Showing posts with label TNI Angkatan Laut (TNI AL). Show all posts
Showing posts with label TNI Angkatan Laut (TNI AL). Show all posts

Saturday, 7 November 2015

Susi Bisa Kendalikan TNI AL di Satgas Anti Illegal Fishing

Presiden Joko Widodo resmi meneken Perpres No 115 tahun 2015 tentang Satgas Pemberantasan Penangkapan Ikan Ilegal. Perpres ini pun menuai tanggapan dari kalangan militer. Mengapa?

Perpres ini sebenarnya mengatur tentang Satgas yang bisa langsung menenggelamkan kapal pencuri ikan tanpa melalui proses pengadilan. Hanya saja dalam pasal 6 huruf b tentang pedoman umum pelaksanaan operasi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebagai Komandan Satgas diberi kewenangan atau otoritas untuk melaksanakan komando dan kendala terhadap unsur-unsur satgas. Termasuk TNI AL maupun kapal-kapalnya.

Sejumlah pihak menyebut aturan ini bertentangan dengan UU pertahanan dan mencederai TNI. Padahal untuk kendali TNI maupun unsur-unsurnya, TNI harus bertanggung jawab terhadap Panglima TNI.

"Hanya masalahnya berkaitan dengan organisasi saja dengan dibentuknya satgas dalam Perpres No 115. Selama ini illegal fishing secara tidak langsung kita juga melaksanakan kegiatan amanah dari UU perikanan, itu pendekatan hukum publik," ungkap KSAL Laksamana Ade Supandi saat dimintai tanggapan dalam gathering media di Mabesal, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (6/11/2015).

Dalam Perpres ini diatur bahwa Satgas terdiri dari lintas instansi dan aparat terkait dengan melibatkan KKP, TNI AL, Polri, Kejagung, Bakamla, SKK Migas, Pertamina dan lainnya. Komandan adalah Menteri KP, Kepala Pelaksana Harian adalah Wakil KSAL, dan 3 wakil kepala pelaksana harian yaitu Kepala Bakamla, Kepala Baharkam Polri, dan Jaksa Agung Tindak Pidana Umum.

"Itu kalau kita analogikan, kita juga di bawahnya Basarnas waktu itu. Jadi sebenarnya ini (TNI AL) di bawah koordinasi (KKP). Toh selama ini nggak ada masalah. Misalnya illegal fishing sama kan. Makanya sekarang ditentukan di Perpres ini," kata Ade.

Terkait kewenangan menggerakan kapal TNI AL atau KRI yang diberikan kepada Menteri Susi, Ade mencoba menjelaskan. Bahwa memang untuk tugas operasi maupun misi, unsur-unsur TNI berada dalam otoritas Panglima TNI. Jika nantinya terjadi dualisme komando dalam penegakan hukum terkait ilegal fishing, dalam Perpres ini disebut KSAL sudah diatur.

"Jadi ada tugas-tugas KRI yang soal pertahanan negara di bawah Panglima TNI, dan ada juga tugas-tugas operasi yang berkaitan dengan kapal, kalau itu berkaitan operasi contohnya dengan keamanan laut, itu juga di bawah panglima TNI. Kemudian kalau dalam tugas-tugas tertentu melaksanakan tugas penegakkan hukum sipil, terkait masalah UU perikanan, ini di pasal 5 dari Perpres No 115 sudah ada," jelas Ade.

"Bahwa dalam satgas ini dalam perencanaan itu mendapat arahan dari Menkopolhukam, Panglima TNI. Kalau Panglima TNI memandang bahwa ada dualisme dalam pergerakkan unsur, nanti itu juga akan ditentukan di sana," sambung mantan Pangarmatim itu.

Jadi apakah ini artinya TNI AL tidak masalah mendapat komando dari Menteri Susi?

"Toh, selama ini AL juga melaksanakan tugas penegakkan hukum di laut," tukas Ade.

Sebelumnya pada menjelang pertengahan Oktober 2015 lalu, Presiden Joko Widodo sudah menandatangani Perpres No 155 tahun 2015 tentang Satgas Pemberantasan Illegal Fishing. Saat mengumumkannya, Susi terlihat sangat girang.

"Kapal tanpa izin di teritorial kita, langsung tenggelamkan. Sekarang enggak usah nunggu berbulan-bulan (proses pengadilan), langsung kita tenggelamkan saja. Satgas bertanggung jawab langsung pada Presiden," ujar Susi, Rabu (21/10).

Dalam tugasnya nanti, satgas berwenang menentukan target operasi. Kemudian juga melakukan koordinasi dalam pengumpulan data dan informasi, membentuk serta memerintahkan unsur-unsur satgas untuk melakukan penegakan hukum. Lantas yang terakhir adalah melaksanakan komando dan pengendalian. (elz/bag)

Friday, 6 November 2015

Laut Cina Memanas, TNI AL Kirim 7 KRI ke Natuna

Kapal Perang TNI AL

TNI Angkatan Laut mengerahkan 7 kapal KRI untuk memberi deterrence effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan Laut Cina Selatan. Ketujuh kapal KRI tersebut sudah berada di Lanal Ranai, Natuna.

“Itu kan operasi rutin, kita kan dalam 365 hari kegiatan patroli itu kegiatan patroli pengamanan perbatasan, ZTE. Dan juga kegiatan patroli yang berkenaan dengan keadilan di laut, baik di Laut Natuna, Sulawesi, maupun Samudera Hindia. Termasuk yang sudah tergelar berkaitan dengan kerjasama bersama tetangga, patroli koordinasi,” kata Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Ade Supandi di Mabes Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta, Jumat (6/11).

Namun Laksamana Ade Supandi, tak menyebutkan tujuh KRI tersebut. Akan tetapi, dia mengatakan pihaknya melakukan pengawasan dan mengamankan jalur laut.

“Mengamankan jalur-jalur pendekat ke kita, jadi tidak bisa sembarangan. Terus ada kegiatan inventionaly belakangan ini dan baru menggerakkan unsur, sebenarnya kan nggak. Kalau di lihat dari laporan-laporan AL ke Mabes TNI itu adalah bagian dari komitmen dari Mabes TNI untuk menjaga kedaulatan NKRI, termasuk di Laut Sulawesi,” kata mantan Pangarmatim ini.
Sebelumnya, situasi di Laut China Selatan makin panas. Ketegangan di Laut China Selatan belakangan memanas seiring kapal perang Amerika Serikat yang melakukan patroli di Laut Cina Selatan.

Sementara Indonesia masuk dalam pusaran konflik Laut China Selatan setelah pemerintah Tiongkok memasukkan sebagian wilayah Natuna ke peta wilayahnya. Meski belum berpengaruh terhadap hubungan Jakarta-Beijing, sikap keras diperlihatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang menolak ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok Chang Wanquan untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan.

Jenderal Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.

Monday, 2 November 2015

Istri Pejuang TNI AL John Lie Dimakamkan

Margaretha Angkouw, istri dari pejuang TNI AL, almarhum Laksamana Muda TNI (Purnawirawan) John Lie, dikremasi dan dimakakan di Karawang, Jawa Barat pada Senin.

"Beliau wafat kemarin di Jakarta dan hari ini dikremasi setelah kebaktian di Gereja," kata Kepala Subdinas Sejarah Dinas Penerangan TNI AL, Kolonel Pelaut Ronnie  Turangan di Jakarta, Senin.

Almarhum meninggal dunia, di Jakarta, Minggu, pada usia 90 tahun.

Selama hidupnya, Margaretha mendampingi Lie, yang selama hidupnya melewati berbagai periode berat perjuangan bangsa ini. Di antaranya saat dia melaksanakan misi berbahaya namun menentukan, menembur blokade Belanda dengan kapal sipil ML336, di perairan Cilacap, Jawa Tengah, selepas 1946. 

Misi yang dia emban -- menurut catatan sejarah yang digali TNI AL-- menyelundupkan senjata dan amunisi ke Labuhan Bilik, Sumatera Timur (saat itu).

Dia dikejar kapal patroli Belanda dan bisa lolos. Kapal Lie, PPB 31, cukup dikenal dengan misi-misi berbahayanya demi perjuangan Indonesia. Sampai-sampai radio BBC di Inggris menyiarkan keberhasilan pelayaran Lie, dan menjuluki kapalnya sebagai The Black Speed Boat. 

Masih panjang catatan kepeloporan dan keberanian serta ketulusan perjuangan Lie, termasuk menjadi komandan KRI Rajawali dan KRI Gadjah Mada dalam menumpas DI/TII, RMS, Permesta, dan lain-lain. 

Dia pensiun pada 1967 dan hidup sebagai warga sipil biasa. Pada tataran politik nasional, dia pernah mencoba menjembatani “normalisasi hubungan” antara anggota Petisi 50 dengan Presiden Soeharto. 

Lie yang terlahir pada 9 Maret 1911 dan wafat pada 27 Agustus 1988 —sang suami— adalah pejuang pertama TNI AL dari etnis China yang kepahlawanannya diakui secara resmi oleh pemerintah Indonesia. 

Pengakuan itu diberikan pada 9 November 1999 oleh Presiden Susilo Yudhoyono, di Jakarta. “Beliau dianugerahi gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputera Adipradana,” kata Rony Turangan.

Saturday, 31 October 2015

Tim Khusus Komando Armada Barat TNI AL Tangkap Anggota Kelompok Zakir di Subang

Janji TNI AL memburu sindikat perompak bukan hanya isapan jempol belaka.
Anggota kelompok M Zakir yang beberapa waktu lalu beraksi di atas Kapal MV.Merlin ditangkap di Dusun Galian, Desa Patimban, Pusaka Negara, Subang, Jawa Barat, Jumat siang (30/10/2015) sekitar pukul 13.15.

"Tersangka bernama Nachrowi ini diringkus tim reaksi cepat, Western Fleet Quick Response (WFQR) bersama Detasemen Intelijen Koarmabar TNI AL," kata Kadispenal Laksma TNI M Zainudin kepada Tribunnews.

Dengan tertangkapnya Nachrowi, berarti sudah empat anggota kelompok Zakir ini yang diciduk aparat.

komplotan Zakir mulai diburu setelah kedapatan mencuri beberapa suku cadang Kapal MV Mervin.
Kapal tersebut yang melaporkan tindak perompakan pada Kamis 22 Oktober 2015.
Hal itu dibuktikan setelah nomor seri onderdil yang hilang dari MV Mervin dicocokan dengan nomor seri barang bukti yang didapat dari ketiga pelaku.

Jika dikonversikan ke rupiah, seluruh barang bukti yang digasak pelaku seharga miliaran rupiah.
Dari hasil pemeriksaan para tersangka, mereka mengakui sudah satu tahun belakangan merompak onderdil-onderdil kapal yang harganya mahal dan mengirimkan barang curian tersebut ke penadah.
Pengiriman dilakukan melalui 4 anggota komplotan mereka yang berada di Jakarta.

Saturday, 24 October 2015

Evakuasi Warga Korban Asap, TNI AL Kerahkan Dua Kapal

KRI Banda Aceh milik TNI AL. (Reuters/Adek Berry/Pool)

Pemerintah pusat memastikan akan memulai proses evakuasi warga yang terdampak kabut asap di sembilan provinsi. Pemerintah, melalui TNI Angkatan Laut, akan mengerahkan dua kapal jenis landing dock platform.

Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Ade Supendi, mengatakan dua kapal tersebut adalah KRI Banda Aceh dan KRI Teluk Jakarta. Pada operasi selain perang, dua kapal tersebut biasa digunakan untuk misi kemanusiaan.

"Kami menyiapkan dua LPD, khusus untuk penanganan ISPA (penyakit infeksi pernfasan akut). Panglima TNI juga menyuruh kami mempersiapkan KRI Soeharso," ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Jumat (23/10).


Ade menuturkan, tak hanya mengerahkan kapal, TNI juga akan menerjunkan tim kesehatan yang lengkap.

Secara teknis, pasukan TNI AL akan menjemput warga dari dermaga-dermaga terdekat menggunakan kapal kecil yang mampu menampung 100 orang. Kapal itu akan membawa warga ke KRI yang berada di laut.

Warga yang sakit nantinya akan langsung mendapatkan penanganan medis setibanya di KRI. Ade mengatakan, ketika kondisi kesehatan warga tersebut mulai membaik, dia akan dikembalikan ke darat untuk bergantian dengan mereka yang terkena ISPA dan belum mendapatkan perawatan.

Ade memaparkan, satu KRI dapat menampung sekitar 600 hingga seribu orang. Sedangkan untuk tujuan pertama kapal kemanusiaan TNI AL tersebut adalah ibu kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin.

"Kami akan menyesuaikan, tergantung BNPB dan BMKG. Yang jelas ke daerah membutuhkan evakuasi dan menuju daerah udaranya cukup segar," ujar Ade.


Ade mengatakan, institusinya tidak dapat menentukan target waktu pelaksanaan program evakuasi tersebut. Yang jelas, menurutnya, evakuasi akan terus berlangsung sebelum kabut asap benar-benar berkurang dan dapat dikendalikan.

Di tempat yang sama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, mengatakan kementeriannya telah berkoordinasi dengan para dekan fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi. Natsir mengambil langkah itu untuk mendukung proeses evakuasi.

"Hari ini mereka sudah action dan besok sudah harus langsung mengambil tindakan ke lapangan dengan menggunakan peralatan kesehatan yang ada di daerah," ucapnya.


Selain itu, Kemenristekdikti juga akan membagikan penjernih udara ke tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Palembang, Sumsel, Kalbar, Kalteng, Kalsel dan Kaltim.

"ITB dan Undip sudah ada air purifier. Kami sudah suruh mereka memproduksi sebanyak-banyaknya," kata Nasir. (meg)


CNN 

TNI AL: Selat Malaka Tak Lagi Berstatus Paling Berbahaya

Pilot pesawat NC-212 Mayor Laut (P) Hardensi (kanan) dan Co Pilot Lettu Laut (P) Dymas A dari Wing Udara 2 Skuadron 800 Puspenerbal TNI AL melakukan Patroli Maritim ke Selat Malaka, Selasa (10/2). (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo) 

Panglima Komando Armada Kawasan Barat, Laksamana Pertama Achmad Taufiqoerrochman, menyatakan kinerja TNI Angkatan Laut telah menghapus status kawasan paling rawan tindak kejahatan dari kawasan perairan barat, termasuk Selat Malaka.

Ia berkata, Selat Malaka tidak lagi dapat disamakan dengan perairan Somalia di Afrika yang rawan perompakan. Ia juga mengklaim, tingkat kejahatan di kawasan tersebut menurun hingga 70 persen setelah triwulan pertama tahun 2015.


"Di Selat Malaka, tidak terjadi penyanderaan seperti yang menimpa kapal MV Sinar Kudus di perairan Somalia. Hanya ada pencurian, tidak ada pembajakan kapal," ujarnya di Jakarta, Jumat (23/10).

Menurut Taufiq, penurunan tingkat kejahatan di Selat Malaka tidak lepas dari kerja sama antara Angkatan Laut Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Keempat angkatan ini secara rutin menggelar operasi patroli di selat yang menjadi salah satu jembatan perdagangan global tersebut.

"Kami sadar, di laut kami mempunyai ancaman yang sama. Kami tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan itu sendiri," ucap Taufiq. 


Ke depan, Komando Armada Barat akan menggiatkan operasi bersama antarnegara itu. Taufiq yang memimpin pembebasan kapal MV Sinar Kudus dalam Operasi Satgas Merah Putih berkata, operasi itu mencakup program Eyes In The Sky dan Intelligence Working Group.

"Kami akan membuka investigasi bersama. Setelah kami menangkap orang dan menginterogasinya, kami akan memberitahu negara lain," kata Taufiq. Ia berkata, hal serupa juga akan dilakukan Singapura, Malaysia dan Thailand.

Status perairan paling berbahaya sejak lama disematkan ke Selat Malaka. Pada buku berjudul Mengawal Perbatasan Negara Maritim, mantan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan sebelum tahun 2005 tingkat kejahatan di kawasan tersebut sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.

Kondisi tersebut menurut Tedjo sungguh miris, mengingat 80 persen lalu lintas ekonomi dan energi negara-negara Asia Timur melalui Selat Malaka. (obs)

CNN 

Thursday, 22 October 2015

Situasi Memanas, TNI Kerahkan Tujuh KRI

Salah satu kapal perang milik TNI AL sedang unjuk kebolehan

Situasi di Laut China Selatan makin panas. TNI pun mengerahkan sejumlah alutsista berupa KRI dan pesawat. Tujuannya, untuk memberi deterrent effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan tersebut.
 
"Kita siagakan tiga KRI dan Pesut Patmar (pesawat udara patroli maritim, red)," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AL (Kadispenal) Laksamana Muda (Laksma) Muhammad Zainuddin kepada Jawa Pos kemarin (20/10).

Bahkan, tiga KRI tersebut sudah berada Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IV (Lantamal IV) Tanjung Pinang, yang merupakan Lantamal terdekat yang dimiliki Komando Armada Indonesia Kawasan Barat (Koarmabar). Namun, Zainuddin tidak bisa menyebutkan nama ketiga KRI tambahan tersebut.

Dengan penambahan tiga KRI tersebut, sudah tujuh kapal perang yang disiagakan untuk memberikan deterrent effect di kawasan tersebut. Sebelumnya, sudah ada empat KRI yang disiagakan. Selain itu, lanjut Zainuddin, intensitas patroli udara di kawasan juga akan ditingkatkan.

Untuk diketahui, ketegangan di Laut China Selatan belakangan memanas seiring pembangunan tujuh pulau reklamasi yang dilakukan Tiongkok di Kepulauan Spartly. Serta pembangunan landasan udara dan fasilitas militer di Karang Fiery Cross. Kedua tempat tersebut merupakan kawasan yang menjadi sengketa Tiongkok dengan beberapa negara ASEAN dalam beberapa tahun terakhir.

Belakangan Indonesia juga masuk dalam pusaran konflik Laut China Selatan setelah pemerintah Tiongkok mamasukkan sebagian wilayah Natuna ke peta wilayahnya. Meski belum berpengaruh terhadap hubungan Jakarta-Beijing, sikap keras diperlihatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam beberapa kesempatan.

Terakhir, Gatot menolak ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok Chang Wanquan untuk menggelar latihan bersama di Laut China Selatan. Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.

Sementara itu, mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana (pur) Marsetio mengatakan, penguatan keamanan di kawasan Laut China Selatan sebagai hal yang mutlak dilakukan. "Di situ terdapat sumber energi yang besar," ujarnya di Kantor Lemhannas, Jakarta.

Sebab, lanjutnya, persoalan energi akan menjadi sumber utama pertikaian antar bangsa di masa mendatang. Sebagai kawasan penyimpan energi, Laut China Selatan menjadi daerah yang rawan. "Perang tidak di eropa lagi, tapi di kawasan yang menyimpan energi," ujarnya. (far/agm)

jpnn 

Kasdam IV Diponegoro Sambut Kepulangan Prajurit Yonif 400 Raider

Sebanyak 450 prajurit Yonif 400/Raider tiba di Semarang usai melaksanakan tugas Operasi Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG di Papua. Mereka telah bertugas di perbatasan selama 10 bulan.

Sukses berlabuh di bibir dermaga Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, ratusan prajurit Yonif 400/Raider berseragam lengkap menuruni tangga KRI Teluk Hading, Selasa (20/10). Mereka membentuk barisan kemudian meletakkan sejumlah perlengkapannya di atas lantai dermaga. 

Mereka baru saja menyelesaikan tugas negara yaitu mengamankan perbatasan Indonesia-Papua New Guinea, dan kini tiba di Semarang. Genap sembilan bulan mereka meninggalkan satuan Kodam IV/ Diponegoro, demi menunaikan tugas pengamanan perbatasan.

Kasdam IV/Diponegoro, Brigjen TNI Joni Supriyanto selaku instruktur upacara penyambutan prajurit, berjalan naik panggung utama. Prosesi upacara pun dimulai dengan nyanyian Mars Kodam IV/ Diponegoro.

"Selaku Panglima Kodam IV/ Diponegoro saya ucapkan selamat kembali ke kesatuan. Saya terima kembali para prajurit Yonif 400/ Raider kembali ke lingkungan Kodam," ucap Brigjen TNI Joni Supriyanto membacakan sambutan Pangdam IV/ Diponegoro, Mayjen TNI Jaswandi.
Joni mengucap syukur, seluruh pasukan dapat kembali ke kesatuan, setelah menjaga keamanan perbatasan di Papua. Menurutnya, prestasi itu secara tidak langsung mengangkat harkat dan martabat Kodam IV/ Diponegoro.

"Setelah ini, kalian akan diberikan cuti selama 12 hari. Manfaatkan kesempatan itu dengan baik. Laksanakan pengecekan atas alat-alat perlengkapan. Ingat, tidak boleh ada prajurit membawa senjata, amunisi, maupun bahan peledak ke rumah masing-masing," tegas Joni di hadapan para prajurit Yonif 400/ Raider, sekaligus menutup upacara penyambutan.

Terpisah, Danyon 400/ Raider, Letkol Infantri Heri Bambang Wahyudi mengatakan jumlah prajurit Yonif 400/ Raider yang ditugaskan sebanyak 450 orang. Perjalanan dari Papua menuju Jawa menumpangi KRI Teluk Hading milik TNI AL, selama dua minggu.

"Selain menjaga keamanan daerah perbatasan, kami juga melakukan kegiatan bakti sosial dan bina teritorial. Tidak ada kesulitan selama kami bertugas sembilan bulan," ucapnya. 

tribunnews 

Wednesday, 21 October 2015

TNI AL Tambah Kapal Hidro-Oseanografi Canggih Dari Perancis

Kapal bantu hidro-oceanografi (BHO)

KRI Spica 934 (MartinThouny)

TNI Angkatan Laut (TNI AL) menambah alutsista lagi. Kali ini KRI Spica-934, sebuah kapal baru TNI AL jenis survey hidro-oceanografi tercanggih saat ini. "Kapal tersebut penggunaan secara resmi dilakukan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Ade Supandi, di galangan kapal OCEA Shipyard Company, Les Sables d'Olone, Perancis, Sabtu (17/10) lalu," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Pertama TNI M. Zainudin di Jakarta, Rabu (21/10).

Diungkapkan Zainudin, peresmian dilaksanakan melalui prosesi commissioning berupa upacara yang diawali dengan tradisi penamaan kapal atau shipnamming yang dilakukan oleh Ny. Endah Ade Supandi, selaku ibu kandung kapal dengan tata tradisi memecahkan kendi di lambung kapal tersebut sebagai pertanda kelahiran kapal.

Upacara dilanjutkan dengan pernyataan kapal masuk kedalam jajaran kekuatan pertahanan negara Republik Indonesia dengan pernyataan kapal bantu hidro-oceanografi (BHO) yang memiliki peralatan survei hingga ke kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut ini menjadi sebuah Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) bernama KRI Spica-934 yang diambil dari nama salah satu bintang yang menjadi acuan bernavigasi. KRI Spica-934 adalah kapal surver hirografi canggih kedua yang dimiliki TNI AL setelah KRI Rigel-933 yang juga memiliki spesifikasi teknis yang hamper sama. Dibuat di galangan kapal OCEA Dossier, di Les Sables-d’Olonne, Prancis.

Memiliki kecepatan maksimum 14 knots, panjang 60 meter dan bobot kosong 500 ton, mampu menghadapi gelombang laut sampai level sea state six. Mampu menampung 30 awak dan 16 personel tambahan, dan mampu berlayar terus-menerus selama 20 hari. Seperti halnya Rigel, nama Spica diambil dari nama rasi bintang. Fungsi asasinya sebagai kapal riset dan survey hidrog-oceanografi (Oceanographic Offshore Support Vessel/OSV), namun juga dapat menjalankan peran sebagai kapal patroli, pasalnya kapal dibekali kanon PSU Rheinmetall kaliber 20 mm pada haluan, serta dua pucuk SMB (senapan mesin berat) M2HB kaliber 12,7 mm di geladak buritan.

KRI Spica, kapal hisro-oseanografi terbaru TNI AL (mer et marine)

Sebagai elemen inti dari fitur kapal ini adalah perlengkapan penunjang misi oseanografi. Seperti KRI Spica-934 dilengkapi perangkat single beam echo sounder jenis Kongsberg’s EA600 dan multibeam systems EM2040 dan EM302. Lebih canggih lagi, setiap OSV dibekali autonomous underwater vehicle (AUV), perangkat yang kerap disebut ROV (remotely operated vehicle) ini sanggup mengemban misi survei bawah air hingga kedalaman 6.000 meter.

Kasal pada kesempatan tersebut berpesan kepada Komandan KRI Spica-934 dan crew kapal agar mempertahankan kesiapan kondisi teknis kapal sebelum menjalani pelayaran dari Perancis menuju tanah air, memelihara kemampuan dalam memahami peralatan canggih yang ada di kapal dengan memanfaatkan hasil pelatihan selama di Perancis dan bertukar pengalaman dengan tenaga ahli dari galangan. “Kemampuan kapal ini menjadikan kekuatan pertahanan matra laut semakin kokoh dalam menunjang program pemerintah sebagai poros maritim dunia,” ujar Kasal.

Kasal juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak diantaranya pihak galangan OCEA, Komandan Satgas Proyek Pengadaan Kapal BHO TNI AL Kolonel Laut (P) Budi Purwanto dan jajaran satgas yang telah mengawasi jalannya pembangunan kapal, dan memberi masukan kepada pihak galangan serta melatih awak kapal dan juga kepada pihak KBRI yg dihadiri oleh Wakil Kepala Perwakilan RI dan Kantor Atase Pertahanan yg diwakili oleh Kolonel CZI Jaka Tandang maupun masyarakat Indonesia di Perancis yang membuat satgas dan crew kapal mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar selama beberapa tahun berada di Perancis. Diperkirakan KRI Spica-934 akan tiba di Jakarta dalam pelayarannya dari Perancis pada pertengahan bulan November 2015 mendatang, setelah singgah di beberapa negara untuk bekal ulang. 


infopublik