Hawk 200 TNI AU. ©2012 Merdeka.com
TNI AU berencana membeli pesawat pemburu untuk mengganti F-5 Tiger yang
sudah dipensiunkan. Sejumlah pabrikan dunia sudah gencar melobi
Indonesia untuk memilih pesawat mereka. Beberapa yang menawarkan pesawat
tempur adalah Rusia dengan Sukhoi SU-35.
Kemarin giliran Dasault
Rafale, jet tempur asal Prancis yang sengaja pamer kehebatan di depan
para petinggi TNI AU. Pesawat bersayap delta itu bahkan mengizinkan para
pilot TNI AU untuk menjajal langsung kehebatan pesawat mereka di Lanud
Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (26/3).
Menjatuhkan
pilihan untuk membeli Alutsista secanggih pesawat tempur bukan perkara
mudah. Harus juga ditimbang aspek politisnya. Jangan sampai nanti
tiba-tiba negara penjual memutuskan hubungan atau menjatuhkan embargo.
Jika
sudah seperti itu tentu Indonesia sendiri yang rugi. TNI AU pernah
merasakan bagaimana kekuatan jet tempur mereka sangat terganggu karena
embargo. Bahkan ada pesawat yang sudah dibeli tapi ditahan oleh Amerika
Serikat.
Saat itu Indonesia baru saja membeli 32 unit pesawat
tempur Hawk 109/209 dari British Aerospace. Pesawat itu secara bertahap
diterbangkan dari London ke Indonesia.
Pada periode 1990an,
Indonesia masih diembargo oleh Amerika Serikat terkait kasus di Timor
Timur. Nah, sebagian komponen pesawat Hawk ini masih dipasok oleh
perusahaan AS. Sesuai aturan di Amerika, sekecil apa pun komponen
alutsista buatan AS harus sepengetahuan Pentagon jika berpindah tangan.
Maka walau pesawat Hawk diproduksi Inggris, AS merasa masih punya hak
untuk ikut mengembargo.
AS pun menggunakan pengaruhnya untuk
menekan Inggris. Tiga pesawat Hawk dari London yang terbang menuju
Indonesia harus berbalik arah menuju Bangkok, Thailand. Sebenarnya
pesawat itu sudah mencapai Singapura dan sebentar lagi masuk wilayah
udara Indonesia.
Hal ini dikisahkan dalam buku Mengawali
Integrasi Mengusung Reformasi, Pengabdian Alumni Akabri Pertama 1970
yang diterbitkan Kata Hasta Pustaka tahun 2012.
Di Bangkok, tiga
pesawat ini ditahan dan tidak boleh dikirimkan ke Indonesia. Situasi ini
sangat buruk untuk Indonesia. Sudah beli mahal-mahal, malah kena
embargo dan ditahan.
Maka pendekatan diplomasi dan intelijen
dilakukan untuk melobi pejabat Thailand. Dua perwira tinggi TNI dikirim
untuk membebaskan tiga pesawat tempur itu. Dir B Bais ABRI Brigjen
Harianto Imam Santosa dan Aspam Kasau Marsda Tjutju Djuanda dikirim ke
negeri Gajah Putih tersebut.
Pihak Thailand tak mudah melepaskan
tiga pesawat itu karena ditekan Amerika Serikat. Apalagi pemerintah AS
sudah mengirim permintaan resmi melalui nota diplomatik. Thailand adalah
sekutu AS di Asia Tenggara selain Filipina.
Namun di sisi lain,
pejabat militer Thailand juga punya hubungan pribadi yang sangat baik
dengan para petinggi TNI. Akhirnya terciptalah kesepakatan unik yang
cerdik yang menguntungkan Indonesia dan Thailand.
Suatu hari,
ketiga pesawat jet tempur tersebut diberi 'izin khusus' untuk pemanasan
di udara. Hal ini wajar karena pesawat sudah lama ditahan di pangkalan
udara Thailand. Izin yang diberikan khusus untuk terbang di sekitar Laut
China Selatan.
Pesawat pun disiapkan. Begitu izin diberikan, wuuuuzzzzz!! Pesawat langsung mengangkasa.
Namun
ketiga pesawat itu tak menuju Laut China Selatan. Mereka malah menuju
Pangkalan Udara Supadio di Pontianak. Ketiganya mendarat dengan selamat
di wilayah Indonesia.
Pihak Thailand 'pura-pura' mengajukan
protes atas pelanggaran tersebut. Namun pemerintah Indonesia juga
'pura-pura' tak terkait dengan pelarian pesawat Hawk itu.
Lucunya
lagi militer AS juga 'pura-pura tidak tahu' atas kejadian itu. Rupanya
sebenarnya mereka bersimpati pada Indonesia. Namun pihak AS terpaksa
menjalankan tekanan politik dari pihak Kementerian Luar Negeri dan
Kongres.
Kisah penyelamatan berakhir lucu dan unik ini berakhir.
Hawk-Hawk dari Inggris ini masih memperkuat TNI AU sampai sekarang.
Tentu kita tak berharap ada kasus serupa di masa depan.
Showing posts with label F-5 Tiger. Show all posts
Showing posts with label F-5 Tiger. Show all posts
Sunday, 8 November 2015
Sunday, 11 October 2015
Rusia Sorot Pembelian SU-35
Rusia menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata
Super Flanker Rusia [sputnik]
Upaya perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin jauh-jauh datang ke tanah air untuk merayu pemerintah Indonesia membeli varian terbaru F-16 sirna sudah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan menolak dan tetap melanjutkan rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Padahal, Lockheed Martin menawarkan serangkaian keunggulan dan sangat menggiurkan. Mulai dari negara pertama yang mengoperasikan F-16 Viper, hingga biaya operasional terjangkau serta penggunaan teknologi terkini. Meski tawaran menarik tersebut tak membuat TNI AU bergeming dari rencana semula.
Korps dengan semboyan 'Swa Bhuwana Paksa' tetap menjalankan rencana awal, yakni membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger II yang mulai termakan usia. Sikap Indonesia itu menarik perhatian media-media di Rusia. Mereka sampai mengulas alasan Indonesia yang memilih merapat ke Blok Timur dari pada kembali ke pelukan AS dan sekutunya.
Terpilihnya Su-35 sebagai armada pengganti F-5 Tiger II ini langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan, Rusia sampai menganalisa sejumlah alasan yang membuat TNI AU memilih merapat ke Rusia dibandingkan kembali melirik jet tempur buatan AS.
Sejak 2013, lima jet tempur Su-27 dan 11 Su-30 telah memperkuat TNI AU, upaya untuk mendatangkannya dimulai sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, di saat bersamaan, Indonesia juga masih mengoperasikan 10 pesawat F-16 Fighting Falcon yang dibeli pada 1990-an.
"Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS," tulis majalah Rusia, Russia Beyond The Headlines (RBTH). Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka.
Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM. Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.
Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS. "Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi," ujar seorang pengamat hubungan internasional Martin Sieff.
Keuntungan lainnya, komponen yang dimiliki Su-35 juga bisa digunakan varian sebelumnya, yakni Su-27 dan Su-30 yang sudah dimiliki Indonesia sebelumnya. Apalagi secara performa, pesawat tersebut dapat bersaing ketat dengan F-22A Raptor buatan AS. "Dengan kemampuan itu, ditambah kebijakan Rusia untuk menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata, membuat Indonesia berpaling ke Rusia sebagai penyuplai senjata."
Kehadiran Su-35 ke Indonesia ini bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Asia pasifik. Bahkan, diyakini mampu menandingi para penerbang F-18 Hornets Australia ketika berhadapan di udara. "Kedatangan seri terbaru dari Su-27SK dan Su-30MK dari negara terbesar telah mengubah wajah, di mana F/A-18A/B/F sudah kalah kelas dari seluruh parameter performanya telah melebar," tulis Air Power Australia.
Subscribe to:
Posts (Atom)


