Showing posts with label kapal perang. Show all posts
Showing posts with label kapal perang. Show all posts

Thursday, 19 November 2015

LANAL BALI AMANKAN KUNJUNGAN USS RUSHMORE (LSD 47) DI PULAU DEWATA BALI

Kapal perang Amerika Serikat Type Dock Landing Ship United States Navy (Us Navy) USS Rushmore (LSD 47) berkunjung dan lego jangkar di perairan Nusa Dua ‘Pulau Dewata’, dan Pelabuhan Benoa, Bali, pada koordinat 08  46' 28'' S - 115 14' 40'' T pada Senin (16/11) lalu sekitar pukul 09.00 Wita.

Sedikitnya 80 personel Pangkalan TNI AL (Lanal) Bali, Lantamal V melaksanakan pengamanan terhadap kapal perang milik US Navy tersebut selama kunjungannya di pulau Bali. 

Kapal perang Us Navy dengan Homeport : Naval Base San Diego tersebut dikomandani CDR T.Stephens, memiliki spesifikasi panjang : 186,4 mtr, Lebar : 21,1 meter, dengan bobot sekitar 16.325 ton, dilengkapi dengan peralatan canggih diantaranya persenjataan Meriam 2 X 25 mm Mk 38 Mod 2, Phalanx CIWS 2x2 20 mm, Rolling Airframe Missile, sertaSenapan mesin 6x0,50 kaliber M2HB.

Tidak hanya itu, masih ada juga senjata anti kapal selam, , dua Helikopter landing spots dan dilengkapi dengan dua mesin penggerak pokok dengan kecepatan 20 knots, jumlah ABK dalam kurang lebih 800 orang, terdiri dari 35 Officers, 356 enlisted, dan 405 US Marines.

Kapal perang milik Amerika Serikat datang ke Bali dalam rangka kunjungan wisata (port visit). tidak kurang dari 80 personel Lanal Denpasar dikerahkan untuk melaksanakan pengamanan kunjungan kapal dari US Navy tersebut di pelabuhan Benoa Bali. Selama empat hari mereka singgah di Bali mulai tanggal 16 hingga 20 Nopember 2015 nanti, para awak kapal akan melaksanakan kunjungan ke beberapa tempat wisata di pulau Bali ini.

Selama kapal perang AS tersebut berada di perairan Nusa Dua Bali, dua kapal itu berada dalam pengamanan TNI AL (Lanal Bali) yang mengerahkan 1 KRI yaitu KRI Pulau Raas - 722 dan satu combat boat catamaran dan 80 personel Pam darat. (Pen Lanal Bali)

Tuesday, 3 November 2015

India Siap Bantu Indonesia Bangun Kapal Perang

Ilustrasi

Wakil Presiden India, Mohammad Hamid Ansari mengatakan, pihaknya siap membantu Indonesia untuk mencapai cita-cita menjadi pusat maritim dunia. Salah satu caranya adalah, India siap berbagi ilmu bagaimana cara mengembangkan dan membangun sebuah kapal perang ukuran sedang.

Berbicara saat menyampaikan pernyataan publik di salah satu hotel di bilangan Sudirman, Jakarta, Senin (2/11), Ansari mengatakan, India memiliki pengalaman yang cukup untuk bisa dibagi dengan Indonesia soal pengembangan kapal perang ukuran sedang.

"Pengalaman dan kemampuan yang dimiliki India selalu siap dibagikan kepada sahabat kami Indonesia dalam bidang ini (maritim). Kami siap untuk mendukung tranfer teknologi dan kami siap bekerjasama untuk membangun sebuah kapal ukuran sedang, sebagai kontribusi kami terhadap kebijakan maritim Indonesia," ucap Ansari.

"Kami siap memberikan dukungan dengan melakukan survey hidrografik dan melakukan kerjasama antar lembaga kedua negara," sambung wakil dari Pranab Mukherjee tersebut.

Sektor pertahanan maritim nampaknya menjadi salah satu fokus Ansari kala melakukan kunjungan ke Indonesia. Sebelumnya, di kesempatan yang sama dirinya juga sempat menyampaikan harapan akan adanya kerjasama Angkatan Laut dan Penjaga Pantai antara kedua negara, yang saat ini masih terbatas pada kerjasama teknis. (esn)

Wednesday, 21 October 2015

[Dunia] Jepang Pamer Kekuatan Kapal Perang

Japan Maritime Self-Defense Force (JMSDF) destroyer Kurama (L), which is carrying Japan’s Prime Minister Shinzo Abe, leads the JMSDF fleet during its fleet review at Sagami Bay, off Yokosuka, south of Tokyo October 18, 2015. REUTERS/Toru Hanai.

Jepang baru-baru ini memamerkan kekuatan angkatan lautnya, termasuk menghadirkan kapal perang terbesarnya yakni Izumo yang mampu membawa beberapa helikopter. Armada Ketiga Amerika Serikat (AS) dilaporkan turut hadir pada acara ulasan armada dan manuver kapal perang Jepang di Teluk Sagami tersebut.

Dalam manuvernya, Tim Pasukan Keamanan Maritim Jepang (JMSDF) juga memamerkan kapal penjelajah, kapal angkut besar, kapal perusak, dan kapal selam. Acara pameran armada militer AL Jepang diadakan setiap tiga tahun sekali.

Izumo menjadi kapal perang yang paling menarik perhatian pada acara itu. Kapal sepanjang 250 meter tersebut memiliki spesifikasi dapat mengangkut helikopter-helikopter tempur Jepang. Kapal Izumo diketahui merupakan kapal perang terbesar Jepang yang dibangun sejak Perang Dunia II, dan terus dikembangkan.

Pameran yang diadakan AL Jepang itu seakan menjawab kebijakan yang diusulkan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe dan telah disetujui parlemennya yakni undang-undang yang mengizinkan angkatan bersenjata terlibat konflik di luar negeri.

Jepang di bawah pemerintahan PM Abe telah mengadopsi konstitusi yang memungkinkan militer Jepang terlibat aktivitas militer di luar negeri. Namun, tidak sedikit juga warga Jepang yang menentang UU Militer terbaru tersebut.

Sementara itu, kapal induk AS, USS Ronald Reagan ikut ambil bagian dalam acara yang digelar Angkatan Laut Jepang tersebut. Kapal induk AS itu sudah tiba di Pelabuhan Yokosuka sejak 1 Oktober 2015.

PM Abe bahkan turut menaiki kapal induk USS Ronald Reagan layaknya seorang turis yang sedang dipandu dalam sebuah tur.

Kunjungan Abe itu didampingi pejabat AL AS, Laksamana Nora Tyson, yang telah diangkat menjadi Komandan Armada Ketiga Pasifik Timur AS tahun ini.

”Kehadiran Laksamana Tyson di sini hanyalah sebuah pengakuan bahwa kami berupaya untuk menjadi sefleksibel mungkin untuk menjaga banyak opsi kerjasama dengan Jepang, sehingga kita dapat seresponsif mungkin mengirimkan bantuan,” ujar Kepala Operasi AL AS, John Richardson, seperti diwartakan Russia Today, Selasa (20/10/2015).

Sebagaimana diketahui, AS dan Jepang selama ini berkonflik dengan China soal sengketa Laut China Selatan. AS menentang proyek reklamasi dan klaim China atas Laut China Selatan, dan Jepang menyatakan siap membantu AS.

jakartagreater 

[Dunia] Australia akan Bergabung dengan AS, Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan

HMAS Stuart

Mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans menyatakan negaranya harus mengirim kapal perang ke Laut China Selatan sebagai bentuk protes atas tindakan China mengubah puluhan terumbu karang menjadi pulau-pulau buatan.
Pekan lalu pemerintah Australia dan Amerika Serikat sepakat untuk meningkatkan kerjasama Angkatan Laut, namun sejauh ini Australia menepis kemungkinan akan bergabung dengan misi kapal perang AS ke Laut China Selatan.

Gareth Evans, yang menjabat Menlu di bawah pemerintahan Partai Buruh hingga tahun 1990an, menyatakan Australia bisa mengambil tindakan sendiri.

“Keinginan AS dapat dibenarkan dalam menjaga kebebasan pelayaran di wilayah itu dengan mengerahkan kapal-kapal perangnya di dalam batas 12 mil laut, guna menunjukkan bahwa kita tidak mengakui klaim kedaulatan yang dilakukan China,” jelas Evans kepada ABC.

“Menurut saya Australia juga sama, ingin melakukan hal itu, dan tidak harus bersama-sama dengan AS,” tambahnya.

Menurut Evans, Australia perlu menunjukkan sikap menentang sejumlah aspek dalam kebijakan China mengklaim nyaris keseluruhan teritorial Lauta China Selatan berdasarkan data historis yang tidak kokoh.

“Kedua, untuk memproses pembuatan pulau-pulau di atas terumbu karang,” katanya.
Sejauh ini Menlu Julie Bishop belum mengeluarkan pernyataan terkait kemungkinan Australia bergabung dalam operasi kapal perang AS yang akan menantang klam China secara langsungh.
“AS menyatakan akan bertindakn menurut hukum internasional di Laut China Selatan,” kata Menlu Bishop.

Sumber ABC menyebutkan bahwa tiga kapal perang Australia berada di sekitar kawasan Laut China Selatan.

Kapal Perang HMAS Stuart berlabuh di Japan, sedangkan HMAS Arunta dan HMAS Sirius baru saja menyelesaikan latihan gabungan dengan AL Singapura di Laut China Selatan.

 jakartagreater

Tuesday, 13 October 2015

[Dunia] Tokoh Kunci di Balik Operasi Militer Rusia di Suriah

Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Khusus Iran. [tasnimnews]

Pada tanggal 24 Juli 2015, sebuah pesawat komersil Iran mendarat di Bandara Udara Moskow, Rusia. Tidak ada yang istimewa terkait hal tersebut, semua berjalan seperti biasanya.

Namun belakangan, pihak intelijen negara barat baru mengetahui bahwa pesawat itu mengangkut seseorang yang “istimewa”. Sosok itu adalah Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Soleimani merupakan Komandan pasukan Satuan elite Garda Revolusi Iran, Qods Force. Soleimani juga kerap dijuluki Komandan pasukan bayangan (Shadow Commander) oleh media-media Barat. Pria ini diyakini sebagai otak operasi intelijen Iran di hampir semua palagan di Timur Tengah. Sebut saja Irak, Afghanistan, Lebanon, Suriah, bahkan Yaman.

Sejumlah kalangan meyakini tanpa kehadiran Soleimani di Suriah, rezim Bashar al Assad saat ini tinggalah kenangan. Nah, apa maksud dan tujuan perwira tinggi Iran ke Moskow kala itu? Belakangan terkuak kunjungan Soleimani saat itu untuk menemui Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu dan Presiden Vladimir Putin.

Dalam tulisannya, Tom Perry, Kepala Biro Reuters di Timur Tengah mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut, Soleimani meyakinkan Rusia bahwa Suriah sangat membutuhkan kehadiran militer negara itu. Menurut Soleimani, posisi Assad yang terjepit kelompok pemberontak bisa berbalik di atas angin jika Rusia hadir dengan pasukan dan persenjataannya. Soleimani menawarkan aliansi operasi militer Iran dan Rusia di Suriah: Rusia di udara dan Iran di darat.

Kapal perang Rusia menembakkan rudal dari Laut Kaspia ke basis ISIS di Suriah. (indiaexpress) 

Artinya, Rusia cukup dengan menggelar operasi serangan udara, dan biarkanlah Iran dan Suriah yang “menyelesaikan” bagian yang di darat. Dalam pertemuan tersebut, Soleimani membentangkan peta pertempuran antara tentara pemerintah Suriah dan pemberontak, yang sudah mulai bergeser mendekati Tartus, kawasan pesisir Suriah.

Di sinilah, Soleimani memainkan kartu trufnya untuk mendesak Rusia. Jenderal Iran ini sangat menyadari pentingnya Tartus bagi Rusia. Tartus merupakan satu-satunya pangkalan militer Rusia di Timur Tengah. Tanpa Tartus, Rusia tak lagi punya pijakan di kawasan tersebut. “Soleimani menempatkan peta Suriah di atas meja.

Petinggi Rusia sangat khawatir dan mencemaskan aset mereka di Suriah. Jenderal Iran itu meyakinkan mereka, masih ada peluang untuk membalikkan situasi,” sebuah kata sumber Reuters. Lobi Soleimani akhirnya berhasil. Hari-hari ini, dunia melihat pesawat dan rudal-rudal Rusia wara-wiri di langit Suriah. Arti Suriah bagi Iran Apa pentingnya Suriah bagi Iran? Banyak pihak yang hingga kini masih bertanya-tanya, alasan Teheran mati-matian mempertahankan Assad dari serangan pemberontak.

Ada dua alasan. Pertama, saat Perang Teluk 1, Suriah merupakan satu-satunya negara Timur Tengah yang mendukung Iran, ketika seluruh negara lain berada di belakang Irak. Kedua, Keberlangsungan rezim Assad diperlukan Teheran untuk menjamin jalur pasokan senjata dan logistik yang mereka kirim kepada kelompok Hizbullah di Lebanon. Hizbullah merupakan “tangan” Teheran untuk memukul Israel, seperti yang terjadi pada tahun 2006.

Selain Hizbullah, Iran juga dicap negara Barat sebagai pendukung utama kelompok “radikal” di Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam. Namun, suka atau tidak, hari ini negara-negara Barat harus mengakui stabilitas di Timur Tengah tak mungkin tercapai bila mereka mengabaikan Iran! [Reuters]

Tribunnews