Showing posts with label Alutsista. Show all posts
Showing posts with label Alutsista. Show all posts

Monday, 23 November 2015

Kembangkan Teknologi Alutsista, Indonesia Gandeng Swedia

Indonesia dengan bendera PT IESP milik YKPP di bawah Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menjalin kerja sama dengan perusahaan Swedia SAAB. Itu guna mengembangkan alat utama sistem pertahanan (alutsista).

Berdasarkan keterangan tertulis, Senin (23/11/2015), kedua perusahaan tersebut siap mengembangkan industri pertahanan swasta nasional berbasis teknologi, tujuannya memenuhi kebutuhan alutsista Indonesia agar menguatkan basis pertahanan.

Direktur Pengembangan Usaha PT IESP Raden Ari Wicaksana menegaskan pihaknya mengumumkan telah terjalin kerja sama Teaming Agreement antara PT IESP dengan SAAB Swedia untuk alih tekhnologi atau transfer of technology.

“Kerja sama ini juga akan langsung dilakukan dibidang pembuatan kapal perang segala jenis yang rencanaya akan di produksi di galangan kapal lokal (dikelola oleh PT IESP bersama SAAB), termasuk program 100% Transfer Of Tehnologi sesuai komitmen SAAB yang tercantum dalam perjanjian kerjasama & pemasaran pesawat tempur produksi SAAB jenis Gripen JAS 39 beserta sistem tempur yg terintegrasi untuk memenuhi bukan hanya peralatan tetapi teknologi yang terdepan,” ujar Raden Ari Wicaksana.

Menurut dia, kerja sama tersebut berawal ketika SAAB Swedia dengan wakil Vice President Head of SAAB Indonesia Peter Carlqvist bertemu dengan Raden Ari Wicaksana, yang membahas kerja sama dengan menggandeng SAAB Singapura dengan engineer dan desain engineer SAAB.

“PT IESP juga sudah mengadakan beberapa program dengan TNI AL di bidang pendidikan bagi perwira TNI AL yang dikirim ke Swedia dalam rangka belajar, kursus singkat dan kerja sama dengan Unhan (universitas pertahanan), PT Dirgantara Indonesia dan Kemhan,” jelas dia.

Tercatat, atas pengembangan kerja sama, Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Perumahan (YKPP) Kemhan akan memberikan terobosan bidang usaha industri militer swasta nasional yang menumbuhkembangkan peralihan tehnologi alutsista dan penyerepan tenaga kerja, yaitu menyiapkan putra-putri bangsa Indonesia terlatih secara profesional yang kelak menjadi aset bangsa dan negara Republik Indonesia.

“Harapan kerja sama ini kedepanya akan dapat memproduksi penjualan alutsista bukan hanya di dalam negeri tetapi juga akan merambah pasar international, sebagai contoh, PT IESP juga telah bekerja sama dengan PT Baraca di Dubai Timur tengah untuk pemasaran produk SAAB di Dubai dan negara-negara Uni Emirate Arab,” tandas dia.

“Kerja sama ini juga terletak pada keutamaan tehnologi dan efisien dalam penggunaan peralatan alat perang dengan biaya operasional dan pemeliharaan yang sangat ekonomis dibanding kompetitor,” imbuh dia.

jakartagreater

Tuesday, 17 November 2015

Ada Anggota DPR yang Mau Atur Pembelian Alutsista TNI

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Tubagus Hasanuddin, mengkritisi keberadaan anggota parlemen yang berusaha mengatur-atur pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI dan pemindahan pangkalan militer.

"Akhir-akhir ini muncul adanya anggota DPR yang mulai ikut-ikutan campur tangan dalam proses pembelian jenis alutsista. Bahkan ada yang meminta TNI AU untuk memindahkan pangkalan-pangkalan udaranya ke wilayah perbatasan," kata Hasanuddin, Senin (16/11).

"Dengan segala hormat, peran itu menurut saya tidak sesuai dengan tupoksi anggota DPR yaitu legislasi, controlling pemerintah, dan budgeting," tegasnya.

Menurut purnawirawan TNI bintang dua ini, penentuan spesifikasi teknis alutsista, apalagi menentukan jenis dan mereknya, merupakan tanggung jawab penggunanya, yaitu angkatan masing masing. Merekalah yang memiliki kompetensi menguji alutsista yang cocok. "Bukan anggota DPR yang tidak memiliki keahlian untuk itu," tegas Hasanuddin tanpa bersedia menyebut nama anggota DPR yang dimaksud.

Begitu juga dengan disposisi dan dislokasi pasukan atau pangkalan. Menurut Hasanuddin, biarkanlah hal itu diputuskan TNI berdasarkan kemampuan alutsista, ancaman, dan strategi yang dipilih."Saya yakin TNI akan lebih profesional dalam menentukan lokasi-lokasi pangkalannya," tegas dia.

Friday, 13 November 2015

Tingkatkan Kemampuan Dukung Pemenuhan ALUTSISTA

Pembangunan Kapal Tunda 2400 HP

Mementum hari Pahlawan tahun ini, terasa sangat istimewa bagi PT PAL INDONESIA (Persero). Terdapat pemenuhan kebutuhan Kapal baru untuk TNI Angkatan Laut menjalankan tugas operasional. Melalui pemotongan plat pertama kapal tunda 2400 HP yang dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pengadaan Angkatan Laut (SEKDISADAL), Kolonel Laut (T) Udyatmoko, turut mendampingi Direktur Produksi PT PAL INDONESIA, dan Kepala Perwakilan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) di Bengkel Fabrikasi Kapal Perang.

Direktur Produksi PT PAL INDONESIA (Persero), Edy Widarto menuturkan rasa terima kasih atas kembali dipercaya untuk mengerjakan pembangunan kapal dalam pemenuhan kebutuhan TNI Angkatan Laut. Pembangunan 1 unit Kapal Tunda 2400 HP ini berdasar pada Kontrak 3 Agustus 2015 dengan nomor KTR/106/02-51/VIII/2015/DISADAL. Kapal ini akan melengkapi TNI Angkatan Laut dalam menjalankan tugas oprasional sehari-hari. Pembangunan kapal tunda pertama pesanan TNI Angkatan Laut di tahun ini dikerjakan sebagai salah satu bentuk penugasan sebagai kapal bantĂș pemenuhan Alat Utama Sistem Senjata (ALUTSISTA)

Kapal Tunda ini berkemampuan layaknya kapal tunda yang telah diserahkan 2013 lalu, KRI Galunggung dan KRI Anjasmoro. Dengan kekuatan mesin 2x1200 HP dan berbeban tarikan 30 Ton, kapal ini memiliki kecepatan hingga 12 knots. Kapal dengan panjang 29 Meter dan lebar 9 meter ini mampu menampung hingga 8 ABK dan 2 Penumpang. Berkapasitas 7 tangki penampung, mampu berlayar selama 7 hari.

Pembangunan kapal tunda baru ini akan difungsikan untuk membantu dan mendukung tugas operasional TNI Angkatan laut dalam menjaga dan mengamankan NKRI. Sekaligus memperingati Hari Pahlawan, Insan PAL INDONESIA siap dan sedia dalam mendukung dan membantu untuk pemenuhan kebutuhan Perjuangan TNI Angkatan Laut.

Spesifikasi Kapal Tunda 2400 HP :
- Panjang = 29 m
- Lebar = 9 m
- Draft = 3,5 m
- Ketahanan = 7 hari
- Mesin = 2 x 1200 HP
- Beban tarikan = 30 Ton
- Kapasitas Penumpang = 8 ABK + 2 Penumpang 

 PAL

Tuesday, 10 November 2015

Menteri Pertahanan akan Ajukan Tambahan Alutsista

Anoa produksi Pindad akan digunakan oleh Korpaskhas [paskhas]

Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyatakan akan mengajukan penambahan alat utama persenjataan (alutsista). Penambahan itu untuk menunjang sistem pertahanan negara.

"Ada yang perlu ditambah, yang sudah ketinggalan akan kita perbarui, segera, ya tahun depan," kata Ryamizard saat berkunjung ke Lanud Sulaiman di Kecamatan Margahayu Kabupaten Bandung, Senin (9/11) kemarin.

Saat ini diperlukan penambahan anggaran untuk alutsista di TNI AD, AU dan AL. Tetapi semua itu menurut Ryamizard, tergantung dalam pembahasan anggaran nanti dengan DPR.

Sebenarnya, ia menuturkan, anggaran untuk alutsista sudah ada. Namun, jumlahnya tidak terlalu besar. "Karena pasukan-pasukan kita di pasukan khusus, seperti di Kopassus, Marinir, dan di Korpaskhas ini dananya tidak besar," ujar dia.

Untuk keberadaan alutsista di Korpaskhas TNI AU ini, menurut dia sudah ideal. Namun, perlu ada pembahasan lagi terkait jumlahnya. Sedangkan untuk alutsista pesawat tempur yang bisa digunakan di atas 30 tahun itu tergantung dari perawatan.

Namun, kalau sudah tidak layak, tidak bisa untuk diterbangkan. Kata dia, jika jam terbang banyak dan perawatannya bagus, maka alutsista tersebut pun masih bisa digunakan. Terlebih, ia mengakui, sebetulnya jam terbang pasukan khusus negara ini memang tergolong banyak.

"Jam terbang kita ini masih banyak," kata dia. "Itu tergantung dari perawatan. Di negara lain, seperti Singapura, alutsista yang lama pun masih dipakai karena perawatannya juga bagus."


Baca juga : Pengangkatan Warga Kehormatan Korpaskhas

Wednesday, 4 November 2015

Alutista TNI Terlalu Mencontek Amerika

Alutsista TNI. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman

Setiap ada pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru, kurikulum pendidikan dan latihan tentara angkatan darat berubah. Hadirnya teknologi baru ini membuat para prajurit harus mempelajari persenjataan. Langkah ini mirip tentara Amerika Serikat.

“Kurikulum sekarang sama yang dulu, berubah karena ada alutsista yang baru,” kata Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Kodiklat TNI AD) Letjen Agus Sutomo saat silaturahmi dengan wartawan di Kantornya, Bandung, Jumat (23/10).
“Setiap hari juga selalu rapat untuk menambahkan dan mengevaluasi apa yang kurang dan apa yang perlu ditambahkan kurikulum pendidikan,” imbuh dia.

Kurikulum pendidikan tentara Amerika Serikat, kata dia, selalu berubah dalam satu tahun. Sebab, alutsista Amerika selalu berubah dan diperbaharui.

“Mereka ( Amerika Serikat) teknologinya canggih-canggih jadi berubah-berubah kurikulumnya,” kata dia.

Dia menambahkan, para prajurit TNI harus mengetahui alutsista baru agar tak salah dalam menjalankan tugas. Selain itu, petunjuk yang diberikan harus dilaksanakan dan dipahami agar diterapkan dengan baik.

“Doktrin itu segala usaha pekerjaan dan kegiatan di bidang penelitian dan pengembangan angkatan darat beserta petunjuk jabarannya. Jadi organisasi TNI AD juga semua harus mengikuti,” tukas dia.

jakartagreater

Monday, 26 October 2015

DPR Usulkan Utang untuk Beli Alutsista

GAGASAN berutang disebut menjadi salah satu opsi yang tengah diproses untuk pemenuhan anggaran pertahanan 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) pada Minimum Essential Force (MEF) Tahap II. Komitmen awal pemerintah untuk menambah anggaran di APBN-Perubahan 2016 dinilai tidak berdampak signifikan. 

Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais, usulan pinjaman bagi anggaran Kementerian Pertahanan itu kepada pemerintah pernah dilontarkan dalam rapat dengar pendapat di Senayan untuk menyiasati alasan pelemahan ekonomi yang menyebabkan pemangkasan anggaran pertahanan

 "Kita usulkan ke Bappenas untuk (mengambil) pinjaman luar dan dalam negeri untuk penggunaan anggaran pertahanan ini. Cuma jawaban (pemerintah) biasa-biasa saja. Normatif. Bussines as usual," ujarnya saat dihubungi, kemarin. Komitmen awal pemerintah, lanjutnya, ialah penambahan anggaran di APBNP 2016. Akan tetapi, kata dia, pengalaman mengajarkan bahwa APBNP tak bakal signifikan memberi tambahan.

"Ya sudah, terpaksa menunggu, memegang komitmen secara verbal untuk ada tambahan di (APBN) Perubahan nanti. Cuma, ya enggak banyak. Paling bertambah Rp 3 triliun," papar Hanafi. Anggota Fraksi PAN itu juga menyoroti soal tidak satu visinya antara Kemenhan dan TNI dengan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan Pembangunan/Bappenas soal dana pertahanan ini.

Padahal, kata dia, program MEF tahap kedua (2015-2019) mensyaratkan adanya pemenuhan anggaran 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia dalam periode itu. "Saya belum melihat dua kementerian itu (Kemenkeu dan Bappenas) satu irama napas dengan pemenuhan MEF Tahap II. Itu kenapa diadakan rapat kemarin," cetus Hanafi. Terpisah,

Menteri PPN/Kepala Bappenas Sofyan Djalil tidak membantah ataupun mengiyakan saat ditanya usulan utang dari DPR itu. Ia cuma menyebut bahwa semuanya masih akan dibahas lebih jauh. "Masih akan kita bicarakan road map-nya. Ya, kan (lewat rapat) dengan Komisi I kemarin. Kita akan membuat road map menuju 1,5% GDP untuk anggaran pertahanan," akunya. Sofyan juga mengakui bahwa pintu peningkatan anggaran pertahanan di pembahasan RAPBN 2016 sudah tertutup. "Belum bisa (di APBN 2016), tapi nanti kalau ada APBNP, kita akan bicarakan lagi. Pemerintah commit menuju 1,5% GDP," tukasnya.

mediaindonesia

Sunday, 11 October 2015

TNI Memilih Hercules Tipe J

Hercules Tipe J [AFP]

TNI terus berupaya memperkuat diri, terutama di matra udara dan laut. Langkah ini guna mendukung visi pemerintah mewujudkan Poros Maritim Dunia.

Peremajaan Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) di dua matra itu pun terus dilakukan. Terbaru, TNI Angkatan Udara (AU) menyiapkan pembelian pesawat angkut Hercules tipe J.

"Untuk menggantikan Hercules tipe B yang sudah berusia sepuh," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Muda (Marsma) Dwi Bagarmanto kepada Jawa Pos kemarin (10/10). Kemungkinan, pesawat angkut Hercules tipe B akan segera dipensiunkan. Sebagaimana diketahui, Indonesia merupakan satu-satunya negara yang masih menggunakan pesawat angkut Hercules tipe B.

Terakhir, salah satu unit pesawat yang sudah ada sejak pemerintahan Soekarno itu jatuh di Medan pada akhir Juni lalu. Atas dasar tersebut, pembelian pesawat angkut baru menjadi kebutuhan yang mendesak bagi TNI AU. Permintaan untuk menggantikan Hercules B dengan tipe J yang merupakan tipe terbarunya telah disampaikan ke Kementerian Pertahanan.

"Mudah-mudahan segera direalisasikan, TNI AU butuh sekali itu," terangnya. Sayangnya hingga saat ini, pihaknya belum mendapatkan pernyataan resmi dari Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu. Oleh karenanya, sampai saat ini, pembelian Hercules tipe J belum bisa dikomunikasikan dengan perusahaan.

"Sudah masuk resnstra MEF (Minimum Esenstial Force red) tahap dua," imbuhnya. Dengan sudah dimasukkannya ke dalam MEF tahap dua (2015-2019), satu skuadron pesawat angkut terbaru buatan Lockheed Martin itu ditargetkan mendarat dalam waktu dekat. Sebelum memilih Hercules J, ada beberapa kandidat pesawat angkut lainnya yang sempat dipertimbangkan.

Di antaranya pesawat Airbus A-400 Prancis dan Boeing C-17, Amerika. Namun dengan pertimbangan mempermudah alih teknologi, TNI AU memilih Hercules J. sebab, beberapa alat pemeliharaan Hercules sudah dimiliki Indonesia. "Kan kita sudah punya tipe-tipe sebelumnya," pungkasnya. Dengan begitu, bukan hanya memudahkan teknisi, diharapkan bisa memangkas anggaran pengeluaran.

Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo sudah mengajukan permintaan tambahan anggaran ke Komisi I DPR beberapa waktu lalu. Dana tambahan sebesar Rp 35 triliun diajukan untuk menambah anggaran perbaikan dan penambahan alutsista. (far)

Jppn

Prajurit TNI Peringati HUT TNI ke-70 di Afrika

Kontingen Garuda

Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) Central African Republic (CAR) melaksanakan Upacara HUT TNI ke-70 tahun 2015, bertempat di lapangan upacara Garuda Camp (Indoengcoy Camp) di Mpoko- Bangui, Afrika Tengah, beberapa waktu lalu. Bertindak selaku Inspektur Upacara Komandan Satgas Kizi TNI Letkol Czi Denden Sumarlin S.E, dengan Komandan Upacara Lettu Czi Suratmin, yang sehari-hari menjabat sebagai Danton Alber 2 Satgas Kizi TNI.
 
Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) Central African Republic (CAR) melaksanakan Upacara HUT TNI ke-70 tahun 2015, bertempat di lapangan upacara Garuda Camp (Indoengcoy Camp) di Mpoko- Bangui, Afrika Tengah, beberapa waktu lalu. Bertindak selaku Inspektur Upacara Komandan Satgas Kizi TNI Letkol Czi Denden Sumarlin S.E, dengan Komandan Upacara Lettu Czi Suratmin, yang sehari-hari menjabat sebagai Danton Alber 2 Satgas Kizi TNI.


Presiden RI Ir. Joko Widodo dalam amanatnya yang dibacakan oleh Dansatgas Kizi TNI Konga XXXVII-B/Minusca TNI Letkol Czi Denden Sumarlin S.E menyampaikan ucapan selamat hari jadi kepada seluruh personel TNI dimanapun berada dan bertugas.


Lebih lanjut Presiden RI menyampaikan, bahwa TNI lahir dari rahim rakyat. Oleh sebab itu, TNI tidak boleh menyakiti hati rakyat, bahkan bersama rakyat, TNI menjadi kuat. Kesejahteraan prajurit TNI juga menjadi salah satu perhatian Presiden, disebutkan bahwa pemerintah akan memperhatikan kesejahteraan prajurit TNI, termasuk mereka yang bertugas di perbatasan dan daerah terpencil dan terisolir.

Upacara HUT TNI ke-70 di Ibu Kota negara Central Afrika ini dihadiri oleh Komandan Kontingen TNI di Central Africa, Kolonel Czi IGBN Tedja Sukma Eka Putra, beberapa Perwira Millops / Milstaf HQ Minusca, seluruh Perwira Satgas dan seluruh personel Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-B/Minusca. Usai upacara, dilaksanakan pemotongan tumpeng, foto bersama dan diakhiri acara ramah tamah.

Tribunnews