Tuesday, 27 October 2015

[Dunia] Rusia Harapan Timur Tengah

'Hujan' Bom Rusia di Suriah Jadi Pukulan Psikologis bagi AS

Rentetan "hujan" bom Rusia di Suriah dinilai jadi pukulan psikologis buat AS. (Sputnik)

Pesawat-pesawat jet tempur Rusia yang menghujani Suriah dengan bom-bom dahsyat dinilai menjadi pukulan semacam “bom” psikologis bagi Amerika Serikat (AS). Demikian analisis kolomnis terkemuka Rusia, Vladimir Soloviev. Menurutnya, dalam sebulan terakhir, opini publik dunia beralih dari menonton video propaganda kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ke agresi militer Kremlin di Suriah yang sudah membuat AS dan sekutunya kesal. Soloviev melanjutkan, waktu untuk diskusi tentang teroris berjenggot telah lewat.

Sekarang semua orang berbicara tentang aksi pilot-pilot Rusia. Menurutnya, Washington mau tidak mau harus menyaksikan “pahlawan” baru di Suriah dalam memerangi kelompok teror. Analisis Soloviev bukan sekadar argumen pribadi. Dia mengutip pengakuan Komandan Pasukan Angkatan Darat di Eropa, Jenderal Ben Hodges, yang terkejut dengan kemampuan Moskow menyebarkan tentaranya di kawasan Timur Tengah dalam waktu yang sangat singkat.

“Ia bingung dengan hal ini,” tulis Soloviev dalam sebuah kolom yang dikutip Sputnik, Senin (26/10/2015). Soloviev juga mengutip analisis pemberitaan wartawan Italia yang pernah membuat laporan kehebatan agresi Rusia di Suriah. ”Rusia terlalu kuat,” judul laporan itu.

”Ledakan bom Rusia di Suriah telah memukul Amerika dengan gelombang ledakan. Ini semacam ‘bom psikologis’,” kata Soloviev. Intervensi militer Rusia di Suriah, kata dia, telah mematahkan citra AS di panggung dunia.

Terlebih, Rusia telah mengusulkan Pemilu sebagai solusi untuk mengakhiri krisis Suriah. ”Amerika sedang menonton Kremlin. Apa yang lebih penting adalah bahwa AS telah diabaikan sebagai negara adidaya,” ujarnya.

AS Perusak

Kondisi wilayah Suriah yang dilanda perang. (Reuters)

Koran online Jerman, Die Welt Freie, melansir laporan analisis yang membandingkan peran Rusia dan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah. Media itu menyebut Rusia menawarkan harapan perdamaian bagi Timur Tengah yang hancur akibat intervensi militer AS.

Dalam krisis Suriah, media Jerman tersebut memuji peran Rusia yang dianggap membawa perubahan positif yang besar. Salah satunya dalam membantu Pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad, dalam melawan teroris. Operasi militer Kremlin sejak akhir September 2015, menurut Die Welt Freie, sah karena atas permintaan resmi dari rezim Damaskus.

”Dukungan (Presiden Vladimir) Putin pada Pemerintah Assad akan menentukan nasib kita semua. Bagaimanapun, Presiden Rusia ini telah berhasil,” bunyi laporan media Jerman itu, Senin (26/10/2015). Rusia juga dipuji media Jerman itu atas peran militernya yang tetap menganut hukum internasional.

”Putin (Presiden) Rusia berkomitmen untuk mematuhi hukum internasional, sementara Amerika Serikat secara de facto dan de jure bertindak seperti bola perusak,” imbuh laporan surat kabar Jerman itu. “Ini telah terjadi saat masa perang di daerah yang ada kepentingan AS, yang ternyata negara-negara tetangga terkena reruntuhan, memaksa jutaan orang melarikan diri dan merampok mereka dari sejarah dan mata pencaharian mereka,” kritik koran Jerman itu terhadap kebijakan perang AS. 

Sementara itu, Pemerintah AS dalam beberapa kesempatan justru menuding balik aksi militer Rusia yang dianggap memperparah konflik Suriah. AS juga menuding agresi Rusia di Suriah tidak menargetkan ISIS dan telah menyasar warga sipil. Namun, tuduhan itu dibantah Kremlin dengan melansir laporan usai serangan diluncurkan. (mas)

Jokowi Diajak Mampir ke Kediaman Obama di Gedung Putih

Dalam pertemuan bilateral kedua kepala negara juga membicarakan soal penanganan bencana asap. (Reuters/Jonathan Ernst)

Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi dalam jumpa pers di Blair House Washington DC, pada Senin (26/10) memaparkan bahwa Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama sempat mengajak Presiden Joko Widodo mampir ke kediamannya di Kompleks Gedung Putih.

Sesaat setelah pertemuan bilateral Presiden Jokowi dan Obama rampung, Retno memaparkan terdapat satu hal yang tidak biasa dilakukan oleh Obama kepada Jokowi.

"Presiden Jokowi diundang untuk berjalan sepanjang Rose Garden masuk ke residen tempat kediaman Presiden Obama," kata Retno.

Setelah itu, Retno menyebutkan bahwa Jokowi diajak oleh Obama berjalan dari lorong kediamannya menuju ke Oval Office atau ruang kerja Presiden.

Keakraban kedua pemimpin negara ini juga terlihat saat Obama mengantar Jokowi masuk ke salah satu mobil ketika akan meninggalkan Gedung Putih. 

"Ini menunjukkan kedekatan Obama terhadap Indonesia. Catatan kami termasuk untuk bagian yang diajak masuk ke residen beliau itu tidak pernah diberikan kepada kepala negara lain," kata Retno.

Ia memaparkan telah ada empat nota kesepahaman yang ditandatangani secara terpisah pada tingkat antar pemerintah, yakni soal maritim, energi, pertahanan, dan bahan bakar. Meski demikian, Retno tidak merinci masing-masing nota kesepahaman tersebut.

Retno menyatakan bahwa Obama mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya nenek Jokowi, Sani Wirorejo sebelum keberangkatan kunjungan kerja Jokowi ke AS.
Obama juga memaklumi keputusan Jokowi untuk membatalkan rencana kunjungannya ke San Fransisco setelah dari Washington DC, meski pembatalan ini tidak dibicarakan secara langsung ketika kedua pemimpin negara ini bertemu.

"Tidak dibicarakan secara resmi tapi disinggung sedikit dan Presiden Obama sangat memaklumi. Sangat mengerti," kata Retno.

Dalam pertemuan bilateral kedua kepala negara juga membicarakan soal penanganan bencana asap.

"Dalam nada yang sangat positif, Presiden Obama memahami betul mengenai masalah asap yang tidak bisa dipadamkan begitu saja," katanya.

AS juga menawarkan komitmen bantuan senilai 2,7 juta dolar AS kepada Indonesia, menurut Retno.

Pada Minggu (25/10), Retno memaparkan bahwa pembicaraan Jokowi dengan Obama akan meliputi empat hal, terkait demokrasi Indonesia dengan jumlah Muslim terbesar di dunia, soal ekonomi, pasar digital di Indonesia, dan isu perubahan iklim.

"Goal-nya karena Indonesia adalah negara besar maka kita berharap bahwa pertemuan ini membawa manfaat bagi kedua belah pihak dan dunia," kata Retno. (ANTARA)

[Dunia] Senjata-Senjata yang Dipamerkan Rusia di Suriah


Pada operasi udara dan laut di Suriah, militer Rusia menggunakan sejumlah senjata untuk untuk menggempur sejumlah target termasuk dari rancangan terbaik desain Soviet hingga senjata terbaru Rusia yang canggih, yang kini diuji langsung di medan tempur. Dan berikut senjata-senjata yang dipamerkan oleh Rusia di medan perang Suriah.
1. Kapal

Dalam waktu singkat, pasukan bersenjata Rusia telah mengirim 28 pesawat menggunakan kapal induk ke pelabuhan Tartus dan markas udara Hmemeem di Latakia: Nikolai Filchenkov, Novocherkassk, Minsk, dan Peresvet. Mereka semua melanjutkan tugas tempur di Mediterania bersama kapal Admiral Nevelsky, Alexander Shabalin, serta kapal penghancur Admiral Panteleev, dan kapal patroli Smetlivy.

Tiga kapal serang kilat dari Armada Laut Kaspia Rusia: Uglich, Svijazhsk, dan Veliky Ustyug, sukses meluncurkan rudal jelajah ke lokasi teroris dari Laut  Kaspia. Kapal serang tersebut meluncurkan rudal jelajah Russian Tomahawk. Ini dapat disebut pembaptisan api untuk senjata berakurasi tinggi dan debut pertamanya dalam penggunaan jarak jauh, dengan jangkauan lebih dari 1.500 kilometer, yang membuat Rusia dapat melakukan operasi militer dari jarak jauh. Secara keseluruhan, terdapat lebih dari sepuluh kapal laut Rusia yang berpatroli di Laut Kaspia.
2. Aviasi dan Senjata Presisi Tinggi
Rusia telah menampilkan sejumlah pesawat berbeda, dari pesawat pengebom Su-24M dan pesawat serang Su-25, hingga pesawat canggih terbaru, yaitu Su-34 . Secara keseluruhan, terdapat 28 pesawat militer, belum termasuk dua pesawat transportasi An-124.
Su-24M merupakan salah satu pesawat tempur Rusia yang paling terkenal dan diadopsi di Uni Soviet pada 1975. Ia masih digunakan oleh tentara Rusia dan banyak negara lain. Terdapat 12 pesawat Su-24M yang beroperasi di Suriah. Jumlah pesawat tempur Su-25 yang sama juga dikirim ke Suriah. Empat pesawat tempur Su-30 yang lebih modern juga melancarkan misi di negara tersebut. Ia merupakan pesawat tempur generasi ke-4+ dan mampu menghancurkan perangkat berbasis darat di malam hari, saat cuaca buruk, serta melakukan pengintaian. 
 
Su-34

Pesawat tempur-pengebom taktis terbaru Rusia ialah Su-34, yang melakukan debutnya dalam konflik Suriah. Menurut Kementerian Pertahanan Rusia, Su-34 di Suriah dilengkapi dengan sistem komunikasi terintegrasi TKS-2M untuk “operasi jaringan terpusat”. Sistem baru memungkinkan pertukaran koordinat target antara pesawat tanpa bantuan pos komando yang berbasis di darat. 

Dengan menggunakan perangkat tersebut, pesawat pengebom Su-34 dapat menyediakan informasi untuk kelompok penyerang koordinat target menggunakan peta elektronik yang dihasilkan bagi kru pesawat lain, tanpa melibatkan pos komando darat. Dengan demikian, semua pesawat dalam kelompok ‘mengetahui’ koordinat target, bahkan jika hanya satu pesawat yang menemukan lokasi tersebut. Sistem ini membuat operasi udara lebih tersembunyi, karena hanya satu pesawat dalam kelompok yang perlu menyalakan radar untuk melacak target.

Mi-17

Selain pesawat, Rusia juga mengerahkan helikopter, dari helikopter Mi-17 untuk transportasi dan senjata elektromagnetik, hingga helikopter serang Mi-24, yang pernah dipakai di Afganistan dengan hasil yang memuaskan. Secara keseluruhan, terdapat 15 helikopter Rusia di Suriah.

Rusia menggunakan senjata berakurasi tinggi dalam menyerang wilayah Suriah. Pesawat-pesawat tersebut dilengkapi bom KAB-250 dan KAB-500, yang setelah dijatuhkan dari pesawat kemudian dipandu oleh satelit militer. Radius deviasi dari target tak lebih dari lima meter. Selain itu, di Aleppo Rusia juga menggunakan misil jelajah antitank RBK-500-SPBE.
3. Senjata Elektromagnetik
Krasukha-4 Rusia

Rusia juga diketahui menempatkan sistem senjata elektronik Krasukha-4 di Suriah, untuk menekan radar pesawat dan drone tempur. Ia mampu melindungi objek dari deteksi radar dalam jarak 150-300 kilometer, serta menekan pesawat AWACS dan perangkat senjata elektronik musuh. Sistem Krasukha-4 diadopsi sejak 2012, dan mulai beroperasi sejak 2013. Di laut, Vasily Tatischev dari Armada Baltik melakukan tugas intelijen.

[Dunia] AS Akan Kirim Kapal Perusak ke Laut China Selatan

Kapal Perusak AS, USS Lassen (DDG 82) (Kanan) berada dalam formasi dengan ROKS Sokcho (PCC 778) pada latihan bersama Foal Eagle 2015, di perairan timur semenanjung Korea. (Reuters/U.S. Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Martin Wright)
Angkatan Laut Amerika Serikat berencana mengirimkan kapal perusak dengan peluncur rudal ke wilayah 12 mil laut, atau sektar 22,2 km dari pulau buatan yang dibangun oleh China di Laut Cina Selatan. Langkah ini dinilai merupakan salah satu langkah AS untuk menantang klaim China di salah satu jalur laut tersibuk di dunia itu.

Dilaporkan Reuters, seorang pejabat pertahanan AS menyatakan kapal perusak USS Lassen akan mulai berpatroli pada Selasa (27/10) pagi waktu setempat di dekat terumbu karang Subi dan Mischief di kepulauan Spratly, pulau yang dibuat China dengan cara pengerukan sejak 2014.

Patroli kapal perusak itu akan menjadi salah satu tantangan AS yang paling serius di sekitar batas teritorial yang diklaim China. Langkah ini dinilai akan memantik kemarahan Beijing, yang pada bulan lalu mengatakan "tidak akan pernah mengizinkan negara manapun" melanggar teritorial perairan dan wilayah udara di Spratly.
Kapal tersebut kemungkinan akan disertai dengan pesawat pengintai P-8A dan pesawat pengintai P-3 milik Angkatan Laut AS, yang telah melakukan misi pengintaian rutin di kawasan itu, menurut pejabat pertahanan, yang tidak dipublikasikan namanya.

Patroli tambahan juga rencananya akan dilakukan dalam beberapa minggu mendatang dan kemungkinan berpatroli di sekitar wilayah Spratly yang juga diklaim oleh Vietnam dan Filipina.

"(Patroli) ini akan terus terjadi, tidak hanya satu kali," kata pejabat tersebut.
Juru bicara Gedung Putih Josh Earnest menolak berkomentar soal operasi khusus, dan menyerahkannya kepada Pentagon. Meski demikian, Earnest menyatakan AS menilai harus menekankan pentingnya arus perdagangan bebas di Laut Cina Selatan, kepada China.

"Terdapat aktivitas perdagangan senilai miliaran dolar dari seluruh daerah di dunia di perairan itu. AS memastikan harus ada aliran perdagangan bebas yang sangat penting untuk ekonomi global," katanya.

Patroli tersebut akan menjadi yang pertama dalam wilayah Spratly sejak China mulai membangun terumbu di 2014. Amerika Serikat terakhir kali melewati teritorial Spratly pada 2012.

Keputusan untuk mengirimkan kapal perusak berisiko memperburuk hubungan AS yang sudah tegang dengan China.

Anggota Kongres AS, Randy Forbes, ketua Angkatan Bersenjata Seapower dan Proyeksi Angkatan Sub-komite dan Ketua Kongres Kaukus China, memuji rencana tersebut.

"Keputusan AS mengirimkan kapalnya ke wilayah pulau yang dibuat China di Laut China Selatan merupakan respon yang diperlukan untuk mendestabilisasi pengaruh China di kawasan itu," bunyi laporan dari Forbes.

China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan, yang menjadi jalur perdagangan dunia senilai lebih dari US$5 triliun setiap tahunnya. Vietnam, Malaysia, Brunei, Filipina, dan Taiwan saling memiliki klaim di perairan ini. (ama)
CNN 

TNI AD Rebut Juara Umum Terjun Payung di Malaysia

TNI AD juara terjun payung di Malaysia. ©2015 Handout/Penerangan Kopassus

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) meraih gelar juara umum dalam kejuaraan terjun payung di Malaysia. Lomba bertajuk The Terengganu Challege Parachuting Championship and Malaysian Armed Forces Parachuting Championship Closed 2015 ini, tim yang terdiri dari Kostrad dan Kopassus menjuarai empat dari lima nomor yang dipertandingkan.

Berdasarkan siaran pers dari Penerangan Kopassus, Minggu (25/10), TNI AD berhasil 4 emas, 1 perak dan 1 perunggu dan menyingkirkan 28 tim dari Malaysia maupun swasta. Dalam perlombaan tersebut, TNI AD menerjunkan 22 atlet terjun payung dalam lomba yang digelar sejak 19 September dan ditutup Senin (26/10) besok.

Torehan prestasi ini menambah deretan panjang TNI AD dalam setiap perlombaan yang digelar di luar negeri. Sebelumnya, Indonesia pernah menjadi juara umum dalam lomba menembak di Australia dan menyingkirkan peserta dari Amerika Serikat, Jepang dan lain-lain.

"Tujuan mengikuti kejuaraan di Malaysia untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan para atlet terjun bebas baik sport maupun military didunia Internasional khususnya dikawasan Asia tenggara," ujar Penerangan Kopassus Mayor Inf Achmad Munir.

Sebagai pemenang, hadiah diserahkan langsung oleh Panglima Tentara Darat Malaysia, Jenderal Tan Sri Raja Mohammed Affandi bin Raja Mohammed kepada Komandan Kontingen PTPAD Mayor Inf Frangki Susanto. Frangki sehari hari menjabat sebagai Pabanda Renlatum Sops Kopassus.

Berikut torehan emas yang dicatat TNI AD di Malaysia:

1. Tim akurasi sport:
a. Juara-1 Tim PTPD Indonesia
b. Juara-2 Tim TUDM (Tentara udara Diraja Malaysia)
c. Juara-3 Tim Jawa Barat

2. Perorangan akurasi sport:
a. Juara -1 Praka Ismail Doda (PTPAD) Indonesia
b. Juara-2 Sertu Erik Prahasta (PTPAD) Indonesia
c. Juara -3 Subhi TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia)

3. Kerja sama di udara:
a. Juara-1 tim PTPAD Indonesia
b. Juara-2 tim TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia)
c. Juara-3 tim TDM (Tentara Darat Malaysia)

4. Tim akurasi militer:
a. Juara-1 tim PTPAD Indonesia
b. Juara-2 tim TUDM A (Tentara Udara Diraja Malaysia)
c. Juara-3 tim TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia)

5. Kerjasama payung di udara :
a. Juara-1 tim TUDM (Tentara Udara Diraja Malaysia)
b. Juara-2 tim TLDM (Tentara Laut Diraja Malaysia)
c. Juara-3 tim PTPAD Indonesia


merdeka

[Dunia] Dunia Akan Lebih Baik Jika Saddam dan Khadafi Masih Berkuasa

Khadafi n Saddam

Bakal calon presiden dari Partai Republik Amerika Serikat Donald Trump mengomentari kondisi Timur Tengah saat ini yang memanas. Menurutnya, dunia akan menjadi tempat yang lebih baik jika diktator seperti Saddam Hussein dan Muammar Khadafi masih berkuasa. 
Dicetuskan Trump, Timur Tengah "meledak" di sekitar Presiden AS Barack Obama dan mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton, yang menjadi rival terbesar Trump dari Partai Demokrat untuk pertarungan menuju Gedung Putih.

"100 persen," jawab Trump ketika ditanya apakah dunia akan lebih baik jika Saddam dan Khadafi masih berkuasa di Irak dan Libya. Hal tersebut disampaikan miliarder tersebut dalam acara bincang-bincang "State of the Union" di stasiun televisi CNN, seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (26/10/2015). Kedua diktator yang telah meninggal tersebut dilaporkan telah melakukan kekejaman terhadap rakyat mereka sendiri.

Saddam, mantan Presiden Irak, digulingkan dalam invasi AS dan sekutu ke Irak tahun 2003 dan dieksekusi pada tahun 2006. Sedangkan Khadafi yang berkuasa di Libya selama 4 dekade, dilengserkan dan dibunuh pada Oktober 2011 usai perlawanan yang didukung NATO. "Orang-orang kepalanya dipotong. Mereka sedang tenggelam. Saat ini jauh lebih buruk dibandingkan semasa Saddam Hussein atau Khadafi," cetus Trump.

"Maksud saya, lihat apa yang terjadi. Libya adalah musibah. Libya adalah bencana. Irak bencana. Suriah bencana. Seluruh Timur Tengah. Semuanya meledak di sekitar Hillary Clinton dan sekitar Obama. Itu meledak," kata calon favorit Partai Republik tersebut. Trump bahkan menyebut Irak "Harvard terorisme" dan menyarakan negeri itu telah berubah menjadi "tempat pelatihan bagi para teroris."

"Jika Anda melihat Irak beberapa tahun lalu, saya tidak bilang dia (Saddam) orang yang baik. Dia orang yang mengerikan namun itu lebih baik dibandingkan sekarang," tutur Trump. (ita/ita)

Mantan PM Inggris Tony Blair Minta Maaf Atas Invasi Irak

Blair mengakui invasi Irak adalah kesalahan intelijen, membuat negara itu saat ini dirundung konflik, memunculkan kelompok militan seperti Al-Qaidah dan ISIS. (Getty Images)

Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair meminta maaf atas invasi Irak yang menurutnya adalah kesalahan besar intelijen. Invasi itu berhasil menggulingkan Saddam Hussein namun Irak hingga kini masih bergelimang dengan konflik, terutama dengan munculnya ISIS yang menguasai sebagian negara itu. Hal ini disampaikan Blair dalam wawancara dengan pembawa acara GPS di CNN, Fareed Zakaria, Minggu (25/10).

"Saya meminta maaf karena intelijen yang kami gunakan ternyata salah, walaupun dia (Saddam Hussein) sering menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri, tapi program (senjata pemusnah massal) itu tidak berada dalam bentuk yang kami kira," kata Blair.

Pernyataan Blair merujuk laporan intelijen yang muncul sebelum invasi pimpinan Amerika Serikat ke Irak tahun 2003. Dalam laporan itu disebutkan Saddam memiliki senjata pemusnah massal, yang menjadi dasar serangan AS dan Inggris ke negara itu. Namun belakangan diketahui, laporan intelijen itu salah. Tapi invasi terlanjur dilakukan, pemerintahan Saddam hancur, dan pemimpin Irak itu digulingkan. Saddam dieksekusi mati dengan cara digantung pada hari Idul Adha tahun 2006. 

Lengsernya Saddam tidak juga membuat Irak damai. Peperangan demi peperangan terjadi di negara itu, salah satunya adalah konflik sektarian yang memakan banyak korban jiwa. Berbagai kelompok militan muncul, salah satunya al-Qaeda dan belakangan adalah ISIS. Puluhan ribu warga sipil Irak, lebih dari 4.000 tentara AS dan 179 militer Inggris terbunuh dalam operasi di Irak. Blair mengaku tidak tahu dampak invasi itu akan sangat parah dan berkepanjangan.

"Saya meminta maaf untuk kesalahan dalam perencanaan dan, tentu saja, kesalahan kami dalam memahami apa yang akan terjadi setelah kami menggulingkan rezim." Namun Blair mengaku tidak menyesal dan menolak meminta maaf atas tergulingnya Saddam.

"Saya tidak mampu meminta maaf atas lengsernya Saddam. Saya kira, bahkan hari ini di tahun 2015, lebih baik dia tidak ada di sana dibanding masih ada," ujar Blair.

Bangkitnya ISIS

Blair kepada Zakaria menyadari bahwa kesalahan mereka dalam perang Irak telah membangkitkan ISIS yang kebanyakan petingginya adalah veteran perang Irak atau militan negara itu yang menentang invasi AS.

"Tentu saja, tidak bisa dikatakan kami yang menggulingkan Saddam pada 2003 tidak punya tanggung jawab atas situasi di tahun 2015. Tapi penting dicatat, Arab Spring tahun 2011 kemungkinan juga berpengaruh pada Irak hari ini, dan dua, ISIS punya pangkalan yang kuat di Suriah, bukan Irak," lanjut dia.

Keputusan Blair menyertakan Inggris dalam perang di Irak dikecam banyak pihak. Kesalahan intelijen tersebut dan invasi negara itu dianggap kejahatan perang. Pemimpin oposisi Inggris, Jeremy Corbyn, bahkan mengatakan Blair harus diadili atas kejahatan ini.

Ditanya soal tuduhan itu, Blair berdalih bahwa itu adalah keputusan yang tepat saat itu. "Tindakan itu benar atau salah, semua orang bisa punya penilaian sendiri," tegas Blair. (den)

CNN detik 

Monday, 26 October 2015

[Dunia] Kapal Korut Lewati Batas, Korsel Lepas Tembakan Peringatan

Ilustrasi kapal perang Korea Selatan. (Getty Images/Song Kyung-Seok - Pool) 

Korea Selatan melepaskan tembakan peringatan saat kapal patroli Korea Utara melewati perbatasan. Kapal Korut tersebut langsung putar arah tanpa melakukan penembakan perlawanan.

Namun, Korut menganggap insiden tersebut sebagai provokasi militer serius. Mereka menuding Korsel ingin menghancurkan perbaikan hubungan antara kedua negara.


"Penembakan yang terjadi pada siang hari itu adalah provokasi untuk merebak konflik militer, dan sekali lagi menaikkan ketegangan di Semenanjung Korea," demikian kutipan pernyataan resmi dari Komite untuk Reunifikasi Damai Korea, seperti dikutip AsiaOne, Senin (26/10).

Menurut komite tersebut, insiden ini juga menghambat proses implementasi kesepakatan Korut-Korsel.

"Provokasi militer dari gangster Korsel ini merupakan tindakan berbahaya mengingat upaya untuk menenangkan atmosfer perang dan memperbaiki hubungan dan benar-benar menghambat proses implementasi kesepakatan Korut-Korsel," tulis komite ini.


Hubungan kedua negara mulai mencair ketika pada Agustus lalu mereka sepakat untuk mengurangi ketegangan militer dan mengadakan reuni bagi keluarga yang terpisah akibat perang.

Reuni kedua selama lima tahun belakangan ini mengambil latar tempat di Pegunungan Kumgang, Korea Utara. Sekitar seribu orang mengikuti reuni demi bertemu kerabat mereka yang sudah terpisah hampir tujuh dekade.

Reuni itupun berakhir dengan banjir air mata pada Senin (26/10). Bagi para warga lanjut usia, momen tersebut bisa menjadi pertemuan terakhir mereka dengan kerabatnya.

Acara yang awalnya digadang-gadang akan berlangsung selama tiga hari penuh ternyata tidak sesuai perkiraan. Nyatanya, reuni hanya dilakukan dalam enam sesi terpisah dengan durasi dua jam.

Namun, mereka tetap saja merupakan seribu orang beruntung yang terpilih untuk mengikuti reuni. Di masing-masing belahan Korea masih terdapat puluhan ribu orang yang kecewa karena aplikasi reuni mereka tak diterima. (den)  


CNN