Showing posts with label Konflik Suriah. Show all posts
Showing posts with label Konflik Suriah. Show all posts

Tuesday, 29 December 2015

[Dunia] Sempat Meremehkan, AS Kini Khawatir dengan Militer Rusia

Laporan Pentagon mengungkap bahwa AS khawatir dengan kekuatan militer Rusia. | (Reuters)

Sebuah laporan Pentagon Amerika Serikat (AS) mengungkap kekhawatiran Washington atas manuver-manuver mematikan armada militer Kremlin dalam memerangi ISIS di Suriah. Padahal, AS sempat meremehkan kemampun militer Rusia sejak akhir Perang Dingin.

Laporan itu disusun George Fedoroff, pejabat ahli intelijen Angkatan Laut AS pemantau militer Rusia dengan judul; "The Russian Navy: A Historic Transition". AS merasa “baru terbangun” melihat kekuatan Angkatan Laut Rusia terkini saat unjuk kekuatan di Suriah.


 
Pada bulan Oktober lalu misalnya, militer Rusia meluncurkan rudal-rudal jelajah Kalibr-M dari kapal perang yang ditempatkan di Laut Kaspia. Rudal yang melesat lebih dari 1.500 mil dan melewati langit Irak dan Iran sebelum akhirnya menggempur basis teror di Suriah telah dipantau AS. Para pejabat AS saat itu sempat menuduh, beberapa rudal jelajah Rusia itu menyasar ke Iran. Namun tuduhan itu disangkal baik oleh Moskow maupun Teheran.

Rusia telah memulai dan selama dekade berikutnya akan membuat langkah besar di Angkatan Laut yang tangkas pada abad ke-21, yang mampu diandalkan untuk pertahanan nasional. Kehadiran mengesankan tapi terbatas di wilayah global yang lebih jauh dari kepentingan,” bunyi laporan itu.

Dalam laporannya, Fedoroff mencatat armada militer musuh AS dalam Perang Dingin itu tumbuh, di mana Kremlin memiliki banyak kapal perang dan kapal selam, yang saat ini berjumlah 186 kapal. Dia juga memantau persenjataan Angkatan Laut Rusia yang patut dipertimbangkan AS.


 
Fedoroff mengakui bahwa AS telah meremehkan kemampuan militer Rusia sejak akhir Perang Dingin. Namun, sekarang, untuk pertama kalinya dalam 24 tahun, Pentagon mulai memperhatikan kehebatan militer Moskow.

Sejak tahun 2000, kondisi pemerintah dan ekonomi Rusia telah stabil, telah ada upaya yang terfokus dan didanai untuk merevitalisasi militer Rusia, termasuk angkatan lautnya,” lanjut laporan Fedorrof, seperti dilansir Sputnik, semalam.


Fedoroff juga mencatat manuver rudal jelajah Kalibr Rusia sebagai tanda meningkatnya kekuatan angkatan laut Rusia. ”(Rudal) Kalibr memberikan platform sederhana, seperti korvet, dengan kemampuan ofensif yang signifikan dan dengan menggunakan rudal serangan darat, semua platform memiliki kemampuan yang signifikan untuk membuat target tetap jauh berisiko,” imbuh laporan itu.

Perkembangan kemampuan angkatan laut Rusia baru sangat berubah untuk menghalangi, mengancam atau menghancurkan target musuh.
 

Sindonews

Wednesday, 25 November 2015

[Dunia] Turki Tembak Jatuh Jet Sukhoi Rusia di Perbatasan Suriah

Turki tembak jatuh jet Su-24 Rusia. ©2015 Merdeka.com

Satu unit jet Sukhoi Su-24 ditembak jatuh di Provinsi Latakia, perbatasan Suriah, hari ini, Selasa (24/11). Menurut keterangan Kementerian Pertahanan Rusia, yang menembak jatuh pesawat tempur itu adalah militer Turki. Diduga kuat, ada miskoordinasi antara kedua negara, seperti dilansir Stasiun Televisi Russian Times.
Rusia beberapa kali dianggap melanggar wilayah udara Turki ketika menyerang basis pemberontak maupun ISIS di Suriah. Pemerintah Negeri Beruang Merah menepis kemungkinan pihaknya yang bersalah sehingga ditembak jatuh.
"Jet tempur kami terbang di ketinggian 6.000 meter untuk melakukan pengintaian dan selalu terbang di wilayah udara Suriah," seperti dikutip dari keterangan tertulis Kemenhan Rusia.
Pada video yang beredar, maupun foto-foto di jejaring sosial, Su-24 itu terhantam rudal, kemudian meledak di udara. Pilot dilaporkan berhasil menyelamatkan diri sebelum jatuh.

Juru bicara militer Turki mengatakan pihaknya memang menjatuhkan pesawat tersebut. Alasannya Sukhoi itu diperingatkan hingga 10 kali telah melanggar wilayah udara mereka. Yang belum terkonfirmasi adalah, dengan apa Su-24 itu ditembak jatuh, apakah karena rudal F-16 Turki atau rudal antipesawat udara dari darat.

Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu menolak berkomentar soal detail jatuhnya pesawat jet Rusia. Namun dia mengatakan pihak-pihak berkepentingan kini akan membahas insiden itu bersama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Ini adalah insiden udara kesekian kalinya setelah Rusia mulai menggempur Suriah demi membantu sekutunya, Presiden Basyar al-Assad.

Sebelumnya, Pemerintah Turki mengirim nota protes pada Negeri Beruang Merah, setelah satu pesawat tempur mereka melanggar batas wilayah pada Minggu (4/10).

Jet itu disebut-sebut berusaha membombardir markas Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di wilayah utara Suriah, tapi malah memasuki teritori Turki, tepatnya daerah Yayladagi, provinsi Hatay. Angkatan Udara Turki berbekal satu unit pesawat F-16mengusir jet penyusup itu kembali ke Suriah. Insiden pencegatan jet tempur saat itu berakhir tanpa ada kontak senjata.

Menteri Luar Negeri Turki Feridun Sinirlioglu mengaku telah menghubungi Menlu Rusia Sergei Lavrov untuk mengeluhkan insiden ini. "Federasi Rusia harus bertanggung jawab untuk setiap insiden yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi," kata Kementerian Luar Negeri Turki.

 Merdeka

Wednesday, 4 November 2015

[Dunia] Rusia perlunak dukungan terhadap Presiden Assad

Presiden Bashar al-Assad dan Presiden Vladimir Putin berjabat tangan di Kremlin, Moskow. 

Rusia menyatakan tidak penting bagi Presiden Suriah, Bashar al-Assad, untuk tetap berkuasa, kata seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia.

Pernyataan ini dipandang suatu langkah mundur dibandingkan dukungan yang diberikan sebelumnya.

Ketika ditanyakan apakah mempertahankan pemimpin Suriah tersebut adalah suatu hal mendasar bagi Rusia, Maria Zakharova mengatakan, "Tentu saja tidak, kami tidak pernah mengatakan hal itu."
"Kami tidak mengatakan apakah Assad akan turun atau bertahan," tambahnya.

Rusia sebelumnya menyatakan penolakan terhadap penggulingan pemerintahan Assad.
Zakharova menjelaskan kepada stasiun radio Ekho Moskvy bahwa apakah Assad bertahan atau turun bukanlah hal mendasar bagi Rusia, tetapi rakyat Suriah yang harus memutuskan nasibnya.
 
Rusia dipandang sebagai salah satu pendukung terkuat Assad dan sebelumnya menolak keras usulan pihak Barat agar presiden Suriah itu dilengserkan.

Pada bulan September, Rusia mulai melakukan serangan udara terhadap kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS atas permintaan pemerintah Damaskus.
 BBC

Monday, 2 November 2015

[Dunia] Suriah: Kebijakan AS Kirim Pasukan Darat Adalah Tindakan Agresi

Kebijakan AS yang mengirimkan pasukan darat ke wilayah Suriah dinilai oleh anggota Parlemen Suriah Sharif Shehadeh sebagai tindakan agresi. (Defence)
 

Kebijakan Amerika Serikat (AS) yang mengirimkan pasukan darat ke wilayah Suriah dinilai oleh anggota Parlemen Suriah Sharif Shehadeh sebagai tindakan agresi. Menurut Shehadeh, kebijakan AS ini masuk sebagai tindakan agresi, karena tidak meminta izin terlebih dahulu kepada pemerintah yang sah.

"Apa yang sebenarnya terjadi, yang akhirnya membutakan AS, bahwa setelah lima tahun, mereka akhirnya memutuskan untuk mengirimkan 30 sampai 50 penasihat militer ke Suriah?" tanya Shehadeh, mengacu pada awal mula konflik Suriah pada tahun 2011 lalu.

"Ketika Amerika mengirim pasukan darat ke wilayah Suriah tanpa kesepakatan dengan pemerintah Suriah, itu menjadi intervensi dan agresi," sambungnya, sepeti dilansir Israel National News pada Minggu (1/11).

Dirinya mengatakan, jika hal serupa terjadi pada AS, mungkin AS juga akan mengatakan dan mengambil tindakan yang sama. "Apakah AS akan membiarkan pasukan Rusia memasuki AS tanpa adanya perjanjian terlebih dahulu? Saya yakin tidak," imbuhnya.

AS sendiri mengumumkan bahwa mereka akan mengirimkan pasukan darat ke Suriah pada Jumat lalu. Dimana, menurut juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, alasan pengiriman pasukan khusus itu untuk membantu oposisi moderat Suriah.

Earnest menegaskan bahwa penyebaran pasukan khusus itu hanya sebuah "intensifikasi" dari serangan AS terhadap ISIS yang dimulai sejak bulan September 2014. (esn)

Saturday, 31 October 2015

[Dunia] AS-Rusia Sepakati Keterlibatan PBB

Pertemuan Wien di Austria hasilkan beberapa poin terkait krisis Suriah (Foto: Brendan Smialowski/REUTERS)

Amerika Serikat (AS), sejumlah negara Eropa Barat dan Arab, Turki, Rusia serta Iran, saling adu pernyataan dan pendapat soal krisis Suriah. Selama delapan jam pertemuan di Wien, Austria itu digelar dan akhirnya keluar beberapa poin keputusan bersama.
Soal masa depan Suriah, memang AS dkk belum terdapat titik temu, terutama terkait rezim Presiden Bashar al Assad. Padahal rakyat Suriah bak sudah sangat menunggu solusi terbaik demi mengakhiri krisis selama empat setengah tahun terakhir.

Sebelumnya, AS dkk mendesak Presiden Assad segera mundur sebelum digelarnya Pemilu dan Assad tak dibolehkan menjadi bagian dari transisi politik.

Sementara Rusia dan Iran, tak kalah bersikeras bahwa Assad mesti diberi kesempatan enam bulan ke depan untuk bertahan, sebelum terjadi transisi politik dan menyerahkan pada rakyat Suriah soal nasib mereka via pemilu.

Kendati demikian, ada beberapa poin yang akhirnya bisa dihasilkan selama delapan jam dialog antar Menteri Luar Negeri (Menlu) tersebut. Di antara poin-poin itu, mereka mendesak keterlibatan (Perserikatan Bangsa-Bangsa) PBB di Suriah.

Berikut Empat Poin Keputusan Pertemuan Wien, Seperti Dilansir BBC, Sabtu (31/10/2015):
1. Mengundang PBB untuk menggelar sidang soal pemerintahan Suriah dan oposisi melakukan proses politik baru yang kredibel, inklusif dan non-sektarian.

2. Konstitusi baru dan pemilu yang disokong PBB, di mana semua rakyat Suriah harus dilibatkan, termasuk anggota diaspora dan semua etnis.

3. Mengembangkan akses kepada bantuan kemanusiaan untuk rakuat Suriah di dalam dan di luar negeri.

4. Bekerja sama dengan PBB untuk mengembangkan wacana dan impelementasi gencatan senjata secara luas. (raw)

[Dunia] AS & Rusia-Iran Deadlock Soal Masa Depan Suriah

Pertemuan delapan jam di Wien, Austria, untuk membahas krisis Suriah (Foto: Brendan Smialowski/REUTERS) 

Krisis Suriah sudah terlalu banyak memakan korban. Sejumlah Menteri Luar Negeri (Menlu) pun mengadakan pertemuan di Wien, Austria, untuk menentukan solusi buat negara yang tengah “direcoki” pemberontakan dan kelompok ekstrem ISIS tersebut.

Pertemuan yang digelar Jumat, 30 Oktober waktu setempat tersebut menghadirkan Menlu AS John Kerry, Menlu Rusia Sergei Lavrov, serta sejumlah Menlu negara-negara Arab, China, serta Turki, utusan Suriah dan Iran.

Namun pertemuan delapan jam itu seolah deadlock. Kubu AS dan negara-negara Arab, mendesak rezim Presiden Suriah, Bashar al Assad segera diakhiri.

“Perang selama empat setengah tahun, kami semua percaya bahwa itu sudah terlalu lama. Sudah waktunya menghentikan pertumpahan darah dan mulai membangun (Suriah),” cetus Menlu Kerry, seperti dikutip BBC, Sabtu (31/10/2015).

Sementara Rusia dan Iran, lebih memilih menyerahkan pada rakyat Suriah menentukan nasib mereka via pemilihan umum (pemilu).

“Rakyat Suriah harus menentukan nasib Assad. Kami tak mengatakan bahwa Assad harus tumbang atau bertahan,” timpal Menlu Lavrov.

Berikut sejumlah pernyataan para peserta Pertemuan Wien: 

Amerika Serikat: Assad harus mundur dengan proses transisi politik.

Arab Saudi: Assad harus mundur dengan kurun waktu yang spesifik sebelum digelar pemilu untuk pemerintahan yang baru.

Turki: Assad harus mundur, walau masih bisa memerintah untuk enam bulan ke depan secara “simbolis”.

Negara-negara Eropa Barat & Arab: Assad harus mundur dan tak boleh jadi bagian proses transisi politik.

Rusia: Assad tak boleh dipaksa mundur. Rakyat Suriah harus menggelar pemilu untuk menentukan pemerintahan berikutnya.

Iran: Assad tak harus mundur. Rakyat Suriah harus menentukan masa depan politik mereka sendiri. (raw)

[Dunia] Menhan AS Bantah Akan Kerahkan Pasukan Perangi ISIS

Menhan AS Ash Carter di Irak (Foto: AFP
 Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ash Carter membantah negaranya akan mengerahkan pasukan darat untuk menghadapi kelompok Islamic State (ISIS).

Sebelumnya ada kabar bahwa Presiden Obama akan mengumumkan pengerahan pasukan AS di Suriah. Pengerahan pasukan itu ditengarai untuk menyaingi Presiden Rusia Vladimir Putin yang sudah memerintahkan serangan besar-besar ke basis pertahanan ISIS.
 "Kami tidak berniat menggelar operasi tempur darat berskala besar dalam jangka panjang, seperti di Afghanistan atau Irak, dalam peningkatan penyerangan terhadap sasaran-sasaran ISIS di Irak dan Suriah," ujar Carter, seperti dikutip VOA Indonesia, Jumat (30/10/2015).
Menurut Carter perubahan strategi hanya akan mencakup lebih banyak serangan udara dan mungkin serangan darat. Juru bicara Gedung Putih Eric Schultz mendukung pernyataan Carter, dengan menjelaskan bahwa Amerika "mempertahankan kemampuannya untuk melakukan operasi terbatas di Suriah dengan mitra-mitranya sesuai peluang yang ada."

"Kita tidak bicara tentang serangan berskala penuh atau serangan terhadap kota-kota besar. Kita bicara tentang penyerbuan,” ujar Juru Bicara Koalisi Pimpinan AS di Irak, Kolonel Steve Warren.

"Ini bukan operasi menempatkan ribuan tentara Amerika dengan dukungan ribuan atau puluhan ribu tentara Irak guna melancarkan operasi ofensif berkelanjutan," tambahnya.

Dalam dengar pendapat di Kongres hari Selasa, Menteri Pertahanan Ashton Carter mengatakan bisa saja terjadi lebih banyak penyerbuan seperti yang terjadi pekan lalu, ketika tentara Amerika memberi nasehat kepada pasukan Kurdi untuk menyelamatkan sekitar 70 sandera di Irak, meskipun seorang anggota pasukan komando Amerika terbunuh. FJR 
metrotvnews 

[Dunia] Rusia: Tak Ada Negara Bisa Kerahkan Militer di Suriah Tanpa Izin

Serangan Rusia ke basis pertahanan ISIS di Suriah (Foto: AFP
Pemerintah Rusia menjelaskan bahwa tidak ada negara bisa mengerahkan kekuatan militer di Suriah, tanpa ada izin dari Pemerintah Suriah sendiri.

Hal ini ditegaskan oleh Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov. Ini merupakan bentuk respons atas kabar mengenai bahwa Amerika Serikat (AS) akan mengerahkan pasukannya ke Suriah.

"Pertanyaan mengenai pengerahan militer di dalam bentuk apapun di Suriah tanpa ada izin dari Pemerintah Suriah, tidak bisa diterima," ujar Ryabkov, seperti dikutip Reuters, Jumat (30/10/2015).
Sebelumnya ada kabar bahwa Presiden Obama akan mengumumkan pengerahan pasukan AS di Suriah. Pengerahan pasukan itu ditengarai untuk menyaingi Presiden Rusia Vladimir Putin yang sudah memerintahkan serangan besar-besar ke basis pertahanan ISIS.

Menteri Pertahanan AS Ash Carter membantah negaranya akan mengerahkan pasukan darat untuk menghadapi kelompok Islamic State (ISIS).

Menurut Carter perubahan strategi hanya akan mencakup lebih banyak serangan udara dan mungkin serangan darat. Juru bicara Gedung Putih Eric Schultz mendukung pernyataan Carter, dengan menjelaskan bahwa Amerika "mempertahankan kemampuannya untuk melakukan operasi terbatas di Suriah dengan mitra-mitranya sesuai peluang yang ada."

Dalam dengar pendapat di Kongres Selasa (27/10/2015), Carter mengatakan bisa saja terjadi lebih banyak penyerbuan seperti yang terjadi pekan lalu, ketika tentara Amerika memberi nasehat kepada pasukan Kurdi untuk menyelamatkan sekitar 70 sandera di Irak, meskipun seorang anggota pasukan komando Amerika terbunuh. FJR 
metrotvnews 

Thursday, 29 October 2015

[Dunia] Rusia Datang, Serangan Udara AS ke Suriah Turun Drastis

Frekuensi serangan udara AS pada target ISIS di Suriah telah melambat secara signifikan sejak Rusia memulai operasi militer di wilayah itu pada awal September ini.

Data yang dirilis Departemen Pertahanan Amerika menunjukkan rata-rata serangan udara Amerika ke Suriah pada  Agustus mencapai tujh kalis ehari. Angka yang konstan sejak Amerika memulai serangan satahun yang lalu.

Namun pada bulan September, setelah Rusia mulai mendirikan pangkalan militer di bandara Latakia Suriah, laju serangan udara AS turun menjadi rata-rata hanya empat kali sehari.
Pada bulan Oktober, ketika Rusia memulai serangan udara terhadap sasaran-sasaran di Suriah mendukung Presiden diperangi Bashar al-Assad, jumlah rata-rata serangan udara Amerika dan koalisi semakin turun drastis.

Data serangan udara AS ke Suriah sejak 1 Agustus hingga Akhir Oktober 2015

Tapi pejabat militer AS mengatakan penurunan serangan udara tidak hubungannya dengan aktivitas militer Rusia di daerah. “Intervensi Rusia belum secara signifikan mengubah penargetan Koalisi di Suriah,” demikian pernyataan Komando Pasukan Gabungan Operasi Resolve Inherent Senin 26 Oktober 2015 sebagaimana dikutip Militer Times Kamis 28 Oktober 2015.

Selama beberapa minggu, AS dan Rusia tidak memiliki jalur komunikasi ketika melakukan serangan udara di wilayah udara yang sama. Tetapi pada 20 Oktober, AS dan Rusia telah menandatangani nota kesepahaman tentang serangkaian prosedur keamanan untuk mencegah kecelakaan atau kesalahpahaman.

Tuesday, 27 October 2015

[Dunia] AS Ingin Suriah Jadi Negara Gagal Seperti Libya

Tujuan utama Washington di Suriah adalah untuk mengubah negara itu menjadi negara gagal yang lain. Demikian ditulis penulis AS Eric Zuesse yang percaya bahwa itu semua tentang rute minyak dan gas di Timur Tengah.

Pada pertengahan Oktober wartawan Amerika Brandon Turbeville menunjukkan fakta aneh: sementara Rusia menyerang target ISIS dan al-Qaeda di Suriah, pasukan militer AS “meluncurkan misi pengeboman sendiri terhadap dua pembangkit listrik Aleppo.”

“Pembangkit listrik yang terletak di al-Rudwaniya timur dari Aleppo mengakibatkan listrik padam dan mempengaruhi rakyat Suriah, menambah tradisi Amerika melakukan pemboman infrastruktur sipil bukan target ISIS dan teroris lainnya di Suriah,” tulis Turbeville sembari mengingatkan bahwa pemboman Washington di Suriah merupakan pelanggaran hukum internasional karena tidak atas persetujuan PBB dan Suriah.

Hanya ada satu penjelasan atas tindakan dijelaskan militer Pentagon tersebut yakni Washington dan sekutu Timur Tengah berencana untuk mengubah Suriah menjadi negara gagal  seperti Libya  “Tujuan AS adalah negara Suriah gagal, sehingga Rusia akan kehilangan sekutu dan AS bertujuan untuk menghancurkan Suriah, Rusia ingin menyelamatkan Suriah Jadi: sementara infrastruktur Rusia membom ISIS dan teorois lainnya, bom Amerika untuk menjadikan Suriah sebagai negara tanpa infrastruktur hingga kemudian menjadi negara yang gagal. Itu   tujuan Amerika, ” tulis Eric Zuesse dalam artikelnya untuk Strategic Culture Foundation dan dikutip Sputnik Minggu 25 Oktober 2015.

Apa Keungtungan AS Jika Suriah Jadi Negara Gagal?

Tapi mengapa mereka ingin merusak ekonomi dan negara? Ada penjelasan yang sangat sederhana,  yang diuraikan Zuesse  yakni Washington, Arab Saudi, Qatar dan Turki ingin mengambil alih Suriah untuk membangun saluran pipa untuk mengambil minyak dan gas melalui wilayah negara ke Turki dan dengan demikian ke Uni Eropa. Mereka melihat Bashar al-Assad sebagai batu sandungan dari rencana itu.
 
“Tujuan AS di Suriah adalah negara yang gagal di mana para panglima perang lokal  yakni ISIS dan al-Nusra, dan keompok lainnya  akan berbagi keuntungan minyak dan gas dengan Arab Saudi dan Qatar, yang akan membangun pipa melalui Suriah ke Eropa, sehingga menggantikan pasokan minyak dan gas Rusia. Ini adalah tujuan Obama, dan tidak hanya itu Raja Saud, Qatar Emir, dan penerima manfaat ekonomi langsung lain dari rencana, ” tegas Zuesse.

Beberapa wartawan baru-baru ini mengajukan pertanyaan, bagaimana ISIS mampu memproduksi minyak dalam kondisi perang yang parah dengan mempekerjakan ratusan pekerja untuk mengoperasikan berbagai sumur di wilayah yang diduduki oleh ISIS.

Pada Juni 2014 Thierry Meyssan mencatat dalam artikelnya untuk Voltairnet.org bahwa meskipun AS sedang memantau pasar minyak, entah kenapa, afiliasi al-Qaeda al-Nusra depan dan ISIS dapat menjual minyak global.

“Jika Front al-Nusra dan ISIS dapat menjual minyak di pasar internasional, mereka diizinkan oleh Washington dan terkait dengan etalase perusahaan minyak,” tulis Meyssan. Dia mencatat bahwa sebelumnya, pada bulan Maret 2014, “Separatis Benghazi Libya telah gagal untuk menjual minyak yang mereka sita. Angkatan Laut AS mencegat kapal tanker Morning Glory dan telah kembali ke Libya.” 

Ada lebih banyak contoh “kerjasama” Washington dengan kelompok di Suriah, catat Zuesse, mengacu pada laporan yang ditulis oleh wartawan investigasi Seymour Hersh pada bulan April 2014. Menurut Hersh, Obama telah mengirim senjata dari Libya untuk dikirim ke sejumlah kelompok (termasuk al -Nusra) di Suriah.

“Dengan ketentuan perjanjian, dana berasal dari Turki, serta Arab Saudi dan Qatar, CIA, dengan dukungan dari MI6, bertanggung jawab untuk mendapatkan senjata dari gudang senjata Gaddafi ke Suriah. Sejumlah perusahaan didirikan di. Libya di bawah penutup dari entitas Australia, ” tulis Hersh seperti dikutip oleh penulis Amerika tersebut.
Strategi Controlled Chaos
Tampaknya apa yang terjadi di Timur Tengah adalah bagian apa yang dikenal sebagai strategi “controlled chaos” Washington. Keterlibatan militer Rusia di Suriah tentu saja telah bertentangan dengan rencana Amerika. 
Itulah mengapa Obama tidak ingin bergabung dengan koalisi Suriah-Rusia-Irak-Iran, dia malah berusaha untuk mengalahkannya, menurut Zuesse. 
Apapun yang dikatakan Washington, tujuannya adalah jelas: ingin mempertahankan kontrol penuh atas sumber daya alam di kawasan ini bersama-sama dengan sekutu Timur Tengah. ” Hillary Clinton mengatakan pada 18 Agustus 2011, ketika Amerika Serikat mulai operasi menghapus Assad: “Kami memahami keinginan yang kuat dari rakyat Suriah bahwa tidak ada negara asing campur tangan dalam perjuangan mereka, dan kami menghormati keinginan mereka, “Zuesse menambahkan bahwa realitas politik AS sama sekali mengabaikan keinginan tersebut.
jejaktapak 

[Dunia] Rusia Harapan Timur Tengah

'Hujan' Bom Rusia di Suriah Jadi Pukulan Psikologis bagi AS

Rentetan "hujan" bom Rusia di Suriah dinilai jadi pukulan psikologis buat AS. (Sputnik)

Pesawat-pesawat jet tempur Rusia yang menghujani Suriah dengan bom-bom dahsyat dinilai menjadi pukulan semacam “bom” psikologis bagi Amerika Serikat (AS). Demikian analisis kolomnis terkemuka Rusia, Vladimir Soloviev. Menurutnya, dalam sebulan terakhir, opini publik dunia beralih dari menonton video propaganda kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke agresi militer Kremlin di Suriah yang sudah membuat AS dan sekutunya kesal. Soloviev melanjutkan, waktu untuk diskusi tentang teroris berjenggot telah lewat.

Sekarang semua orang berbicara tentang aksi pilot-pilot Rusia. Menurutnya, Washington mau tidak mau harus menyaksikan “pahlawan” baru di Suriah dalam memerangi kelompok teror. Analisis Soloviev bukan sekadar argumen pribadi. Dia mengutip pengakuan Komandan Pasukan Angkatan Darat di Eropa, Jenderal Ben Hodges, yang terkejut dengan kemampuan Moskow menyebarkan tentaranya di kawasan Timur Tengah dalam waktu yang sangat singkat.

“Ia bingung dengan hal ini,” tulis Soloviev dalam sebuah kolom yang dikutip Sputnik, Senin (26/10/2015). Soloviev juga mengutip analisis pemberitaan wartawan Italia yang pernah membuat laporan kehebatan agresi Rusia di Suriah. ”Rusia terlalu kuat,” judul laporan itu.

”Ledakan bom Rusia di Suriah telah memukul Amerika dengan gelombang ledakan. Ini semacam ‘bom psikologis’,” kata Soloviev. Intervensi militer Rusia di Suriah, kata dia, telah mematahkan citra AS di panggung dunia.

Terlebih, Rusia telah mengusulkan Pemilu sebagai solusi untuk mengakhiri krisis Suriah. ”Amerika sedang menonton Kremlin. Apa yang lebih penting adalah bahwa AS telah diabaikan sebagai negara adidaya,” ujarnya.

AS Perusak

Kondisi wilayah Suriah yang dilanda perang. (Reuters)

Koran online Jerman, Die Welt Freie, melansir laporan analisis yang membandingkan peran Rusia dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Media itu menyebut Rusia menawarkan harapan perdamaian bagi Timur Tengah yang hancur akibat intervensi militer AS.

Dalam krisis Suriah, media Jerman tersebut memuji peran Rusia yang dianggap membawa perubahan positif yang besar. Salah satunya dalam membantu Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, dalam melawan teroris. Operasi militer Kremlin sejak akhir September 2015, menurut Die Welt Freie, sah karena atas permintaan resmi dari rezim Damaskus.

”Dukungan (Presiden Vladimir) Putin pada Pemerintah Assad akan menentukan nasib kita semua. Bagaimanapun, Presiden Rusia ini telah berhasil,” bunyi laporan media Jerman itu, Senin (26/10/2015). Rusia juga dipuji media Jerman itu atas peran militernya yang tetap menganut hukum internasional.

”Putin (Presiden) Rusia berkomitmen untuk mematuhi hukum internasional, sementara Amerika Serikat secara de facto dan de jure bertindak seperti bola perusak,” imbuh laporan surat kabar Jerman itu. “Ini telah terjadi saat masa perang di daerah yang ada kepentingan AS, yang ternyata negara-negara tetangga terkena reruntuhan, memaksa jutaan orang melarikan diri dan merampok mereka dari sejarah dan mata pencaharian mereka,” kritik koran Jerman itu terhadap kebijakan perang AS. 

Sementara itu, Pemerintah AS dalam beberapa kesempatan justru menuding balik aksi militer Rusia yang dianggap memperparah konflik Suriah. AS juga menuding agresi Rusia di Suriah tidak menargetkan ISIS dan telah menyasar warga sipil. Namun, tuduhan itu dibantah Kremlin dengan melansir laporan usai serangan diluncurkan. (mas)

[Dunia] Senjata-Senjata yang Dipamerkan Rusia di Suriah


Pada operasi udara dan laut di Suriah, militer Rusia menggunakan sejumlah senjata untuk untuk menggempur sejumlah target termasuk dari rancangan terbaik desain Soviet hingga senjata terbaru Rusia yang canggih, yang kini diuji langsung di medan tempur. Dan berikut senjata-senjata yang dipamerkan oleh Rusia di medan perang Suriah.
1. Kapal

Dalam waktu singkat, pasukan bersenjata Rusia telah mengirim 28 pesawat menggunakan kapal induk ke pelabuhan Tartus dan markas udara Hmemeem di Latakia: Nikolai Filchenkov, Novocherkassk, Minsk, dan Peresvet. Mereka semua melanjutkan tugas tempur di Mediterania bersama kapal Admiral Nevelsky, Alexander Shabalin, serta kapal penghancur Admiral Panteleev, dan kapal patroli Smetlivy.

Tiga kapal serang kilat dari Armada Laut Kaspia Rusia: Uglich, Svijazhsk, dan Veliky Ustyug, sukses meluncurkan rudal jelajah ke lokasi teroris dari Laut  Kaspia. Kapal serang tersebut meluncurkan rudal jelajah Russian Tomahawk. Ini dapat disebut pembaptisan api untuk senjata berakurasi tinggi dan debut pertamanya dalam penggunaan jarak jauh, dengan jangkauan lebih dari 1.500 kilometer, yang membuat Rusia dapat melakukan operasi militer dari jarak jauh. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari sepuluh kapal laut Rusia yang berpatroli di Laut Kaspia.
2. Aviasi dan Senjata Presisi Tinggi
Rusia telah menampilkan sejumlah pesawat berbeda, dari pesawat pengebom Su-24M dan pesawat serang Su-25, hingga pesawat canggih terbaru, yaitu Su-34 . Secara keseluruhan, terdapat 28 pesawat militer, belum termasuk dua pesawat transportasi An-124.
Su-24M merupakan salah satu pesawat tempur Rusia yang paling terkenal dan diadopsi di Uni Soviet pada 1975. Ia masih digunakan oleh tentara Rusia dan banyak negara lain. Terdapat 12 pesawat Su-24M yang beroperasi di Suriah. Jumlah pesawat tempur Su-25 yang sama juga dikirim ke Suriah. Empat pesawat tempur Su-30 yang lebih modern juga melancarkan misi di negara tersebut. Ia merupakan pesawat tempur generasi ke-4+ dan mampu menghancurkan perangkat berbasis darat di malam hari, saat cuaca buruk, serta melakukan pengintaian. 
 
Su-34

Pesawat tempur-pengebom taktis terbaru Rusia ialah Su-34, yang melakukan debutnya dalam konflik Suriah. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, Su-34 di Suriah dilengkapi dengan sistem komunikasi terintegrasi TKS-2M untuk “operasi jaringan terpusat”. Sistem baru memungkinkan pertukaran koordinat target antara pesawat tanpa bantuan pos komando yang berbasis di darat. 

Dengan menggunakan perangkat tersebut, pesawat pengebom Su-34 dapat menyediakan informasi untuk kelompok penyerang koordinat target menggunakan peta elektronik yang dihasilkan bagi kru pesawat lain, tanpa melibatkan pos komando darat. Dengan demikian, semua pesawat dalam kelompok ‘mengetahui’ koordinat target, bahkan jika hanya satu pesawat yang menemukan lokasi tersebut. Sistem ini membuat operasi udara lebih tersembunyi, karena hanya satu pesawat dalam kelompok yang perlu menyalakan radar untuk melacak target.

Mi-17

Selain pesawat, Rusia juga mengerahkan helikopter, dari helikopter Mi-17 untuk transportasi dan senjata elektromagnetik, hingga helikopter serang Mi-24, yang pernah dipakai di Afganistan dengan hasil yang memuaskan. Secara keseluruhan, terdapat 15 helikopter Rusia di Suriah.

Rusia menggunakan senjata berakurasi tinggi dalam menyerang wilayah Suriah. Pesawat-pesawat tersebut dilengkapi bom KAB-250 dan KAB-500, yang setelah dijatuhkan dari pesawat kemudian dipandu oleh satelit militer. Radius deviasi dari target tak lebih dari lima meter. Selain itu, di Aleppo Rusia juga menggunakan misil jelajah antitank RBK-500-SPBE.
3. Senjata Elektromagnetik
Krasukha-4 Rusia

Rusia juga diketahui menempatkan sistem senjata elektronik Krasukha-4 di Suriah, untuk menekan radar pesawat dan drone tempur. Ia mampu melindungi objek dari deteksi radar dalam jarak 150-300 kilometer, serta menekan pesawat AWACS dan perangkat senjata elektronik musuh. Sistem Krasukha-4 diadopsi sejak 2012, dan mulai beroperasi sejak 2013. Di laut, Vasily Tatischev dari Armada Baltik melakukan tugas intelijen.