Showing posts with label Marinir. Show all posts
Showing posts with label Marinir. Show all posts

Tuesday, 24 November 2015

Korps Marinir Resmikan Puslatpur Bancar, Tuban

Puslatpur Marinir Animha di Kecamatan Bancar Tuban akan fokus sebagai tempat latihan pasukan amphibi (photo : Antara)

Bersamaan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Korps Marinir yang ke 70, Komando Korps Marinir Mayjen TNI Buyung Lalana meresmikan Pusat Latihan Pertempuran (Puslatpur) Marinir Animha di Kecamatan Bancar Tuban. Nantinya,lokasi tersebut akan fokus sebagai tempat latihan pasukan amphibi, Sabtu (21/11/2015).

“Puslatpur yang berbatasan dengan Provinsi Jawa tengah sangat strategis sebagai tempat latihan marinir,” kata Komando Korps Marinir, Mayjen TNI Buyung Lalana.

Menurutnya, lokasi tersebut memiliki karakteristik laut yang mendukung meningkatkan kekuatan Marinir di Provinsi Jawa Timur. Kondisi pantai yang memadai tersebut sangat mendukung manuver kendaraan tempur marinir, termasuk kendaraan tank amphibi.

Hingga diresmikan hari ini, baru ada dua unit tank yang disiapkan untuk latihan pasukan, dan kendaraan lainnya akan menyusul bersamaan dengan persiapan perlengakapan Puslatpur. Selain pasukan amphibi, akan ditempatkan pula datasemen pemeliharaan dengan kekuatan minimal 200 personil untuk mendukung operasional Puslatpur tersebut.

“Puslatpur Tuban merupakan salah satu lokasi latihan tempur di Jawa Timur, melengkapi Puslatpur di Malang, Grati, dan Situbondo,” imbuh Buyung..

Lebih lanjut Mayjen TNI Buyung Lelana mengatakan, dari semua lokasi latihan Marinir di Jawa Timur, satu dengan yang lainnya memiliki ciri dan karakteristik masing-masing, Seperti halnya di Malang fokus latihan operasi darat, dan di Tuban sesuai meningkatkan kemampuan pasukan amphibi,” pungkasnya.


Kabartuban

Sunday, 15 November 2015

Ratusan Tank Meriahkan HUT 70 Tahun Korps Marinir

HUT 70 Korps Marinir diikuti 2 ribu prajurit

Korps Marinir memperingati hari jadinya yang ke-70 di Markas Korps Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu, 15 November 2015. (VIVA/Foe Peace)
 
Korps Marinir TNI Angkatan Laut merayakan hari jadinya yang ke-70 di Lapangan Apel Ksatrian Marinir Hartono Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu, 15 November 2015.

HUT ke-70 Marinir ini mengambil tema "Kuat Bersama Rakyat, Berkarakter Maritim". Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi bertindak sebagai inspektur upacara dalam acara tersebut.

Kepala Pusat Komando Pengendalian Angkatan Laut (Kapuskodal) Letkol (Mar) David mengatakan, sebanyak dua ribu pasukan diturunkan dalam upacara tersebut.


Sejumlah atraksi disuguhkan untuk memeriahkan HUT Korps Marinir ke-70, di antaranya terjun payung (free fall) oleh 70 penerjun TNI dan Polri, demo serangan kilat, wushu dan mixed martial art serta kolone senapan Marinir junior yang melibatkan anak-anak.


"Ada sekitar dua ribu pasukan. Tanknya banyak sekali, kalau dihitung sama di luar bisa ratusan jumlahnya," kata Letkol David.

Pantauan VIVA.co.id, selain parade dan atraksi prajurit, Korps Marinir juga menampilkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang mereka gunakan. Dalam acara tersebut, Korps Marinir melibatkan anak-anak dalam salah satu atraksi.

"Ya ingin lebih surprise lagi kalau anak-anak yang bermain. Mereka dilatih teknis-teknisnya biar aman, kalau dari jauh memang tidak aman tapi sebetulnya dia tahu teknisnya supaya aman."
Peringatan HUT ke-70 Korps Marinir juga diadakan pengobatan gratis, donor darah, Marines Base Open Day, Kirab Prajurit dan Kendaraan Tempur Marinir. Bahkan, salah satu grup band ternama Slank akan ikut memeriahkan acara tersebut. Slank dipilih karena partisipasinya dalam kegiatan Korps Marinir terkait penanaman terumbu karang, di sejumlah pesisir pantai di Indonesia beberapa waktu lalu. (mus)
Viva 

Tuesday, 10 November 2015

Sulitnya Meraih Baret Intai Amfibi


Lulusan pendidikan Taifib disegani sekaligus ditakuti. Mereka adalah pasukan inti di Kesatuan Marinir yang mempunyai kemampuan di atas rata-rata. Kemampuan tersebut diraih setelah ditempa melalui pendidikan yang sangat ketat serta melewati ujian yang sangat berat selama sepuluh bulan.
Tidak heran, di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi pendidikan Taifib, hanya puluhan bahkan belasan orang yang diterima. Mereka itulah yang kemudian digodok di kawah candradimuka di Situbondo. Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula di Marinir.

Selain fisik prima, calon Taifib juga dituntut memiliki IQ tinggi. Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara individu maupun kelompok.

Selama pendidikan, teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu melaksanakan tugas rahasia secara sempurna di ketiga medan tersebut.
Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.

Mereka ditempa di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat, para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu bertahan sekaligus menyelamatkan diri. 

Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia (menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu menyelamatkan diri.

Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun. Untuk menguji daya tahannya itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa. Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo. Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan perorangan.

Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam, mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang, juga lebih, “Saya pernah minum air untuk tambal ban di pinggir jalan Alas Purwo,” cerita mantan Direktur Sekolah Khusus (Dirsus) Marinir Kol (Mar) Buyung Lalana. “Meski air itu siang harinya digunakan untuk mengetes ban mobil dan sepeda motor yang pecah, rasanya nikmat sekali karena begitu haus,” kenang Buyung lagi.

Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Wartawan koran ini pernah menyaksikan betapa kerasnya pelonco dari kakak angkatan untuk prajurit yang mengawali pendidikan. Mereka benar-benar harus siap mental dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan itu, ada yang mengundurkan diri.

Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat, payung sudah terbuka. Tapi, Taifib dilatih terjun bebas.
Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh, mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan. Para Taifib juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang sulit terdeteksi musuh.

Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam. Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran, para Taifib harus bisa muncul di titik yang tepat.
Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal tak hinggap di kepala.

Sunday, 11 October 2015

Prajurit TNI Peringati HUT TNI ke-70 di Afrika

Kontingen Garuda

Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) Central African Republic (CAR) melaksanakan Upacara HUT TNI ke-70 tahun 2015, bertempat di lapangan upacara Garuda Camp (Indoengcoy Camp) di Mpoko- Bangui, Afrika Tengah, beberapa waktu lalu. Bertindak selaku Inspektur Upacara Komandan Satgas Kizi TNI Letkol Czi Denden Sumarlin S.E, dengan Komandan Upacara Lettu Czi Suratmin, yang sehari-hari menjabat sebagai Danton Alber 2 Satgas Kizi TNI.
 
Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) Central African Republic (CAR) melaksanakan Upacara HUT TNI ke-70 tahun 2015, bertempat di lapangan upacara Garuda Camp (Indoengcoy Camp) di Mpoko- Bangui, Afrika Tengah, beberapa waktu lalu. Bertindak selaku Inspektur Upacara Komandan Satgas Kizi TNI Letkol Czi Denden Sumarlin S.E, dengan Komandan Upacara Lettu Czi Suratmin, yang sehari-hari menjabat sebagai Danton Alber 2 Satgas Kizi TNI.


Presiden RI Ir. Joko Widodo dalam amanatnya yang dibacakan oleh Dansatgas Kizi TNI Konga XXXVII-B/Minusca TNI Letkol Czi Denden Sumarlin S.E menyampaikan ucapan selamat hari jadi kepada seluruh personel TNI dimanapun berada dan bertugas.


Lebih lanjut Presiden RI menyampaikan, bahwa TNI lahir dari rahim rakyat. Oleh sebab itu, TNI tidak boleh menyakiti hati rakyat, bahkan bersama rakyat, TNI menjadi kuat. Kesejahteraan prajurit TNI juga menjadi salah satu perhatian Presiden, disebutkan bahwa pemerintah akan memperhatikan kesejahteraan prajurit TNI, termasuk mereka yang bertugas di perbatasan dan daerah terpencil dan terisolir.

Upacara HUT TNI ke-70 di Ibu Kota negara Central Afrika ini dihadiri oleh Komandan Kontingen TNI di Central Africa, Kolonel Czi IGBN Tedja Sukma Eka Putra, beberapa Perwira Millops / Milstaf HQ Minusca, seluruh Perwira Satgas dan seluruh personel Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-B/Minusca. Usai upacara, dilaksanakan pemotongan tumpeng, foto bersama dan diakhiri acara ramah tamah.

Tribunnews