Showing posts with label Sukhoi Su-35. Show all posts
Showing posts with label Sukhoi Su-35. Show all posts

Monday, 9 November 2015

Indonesia Putuskan Untuk Membeli Pesawat Tempur Su-35

 Sukhoi Su-35

Indonesia tertarik tidak hanya membeli Su-35, tetapi juga membangun pusat layanan teknis di wilayahnya dan memperoleh transfer teknologi perakitan pesawat.

“Indonesia telah mengambil keputusan mengenai pembelian pesawat tempur Rusia Su-35, sekarang dibicarakan transfer teknologi perakitan pesawat”, ucap Kepala Departemen Kerja Sama Internasional Perusahaan “Rostech” Viktor Kladov kepada agensi berita RIA Novosti di pameran aviasi internasional Dubai Airshow-2015.

“Indonesia telah mengambil keputusan, apa langkah berikutnya? Tunggu saja “, kata Kladov, menjawab pertanyaan wartawan mengenai proses negosiasi pemasokan Su-35 ke Indonesia (08/11/2015).

Beliau menambahkan bahwa Indonesia tertarik tidak hanya membeli Su-35, tetapi juga membangun pusat layanan teknis di wilayahnya dan memperoleh transfer teknologi perakitan pesawat.
“Negosiasi menjadi lebih kompleks karena saat ini dibicarakan bukan hanya pemasokan Su-35, tetapi juga transfer teknologi”, tutur Kladov.

Pada bulan September Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengumumkan niatnya untuk membeli skuadron pesawat tempur Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika yang usianya sudah mencapai umur empat dekade.
 rbth

Sunday, 8 November 2015

Kisah Para Perwira TNI Bebaskan 3 Jet Tempur yang Diembargo AS

Hawk 200 TNI AU. ©2012 Merdeka.com

TNI AU berencana membeli pesawat pemburu untuk mengganti F-5 Tiger yang sudah dipensiunkan. Sejumlah pabrikan dunia sudah gencar melobi Indonesia untuk memilih pesawat mereka. Beberapa yang menawarkan pesawat tempur adalah Rusia dengan Sukhoi SU-35.

Kemarin giliran Dasault Rafale, jet tempur asal Prancis yang sengaja pamer kehebatan di depan para petinggi TNI AU. Pesawat bersayap delta itu bahkan mengizinkan para pilot TNI AU untuk menjajal langsung kehebatan pesawat mereka di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (26/3).

Menjatuhkan pilihan untuk membeli Alutsista secanggih pesawat tempur bukan perkara mudah. Harus juga ditimbang aspek politisnya. Jangan sampai nanti tiba-tiba negara penjual memutuskan hubungan atau menjatuhkan embargo.

Jika sudah seperti itu tentu Indonesia sendiri yang rugi. TNI AU pernah merasakan bagaimana kekuatan jet tempur mereka sangat terganggu karena embargo. Bahkan ada pesawat yang sudah dibeli tapi ditahan oleh Amerika Serikat.

Saat itu Indonesia baru saja membeli 32 unit pesawat tempur Hawk 109/209 dari British Aerospace. Pesawat itu secara bertahap diterbangkan dari London ke Indonesia.

Pada periode 1990an, Indonesia masih diembargo oleh Amerika Serikat terkait kasus di Timor Timur. Nah, sebagian komponen pesawat Hawk ini masih dipasok oleh perusahaan AS. Sesuai aturan di Amerika, sekecil apa pun komponen alutsista buatan AS harus sepengetahuan Pentagon jika berpindah tangan. Maka walau pesawat Hawk diproduksi Inggris, AS merasa masih punya hak untuk ikut mengembargo.

AS pun menggunakan pengaruhnya untuk menekan Inggris. Tiga pesawat Hawk dari London yang terbang menuju Indonesia harus berbalik arah menuju Bangkok, Thailand. Sebenarnya pesawat itu sudah mencapai Singapura dan sebentar lagi masuk wilayah udara Indonesia.

Hal ini dikisahkan dalam buku Mengawali Integrasi Mengusung Reformasi, Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970 yang diterbitkan Kata Hasta Pustaka tahun 2012.

Di Bangkok, tiga pesawat ini ditahan dan tidak boleh dikirimkan ke Indonesia. Situasi ini sangat buruk untuk Indonesia. Sudah beli mahal-mahal, malah kena embargo dan ditahan.

Maka pendekatan diplomasi dan intelijen dilakukan untuk melobi pejabat Thailand. Dua perwira tinggi TNI dikirim untuk membebaskan tiga pesawat tempur itu. Dir B Bais ABRI Brigjen Harianto Imam Santosa dan Aspam Kasau Marsda Tjutju Djuanda dikirim ke negeri Gajah Putih tersebut.

Pihak Thailand tak mudah melepaskan tiga pesawat itu karena ditekan Amerika Serikat. Apalagi pemerintah AS sudah mengirim permintaan resmi melalui nota diplomatik. Thailand adalah sekutu AS di Asia Tenggara selain Filipina.

Namun di sisi lain, pejabat militer Thailand juga punya hubungan pribadi yang sangat baik dengan para petinggi TNI. Akhirnya terciptalah kesepakatan unik yang cerdik yang menguntungkan Indonesia dan Thailand.

Suatu hari, ketiga pesawat jet tempur tersebut diberi 'izin khusus' untuk pemanasan di udara. Hal ini wajar karena pesawat sudah lama ditahan di pangkalan udara Thailand. Izin yang diberikan khusus untuk terbang di sekitar Laut China Selatan.

Pesawat pun disiapkan. Begitu izin diberikan, wuuuuzzzzz!! Pesawat langsung mengangkasa.

Namun ketiga pesawat itu tak menuju Laut China Selatan. Mereka malah menuju Pangkalan Udara Supadio di Pontianak. Ketiganya mendarat dengan selamat di wilayah Indonesia.

Pihak Thailand 'pura-pura' mengajukan protes atas pelanggaran tersebut. Namun pemerintah Indonesia juga 'pura-pura' tak terkait dengan pelarian pesawat Hawk itu.

Lucunya lagi militer AS juga 'pura-pura tidak tahu' atas kejadian itu. Rupanya sebenarnya mereka bersimpati pada Indonesia. Namun pihak AS terpaksa menjalankan tekanan politik dari pihak Kementerian Luar Negeri dan Kongres.

Kisah penyelamatan berakhir lucu dan unik ini berakhir. Hawk-Hawk dari Inggris ini masih memperkuat TNI AU sampai sekarang. Tentu kita tak berharap ada kasus serupa di masa depan.


Friday, 6 November 2015

Rusia Belum Terima Permintaan Resmi Pembelian Pesawat Tempur dari Indonesia

Super Flanker Rusia [Business insider]
Rusia belum menerima permintaan resmi dari Indonesia mengenai pembelian pesawat tempur generasi 4++ Su-35 dan kendaraan infanteri BMP-3F. Keputusan mengenai pembelian akan diumumkan segera setelah penetapan APBN. Demikian hal tersebut dikabarkan Kepala Hubungan Eksternal Rosoboroneksport Viktor Brakunov selama pameran Defense & Security 2015 kepada RIA Novosti, Kamis (5/11).

“Militer Indonesia tertarik memperoleh senjata baru dan peralatan militer buatan Rusia, termasuk pesawat tempur dan kendaraan infanteri. Namun, sejauh ini kami belum menerima permintaan resmi dari pihak Indonesia karena saat ini sedang ditetapkan anggaran negara untuk lima tahun ke depan. Bila hal tersebut telah ditetapkan dan permintaan disetujui, akan segera dilaksanakan negosiasi yang substansial,” kata Brakunov.

Pada saat yang sama, juru bicara sekaligus perwakilan senior dari AU Indonesia mengatakan selama pameran dirgantara MAKS-2015 yang diselenggarakan pada bulan Agustus lalu di Zhukovsky, bahwa pembelian Su-35 untuk mendukung Angkatan Udara negara adalah prioritas.
Pada bulan September lalu, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengumumkan niatnya untuk membeli satu skuadron Su-35 untuk menggantikan pesawat tempur F-5 Tiger milik Amerika yang usianya sudah mencapai empat dekade.

Pada bulan Maret 2015, Dirjen Rosoboroneskport Anatoly Isaikin mengabarkan bahwa Indonesia tengah mempersiapkan penandatanganan kontrak penyediaan pasokan baru kendaraan infanteri BMP-3F yang sekarang berhasil digunakan dalam Korps Marinir Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Pasokan pertama dari 17 kendaraan dikirimkan dalam rangka perjanjian pinjaman Indonesia senilai satu miliar dolar AS dari Rusia, yang ditandatangani pada bulan September 2007 silam ketika Presiden Vladimir Putin datang berkunjung ke Jakarta.

Pameran Defense & Security diadakan sejak tahun 2003. Tema pameran ini adalah seputar senjata dan peralatan militer untuk Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara, senjata nonmematikan, perkembangan terbaru dalam peperangan melawan terorisme, dan isu-isu lainnya. Acara tahun ini akan dikunjungi oleh lebih dari 100 delegasi dari 45 negara.

RBTH 

Tuesday, 3 November 2015

Indonesia Masih Pikir-pikir Beli 32 Jet Tempur Su-35 Rusia

Indonesia masih pikir-pikir untuk membeli pesawat jet tempur Su-35 Rusia untuk menggantikan pesawat tempur AS. | (Sputnik)

Pemerintah Indonesia masih pikir-pikir dan belum membuat keputusan akhir soal rencana pembelian 32 pesawat jet tempur Rusia, Sukhoi Su-35. Indonesia belum terlibat negosiasi dengan Rusia soal rencana pembelian pesawat tempur canggih Kremlin itu.

Pada bulan September lalu, Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu, mengatakan bahwa Indonesia siap memutuskan untuk mengganti pesawat jet tempur buatan Amerika Serikat (AS), Northrop F-5 Tiger II, dengan pesawat jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia.

Direktur Kerjsama Internasional Kementerian Pertahanan Indoneisa, Jan Pieter Ate, kepada media Rusia, RIA Novosti, pada Senin (2/11/2015) mengatakan bahwa Indonesia memang tertarik untuk membeli 32 pesawat canggih Rusia itu. Hanya saja, keputusan tentang pemasokannya belum dibuat.

Jan Pieter melanjutkan, bahwa menurut hukum Indonesia, kontrak untuk pembelian persenjataan asing harus memerlukan transfer teknologi minimal 35 persen ke Indonesia. Perjanjian soal transfer teknologi itu masih dibahas lagi dengan Rusia.

Bulan lalu, Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunai yang berbasis di Moskow, mengutip sumber-sumber terkait melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan Barat telah mengintensifkan upaya mereka untuk membujuk Indonesia agar membeli pesawat mereka. Hal itu terjadi setelah Indonesia mengumumkan keputusan akan membeli pesawat jet tempur Rusia, Su-35.

Su-35 merupakan pesawat tempur Rusia yang pertama kali diperkenalkan kepada khalayak asing pada tahun 2013 di Paris Air Show. Pesawa itu merupakan pesawat jet tempur generasi empat yang merupakan upgrade dari pesawat tempur multirole Su-27.

Monday, 2 November 2015

Indonesia Belum Buat Keputusan Tentang Su-35

Su-35

Pada bulan September 2015, Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu mengatakan Indonesia telah memutuskan untuk mengganti pesawat tempur tua buatan Amerika Northrop F-5 Tiger II dengan Sukhoi Su-35 Rusia. Tetapi sejauh ini Indonesia belum membuat keputusan akhir pada pembelian pesawat tersebut.

Jan Pieter Ate, Direktur Kerjasama Internasional di Kementerian Pertahanan Indonesia mengatakan kepada Ria Novosti Senin 2 November 2015 Indonesia tertarik untuk membeli 32 pesawat canggih. Berbeda dengan pernyataan Menhan, Ate mengataka keputusan tentang pemasok belum dibuat dan saat ini Indonesia tidak terlibat dalam negosiasi langsung dengan Rusia.

Pejabat itu mengatakan menurut hukum Indonesia, kontrak untuk pembelian persenjataan asing harus memerlukan transfer minimal 35 persen dari teknologi. Ate menambahkan bahwa perjanjian seperti itu dengan Rusia masih harus dibuat.

Sejauh ini Indonesia terus didekati sejumlah produsen pesawat. Beberapa waktu lalu Lockheed Martin memboyong simulator F-16 Viper yang merupakan varian paling canggih dari F-16. Sementara Swedia juga menawarkan paket murah dari sistem pertahanan udara. Tidak hanya pesawat Gripen yang ditawarkan tetapi juga pesawat AWACS. Swedia juga menyatakan siap untuk berbagi teknologi dengan Indonesia.

Su-35 pesawat tempur Rusia pertama kali diperkenalkan kepada khalayak asing di Paris Air Show 2013 sebagai pesawat generasi 4 ++ yang merupakan turunan dan upgrade berat dari Su-27 multirole fighter.

Saturday, 31 October 2015

Sukhoi Su-35 Vs Shenyang J-11D

J-11D

Sukhoi Su-27 Flanker seri awalnya dikembangkan Uni Soviet untuk melawan pesawat tempur superioritas udara F-15 Eagle Amerika. Tetapi desain ini kemudian telah berkembang luas yang bahkan mungkin tidak pernah dibayangngkan oleh desainernya. 

Variasi Flanker tidak hanya dibangun di Rusia, China juga memiliki knock-off sendiri.
Rusia menghasilkan segudang variasi dari Flanker. Dari Su-30M2 yang relatif sama dengan desain dasar hingga Su-35S Flanker-E yang merupakan top-of-the-line.

China juga terus bermain-main dengan desain untuk mengembangkan variasi syang lebih maju dan kreatif dari desain asli Soviet. Sebagian besar yang dibangun China dibuat tanpa izin Moskow. Beijing melakukan reverse engineered dan memodifikasi hardware asli Rusia.  Di masa depan Flanker Rusia dan China bisa jadi menyebar ke berbagai negara hingga mungkin untuk bertemu dalam pertarungan di langit. Dalam skenario ini mungkin Sukhoi Su-35 akan head-to-head dengan J-11D China dalam pertempuran ekspor di masa depan.

Secara keseluruhan, setidaknya untuk saat ini, Flanker buatan Rusia masih mempertahankan keunggulan teknis dibandingkan salinan yang dibuat China. Dari berbagai lini seperti avionik, badan pesawat hingga mesin Rusia jelas masih unggul. Bahkan Flanker Rusia masih menjadi salah satu ancaman paling mengkhawatirkan bagi jet-jet tempur buatan Barat dan Amerika. Terlebih dengan varian Flanker Rusia seperti Su-30SM dan Su-34 yang sangat mampu.

Tapi China tidak lagi hanya melakukan reverse engineering. Mereka sudah mulai mengembangkan dalam produk buatan sendiri. Meskipun banyak pihak mengatakan China masih memiliki masalah besar dalam pembangunan mesin yang tangguh. China masih mengandalkan mesin buatan Rusia.
China juga telah mengembangkan sistem avionik dan sensor yang ditanam di pesawat mereka. Tetapi juga belum  jelas bagaimana kemampuan sistem yang mereka bangun. Yang jelas China sedang mengembangkan passive electronically scanned array radar dan active electronically scanned array radars. Tetapi lagi-lagi kemampuannya belum bisa dibuktikan.

Demikian pula, China telah mengembangkan infrared search and track dan electro-optical targeting systems. Tapi ada sedikit data tentang bagaimana sistem-sistem ini meski jika dilihat dari brosurnya sangat mengesankan. Yang juga harus diingat China adalah relatif pemula dalam membangun pesawat tempur dan subsistem. Semua hal ini menjadikan Flanker Rusia hampir pasti sulit ditandingi oleh Flanker China.
Pertarungan di Pasar
Su-35
Meskipun demikian, industri kedirgantaraan Beijing telah menghasilkan jajaran klon Flanker. Selain J-11, J-11A dan indigenized J-11B, China sedang bekerja pada derivatif canggih termasuk J-11BS, J-11D dan J-16. China juga telah mengembangkan J-15 yang berbasis kapal induk dari prototipe Su-33 Flanker. Tiga Flanker China paling mampu adalah J-15, J-11D dan J-16. J-11D dalam banyak hal setara dari Su-35. Tetapi secara keseluruhan kurang mampu dalam hal manuver dan inferior  dalam avionik dan powerplant. Tapi mungkin lebih murah-dan mungkin menjadi produk ekspor yang menarik jika China bisa membuat mesin yang lebih baik.
China akhirnya akan mampu bersaing dengan Rusia pada suatu hari nanti. China memiliki banyak uang dan mereka bersedia untuk menghabiskan pada pengembangan kemampuan mereka. China juga tidak segan-segan untuk mencuri teknologi apapun yang mereka belum miliki dan yang membantu menghemat waktu pengembangan dan uang. Tetapi sampai China belum bisa menyempurnakan pembangunan mesin yang berkualitas, mereka masih akan sulit bersaing.

Monday, 26 October 2015

Saling Tawarkan Jet Tempur

AS-Rusia Berebut Pengaruh di Indonesia

Flanker n Falcon Indonesia [Ani Yudhoyono]

Tawaran Pemerintah Amerika Serikat (AS) atas pembelian F-16V kepada Indonesia disinyalir untuk merebut perhatian Indonesia dari Rusia. Pasalnya, pemerintah melalui Kementerian Pertahanan telah lebih dahulu memutuskan untuk membeli pesawat tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia sebagai pengganti F-5 Tiger sebelum adanya tawaran AS tersebut.

"Wajar saja, mereka (AS dan Rusia) sedang berebut pengaruh sama kita. Ini pinter-pinter pemerintah kita saja melihat kualitasnya," ujar Pengamat penerbangan Chappy Hakim saat dihubungi Sindonews, Sabtu (24/10/2015).

Lalu apa kecanggihan dari pesawat tempur AS dan Rusia yang ditawarkan kepada Indonesia?

Menurutnya Chappy, jet tempur dengan tipe F-16 dan variannya lebih mudah mendapatkan suku cadangnya. Berbeda dengan Sukhoi buatan Rusia yang memiliki suku cadang khusus dan tak mudah didapatkan. Dari segi spesifikasinya, Chappy enggan membandingkan lebih jauh. Terpenting, jet-jet tempur yang dibeli pemerintah Indonesia dari AS dan Rusia mampu menjadi alat pertahanan yang modern dan mumpuni dimiliki bangsa ini.

"Jadi menurut saya beli-beli saja, enggak papa. Asal membantu sistem pertahanan kita," tutupnya. (ris)

Sukhoi SU-35 Rusia atau F-16 Viper Amerika?

Flanker n Falcon Indonesia [CNN]

Pemerintah Indonesia berencana membeli pesawat tempur asal Rusia, Sukhoi jenis terbaru SU-35. Namun di tengah rencana tersebut pemerintah Amerika Serikat menawarkan pembelian pesawat tempurnya, F-16 Viper. Amerika Serikat mengklaim F-16 Viper, atau biasa disebut F-16V, merupakan pesawat tempur paling canggih.

Amerika Serikat juga mengklaim hanya menawarkan F-16V kepada Indonesia. Pemerintah Indonesia pun tergiur dengan tawaran tersebut. Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang bertolak ke Amerika Serikat pada sore hari Sabtu (24/10/2015), kabarnya akan membahas tawaran tersebut dengan Presiden Barack Obama.

Jika Presiden Jokowi menyambut tawaran pembelian F-16V, ditambah pembelian SU-35 dari Rusia, maka Indonesia memiliki skuadron udara yang mumpuni. Namun jika tawaran pembelian F-16V membuat Indonesia harus memilih, pesawat tempur manakah yang akan mengawal udara Bumi Pertiwi, F-16V atau SU-35?

Spesifikasi F-16V Tak Istimewa

Pesawat F-16V. (Foto: www.lockheedmartin.com)

Pesawat tempur F-16 Viper atau F-16V, yang ditawarkan pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, ternyata tidak bisa dikatakan istimewa. Pengamat Penerbangan Chappy Hakim menjelaskan, spesifikasi pesawat jenis F-16V tidak memiliki keunggulan khusus selain sebagai varian tipe F-16 yang sudah diproduksi sebelumnya.

"Itu varian saja dari F-16 yang sudah ada. Kalau yang baru kan harusnya sudah sampai 26 (V)," ujar Chappy saat dihubungi Sindonews, Sabtu (24/10/2015). Klaim AS bahwa F-16V sebagai jet tempur tipe baru, nyatanya F-16 dan variannya sudah banyak dimiliki Indonesia. Meski begitu, Chappy mengakui pesawat ini cocok untuk kawasan Asia Tenggara.

"Tipe itu (F-16V) yang penting bisa untuk mendeteksi ancaman negara dari penyelundup-penyelundup kejahatan di wilayah perbatasan kita. Kalau soal spesifikasi saya tidak terlalu tertarik, karena itu varian-varian saja," pungkasnya. Seperti diketahui, Presiden Jokowi akan bertolak ke Amerika Serikat dan bertemu Presiden AS, Barack Obama.

Salah satu agenda pertemuan juga disinyalir terkait penawaran Amerika Serikat menjual jet tempur F-16V. Hal itu sempat disampaikan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert Blake Jr di kantornya, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Selain itu, Amerika Serikat juga menawarkan transfer teknologi militer. (ris)


sindonews

Friday, 23 October 2015

Pembelian Pesawat Tempur Sukhoi Diminta Bebas Broker

Super Flanker, Radar cross-section (RCS) yang diklaim lebih kecil oleh Sukhoi dalam generasi Su-35. (KnAAPO)

Rencana pemerintah membeli pesawat Sukhoi jenis terbaru SU-35 pada tahun 2016 ini mendapat respons beragam dari publik. Direktur Center for Budget Analysis (CBA) Uchok Sky Khadafi mengungkapkan, rencananya Kementerian Pertahanan (Kemenhan) akan membeli sebanyak 12 pesawat Sukhoi dengan alokasi anggaran sebesar USD 840 juta. Pihaknya akan meminta Komisi I DPR yang membahas anggaran Sukhoi untuk menolak memberikan stempel persetujuan anggaran pembelian Sukhoi sebesar USD 840 juta.

"Di mana setiap tahun APBN, mulai dari tahun 2016 - 2019 mengalokasi anggaran untuk pembelian sukhoi sebesar USD 200 juta pertahun untuk pengadaan tiga pesawat Sukhoi," ujar Uchok melalui siaran pers yang diterima Sindonews, Kamis (22/10/2015). Dia juga mengingatkan, DPR harus mendorong Kemenhan agar tidak melalui pihak ketiga atau broker dalam pengadaan Suhkoi tersebut. 

"Kalau terus-menerus pengadaan Sukhoi dilakukan oleh PT. Trimegah Rekatama, maka alokasi untuk pembelian Sukhoi setiap tahun sebesar USD 200 juta, maka akan ada potensi kehilangan uang negara sebesar 15-20 persen sebagai imbalan dalam dugaan bentuk fee," tukasnya. Menurutnya, upaya ini bisa dicegah dengan pengadaan Sukhoi dalam skema perjanjian antar negara/pemerintah atau government to Government.

Alasannya, proyek pengadaan Sukhoi nilainya sangat besar, sehingga perlu dihemat dengan menghilangkan peran broker. "Malahan yang ada, adalah dugaan mark up anggaran. Di mana, harga satu Sukhoi dalam alokasi anggaran sebesar USD 70 juta. Maka bisa-bisa Kemenhan membeli dari broker sampai sebesar USD 98 juta," terangnya. 

Beli Sukhoi Lewat Broker, Pengianat Sapta Marga

Super Flanker. (KnAAPO)

Center for Budget Analysis (CBA) sangat menyayangkan bila Kementrian Pertahanan dalam pembelian Sukhoi sebanyak 12 pesawat dilakukan lewat broker. Menurut Direktur CBA Ucok Sky Khadafi, kalau terus menerus pengadaan sukhoi dilakukan oleh PT. Trimegah Rekatama sebagai broker, maka alokasi untuk pembelian sukhoi setiap tahun sebesar USD. 200 juta, ber potensi kehilangan uang negara sebesar 15 – 20 persen sebagai imbalan dalam dugaan bentuk fee. “Jadi, tidak usah lagi melalui perusahaan broker seperti Trimarga Rekatama.

Kalau masih ada prajurit TNI yang mendukung pembelian sukhoi melalui broker, artinya pengianat saptamarga,” ujar Ucok kepada liputanterkini.com di Jakarta, Kamis (22/10) Seperti diketahui, pada tahun 2016 ini, menteri Pertahanan akan tetap membeli Sukhoi Su-35. Meski kondisi keuangan pemerintah belum stabil akibat melemahnya rupiah atas Dolar Amerika Serikat. Menurut Ucok, bila melihat daftar usulan kegiatan pengadaan alusista kemhan/TNI melalui pinjaman dalam negeri untuk tahun 2015 – 2019, pembelian pesawat Sukhoi sebanyak 12 pesawat dengan alokasi anggaran sebesar USD 840 juta.

Maka setiap tahun APBN, dari tahun 2016 – 2019 mengalokasi anggaran untuk pembelian sukhoi sebesar USD. 200 juta pertahun untuk pengadaan 3 pesawat sukhoi. “Dari gambaran diatas, Kami dari CBA (Center for Budget Analysis) meminta kepada komisi satu, DPR, yang saat ini sedang membahas anggaran sukhoi, jangan hanya memberikan stempel menyetujui anggaran untuk pembelian sukhoi sebesar USD. 840 juta,” pintanya. Tetapi yang terpenting, kata Ucok, adalah DPR harus mendorong kementerian pertahanan untuk pengadaan sukhoi ini jangan melalui pihak ketiga atau melalui broker seperti yang pernah dilakukan oleh PT. Trimarga Rekatama.

“Untuk itu DPR harus mendorong kementerian pertahanan dalam pengadaan sukhoi ini dalam skema perjanjian antara negara atau G to G,” tandasnya. Pasalnya, kata Ucok, proyek pengadaan sukhoi nilainya besar sekali, dan kalau tetap melalui broker, maka tidak ada penghematan dalam pembelian sukhoi. Malahan yang ada, adalah dugaan mark up anggaran. “Dimana, harga satu sukhoi dalam alokasi anggaran sebesar USD.70 juta, maka bisa bisa kemhan membeli dari broker sampai sebesar USD. 98 juta,” ungkapnya. Untuk itu, Ucok meminta panglima TNI, dan TNI AU, dalam mendukung pembelian sukhoi harus melalui perjanjian antara negara, bukan melalui broker.

"Karena perwakilan sukhoi ada juga di Indonesia, yakni JSC Rosoboronexport Rusia,” jelasnya. Seperti di ketahui, Rencana pengadaan satu skuadron Sukhoi Su-35 merupakan program yang dicanangkan TNI pada masa kepemimpinan Jenderal Moeldoko. Pesawat-pesawat asal Rusia itu ditargetkan akan menggantikan satu skuadron F5 Tiger yang usianya semakin uzur. Maret lalu Pusat Penerangan Mabes TNI menyatakan, proyek pengadaan ini telah melalui pembahasan Dewan Penentu dan Pengadaan di level angkatan dan Dewan Kebijakan Penentuan Alut dan Alutsista di tingkat Mabes.

Mayor Jenderal Fuad Basya yang kala itu menjabat sebagai Kepala Puspen Mabes TNI menuturkan, pembelian satu skuadron Sukhoi Su-35 memang akan dilakukan secara bertahap hingga target minimum essenstial force tahun 2024 tercapai. Sementara itu, Direktur Jenderal Perencanaan Pertahanan Kemhan, Marsekal Muda Muhammad Syaugi, menuturkan pemerintah belum menentukan nominal anggaran belanja alutsista TNI untuk tahun 2016. “Belum diputuskan oleh pemerintah, anggarannya berapa. Kami sudah ingin membeli secepatnya tapi penetapan dari Bappenas belum keluar,” ucapnya.

Terkait jumlah, Kemhan lebih memilih untuk membeli Sukhoi secara bertahap dari pada langsung membelinya dalam jumlah banyak tapi tanpa dilengkapi sistem operasi dan sistem persenjataan yang lengkap. “Mending beli sedikit tapi lengkap dari pada banyak tapi kosongan. Sukhoi yang akan dibeli itu semuanya pesawat baru,” tuturnya. Syaugi juga mengklaim pembelian Sukhoi Su-35 itu tidak akan menyalahi Peraturan Pemerintah Nomor 76 Tahun 2014 Tentang Mekanisme Imbal Dagang Dalam Pengadaan Alat Peralatan Pertahanan Dan Keamanan Dari Luar Negeri yang mensyaratkan adanya imbal dagang, kandungan lokal dan ofset pada transaksi jual beli alutsista antara pemerintah dan negara atau pabrikan asing.

“Jelas ini ada ofset dan imbal dagang. Ini tidak seperti membeli sepeda motor,” tuturnya. Ofset merupakan keharusan pemasok alutsista asing untuk mengembalikan sebagian nilai kontrak kepada pemerintah Indonesia. Sementara itu, imbal dagang merupakan aturan yang mewajibkan adanya timbal balik antara pemerintah dan pemasok alutsista asing. Pasal 5 PP 76/2014 mengatur, persentase imbal dagang, kandungan lokal dan ofset secara keseluruhan minimal harus mencapai 85 persen dari nilai kontrak. Adapun, besaran kandungan lokal dan ofset masing-masing paling rendah 35 persen dari nilai kontrak, dengan peningkatan 10 persen setiap lima tahun. (Lt)

Friday, 16 October 2015

[Foto] Radar AESA: Absen di Sukhoi Su-35, Hadir di Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper


Pemerintah lewat Kementerian Pertahanan RI dan TNI AU telah memutuskan Sukhoi Su-35 Super Flanker sebagai pengganti jet tempur F-5 E/F Tiger II. Setelah pernyataan tersebut, lantas bagaimana dengan nasib dari Eurofighter Typhoon dan SAAB JAS Gripen NG yang terbilang gencar dipromosikan di Indonesia? Bahkan meski ada pengumuman atas ‘kemenangan’ Su-35, Lockheed Martin dengan F-16 Viper justru percaya diri menjajakan jet tempur generasi 4.5 tersebut ke Indonesia.



Yang unik, meski keputusan pengganti F-5 telah dimenangkan Su-35, namum sampai tulisan ini dibuat belum juga ada kontrak penandatanganan pembelian. Entah mungkin masih ada tarik ulur terkait detail pembelian, seperti nilai kontrak, jenis senjata, dukungan logistik sampai urusan ToT (transfer of technology), yang pastinya butuh waktu untuk mencari kata sepakat. Lain dari itu, para kompetitor Sukhoi masih melihat ada peluang untuk memasok jet tempur baru untuk Indonesia, toh sejatinya diluar pengganti F-5, TNI AU masih butuh beberapa skadron tempur.



Meski Sukhoi Su-35 terbilang superior dan punya banyak keunggulan komparatif, tapi ada satu yang terasa agak ketinggalan, yakni sistem radar yang menganut teknologi PESA (Passive Electronic Scanning Array), seperti yang digunakan pada Sukhoi Su-27. Padahal generasi Su-30MKI (hasil pengembangan Rusia dan India) telah dilengkapi radar Zhuk yang mengusung teknologi AESA (Active Electronically Scanned Array) yang lebih baru.


Radar CAPTOR-E

Nah, teknologi radar AESA ini sejatinya justru sudah hadir dalam paket sistem sensor Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper. Typhoon versi awal dilengkapi mechanically scanned radar CAPTOR-M. Radar ini masih menganut sistem konvensional yaitu scanning dilakukan dengan mengarahkan fisik antena. Radar ini kemudian digantikan dengan Active Electronically Scanned Array (AESA) CAPTOR-E. Sementara F-16 Viper hadir dengan platform SABR (Scalable Agile Beam Radar) AESA yang mengusung antena radar APG-83 buatan Northrop Grumman.


Radar Sukhoi Su-35

Perbedaan mendasar dari kedua sistem radar terletak pada sumber tenaganya (Transmitter), dimana PESA masih menggunakan 1 sumber tenaga, seperti klystron atau Travelling Wave Tube yang dihubungkan ke antena melalui Kabel atau Waveguide (Pandu Gelombang) yang akan terhubung pada suatu “feed” (bisa Corporate Feed seperti pada N011M BARS atau Space Feed seperti pada N001 PERO) yang akan menyalurkan gelombang elektromagnetik dari Waveguide ke pemancar (Emitter). Sementara pada radar AESA, sumber tenaganya berasal dari banyak modul TR (Transmit-Receive)yang terdapat pada antena.



Radar AESA memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem mekanik konvensional. Radar beam bisa diarahkan lebih cepat dan fleksibel (agile beam steering) secara elektronik. Hasilnya radar ini bisa mendeteksi dan tracking lebih banyak target. Selain itu radar AESA ini juga memiliki kemampuan LPI (Low Probability of Intercept). LPI berarti emisi radar lebih sulit dideteksi lawan. Typhoon bisa menggunakan radar aktif untuk mendeteksi lawan dengan kemungkinan kecil lawan bisa tahu bila sedang di deteksi.



Radar AESA biasanya dipasang mati ke rangka pesawat. Proses scanning bisa dilakukan dengan cepat secara elektronik. Akan tetapi cara seperti ini hanya bisa mengcover area 120 derajat di depan. Pada CAPTOR-E, array AESA dipasang dalam sebuah gimbal, sehingga bisa digerakkan untuk mengcover area 180 derajat di depan. Gimbal AESA ini adalah sebuah prestasi engineering tersendiri. Jika sistem mekanik konvensional hanya butuh kabel untuk satu antenna transmit/receive. AESA butuh jalur untuk puluhan bahkan ratusan modul transmit receive.

Pada simulasi radar APG-68 AESA di F-16 Viper yang punya kemampuan deteksi jarak jauh (160 nautical mile), pesawat dengan sudut hidung 60 derajat dapat men-track 20 target sekaligus, baik yang terbang rendah maupun terbang tinggi. Radar tentunya dapat di setting sesuai misi air to surface, air to air, dan air to sea. Selain telah digunakan AS, APG-68 AESA saat ini baru digunakan F-16 AU Korea Selatan.

Katakankan untuk dalam suatu kondisi penggunaan radar untuk penjejakan sudah tak maksimal, semisal dalam pertempuran jarak dekat (dog fight), maka yang akan mengambil peran adalah penjejak target berbasis elektro optik. Meski bukan istilah yang populer, penjejak canggih ini mudah dilihat, pasalnya punya bentuk desain bola kaca yang disematkan di sisi luar depan kokpit. Di Typhoon perangkat ini disebut PIRATE (Passive InfraRed Airborne Track Equipment) buatan Eurofirst yang merupakan konsorsium dari Sales EX, Thales Optronics, dan Tecnobit. Ketiganya adalah pemasok utama perangkat avionic Typhoon. Dari perannya, PIRATE di Typhoon sebagai pendukung sistem penjejak utama pada radar AESA. Dengan basis FLIR (Forward looking Infra Red), dalam suatu misi bisa saja pilot diharuskan harus melakukan radar silient, atau jaga-jaga bila radar mengalami error, maka PIRATE bakal menjadikan pilot percaya diri meladeni dog fight. Selain Typhoon, PIRATE juga digunakan pada JAS 39 Gripen.




Begitu pun di Sukhoi Su-27/Su-30 dan Su-35, hadir penjejak elektro optik model OEPS-27. Nah, disini minusnya F-16, jet tempur mesin tunggal ini tak dibekali penjejak elektro optik internal. (Gilang Perdana)

Indomiliter

Tuesday, 13 October 2015

Penandatanganan Kontrak Sukhoi Su-35BM Masih Perlu Waktu

Pengadaan Sukhoi Su-35BM ada dalam MEF II. Pada Akhir MEF III, TNI AU akan berkekuatan 11 skuadron, berarti akan ada tambahan tiga skuadron pesawat tempur baru.

Super Flanker Su 35 [Marina]  

Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, menegaskan, kontrak pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35BM buatan Rusia, masih memerlukan waktu dan proses pembiayaan ada di tangan Kementerian Keuangan dan Bappenas.

“Lihat waktu yang baik, dan saya sudah ke sana juga. Kenapa kami pilih itu? Pasti ada… ada… ada… yang kita perlukan,” katanya, kepada pers, di Jakarta, Senin. Sebelumnya, penandatangan kontrak pembelian Sukhoi Su-35BM yang diproyeksikan menggantikan F-5E/F Tiger II di Skuadron Udara 14 TNI AU dikatakan terjadi pada September 2015 ini.

Dia juga katakan, proses pengadaan dan akuisisi Sukhoi Su-35BM itu memerlukan skema pembiayaan yang tidak sedikit dan mudah. “Ada di Kementerian Keuangan dan Bappenas,” katanya. Saban mengakuisisi sistem persenjataan, amanat pasal 43 UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan mengharuskan pengguna memakai produksi dalam negeri. Akan halnya sistem persenjataan itu belum bisa dibuat di Indonesia maka pabrikan harus menyertakan proses produksi dengan industri persenjataan Indonesia dengan kewajiban transfer teknologi dan transfer pengetahuan.

Itu masih ditambah dengan imbal dagang, memberi kandungan domestik paling tidak 35 persen dari semua komponen dengan peningkatan 10 persen tiap lima tahun, dan offset paling tidak 85 persen. Tentang skema transfer teknologi ini, Ryacudu menyatakan, “Paling tidak kalau ada kerusakan bisa kita perbaiki sendiri.”

Tender Terbuka

Indonesia telah menetapkan garis besar pembangunan postur pertahanan nasionalnya yang dinyatakan dalam program Pembangunan Kekuatan Esensial Minimum (KEM/MEF), yang dibagi ke dalam tiga tahapan. Skema waktunya KEM/MEF itu adalah: MEF I (2009-2014), MEF II (2015-2019), dan MEF III (2019-2024). Pengadaan Sukhoi Su-35BM ini ada dalam MEF II. Pada akhir MEF III pada 2024 nanti, TNI AU akan berkekuatan 11 skuadron pesawat tempur dan delapan skuadron pesawat angkut serta tambahan beberapa skuadron helikopter.

Ini berarti akan ada tambahan tiga skuadron pesawat tempur baru. Tentang proses pengadaan sistem persenjatan di lingkungan TNI AU pada MEF II (2019-2024) nanti itu, Ryacudu berujar, “Semua proses tender ini terbuka khan." "Tapi saya ingatkan, yang lama-lama, yang sudah karatan agar diganti, jangan mencengkeram terus," kata dia, mengacu pada pihak-pihak yang selama ini sudah terlalu lama mencengkeram proses pengadaan sistem persenjataan di lingkungan TNI.

Dia tegaskan, “Saya tidak suka itu, kita bukan monopoli. Semuanya akan diundang, tender tidak lagi diikuti yang itu-itu saja pihak dan orangnya. Pasti dibuka lagi. Kalau orangnya itu-itu saja gak usah ditender saja.” Terkait biaya operasi Sukhoi Su-35BM yang diketahui tinggi, sementara performansi ekonomi nasional sangat terpengaruh fluktuasi ekonomi global dan masa pemakaian pesawat tempur yang diharapkan bisa 25 tahun, dia berujar, “Kita harap nanti bisa membaik.”

Antara

Rusia Sorot Pembelian SU-35, Indonesia Bukan Tandingan AU Australia

Upaya perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin jauh-jauh datang ke tanah air untuk merayu pemerintah Indonesia membeli varian terbaru F-16 sirna sudah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan menolak dan tetap melanjutkan rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Padahal, Lockheed Martin menawarkan serangkaian keunggulan dan sangat menggiurkan. Mulai dari negara pertama yang mengoperasikan F-16 Viper, hingga biaya operasional terjangkau serta penggunaan teknologi terkini.


Meski tawaran menarik tersebut tak membuat TNI AU bergeming dari rencana semula. Korps dengan semboyan 'Swa Bhuwana Paksa' tetap menjalankan rencana awal, yakni membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger II yang mulai termakan usia.

Sikap Indonesia itu menarik perhatian media-media di Rusia. Mereka sampai mengulas alasan Indonesia yang memilih merapat ke Blok Timur dari pada kembali ke pelukan AS dan sekutunya.

Terpilihnya Su-35 sebagai armada pengganti F-5 Tiger II ini langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan, Rusia sampai menganalisa sejumlah alasan yang membuat TNI AU memilih merapat ke Rusia dibandingkan kembali melirik jet tempur buatan AS.

Sejak 2013, lima jet tempur Su-27 dan 11 Su-30 telah memperkuat TNI AU, upaya untuk mendatangkannya dimulai sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, di saat bersamaan, Indonesia juga masih mengoperasikan 12 pesawat F-16 Fighting Falcon yang dibeli pada 1990-an.

"Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS," tulis majalah Rusia, Russia Beyond The Headlines (RBTH).

Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka. Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM.

Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.

Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS.

"Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi," ujar seorang pengamat hubungan internasional Martin Sieff.

Keuntungan lainnya, komponen yang dimiliki Su-35 juga bisa digunakan varian sebelumnya, yakni Su-27 dan Su-30 yang sudah dimiliki Indonesia sebelumnya. Apalagi secara performa, pesawat tersebut dapat bersaing ketat dengan F-22A Raptor buatan AS.

"Dengan kemampuan itu, ditambah kebijakan Rusia untuk menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata, membuat Indonesia berpaling ke Rusia sebagai menyuplai senjata."

Kehadiran Su-35 ke Indonesia ini bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Asia pasifik. Bahkan, diyakini mampu menandingi para penerbang F-18 Hornets Australia ketika berhadapan di udara.

"Kedatangan seri terbaru dari Su-27SK dan Su-30MK dari negara terbesar telah mengubah wajah, di mana F/A-18A/B/F sudah kalah kelas dari seluruh parameter performanya telah melebar," tulis Air Power Australia.


Merdeka