Ilustrasi
Dalam pidatonya di Jakarta, Wakil Presiden India, Mohammad Hamid Ansari melemparkan sindiran halus pada China soal Laut China Selatan. Ansari mengatakan, jalur perdagangan internasional harus terbebas dari segala macam ancaman dan semua pihak harus mampu menahan diri dari melakukan tindakan yang bisa memancing keributan di wilayah tersebut.
"India memiliki visi untuk bersama-sama menjaga kedamaian di laut dan wilayah di sekitar kita. Kami percaya semua jalur dagang dan jalur laut harus terlindungi dari ancaman tradisional dan non-tradisional. Dan, semua negara yang menggunakan jalur internasional itu harus melakukan tindakan yang bertanggung jawab dan menahan diri," ucap Ansari pada Senin (2/11).
Seperti diketahui, China saat ini menjadi negara yang mengklaim memiliki hak penuh atas wilayah tersebut. Untuk memperkuat klaim, China membangun pangkalan militer di wilayah tersebut, yang memancing emosi beberapa negara yang turut merasa memiliki hak atas jalur perdagangan internasional tersebut.
Di kesempatan yang sama, Ansari juga mendukung upaya yang diambil ASEAN untuk menyelesaikan konflik di wilayah Laut China Selatan. ASEAN saat ini tengah berusaha mencapai kata sepakat soal Code of Conduct (CoC) atau kode prilaku di wilayah sengketa tersebut dengan China.
"Perkembangan terbaru situasi di Laut China Selatan mendesak semua pihak untuk menahan diri. Kami mendukung penuh upaya bersama negara-neagra anggota ASEAN dan China untuk menyelesaikan CoC, untuk menjaga keamanan dan stabilitas di wilayah tersebut," sambung pria berambut putih tersebut. (esn)
Showing posts with label Situasi di Laut China Selatan makin panas. Show all posts
Showing posts with label Situasi di Laut China Selatan makin panas. Show all posts
Tuesday, 3 November 2015
Thursday, 22 October 2015
Situasi Memanas, TNI Kerahkan Tujuh KRI
Salah satu kapal perang milik TNI AL sedang unjuk kebolehan
Situasi di Laut China Selatan makin panas. TNI pun mengerahkan sejumlah alutsista berupa KRI dan pesawat. Tujuannya, untuk memberi deterrent effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan tersebut.
Situasi di Laut China Selatan makin panas. TNI pun mengerahkan sejumlah alutsista berupa KRI dan pesawat. Tujuannya, untuk memberi deterrent effect kepada sejumlah negara yang bersengketa di wilayah perairan tersebut.
"Kita siagakan tiga KRI dan Pesut Patmar
(pesawat udara patroli maritim, red)," kata Kepala Dinas Penerangan TNI
AL (Kadispenal) Laksamana Muda (Laksma) Muhammad Zainuddin kepada Jawa
Pos kemarin (20/10).
Bahkan, tiga KRI tersebut sudah berada
Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IV (Lantamal IV) Tanjung Pinang, yang
merupakan Lantamal terdekat yang dimiliki Komando Armada Indonesia
Kawasan Barat (Koarmabar). Namun, Zainuddin tidak bisa menyebutkan nama
ketiga KRI tambahan tersebut.
Dengan penambahan tiga KRI tersebut, sudah tujuh kapal perang yang disiagakan untuk memberikan deterrent effect di
kawasan tersebut. Sebelumnya, sudah ada empat KRI yang disiagakan.
Selain itu, lanjut Zainuddin, intensitas patroli udara di kawasan juga
akan ditingkatkan.
Untuk diketahui, ketegangan di Laut China
Selatan belakangan memanas seiring pembangunan tujuh pulau reklamasi
yang dilakukan Tiongkok di Kepulauan Spartly. Serta pembangunan landasan
udara dan fasilitas militer di Karang Fiery Cross. Kedua tempat
tersebut merupakan kawasan yang menjadi sengketa Tiongkok dengan
beberapa negara ASEAN dalam beberapa tahun terakhir.
Belakangan Indonesia juga masuk dalam
pusaran konflik Laut China Selatan setelah pemerintah Tiongkok
mamasukkan sebagian wilayah Natuna ke peta wilayahnya. Meski belum
berpengaruh terhadap hubungan Jakarta-Beijing, sikap keras diperlihatkan
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam beberapa kesempatan.
Terakhir, Gatot menolak ajakan Menteri
Pertahanan Tiongkok Chang Wanquan untuk menggelar latihan bersama di
Laut China Selatan. Gatot beralasan, semua negara harus menahan diri
untuk tidak melakukan aktivitas militer di kawasan tersebut.
Sementara itu, mantan Kepala Staf Angkatan
Laut (KSAL) Laksamana (pur) Marsetio mengatakan, penguatan keamanan di
kawasan Laut China Selatan sebagai hal yang mutlak dilakukan. "Di situ
terdapat sumber energi yang besar," ujarnya di Kantor Lemhannas,
Jakarta.
Sebab, lanjutnya, persoalan energi akan
menjadi sumber utama pertikaian antar bangsa di masa mendatang. Sebagai
kawasan penyimpan energi, Laut China Selatan menjadi daerah yang rawan.
"Perang tidak di eropa lagi, tapi di kawasan yang menyimpan energi,"
ujarnya. (far/agm)
Subscribe to:
Posts (Atom)
