Tuesday, 20 October 2015

Kebijakan Pertahanan Jokowi-JK Dinilai Tak Selaras dengan Visi Misi

Empat unit pesawat Super Tucano EMB-314 berada di landasan parkir Bandara Juwata, Tarakan, Kalimantan Utara, Kamis (15/10/2015).

Setahun kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla, upaya penguatan sistem pertahanan dinilai belum terlihat. Bahkan, kebijakan pemerintah dalam hal tersebut dianggap tidak selaras dengan visi misi pertahanan yang dipaparkan selama masa kampanye Pilpres 2014 lalu.

Pada poin kelima visi misi Jokowi-JK disebutkan, pemerintah berjanji menguatkan sistem pertahanan dengan pemenuhan kebutuhan pertahanan melalui peningkatan kesejahteraan prajurit dan penyediaan alutsista secara terpadu dengan anggaran pertahanan 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB/GDP).

"Realita yang terjadi saat ini, anggaran pertahanan 2016 turun dari anggaran sebelumnya (2015)," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq kepada Kompas.com, Jumat (16/10/2015).

Pemerintah mengajukan anggaran sebesar Rp 95 triliun pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016. Anggaran tersebut turun Rp 7 triliun dari anggaran 2015 yang mencapai Rp 102 triliun.

Selain itu, Mahfudz juga mengingatkan Jokowi-JK yang ingin menjadikan Indonesia sebagai poros negara maritim dunia.

Pada poin ketujuh visi misi disebutkan, pemerintah ingin membangun TNI yang berorientasi pada kekuatan laut. Dengan demikian, kemampuan TNI diharapkan dapat setara dengan negara-negara di kawasan regional Asia Timur dan kekuatannya disegani.

Mahfudz mengatakan, untuk dapat membangun sebuah negara dengan kekuatan maritim, dibutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Fokus pembangunan pertahanan tak hanya sebatas pada kekuatan laut, tapi juga udara dan darat sebagai bantuan. Sinergi kekuatan pertahanan itu diperlukan untuk mengontrol seluruh wilayah Tanah Air.

"Negara maritim itu adalah suatu konsep dimana dia harus ditopang kemampuan kita untuk mengontrol wilayah kita sendiri," ujar Mahufdz.

Politik luar negeri belum tegas

Mahfudz juga mengingatkan agar Indonesia mengambil sikap tegas dalam menerapkan kebijakan politik luar negeri, dan tak terombang-ambing dengan dinamika politik kawasan.

"Kita harus mampu menarik suatu garis tegas. Kepentingan nasional kita apa, dan itulah yang harus menjadi dasar kebijakan nasional kita," kata dia.

Politisi PKS itu, mengatakan, saat ini Amerika Serikat dan China memiliki peran yang besar untuk memengaruhi dinamika kawasan. Secara garis politik, menurut dia, pemerintah cenderung berorientasi barat. Namun, dari sisi penguatan ekonomi, China terlihat lebih mendominasi.

Meski demikian, Mahfudz tak meminta pemerintah condong pada salah satu polar kekuatan yang ada. Pemerintah diharapkan dapat menyuarakan secara jelas kepentingan nasional Indonesia di kancah internasional.

"Sehingga, tidak menimbulkan komplikasi tertentu," ujarnya. 


Kompas 

Tanggapan Panglima TNI soal ajakan Tiongkok untuk latihan gabungan

Sejumlah ranpur Scorpion jenis canon dan stormer dari Yonkav 1 Kostrad menuju Daerah Persiapan (DP) usai menghancurkan perkubuan musuh di Puslatpur Marinir, Asembagus, Situbondo, Jatim, dalam Latihan Gabungan TNI 2014. (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo/Koz/pd/14) 

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menanggapi ajakan Menteri Pertahanan Tiongkok soal latihan perang gabungan di Laut China Selatan (LCS).

Menurut Panglima, TNI hanya akan melakukan kegiatan yang sejalan dengan kebijakan pemerintah.

"TNI harus segaris dan mematuhi apa yang menjadi kebijakan pemerintah," ujar Gatot di gedung parlemen, Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan pemerintah RI secara tegas bertekad mewujudkan keamanan dan stabilitas. Pemerintah juga telah mengimbau semua elemen tidak melaksanakan kegiatan-kegiatan di Laut China Selatan yang dapat meningkatkan tensi stabilitas.

"Artinya diajak negara manapun (latihan gabungan) di Laut China Selatan, demi meningkatkan stabilitas di sana sebaiknya TNI tidak melaksanakan itu," ujar Gatot, menegaskan.

Sebelumnya Tiongkok mengajukan tawaran untuk latihan perang bersama di Laut China Selatan, ditengah tensi yang memanas akibat adanya saling klaim sejumlah negara ASEAN di wilayah tersebut.

Ajakan itu disampaikan Menteri Pertahanan Tiongkok dalam pertemuan informal dengan Menteri Pertahanan ASEAN di Beijing. Menurut Menhan Tiongkok Chang Wanquan, latihan perang ini ditujukan untuk penyelamatan maritim dan penanggulangan bencana.


Antara 

[Dunia] Daftar Arsenal Rusia di Suriah

Sebelum ini pun rezim Suriah menggunakan pesawat tempur-pesawat tempur buatan Rusia untuk menyerang baik oposisi Suriah maupun kaum militan ekstremis seperti ISIS (Reuters)

Terlepas dari pro-kontra pengerahan militer Rusia di Suriah untuk menghantam posisi-posisi NIIS/ISIS yang tidak terbendung kekuatan perang negara-negara di sana, menarik untuk menyimak daftar arsenal militer yang dikerahkan. 

Rusia, yang telah bangkit lama dari keterpurukannya pasca keruntuhan Uni Soviet, diketahui sudah mulai kembali pada kekuatan militernya yang hampir sama dengan dulu. 

Untuk theater Suriah —karibnya sejak akhir dasawarsa ’60-an— Rusia menurunkan kekuatan udara, peluru kendali, ribuan personel darat, hingga pencegatan dan penyekatan di laut. 

Di medan udara, sebagaimana dinyatakan www.warontherocks.com, hari ini, Rusia menerbangkan barisan pesawat tempur gabungan, terdiri dari 12 Sukhoi Su-24M2, 12 Sukhoi Su-25SM dan Sukhoi Su-25UBM, empat Sukhoi Su-30SM, dan enam Sukhoi Su-34. 

Dari barisan itu, bisa dilihat bahwa kekuatan udara yang dikerahkan kebanyakan bomber dan serang darat (Su-24M2, Su-25SM, dan Su-25UBM), dengan payung udara untuk meraih dan mempertahankan superioritas udara pada Su-30SM. Sebagai gambaran, mitraliur udara Gsh-301 30 milimeter-nya masih cukup mampu mengobrak-abrik kendaraan lapis baja pengangkut personel medium. 

Dalam kesepakatan bantuan peralatan perang antara Presiden Suriah, Bashar al-Asaad, Presiden Rusia, Vladimir Putin, semula dikerahkan 20 sortie penerbangan sehari namun ekskalasi itu meningkat jadi 60 sortie sehari kini. 

Kebanyakan memang untuk membasmi basis-basis NIIS/ISIS di darat, seperti pusat-pusat kendali, gudang logistik perang dan amunisi, dan perlengkapan lain, juga kamp-kamp mereka. 

Masih belum cukup, helikopter serang darat Mil Mi-24P juga dilibatkan untuk “membersihkan” area-area yang telah diserang jajaran bomber dan serang darat Sukhoi itu. Dari ketinggian lebih rendah, tembakan peluru 20 milimeter dari kanon putar Mi-24P ini masih diimbangi dengan peluru suar (flare) untuk mengecoh peluru kendali panggul yang ditembakkan milisi NIIS/ISIS. 

Dari sisi amunisi udara yang dipakai, bom berpemandu dan presisi dari jajaran KAB-500S GPS/GLONASS atau Kh-25ML yang dipandu laser jadi andalan selain bom konvensional OFAB 250 hingga 270. 

Dia sekelas dengan Mk-82 series dari NATO. Jika ada bunker beton yang harus dibongkar, Rusia memiliki barisan bom BETAB-M dan bom tandan RBK-500SPBE-D untuk menghancurkan barisan kendaraan militer pemberontak atau tank. 

Dari sisi kekuatan darat, Rusia memiliki sistem pertahanan udara di darat Pantsir-S1, dan belasan lusin tank T-90 serta personel infantri Angkatan Laut-nya (sejenis marinir). Mereka berpangkalan di Tartu — kota sangat strategis bagi pertahanan Rusia di Suriah, mirip dengan Pangkalan Clark dan Subic di Filipina bagi Amerika Serikat untuk kawasan Asia Pasifik Barat. 

Dengan mengandalkan Armada Laut Hitam Angkatan Laut Rusia, flotila kapal perangnya di Laut Mediterania digeser ke pantai-pantai Suriah untuk mendukung pertahanan udara yang lebih pasti. Belasan lusin kapal perang berbagai kelas dilibatkan, meliputi kapal pendarat, kapal pendukung, wahana intelijen, yang bergabung dengan kapal perang permukaan. 

Di antara mereka terdapat kapal jelajah berpeluru kendali dari kelas Slava, yang memiliki peluru kendali laut-ke-udara S-300 yang maut itu. 

Kapal-kapal fregat kelas Krivak dan kapal perang senior destroyer kelas Kashin juga dikerahkan walau tidak memberi kesan berarti karena teknologinya yang sudah ketinggalan jaman. Ada kisah tidak mengenakkan, saat peluru kendali SS-N-14 gagal diluncurkan dari silo-silonya di barisan kapal-kapal perang kelas Kashin ini, dalam pertempuran di Semenanjung Krimea lalu. 

Masih ada lagi flotila kapal perang Armada Laut Kaspia Rusia yang dipasang di medan Suriah ini, di antaranya korvet kelas Buyan M, dan fregat kelas Gepard, yang diperlengkapi peluru kendali penjelajah Kalibr-NK (3M-14T), yang diluncurkan untuk serangan darat. 

Namun menurut laporan intelijen Amerika Serikat, peluru kendali itu malah nyasar ke suatu lokasi di Iran.
Antara

Menhan Segera Temui Wakil Rusia Untuk Beli Sukhoi-35

Ini untuk mengganti F-5 yang usianya sudah 40 tahun

Sukhoi Su-35 (Reuters)

Menteri Pertahanan Ryamizad Ryacudu menyatakan akan segera bertemu dengan perwakilan Rusia guna membahas pembelian Sukhoi SU-35 akhir September 2015.

"Sejauh ini belum (bertemu perwakilan Rusia), rencananya akhir bulan ini," katanya di Jakarta, Senin.

Dia mengaku telah menerima intruksi langsung Presiden Joko Widodo untuk membeli Sukhoi SU-35 karena TNI AU masih menggunakan F-5 Tiger yang sudah berusia 40 tahun.

"Ini untuk mengganti F-5 yang usianya sudah 40 tahun, (pilot) lihat terbang saja takut," kata dia.

Dia menjelaskan, pembelian Sukhoi SU-35 akan bertahap, sedangkan yang akan dibeli adalah setengah skuadron. "Itu sudah diproses pemerintah dan instruksi presiden," kata Ryamizad.

Ketua Komisi I DPR RI Mahfudz Siddiq mengatakan F-5 sudah tidak digunakan beberapa negara, bahkan Taiwan sejak dua tahun lalu tidak menggunakannya.

Dia juga menilai skuadron F-5 milik Indonesia sudah waktunya diganti. "Namun Panglima TNI ingin mengganti skuadron F-5 jangan tanggung," ujarnya.

Politikus PKS itu mengatakan Indonesia harus melakukan lompatan dalam modernisasi Alutsista dengan memiliki efek tangkal di kawasan, seperti Sukhoi SU-35.


Antara 

T50 Golden Eagle

Makin Bersinar

F50 Golden Eagle

Diakui atau tidak pesawat latih tempur T-50 Golden Eagle yang dibangun KAI Korea Selatan telah mengejutkan pasar dunia. Kinerja ekspor pesawat ini terus melesat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pesawat semakin serius di kancah pesawat pelatih dunia. Keberhasilan KAI terbaru adalah penjualan empat pelatih T-50 ke Thailand dengan harga total US$ 110 juta yang diumumkan pada bulan September. Menurut KAI, T-50 mengalahkan sejumlah pesaing termasuk L-15 China, Alenia Aermacchi M-346, dan Textron Scorpion.

Kemenangan itu membawa total penjualan ke-32 di Asia Tenggara menyusul penjualan 12 FA-50 untuk Filipina pada 2014. Perusahaan ini juga mendapat pemesanan dari Irak dengan 24 pesawat yang ditunjuk T-50IQ pada akhir 2013, dengan 12 pesawat pertama akan disampaikan pada awal 2016. Indonesia menjadi pelanggan ekspor pertama untuk jenis ini dan telah menerima semua 16 dari T / A-50.

Tetapi T-50 telah mengalami kekalahan di sejumlah kompetisi pelatih utama, yaitu di Singapura dan Israel dimana dia ditendang oleh M-346. Sementara itu, Angkatan Udara Korea Selatan telah memiliki salah satu skuadron operasional FA-50, dengan 20 pesawat skuadron kedua yang akan dibentuk pada awal 2016, ketika pesawat akan menerima izin operasional akhir. Angkatan Udara Korsel juga memiliki 49 T-50, sembilan T-50B, dan 22 TA-50. FA-50 dilengkapi dengan data taktis Link 16 Link, radar mechanically scanned array, radar penerima peringatan dan sistem visi pencitraan malam. Pesawat ini mampu membawa 4,500kg senjata dipandu, meriam 20mm dan dapat membawa rudal udara ke udara. Semua varian T-50 yang didukung oleh mesin F404.

Dalam kasus Filipina dan Irak, pesawat ini akan memainkan peran penting dalam membangun kembali angkatan udara kedua negara tersebut. Maka mereka membeli sebuah pesawat yang dapat berfungsi baik sebagai jet pelatih canggih dan pesawat serang. Kesepakatan Filipina sangat mendesak, sebagai bangsa yang menemukan dirinya dalam posisi yang tidak nyaman dan perlu untuk melawan China yang kekuatannya semakin tumbuh di Laut China Selatan. Negara ini nyaris tidak memiliki kekuatan tempur udara setelah mempensiunkan Northrop F-5 terakhir lebih dari satu dekade yang lalu.

Pada tahun 2011, sebuah pesawat turboprop Rockwell OV-10 angkatan udara Filipina menemukan dirinya benar-benar tidak mampu untuk terlibat dengan dua jet tempur China yang terbang di sebuah pulau karang yang diklaim Manila. Demikian juga dengan Irak. Sumber yang dekat dengan kesepakatan mengatakan bahwa T-50IQ didasarkan pada FA-50, meskipun ini belum pernah secara resmi dikonfirmasi. Pesawat bisa menjadi sumber daya berharga dalam pertempuran Irak melawan ISIS. 

Menatap Peluang 1.000 Pesawat

Pesawat T50i Golden Eagle TNI AU [kraken_Christiyanto]

Target besar yang sedang dibidik T-50 adalah program pengadaan pesawat latih Angkatan Udara AS yang dikenal dengan program TX untuk menggantikan Northrop T-38. KAI memperkirakan nilai kesepakatan ini senilai US$ 10 miliar untuk memproduksi sekitar 350 pesawat, dan berencana untuk bermitra dengan Lockheed Martin dalam kompetisi tersebut.

KAI menambahkan bahwa akan ada permintaan tambahan dari Angkatan Laut AS dan Marinir untuk 350 pelatih jet canggih, serta 150 jet disesuaikan untuk mensimulasikan pesawat musuh. Total bisa 1.000 pesawat yang akan diproduksi. Ada peluang besar T-50 untuk menang dalam kompetisi ini mengingat persyaratannya adalah membuat pesawat latih dari pesawat yang telah ada.

Bukan desain yang benar-benar baru. Hal ini karena Angkatan Udara AS ingin menghemat biaya dan waktu. Sementara Boeing dan Saab berencana untuk menawarkan jet yang benar-benar baru untuk kompetisi ini. “Jika kompetisi nanti ditentukan oleh biaya, maka T-50 akan muncul dalam posisi yang baik untuk mengamankan kontrak,” kata analis Forecast Internasional Daniel Darling. “Tetapi jika elemen desain yang benar-benr baru benar-benar memunculkan hal yang lain, maka prospek T-50 akan redup. Tapi sebagai pelatih jet canggih yang terlihat penggunaan di layananan dan berasal jejak Lockheed Martin, T-50 pasti dianggap sebagai calon kuat.” [Flightglobal]

jejaktapak

[Dunia] Rusia Akan Luncurkan 300 Serangan Udara per Hari di Suriah

Menurut The Sunday Times, saat ini Rusia meluncurkan rata-rata 50 misi serangan udara per hari di Suriah. (Reuters/Ministry of Defence of the Russian Federation)

Rusia berencana meningkatkan misi serangan udara untuk menggempur kelompok pemberontak di Suriah. Menurut sumber anonim yang dekat dengan operasi militer Rusia di Suriah, Rusia akan meningkatkan operasi militer hingga 300 serangan udara per hari di Suriah. Dilansir dari media Inggris, The Sunday Times, saat ini Rusia meluncurkan rata-rata 50 misi serangan udara per hari di Suriah. Menurut Sunday Times, sumber anonim tersebut menyatakan bahwa Rusia berencana meningkatkan jumlah serangan udara, dari target 200 serangan per hari menjadi 300 serangan udara per hari.

The Independent juga melaporkan Rusia juga tengah membangun landasan pacu baru sebagai persiapan untuk meningkatkan jumlah serangan udara. Hingga saat ini, Rusia telah mengerahkan berbagai pesawat peluncur bom, termasuk Su-24M dan Su-34 dan jet tempur Su-30cm. Sumber anonim itu juga menyebutkan bahwa target serangan udara diusulkan oleh pemerintah Suriah untuk kemudian diverifikasi oleh Rusia.

Masih dari sumber yang sama, Rusia disebut akan menolak permintaan Suriah yang menargetkan bangunan agama yang diyakini sebagai markas kelompok pemberontak. "Mereka sangat prihatin tentang citra militer Rusia di sini," kata sumber itu kepada The Sunday Times. Kremlin mengklaim bahwa intervensi militer di Suriah merupakan upaya "perang melawan terorisme", tetapi ikut campur Rusia dalam konflik Suriah memicu kekhawatiran dari negara-negara Barat.

Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon menyatakan bahwa intervensi militer Rusia hanya memperluas perang dengan menargetkan semua rival Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pernyataan ini diluncurkan Fallon di tengah berbagai tuduhan bahwa serangan udara menewaskan ratusan warga sipil dan meningkatkan risiko konfrontasi dengan serangan udara koalisi internasional pimpinan AS. "Apa yang (Rusia) lakukan adalah menopang rezim Assad, membuat penyelasaian masalah ini menjadi lebih sulit," kata Fallon.

Berbagai kelompok pemantau di Suriah, termasuk Human Rights Watch, menyerukan penyelidikan soal serangan udara Rusia ri Suriah yang mereka yakini melanggar hukum internasional. Putin terus-menerus membela serangan udara Rusia di Suriah, dan bersikeras bahwa serangan udara itu bertujuan untuk memerangi "teroris internasional" dari kelompok militan ISIS. Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Rusia, Putin mengatakan Moskow ingin memperkuat posisi Assad di Suriah. (stu)

Serangan Koalisi di Suriah Tewaskan Tokoh al-Qaidah 

Serangan udara koalisi pimpinan AS di Suriah diklaim telah menewaskan pimpinan senior al Kaidah. (Reuters/Shawn Nickel/U.S. Air Force/Handout )

Pentagon mengatakan serangan udara koalisi pimpinan Amerika Serikat telah menewaskan Sanafi al-Nasr, warga Arab Saudi dan penyalur dana terkemuka bagi al-Qaidah dan kelompok Khorasan sempalannya. Pentagon pada Minggu (18/10) mengatakan, al-Nasr sebelumnya mengorganisir rute-rute bagi anggota baru untuk berangkat dari Paksitan ke Suriah melalui Turki.

Dia juga memainkan peran penting di bidang keuangan kelompok ini dan Pentagon mengatakan al-Nasr tews dalam serangan udara ke Suriah barat laut Kamis lalu. “Al-Nasr merupakan jihadis lama yang berpengalaman menyalurkan dana dan pejuang untuk al-Qaidah. Dia memindahkan dana dari para donor di wilayah Teluk ke Irak, dan kemudian mengirimnya kepada pemimpin al Kaidah di Pakistan hingga Suriah,” kata juru bicara Pentagon melalui pernyataan tertulis. Al-Nasr bekerja untuk jaringan al-Qaidah di Iran sebelum mengambil alih masalah keuangan kelompok militan ini pada 2012 dan pindah ke Suriah pada 2013.

Pentagon mengatakan, dia adalah pemimpin senior kelompok Khorasan kelima yang tewas dalam empat bulan terakhir. Khorasan adalah istilah untuk daerah di Afghanistan dan Pakistan tempat dewan utama al Kaidah diyakini bersembunyi. Kelompok militan ini pindah ke Suriah setelah perang saudara di negara itu pecah, dan mereka diyakini membantu kelompok afiliasi al-Qaidah di Suriah yaitu Front Nusra.

Para pejabat AS menggambarkan Khorasan merupakan faksi militan yang kejam yang memanfaatkan tempat persembunyian di Suriah untuk mengorganisir rencana serangan ke Amerika dan sasaran-sasaran Barat lain, kemungkinan dengan mempergunakan pesawat terbang. Pentagon mengatakan al-Nasr juga dikenal sebagai Abdul Mohsen Adballah Ibrahim al Charekh.

Tahun lalu, Front Nusra kehilangan seorang pemimpin al-Qaidah dengan nama itu setelah terjadi serangan di desa pesisir Suriah bernama Kasab. Al-Nasr yang juga dicari pihak berwenang Arab Saudi dinyatakan sebagai teroris yang dikenai sanksi Dewan Keamanan PBB dan Departemen Keuangan AS tahun lalu.

“Operasi ini menjadi pukulan keras bagi rencana kelompok Khorasan untuk menyerang AS dan sekutunya, dan sekali lagi membuktikan bahwa mereka yang ingin menghancurkan kami, bukannya sulit dijamah oleh kami,” kata Menteri Pertahanan AS Ash Carter dalam pernyataan tertulis. Pentagon tidak mengumumkan rincian serangan udara tersebut. (yns) 

Rusia Khawatir Dengan Stinger Amerika

Gerilyawan Mujahidin dengan rudal panggul Stinger saat perang Afghanistan melawan Uni Soviet

Jika ISIS di Suriah memiliki rudal panggul anti pesawat Stinger, Rusia akan melihatnya sebagai upaya Amerika mendukung terorisme, dan akan membawa masalah ini ke Dewan Keamanan PBB, kata wakil menteri luar negeri Rusia pada hari Sabtu. “Sejauh ini kami belum melihat sistem rudal panggul modern (MANPADS) berada di tangan para teroris, tapi kita tahu bisa saja mereka mendapatkan senjata dari Barat seperti yang dimiliki negara-negara tetangganya,” kata Oleg Syromolotov.

Dia menekankan bahwa pengiriman rudal panggul modern untuk salah satu kelompok yang aktif di Suriah akan berarti ada “Negara” tertentu yang telah berpihak pada “teroris internasional. Saya ingin ini dilihat sebagai peringatan yang serius,” tambah Syromolotov. Menurut kantor berita Regnum, Staf Umum Militer Rusia memperingatkan pada hari Minggu bahwa jika Islamic State memiliki rudal Stinger buatan AS, isu mendukung terorisme akan diajukan ke Dewan Keamanan PBB.

Rusia tentu masih ingat dengan pengalaman pahit perang Afghanistan saat jet-jet tempur dan helikopter Uni Soviet dulu berguguran di sengat rudal stinger Mujahidin yang dipasok Amerika. [Sputnik]

CNN jakartagreater

Ketika Menhan-Panglima TNI Beda Pernyataan soal Latihan Perang

Cina mengusulkan latihan militer bersama dengan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan pada tahun 2016.

Ketika Bung Tomo class mengasuh KCR 60 di perairan Sulawesi

Cina mengusulkan latihan militer bersama dengan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan pada tahun 2016. Termasuk dengan Indonesia. Dua petinggi, Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ditanyai soal ajakan ini. Hasilnya, mereka beda pernyataan yang sangat jauh kepada wartawan. 

Ryamizard mengatakan, tidak ada ajakan latihan militer bersama dari Menteri Pertahanan Cina untuk penyelamatan laut dan penanganan bencana di Laut Cina Selatan. Namun yang digagas Menhan Cina, Chang Wanquan‎ adalah mengajak negara-negara ASEAN untuk patroli bersama di laut Cina Selatan. "‎Bukan latihan bersama tapi patroli bersama. Kan mau mengamankan laut Cina Selatan, jangan dibiarkan doang dong, harus ada upaya," kata Ryamizard di Gedung DPR Jakarta, Senin (19/10/2015).

Menurutnya, patroli bersama antar negara-negara ASEAN yang digagas Cina pada 2016 itu perlu persiapan. Hal itu sudah dikoordinasikan beberapa bulan lalu. "‎Patroli bersama kan tidak ujuk-ujuk (tiba-tiba), perlu ada persiapan dulu. Kami sudah berkoordinasi sudah beberapa bulan," terangnya. Sementara, Pernyataan Menhan ini bertolak belakang dengan Gatot Nurmantyo. Padahal mereka ditemui di tempat yang sama. Gatot mengatakan dengan tegas menolak ajakan latihan bersama Cina dengan negar-negara ASEAN di Laut Cina Selatan.

Terkait hal itu, dia menjelaskan, latihan bersama berbeda dengan patroli bersama yang bertujuan untuk perdamaian negara-negara yang bertikai di laut Cina Selatan. Menurutnya berbeda dengan latihan militer bersama yang cenderung latihan perang. "Patroli bersama ini untuk perdamaian, kalau latihan perang untuk perang. Jadi perdamaian, dalam pembukaan UUD 45', kita ikut menjaga ketertiban perdamaian dunia. Kenapa tidak boleh (patroli bersama). Tidak ada perang kedepan, dan Cina tidak akan mengklaim (laut Cina Selatan," tandasnya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini menambahkan, hubungan Indonesia dengan Tiongkok ‎cukup baik. Ia menilai, persoalan tersebut sengaja ada yang membesar-besarkan isunya. "Pertemuan dengan Cina sangat baik. Cina membuka Asean, ini rumah kita bersama. Sudahlah, kita damai saja," katanya. ‎Sebelumnya, Cina mengusulkan latihan militer bersama dengan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan pada tahun 2016. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Cina, Chang Wanquan, dalam pertemuan informal menteri pertahanan negara-negara Asean.

Wanquan mengatakan, latihan bersama itu nantinya akan dipusatkan pada penyelamatan di laut dan bantuan bencana. "Latihan akan menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan bersama memecahkan perselisihan dan mengendalikan risiko," kata Kementerian Pertahanan China, Jumat (16/10/2015). Usulan ini datang sepekan setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan tengah mempertimbangkan untuk mengirimkan kapal lautnya ke wilayah Laut China Selatan yang diklaim oleh Cina. Langkah AS itu dinilai untuk menegur China atas klaimnya terhadap wilayah perairan internasional tersebut.

Suara