Showing posts with label Presiden Bashar al-Assad. Show all posts
Showing posts with label Presiden Bashar al-Assad. Show all posts

Saturday, 21 November 2015

[Dunia] Nasib Assad Ditentukan di Perundingan Internasional

Bashar Al Assad (REUTERS)

Nasib Presiden Suriah Bashar al-Assad akan ditentukan dalam pembicaraan internasional beberapa pekan ke depan, kata Amerika Serikat.

"Pada sesi multilateral, peran Assad dalam transisi ini akan dijabarkan," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS John Kirby seperti dikutip AFP.

Menurut sebuah kerangka yang disepakati bulan lalu di Wina oleh 17 negara daa tiga lembaga internasional termasuk PBB, Suriah akan mengawali diskusi politik pada atau setelah tanggal 1 Januari.

Para pemimpin dari rezim Assad dan kelompok oposisi yang tidak dianggap teroris oleh dunia internasional, akan memiliki waktu enam bulan untuk memetakan sebuah konstitusi dan menyelenggarakan Pemilu.

AS dan sekutunya berharap bahwa gencatan senjata antara pemerintah dan pemberontak moderat yang membuat Assad mundur secara damai, sedangkan pasukan lokal dan asing fokus memerangi ISIS.

Tapi sekutu Assad --Rusia dan Iran-- ragu-ragu atas strategi ini karena menurut mereka nasib Assad harus ditentukan oleh rakyatnya sendiri, sedangkan orang kuat Suriah itu sendiri menolaknya.

"Anda tak bisa mencapai sesuatu secara politik ketika Anda mendapati para teroris menguasai banyak wilayah Suriah. Jika kita bicara setelah itu, satu setengah tahun sampai dua tahun maka sudah cukup untuk transisi apa pun," kata Assad dalam wawancara televisi Italia.
 

Sumber : Antara

Saturday, 31 October 2015

[Dunia] AS-Rusia Sepakati Keterlibatan PBB

Pertemuan Wien di Austria hasilkan beberapa poin terkait krisis Suriah (Foto: Brendan Smialowski/REUTERS)

Amerika Serikat (AS), sejumlah negara Eropa Barat dan Arab, Turki, Rusia serta Iran, saling adu pernyataan dan pendapat soal krisis Suriah. Selama delapan jam pertemuan di Wien, Austria itu digelar dan akhirnya keluar beberapa poin keputusan bersama.
Soal masa depan Suriah, memang AS dkk belum terdapat titik temu, terutama terkait rezim Presiden Bashar al Assad. Padahal rakyat Suriah bak sudah sangat menunggu solusi terbaik demi mengakhiri krisis selama empat setengah tahun terakhir.

Sebelumnya, AS dkk mendesak Presiden Assad segera mundur sebelum digelarnya Pemilu dan Assad tak dibolehkan menjadi bagian dari transisi politik.

Sementara Rusia dan Iran, tak kalah bersikeras bahwa Assad mesti diberi kesempatan enam bulan ke depan untuk bertahan, sebelum terjadi transisi politik dan menyerahkan pada rakyat Suriah soal nasib mereka via pemilu.

Kendati demikian, ada beberapa poin yang akhirnya bisa dihasilkan selama delapan jam dialog antar Menteri Luar Negeri (Menlu) tersebut. Di antara poin-poin itu, mereka mendesak keterlibatan (Perserikatan Bangsa-Bangsa) PBB di Suriah.

Berikut Empat Poin Keputusan Pertemuan Wien, Seperti Dilansir BBC, Sabtu (31/10/2015):
1. Mengundang PBB untuk menggelar sidang soal pemerintahan Suriah dan oposisi melakukan proses politik baru yang kredibel, inklusif dan non-sektarian.

2. Konstitusi baru dan pemilu yang disokong PBB, di mana semua rakyat Suriah harus dilibatkan, termasuk anggota diaspora dan semua etnis.

3. Mengembangkan akses kepada bantuan kemanusiaan untuk rakuat Suriah di dalam dan di luar negeri.

4. Bekerja sama dengan PBB untuk mengembangkan wacana dan impelementasi gencatan senjata secara luas. (raw)

Saturday, 24 October 2015

[Dunia] Rusia Ingin Pertemuan Dengan Semua Oposisi Suriah

Rusia bertemu dengan Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat untuk membahas perang di Suriah.

Sekutu Suriah, Rusia, mengatakan bahwa seharusnya ada pertemuan antara pemerintah Suriah dan "setiap spektrum" oposisi.
Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov juga mendesak ada upaya yang lebih intensif untuk mencari solusi politik buat perang. 

Pernyataan Lavrov disampaikan setelah pertemuan dengan Arab Saudi, Turki, dan Amerika Serikat.
Pada Kamis, Presiden Putin mengindikasikan bahwa rezim Suriah siap bekerja dengan beberapa kelompok pemberontak melawan kelompok ISIS. 

Menurut Putin, Presiden Assad menyetujui ide tersebut dalam kunjungannya ke Moskow.
Berbicara di awal pertemuan di Wina pada Jumat, Lavrov mengatakan, "Kita semua di posisi sama, mendorong upaya proses politik dalam kesepatan di Suriah. Ini harus menjadi awal dari pertemuan seluruh pihak antara perwakilan pemerintah Suriah dan setiap spektrum dari oposisi Suriah, baik domestik maupun luar negeri - dengan dukungan pemain luar."

Lavrov tidak menyebut secara jelas kelompok oposisi mana yang harus diikutkan dalam pertemuan.
Menteri Luar Negeri AS John Kerry, yang juga hadir, mengatakan bahwa pertemuan tersebut "konstruktif" dan proses negosiasi yang lebih luas bisa terjadi pekan depan. 

Amerika Serikat, Turki, dan Arab Saudi mendukung semua kelompok pemberontak yang melawan pemerintah Suriah. Rusia mendukung Presiden Assad. Langkah Rusia menerima Assad pada Selasa (20/10) lalu mendapat kritik dari Amerika Serikat. 

Rusia sudah mengebom target-target di Suriah sejak bulan lalu. Menurut Rusia, mereka menyerang sasaran ISIS tapi kekuatan Barat mengatakan Rusia lebih banyak menyerang kelompok pemberontak, termasuk yang didukung oleh negara Barat dan negara-negara Teluk. 

Friday, 23 October 2015

[Dunia] Kunjungan Kejutan Assad

Rusia Sambut Kunjungan Kejutan Assad, AS Meradang

Presiden Suriah, Bashar al-Assad (kiri) lakukan kunjungan kejutan ke Moskow yang membuat AS meradang. (Sputnik)

Pemerintah Amerika Serikat (AS) meradang dengan sikap Rusia yang menyambut kunjungan kejutan Presiden Suriah, Bashar al-Assad. 

Presiden Assad dalam kunjungan langkanya itu mengucapkan terima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang menolong Suriah. Gedung Putih mengecam Rusia yang mereka anggap menyiapkan “karpet merah” untuk Assad di Moskow. ”Kami melihat sambutan karpet merah untuk Assad, yang telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri,” kata juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/10/2015). 

“Itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang menyakan akan menciptakan transisi politik di Suriah,” lanjut Schultz. Departemen Luar Negeri AS, mengaku tidak terkejut dengan kunjungan pertama Assad ke luar negeri sejak awal perang sipil di Suriah itu. ”Ini tidak mengherankan bahwa Bashar al-Assad akan melakukan perjalanan ke Moskow, mengingat hubungan Suriah dengan Rusia, dan mengingat kegiatan militer baru-baru ini oleh Rusia di Suriah atas nama Bashar al-Assad,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby.

Dalam kunjungan langkanya ke Moskow, Assad disambut Presiden Putin. Dia mengucapkan terima kasih kepada Rusia untuk dukungan militer Kremlin dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Suriah. ”Teroris akan menduduki wilayah yang jauh lebih besar jika tidak ada bantuan militer Rusia," kata Presiden Assad. ”Satu-satunya tujuan bagi kita semua adalah rakyat Suriah yang ingin melihat masa depan negara mereka,” lanjut Assad. (mas) 

AS Cs Marah Besar Rusia Buat Langkah Mengerikan


Kunjungan kejutan Presiden Suriah Bashar Assad ke Moskow dinilai sebagai indikasi bahwa pemimpin Suriah itu jadi lebih percaya diri di panggung dunia karena dibela Rusia. Menurut para analis politik dan perang, kunjungan Assad itu telah membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di NATO marah besar. ”Kami melihat Rusia mengambil peran kepemimpinan di panggung internasional,” kata analis geopolitik Patrick Henningsen kepada Russia Today, semalam. Dia menekankan bahwa upaya Barat untuk mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah “menyeret tanpa hasil yang konklusif”.

“Rusia pada dasarnya ada di pihak bawah tanah yang telah berlangsung selama empat tahun,” kata Henningsen mengacu dukungan Kremlin untuk rezim Suriah sejak awal perang sipil di Suriah. ”Negara-negara seperti AS, Turki, Yordania dan sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis telah mampu beroperasi dalam bayang-bayang. Rusia pada dasarnya menerobos dan menyalakan lampu,” ujarnya. ”Mereka sangat marah di Washington dan masih membuang amarah, dan mengatakan Rusia telah membuat langkah yang mengerikan,” imbuh Henningsen.

Dia berpendapat bahwa AS sejatinya ingin sekali melihat Rusia sama seperti saat berada di Afghanistan yang mengalami kekalahan di masa lalu. Hanya saja, operasi militer Rusia di Suriah kali ini sangat berbeda dibanding saat mereka beraksi di Afghanistan. ”Karena Rusia telah diundang oleh pemerintah yang terpilih secara demokratis hukum di Damaskus,” kata Henningsen, mengacu pada permintaan resmi Presiden Assad. Henningsen mengatakan bahwa jika Barat benar-benar serius menangani ancaman teroris, mereka akan bekerja dengan pemerintah Assad. Sebab, kekuatan darat mereka memiliki dasar intelijensi.

”Ini adalah apa yang Rusia lakukan. Negara ini baru saja pergi dan telah bekerja dengan pemain kunci yang mereka butuhkan untuk bekerja,” imbuh dia. Henningsen menambahkan bahwa dengan 22.000 bom yang dijatuhkan koalisi AS terhadap basis ISIS dalam 13 bulan terakhir, seharusnya kelompok itu sudah lenyap. Suriah Ingin Dipecah Pakar Timur Tengah, Willy Van Damme, mengatakan bahwa AS dan sekutu Barat serta Arab-nya telah berada dalam kekacauan yang lengkap. Mereka, kata, Damme, kini saling berdebat satu sama lain.

“Beberapa dari mereka ingin membagi Suriah, sedangkan yang lain ingin menaklukkannya seperti Prancis, Turki yang ingin bagian dari Suriah utara dimasukkan dalam semacam Kekaisaran Ottoman dengan ‘Sultan’ (Recep Tayyip) Erdogan.” Daniele Ganser, seorang peneliti perdamaian dan ahli NATO, mengatakan strategi Pentagon dalam perang melawan ISIS dan sekaligus mendukung militan yang melawan Assad sama sekali tidak bekerja.

“Pentagon selalu mengatakan, 'Kami tidak ingin menjatuhkan senjata ke ISIS,' dan mereka selalu mengatakan mereka tidak mendukung musuh radikal Assad. 'Kami mendukung musuh moderat Assad’,” kata Ganser menirukan klaim AS selama ini. ”Ini selalu menjadi perbedaan yang sangat sulit untuk, membuat kami paham, kami memiliki orang-orang di Irak yang berjuang di gadis depan bertahun-tahun lalu dan mengatakan, 'Ada senjata yang dijatuhkan oleh Inggris dan AS' dan senjata itu jatuh ke tangan ISIS," imbuh Ganser. (mas)


Rusia Nilai Sikap AS Soal Kunjungan Assad Berlebihan


Rusia menilai sikap Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Rusia telalu berlebihan. (Itar-tass)

Rusia menilai sikap Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Rusia telalu berlebihan. Negeri Beruang Merah itu benar-benar mengaku kecewa dengan sikap yang ditunjukan oleh AS.

"Kami hanya bisa menyesali bahwa Washington melihat dengan kecurigaan dan permusuhan upaya kami, yang dilakukan pada tingkat tertinggi dengan tujuan untuk menyelesaikan krisis, yang sebagian besar dari kebijakan dan kekeliruan AS di Timur Tengah," Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov saat melakukan kunjungan kerja ke Argentina, seperti dilansir Itar-tass pada Kamis (22/10). 

Seperti diketahui, Gedung Putih mengecam Rusia yang mereka anggap menyiapkan “karpet merah” untuk Assad di Moskow. Menurut mereka, sikap Rusia yang menerima Assad itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang akan menciptakan transisi politik di Suriah. ”Kami melihat sambutan karpet merah untuk Assad, yang telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang akan menciptakan transisi politik di Suriah," ujar juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz.

Terkait pernyataan Schultz tersebut, Ryabkov juga tidak luput untuk memberikan komentar. Menurutnya, dalam pembicaraan antara Assad dan Presiden Rusia Vladimir Putin, isu mengenai penyelesaikan konflik melalui jalur politik di Suriah menjadi pembahasan utama. "Selama pembicaraan di Kremlin, penyelesaian konflik di Suriah melalui jalur politik menjadi fokus perhatian. Percakapan terbuka antara ​​Presiden Rusia dengan Presiden Suriah yang sah telah menjadi prioritas utama untuk mencari cara untuk solusi politik," ucapnya. (esn) 
 sindonews

Thursday, 22 October 2015

[Dunia] Assad Berterima Kasih atas Serangan Udara Rusia di Suriah

Presiden Suriah, Bashar al-Assad berterima kasih kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin atas serangan udara Rusia melawan sejumlah kelompok pemberontak di Suriah. (Reuters/Alexei Druzhinin/RIA Novosti/Kremlin) 

Presiden Suriah, Bashar al-Assad melakukan kunjungan dadakan ke Moskow pada Selasa (20/10) malam untuk berterima kasih kepada Presiden Rusia, Vladimir Putin atas peluncuran serangan udara Rusia kepada sejumlah kelompok pemerontak yang menentang rezimnya, termasuk kelompok militan ISIS.

Dilaporkan Reuters, Kremlin membuat rincian publik terkait kunjungan Assad ke Moskow pada Rabu (21/10).

Meski demikian, pemerintah Rusia tidak menyebutkan apakah Assad kini masih berada di Moskow, atau telah kembali ke Suriah. 


Kunjungan ini diyakini menjadi perjalanan luar negeri pertama Assad sejak pecahnya krisis Suriah pada 2011 silam.

Kunjungan Assad ke Moskow terjadi tiga pekan setelah Rusia meluncurkan kampanye serangan udara terhadap ISIS di Suriah pada 30 September lalu.

"Pertama-tama saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada kepemimpinan Federasi Rusia atas bantuan yang mereka berikan Suriah," kata Assad kepada Putin, menurut transkrip pertemuan yang dirilis Kremlin.

"Jika bukan karena tindakan dan keputusan Anda, terorisme yang menyebar di wilayah tersebut akan menjadi jauh lebih besar dan menyebar ke wilayah yang lebih besar," kata Assad kepada Putin.

Sementara, Putin memuji rakyat Suriah yang dinilai melawan pemberontakan kelompok militan "hampir dengan usahanya sendiri."

Putin menyatakan tentara Suriah telah membukukan kesuksesan besar di medan pertempuran selama beberapa kali. (ama)


 CNN

[Dunia] AS dan Rusia Teken Kesepakatan Serangan Udara di Suriah

Rusia memulai serangan udara menggempur ISIS di Suriah demi membela pemerintahan Presiden Bashar al-Assad awal bulan ini. (Reuters/Ministry of Defence of the Russian Federation) 

Militer Amerika Serikat dan Rusia pada Selasa (20/10) akhirnya menandatangani nota kesepahaman yang salah satu poinnya mengatur langkah pilot untuk menghindari tabrakan di langit Suriah dalam kampanye mereka menggempur ISIS.

Seperti dilansir Reuters, isu mengenai keselamatan penerbangan ini mulai menjadi sorotan setelah Rusia memulai serangan udara menggempur ISIS di Suriah demi membela pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada awal Oktober.

Di langit Suriah sendiri sudah beroperasi serangan udara di bawah komando Amerika Serikat yang juga menggempur ISIS. 

 Sebelumnya, Pentagon mengatakan bahwa koalisi AS sempat harus melakukan manuver memutar untuk menghindari berpapasan langsung dengan pesawat Rusia.

Juru bicara Pentagon, Peter Cook, mengatakan bahwa rincian nota kesepahaman tersebut tidak akan dirilis secara lengkap atas permintaan Rusia. Namun, nota tersebut mencakup protokol spesifik bagi awak pesawat.

Selain itu, terdapat pula kesepakatan mengenai hubungan komunikasi di lapangan agar tak terjadi kesalahpahaman di udara antara kedua koalisi.

"AS dan Rusia akan membentuk kelompok kerja untuk mendiskusikan impelentasi selanjutnya," ujar Cook.

Cook kemudian menekankan bahwa AS dan Rusia memang satu visi dalam penggempuran ISIS. Namun, AS tak sependapat dengan dukungan Rusia terhadap pemerintahan Assad. Menurut AS, Assad adalah dalang dari segala masalah di Suriah.

"Fakta bahwa kami menandatangani nota kesepahaman, memberikan indikasi bahwa kami memerhatikan aktivitas Rusia, juga keinginan kami untuk bekerja dengan Rusia jika ada yang menyangkut kepentingan kami," kata Cook.

AS juga menekankan kembali, persetujuan ini hanya sebatas menjaga keselamatan pilot.

"Ini bukan perjanjian kerja sama atau semacamnya. Ini bukan berarti kerja sama atau berkoordinasi untuk mencapai target bersama," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby. (stu)


CNN