Showing posts with label Nato. Show all posts
Showing posts with label Nato. Show all posts

Thursday, 26 November 2015

[Dunia] Akankah Insiden di Turki Picu Perang Dunia ke-3?


Akankah insiden di Turki picu Perang Dunia ke-3?

Lokasi jatuhnya jet tempur Sukhoi Rusia di perbatasan Suriah. ©Daily Mail
 

Selang tiga jam setelah jet tempur F-16s militer Turki menembak jatuh pesawat Sukhoi Su-24 Rusia di perbatasan Suriah kemarin, jagat maya diramaikan dengan tagar Perang Dunia Ketiga. Para pengguna Internet di media sosial menunggu reaksi Rusia setelah pesawat mereka ditembak jatuh oleh Turki.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan peristiwa itu ibarat ditusuk dari belakang oleh kaki tangan teroris.

"Pesawat kami ditembak jatuh di wilayah Suriah oleh rudal dari F-16 Turki. Pesawat itu jatuh di Suriah, empat kilometer dari perbatasan dengan Turki. Pilot dan pesawat kami tidak dalam kondisi mengancam Turki," kata Putin dalam siaran televisi beberapa jam setelah insiden itu terjadi, seperti dilansir Middle East Eye, Selasa (24/11).

Sebelumnya Turki mengatakan pesawat Rusia itu memasuki wilayah udara mereka dan sudah diperingatkan sepuluh kali sebelum ditembak jatuh. Kementerian Pertahanan Rusia berkukuh pesawat mereka masih berada dalam wilayah udara Suriah.

Cuplikan video memperlihatkan jet Rusia itu terbakar di udara kemudian jatuh di wilayah Suriah. Dua pilot Rusia itu berhasil menyelamatkan diri dengan kursi pelontar. Satu pilot dinyatakan selamat dan satu lagi tewas dibunuh kelompok pemberontak Suriah keturunan Turki.

Dalam waktu beberapa jam pula organisasi negara-negara yang tergabung dalam Pakta Pertahan Atlantik Utara (NATO) menggelar rapat luar biasa setelah insiden itu. Turki adalah satu dari 28 negara yang tergabung dalam NATO.

"Apa mereka mau NATO jadi pelayan ISIS? Saya paham setiap negara punya kepentingan sendiri kami hormati itu, tapi kami tidak akan menoleransi kejahatan semacam ini," ujar Putin.

Akankah peristiwa ini memicu Perang Dunia Ketiga seperti yang ditunggu-tunggu jagat dunia maya kemarin?


 Pengamat terorisme dari Pusat Terorisme dan Pemberontakan IHS Janes mengatakan, insiden ini akan berdampak pada krisis diplomatik kedua negara.

"Insiden antara Rusia dan Turki ini memang sangat mungkin terjadi tapi hanya sebatas krisis diplomatik," ujar IHS Janes.

Peristiwa kemarin adalah pertama kalinya sejak era Perang Dingin sebuah negara NATO menembak jatuh pesawat Rusia.

Jika insiden itu terjadi di masa Parang Dingin maka boleh jadi perang nuklir akan terjadi.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyebut jatuhnya jet Rusia itu adalah bentuk provokasi yang sudah terencana oleh Turki, namun dia mengatakan Rusia tidak bermaksud memulai perang dengan Turki.

Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama mendukung keputusan Turki menjatuhkan pesawat yang terkesan mengancam. "AS dan NATO mendukung sepenuhnya hak Turki dalam mempertahankan kedaulatannya," kata Obama.

Dengan adanya insiden ini konflik di Timur Tengah, khususnya di Suriah semakin pelik dan runyam.

Rusia sebelumnya mengatakan mereka membombardir ISIS di Suriah seperti halnya yang dilakukan pasukan koalisi pimpinan Amerika Serikat.

Peta kekuatan dalam konflik di Suriah memang sudah cukup jelas. Negara Barat, termasuk NATO dan Amerika, ingin rezim Basyar al-Assad di Suriah digulingkan. Mereka membantu dana dan persenjataan bagi kelompok pemberontak anti-Assad. Namun Rusia dan Iran yang bersekutu menginginkan Assad tetap bertahan. Mereka membantu militer Suriah menghadapi kaum pemberontak termasuk ISIS.

Mark Galeotti, pengamat Rusia dari Universitas New York, Amerika Serikat, menilai Rusia tidak akan gegabah menyerang Turki lantaran insiden ini. NATO pun tidak akan bertindak lebih jauh.

"Eropa ingin Moskow jadi bagian dari solusi di Suriah. Moskow dan negara NATO di Eropa tidak akan membiarkan insiden ini berdampak lebih jauh," kata dia, seperti dikutip situs Vox.com, kemarin.


Merdeka

[Dunia] Rusia Tuding NATO dan Turki Menikmati Minyak ISIS


Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin menyebut NATO dan Turki ikut menikmati minyak ilegal ISIS | (Sindonews/Ian)

Duta Besar Rusia, Mikhail Galuzin menuding Turki dan NATO mendukung kelompok ekstrimis ISIS. Pasalnya, NATO dan Turki ikut menikmati minyak ilegal dari ISIS.

"Kami mempunyai bukti jika Turki melakukan perdagangan minyak ilegal dengan ISIS di wilayahnya. Dan, Turki kemudian menjualnya ke negara lain," kata Galuzin dalam jumpa persnya di Kedubes Rusia, Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Ia kemudian mengungkapkan bagaimana reaksi negara-negara Barat saat Rusia mulai melakukan operasi udara di Suriah. Mereka beramai-ramai mengutuk tindakan Rusia yang membombardir sejumlah basis, fasilitas, dan sejumlah kilang minyak milik ISIS.

"Padahal, kami melakukan itu berdasarkan permintaan dari Pemerintah Suriah untuk memerangi ISIS. Itu kenapa, NATO dan Turki melawan Rusia, sebab mereka meamng mendukung ISIS. Mereka melakukan hal itu karena minyak yang dimiliki oleh ISIS," ucapnya.

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi informasi jika ISIS telah berhasil mengirimkan sejumlah minyak mentah dari kilang-kilang minyak yang dikuasai kelompok itu ke wilayah Turki.

Putin lantas mengatakan, jika militan ISIS memperoleh ratusan juta dolar dari perdagangan minyak dan menikmati perlindungan dari Angkatan Bersenjata "dari seluruh pemerintah," maka tidak heran mereka bisa berperilaku begitu berani. (ian)


Sindonews

[Dunia] Dubes Rusia: NATO Organisasi Berbahaya

Pakta pertahanan Atlantik utara atau NATO | (Nato)

Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin mengatakan, Pakta Atlantik Utara atau NATO adalah organisasi yang sangat berbahaya. Merujuk pada insiden penembakan pesawat tempur Rusia oleh pesawat tempur Turki, hal itu menunjukkan jika NATO adalah organisasi yang kebal hukum.

"Bayangkan, pesawat militer milik negara anggota NATO bisa menembak pesawat asing (Rusia) di negara asing (Suriah) yang merupakan negara anggota PBB. Mereka beralasan, apa yang dilakukan oleh Turki adalah tindakan melindungi diri. Padahal, tindakan ini jelas-jelas melanggar hukum internasional, melanggar piagam PBB," kata Galuzin dalam jumpa persnya di Kedubes Rusia, Jakarta, Rabu (25/11/2015).

Tidak hanya itu, NATO juga terlihat begitu agresif akhir-akhir ini dalam menyikapi sejumlah isu internasional. Salah satunya adalah permasalahan di wilayah Laut China Selatan.

Menurut Galuzin, Amerika Serikat (AS) yang merupakan pimpinan NATO tengah berusaha melakukan ekspansi ke wilayah Laut China Selatan. Hal ini dapat dilihat dari tindakan AS yang berulangkali melakukan aksi provokatif di Laut China Selatan.

"Ini sangat berbahaya bagi Indonesia atau negara-negara lain di kawasan itu. Bukan tidak mungkin akan terjadi 'hard war' di Laut China Selatan," tukas Galuzin. (ian)



Sindonews

Sunday, 15 November 2015

[Dunia] Assad Sudah Peringatkan Jangan Ternak Terorisme, Perancis Tak Menggubrisnya


Bashar al Assad berkali-kali memperingatkan Barat jangan mendukung Teroris dalam hal apapun.

Mohon maaf jika tulisan saya kali ini memakai bahasa yang cenderung keras bahkan "vulgar" dengan apa yang terjadi di Perancis kemarin. Biar dunia tahu bahwa aksi terorisme yang terjadi kemarin bukanlah spontanitas, melainkan karena terorisme ini sudah dibesarkan oleh Rezim Francois Hollande sendiri, dan sialnya kali ini ia mesti kena batunya.

Kali ini saya tidak akan main-main dan saya akan menyebut para teroris berjubah agama ini sebagai 'anjing gila', terserah anda suka atau tidak. Tulisan ini sudah saya posting di akun facebook saya Ahmed Zain Oul Mottaqin kemarin dan mendapat antusiasme besar. Dalam waktu 14 jam terakhir tulisan tersebut sudah dishare 588 kali dan di-like 1.343 orang. Berikut paparan saya:

PERANCIS, ASSAD SUDAH PERINGATKAN JANGAN TERNAK ANJING GILA, KAU TAK MENGGUBRISNYA!

Karma. Anda tahu apa itu karma? Karma itu apa yang terjadi di Perancis kemarin.

Insiden terorisme di sebuah Hall konser di Timur Paris, ratusan tewas. Presiden Perancis Francois Hollande menyatakan setidaknya 127 warga sipil tewas dan puluhan disandera. Apa belum pernah ada yang memperingatkan kalian soal ini?

Dialah Bashar al Assad, Presiden Suriah yang hendak kalian gulingkan itu. Ia sudah berkali-kali memperingatkan agar dunia tidak mensponsori para teroris asing yang "berjihad" di negaranya. Eropa tidak menggubrisnya ketika pada 28 November 2014 ia berkata:

"Prosentase terbesar dari para teroris Eropa yang datang ke negeri kami berasal dari Perancis. Dan kalian punya beberapa insiden terorisme di Perancis. Terorisme di Eropa tidak lagi tertidur, mereka telah dibangkitkan (oleh pemerintahnya sendiri)."

Assad sudah berkali-kali memperingatkan bahwa ribuan teroris asal Eropa yang "berjihad" di Suriah dan mendapat sokongan dari Rezim-rezim NATO itu suatu saat akan pulang dan membuat ulah di negaranya masing-masing.

Masih ingat kan pada 20 Januari 2014 Assad berkata: "Negara-negara Barat telah kehilangan kredibilitasnya. Mereka telah menjual prinsip-prinsip mereka demi kepentingan semata. Saya tidak mempercayai Eropa, khususnya Perancis, kecuali ia mengubah kebijakan luar negerinya." Masih ingat kan saat Assad mengatakan ini? "Kami telah menyeru Barat agar mereka tidak menyokong Terorisme (di negeri kami) dan memberikannya perlindungan politik. Karena ini pasti akan berdampak pada negara kalian dan rakyat kalian sendiri. Mereka tidak mendengarkan kami."

Eropa mengetahui industri Takfirisme dan Radikalisme itu sangat potensial. Demi menggulingkan Rezim Assad, NATO bersama USA dan Rezim-rezim Teluk menyirami bibit itu, menghabiskan Milyaran dollar untuk membesarkannya, menyokongnya, mempersenjatainya dan menyediakan kamp-kamp pelatihan untuknya di Jordania, Turki, Qatar dll lalu melepasnya di Suriah guna menggulingkan Rezim.

Tapi mereka lupa satu hal! Resiko beternak anjing gila, sang majikan pun bisa kena gigitannya. Karena hakikatnya anjing gila hanya tahu mengamuk. Para monster ini menganggap kafir, thoghut dan layak mati semua orang yang tak sejalan, meski terhadap tangan yang selama ini memberinya makan sekalipun.

Siapa yang menyuruh kalian memelihara teroris? Bukankah Assad sudah memperingatkan kalian dengan kalimat berikut: "Terorisme bukanlah sebuah kartu yang bisa anda mainkan dan anda masukan kembali ke dalam kantong. Seperti kalajengking, ia akan menyengat setiap saat."

Masih ingat kah anda saat Assad mengatakan ini? "Barat telah menghabiskan 10 tahun untuk memerangi Terorisme. Mereka telah membunuh jutaan manusia dengan dalih ini. Dan kini mereka menyokong para teroris yang sama di Suriah. Dan kini aku yang jadi penjahatnya?"

Saya tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian beternak teroris? Bukankah Assad sudah berkali-kali memperingatkan kalian!

Assad juga pernah berkata: "Barat telah bersepakat dengan para teroris dengan cara yang paling munafik. Mereka menyebutnya Terorisme jika aksi tersebut menghantam mereka, namun menyebutnya Revolusi, Pembebasan, Demokrasi dan HAM jika itu menghantam kami (Suriah)."

Apa yang ingin kalian katakan sekarang wahai Hipokrit? Dengarkan! sekali lagi dengarkan wahai Rezim-rezim yang menghabiskan uangnya di jalan setan, apa yang lagi-lagi pernah dikatakan Pemimpin Syam ini.

"Para teroris hanya memiliki satu pesan. Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka semua siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup."

Jangan menangis! Terlambat untuk menangis. Assad sudah 4,5 tahun menghadapi puluhan ribu teroris bersenjata binaan kalian dan sampai hari ini ia tetap tegar. Sedangkan kalian baru menghadapi beberapa teroris yang kalian biayai sendiri sudah kelabakan.

Jangan sampai setelah ini kalian kembali menyalahkan Rusia (seperti yang biasanya NATO lakukan) dengan berkata "Gara-gara Rusia mengamuk di Suriah, akhirnya para teroris binaan kami kabur pulang kampung ke Eropa dan membuat ulah."

Siapa suruh ternak anjing gila?


Saturday, 14 November 2015

[Dunia] Rusia Kembangkan Rudal Nuklir untuk Menembus Pertahanan AS

Menurut Putin, Amerika Serikat dan negara NATO selama ini mencoba mengantisipasi serangan nuklir Rusia dengan membangun sistem pertahanan rudal. (Reuters/Aleksei Nikolsky)

Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia akan mengembangkan rudal nuklir yang mampu menembus sistem pertahanan serangan udara Amerika Serikat. Menurut Putin, AS dan negara NATO selama ini mencoba mengantisipasi serangan nuklir Rusia dengan membangun sistem pertahanan rudal.

Dikutip dari kantor berita Rusia, TASS, Putin dalam pertemuan membahas pengembangan angkatan bersenjata Rusia Selasa pekan ini mengatakan bahwa kemajuan rudal nuklir akan menjadi target angkatan bersenjata mereka satu dekade ke depan demi merespon tantangan dari negara pesaing.


 "Kami akan mengembangkan sistem pertahanan anti-rudal juga, tapi di tahap pertama, kami juga akan mengerakan sistem serangan yang mampu menembus semua tameng pertahanan anti-rudal," kata Putin.

Pernyataan Putin disampaikan di tengah upaya AS membangun pertahanan anti-rudal di negara-negara anggota NATO. Bulan lalu, sembilan negara NATO melakukan uji gabungan sistem anti rudal di kapal perang Aegis di perairan Skotlandia.

Beberapa hari kemudian, AS melakukan uji coba intersepsi serangan nuklir yang merogoh kocek hingga US$230 juta di Pulau Wake di Pasifik.

Rencana sistem pertahanan rudal NATO ini pertama kali digagas oleh Presiden AS Ronald Reagan dan dilanjutkan oleh George W. Bush tahun 2002. Barack Obama tahun 2008 juga melanjutkan program ini namun mengurangi biayanya.

Jika beroperasi penuh, kapal dengan sistem pertahanan Aegis akan berpatroli dari Spanyol. Di Romania dan Polandia, akan ditempatkan roket pengintersepsi, sedangkan di Turki, Jerman dan beberapa negara NATO lainnya akan ditempatkan radar.

Rencana ini tahun 2007 dikecam Rusia setelah Polandia dan Republik Ceko mengizinkan pangkalan rudal di wilayah mereka. Ceko belakangan mundur dari rencana pertahanan AS itu.

Sejauh ini, menurut Putin, protes dan keresahan Rusia diabaikan oleh AS dan sekutunya. Putin mengatakan, alasan AS yang ingin mempertahankan NATO dari serangan rudal nuklir Iran dan Korea Utara hanyalah omong kosong.

Menurut dia, tujuan utama pertahanan rudal AS di negara NATO adalah demi mengantisipasi kekuatan militer Rusia yang kian pesat.

"Tujuan sebenarnya dari AS adalah untuk menghadapi serangan dari negara pemilik senjata nuklir lainnya, kecuali AS dan sekutunya, terutama ancaman nuklir dari negara kita, Rusia. AS ingin berkuasa dengan semua konsekuensinya," kata Putin.

Dalam tiga tahun terakhir industri pertahanan Rusia telah sukses menguji persenjataan yang bisa menembus sistem pertahanan rudal berlapis, kata Putin.

Juni lalu, Putin mengumumkan Rusia akan menambah lagi 40 rudal balistik antarbenua generasi terbaru tahun ini.

"Kami telah mengatakan di banyak kesempatan bahwa Rusia akan melakukan semua langkah yang diperlukan demi memperkuat persenjataan nuklir strategis," tegas Putin. (den)


CNN 

Tuesday, 27 October 2015

[Dunia] Rusia-NATO Menuju Perang Dingin Mediterania?

Apakah kita menuju Perang Dingin baru di laut Mediterania dan Hitam? Intervensi militer Rusia di Suriah telah memunculkan skenario ini, bersama dengan tumbuhnya aktivitas kapal perang dan kapal selam sekitar Mediterania, Laut Hitam dan di pelabuhan Suriah Latakia (28 mil dari perbatasan Turki)  yang menjadi pangkalan utama Angkatan Laut Rusia.

Situasi geostrategis semakin berkembang ketika NATO menggelar latihan terbesar dan  paling ambisius dalam lebih dari satu dekade terakhir dengan melibatkan sekitar 36.000 tentara, lebih dari 140 pesawat dan 60 kapal dari lebih 30 negara.

Selain sekutu NATO, peserta latihan termasuk Australia, Austria, Bosnia dan Herzegovina, Finlandia, Makedonia, Swedia dan Ukraina. Latihan Trident Juncture 2015  dibuka 19 Oktober di Pangkalan Udara Trapani, Sisilia, dan akan diselenggarakan oleh Italia, Spanyol dan Portugal sampai 6 November “Kami sangat prihatin tentang peningkatan militer Rusia,” kata Wakil Sekretaris NATO Jenderal Alexander Vershbow kepada wartawan. “Mereka meningkatkan konsentrasi pasukan di Kaliningrad, Laut Hitam dan, sekarang, di Mediterania timur yang menimbulkan beberapa tantangan tambahan.”
Pada upacara pembukaan, NATO memamerkan kekuatan serangan udara dengan Typhoon, F/A-18, F-16, Tornado dan AMX, serta drone MQ-9 Reaper.

Tapi pekan lalu juga terjadi dua peristiwa luar biasa lainnya terkait dengan skenario Mediterania. Pada tanggal 20 Oktober, Angkatan Laut AS mengumumkan perusak USS Ross berhasil mencegat rudal balistik di Samudra Atlantik Utara dalam sebuah latihan penembakan dengan delapan negara lainnya. Kapal tersebut saat ini ada di pangkalan Navy Base Rota Spanyol, dekat Mediterania.

“Ini adalah pertama kalinya interceptor Standard Missile-3 Block IA dipecat di luar negara Amerika dan pertama kalinya mencegat rudal balistik di teater Eropa,” kata Angkatan Laut AS. Latihan ini hanya dua minggu setelah empat kapal perang Angkatan Laut Rusia meluncurkan 26 rudal jelajah dari Laut Kaspia ke target di Suriah. Peluncuran rudal Rusia telah mengejutkan banyak pihak karena hanya menggunakan kapal yang relatif kecil yang selama ini dianggap tidak mampu.

Selain itu pada 20 Oktober, perusak Porter di Batumi, Georgia, sebuah negara yang terlibat perang melawan pasukan Rusia pada tahun 2008 dan mencoba untuk bergabung dengan NATO. Porter merupakan salah satu dari empat kapal perusak yang berbasis di Rota bersama Ross, Donald Cook dan Carney.

“Operasi Porter di Laut Hitam dimaksudkan untuk meningkatkan keamanan maritim dan stabilitas, kesiapan, dan kemampuan angkatan laut dengan sekutu dan mitra kami,” kata siaran Angkatan Laut AS.
Apakah NATO benar-benar melakukan skenario Perang Dingin baru?

“Kami tidak percaya Rusia ingin konflik militer dengan NATO, tapi ya, kami memiliki kegiatan yang sedang berlangsung pada tingkat rendah lainnya seperti di Perang Dingin seperti manajemen informasi, serangan cyber, mata-mata militer,” kata seorang pejabat NATO kepad Defense News Senin 26 Oktober 2015.

“Namun, ada dua perbedaan penting sekarang,” kata pejabat itu. “Tidak ada ancaman eksistensial di Eropa, dan sekarang isu regional dari pertarungan antara dua negara adidaya. Kekhawatiran ini telah meningkat dengan intervensi militer Rusia di Suriah dan ancaman di Turki.”
 
Laut Hitam, yang berbatasan dengan Turki, Rumania dan Bulgaria yang semuanya adalah negara NATO, dan juga Rusia, Ukraina dan Georgia, tampaknya menjadi faktor kunci dalam skenario NATO-Rusia baru ini.

Di Trapani, seorang pejabat senior yang menolak untuk disebutkan namanya kepada Reuters mengatakan bahwa Rusia telah menggunakan perang Suriah sebagai dalih untuk meningkatkan kehadirannya di Laut Mediterania.

“Kita harus memperhitungkan bahwa Rusia akan memiliki kehadiran yang lebih besar dengan kemampuan untuk menghambat kebebasan manuver dan navigasi kami,” kata pejabat itu.
Semenanjung Krimea, yang dianeksasi Rusia dari Ukraina pada tahun 2014, menurut pejabat itu telah menjadi benteng bersenjata Rusia.

Kehadiran terus menerus sebuah kapal perusak Aegis di Laut Hitam adalah salah satu strategi AS untuk mempelajari upaya mengganti rudal Patriot yang digunakan untuk melindungi Turki, yang sedang ditarik.

Trident Junture 2015 telah dimulai, tapi tidak ada pejabat NATO secara terbuka menyatakan Rusia merupakan masalah di sisi selatan. Vershbow membantah latihan ini ditujukan untuk ancaman Rusia. “Memang [tidak untuk Rusia], terinspirasi oleh negara-negara Afrika,” katanya. Latihan ini mensimulasikan konflik di daerah Tanduk Afrika dan Sudan, dengan Kamon, Lakuta dan Tytan sebagai negara imajiner.

Tuesday, 13 October 2015

Helikopter NATO Jatuh di Afghanistan

Lima Orang Tewas

Ilustrasi helikopter puma milik RAF. (Chris Jackson/Getty Images)

Lima personel Resolute Support Mission, pimpinan NATO, tewas setelah satu helikopter koalisi tersebut jatuh di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, kata misi NATO itu pada Senin.

"Satu helikopter koalisi yang bertugas di Resolute Support Mission jatuh dalam kejadian yang tidak melibatkan permusuhan pada 11 Oktober, sekita pukul 16.15 waktu setempat di Camp Resolute Suppor, Kabul, Afghanistan," kata misi tersebut di dalam satu pernyataan.

Lima prajuris asing cedera dalam kejadian itu, kata pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin siang. Pernyataan tersebut tidak menyebutkan kewarganegaraan korban maupun perincian mengenai kecelakaan itu. "Peristiwa tersebut saat ini sedang diselidiki. Kami akan menyiarkan informasi tambahan ...," katanya.

Itu adalah kecelakaan udara kedua di negeri tersebut tahun ini. Pada 2 Oktober, satu pesawat angkut bermesin-empat C-130 miliki koalisi itu jatuh di Kota Jalalabad di bagian timur Afghanistan, menewaskan enam prajurit AS dan lima penumpang sipil. Kecelakaan helikopter tersebut telah membuat jumlah prajurit asing yang tewas di Afghanistan jadi 22 sepanjang tahun ini. Hampir 13.000 prajurit asing kini ditempatkan di negeri itu dan terlibat dalam Resolute Support Mission.

 Antara

Monday, 12 October 2015

[Dunia] AS dan Rusia Berpotensi Perang Dunia III di Suriah

Peta konflik di Suriah antara koalisi AS, ISIS dan pro-Rusia. (Daily Mirror)

Amerika Serikat (AS) dan koalisinya mengumumkan telah melakukan 24 serangan terhadap ISIS di Suriah dalam 24 jam. Di waktu yang sama, Rusia mengklaim menggempur 55 target ISIS.

Analis militer, Andrew Foxall dari kelompok think thank Henry Jackson Society, memperingatkan, serangan koalisi AS yakni NATO dan Rusia di Suriah bisa menjadi bencana tak terbayangkan jika suatu saat bersinggungan. Kedua kekuatan dunia itu, bahkan bisa terlibat Perang Dunia III di Suriah.

Dalam beberapa hari ini saja, ketegangan antara AS dan Rusia terus memanas, di mana AS menuduh serangan Rusia mengenai pasukan pemberontak Suriah yang dilatih AS. Sebaliknya, Rusia mengejak koalisi AS yang sudah setahun menyerang kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tapi tidak begitu terlihat hasilnya.

Foxall, mengatakan insiden diplomatik bisa berubah jadi bencana. Dia menggambarkan bahwa lalu lintas udara di Suriah kini semakin padat. Pesawat tempur, helikopter, drone, rudal dan artileri baik dari Rusia maupun koalisi AS telah jadi pemandangan setiap saat di wilayah udara Suriah.

”Mengingat jumlah lalu lintas militer di udara (yang padat), ada kekhawatiran nyata bahwa pesawat akan ditembak jatuh karena kesalahpahaman yang jadi bencana. Ini berarti kita bisa menjadi saksi detik-detik dari eskalasi yang tiba-tiba membawa kita ke ambang perang,” kata Foxall.

Komandan serangan udara AS di Suriah, Letnan Jenderal Charles Brown, telah mengakui adanya ketegangan kedua pihak. Dia mencontohkan, pesawat AS dan Rusia nyaris berhadapan dalam jarak 20 mil. Jika tidak dikendalikan, hal itu bisa jadi bencana dalam hitungan detik.

“Rusia memiliki tujuan yang sangat berbeda dengan koalisi NATO yang menginginkan perubahan rezim di Suriah,” kata Foxall, seperti dikutip Daily Mirror, semalam. ”(Sementara) kepentingan utama Kremlin adalah mempertahankan rezim pro-Rusia di Suriah.”

Foxall juga mengkhawatirkan jika China ikut ambil bagian dalam masalah yang rumit di Suriah itu.

Sementara itu, mantan Sekjen NATO, Jaap de Hoop Scheffer, mengatakan kepada Channel 4, bahwa Kremlin akan gagal. ”Saya pikir Putin akhirnya akan jatuh dengan pedangnya sendiri. Dia akan menjadi anti-juru selamat untuk setiap warga Sunni di Timur Tengah,” ujarnya mengacu pada sentiman sektarian di Timur Tengah antara kaum Sunni dan Syiah.