Showing posts with label AS. Show all posts
Showing posts with label AS. Show all posts

Tuesday, 27 October 2015

[Dunia] AS Ingin Suriah Jadi Negara Gagal Seperti Libya

Tujuan utama Washington di Suriah adalah untuk mengubah negara itu menjadi negara gagal yang lain. Demikian ditulis penulis AS Eric Zuesse yang percaya bahwa itu semua tentang rute minyak dan gas di Timur Tengah.

Pada pertengahan Oktober wartawan Amerika Brandon Turbeville menunjukkan fakta aneh: sementara Rusia menyerang target ISIS dan al-Qaeda di Suriah, pasukan militer AS “meluncurkan misi pengeboman sendiri terhadap dua pembangkit listrik Aleppo.”

“Pembangkit listrik yang terletak di al-Rudwaniya timur dari Aleppo mengakibatkan listrik padam dan mempengaruhi rakyat Suriah, menambah tradisi Amerika melakukan pemboman infrastruktur sipil bukan target ISIS dan teroris lainnya di Suriah,” tulis Turbeville sembari mengingatkan bahwa pemboman Washington di Suriah merupakan pelanggaran hukum internasional karena tidak atas persetujuan PBB dan Suriah.

Hanya ada satu penjelasan atas tindakan dijelaskan militer Pentagon tersebut yakni Washington dan sekutu Timur Tengah berencana untuk mengubah Suriah menjadi negara gagal  seperti Libya  “Tujuan AS adalah negara Suriah gagal, sehingga Rusia akan kehilangan sekutu dan AS bertujuan untuk menghancurkan Suriah, Rusia ingin menyelamatkan Suriah Jadi: sementara infrastruktur Rusia membom ISIS dan teorois lainnya, bom Amerika untuk menjadikan Suriah sebagai negara tanpa infrastruktur hingga kemudian menjadi negara yang gagal. Itu   tujuan Amerika, ” tulis Eric Zuesse dalam artikelnya untuk Strategic Culture Foundation dan dikutip Sputnik Minggu 25 Oktober 2015.

Apa Keungtungan AS Jika Suriah Jadi Negara Gagal?

Tapi mengapa mereka ingin merusak ekonomi dan negara? Ada penjelasan yang sangat sederhana,  yang diuraikan Zuesse  yakni Washington, Arab Saudi, Qatar dan Turki ingin mengambil alih Suriah untuk membangun saluran pipa untuk mengambil minyak dan gas melalui wilayah negara ke Turki dan dengan demikian ke Uni Eropa. Mereka melihat Bashar al-Assad sebagai batu sandungan dari rencana itu.
 
“Tujuan AS di Suriah adalah negara yang gagal di mana para panglima perang lokal  yakni ISIS dan al-Nusra, dan keompok lainnya  akan berbagi keuntungan minyak dan gas dengan Arab Saudi dan Qatar, yang akan membangun pipa melalui Suriah ke Eropa, sehingga menggantikan pasokan minyak dan gas Rusia. Ini adalah tujuan Obama, dan tidak hanya itu Raja Saud, Qatar Emir, dan penerima manfaat ekonomi langsung lain dari rencana, ” tegas Zuesse.

Beberapa wartawan baru-baru ini mengajukan pertanyaan, bagaimana ISIS mampu memproduksi minyak dalam kondisi perang yang parah dengan mempekerjakan ratusan pekerja untuk mengoperasikan berbagai sumur di wilayah yang diduduki oleh ISIS.

Pada Juni 2014 Thierry Meyssan mencatat dalam artikelnya untuk Voltairnet.org bahwa meskipun AS sedang memantau pasar minyak, entah kenapa, afiliasi al-Qaeda al-Nusra depan dan ISIS dapat menjual minyak global.

“Jika Front al-Nusra dan ISIS dapat menjual minyak di pasar internasional, mereka diizinkan oleh Washington dan terkait dengan etalase perusahaan minyak,” tulis Meyssan. Dia mencatat bahwa sebelumnya, pada bulan Maret 2014, “Separatis Benghazi Libya telah gagal untuk menjual minyak yang mereka sita. Angkatan Laut AS mencegat kapal tanker Morning Glory dan telah kembali ke Libya.” 

Ada lebih banyak contoh “kerjasama” Washington dengan kelompok di Suriah, catat Zuesse, mengacu pada laporan yang ditulis oleh wartawan investigasi Seymour Hersh pada bulan April 2014. Menurut Hersh, Obama telah mengirim senjata dari Libya untuk dikirim ke sejumlah kelompok (termasuk al -Nusra) di Suriah.

“Dengan ketentuan perjanjian, dana berasal dari Turki, serta Arab Saudi dan Qatar, CIA, dengan dukungan dari MI6, bertanggung jawab untuk mendapatkan senjata dari gudang senjata Gaddafi ke Suriah. Sejumlah perusahaan didirikan di. Libya di bawah penutup dari entitas Australia, ” tulis Hersh seperti dikutip oleh penulis Amerika tersebut.
Strategi Controlled Chaos
Tampaknya apa yang terjadi di Timur Tengah adalah bagian apa yang dikenal sebagai strategi “controlled chaos” Washington. Keterlibatan militer Rusia di Suriah tentu saja telah bertentangan dengan rencana Amerika. 
Itulah mengapa Obama tidak ingin bergabung dengan koalisi Suriah-Rusia-Irak-Iran, dia malah berusaha untuk mengalahkannya, menurut Zuesse. 
Apapun yang dikatakan Washington, tujuannya adalah jelas: ingin mempertahankan kontrol penuh atas sumber daya alam di kawasan ini bersama-sama dengan sekutu Timur Tengah. ” Hillary Clinton mengatakan pada 18 Agustus 2011, ketika Amerika Serikat mulai operasi menghapus Assad: “Kami memahami keinginan yang kuat dari rakyat Suriah bahwa tidak ada negara asing campur tangan dalam perjuangan mereka, dan kami menghormati keinginan mereka, “Zuesse menambahkan bahwa realitas politik AS sama sekali mengabaikan keinginan tersebut.
jejaktapak 

Thursday, 15 October 2015

[Dunia] AS Tuding Uji Coba Rudal Balistik Iran Langgar Resolusi DK PBB


Rudal balistik Emad. (.trend.az) Gedung Putih menyatakan, uji coba rudal balistik yang dilakukan Iran pada akhir pekan lalu memiliki indikasi kuat telah melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.

"Kami punya indikasi kuat, bahwa tes rudal yang dilakukan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, yang berkaitan dengan kegiatan rudal balistik Iran," ujar Sekretaris Pers Gedung Putih, Josh Earnest, seperti dikutip dari Wall Street Journal, Selasa (13/10).

Sebelumnya, Pemerintah Iran memang telah mengumumkan kesuksesan mereka melakukan uji tembak rudal balistik Emad. Militer Iran mengklaim, rudal Emad memiliki tingkat presisi tinggi dan bisa menghantam target yang berjarak 1.700 km. Earnest menduga, tes rudal balistik itu dimaksudkan untuk menepis kekhawatiran di kalangan garis keras di Iran yang menentang kesepakatan nuklir Iran dengan enam negara kekuatan dunia. Earnest mengaku, AS masih mengumpulkan informasi lebih lanjut tentang tes rudal balistik Iran ini, sebelum mengumumkan sikap final pemerintah AS.

Ia juga menyatakan, uji coba rudal balistik Iran ini tak akan menyulitkan upaya untuk menerapkan kesepakatan nuklir dengan Iran. “Ini sama sekali terpisah dari perjanjian nuklir yang dicapai Iran dengan seluruh dunia," kata Mr Earnest.

"Berbeda dengan pelanggaran berulang resolusi Dewan Keamanan PBB yang berkaitan dengan kegiatan rudal balistik mereka, kita telah melihat bahwa Iran selama beberapa tahun terakhir telah menunjukkan track record mematuhi komitmen yang mereka buat dalam konteks pembicaraan nuklir,” lanjut Earnest. (esn)

Sindonews

Monday, 12 October 2015

[Dunia] AS dan Rusia Berpotensi Perang Dunia III di Suriah

Peta konflik di Suriah antara koalisi AS, ISIS dan pro-Rusia. (Daily Mirror)

Amerika Serikat (AS) dan koalisinya mengumumkan telah melakukan 24 serangan terhadap ISIS di Suriah dalam 24 jam. Di waktu yang sama, Rusia mengklaim menggempur 55 target ISIS.

Analis militer, Andrew Foxall dari kelompok think thank Henry Jackson Society, memperingatkan, serangan koalisi AS yakni NATO dan Rusia di Suriah bisa menjadi bencana tak terbayangkan jika suatu saat bersinggungan. Kedua kekuatan dunia itu, bahkan bisa terlibat Perang Dunia III di Suriah.

Dalam beberapa hari ini saja, ketegangan antara AS dan Rusia terus memanas, di mana AS menuduh serangan Rusia mengenai pasukan pemberontak Suriah yang dilatih AS. Sebaliknya, Rusia mengejak koalisi AS yang sudah setahun menyerang kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tapi tidak begitu terlihat hasilnya.

Foxall, mengatakan insiden diplomatik bisa berubah jadi bencana. Dia menggambarkan bahwa lalu lintas udara di Suriah kini semakin padat. Pesawat tempur, helikopter, drone, rudal dan artileri baik dari Rusia maupun koalisi AS telah jadi pemandangan setiap saat di wilayah udara Suriah.

”Mengingat jumlah lalu lintas militer di udara (yang padat), ada kekhawatiran nyata bahwa pesawat akan ditembak jatuh karena kesalahpahaman yang jadi bencana. Ini berarti kita bisa menjadi saksi detik-detik dari eskalasi yang tiba-tiba membawa kita ke ambang perang,” kata Foxall.

Komandan serangan udara AS di Suriah, Letnan Jenderal Charles Brown, telah mengakui adanya ketegangan kedua pihak. Dia mencontohkan, pesawat AS dan Rusia nyaris berhadapan dalam jarak 20 mil. Jika tidak dikendalikan, hal itu bisa jadi bencana dalam hitungan detik.

“Rusia memiliki tujuan yang sangat berbeda dengan koalisi NATO yang menginginkan perubahan rezim di Suriah,” kata Foxall, seperti dikutip Daily Mirror, semalam. ”(Sementara) kepentingan utama Kremlin adalah mempertahankan rezim pro-Rusia di Suriah.”

Foxall juga mengkhawatirkan jika China ikut ambil bagian dalam masalah yang rumit di Suriah itu.

Sementara itu, mantan Sekjen NATO, Jaap de Hoop Scheffer, mengatakan kepada Channel 4, bahwa Kremlin akan gagal. ”Saya pikir Putin akhirnya akan jatuh dengan pedangnya sendiri. Dia akan menjadi anti-juru selamat untuk setiap warga Sunni di Timur Tengah,” ujarnya mengacu pada sentiman sektarian di Timur Tengah antara kaum Sunni dan Syiah.