Showing posts with label Bashar al-Assad. Show all posts
Showing posts with label Bashar al-Assad. Show all posts
Sunday, 15 November 2015
[Dunia] Assad Sudah Peringatkan Jangan Ternak Terorisme, Perancis Tak Menggubrisnya
Bashar al Assad berkali-kali memperingatkan Barat jangan mendukung Teroris dalam hal apapun.
Mohon maaf jika tulisan saya kali ini memakai bahasa yang cenderung keras bahkan "vulgar" dengan apa yang terjadi di Perancis kemarin. Biar dunia tahu bahwa aksi terorisme yang terjadi kemarin bukanlah spontanitas, melainkan karena terorisme ini sudah dibesarkan oleh Rezim Francois Hollande sendiri, dan sialnya kali ini ia mesti kena batunya.
Kali ini saya tidak akan main-main dan saya akan menyebut para teroris berjubah agama ini sebagai 'anjing gila', terserah anda suka atau tidak. Tulisan ini sudah saya posting di akun facebook saya Ahmed Zain Oul Mottaqin kemarin dan mendapat antusiasme besar. Dalam waktu 14 jam terakhir tulisan tersebut sudah dishare 588 kali dan di-like 1.343 orang. Berikut paparan saya:
PERANCIS, ASSAD SUDAH PERINGATKAN JANGAN TERNAK ANJING GILA, KAU TAK MENGGUBRISNYA!
Karma. Anda tahu apa itu karma? Karma itu apa yang terjadi di Perancis kemarin.
Insiden terorisme di sebuah Hall konser di Timur Paris, ratusan tewas. Presiden Perancis Francois Hollande menyatakan setidaknya 127 warga sipil tewas dan puluhan disandera. Apa belum pernah ada yang memperingatkan kalian soal ini?
Dialah Bashar al Assad, Presiden Suriah yang hendak kalian gulingkan itu. Ia sudah berkali-kali memperingatkan agar dunia tidak mensponsori para teroris asing yang "berjihad" di negaranya. Eropa tidak menggubrisnya ketika pada 28 November 2014 ia berkata:
"Prosentase terbesar dari para teroris Eropa yang datang ke negeri kami berasal dari Perancis. Dan kalian punya beberapa insiden terorisme di Perancis. Terorisme di Eropa tidak lagi tertidur, mereka telah dibangkitkan (oleh pemerintahnya sendiri)."
Assad sudah berkali-kali memperingatkan bahwa ribuan teroris asal Eropa yang "berjihad" di Suriah dan mendapat sokongan dari Rezim-rezim NATO itu suatu saat akan pulang dan membuat ulah di negaranya masing-masing.
Masih ingat kan pada 20 Januari 2014 Assad berkata: "Negara-negara Barat telah kehilangan kredibilitasnya. Mereka telah menjual prinsip-prinsip mereka demi kepentingan semata. Saya tidak mempercayai Eropa, khususnya Perancis, kecuali ia mengubah kebijakan luar negerinya." Masih ingat kan saat Assad mengatakan ini? "Kami telah menyeru Barat agar mereka tidak menyokong Terorisme (di negeri kami) dan memberikannya perlindungan politik. Karena ini pasti akan berdampak pada negara kalian dan rakyat kalian sendiri. Mereka tidak mendengarkan kami."
Eropa mengetahui industri Takfirisme dan Radikalisme itu sangat potensial. Demi menggulingkan Rezim Assad, NATO bersama USA dan Rezim-rezim Teluk menyirami bibit itu, menghabiskan Milyaran dollar untuk membesarkannya, menyokongnya, mempersenjatainya dan menyediakan kamp-kamp pelatihan untuknya di Jordania, Turki, Qatar dll lalu melepasnya di Suriah guna menggulingkan Rezim.
Tapi mereka lupa satu hal! Resiko beternak anjing gila, sang majikan pun bisa kena gigitannya. Karena hakikatnya anjing gila hanya tahu mengamuk. Para monster ini menganggap kafir, thoghut dan layak mati semua orang yang tak sejalan, meski terhadap tangan yang selama ini memberinya makan sekalipun.
Siapa yang menyuruh kalian memelihara teroris? Bukankah Assad sudah memperingatkan kalian dengan kalimat berikut: "Terorisme bukanlah sebuah kartu yang bisa anda mainkan dan anda masukan kembali ke dalam kantong. Seperti kalajengking, ia akan menyengat setiap saat."
Masih ingat kah anda saat Assad mengatakan ini? "Barat telah menghabiskan 10 tahun untuk memerangi Terorisme. Mereka telah membunuh jutaan manusia dengan dalih ini. Dan kini mereka menyokong para teroris yang sama di Suriah. Dan kini aku yang jadi penjahatnya?"
Saya tanya sekali lagi, siapa yang menyuruh kalian beternak teroris? Bukankah Assad sudah berkali-kali memperingatkan kalian!
Assad juga pernah berkata: "Barat telah bersepakat dengan para teroris dengan cara yang paling munafik. Mereka menyebutnya Terorisme jika aksi tersebut menghantam mereka, namun menyebutnya Revolusi, Pembebasan, Demokrasi dan HAM jika itu menghantam kami (Suriah)."
Apa yang ingin kalian katakan sekarang wahai Hipokrit? Dengarkan! sekali lagi dengarkan wahai Rezim-rezim yang menghabiskan uangnya di jalan setan, apa yang lagi-lagi pernah dikatakan Pemimpin Syam ini.
"Para teroris hanya memiliki satu pesan. Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka semua siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup."
Jangan menangis! Terlambat untuk menangis. Assad sudah 4,5 tahun menghadapi puluhan ribu teroris bersenjata binaan kalian dan sampai hari ini ia tetap tegar. Sedangkan kalian baru menghadapi beberapa teroris yang kalian biayai sendiri sudah kelabakan.
Jangan sampai setelah ini kalian kembali menyalahkan Rusia (seperti yang biasanya NATO lakukan) dengan berkata "Gara-gara Rusia mengamuk di Suriah, akhirnya para teroris binaan kami kabur pulang kampung ke Eropa dan membuat ulah."
Siapa suruh ternak anjing gila?
Friday, 23 October 2015
[Dunia] Kunjungan Kejutan Assad
Rusia Sambut Kunjungan Kejutan Assad, AS Meradang
Presiden Suriah, Bashar al-Assad (kiri) lakukan kunjungan kejutan ke Moskow yang membuat AS meradang. (Sputnik)
Pemerintah Amerika Serikat (AS) meradang dengan sikap Rusia yang menyambut kunjungan kejutan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Presiden Assad dalam kunjungan langkanya itu mengucapkan terima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang menolong Suriah. Gedung Putih mengecam Rusia yang mereka anggap menyiapkan “karpet merah” untuk Assad di Moskow. ”Kami melihat sambutan karpet merah untuk Assad, yang telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri,” kata juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/10/2015).
“Itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang menyakan akan menciptakan transisi politik di Suriah,” lanjut Schultz. Departemen Luar Negeri AS, mengaku tidak terkejut dengan kunjungan pertama Assad ke luar negeri sejak awal perang sipil di Suriah itu. ”Ini tidak mengherankan bahwa Bashar al-Assad akan melakukan perjalanan ke Moskow, mengingat hubungan Suriah dengan Rusia, dan mengingat kegiatan militer baru-baru ini oleh Rusia di Suriah atas nama Bashar al-Assad,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby.
Dalam kunjungan langkanya ke Moskow, Assad disambut Presiden Putin. Dia mengucapkan terima kasih kepada Rusia untuk dukungan militer Kremlin dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Suriah. ”Teroris akan menduduki wilayah yang jauh lebih besar jika tidak ada bantuan militer Rusia," kata Presiden Assad. ”Satu-satunya tujuan bagi kita semua adalah rakyat Suriah yang ingin melihat masa depan negara mereka,” lanjut Assad. (mas)
AS Cs Marah Besar Rusia Buat Langkah Mengerikan
Kunjungan kejutan Presiden Suriah Bashar Assad ke Moskow dinilai sebagai indikasi bahwa pemimpin Suriah itu jadi lebih percaya diri di panggung dunia karena dibela Rusia. Menurut para analis politik dan perang, kunjungan Assad itu telah membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di NATO marah besar. ”Kami melihat Rusia mengambil peran kepemimpinan di panggung internasional,” kata analis geopolitik Patrick Henningsen kepada Russia Today, semalam. Dia menekankan bahwa upaya Barat untuk mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah “menyeret tanpa hasil yang konklusif”.
“Rusia pada dasarnya ada di pihak bawah tanah yang telah berlangsung selama empat tahun,” kata Henningsen mengacu dukungan Kremlin untuk rezim Suriah sejak awal perang sipil di Suriah. ”Negara-negara seperti AS, Turki, Yordania dan sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis telah mampu beroperasi dalam bayang-bayang. Rusia pada dasarnya menerobos dan menyalakan lampu,” ujarnya. ”Mereka sangat marah di Washington dan masih membuang amarah, dan mengatakan Rusia telah membuat langkah yang mengerikan,” imbuh Henningsen.
Dia berpendapat bahwa AS sejatinya ingin sekali melihat Rusia sama seperti saat berada di Afghanistan yang mengalami kekalahan di masa lalu. Hanya saja, operasi militer Rusia di Suriah kali ini sangat berbeda dibanding saat mereka beraksi di Afghanistan. ”Karena Rusia telah diundang oleh pemerintah yang terpilih secara demokratis hukum di Damaskus,” kata Henningsen, mengacu pada permintaan resmi Presiden Assad. Henningsen mengatakan bahwa jika Barat benar-benar serius menangani ancaman teroris, mereka akan bekerja dengan pemerintah Assad. Sebab, kekuatan darat mereka memiliki dasar intelijensi.
”Ini adalah apa yang Rusia lakukan. Negara ini baru saja pergi dan telah bekerja dengan pemain kunci yang mereka butuhkan untuk bekerja,” imbuh dia. Henningsen menambahkan bahwa dengan 22.000 bom yang dijatuhkan koalisi AS terhadap basis ISIS dalam 13 bulan terakhir, seharusnya kelompok itu sudah lenyap. Suriah Ingin Dipecah Pakar Timur Tengah, Willy Van Damme, mengatakan bahwa AS dan sekutu Barat serta Arab-nya telah berada dalam kekacauan yang lengkap. Mereka, kata, Damme, kini saling berdebat satu sama lain.
“Beberapa dari mereka ingin membagi Suriah, sedangkan yang lain ingin menaklukkannya seperti Prancis, Turki yang ingin bagian dari Suriah utara dimasukkan dalam semacam Kekaisaran Ottoman dengan ‘Sultan’ (Recep Tayyip) Erdogan.” Daniele Ganser, seorang peneliti perdamaian dan ahli NATO, mengatakan strategi Pentagon dalam perang melawan ISIS dan sekaligus mendukung militan yang melawan Assad sama sekali tidak bekerja.
“Pentagon selalu mengatakan, 'Kami tidak ingin menjatuhkan senjata ke ISIS,' dan mereka selalu mengatakan mereka tidak mendukung musuh radikal Assad. 'Kami mendukung musuh moderat Assad’,” kata Ganser menirukan klaim AS selama ini. ”Ini selalu menjadi perbedaan yang sangat sulit untuk, membuat kami paham, kami memiliki orang-orang di Irak yang berjuang di gadis depan bertahun-tahun lalu dan mengatakan, 'Ada senjata yang dijatuhkan oleh Inggris dan AS' dan senjata itu jatuh ke tangan ISIS," imbuh Ganser. (mas)
Rusia Nilai Sikap AS Soal Kunjungan Assad Berlebihan
Rusia menilai sikap Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Rusia telalu berlebihan. (Itar-tass)
Rusia menilai sikap Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Rusia telalu berlebihan. Negeri Beruang Merah itu benar-benar mengaku kecewa dengan sikap yang ditunjukan oleh AS.
"Kami hanya bisa menyesali bahwa Washington melihat dengan kecurigaan dan permusuhan upaya kami, yang dilakukan pada tingkat tertinggi dengan tujuan untuk menyelesaikan krisis, yang sebagian besar dari kebijakan dan kekeliruan AS di Timur Tengah," Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov saat melakukan kunjungan kerja ke Argentina, seperti dilansir Itar-tass pada Kamis (22/10).
Seperti diketahui, Gedung Putih mengecam Rusia yang mereka anggap menyiapkan “karpet merah” untuk Assad di Moskow. Menurut mereka, sikap Rusia yang menerima Assad itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang akan menciptakan transisi politik di Suriah. ”Kami melihat sambutan karpet merah untuk Assad, yang telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang akan menciptakan transisi politik di Suriah," ujar juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz.
Terkait pernyataan Schultz tersebut, Ryabkov juga tidak luput untuk memberikan komentar. Menurutnya, dalam pembicaraan antara Assad dan Presiden Rusia Vladimir Putin, isu mengenai penyelesaikan konflik melalui jalur politik di Suriah menjadi pembahasan utama. "Selama pembicaraan di Kremlin, penyelesaian konflik di Suriah melalui jalur politik menjadi fokus perhatian. Percakapan terbuka antara Presiden Rusia dengan Presiden Suriah yang sah telah menjadi prioritas utama untuk mencari cara untuk solusi politik," ucapnya. (esn)
sindonews
Presiden Suriah, Bashar al-Assad (kiri) lakukan kunjungan kejutan ke Moskow yang membuat AS meradang. (Sputnik)
Pemerintah Amerika Serikat (AS) meradang dengan sikap Rusia yang menyambut kunjungan kejutan Presiden Suriah, Bashar al-Assad.
Presiden Assad dalam kunjungan langkanya itu mengucapkan terima kasih kepada Presiden Rusia Vladimir Putin yang menolong Suriah. Gedung Putih mengecam Rusia yang mereka anggap menyiapkan “karpet merah” untuk Assad di Moskow. ”Kami melihat sambutan karpet merah untuk Assad, yang telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri,” kata juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz, seperti dikutip Reuters, Kamis (22/10/2015).
“Itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang menyakan akan menciptakan transisi politik di Suriah,” lanjut Schultz. Departemen Luar Negeri AS, mengaku tidak terkejut dengan kunjungan pertama Assad ke luar negeri sejak awal perang sipil di Suriah itu. ”Ini tidak mengherankan bahwa Bashar al-Assad akan melakukan perjalanan ke Moskow, mengingat hubungan Suriah dengan Rusia, dan mengingat kegiatan militer baru-baru ini oleh Rusia di Suriah atas nama Bashar al-Assad,” kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS, John Kirby.
Dalam kunjungan langkanya ke Moskow, Assad disambut Presiden Putin. Dia mengucapkan terima kasih kepada Rusia untuk dukungan militer Kremlin dalam mempertahankan kedaulatan wilayah Suriah. ”Teroris akan menduduki wilayah yang jauh lebih besar jika tidak ada bantuan militer Rusia," kata Presiden Assad. ”Satu-satunya tujuan bagi kita semua adalah rakyat Suriah yang ingin melihat masa depan negara mereka,” lanjut Assad. (mas)
AS Cs Marah Besar Rusia Buat Langkah Mengerikan
Kunjungan kejutan Presiden Suriah Bashar Assad ke Moskow dinilai sebagai indikasi bahwa pemimpin Suriah itu jadi lebih percaya diri di panggung dunia karena dibela Rusia. Menurut para analis politik dan perang, kunjungan Assad itu telah membuat Amerika Serikat (AS) dan sekutunya di NATO marah besar. ”Kami melihat Rusia mengambil peran kepemimpinan di panggung internasional,” kata analis geopolitik Patrick Henningsen kepada Russia Today, semalam. Dia menekankan bahwa upaya Barat untuk mengalahkan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) telah “menyeret tanpa hasil yang konklusif”.
“Rusia pada dasarnya ada di pihak bawah tanah yang telah berlangsung selama empat tahun,” kata Henningsen mengacu dukungan Kremlin untuk rezim Suriah sejak awal perang sipil di Suriah. ”Negara-negara seperti AS, Turki, Yordania dan sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis telah mampu beroperasi dalam bayang-bayang. Rusia pada dasarnya menerobos dan menyalakan lampu,” ujarnya. ”Mereka sangat marah di Washington dan masih membuang amarah, dan mengatakan Rusia telah membuat langkah yang mengerikan,” imbuh Henningsen.
Dia berpendapat bahwa AS sejatinya ingin sekali melihat Rusia sama seperti saat berada di Afghanistan yang mengalami kekalahan di masa lalu. Hanya saja, operasi militer Rusia di Suriah kali ini sangat berbeda dibanding saat mereka beraksi di Afghanistan. ”Karena Rusia telah diundang oleh pemerintah yang terpilih secara demokratis hukum di Damaskus,” kata Henningsen, mengacu pada permintaan resmi Presiden Assad. Henningsen mengatakan bahwa jika Barat benar-benar serius menangani ancaman teroris, mereka akan bekerja dengan pemerintah Assad. Sebab, kekuatan darat mereka memiliki dasar intelijensi.
”Ini adalah apa yang Rusia lakukan. Negara ini baru saja pergi dan telah bekerja dengan pemain kunci yang mereka butuhkan untuk bekerja,” imbuh dia. Henningsen menambahkan bahwa dengan 22.000 bom yang dijatuhkan koalisi AS terhadap basis ISIS dalam 13 bulan terakhir, seharusnya kelompok itu sudah lenyap. Suriah Ingin Dipecah Pakar Timur Tengah, Willy Van Damme, mengatakan bahwa AS dan sekutu Barat serta Arab-nya telah berada dalam kekacauan yang lengkap. Mereka, kata, Damme, kini saling berdebat satu sama lain.
“Beberapa dari mereka ingin membagi Suriah, sedangkan yang lain ingin menaklukkannya seperti Prancis, Turki yang ingin bagian dari Suriah utara dimasukkan dalam semacam Kekaisaran Ottoman dengan ‘Sultan’ (Recep Tayyip) Erdogan.” Daniele Ganser, seorang peneliti perdamaian dan ahli NATO, mengatakan strategi Pentagon dalam perang melawan ISIS dan sekaligus mendukung militan yang melawan Assad sama sekali tidak bekerja.
“Pentagon selalu mengatakan, 'Kami tidak ingin menjatuhkan senjata ke ISIS,' dan mereka selalu mengatakan mereka tidak mendukung musuh radikal Assad. 'Kami mendukung musuh moderat Assad’,” kata Ganser menirukan klaim AS selama ini. ”Ini selalu menjadi perbedaan yang sangat sulit untuk, membuat kami paham, kami memiliki orang-orang di Irak yang berjuang di gadis depan bertahun-tahun lalu dan mengatakan, 'Ada senjata yang dijatuhkan oleh Inggris dan AS' dan senjata itu jatuh ke tangan ISIS," imbuh Ganser. (mas)
Rusia Nilai Sikap AS Soal Kunjungan Assad Berlebihan
Rusia menilai sikap Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Rusia telalu berlebihan. (Itar-tass)
Rusia menilai sikap Amerika Serikat (AS) terkait kunjungan Presiden Suriah Bashar al-Assad ke Rusia telalu berlebihan. Negeri Beruang Merah itu benar-benar mengaku kecewa dengan sikap yang ditunjukan oleh AS.
"Kami hanya bisa menyesali bahwa Washington melihat dengan kecurigaan dan permusuhan upaya kami, yang dilakukan pada tingkat tertinggi dengan tujuan untuk menyelesaikan krisis, yang sebagian besar dari kebijakan dan kekeliruan AS di Timur Tengah," Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Ryabkov saat melakukan kunjungan kerja ke Argentina, seperti dilansir Itar-tass pada Kamis (22/10).
Seperti diketahui, Gedung Putih mengecam Rusia yang mereka anggap menyiapkan “karpet merah” untuk Assad di Moskow. Menurut mereka, sikap Rusia yang menerima Assad itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang akan menciptakan transisi politik di Suriah. ”Kami melihat sambutan karpet merah untuk Assad, yang telah menggunakan senjata kimia terhadap rakyatnya sendiri. Itu bertentangan dengan tujuan Rusia yang akan menciptakan transisi politik di Suriah," ujar juru bicara Gedung Putih, Eric Schultz.
Terkait pernyataan Schultz tersebut, Ryabkov juga tidak luput untuk memberikan komentar. Menurutnya, dalam pembicaraan antara Assad dan Presiden Rusia Vladimir Putin, isu mengenai penyelesaikan konflik melalui jalur politik di Suriah menjadi pembahasan utama. "Selama pembicaraan di Kremlin, penyelesaian konflik di Suriah melalui jalur politik menjadi fokus perhatian. Percakapan terbuka antara Presiden Rusia dengan Presiden Suriah yang sah telah menjadi prioritas utama untuk mencari cara untuk solusi politik," ucapnya. (esn)
sindonews
Wednesday, 14 October 2015
[Dunia] Saudi kepada Rusia: Aksi Kalian Bahayakan Dunia
Pesawat tempur canggih Rusia Mig 31 kini mengangkasa di langit Suriah
untuk apa yang kemudian disebut Rusia demi memerangi ISIS (Reuters)
Seorang sumber dari Arab Saudi mengatakan bahwa para pemimpin Saudi telah mengeluarkan peringatan bahwa intervensi militer Rusia di Suriah akan berkonsekuensi membahayakan dengan meluasnya peperangan di sana dan mengilhami para militan seluruh dunia untuk ikut serta dalam perang itu.
Arab Saudi akan terus memperkuat dan mendukung oposisi moderat di Suriah, kata sumber tadi mengutip kalimat keras yang disampaikan Menteri Pertahanan Saudi Mohammed bin Salman dan Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir.
Kedua menteri bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.
Saudi mendesak Rusia untuk membantu memerangi terorisme di Suriah dengan bergabung pada koalisi anti-ISIS yang sudah terbentuk yang beranggotakan 20 negara.
Saudi juga mengulangi sikapnya bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad harus mundur sebagai bagian dari proses damai di Suriah, demikian Reuters.
Antara
Seorang sumber dari Arab Saudi mengatakan bahwa para pemimpin Saudi telah mengeluarkan peringatan bahwa intervensi militer Rusia di Suriah akan berkonsekuensi membahayakan dengan meluasnya peperangan di sana dan mengilhami para militan seluruh dunia untuk ikut serta dalam perang itu.
Arab Saudi akan terus memperkuat dan mendukung oposisi moderat di Suriah, kata sumber tadi mengutip kalimat keras yang disampaikan Menteri Pertahanan Saudi Mohammed bin Salman dan Menteri Luar Negeri Saudi Adel al-Jubeir.
Kedua menteri bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov.
Saudi mendesak Rusia untuk membantu memerangi terorisme di Suriah dengan bergabung pada koalisi anti-ISIS yang sudah terbentuk yang beranggotakan 20 negara.
Saudi juga mengulangi sikapnya bahwa Presiden Suriah Bashar al-Assad harus mundur sebagai bagian dari proses damai di Suriah, demikian Reuters.
Antara
Subscribe to:
Posts (Atom)
