam Hussein, Irak berjanji akan lebih aktif memerangi ISIS dan menyediakan data intelijen untuk Iran, Suriah, dan Rusia. Sementara, reaksi internasional atas aksi militer Rusia berkisar dari penolakan penuh (Arab Saudi dan Turki) hingga potensi kerja sama (Prancis), dan keacuhan (Uni Emirat Arab).

Secara tak terduga, Emirat menyambut keterlibatan Rusia, menyebutkan bahwa mereka tak keberatan akan hal itu. Pejabat senior di Abu Dhabi, seperti dikutip oleh harian Prancis Le Figaro, menyatakan bahwa jika Rusia mampu melemahkan ISIS dan kelompok radikal al-Nusra, hal itu akan dianggap sebagai hal positif oleh UEA.

Selain itu, negara tersebut juga tak peduli bahkan jika Rusia membuat Assad tetap bertahan. “Kami tak bermasalah bekerja sama dengan Rusia,” kata pejabat yang tak mau disebutkan namanya. “Tapi tidak dengan Iran.” Secara keseluruhan, sejak Moskow terlibat dalam konflik Suriah, perubahan konfigurasi aliansi politik dan loyalitas meningkat.

Namun, hal ini tetap tak membuka jalan bagi aliansi yang benar-benar luas dan komprehensif. Dua koalisi anti-ISIS tak sepenuhnya saling bicara, meski terdapat kontak intens antara pejabat militer Rusia dan Amerika. Terdapat cukup banyak retorika di udara yang menyebutkan dua sekutu tersebut bersaing satu sama lain, mencoba melegitimasi superioritas terkait pasukan anti-ISIS.

Apakah hal ini akan mengganggu proses penumpasan ISIS dan kelompok regional lain yang mengacaukan stabilitas regional? Dmitry Polikanov, anggota Center for Policy Studies in Russia yang berbasis di Moskow, menyampaikan pada Troika Report.

“Ini bisa mengarah pada upaya yang tak terkoordinasi dan menciptakan pergesekan antara anggota kelompok koalisi, secara tak disengaja. Saya berasumsi sepertinya lebih baik kedua koalisi mengeluarkan pakta untuk menghindari perselisihan. Rusia dan AS harus sepakat untuk bertindak lebih bijak.”

“Saat ini, Barack Obama telah menyatakan perlunya menyediakan senjata lebih banyak bagi pemberontak Suriah. Seperti kita tahu, persenjataan tersebut sebelumnya dikirim oleh para pemberontak untuk teroris, yang menghambat operasi yang dilakukan Rusia."

- ISIS dianggap sebagai ancaman global, tantangan global. Perlu upaya global untuk menumpas hal itu. Mengapa tak ada koordinasi antara Rusia dan Barat pada titik kritis ini?

“Hal ini karena kurangnya keinginan politik dari pihak Barat. Pemerintah Rusia berulang kali mengajak membentuk upaya bersama memerangi ISIS. Semua upaya gagal, sayangnya. Hal ini mungkin dimotivasi oleh ambisi personal pemimpin negara tertentu.”

- Apakah mungkin salah satu koalisi menyatakan diri sebagai pemenang?

“Sesungguhnya, tak ada yang benar-benar menang dalam perang ini. Sangat berbahaya untuk mengaku sebagai pemenang. ISIS, sama seperti organisasi teroris lain, merupakan organisasi jaringan. Secara praktis tak mungkin mencapai kemenangan absolut. Saya rasa lebih masuk akal untuk bicara mengenai proses, tapi tidak perlu bicara mengenai hasilnya. Tujuan koalisi Rusia dan AS harus ditegaskan untuk mengurangi potensi tempur ISIS.”

Pada dasarnya, kompetisi antara dua koalisi tak akan menentukan siapa yang menang atas ISIS, melainkan memperlihatkan siapa yang lebih kuat di wilayah tersebut. Bagi AS, mereka lebih butuh pengakuan sebagai penjaga keamanan Timur Tengah. Bagi Rusia, ini adalah tentang mengamankan rezim pro-Moskow di Damaskus, menciptakan hubungan khusus dengan kekuatan regional yang sedang tumbuh, Iran, dan kembali ke politik global sebagai agen asertif yang bisa diperhitungkan.

Di luar perbedaan kepentingan strategis, tujuan utama kedua koalisi sudah tentu memusnahkan ISIS dari dunia yang beradab. 

Moskow Ingin Suriah Kalahkan Sendiri Daesh

Kru teknisi militer Rusia menempatkan bom yang dikendalikan satelit pada pesawat tempur SU-34 di pangkalan udara Hmeimim di Suriah, Sabtu (3/10). [AP] 

Kremlin menolak untuk mengomentari informasi yang dirilis CNN terkait kemungkinan persiapan operasi darat Rusia di Suriah. Namun, para pakar Rusia satu suara dan menegaskan bahwa Moskow tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam konflik Suriah dan membatasi serangan udara.

Kremlin tidak memberikan komentar terkait mencuatnya laporan media Barat mengenai transfer sistem artileri buatan Rusia dari Latakia lebih jauh ke dalam wilayah Suriah. “CNN membingungkan. Mereka bahkan salah menyebut Putin dengan Yeltsin,” demikian dikabarkan oleh Juru Bicara Kepresidenan Dmitry Peskov kepada wartawan pada Selasa (6/10).

Sebelumnya pada 30 September, Kepala Administrasi Kepresidenan Sergei Ivanov mengatakan bahwa Rusia hanya berniat untuk mengerahkan Angkatan Udara di Suriah. Hal tersebut dilakukan menanggapi permintaan langsung dari Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pakar Dewan Rusia Urusan Internasional Nikita Mendkovich mengatakan kepada RBTH bahwa saat ini Rusia tidak mempertimbangkan kemungkinan operasi darat di Suriah. Ini dikarenakan untuk saat ini bantuan tersebut belum dibutuhkan.

“Tujuan Rusia adalah untuk mengurangi ancaman ISIS dengan mendukung upaya pemerintah yang sah di Suriah dalam memerangi organisasi teroris tersebut. Pengalaman hari pertama operasi menunjukkan bahwa penggunaan angkatan udara menghasilkan keberhasilan taktis yang signifikan dan menstabilkan garis depan pascakrisis musim panas,” ujar Nikita Mendkovich.

Berkenaan dengan CNN, sang pakar mengatakan, “Hal tersebut mungkin senjata yang dikirimkan untuk tentara Suriah dalam rangka kontrak militer. Itu adalah artileri Suriah, bukan milik Rusia.”

Tak Ada Sumber Daya untuk Intervensi Darat

Serangan Su34 Fullback. [Reuters] 

Vladimir Khrustalev, seorang pakar dari Yayasan Lifeboat, mengatakan bahwa volume senjata dan peralatan militer yang dikabarkan oleh saluran televisi Amerika tidak melewati kerangka pengiriman senjata secara berkala untuk Assad. 

“Pasukan darat Rusia memang ada di sana. Namun, hanya dalam jumlah yang sangat minim dan sebagai sarana untuk memastikan fungsi pangkalan udara,” jelasnya. 

“Jika membahas mengenai prospek untuk operasi darat, tidak ada bukti yang kuat.” Leonid Isaev, seorang orientalis dan pengajar di Sekolah Tinggi Ekonomi mengatakan kepada RBTH bahwa kemenangan atas ISIS tanpa operasi darat tidaklah mungkin.

“Dukungan dari udara membantu pasukan pemerintah mempertahankan wilayah yang dikontrol tentara Suriah. Tentara Suriah telah mengalami kerugian pada tahun-tahun sebelumnya dan tidak sanggup kehilangan lebih dari itu. Untuk dapat memenangkannya, dibutuhkan pasukan darat ke Suriah,” ujar sang pakar.

Namun menurut Leonid Isaev, intervensi darat Rusia tidak memiliki sumber daya yang cukup. “Selain itu, kita dapat menyebabkan banyak hal yang merugikan Assad. Semakin besar campur tangan Rusia di Suriah, semakin kuat pula reaksi Barat, Arab Saudi, dan Turki,” katanya menambahkan.

Menurut Leonid Isaev, hal utama terletak pada kenyataan bahwa Kremlin tidak ingin mengulangi kesalahan Uni Soviet. “Rusia diharapkan dapat membatasi operasi udara dan tidak membiarkan diri mereka ditarik lebih jauh ke dalam konflik Suriah.” Ketua Asosiasi Ilmuwan Politik Militer Vasily Belozerov menekankan dalam percakapannya dengan RBTH bahwa tingkat kehadiran pasukan Rusia di wilayah udara Suriah sudah menyebabkan kerusakan serius pada ISIS, dan hal ini dinilai sudah cukup.

RBTH 

Tuesday, 13 October 2015

[Dunia] China Mendukung Kedaulatan Suriah

(Reuters/Ministry of Defence of the Russian Federation)

Dalam pertemuannya dengan seorang ajudan Presiden Suriah, Bouthaina Shaaban, Menteri Luar Negeri China mengatakan pada Senin (12/10), negaranya mendukung upaya Suriah dalam pemeliharaan kedaulatan dan integritas teritorialnya, serta menentang "campur tangan asal" terhadap hubungan internal negara lain.

Bulan lalu, Rusia mulai menyerang target-targetnya di Suriah. Peningkatan dramatis keterlibatan pihak asing dalam konflik sipil itu dikritik Barat sebagai usaha mendukung Presiden Suriah, Bashar al-Assad, ketimbang menggempur ISIS seperti yang selama ini dikemukakan Rusia.

Kepada Bouthaina, Menteri Luar Negeri China menyatakan dukungannya terhadap langkah-langkah antiteror yang sejalan dengan hukum internasional, dan telah disepakati oleh "negara yang tertarik", menurut pernyataan kementerian.

China "menolak campur tangan dalam hubungan internal negara lain", tambah Wang. "Pada akhirnya, nasib Suriah harus ditentukan sendiri oleh warga Suriah."

Baginya, upaya-upaya lebih mesti dibuat sebagai solusi politik. Wang tak menyinggung apapun perihal serangan udara pimpinan Amerika Serikat, Rusia, maupun Assad.

Namun China biasanya bersuara bersama anggota permanen Dewan keamanan PBB lainnya, Rusia, terkait isu Suriah.

Negara yang menggantungkan kebutuhan minyaknya kepada Timur Tengah itu telah berulang kali menyerukan resolusi politik, dan mengingatkan bahwa tindakan militer tak bisa menghentikan krisis yang ada. (stu)


CNN 

[Dunia] Rusia Klaim Hancurkan 63 Target dalam 64 Sorti di Suriah dalam 24 Jam

Rusia menggencarkan serangan udara ke wilayah Suriah dengan dalih menghantam daerah kekuasaan ISIS. (Reuters/Ministry of Defence of the Russian Federation)

Jet tempur-jet tempur Rusia menghantam 63 sasaran di Suriah dalam 24 jam terakhir, kata kementerian pertahanan Rusia seperti dikutip AFP.

"Pesawat-pesawat Su-34, Su-24M dan Su-25SM melancarkan 64 sorti penerbangan dari pangkalan udara Hmeimim terhadap 63 target di Provinsi Hama, Latakia, Idlib dan Raqa," kata kementerian itu.

Militer Rusia mengklaim bahwa serangan udara itu telah menghancurkan 53 posisi yang digunakan "teroris", selain sebuah pos komando, empat kamp pelatihan dan tujuh gudang senjata. Rusia mengatakan kampanyenya di Rusia adalah telah melumpuhkan ISIS dengan menunjukkan rekaman komunikasi radio yang menunjukkan ISIS semakin panik.

Sabtu, kementerian pertahanan mengklaim bahwa para petempur kekurangan senjata, amunisi dan bahan bakar, sehingga mendorong mereka meninggalkan posisi-posisi tempurnya ke wilayah timur dan timur laut.

Juru bicara kementerian pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan bahwa Rusia mencapai kemajuan dalam perundingannya dengan Pentagon dalam mencegah insiden di dalam ruang udara Suriah di mana koalisi pimpinan AS juga melancarkan bombardemen terpisah di Suriah.

Antara

[Dunia] Tokoh Kunci di Balik Operasi Militer Rusia di Suriah

Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Khusus Iran. [tasnimnews]

Pada tanggal 24 Juli 2015, sebuah pesawat komersil Iran mendarat di Bandara Udara Moskow, Rusia. Tidak ada yang istimewa terkait hal tersebut, semua berjalan seperti biasanya.

Namun belakangan, pihak intelijen negara barat baru mengetahui bahwa pesawat itu mengangkut seseorang yang “istimewa”. Sosok itu adalah Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Soleimani merupakan Komandan pasukan Satuan elite Garda Revolusi Iran, Qods Force. Soleimani juga kerap dijuluki Komandan pasukan bayangan (Shadow Commander) oleh media-media Barat. Pria ini diyakini sebagai otak operasi intelijen Iran di hampir semua palagan di Timur Tengah. Sebut saja Irak, Afghanistan, Lebanon, Suriah, bahkan Yaman.

Sejumlah kalangan meyakini tanpa kehadiran Soleimani di Suriah, rezim Bashar al Assad saat ini tinggalah kenangan. Nah, apa maksud dan tujuan perwira tinggi Iran ke Moskow kala itu? Belakangan terkuak kunjungan Soleimani saat itu untuk menemui Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu dan Presiden Vladimir Putin.

Dalam tulisannya, Tom Perry, Kepala Biro Reuters di Timur Tengah mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut, Soleimani meyakinkan Rusia bahwa Suriah sangat membutuhkan kehadiran militer negara itu. Menurut Soleimani, posisi Assad yang terjepit kelompok pemberontak bisa berbalik di atas angin jika Rusia hadir dengan pasukan dan persenjataannya. Soleimani menawarkan aliansi operasi militer Iran dan Rusia di Suriah: Rusia di udara dan Iran di darat.

Kapal perang Rusia menembakkan rudal dari Laut Kaspia ke basis ISIS di Suriah. (indiaexpress) 

Artinya, Rusia cukup dengan menggelar operasi serangan udara, dan biarkanlah Iran dan Suriah yang “menyelesaikan” bagian yang di darat. Dalam pertemuan tersebut, Soleimani membentangkan peta pertempuran antara tentara pemerintah Suriah dan pemberontak, yang sudah mulai bergeser mendekati Tartus, kawasan pesisir Suriah.

Di sinilah, Soleimani memainkan kartu trufnya untuk mendesak Rusia. Jenderal Iran ini sangat menyadari pentingnya Tartus bagi Rusia. Tartus merupakan satu-satunya pangkalan militer Rusia di Timur Tengah. Tanpa Tartus, Rusia tak lagi punya pijakan di kawasan tersebut. “Soleimani menempatkan peta Suriah di atas meja.

Petinggi Rusia sangat khawatir dan mencemaskan aset mereka di Suriah. Jenderal Iran itu meyakinkan mereka, masih ada peluang untuk membalikkan situasi,” sebuah kata sumber Reuters. Lobi Soleimani akhirnya berhasil. Hari-hari ini, dunia melihat pesawat dan rudal-rudal Rusia wara-wiri di langit Suriah. Arti Suriah bagi Iran Apa pentingnya Suriah bagi Iran? Banyak pihak yang hingga kini masih bertanya-tanya, alasan Teheran mati-matian mempertahankan Assad dari serangan pemberontak.

Ada dua alasan. Pertama, saat Perang Teluk 1, Suriah merupakan satu-satunya negara Timur Tengah yang mendukung Iran, ketika seluruh negara lain berada di belakang Irak. Kedua, Keberlangsungan rezim Assad diperlukan Teheran untuk menjamin jalur pasokan senjata dan logistik yang mereka kirim kepada kelompok Hizbullah di Lebanon. Hizbullah merupakan “tangan” Teheran untuk memukul Israel, seperti yang terjadi pada tahun 2006.

Selain Hizbullah, Iran juga dicap negara Barat sebagai pendukung utama kelompok “radikal” di Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam. Namun, suka atau tidak, hari ini negara-negara Barat harus mengakui stabilitas di Timur Tengah tak mungkin tercapai bila mereka mengabaikan Iran! [Reuters]

Tribunnews

Monday, 12 October 2015

[Foto] Fregate Gepard

Penjaga Ekonomi Laut Rusia


Fregate Gepard class kapal perang canggih andalan Rusia, kapal ini memiliki nama kode produksi Project 11661. Kapal ini didesain untuk menghadapi pertempuran anti kapal selam, anti kapal permukaan, anti pesawat tempur. Selain itu tugas kapal ini meliputi patroli, operasi pengawalan, proteksi dan perlindungan zona ekonomi laut. Sehingga kemampuan teknis pertempuran kapal ini sangatlah lengkap, tidak heran Vietnam memilih kapal ini sebagai salah satu alutsista pertahanan lautnya. Satu lagi teknologi yang tidak bisa dipandang sebelah mata adalah, kemampuan anti radar atau stealth. [dailymotion.com]


Fregate Gepard, Penjaga Ekonomi Laut Rusia Gepard dirancang oleh JSC Zelenodolsk Shipyard pada 1 Juli 1993, namun baru masuk dinas operasional pada 31 Agustus 2003. Rusia memasukan Gepard ke dalam satuan armada laut Kaspia pada tahun 2012, disana Gepard ditugaskan melindungi jalur ekonomi laut Rusia. Keunggulan kapal ini adalah mampu menyerang target jarak jauh menggunakan rudal jelajah, salah satunya dibuktikan dalam misi ke Suriah untuk menggempur militan ISIS. [ktwop.com]


Fregate Gepard, Penjaga Ekonomi Laut Rusia Kalibr-NK missile system merupakan salah satu senjata andalan dari Gepard, akurasi dari sistem rudal tersebut terhitung tinggi. Gepard sekelas dengan kapal PKR Sigma yang dimiliki Indonesia, dan sama-sama memiliki kemampuan mengurangi tangkapan jejak radar lawan. Bahkan keduanya sempat bersaing sengit ketika Indonesia memutuskan untuk membeli kapal Fregate. Rusia membangun 2 kapal kelas Gepard, Dagestan dan Tatarstan. [zdship.ru]


Fregate Gepard, Penjaga Ekonomi Laut Rusia Kapal ini mampu menghadapi ancaman dalam spektrum luas, dan beragam jenis dari pertempuran laut. Berikut ini data teknis dari kapal Gepard, memiliki berat 1.500 ton, panjang 102 meter dengan lebar 5 meter. Dilengkapi dengan beragam radar dan sensor salah satunya MR-352 Pozitiv, Fire control radar Monolit (antiship missiles), Fire control radar MPZ-301 Baza (SAM system), Fire control radar MR-123 Vympel (gun mount), Electronic warfare system. Tidak hanya itu saja, jika Gepard dibidik oleh lawan secara otomatis decoy launchers PK-16 akan bereaksi memberi perlindungan terhadap Gepard. [keypublishing.com]


Fregate Gepard, Penjaga Ekonomi Laut Rusia Gepard membagi persenjataan berdasarkan 3 klasifikasi diantaranya adalah gun atau meriam dilengkapi dengan AK-176 kaliber 76mm, AK-630M kaliber 30mm, senapan mesin KPVT 16,5mm. Sedangkan untuk menghadapi kapal permukaan Gepard dilengkapi dengan Kh-35 Uran / Caliber-NK. Pertempuran udara Gepard menghadapi dengan SAM system Osa-MA, missiles 9M33, MANPADS Igla-M. Untuk melawan kapal selam dilengkapi dengan torpedo 533mm, dan roket RBU-6000, tidak ketinggalan sebuah helikopter intai Ka-27 setia menemani Gepard. [aseanmildef.com]


Gepard dilengkapi dengan mesin diesel 61D bertenaga 8,000 shp, mesin turbin 29.000 shp. Kapal ini memiliki kecepatan mencapai 28 knots atau 52 Km/perjam, dengan kecepatan ekonomis 14 knots. Gepard mampu menjelajah mencapai 7.000 Km, dengan diawaki 93 orang pelaut. [defencyclopedia]

Tempo

[Dunia] AS dan Rusia Berpotensi Perang Dunia III di Suriah

Peta konflik di Suriah antara koalisi AS, ISIS dan pro-Rusia. (Daily Mirror)

Amerika Serikat (AS) dan koalisinya mengumumkan telah melakukan 24 serangan terhadap ISIS di Suriah dalam 24 jam. Di waktu yang sama, Rusia mengklaim menggempur 55 target ISIS.

Analis militer, Andrew Foxall dari kelompok think thank Henry Jackson Society, memperingatkan, serangan koalisi AS yakni NATO dan Rusia di Suriah bisa menjadi bencana tak terbayangkan jika suatu saat bersinggungan. Kedua kekuatan dunia itu, bahkan bisa terlibat Perang Dunia III di Suriah.

Dalam beberapa hari ini saja, ketegangan antara AS dan Rusia terus memanas, di mana AS menuduh serangan Rusia mengenai pasukan pemberontak Suriah yang dilatih AS. Sebaliknya, Rusia mengejak koalisi AS yang sudah setahun menyerang kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tapi tidak begitu terlihat hasilnya.

Foxall, mengatakan insiden diplomatik bisa berubah jadi bencana. Dia menggambarkan bahwa lalu lintas udara di Suriah kini semakin padat. Pesawat tempur, helikopter, drone, rudal dan artileri baik dari Rusia maupun koalisi AS telah jadi pemandangan setiap saat di wilayah udara Suriah.

”Mengingat jumlah lalu lintas militer di udara (yang padat), ada kekhawatiran nyata bahwa pesawat akan ditembak jatuh karena kesalahpahaman yang jadi bencana. Ini berarti kita bisa menjadi saksi detik-detik dari eskalasi yang tiba-tiba membawa kita ke ambang perang,” kata Foxall.

Komandan serangan udara AS di Suriah, Letnan Jenderal Charles Brown, telah mengakui adanya ketegangan kedua pihak. Dia mencontohkan, pesawat AS dan Rusia nyaris berhadapan dalam jarak 20 mil. Jika tidak dikendalikan, hal itu bisa jadi bencana dalam hitungan detik.

“Rusia memiliki tujuan yang sangat berbeda dengan koalisi NATO yang menginginkan perubahan rezim di Suriah,” kata Foxall, seperti dikutip Daily Mirror, semalam. ”(Sementara) kepentingan utama Kremlin adalah mempertahankan rezim pro-Rusia di Suriah.”

Foxall juga mengkhawatirkan jika China ikut ambil bagian dalam masalah yang rumit di Suriah itu.

Sementara itu, mantan Sekjen NATO, Jaap de Hoop Scheffer, mengatakan kepada Channel 4, bahwa Kremlin akan gagal. ”Saya pikir Putin akhirnya akan jatuh dengan pedangnya sendiri. Dia akan menjadi anti-juru selamat untuk setiap warga Sunni di Timur Tengah,” ujarnya mengacu pada sentiman sektarian di Timur Tengah antara kaum Sunni dan Syiah.

Puluhan Pesawat Tempur Anyar Perkuat Militer Rusia

Jet Tempu Su-30SM Flanker. (wp.com)
 
MOSKOW - Militer Rusia dipastikan akan bertambah kuat dengan kehadiran puluhan pesawat tempur anyar. Seperti dilansir dari Sputnik, Jumat (9/10), militer Rusia akan menerima 16 helikopter Ka-52 Alligator, 18 jet Su-30SM Flanker, dan 11 jet MiG-31 Foxhound supersonic.

Menurut Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, penambahan puluhan pesawat tempur ini adalah bagian dari modernisasi peralatan militer Rusia. Rusia telah menganggarkan USD 325 miliar untuk memodernisasi 70 persen peralatan militernya hingga tahun 2020.

"Empat unit helikopter Ka-52 Alligator diproduksi oleh Progress Arsenyev Aviation Company (PAAC). Penyerahan lebih dari 12 helikopter dijadwalkan untuk tahun 2015," kata Managing Director PAAC, Yury Denisenko.

Sementara menurut Direktur Teknis Irkutsk Aviation Plant, perusahaan yang memproduksi jet tempur Su-30SM Flanker, dua unit jet tempur canggih ini dan dua pesawat latih tempur Yak-130 sudah siap diserahkan ke militer Rusia.

"Pemerintah memberikan kontrak untuk pengiriman tambahan 16 jet Su-30SM Flanker dan 6 pesawat latih tempur Yak-130 pada tahun 2015. Hampir semua pesawat berada di tahap akhir produksi," kata Sergunov.

Kesiapan serupa diutarakan Alexander Karezin, Direktur Umum Nizhny Novgorod Aircraft Building Plant Sokol, perusahaan yang memproduksi jet MiG-31 Foxhound supersonic. Menurut Karezin, pihaknya telah melakukan perbaikan dan modernisasi enam jet MiG-31BMs.

"Empat pesawat telah diserahkan kepada unit militer, dan dua siap untuk diterbangkan. Sementara Lima MiG-31BM dan dua MiG-29UBM akan diserahkan pada akhir tahun ini," tambahnya. (esn)


Sindonews

Sunday, 11 October 2015

(Foto) Korvet Kelas Buyan

Monster Laut Kaspia yang Mematikan

Korvet Rusia kelas Buyan yang bergabung dengan Armada Laut Kaspia, Grad Sviyazhsk meluncurkan rudal. Rusia melengkapi kekuatan lautnya dengan kapal berukuran kecil tetapi mampu membawa rudal jelajah jarak jauh 3M54 Kaliber (SS-N-27). [defencyclopedia.com]


Tiga corvet kelas Buyan, Grad Sviyazhsk, Uglich, dan Veliky Ustyug, bersama light frigate kelas Gepard, Dagestan, meluncurkan 26 rudal jelajah Kalibr NK untuk menghancurkan posisi Daesh di Suriah yang berjarak 1.500 km dari Laut Kaspia, pada 7 Oktober 2015. [deagel.com/Russian Ministry of Defense]

Rusia mulai membangun kapal kelas Buyan atau proyek 21630 pada 2004 di Almaz Shipyard di St. Petersburg. Pada 2010, diperkenalkan proyek 21631 yang merupakan pengembangan dari proyek 21630. Grad Sviyazhsk merupakan kapal pertama proyek 21631. [ann.az]


Korvet kelas Buyan dipersenjatai delapan peluncur rudal jelajah 3M54 Kaliber (SS-N-27), sistem peluncuran roket multi (MRLS) A-215 Grad-M yang dapat menembak40 roket 122 mm terhadap sasaran di darat, dan meriam utama A-190 100 mm. Untuk pertahanan udara, korvet ini dipersenjatai dengan 2 CIWS AK-306 30 mm, 4 tabung peluncur rudal Gibka 3M47 yang dapat menembakkan rudal anti pesawat Igla atau Igla-S. Buyan juga dipersenjatai senapan mesin 14.5 mm dan 7.62 mm. [ru-an.info]

Korvet kelas Buyan merupakan kapal perang pesisir. Buyan memiliki panjang 62 m, lebar 9,6 m, dan draft 2 meter. Kecepatan maksimum kapal ini adalah 28 knots (52 km/jam, dan mampu menjelajah hingga 1.500 mil laut atau 2.800 km. Pada kecepatan 12 knot, kapal ini dapat menjelajah hingga 2.300 mil laut atau 4.300 km. [deagel.com/Russian Ministry of Defense]


Korvet kelas Buyan mampu beropreasi pada kondisi permukaan laut bergelombang setinggi empat hingga enam meter (sea state enam) dan mampu menembakan rudal pada sea state empat atau kondisi laut bergelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter. [defencenet.gr]

Tempo