Showing posts with label Menteri Pertahanan. Show all posts
Showing posts with label Menteri Pertahanan. Show all posts

Saturday, 14 November 2015

Menhan Terima Kunjungan Chief of Denfence Force Australia


Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu menerima kunjungan Chief of Defence Force Australia Air Chief Marshal (ACM) Mark Binskin, Kamis (12/11) di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta. 
 
Kunjungan Air Chief Marshal Mark Binskin kepada Menhan ini, dilakukannya disela-sela kunjungann kepada Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dalam rangka melaksanakan High Level Committee(HLC) Meeting  ke-3 Australia dan Indonesia (Ausindo) tahun 2015 di Mabes TNI Cilangkap.

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Pertahanan  menyampaikan selamat datang kepada Air Chief Marshal Mark Binskin dan berharap melalui kunjungan ini hubungan Indonesia dan Australia terutama di bidang pertahanan semakin erat dan meningkat.

Hubungan  persahatan kedua negara yang bertetangga terutama hubungan antar Angkatan Bersenjata harus terus dijaga. Meskipun hubungan politik antar kedua negara turun naik, kadang baik kadang kurang baik, tetapi untuk hubungan antar Kementeria Pertahanan dan Angkatan Bersenjata tidak boleh turun naik dan harus tetap stabil.

Senada dengan Menhan, Air Chief Marshal Mark Binskin juga berharap hubungan  kerjasama pertahanan akan terus meningkat di masa mendatang. Menurutnya, saat ini kerjasama di bidang pertahanan kedua negara sudah mengarah kepada yang sangat positif sekali terutama peningkatan kerjasama di bidang latihan bersama, kerjasama di bidang operasi dan kerjasama pendidikan dan latihan.   (BDI/SAS)

Tuesday, 3 November 2015

Indonesia Masih Pikir-pikir Beli 32 Jet Tempur Su-35 Rusia

Indonesia masih pikir-pikir untuk membeli pesawat jet tempur Su-35 Rusia untuk menggantikan pesawat tempur AS. | (Sputnik)

Pemerintah Indonesia masih pikir-pikir dan belum membuat keputusan akhir soal rencana pembelian 32 pesawat jet tempur Rusia, Sukhoi Su-35. Indonesia belum terlibat negosiasi dengan Rusia soal rencana pembelian pesawat tempur canggih Kremlin itu.

Pada bulan September lalu, Menteri Pertahanan Indonesia, Ryamizard Ryacudu, mengatakan bahwa Indonesia siap memutuskan untuk mengganti pesawat jet tempur buatan Amerika Serikat (AS), Northrop F-5 Tiger II, dengan pesawat jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia.

Direktur Kerjsama Internasional Kementerian Pertahanan Indoneisa, Jan Pieter Ate, kepada media Rusia, RIA Novosti, pada Senin (2/11/2015) mengatakan bahwa Indonesia memang tertarik untuk membeli 32 pesawat canggih Rusia itu. Hanya saja, keputusan tentang pemasokannya belum dibuat.

Jan Pieter melanjutkan, bahwa menurut hukum Indonesia, kontrak untuk pembelian persenjataan asing harus memerlukan transfer teknologi minimal 35 persen ke Indonesia. Perjanjian soal transfer teknologi itu masih dibahas lagi dengan Rusia.

Bulan lalu, Pusat Analisis Perdagangan Senjata Dunai yang berbasis di Moskow, mengutip sumber-sumber terkait melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan Barat telah mengintensifkan upaya mereka untuk membujuk Indonesia agar membeli pesawat mereka. Hal itu terjadi setelah Indonesia mengumumkan keputusan akan membeli pesawat jet tempur Rusia, Su-35.

Su-35 merupakan pesawat tempur Rusia yang pertama kali diperkenalkan kepada khalayak asing pada tahun 2013 di Paris Air Show. Pesawa itu merupakan pesawat jet tempur generasi empat yang merupakan upgrade dari pesawat tempur multirole Su-27.

Wednesday, 28 October 2015

Bahas Penguatan Kerjasama Militer, Menhan RI Temui Bos Pentagon

Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ashton Carter melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu di Pentagon. (Istimewa) 
Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Ashton Carter dilaporkan telah melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu di Pentagon. Pertemuan itu berlangsung pada Senin malam waktu setempat.

Berdasarkan keterangan tertulis juru bicara Pentagon Peter Cook yang diterima Sindonews pada Rabu (28/10), keduanya membahas upaya untuk memperkuat kerjasama pertahanan kedua negara, dimana salah satu topik pembahasannya adalah soal pengadaan alat-alat pertahanan.

"Menteri Pertahanan AS Ash Carter menerima kunjungan Menteri Pertahanan Indonesia Ryamizard Ryacudu di Pentagon untuk membicarakan hal-hal terkait dengan upaya memperkuat hubungan pertahanan kedua negara," bunyi pernyatan Cook.

"Kedua menteri juga berdiskusi mengenai keamanan regional, serta peluang-peluang untuk memperluas kerjasama bilateral di beberapa bidang, seperti perdagangan dan teknologi pertahanan, keamanan maritim serta keamanan siber. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Carter dan Menhan Ryamizard juga menyinggung tingkat kesulitan dalam latihan gabungan serta kelanjutan pengadaan alat pertahanan," sambungnya.

Di akhir pertemuan, lanjut Cook, kedua Menteri menandatangani Pernyataan Bersama Mengenai Kerja Sama Komprehensif Bidang Pertahanan. Menurut Cook, pernyataan bersama ini juga dimaksudkan untuk merayakan hubungan kerjasama pertahanan yang telah terjalin, untuk meyatakan perkembangan terbaru, serta akan menjadi panduan umum memperluas kerjasama pertahanan di masa mendatang.

"Pernyataan tersebut meliputi lima pilar kerjasama pertahanan: maritim, penjaga perdamaian, bantuan kemanusiaan/penanggulangan bencana, modernisasi pertahanan serta melawan ancaman transnasional. Pernyataan bersama ini juga “membuka pintu” untuk interaksi yang lebih dalam mengenai perdagangan dan teknologi pertahanan serta keamanan siber," pungkas Cook.


sindonews

Thursday, 22 October 2015

Menhan: Program Bela Negara Buat Negara Lain "Bergetar"

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu memberikan pengarahan kepada peserta calon pembina bela negara, di Badiklat Kemhan, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015). Menhan membuka kegiatan pembentukan kader pembina bela negara di 45 kabupaten/kota di Seluruh Indonesia, yang diikuti 4500 kader.

 Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, mengatakan, program bela negara yang resmi diluncurkan pada Kamis ini akan memberikan 'deterrent effect' atau daya getar kepada negara lain. 

"Bela negara merupakan 'soft power'. Ini memberikan daya getar agar negara lain tidak bisa main-main untuk mengganggu keutuhan dan kedaulatan negara kita," kata Menhan di Badan Pendidikan dan Pelatihan Kemhan, Salemba Raya, Jakarta Pusat, Kamis (22/10/2015).
"Kalau kita beli alutsista, negara lain akan mencari celah untuk mengkonternya. Namun, bila bela negara, intelijen mereka akan bingung untuk mencari celahnya. Bayangkan, mereka harus melawan 100 juta orang," katanya.

Menurut Ryamizard, pendidikan bela negara penting untuk menyiapkan masyarakat yang siap membela dan mengutamakan negaranya di atas kepentingan asing. Pasalnya, sekarang ini bukan lagi era perang fisik dengan angkat senjata, melainkan perang terhadap pemikiran.

"Perang ke depan adalah mengubah pemikiran atau kita sebut cuci otak, kekuatan kita persatuan dan kesatuan. Bela negara itu adalah roh suatu bangsa. Hak kita boleh demo-demo, tapi kewajiban untuk negaranya apa? Negara menunggu," kata mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ini.

Menhan tidak menginginkan negara Indonesia lemah dan hancur, namun dirinya menginginkan agara negara Indonesia kuat, sehingga disegani oleh negara lain.

Ryamizard menegaskan, program Bela Negara bukanlah wajib militer. Membela negara, secara fisik dilakukan oleh TNI. Namun program Bela Negara ini lebih menyasar pada soft power, bukan hard power.

"Membela negara secara fisik jelas ada TNI. Tapi perang ke depan bukan tembak-menembak, tapi mengubah pemikiran atau yang kita sebut cuci otak. Oleh karena itu, otak kita harus kuat yang berisi tentang bela negara," katanya.

Ryamizard juga tak menginginkan Indonesia di ambang kehancuran, seperti halnya negara-negara di Timur Tengah yang hancur akibat perang. Saya tak ingin melihat negara hancur, di mana warganya mengungsi ke negara lain, tegasnya.

Menhan mengatakan, masalah bela negara bukan hanya tanggung jawab Kemhan, melainkan seluruh aspek kehidupan berbagsa dan bernegara, mulai dari masyarakat, pemerintah daerah, kementerian, dan pemerintah pusat.

Bela negara adalah sikap dan perilaku kecintaan terhadap NKRI. Itu sudah sesuai dengan Pancasila dan UUD 45. Sikap bela negara merupakan kehormatan setiap warga negara, yang dilaksanakan penuh tanggung jawan dan pengabdian bagi negara. 

Bela negara, kata dia, juga bagian dari penguatan karakter jati diri bangsa. Program prioritas dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2014-2019. Selain itu, ini juga merupakan kebijakan umum pertahanan negara 2014-2019.

"Oleh karena itu, sebagai realisasinya, Kemhan dan Kemendagri membentuk kader bina negara tahun 2015," tuturnya.

Menhan berharap, kader pembina bela negara mampu menyebarluaskan bela negara di wilayahnya masing-masing. Dengan demikian akan terwujud kesadaran bela negara sebagai bentuk revolusi mental.

"Pembentukan kader bela negara buka wajib militer atau militerisasi dan juga bukan bentuk pembelaan negara secara fisik dari ancaman militer," tuturnya. 

Akan tetapi, lanjut Ryamizard, upaya kesadaran bangsa guna menjamin kesadaran hidup negara dalam menghadapi ancaman multidimensi. Sebab, ancaman ke depan bukanlah dalam bentuk fisik namun berbagai bentuk ancaman nirmiliter yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.

"Bagaimana rakyat dilatih untuk menghadapi segala bentuk kejahatan kemanusiaan, melawan kemiskinan, kebodohan, narkoba, dan lain sebagainya. Hal ini seharusnya dimengerti seluruh rakyat. Karena lewat kemajuan teknologi dan informasi, paradigma ancaman berubah," katanya. 

Ryamizard melanjutkan, bela negara merupakan bentuk dan upaya membangun kekuatan untuk kepentingan pembangunan nasional. Kesadaran bela negara penting untuk ditanamkan sebagai bentuk revolusi mental, membangun ketahanan nasional, dan dapat memberikan efek deterence bagi negara lain yang ingin coba mengganggu keutuhan bangsa dan negara.

"Bela negara menjadi penentu kemajuan bangsa, kepribadian, dan kebudayaan, dan sejajar dengan negara maju di dunia," ucapnya.

Oleh karena itu, setiap warga negara apa pun profesinya mulai dari petani hingga mereka yang duduk di parlemen dan pemerintahan agar dapat mewujudkan bela negara sebagai bentuk kecintaan terhadap bangsa dan negara.