Showing posts with label ISIS. Show all posts
Showing posts with label ISIS. Show all posts

Thursday, 26 November 2015

[Dunia] Rusia Tuding NATO dan Turki Menikmati Minyak ISIS


Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin menyebut NATO dan Turki ikut menikmati minyak ilegal ISIS | (Sindonews/Ian)

Duta Besar Rusia, Mikhail Galuzin menuding Turki dan NATO mendukung kelompok ekstrimis ISIS. Pasalnya, NATO dan Turki ikut menikmati minyak ilegal dari ISIS.

"Kami mempunyai bukti jika Turki melakukan perdagangan minyak ilegal dengan ISIS di wilayahnya. Dan, Turki kemudian menjualnya ke negara lain," kata Galuzin dalam jumpa persnya di Kedubes Rusia, Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Ia kemudian mengungkapkan bagaimana reaksi negara-negara Barat saat Rusia mulai melakukan operasi udara di Suriah. Mereka beramai-ramai mengutuk tindakan Rusia yang membombardir sejumlah basis, fasilitas, dan sejumlah kilang minyak milik ISIS.

"Padahal, kami melakukan itu berdasarkan permintaan dari Pemerintah Suriah untuk memerangi ISIS. Itu kenapa, NATO dan Turki melawan Rusia, sebab mereka meamng mendukung ISIS. Mereka melakukan hal itu karena minyak yang dimiliki oleh ISIS," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi informasi jika ISIS telah berhasil mengirimkan sejumlah minyak mentah dari kilang-kilang minyak yang dikuasai kelompok itu ke wilayah Turki.

Putin lantas mengatakan, jika militan ISIS memperoleh ratusan juta dolar dari perdagangan minyak dan menikmati perlindungan dari Angkatan Bersenjata "dari seluruh pemerintah," maka tidak heran mereka bisa berperilaku begitu berani. (ian)


Sindonews

Wednesday, 25 November 2015

Aneh, ISIS Malah Mau Serang Orang Indonesia Yang Rajin Baca Quran

isis berondong ratusan anak suriah. ©2015 dailymail.co.uk

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) makin tak jelas. Bahkan umat islam di Indonesia yang terbilang satu agama serta rajin baca Quran pun menjadi target penghancuran mereka. Masak mengaku Islam tapi mau menyerang orang Islam yang rajin beribadah.

ISIS berencana melakukan teror terhadap Indonesia. Teror tersebut diketahui ditujukan ke Masjid Al Jihad yang berada di Karawang, Jawa Barat dan komunitas One Day One Juz (ODOJ). Masjid Al Jihad adalah sebuah masjid di Karawang, Jawa Barat. Sementara, One Day One Juz adalah komunitas pengajian online yang memotivasi anggotanya untuk membaca Al Quran setidaknya 1 Juz tiap harinya.

Juru Bicara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Irfan Idris mengatakan bahwa sebenarnya rencana kelompok radikal itu telah lama dibicarakan. "Kan itu dari dulu, mau menyerang Panglima TNI, Kapolri, dan Banser," kata Ifran saat dihubungi, Minggu (22/11).

Untuk rencana serangan ke Indonesia yang menyasar target Masjid Al Jihad dan kelompok pengajian ODOJ, Idris menuturkan agar Polri dan TNI serta lembaga terkait dapat mencermati detil informasi tersebut. Menurutnya hal tersebut perlu diperhatikan guna meningkatkan kewaspadaan akan semua terror yang mengancam NKRI.

"Kita tetap meningkatkan kewaspadaan apapun itu. Tapi kita juga harus melakukan klarifikasi, jangan-jangan itu isu provokatif yang merugikan kita. Apapun, dari sumber manapun, kita tegaskan tetap akan waspada," tandasnya.

Selain itu, lanjut dia, perlu adanya langkah preventif agar paham radikal ini tidak menyebar di Indonesia. Upaya yang perlu dilakukan, katanya, adalah dengan melakukan sosialisasi hingga ke tingkat bawah untuk meredam paham ISIS di Indonesia. "Harus semua sampai ke tingkat bawah harus melakukan pencegahan, dan sosialisasi," pungkasnya.

Sementara itu, komunitas One Day One Juz (ODOJ) mengaku tidak khawatir akan isu penyerangan itu. Setelah mendapat berita ancaman yang diperoleh dari media massa, pengurus ODOJ segera melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian.

"Mengimbau kepada semua pengurus dan anggota Komunitas One Day One Juz di daerah dan di luar negeri untuk tetap melanjutkan dakwah ODOJ tanpa perlu merasa khawatir terhadap ancaman pihak luar, sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pelindung," tulis perwakilan Bidang Promosi dan Hubungan Masyarakat ODOJ, Nashir dalam keterangan pers yang diterima merdeka.com, Minggu (22/11).

Nashir menjelaskan, ODOJ bukan merupakan bagian dari kelompok manapun, bukan bagian dari organisasi tertentu. ODOJ membuka diri kepada seluruh umat Islam yang ingin bergabung tanpa memandang latar belakang kelompok Islam tertentu.

Komunitas One Day One Juz adalah komunitas pengajian online yang memotivasi anggotanya untuk membaca AlQuran sebanyak 1 juz perhari (khatam dalam 1 bulan), di mana tiap anggota dikumpulkan dalam 1 grup bbm atau whatsapp yang terdiri dari 30 anggota. ODOJ tetap berkomitmen untuk menyampaikan dakwah dengan menampilkan Islam yang menjadi rahmat bagi semesta alam.


Merdeka

Sunday, 22 November 2015

ISIS Rencanakan Serangan di Indonesia

Kelompok Anonymous membocorkan rencana serangan serentak ISIS di sejumlah negara, termasuk Indonesia | (Sindonews/Ian)

Grup peretas Anonymous menyatakan ISIS telah merencanakan aksi serangan teror di seluruh dunia pada hari ini, Minggu (22/11/2015). Hal itu terungkap setelah kelompok ini berhasil meretas jaringan data rahasia milik ISIS.

Seperti dikutuip dari laman Expres, bersamaan dengan hashtags #22Daesh#OpParis, Anonymous merilis daftar target serangan teror di Prancis, Amerika Serikat (AS), Indonesia, Italia, dan Lebanon.

"Akan ada acara besar di seluruh dunia pada tanggal 22, jika ada pergi maka itu adalah risiko Anda sendiri," begitu pesan peringatan Anonymous.

Berikut adalah daftar lengkap kegiatan yang menjadi target serangan ISIS:
• Acara Cigales Electroniques with Vocodecks, RE-Play & Rawtor at Le Bizen (Paris)
• Acara Concrete Invites Drumcode: Adam Beyer, Alan Fitzpatrick, Joel Mull at Concrete (Paris)
• Aksi Demonstrasi kelompok hak-hak perempuan (Paris)
• Perayaan Raja Kristus (Roma/Seluruh Dunia)
• Kegiatan Al-Jihad, One Day One Juz (Indonesia)
• Konser grup musik Five Finger Death Punch (Milan)
• Kampus University Pastoral Day (Holy Spirit University of Kaslik, Lebanon)
• Acara gulat profesional WWE Survival Series (AS)

Anonymous mengatakan bahwa daftar kegiatan yang menjadi target serangan ISIS ini telah diberikan kepada pihak keamanan seluruh dunia dan sudah menjadi tanggung jawab pihak keamanan untuk menindaklanjutinya.

"Namun karena mereka belum melakukan apa-apa dengan hal itu dan ini telah tanggal 22 maka kami melakukannya dengan tangan kami. Kami hanya mengambil tanggung jawab kami sebagai warga sipil (dalam kasus pemerintah tidak bertindak dengan cukup benar)," demikian Anonymous.

Asia Tenggara Terancam Serangan ISIS


Pasukan Syiah dan tentara Irak berfoto dengan bendera Negara Islam (ISIS) yang dibalik saat berhasil memasuki pusat kota Tikrit, 1 April 2015. REUTERS/Thaier Al-Sudani

Militan dari kelompok Islamic State mengidentifikasi sejumlah negara di Asia Tenggara sebagai kemungkinan target serangan, kata seorang analis dari S. Rajaratnam School of International Studies Singapura, dalam sebuah laporan yang dirilis awal pekan ini. Laporan itu muncul pada saat pihak berwenang di Singapura waspada menyusul penangkapan dua remaja atas tuduhan terorisme.

"Saat kehadiran pejuang Asia Tenggara dalam ISIS kelompok yang mendeklarasikan ISIS cukup diketahui, apa yang kurang diperhatikan adalah pentingnya peningkatan strategi ISIS melancarkan jihad secara global," kata Singh, penulis laporan itu, dalam analisisnya, seperti dimuat ibtimes.com edisi 29 Mei 2015.

Laporan awal dari pembentukan unit yang akan digunakan untuk melakukan serangan terdiri dari pejuang Asia Tenggara -dilaporkan disebut Katibah Nusantara - bisa dilacak pada September tahun lalu. Pada saat itu, analis kontraterorisme percaya bahwa tujuan dari unit ini adalah untuk "merekrut dan memfasilitasi" orang-orang yang ingin berjuang untuk ISIS di Irak dan Suriah. Sekarang, menurut laporan terbaru, kelompok ini menghadirkan ancaman yang signifikan untuk negara-negara di Kepulauan Melayu, termasuk Malaysia, Indonesia, Filipina dan Singapura.

Menurut Singh, militan dari Katibah Nusantara telah berperan dalam menghubungkan jaringan ekstrimis lokal, yang mengarah ke apa yang disebut sebagai "glocalisation" pengaruh ISIS.

"Katibah Nusantara juga telah memperluas perekrutan untuk pejuang dan pendukungnya melalui video dan cetakan dalam bahasa Melayu," kata Singh. Mereka menggunakan anak-anak Melayu dan Indonesia untuk menyebarkan pesan di media sosial. "Katibah Nusantara kemungkinan akan kian penting dalam tujuan strategis ISIS mendirikan kekhalifahan di seluruh dunia. Para pejuang yang kembali untuk ISIS dapat dimobilisasi untuk melakukan serangan di Asia Tenggara."

Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan orang -yang diduga memiliki hubungan dengan ISIS - di Indonesia dan Malaysia telah ditangkap oleh pihak berwenang. Bulan lalu, sekitar 70 anggota pasukan bersenjata Malaysia diidentifikasi oleh polisi telah bergabung dengan kelompok militan ini.

"Selain penangkapan lebih dari 100 IS pendukung di Malaysia dan sejumlah kecil di Indonesia, digagalkannya serangan yang direncanakan di Malaysia oleh pendukung ISIS merupakan indikasi dari bahaya Katibah Nusantara yang mengancam wilayah tersebut," tulis Singh. 


Sindonews & Tempo

Wednesday, 18 November 2015

[Dunia] Putin: ISIS Dibiayai oleh 40 Negara

Presiden Rusia, Vladimir Putin menyatakan ISIS dibiayai oleh 40 negara

Presiden Rusia, Vladimir Putin mengatakan, ia mempunyai data intelijen yang menunjukan jika ISIS dibiayai lebih dari 40 negara. Dari jumlah itu, beberapa diantaranya adalah anggota dari kelompok G20.

"Berdasarkan data kami terkait pendanaan ISIS berasal dari sejumlah individu swasta. Dana ini, berasal dari 40 negara dan beberapa diantaranya adalah anggota G20," kata Putin kepada wartawan di KTT G20 lalu, seperti dikutip dari laman Russia Today, Selasa (17/11/2015).

Dalam kesempatan itu, Putin mendesak dunia internasional untuk menghentikan perdagangan minyak ilegal yang dilakukan oleh ISIS. Ia pun menunjukkan foto-foto yang diambil dari angkasa dan pesawat yang menunjukkan perdagangan ilegal produk minyak dan minyak bumi.

"Iring-iringan kendaraan pengisian bahan bakar membentang puluhan kilometer sehingga dari ketingian 4.000 meter hingga 5.000 meter dapat terlihat dari angkasa," katanya sembari membandingkan iring-iringan mobil pengangkut minyak itu dengan jalur pipa minyak dan gas.

Ia pun meminta dunia internasional untuk bersatu dalam memerangi ISIS.

"Ini bukan waktu yang tepat untuk mencoba dan mencari tahu negara yang lebih dan kurang efektif dalam pertempuran dengan ISIS, sekarang yang diperlukan adalah upaya internasional untuk bersatu memerangi kelompok teroris," kata Putin. (ian)



Friday, 13 November 2015

Pemimpin Chechnya Sindir Indonesia dan Negara Islam Soal ISIS

Pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov menyindir negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim, termasuk di dalamnya Indonesia soal usaha perlawanan terhadap ISIS. (Sputnik)

Pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov menyindir negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim, termasuk di dalamnya Indonesia soal usaha perlawanan terhadap ISIS. Dirinya menilai, negara-negara Muslim tersebut tidak terlalu banyak bertindak untuk mengalahkan ISIS.

"Saya menganggap ini adalah tugas saya untuk menyerukan langsung kepada para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, Yordania, Maroko, Aljazair, Turki, Iran, Malaysia, Indonesia dan Pakistan," ucap Kadyrov. seperti dilansir Sputnik pada Rabu (11/11).

"Berapa lama Anda akan duduk dan menonton umat Nabi Muhammad Hancur? Mengapa Anda tidak bersatu dan mendiskusikan masalah ini? Mengapa Anda tidak membuat langkah-langkah untuk melawan ISIS? Mengapa Anda tidak mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya: "Sudah cukup!?" tanya Kadyrov.

Dirinya menuturkan, persatuan negara-negara Muslim adalah kunci untuk memecahkan semua masalah yang ada di dunia, termasuk di dalamnya ISIS. Sedangkan, menurutnya keterlibatan AS dan sekutunya dalam semua konflik, hanya semakin memperburuk situasi.

"Ada 1,5 miliar dari kita (Muslim) yang tinggal di luar sana! Kami muda, sehat dan berani dan jika kita bertindak bersama-sama kita tak terkalahkan! Dalam nama Allah SWT, saya meminta Anda untuk berpikir tentang apa yang terjadi, menemukan cara untuk rekonsiliasi dan bekerja di luar mekanisme untuk melawan musuh bersama," tambahnya. (esn)


Monday, 9 November 2015

Dua Warga Pekanbaru Terduga ISIS

ISIS. (Washingtonpost.com)

Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, Riau, menangkap dua pria warga negara Indonesia berinisial FR dan RS, yang diduga terlibat jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS), Senin (9/11).

"Keduanya diamankan di Pelabuhan Singapura karena menggunakan paspor palsu," kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo di Pekanbaru.

Dia menjelaskan kedua pria warga Pekanbaru FR (31) dan RS (26) itu dijemput oleh Jajaran Polresta Pekanbaru dari Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru setelah sebelumnya diamankan oleh Jajaran Polda Kepulauan Riau.


Keduanya diketahui masuk ke Singapura melalui Batam, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu. Dari informasi yang didapat, kata Guntur, mereka berencana terbang ke Suriah dengan menggunakan paspor palsu.

"Saat diketahui bahwa paspor keduanya palsu, mereka langsung diamankan polisi Singapura," ujarnya.

Saat ini keduanya diamankan di Polresta Pekanbaru guna diperiksa lebih lanjut.

Dugaan keterlibatan warga Pekanbaru yang diduga tergabung dengan jaringan ISIS sebelumnya pernah diungkap oleh Intelijen Polda Riau pada Juli 2015.


"Keluarga tersebut terdiri dari suami yang bernisial TB, istrinya YB dan anaknya MJ," kata Guntur.

Ia menjelaskan, kepastian bahwa mereka merupakan bagian dari jariangan ISIS bersumber dari beragam informasi yang berhasil dikumpulkan oleh intelijen Polda Riau.

"Kami memiliki rekaman komunikasi mereka, dokumentasi foto-foto mereka, dan bukti lainnya," ujar Guntur.

Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa TB sudah lebih dulu berada di Suriah sejak 2013. Beberapa bulan lalu ia meminta kepada istri dan anaknya untuk turut serta mengikuti jejaknya ke Suriah melalui jalur penerbangan Jakarta ke Turki untuk kemudian menuju wilayah Hatai.


"Dari Hatai, ada relawan ISIS yang menjemput keluarga tersebut untuk dibawa ke Suriah," ujarnya.

Guntur menuturkan bahwa saat ini seluruh keluarga tersebut sudah tidak lagi berada di Pekanbaru dan telah berada di Suriah. Namun dari bukti transkrip komunikasi yang Polda Riau miliki, keluarga tersebut masih tetap berkomunikasi dengan anggota keluarga mereka, yakni adik iparnya di Pekanbaru.

Untuk saat ini polisi masih berusaha menelusuri penyebaran ISIS yang dilakukan oleh keluarga tersebut di Pekanbaru, tepatnya di sekitar tempat tinggal mereka, Kecamatan Tampan.

Sementara guna memutus mata rantai penyebaran ISIS tersebut, Polda Riau telah melakukan beragam upaya preventif, yakni dengan melibatkan tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam mengedukasi masyarakat bahwa jaringan tersebut berbahaya dan tak sesuai dengan norma Pancasila. (pit/antara)


CNN 

Saturday, 31 October 2015

[Dunia] AS & Rusia-Iran Deadlock Soal Masa Depan Suriah

Pertemuan delapan jam di Wien, Austria, untuk membahas krisis Suriah (Foto: Brendan Smialowski/REUTERS) 

Krisis Suriah sudah terlalu banyak memakan korban. Sejumlah Menteri Luar Negeri (Menlu) pun mengadakan pertemuan di Wien, Austria, untuk menentukan solusi buat negara yang tengah “direcoki” pemberontakan dan kelompok ekstrem ISIS tersebut.

Pertemuan yang digelar Jumat, 30 Oktober waktu setempat tersebut menghadirkan Menlu AS John Kerry, Menlu Rusia Sergei Lavrov, serta sejumlah Menlu negara-negara Arab, China, serta Turki, utusan Suriah dan Iran.

Namun pertemuan delapan jam itu seolah deadlock. Kubu AS dan negara-negara Arab, mendesak rezim Presiden Suriah, Bashar al Assad segera diakhiri.

“Perang selama empat setengah tahun, kami semua percaya bahwa itu sudah terlalu lama. Sudah waktunya menghentikan pertumpahan darah dan mulai membangun (Suriah),” cetus Menlu Kerry, seperti dikutip BBC, Sabtu (31/10/2015).

Sementara Rusia dan Iran, lebih memilih menyerahkan pada rakyat Suriah menentukan nasib mereka via pemilihan umum (pemilu).

“Rakyat Suriah harus menentukan nasib Assad. Kami tak mengatakan bahwa Assad harus tumbang atau bertahan,” timpal Menlu Lavrov.

Berikut sejumlah pernyataan para peserta Pertemuan Wien: 

Amerika Serikat: Assad harus mundur dengan proses transisi politik.

Arab Saudi: Assad harus mundur dengan kurun waktu yang spesifik sebelum digelar pemilu untuk pemerintahan yang baru.

Turki: Assad harus mundur, walau masih bisa memerintah untuk enam bulan ke depan secara “simbolis”.

Negara-negara Eropa Barat & Arab: Assad harus mundur dan tak boleh jadi bagian proses transisi politik.

Rusia: Assad tak boleh dipaksa mundur. Rakyat Suriah harus menggelar pemilu untuk menentukan pemerintahan berikutnya.

Iran: Assad tak harus mundur. Rakyat Suriah harus menentukan masa depan politik mereka sendiri. (raw)

[Foto] Mereka Cantik, Tetapi Mematikan


Pasukan Kurdi dikenal sebagai salah satu kekompok yang gigih melawan ISIS. Tidak hanya pria, wanita juga bergabung dalam pertempuran garis depan. Wajah-wajah cantik mereka akan berubah menjadi beringas ketika menghadapi musuh. Mereka akan menjadi pasukan mematikan bagi siapapun.


Kelompok Yekîneyên Parastina Gel (YPG) bermain dengan anak anjing di kota Ras al-Ain Suriah, dekat perbatasan Turki.


Pejuang perempuan Peshmerga Kurdi berbaris selama sesi pelatihan yang dilakukan oleh instruktur militer Jerman di Arbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi di Irak utara.


Pejuang Yekîneyên Parastina Gel (YPG) atau Unit Perlindungan Perempuan duduk di samping sebuah truk pick-up yang membawa senapan mesin berat di sebuah kamp pelatihan di al-Qahtaniyah, dekat perbatasan Suriah-Turki.


Personel YPG beristirahat di garis depan di kota Hasakeh Suriah timur laut.



Maju melalui zona diperebutkan dari Ayn al-Arab, Suriah.


Mengambil bagian dalam sesi pelatihan di sebuah kamp di Banslawa, utara Baghdad.


Seorang pejuang wanita memanggul senjata di kota Suriah Ain Issi, sekitar 50 kilometer utara dari Raqqa.


Tetap terlihat cantik saat berpose di Arbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi di Irak utara.



Di garis depan di kota Hasakeh Suriah timur laut.

[Dunia] Menhan AS Bantah Akan Kerahkan Pasukan Perangi ISIS

Menhan AS Ash Carter di Irak (Foto: AFP
 Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ash Carter membantah negaranya akan mengerahkan pasukan darat untuk menghadapi kelompok Islamic State (ISIS).

Sebelumnya ada kabar bahwa Presiden Obama akan mengumumkan pengerahan pasukan AS di Suriah. Pengerahan pasukan itu ditengarai untuk menyaingi Presiden Rusia Vladimir Putin yang sudah memerintahkan serangan besar-besar ke basis pertahanan ISIS.
 "Kami tidak berniat menggelar operasi tempur darat berskala besar dalam jangka panjang, seperti di Afghanistan atau Irak, dalam peningkatan penyerangan terhadap sasaran-sasaran ISIS di Irak dan Suriah," ujar Carter, seperti dikutip VOA Indonesia, Jumat (30/10/2015).
Menurut Carter perubahan strategi hanya akan mencakup lebih banyak serangan udara dan mungkin serangan darat. Juru bicara Gedung Putih Eric Schultz mendukung pernyataan Carter, dengan menjelaskan bahwa Amerika "mempertahankan kemampuannya untuk melakukan operasi terbatas di Suriah dengan mitra-mitranya sesuai peluang yang ada."

"Kita tidak bicara tentang serangan berskala penuh atau serangan terhadap kota-kota besar. Kita bicara tentang penyerbuan,” ujar Juru Bicara Koalisi Pimpinan AS di Irak, Kolonel Steve Warren.

"Ini bukan operasi menempatkan ribuan tentara Amerika dengan dukungan ribuan atau puluhan ribu tentara Irak guna melancarkan operasi ofensif berkelanjutan," tambahnya.

Dalam dengar pendapat di Kongres hari Selasa, Menteri Pertahanan Ashton Carter mengatakan bisa saja terjadi lebih banyak penyerbuan seperti yang terjadi pekan lalu, ketika tentara Amerika memberi nasehat kepada pasukan Kurdi untuk menyelamatkan sekitar 70 sandera di Irak, meskipun seorang anggota pasukan komando Amerika terbunuh. FJR 
metrotvnews 

Thursday, 29 October 2015

[Dunia] Rusia Datang, Serangan Udara AS ke Suriah Turun Drastis

Frekuensi serangan udara AS pada target ISIS di Suriah telah melambat secara signifikan sejak Rusia memulai operasi militer di wilayah itu pada awal September ini.

Data yang dirilis Departemen Pertahanan Amerika menunjukkan rata-rata serangan udara Amerika ke Suriah pada  Agustus mencapai tujh kalis ehari. Angka yang konstan sejak Amerika memulai serangan satahun yang lalu.

Namun pada bulan September, setelah Rusia mulai mendirikan pangkalan militer di bandara Latakia Suriah, laju serangan udara AS turun menjadi rata-rata hanya empat kali sehari.
Pada bulan Oktober, ketika Rusia memulai serangan udara terhadap sasaran-sasaran di Suriah mendukung Presiden diperangi Bashar al-Assad, jumlah rata-rata serangan udara Amerika dan koalisi semakin turun drastis.

Data serangan udara AS ke Suriah sejak 1 Agustus hingga Akhir Oktober 2015

Tapi pejabat militer AS mengatakan penurunan serangan udara tidak hubungannya dengan aktivitas militer Rusia di daerah. “Intervensi Rusia belum secara signifikan mengubah penargetan Koalisi di Suriah,” demikian pernyataan Komando Pasukan Gabungan Operasi Resolve Inherent Senin 26 Oktober 2015 sebagaimana dikutip Militer Times Kamis 28 Oktober 2015.

Selama beberapa minggu, AS dan Rusia tidak memiliki jalur komunikasi ketika melakukan serangan udara di wilayah udara yang sama. Tetapi pada 20 Oktober, AS dan Rusia telah menandatangani nota kesepahaman tentang serangkaian prosedur keamanan untuk mencegah kecelakaan atau kesalahpahaman.

Tuesday, 27 October 2015

[Dunia] Rusia Harapan Timur Tengah

'Hujan' Bom Rusia di Suriah Jadi Pukulan Psikologis bagi AS

Rentetan "hujan" bom Rusia di Suriah dinilai jadi pukulan psikologis buat AS. (Sputnik)

Pesawat-pesawat jet tempur Rusia yang menghujani Suriah dengan bom-bom dahsyat dinilai menjadi pukulan semacam “bom” psikologis bagi Amerika Serikat (AS). Demikian analisis kolomnis terkemuka Rusia, Vladimir Soloviev. Menurutnya, dalam sebulan terakhir, opini publik dunia beralih dari menonton video propaganda kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke agresi militer Kremlin di Suriah yang sudah membuat AS dan sekutunya kesal. Soloviev melanjutkan, waktu untuk diskusi tentang teroris berjenggot telah lewat.

Sekarang semua orang berbicara tentang aksi pilot-pilot Rusia. Menurutnya, Washington mau tidak mau harus menyaksikan “pahlawan” baru di Suriah dalam memerangi kelompok teror. Analisis Soloviev bukan sekadar argumen pribadi. Dia mengutip pengakuan Komandan Pasukan Angkatan Darat di Eropa, Jenderal Ben Hodges, yang terkejut dengan kemampuan Moskow menyebarkan tentaranya di kawasan Timur Tengah dalam waktu yang sangat singkat.

“Ia bingung dengan hal ini,” tulis Soloviev dalam sebuah kolom yang dikutip Sputnik, Senin (26/10/2015). Soloviev juga mengutip analisis pemberitaan wartawan Italia yang pernah membuat laporan kehebatan agresi Rusia di Suriah. ”Rusia terlalu kuat,” judul laporan itu.

”Ledakan bom Rusia di Suriah telah memukul Amerika dengan gelombang ledakan. Ini semacam ‘bom psikologis’,” kata Soloviev. Intervensi militer Rusia di Suriah, kata dia, telah mematahkan citra AS di panggung dunia.

Terlebih, Rusia telah mengusulkan Pemilu sebagai solusi untuk mengakhiri krisis Suriah. ”Amerika sedang menonton Kremlin. Apa yang lebih penting adalah bahwa AS telah diabaikan sebagai negara adidaya,” ujarnya.

AS Perusak

Kondisi wilayah Suriah yang dilanda perang. (Reuters)

Koran online Jerman, Die Welt Freie, melansir laporan analisis yang membandingkan peran Rusia dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Media itu menyebut Rusia menawarkan harapan perdamaian bagi Timur Tengah yang hancur akibat intervensi militer AS.

Dalam krisis Suriah, media Jerman tersebut memuji peran Rusia yang dianggap membawa perubahan positif yang besar. Salah satunya dalam membantu Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, dalam melawan teroris. Operasi militer Kremlin sejak akhir September 2015, menurut Die Welt Freie, sah karena atas permintaan resmi dari rezim Damaskus.

”Dukungan (Presiden Vladimir) Putin pada Pemerintah Assad akan menentukan nasib kita semua. Bagaimanapun, Presiden Rusia ini telah berhasil,” bunyi laporan media Jerman itu, Senin (26/10/2015). Rusia juga dipuji media Jerman itu atas peran militernya yang tetap menganut hukum internasional.

”Putin (Presiden) Rusia berkomitmen untuk mematuhi hukum internasional, sementara Amerika Serikat secara de facto dan de jure bertindak seperti bola perusak,” imbuh laporan surat kabar Jerman itu. “Ini telah terjadi saat masa perang di daerah yang ada kepentingan AS, yang ternyata negara-negara tetangga terkena reruntuhan, memaksa jutaan orang melarikan diri dan merampok mereka dari sejarah dan mata pencaharian mereka,” kritik koran Jerman itu terhadap kebijakan perang AS. 

Sementara itu, Pemerintah AS dalam beberapa kesempatan justru menuding balik aksi militer Rusia yang dianggap memperparah konflik Suriah. AS juga menuding agresi Rusia di Suriah tidak menargetkan ISIS dan telah menyasar warga sipil. Namun, tuduhan itu dibantah Kremlin dengan melansir laporan usai serangan diluncurkan. (mas)

Saturday, 24 October 2015

[Dunia] Rusia Ingin Pertemuan Dengan Semua Oposisi Suriah

Rusia bertemu dengan Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat untuk membahas perang di Suriah.

Sekutu Suriah, Rusia, mengatakan bahwa seharusnya ada pertemuan antara pemerintah Suriah dan "setiap spektrum" oposisi.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov juga mendesak ada upaya yang lebih intensif untuk mencari solusi politik buat perang. 

Pernyataan Lavrov disampaikan setelah pertemuan dengan Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.
Pada Kamis, Presiden Putin mengindikasikan bahwa rezim Suriah siap bekerja dengan beberapa kelompok pemberontak melawan kelompok ISIS. 

Menurut Putin, Presiden Assad menyetujui ide tersebut dalam kunjungannya ke Moskow.
Berbicara di awal pertemuan di Wina pada Jumat, Lavrov mengatakan, "Kita semua di posisi sama, mendorong upaya proses politik dalam kesepatan di Suriah. Ini harus menjadi awal dari pertemuan seluruh pihak antara perwakilan pemerintah Suriah dan setiap spektrum dari oposisi Suriah, baik domestik maupun luar negeri - dengan dukungan pemain luar."

Lavrov tidak menyebut secara jelas kelompok oposisi mana yang harus diikutkan dalam pertemuan.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry, yang juga hadir, mengatakan bahwa pertemuan tersebut "konstruktif" dan proses negosiasi yang lebih luas bisa terjadi pekan depan. 

Amerika Serikat, Turki, dan Arab Saudi mendukung semua kelompok pemberontak yang melawan pemerintah Suriah. Rusia mendukung Presiden Assad. Langkah Rusia menerima Assad pada Selasa (20/10) lalu mendapat kritik dari Amerika Serikat. 

Rusia sudah mengebom target-target di Suriah sejak bulan lalu. Menurut Rusia, mereka menyerang sasaran ISIS tapi kekuatan Barat mengatakan Rusia lebih banyak menyerang kelompok pemberontak, termasuk yang didukung oleh negara Barat dan negara-negara Teluk. 

Thursday, 22 October 2015

[Dunia] Assad Berterima Kasih atas Serangan Udara Rusia di Suriah

Presiden Suriah, Bashar al-Assad berterima kasih kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin atas serangan udara Rusia melawan sejumlah kelompok pemberontak di Suriah. (Reuters/Alexei Druzhinin/RIA Novosti/Kremlin) 

Presiden Suriah, Bashar al-Assad melakukan kunjungan dadakan ke Moskow pada Selasa (20/10) malam untuk berterima kasih kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin atas peluncuran serangan udara Rusia kepada sejumlah kelompok pemerontak yang menentang rezimnya, termasuk kelompok militan ISIS.

Dilaporkan Reuters, Kremlin membuat rincian publik terkait kunjungan Assad ke Moskow pada Rabu (21/10).

Meski demikian, pemerintah Rusia tidak menyebutkan apakah Assad kini masih berada di Moskow, atau telah kembali ke Suriah. 


Kunjungan ini diyakini menjadi perjalanan luar negeri pertama Assad sejak pecahnya krisis Suriah pada 2011 silam.

Kunjungan Assad ke Moskow terjadi tiga pekan setelah Rusia meluncurkan kampanye serangan udara terhadap ISIS di Suriah pada 30 September lalu.

"Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada kepemimpinan Federasi Rusia atas bantuan yang mereka berikan Suriah," kata Assad kepada Putin, menurut transkrip pertemuan yang dirilis Kremlin.

"Jika bukan karena tindakan dan keputusan Anda, terorisme yang menyebar di wilayah tersebut akan menjadi jauh lebih besar dan menyebar ke wilayah yang lebih besar," kata Assad kepada Putin.

Sementara, Putin memuji rakyat Suriah yang dinilai melawan pemberontakan kelompok militan "hampir dengan usahanya sendiri."

Putin menyatakan tentara Suriah telah membukukan kesuksesan besar di medan pertempuran selama beberapa kali. (ama)


 CNN

Tuesday, 20 October 2015

[Dunia] Daftar Arsenal Rusia di Suriah

Sebelum ini pun rezim Suriah menggunakan pesawat tempur-pesawat tempur buatan Rusia untuk menyerang baik oposisi Suriah maupun kaum militan ekstremis seperti ISIS (Reuters)

Terlepas dari pro-kontra pengerahan militer Rusia di Suriah untuk menghantam posisi-posisi NIIS/ISIS yang tidak terbendung kekuatan perang negara-negara di sana, menarik untuk menyimak daftar arsenal militer yang dikerahkan. 

Rusia, yang telah bangkit lama dari keterpurukannya pasca keruntuhan Uni Soviet, diketahui sudah mulai kembali pada kekuatan militernya yang hampir sama dengan dulu. 

Untuk theater Suriah —karibnya sejak akhir dasawarsa ’60-an— Rusia menurunkan kekuatan udara, peluru kendali, ribuan personel darat, hingga pencegatan dan penyekatan di laut. 

Di medan udara, sebagaimana dinyatakan www.warontherocks.com, hari ini, Rusia menerbangkan barisan pesawat tempur gabungan, terdiri dari 12 Sukhoi Su-24M2, 12 Sukhoi Su-25SM dan Sukhoi Su-25UBM, empat Sukhoi Su-30SM, dan enam Sukhoi Su-34. 

Dari barisan itu, bisa dilihat bahwa kekuatan udara yang dikerahkan kebanyakan bomber dan serang darat (Su-24M2, Su-25SM, dan Su-25UBM), dengan payung udara untuk meraih dan mempertahankan superioritas udara pada Su-30SM. Sebagai gambaran, mitraliur udara Gsh-301 30 milimeter-nya masih cukup mampu mengobrak-abrik kendaraan lapis baja pengangkut personel medium. 

Dalam kesepakatan bantuan peralatan perang antara Presiden Suriah, Bashar al-Asaad, Presiden Rusia, Vladimir Putin, semula dikerahkan 20 sortie penerbangan sehari namun ekskalasi itu meningkat jadi 60 sortie sehari kini. 

Kebanyakan memang untuk membasmi basis-basis NIIS/ISIS di darat, seperti pusat-pusat kendali, gudang logistik perang dan amunisi, dan perlengkapan lain, juga kamp-kamp mereka. 

Masih belum cukup, helikopter serang darat Mil Mi-24P juga dilibatkan untuk “membersihkan” area-area yang telah diserang jajaran bomber dan serang darat Sukhoi itu. Dari ketinggian lebih rendah, tembakan peluru 20 milimeter dari kanon putar Mi-24P ini masih diimbangi dengan peluru suar (flare) untuk mengecoh peluru kendali panggul yang ditembakkan milisi NIIS/ISIS. 

Dari sisi amunisi udara yang dipakai, bom berpemandu dan presisi dari jajaran KAB-500S GPS/GLONASS atau Kh-25ML yang dipandu laser jadi andalan selain bom konvensional OFAB 250 hingga 270. 

Dia sekelas dengan Mk-82 series dari NATO. Jika ada bunker beton yang harus dibongkar, Rusia memiliki barisan bom BETAB-M dan bom tandan RBK-500SPBE-D untuk menghancurkan barisan kendaraan militer pemberontak atau tank. 

Dari sisi kekuatan darat, Rusia memiliki sistem pertahanan udara di darat Pantsir-S1, dan belasan lusin tank T-90 serta personel infantri Angkatan Laut-nya (sejenis marinir). Mereka berpangkalan di Tartu — kota sangat strategis bagi pertahanan Rusia di Suriah, mirip dengan Pangkalan Clark dan Subic di Filipina bagi Amerika Serikat untuk kawasan Asia Pasifik Barat. 

Dengan mengandalkan Armada Laut Hitam Angkatan Laut Rusia, flotila kapal perangnya di Laut Mediterania digeser ke pantai-pantai Suriah untuk mendukung pertahanan udara yang lebih pasti. Belasan lusin kapal perang berbagai kelas dilibatkan, meliputi kapal pendarat, kapal pendukung, wahana intelijen, yang bergabung dengan kapal perang permukaan. 

Di antara mereka terdapat kapal jelajah berpeluru kendali dari kelas Slava, yang memiliki peluru kendali laut-ke-udara S-300 yang maut itu. 

Kapal-kapal fregat kelas Krivak dan kapal perang senior destroyer kelas Kashin juga dikerahkan walau tidak memberi kesan berarti karena teknologinya yang sudah ketinggalan jaman. Ada kisah tidak mengenakkan, saat peluru kendali SS-N-14 gagal diluncurkan dari silo-silonya di barisan kapal-kapal perang kelas Kashin ini, dalam pertempuran di Semenanjung Krimea lalu. 

Masih ada lagi flotila kapal perang Armada Laut Kaspia Rusia yang dipasang di medan Suriah ini, di antaranya korvet kelas Buyan M, dan fregat kelas Gepard, yang diperlengkapi peluru kendali penjelajah Kalibr-NK (3M-14T), yang diluncurkan untuk serangan darat. 

Namun menurut laporan intelijen Amerika Serikat, peluru kendali itu malah nyasar ke suatu lokasi di Iran.
Antara

Thursday, 15 October 2015

[Dunia] Bagaimana Nasib Suriah Selanjutnya?

Dua Koalisi Melawan Daesh

Peta konflik di Suriah antara koalisi AS, ISIS dan pro-Rusia. (Daily Mirror) 

Seminggu setelah Rusia meluncurkan serangan udara terhadap ISIS di Suriah, harapan untuk koalisi yang lebih luas dalam memerangi militan ISIS yang merebut sejumlah besar wilayah Suriah menguap. Harapan bahwa musuh bersama, yang merepresentasikan tantangan peradaban, dapat mendekatkan kembali Rusia dan Barat, ternyata prematur.

Di luar kritik tajam Barat terhadap serangan Rusia, yang menuduh Rusia menyerang oposisi Suriah bukannya ISIS, militer Rusia bersikeras bahwa serangan tersebut terbukti efektif sejauh ini. Menghadapi langkah Rusia yang cukup tegas, Presiden AS Barack Obama mengumumkan rencana strategis untuk meluncurkan serangan umum secara de facto ke ibu kota ISIS, kota Raqqa di timur laut Suriah.

Operasi tersebut akan melibatkan 20 ribu tentara Kurdi dan sekitar lima ribu pemberontak yang merepresentasikan oposisi Suriah, didukung oleh AU Amerika. Inisiatif Obama untuk meluncurkan serangan pada ISIS di Suriah, yang tak dilakukan selama lebih dari setahun sejak kehadiran koalisi yang dipimpin AS, hanya memperburuk hubungan Moskow dan Obama terkait strategi memerangi ISIS.

Ada kecurigaan di kalangan pengamat Rusia bahwa rencana tersebut tak lain hendak menunjukan kompetensi AS untuk ‘menyelesaikan hal yang tak tertangani oleh Rusia’. Sementara, koalisi anti-ISIS yang mulai terbentuk antara Russia, Iran, dan Irak serata Damaskus menggunakan caranya sendiri untuk bersatu sebagai sebuah pasukan anti-ISIS. Koalisi baru ini membentuk pusat koordinasi di Baghdad untuk melakukan pengintaian dan analisis, dan unit tersebut akan mulai beroperasi dalam beberapa minggu mendatang.

Pendatang baru di koalisi anti-ISIS kedua, yang dipimpin oleh Moskow, yakni Irak, membuat komitmen tegas. Dilihat sebagai negara klien setelah lebih dari satu dekade kehadiran militer Amerika di negara tersebut sejak jatuhnya diktator Saddam Hussein, Irak berjanji akan lebih aktif memerangi ISIS dan menyediakan data intelijen untuk Iran, Suriah, dan Rusia. Sementara, reaksi internasional atas aksi militer Rusia berkisar dari penolakan penuh (Arab Saudi dan Turki) hingga potensi kerja sama (Prancis), dan keacuhan (Uni Emirat Arab).

Secara tak terduga, Emirat menyambut keterlibatan Rusia, menyebutkan bahwa mereka tak keberatan akan hal itu. Pejabat senior di Abu Dhabi, seperti dikutip oleh harian Prancis Le Figaro, menyatakan bahwa jika Rusia mampu melemahkan ISIS dan kelompok radikal al-Nusra, hal itu akan dianggap sebagai hal positif oleh UEA.

Selain itu, negara tersebut juga tak peduli bahkan jika Rusia membuat Assad tetap bertahan. “Kami tak bermasalah bekerja sama dengan Rusia,” kata pejabat yang tak mau disebutkan namanya. “Tapi tidak dengan Iran.” Secara keseluruhan, sejak Moskow terlibat dalam konflik Suriah, perubahan konfigurasi aliansi politik dan loyalitas meningkat.

Namun, hal ini tetap tak membuka jalan bagi aliansi yang benar-benar luas dan komprehensif. Dua koalisi anti-ISIS tak sepenuhnya saling bicara, meski terdapat kontak intens antara pejabat militer Rusia dan Amerika. Terdapat cukup banyak retorika di udara yang menyebutkan dua sekutu tersebut bersaing satu sama lain, mencoba melegitimasi superioritas terkait pasukan anti-ISIS.

Apakah hal ini akan mengganggu proses penumpasan ISIS dan kelompok regional lain yang mengacaukan stabilitas regional? Dmitry Polikanov, anggota Center for Policy Studies in Russia yang berbasis di Moskow, menyampaikan pada Troika Report.

“Ini bisa mengarah pada upaya yang tak terkoordinasi dan menciptakan pergesekan antara anggota kelompok koalisi, secara tak disengaja. Saya berasumsi sepertinya lebih baik kedua koalisi mengeluarkan pakta untuk menghindari perselisihan. Rusia dan AS harus sepakat untuk bertindak lebih bijak.”

“Saat ini, Barack Obama telah menyatakan perlunya menyediakan senjata lebih banyak bagi pemberontak Suriah. Seperti kita tahu, persenjataan tersebut sebelumnya dikirim oleh para pemberontak untuk teroris, yang menghambat operasi yang dilakukan Rusia."

- ISIS dianggap sebagai ancaman global, tantangan global. Perlu upaya global untuk menumpas hal itu. Mengapa tak ada koordinasi antara Rusia dan Barat pada titik kritis ini?

“Hal ini karena kurangnya keinginan politik dari pihak Barat. Pemerintah Rusia berulang kali mengajak membentuk upaya bersama memerangi ISIS. Semua upaya gagal, sayangnya. Hal ini mungkin dimotivasi oleh ambisi personal pemimpin negara tertentu.”

- Apakah mungkin salah satu koalisi menyatakan diri sebagai pemenang?

“Sesungguhnya, tak ada yang benar-benar menang dalam perang ini. Sangat berbahaya untuk mengaku sebagai pemenang. ISIS, sama seperti organisasi teroris lain, merupakan organisasi jaringan. Secara praktis tak mungkin mencapai kemenangan absolut. Saya rasa lebih masuk akal untuk bicara mengenai proses, tapi tidak perlu bicara mengenai hasilnya. Tujuan koalisi Rusia dan AS harus ditegaskan untuk mengurangi potensi tempur ISIS.”

Pada dasarnya, kompetisi antara dua koalisi tak akan menentukan siapa yang menang atas ISIS, melainkan memperlihatkan siapa yang lebih kuat di wilayah tersebut. Bagi AS, mereka lebih butuh pengakuan sebagai penjaga keamanan Timur Tengah. Bagi Rusia, ini adalah tentang mengamankan rezim pro-Moskow di Damaskus, menciptakan hubungan khusus dengan kekuatan regional yang sedang tumbuh, Iran, dan kembali ke politik global sebagai agen asertif yang bisa diperhitungkan.

Di luar perbedaan kepentingan strategis, tujuan utama kedua koalisi sudah tentu memusnahkan ISIS dari dunia yang beradab. 

Moskow Ingin Suriah Kalahkan Sendiri Daesh

Kru teknisi militer Rusia menempatkan bom yang dikendalikan satelit pada pesawat tempur SU-34 di pangkalan udara Hmeimim di Suriah, Sabtu (3/10). [AP] 

Kremlin menolak untuk mengomentari informasi yang dirilis CNN terkait kemungkinan persiapan operasi darat Rusia di Suriah. Namun, para pakar Rusia satu suara dan menegaskan bahwa Moskow tidak ingin terlibat terlalu jauh dalam konflik Suriah dan membatasi serangan udara.

Kremlin tidak memberikan komentar terkait mencuatnya laporan media Barat mengenai transfer sistem artileri buatan Rusia dari Latakia lebih jauh ke dalam wilayah Suriah. “CNN membingungkan. Mereka bahkan salah menyebut Putin dengan Yeltsin,” demikian dikabarkan oleh Juru Bicara Kepresidenan Dmitry Peskov kepada wartawan pada Selasa (6/10).

Sebelumnya pada 30 September, Kepala Administrasi Kepresidenan Sergei Ivanov mengatakan bahwa Rusia hanya berniat untuk mengerahkan Angkatan Udara di Suriah. Hal tersebut dilakukan menanggapi permintaan langsung dari Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pakar Dewan Rusia Urusan Internasional Nikita Mendkovich mengatakan kepada RBTH bahwa saat ini Rusia tidak mempertimbangkan kemungkinan operasi darat di Suriah. Ini dikarenakan untuk saat ini bantuan tersebut belum dibutuhkan.

“Tujuan Rusia adalah untuk mengurangi ancaman ISIS dengan mendukung upaya pemerintah yang sah di Suriah dalam memerangi organisasi teroris tersebut. Pengalaman hari pertama operasi menunjukkan bahwa penggunaan angkatan udara menghasilkan keberhasilan taktis yang signifikan dan menstabilkan garis depan pascakrisis musim panas,” ujar Nikita Mendkovich.

Berkenaan dengan CNN, sang pakar mengatakan, “Hal tersebut mungkin senjata yang dikirimkan untuk tentara Suriah dalam rangka kontrak militer. Itu adalah artileri Suriah, bukan milik Rusia.”

Tak Ada Sumber Daya untuk Intervensi Darat

Serangan Su34 Fullback. [Reuters] 

Vladimir Khrustalev, seorang pakar dari Yayasan Lifeboat, mengatakan bahwa volume senjata dan peralatan militer yang dikabarkan oleh saluran televisi Amerika tidak melewati kerangka pengiriman senjata secara berkala untuk Assad. 

“Pasukan darat Rusia memang ada di sana. Namun, hanya dalam jumlah yang sangat minim dan sebagai sarana untuk memastikan fungsi pangkalan udara,” jelasnya. 

“Jika membahas mengenai prospek untuk operasi darat, tidak ada bukti yang kuat.” Leonid Isaev, seorang orientalis dan pengajar di Sekolah Tinggi Ekonomi mengatakan kepada RBTH bahwa kemenangan atas ISIS tanpa operasi darat tidaklah mungkin.

“Dukungan dari udara membantu pasukan pemerintah mempertahankan wilayah yang dikontrol tentara Suriah. Tentara Suriah telah mengalami kerugian pada tahun-tahun sebelumnya dan tidak sanggup kehilangan lebih dari itu. Untuk dapat memenangkannya, dibutuhkan pasukan darat ke Suriah,” ujar sang pakar.

Namun menurut Leonid Isaev, intervensi darat Rusia tidak memiliki sumber daya yang cukup. “Selain itu, kita dapat menyebabkan banyak hal yang merugikan Assad. Semakin besar campur tangan Rusia di Suriah, semakin kuat pula reaksi Barat, Arab Saudi, dan Turki,” katanya menambahkan.

Menurut Leonid Isaev, hal utama terletak pada kenyataan bahwa Kremlin tidak ingin mengulangi kesalahan Uni Soviet. “Rusia diharapkan dapat membatasi operasi udara dan tidak membiarkan diri mereka ditarik lebih jauh ke dalam konflik Suriah.” Ketua Asosiasi Ilmuwan Politik Militer Vasily Belozerov menekankan dalam percakapannya dengan RBTH bahwa tingkat kehadiran pasukan Rusia di wilayah udara Suriah sudah menyebabkan kerusakan serius pada ISIS, dan hal ini dinilai sudah cukup.

RBTH 

Tuesday, 13 October 2015

[Dunia] Rusia Klaim Hancurkan 63 Target dalam 64 Sorti di Suriah dalam 24 Jam

Rusia menggencarkan serangan udara ke wilayah Suriah dengan dalih menghantam daerah kekuasaan ISIS. (Reuters/Ministry of Defence of the Russian Federation)

Jet tempur-jet tempur Rusia menghantam 63 sasaran di Suriah dalam 24 jam terakhir, kata kementerian pertahanan Rusia seperti dikutip AFP.

"Pesawat-pesawat Su-34, Su-24M dan Su-25SM melancarkan 64 sorti penerbangan dari pangkalan udara Hmeimim terhadap 63 target di Provinsi Hama, Latakia, Idlib dan Raqa," kata kementerian itu.

Militer Rusia mengklaim bahwa serangan udara itu telah menghancurkan 53 posisi yang digunakan "teroris", selain sebuah pos komando, empat kamp pelatihan dan tujuh gudang senjata. Rusia mengatakan kampanyenya di Rusia adalah telah melumpuhkan ISIS dengan menunjukkan rekaman komunikasi radio yang menunjukkan ISIS semakin panik.

Sabtu, kementerian pertahanan mengklaim bahwa para petempur kekurangan senjata, amunisi dan bahan bakar, sehingga mendorong mereka meninggalkan posisi-posisi tempurnya ke wilayah timur dan timur laut.

Juru bicara kementerian pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan bahwa Rusia mencapai kemajuan dalam perundingannya dengan Pentagon dalam mencegah insiden di dalam ruang udara Suriah di mana koalisi pimpinan AS juga melancarkan bombardemen terpisah di Suriah.

Antara

[Dunia] Tokoh Kunci di Balik Operasi Militer Rusia di Suriah

Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Khusus Iran. [tasnimnews]

Pada tanggal 24 Juli 2015, sebuah pesawat komersil Iran mendarat di Bandara Udara Moskow, Rusia. Tidak ada yang istimewa terkait hal tersebut, semua berjalan seperti biasanya.

Namun belakangan, pihak intelijen negara barat baru mengetahui bahwa pesawat itu mengangkut seseorang yang “istimewa”. Sosok itu adalah Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Soleimani merupakan Komandan pasukan Satuan elite Garda Revolusi Iran, Qods Force. Soleimani juga kerap dijuluki Komandan pasukan bayangan (Shadow Commander) oleh media-media Barat. Pria ini diyakini sebagai otak operasi intelijen Iran di hampir semua palagan di Timur Tengah. Sebut saja Irak, Afghanistan, Lebanon, Suriah, bahkan Yaman.

Sejumlah kalangan meyakini tanpa kehadiran Soleimani di Suriah, rezim Bashar al Assad saat ini tinggalah kenangan. Nah, apa maksud dan tujuan perwira tinggi Iran ke Moskow kala itu? Belakangan terkuak kunjungan Soleimani saat itu untuk menemui Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu dan Presiden Vladimir Putin.

Dalam tulisannya, Tom Perry, Kepala Biro Reuters di Timur Tengah mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut, Soleimani meyakinkan Rusia bahwa Suriah sangat membutuhkan kehadiran militer negara itu. Menurut Soleimani, posisi Assad yang terjepit kelompok pemberontak bisa berbalik di atas angin jika Rusia hadir dengan pasukan dan persenjataannya. Soleimani menawarkan aliansi operasi militer Iran dan Rusia di Suriah: Rusia di udara dan Iran di darat.

Kapal perang Rusia menembakkan rudal dari Laut Kaspia ke basis ISIS di Suriah. (indiaexpress) 

Artinya, Rusia cukup dengan menggelar operasi serangan udara, dan biarkanlah Iran dan Suriah yang “menyelesaikan” bagian yang di darat. Dalam pertemuan tersebut, Soleimani membentangkan peta pertempuran antara tentara pemerintah Suriah dan pemberontak, yang sudah mulai bergeser mendekati Tartus, kawasan pesisir Suriah.

Di sinilah, Soleimani memainkan kartu trufnya untuk mendesak Rusia. Jenderal Iran ini sangat menyadari pentingnya Tartus bagi Rusia. Tartus merupakan satu-satunya pangkalan militer Rusia di Timur Tengah. Tanpa Tartus, Rusia tak lagi punya pijakan di kawasan tersebut. “Soleimani menempatkan peta Suriah di atas meja.

Petinggi Rusia sangat khawatir dan mencemaskan aset mereka di Suriah. Jenderal Iran itu meyakinkan mereka, masih ada peluang untuk membalikkan situasi,” sebuah kata sumber Reuters. Lobi Soleimani akhirnya berhasil. Hari-hari ini, dunia melihat pesawat dan rudal-rudal Rusia wara-wiri di langit Suriah. Arti Suriah bagi Iran Apa pentingnya Suriah bagi Iran? Banyak pihak yang hingga kini masih bertanya-tanya, alasan Teheran mati-matian mempertahankan Assad dari serangan pemberontak.

Ada dua alasan. Pertama, saat Perang Teluk 1, Suriah merupakan satu-satunya negara Timur Tengah yang mendukung Iran, ketika seluruh negara lain berada di belakang Irak. Kedua, Keberlangsungan rezim Assad diperlukan Teheran untuk menjamin jalur pasokan senjata dan logistik yang mereka kirim kepada kelompok Hizbullah di Lebanon. Hizbullah merupakan “tangan” Teheran untuk memukul Israel, seperti yang terjadi pada tahun 2006.

Selain Hizbullah, Iran juga dicap negara Barat sebagai pendukung utama kelompok “radikal” di Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam. Namun, suka atau tidak, hari ini negara-negara Barat harus mengakui stabilitas di Timur Tengah tak mungkin tercapai bila mereka mengabaikan Iran! [Reuters]

Tribunnews

Monday, 12 October 2015

Iring-iringan Bos ISIS Abu Bakr al-Baghdadi dibom Irak

Para ekstremis militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kini praktis menguasai separuh wilayah Suriah dan sekaligus jalur luas yang membentang sampai Irak utara dan tengah (Reuters)

Angkatan Udara Irak menghajar iring-iringan pemimpin ISIS Abu Bakr al-Baghdadi di Provinsi Anbar yang berdekatan dengan perbatasan Suriah, kata militer Irak seperti dikutip Reuters.

Menurut militer Irak, nasib pemimpin militan yang memproklamasikan diri sebagai pemimpin khilafah Irak dan Suriah (ISIS) itu belum diketahui.

"Angkatan udara Irak telah membom iring-iringan teroris Abu Bakr al-Baghdadi selagi dia menuju Karabla untuk menghadiri sebuah pertemuan dengan para komandan Daesh", kata militer Irak itu.

Daesh adalah akronim dalam Bahasa Arab untuk ISIS.


Antara 

[Dunia] AS dan Rusia Berpotensi Perang Dunia III di Suriah

Peta konflik di Suriah antara koalisi AS, ISIS dan pro-Rusia. (Daily Mirror)

Amerika Serikat (AS) dan koalisinya mengumumkan telah melakukan 24 serangan terhadap ISIS di Suriah dalam 24 jam. Di waktu yang sama, Rusia mengklaim menggempur 55 target ISIS.

Analis militer, Andrew Foxall dari kelompok think thank Henry Jackson Society, memperingatkan, serangan koalisi AS yakni NATO dan Rusia di Suriah bisa menjadi bencana tak terbayangkan jika suatu saat bersinggungan. Kedua kekuatan dunia itu, bahkan bisa terlibat Perang Dunia III di Suriah.

Dalam beberapa hari ini saja, ketegangan antara AS dan Rusia terus memanas, di mana AS menuduh serangan Rusia mengenai pasukan pemberontak Suriah yang dilatih AS. Sebaliknya, Rusia mengejak koalisi AS yang sudah setahun menyerang kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tapi tidak begitu terlihat hasilnya.

Foxall, mengatakan insiden diplomatik bisa berubah jadi bencana. Dia menggambarkan bahwa lalu lintas udara di Suriah kini semakin padat. Pesawat tempur, helikopter, drone, rudal dan artileri baik dari Rusia maupun koalisi AS telah jadi pemandangan setiap saat di wilayah udara Suriah.

”Mengingat jumlah lalu lintas militer di udara (yang padat), ada kekhawatiran nyata bahwa pesawat akan ditembak jatuh karena kesalahpahaman yang jadi bencana. Ini berarti kita bisa menjadi saksi detik-detik dari eskalasi yang tiba-tiba membawa kita ke ambang perang,” kata Foxall.

Komandan serangan udara AS di Suriah, Letnan Jenderal Charles Brown, telah mengakui adanya ketegangan kedua pihak. Dia mencontohkan, pesawat AS dan Rusia nyaris berhadapan dalam jarak 20 mil. Jika tidak dikendalikan, hal itu bisa jadi bencana dalam hitungan detik.

“Rusia memiliki tujuan yang sangat berbeda dengan koalisi NATO yang menginginkan perubahan rezim di Suriah,” kata Foxall, seperti dikutip Daily Mirror, semalam. ”(Sementara) kepentingan utama Kremlin adalah mempertahankan rezim pro-Rusia di Suriah.”

Foxall juga mengkhawatirkan jika China ikut ambil bagian dalam masalah yang rumit di Suriah itu.

Sementara itu, mantan Sekjen NATO, Jaap de Hoop Scheffer, mengatakan kepada Channel 4, bahwa Kremlin akan gagal. ”Saya pikir Putin akhirnya akan jatuh dengan pedangnya sendiri. Dia akan menjadi anti-juru selamat untuk setiap warga Sunni di Timur Tengah,” ujarnya mengacu pada sentiman sektarian di Timur Tengah antara kaum Sunni dan Syiah.