Saturday, 31 October 2015

[Dunia] AS & Rusia-Iran Deadlock Soal Masa Depan Suriah

Pertemuan delapan jam di Wien, Austria, untuk membahas krisis Suriah (Foto: Brendan Smialowski/REUTERS) 

Krisis Suriah sudah terlalu banyak memakan korban. Sejumlah Menteri Luar Negeri (Menlu) pun mengadakan pertemuan di Wien, Austria, untuk menentukan solusi buat negara yang tengah “direcoki” pemberontakan dan kelompok ekstrem ISIS tersebut.

Pertemuan yang digelar Jumat, 30 Oktober waktu setempat tersebut menghadirkan Menlu AS John Kerry, Menlu Rusia Sergei Lavrov, serta sejumlah Menlu negara-negara Arab, China, serta Turki, utusan Suriah dan Iran.

Namun pertemuan delapan jam itu seolah deadlock. Kubu AS dan negara-negara Arab, mendesak rezim Presiden Suriah, Bashar al Assad segera diakhiri.

“Perang selama empat setengah tahun, kami semua percaya bahwa itu sudah terlalu lama. Sudah waktunya menghentikan pertumpahan darah dan mulai membangun (Suriah),” cetus Menlu Kerry, seperti dikutip BBC, Sabtu (31/10/2015).

Sementara Rusia dan Iran, lebih memilih menyerahkan pada rakyat Suriah menentukan nasib mereka via pemilihan umum (pemilu).

“Rakyat Suriah harus menentukan nasib Assad. Kami tak mengatakan bahwa Assad harus tumbang atau bertahan,” timpal Menlu Lavrov.

Berikut sejumlah pernyataan para peserta Pertemuan Wien: 

Amerika Serikat: Assad harus mundur dengan proses transisi politik.

Arab Saudi: Assad harus mundur dengan kurun waktu yang spesifik sebelum digelar pemilu untuk pemerintahan yang baru.

Turki: Assad harus mundur, walau masih bisa memerintah untuk enam bulan ke depan secara “simbolis”.

Negara-negara Eropa Barat & Arab: Assad harus mundur dan tak boleh jadi bagian proses transisi politik.

Rusia: Assad tak boleh dipaksa mundur. Rakyat Suriah harus menggelar pemilu untuk menentukan pemerintahan berikutnya.

Iran: Assad tak harus mundur. Rakyat Suriah harus menentukan masa depan politik mereka sendiri. (raw)

[Foto] Insiden Kecil Bisa Picu Perang AS-China

Angkatan Laut China

China memperingatkan Amerika Serikat, insiden kecil dapat memicu perang antarkedua negara di Laut China Selatan.

Pernyataan itu disampaikan, Komandan Angkatan Laut China Laksamana Wu Shengli saat berbicara dengan kepala operasi Angkatan Laut Amerika Serikat Laksamana John Richard melalui konferensi video.

Ini merupakan salah satu peringatan paling keras setelah insiden mendekatnya kapal militer AS di pulau sengketa Spratly yang diklaim China, Selasa lalu. Bagi China, AS telah melanggar kedaulatan mereka.

“Jika AS melanjutkan tindakan berbahaya ini, aksi provokasi, maka akan ada situasi serius di garis depan kedua pihak di lautan dan udara, bahkan insiden kecil dapat memicu perang,” ujar Wu.  “Kami harap AS bisa menghargai hubungan baik Angkatan Laut kedua negara, dan menghindari insiden seperti ini lagi.”

Sebelumnya pejabat AS mengatakan, kepala Angkatan Laut AS setuju untuk berdialog dan mengikuti protokol sehingga tidak terjadi bentrokan. AS selama ini bersikukuh, patroli mereka di Laut China Selatan telah sesuai  dengan prosedur.

Laut China Selatan menjadi perebutan sejumlah negara. Selain China, ada Filipina, Vietnam, Malaysia dan Brunesi Darussalam yang memperebutkan wilayah itu.

[Foto] Mereka Cantik, Tetapi Mematikan


Pasukan Kurdi dikenal sebagai salah satu kekompok yang gigih melawan ISIS. Tidak hanya pria, wanita juga bergabung dalam pertempuran garis depan. Wajah-wajah cantik mereka akan berubah menjadi beringas ketika menghadapi musuh. Mereka akan menjadi pasukan mematikan bagi siapapun.


Kelompok Yekîneyên Parastina Gel (YPG) bermain dengan anak anjing di kota Ras al-Ain Suriah, dekat perbatasan Turki.


Pejuang perempuan Peshmerga Kurdi berbaris selama sesi pelatihan yang dilakukan oleh instruktur militer Jerman di Arbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi di Irak utara.


Pejuang Yekîneyên Parastina Gel (YPG) atau Unit Perlindungan Perempuan duduk di samping sebuah truk pick-up yang membawa senapan mesin berat di sebuah kamp pelatihan di al-Qahtaniyah, dekat perbatasan Suriah-Turki.


Personel YPG beristirahat di garis depan di kota Hasakeh Suriah timur laut.



Maju melalui zona diperebutkan dari Ayn al-Arab, Suriah.


Mengambil bagian dalam sesi pelatihan di sebuah kamp di Banslawa, utara Baghdad.


Seorang pejuang wanita memanggul senjata di kota Suriah Ain Issi, sekitar 50 kilometer utara dari Raqqa.


Tetap terlihat cantik saat berpose di Arbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi di Irak utara.



Di garis depan di kota Hasakeh Suriah timur laut.

Lanud Halim Hancurkan Pesawat Rusak

Penghancuran pesawat di Halim Perdanakusuma, Jumat (30/10/2015). Foto: Penerangan Bandara Halim Perdanakusuma
Pesawat komersil rusak yang bertahun-tahun terparkir di Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, dihancurkan. Hal ini dilakukan untuk kerapihan dan keindahan bandara.

Komandan Lanud Halim Perdanakusuma Marsekal Pertama TNI Umar Sugeng Hariyono mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak operator dan sepengetahuan Kepala Staf Angkatan Udara untuk kegiatan ini.

Selain untuk kerapihan dan keindahan, di lokasi bekas parkir pesawat tersebut rencananya akan dibuat shelter pesawat tempur TNI Angkatan Udara.

“Saya sudah mempunyai bukti-bukti dan alasan yang kuat untuk proses penghancuran pesawat-pesawat yang tidak dipergunakan oleh pihak operator di parkir Apron Heli, Lanud Halim Perdanakusuma. Sehingga kekuatan hukum kegiatan penghancuran pesawat-pesawat ini sudah ada," tutur Umar dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com, Jumat (30/10/2015)

Hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain, General Manager Bandara Halim Perdanakusuma Iwan Krishadianto dan staf, para operator pemilik pesawat, pejabat terkait dari Markas Besar Angkatan Udara dan pejabat pemerintah terkait lainnya.

Ditambahkan Umar, bertahun-tahun pesawat yang tidak laik operasional tersebut tidak terurus dan kurang enak dipandang.

"Saya mengawali proses penghancuran ini dan akan ditindaklanjuti pesawat-pesawat tidak laik operasional lainnya yang ada di terminal selatan. Saya kasih waktu satu bulan untuk kejelasan pesawat yang tidak operasional tersebut kepada operator berbagai penerbangan komersil," tegas Umar.

Dalam tahap awal telah direncanakan proses penghancuran terhadap lima pesawat yaitu tiga unit jenis Fokker, satu unit King air dan satu unit Cessna oleh alat berat excavator. KRI  
metrotvnews 

Tujuh Pangkalan TNI AU Mengalami Peningkatan Status

Sebanyak tujuh Pangkalan TNI AU (Lanud) mengalami peningkatan status dari tipe “C” menjadi tipe “B”.

Lanud yang mengalami peningkatan status, terdiri dari tiga Lanud berada di wilayah Komando Operasi TNI AU (Koosau I) (wilayah barat Indonesia) yaitu Lanud Palembang, Lanud Padang dan Lanud Ranai Natuna, dan empat Lanud di wilayah Koopsau II (wilayah tengah dan timur Indonesia) masing-masing Lanud Tarakan (Kalimantan Utara), Lanud Leo Watimena, Morotai (Maluku Utara), Lanud Merauke Papua dan Lanud Rembiga, Mataram, Nusa Tengara Barat (NTB).

Peningkatan Lanud tersebut sebagai tindak lanjut dari proses validasi organisasi yang sedang berjalan di dalam institusi TNI AU. Peningkatan status Lanud tertuang dalam Peraturan Kepala Staf TNI AU nomor 30 tahun 2015 dan ditindaklanjuti dengan Instruksi Kasau Nomor : Ins/4/X/2015 tanggal 23 Oktober 2015.. Selain itu, peningkatan status Lanud juga sebagai jawaban atas makin meningkatnya tantangan tugas yang diemban TNI AU, khususnya tugas-tugas yang berkaitan dengan penegakan kedaulatan wilayah udara yurisdiksi nasional di perbatasan.

Peningkatan status Lanud tersebut, selanjutnya juga akan diikuti dengan peningkatan kepangkatan jabatan dan jumlah personel pengawak lanud serta fasilitas lanud. Dengan peningkaan status ini, maka Lanud tipe “C” yang selama ini dipimpin Komandan berpangat Letkol, maka setelah meningkat menjadi tipe “B” akan dipimpin oleh seorang Komandan berpangkat Kolonel.

Demikian juga, untuk jumlah personel yang mengawaki Lanud, mengalami peningkatan. Sesuai dengan Daftar Susunan Personel (DSP) TNI AU, maka Lanud tipe “B” sedikitnya akan diawaki oleh 150 personel (militer dan PNS).

Tim Khusus Komando Armada Barat TNI AL Tangkap Anggota Kelompok Zakir di Subang

Janji TNI AL memburu sindikat perompak bukan hanya isapan jempol belaka.
Anggota kelompok M Zakir yang beberapa waktu lalu beraksi di atas Kapal MV.Merlin ditangkap di Dusun Galian, Desa Patimban, Pusaka Negara, Subang, Jawa Barat, Jumat siang (30/10/2015) sekitar pukul 13.15.

"Tersangka bernama Nachrowi ini diringkus tim reaksi cepat, Western Fleet Quick Response (WFQR) bersama Detasemen Intelijen Koarmabar TNI AL," kata Kadispenal Laksma TNI M Zainudin kepada Tribunnews.

Dengan tertangkapnya Nachrowi, berarti sudah empat anggota kelompok Zakir ini yang diciduk aparat.

komplotan Zakir mulai diburu setelah kedapatan mencuri beberapa suku cadang Kapal MV Mervin.
Kapal tersebut yang melaporkan tindak perompakan pada Kamis 22 Oktober 2015.
Hal itu dibuktikan setelah nomor seri onderdil yang hilang dari MV Mervin dicocokan dengan nomor seri barang bukti yang didapat dari ketiga pelaku.

Jika dikonversikan ke rupiah, seluruh barang bukti yang digasak pelaku seharga miliaran rupiah.
Dari hasil pemeriksaan para tersangka, mereka mengakui sudah satu tahun belakangan merompak onderdil-onderdil kapal yang harganya mahal dan mengirimkan barang curian tersebut ke penadah.
Pengiriman dilakukan melalui 4 anggota komplotan mereka yang berada di Jakarta.

[Dunia] Menhan AS Bantah Akan Kerahkan Pasukan Perangi ISIS

Menhan AS Ash Carter di Irak (Foto: AFP
 Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ash Carter membantah negaranya akan mengerahkan pasukan darat untuk menghadapi kelompok Islamic State (ISIS).

Sebelumnya ada kabar bahwa Presiden Obama akan mengumumkan pengerahan pasukan AS di Suriah. Pengerahan pasukan itu ditengarai untuk menyaingi Presiden Rusia Vladimir Putin yang sudah memerintahkan serangan besar-besar ke basis pertahanan ISIS.
 "Kami tidak berniat menggelar operasi tempur darat berskala besar dalam jangka panjang, seperti di Afghanistan atau Irak, dalam peningkatan penyerangan terhadap sasaran-sasaran ISIS di Irak dan Suriah," ujar Carter, seperti dikutip VOA Indonesia, Jumat (30/10/2015).
Menurut Carter perubahan strategi hanya akan mencakup lebih banyak serangan udara dan mungkin serangan darat. Juru bicara Gedung Putih Eric Schultz mendukung pernyataan Carter, dengan menjelaskan bahwa Amerika "mempertahankan kemampuannya untuk melakukan operasi terbatas di Suriah dengan mitra-mitranya sesuai peluang yang ada."

"Kita tidak bicara tentang serangan berskala penuh atau serangan terhadap kota-kota besar. Kita bicara tentang penyerbuan,” ujar Juru Bicara Koalisi Pimpinan AS di Irak, Kolonel Steve Warren.

"Ini bukan operasi menempatkan ribuan tentara Amerika dengan dukungan ribuan atau puluhan ribu tentara Irak guna melancarkan operasi ofensif berkelanjutan," tambahnya.

Dalam dengar pendapat di Kongres hari Selasa, Menteri Pertahanan Ashton Carter mengatakan bisa saja terjadi lebih banyak penyerbuan seperti yang terjadi pekan lalu, ketika tentara Amerika memberi nasehat kepada pasukan Kurdi untuk menyelamatkan sekitar 70 sandera di Irak, meskipun seorang anggota pasukan komando Amerika terbunuh. FJR 
metrotvnews