"Kita punya 100 juta rakyat, ada yang berani menyerang 100 juta? Tidak berani."
Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. ©2015 merdeka.com/dwi narwoko
Konflik Laut Cina Selatan saban tahun terus memanas. Teranyar, kapal
perang milik negara Abang Sam itu melanggar wilayah 12 mil laut yang
diklaim Cina masuk wilayahnya. Kapal perang UUS Lassen dengan peluru
kendali penghancur itu terdeteksi di sekitar karang Subi dan Mischief di
kepulauan Spratly.
Tentunya ancaman bagi Indonesia begitu dekat
jika perang terbuka oleh dua negara itu terjadi di Laut Cina Selatan.
Sejak memanasnya Konflik Laut Cina Selatan, Indonesia sebagai salah satu
negara yang punya posisi tawar akan konflik dua negara itu sudah
melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah menggelar patroli
bersama.
Sebagai Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu
juga berupaya agar Konflik Laut Cina Selatan benar-benar tak terjadi.
Salah satunya ialah melakukan lawatan ke kedua negara itu untuk
melakukan kunjungan membahas soal ini. "Kalau saya bilang hanya satu
cara menyelesaikan ini, yaitu kebersamaan," ujar Ryamizard saat
berbincang dengan merdeka.com di kantornya, Rabu kemarin.
"Saya
bergerak tidak ngawur, ada patokan. Yaitu diplomasi Kementerian
Pertahanan. Jadi saya tegaskan dalam pembukaan ikut serta mendamaikan
dua negara bertikai, perdamaian dunia. Itu amanat untuk bangsa ini. Saya
bergerak untuk mendamaikan. Saya bilang tidak ada lagi perang"
Namun
sebagai Menteri Pertahanan, Ryamizard juga menyiapkan segala
kemungkinan yang terjadi. Salah satunya ialah menguatkan strategi
pertahanan perang Indonesia dengan menyiapkan bala tentara berikut
rakyatnya melalui bela negara. Tujuannya adalah agar negara lain
berpikir lebih jauh untuk bertindak dengan Indonesia.
"Kita punya 100 juta rakyat, ada yang berani menyerang 100 juta? Tidak berani," ujarnya menegaskan.
Berikut petikan wawancara dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu kepada Laurel Benny Saron Silalahi dan Arbi Sumandoyo dari merdeka.com soal Konflik Laut Cina Selatan dan pertahanan Indonesia.
Konflik Laut Cina Selatan tiap tahun selalu memanas, bagaimana Anda sebagai Menteri Pertahanan melihat ini ?
Tidak
memanas. Kemarin sebelum saya melakukan aksi saya saksinya, kemarin itu
zonanya masih merah sekarang tinggal kuning. Saya bergerak ke Cina,
saya bergerak ke Amerika, saya makan malam dengan kedutaan di sana, saya
bicara di sana juga. Akhirnya Cina terbuka, dulu mana bisa Cina
terbuka. Sampai dia bilang, oke. Dulu tidak mau. Ini halaman rumah kita
bersama-sama, mari kita jaga sama-sama kan terbuka. Sekarang sudah
kuning.
Tetapi kemarin kapal perang Amerika sudah merapat ke laut Cina ?
Itu
patroli saja, ide kan dari saya. Sekarang Amerika juga. Kalau saya
bilang hanya satu cara menyelesaikan ini, yaitu kebersamaan. Bahkan
patroli perang tidak bagus, saya bilang patroli perdamaian. Kemarin
Amerika dialog juga sama kita, kenapa Laut Cina Selatan begini, Cina
bilang ribuan orang lalu-lalang lewat wilayah mereka tetapi apakah
mereka lewati wilayah kita, kita larang, tidak silakan saja. Kalau
berapa mil dari tempat tanah segala macam tidak boleh, kalau yang lain
silakan saja, sudah terbuka dia.
Sebelumnya Cina juga mengklaim Pulau Natuna itu masuk wilayah mereka ?
Enggak
itu. Tetapi memang ada batasan sedikit yang milik mereka, Siapa yang
bilang Pulau Natuna. Jadi memang ada batasan antara milik Cina dan milik
kita, tetapi itu tidak ada masalah
Selain patroli bersama apa upaya Anda, mengingat Indonesia punya posisi tawar menyelesaikan konflik laut Cina Selatan ?
Saya
bergerak tidak ngawur, ada patokan. Yaitu diplomasi Kementerian
Pertahanan. Jadi saya tegaskan dalam pembukaan ikut serta mendamaikan
dua negara bertikai, perdamaian dunia. Itu amanat untuk bangsa ini. Saya
bergerak untuk mendamaikan. Saya bilang tidak ada lagi perang. Sampai
ada tulisan dari Amerika berapa bulan lalu, Menhan Ryamizard menyatakan
'Mari kita menyatakan tidak ada perang lagi, perhatian tidak membunuh
tetapi menyelamatkan manusia'. Itu langsung tulisan dari Amerika. Jadi
saya pergi ke Cina, Amerika percaya tidak cemburu. Saya ke sini Cina
tidak apa-apa. Dia bilang sama staff saya, saya setuju sama Menhan, dia
netral mau ke Amerika tidak ada masalah. Kita tunjukkan kita netral,
kalau tidak netral susah masuk kita. Tidak terima. Di Asia sendiri ada
yang ke Cina, ada yang ke Amerika. Kemudian kita ini negara Non Blok.
Kita, seperti Mesir dan Maroko. Itu kita pegang. Dengan itu kita
laksanakan politik bebas aktif. Bebas ke mana-mana saja. Aktif, saya
aktif.
Amerika mendorong patroli di Laut Cina Selatan ditingkatkan, termasuk dia akan mengirimkan bantuan ?
Iya
semuanya, Amerika , Cina tuh berebut memberikan bantuan. Kita bangun
Pulau Natuna. Nanti kalau sulit baru minta bantu, sekarang kita kerja
sendirilah, masa minta-minta. Niat baik mereka ada, karena apa, mereka
percaya. Kepercayaan ini tidak boleh sampai hilang. Ini mahal. Tensi
tidak meningkat, tetapi turun. Hijau, kuning, merah. Sekarang merah,
lalu kuning. Kalau hijau masih sangat lama, tidak gampang. Kalau
mepet-mepet hijau sudah bagus kan. Kita masih mepet merah.
Apakah ada upaya bersama negara-negara Asean untuk menentukan wilayah udara maupun laut untuk mengamankan Laut Cina Selatan ?
Sekarang
tinggal koordinasi saja. Saya minta nanti koordinasi angkatan udara
kita dengan angkatan udara dia. Kemudian saya juga menyekolahkan
hukum-hukum udara di Kanada. Hukum laut di Belanda kalau enggak salah.
Kita belajar supaya tahu hukum begitu. Yang penting di Asean ini harus
jadi contoh, terutama Timur Tengah. Saya ngomong waktu ke Iran kemarin,
kenapa kamu begitu, contoh dong Indonesia. Waktu kita membentuk Asean
ada kesepakatan kalau terjadi perselisihan jangan menggunakan dengan
kekerasan bersenjata, lakukan dengan dialog. 48 tahun sudah teruji.
Waktu saya dulu Bagaimana keamanan di Asia. Saya bilang contoh Asean
dong, contoh yang benar. Ini 48 tahun, ini contoh. Jadi komunikasi yang
penting, saya buka komunikasi dengan Cina, komunikasi dengan Amerika,
komunikasi dengan Cina, Amerika, korea, Jepang, bagaimana ini gini gini
gini.
Pokoknya kita jangan buat hal-hal yang membuat ribut, kalau
ribut kenapa, rakyat susah. Kemarin di koran Malaysia ada tiga yang
dimuat, Cina, Amerika, dan kita paling panjang tulisannya. Mari kita
kecilkan perbedaan, besarkan persamaan. Itu ditulis besar-besar. Kalau
kita membesarkan perbedaan tidak akan sampai. Memperbanyak persamaan ini
menjadi penting. Itu tulisan besar-besar lho. Terus terang berapa kali
saya bicara itu menjadi ditunggu orang, karena saya lain dari yang lain.
Mulai dari di Hotel Shangrila, kemudian Beijing, kepala staff angkatan
darat ditunggu, difoto-foto. Kok tentara bisa bicara keamanan sih,
bicara perdamaian. Berarti saya sudah mengesahkan undang-undang. Nah
untuk begitu netral. Maka saya jaga netralitas itu. Kita negara besar
lho.
Bagaimana dengan kondisi pertahanan Indonesia saat ini ?
Kalau
di kawasan kita sudah bagus tak ada masalah, tetapi yang dihitung bukan
Alutsista. Saya sebagai Menteri Pertahanan menyiapkan strategi untuk
pertahanan, untuk perang dan lain-lain, pertama saya menyiapkan
tentaranya, profesional mampu militan kedua Alutsista yang terakhir
rakyat itu bela negara tadi. Kita punya 100 juta rakyat, ada yang berani
menyerang 100 juta?, tidak berani.
Bisa dikatakan bela negara itu disiapkan sebagai persiapan perang ?
Negara
dalam keadaan perang yah harus siap. Masa ada orang perang dia malah
pergi, enak saja. Mari kita hadapi bersama begitu seharusnya. Kita harus
belajar, orang yang tidak belajar itu bodoh betul, coba saja dari kecil
kita sudah belajar sejarah misalkan riwayat Nabi Adam, pembunuhan
pertama kali dilakukan Nabi Musa, itu pelajaran. Semua itu kan otak kita
yang mengendalikan, kita berjalan otak kita yang mengendalikan, benar
kan, jadi wawasan kebangsaan dan moral agama itu penting.
Bagaimana dengan Alutsista kita ?
Kita
sudah bisa produksi kepal selam sendiri nanti ke depan kita buat saja
sebanyak banyaknya, pesawat terbang kita akan buat, kita sudah kerjasama
sama Jepang. Dia sudah tanya tanya bagaimana jadi tidak buat pesawat
saya bilang gampang itu, Korea juga sudah tanya tanya, kapal selam
segala macam kita beli. Jadi tidak kalah-kalah lah, tetapi yang dilihat
orang bukan Alutsista, yang dilihat tentaranya, rakyat itu dilihat.
Sudah saya katakan waktu diskusi di Texas 2013 kalau perang di Indonesia
bukan melawan tentara tetapi seluruh rakyat mana mampu. Apalagi saya
bilang sudah militan wah tambah takut.
Banyak yang melihat model pertahanan kita tidak sesuai dengan perkembangan, karena perang saat ini menggunakan teknologi ?
Salah,
dia melihat orang negara mana. Negara kita tidak bisa dibilang begitu
kuat negara kita, bela negara dulu. Dari situ tidak bisa bilang gitu.
Jadi jangan dianggap remeh, Singapura macam-macam sama kita, sejuta saja
orang menyeberang kesan kalang kabut mereka. Kemudian perang, dulu
kalau mau perang itu yang dilihat Alutsista selalu itu, kalau saya
tidak, ada dua. Satu ancaman yang belum nyata perang, saya bilang perang
itu belum nyata negara Asia saja tidak ada. Kita kan lihat kawasan
dekat dulu tidak usah jauh-jauh. Negara di Asia sudah berjanji,
Australia juga sudah berjanji, padahal mereka menganggap kita ancaman,
padahal kita biasa saja kita tidak menganggap. Jadi orang itu kita lihat
sangat sedikit kemungkinannya, kecuali dilihat dari situasi ke depan
nanti.
Melihat situasi sekarang saya rasa tidak akan ada perang.
Perang sekarang itu tidak gampang, banyak orang di dunia juga memarahi.
Yang kedua itu ancaman yang nyata ada delapan yaitu, teroris, bencana
alam, pecahan bumi, pelanggaran pencurian ikan, pemberontakan separatis,
wabah penyakit, ancaman cyber dan terakhir narkoba.
Menurut Anda apakah masih perlu anggaran Alutsista kita masih diambil dari APBN ?
Saya
tekankan tidak boleh ada pihak ketiga ikut campur, yang menentukan
adalah kita Menteri Pertahanan dengan saran dari panglima TNI. Saya
tidak boleh menggunakan rekanan, pasti selalu ada orang ketiga. Tetapi
saya selalu menentukan kalau mau beli ini temukan saya sama penjual, itu
ada aturannya begitu. Saya kadang langsung ketemu, sekarang saya rubah.
Kalau dibanding negara lain seberapa besar kekuatan kita ?
Pertahanan
kita itu di dunia nomor 12 dihitung rakyatnya. Apalagi kalau bela
negara ini sukses saya yakin akan masuk 10 besar itu yang saya bilang.
Banyak orang yang tidak mengerti. Kebenaran itu melewati tiga tahap satu
ditertawakan orang, dikritik dan baru nanti berasa benarnya ketika kita
sudah tidak ada.