Tuesday, 13 October 2015

Negara Butuh 100 Juta Rakyat Untuk Bela Negara, Mirip Wajib Militer

Kementerian Pertahanan membentuk 4.500 kader Pembina Bela Negara di 45 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Ditargetkan ada 100 juta rakyat yang mau ikut dalam program ini.

"Dalam pertahanan negara, faktor jumlah penduduk potensial untuk pembelaan negara masih menjadi salah satu perhitungan utama. Indonesia yang punya populasi 250 juta memiliki 100 juta penduduk yang potensial untuk melibatkan dalam pembelaan negara sebagai kader militan," kata Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu saat jumpa pers di Kantornya, Senin (12/10).

Penyelenggaraan pembentukan Kader Pembina Bela Negara akan dibuka secara serentak pada Senin (19/10) pekan depan. Menurut mantan Kepala Staf Angkatan Darat, program Bela Negara berkelanjutan hingga tahun 2025 mendatang untuk mempunyai kader Bela Negara.

Negara butuh 100 juta rakyat buat Bela Negara, mirip Wajib Militer
Dia mengharapkan pada tahun 2016 dapat diselenggarakan oleh Pemda yang bekerjasama dengan TNI dan Polri. Namun, pemerintah bungkam perihal dana yang dipakai untuk melaksanakan program ini.

Dalam program ini, lanjut dia, para masyarakat sipil yang ikut akan dilatih selama sebulan. Usai mendapat latihan, mereka akan mendapat sebuah kartu anggota Bela Negara. Sayangnya, kartu itu tidak mempunyai nilai khusus bagi warga yang pernah mengikuti pelatihan Bela Negara.

"Kami mengajak komponen bangsa untuk berperan aktif mengikuti pembentukan kader negara. Kader yang dibentuk untuk mewujudkan Indonesia yang kuat di tengah kompleksitas berbagai bentuk ancaman nyata. Bela Negara bukan wajib militer namun sebagai perwujudan hak dan kewajiban negara yang perlu disiapkan," ujar dia.

Dia menambahkan, maksimal umur yang boleh mengikuti yaitu di bawah 50 tahun. Tempat-tempat kader Bela Negara di Rindam, Kodam, Korem dan lain sebagainya.

Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan, Mayjen Hartind Asrin menambahkan, materi Bela Negara nantinya meliputi, pemahaman empat pilar negara, sistem pertahanan semesta dan pengenalan alutsista TNI. Juga ditambah lima nilai cinta tanah air, sadar bangsa, rela berkorban, dan pancasila sebagai dasar negara.

Untuk pelatihan fisik, kata Hartind, tidak terlalu dibebankan. "Fisik cuma baris berbaris saja. Rohaninya yang kita isi dengan jiwa nasionalisme," tukas dia. 
 

Penandatanganan Kontrak Sukhoi Su-35BM Masih Perlu Waktu

Pengadaan Sukhoi Su-35BM ada dalam MEF II. Pada Akhir MEF III, TNI AU akan berkekuatan 11 skuadron, berarti akan ada tambahan tiga skuadron pesawat tempur baru.

Super Flanker Su 35 [Marina]  

Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, menegaskan, kontrak pembelian pesawat tempur Sukhoi Su-35BM buatan Rusia, masih memerlukan waktu dan proses pembiayaan ada di tangan Kementerian Keuangan dan Bappenas.

“Lihat waktu yang baik, dan saya sudah ke sana juga. Kenapa kami pilih itu? Pasti ada… ada… ada… yang kita perlukan,” katanya, kepada pers, di Jakarta, Senin. Sebelumnya, penandatangan kontrak pembelian Sukhoi Su-35BM yang diproyeksikan menggantikan F-5E/F Tiger II di Skuadron Udara 14 TNI AU dikatakan terjadi pada September 2015 ini.

Dia juga katakan, proses pengadaan dan akuisisi Sukhoi Su-35BM itu memerlukan skema pembiayaan yang tidak sedikit dan mudah. “Ada di Kementerian Keuangan dan Bappenas,” katanya. Saban mengakuisisi sistem persenjataan, amanat pasal 43 UU Nomor 16/2012 tentang Industri Pertahanan mengharuskan pengguna memakai produksi dalam negeri. Akan halnya sistem persenjataan itu belum bisa dibuat di Indonesia maka pabrikan harus menyertakan proses produksi dengan industri persenjataan Indonesia dengan kewajiban transfer teknologi dan transfer pengetahuan.

Itu masih ditambah dengan imbal dagang, memberi kandungan domestik paling tidak 35 persen dari semua komponen dengan peningkatan 10 persen tiap lima tahun, dan offset paling tidak 85 persen. Tentang skema transfer teknologi ini, Ryacudu menyatakan, “Paling tidak kalau ada kerusakan bisa kita perbaiki sendiri.”

Tender Terbuka

Indonesia telah menetapkan garis besar pembangunan postur pertahanan nasionalnya yang dinyatakan dalam program Pembangunan Kekuatan Esensial Minimum (KEM/MEF), yang dibagi ke dalam tiga tahapan. Skema waktunya KEM/MEF itu adalah: MEF I (2009-2014), MEF II (2015-2019), dan MEF III (2019-2024). Pengadaan Sukhoi Su-35BM ini ada dalam MEF II. Pada akhir MEF III pada 2024 nanti, TNI AU akan berkekuatan 11 skuadron pesawat tempur dan delapan skuadron pesawat angkut serta tambahan beberapa skuadron helikopter.

Ini berarti akan ada tambahan tiga skuadron pesawat tempur baru. Tentang proses pengadaan sistem persenjatan di lingkungan TNI AU pada MEF II (2019-2024) nanti itu, Ryacudu berujar, “Semua proses tender ini terbuka khan." "Tapi saya ingatkan, yang lama-lama, yang sudah karatan agar diganti, jangan mencengkeram terus," kata dia, mengacu pada pihak-pihak yang selama ini sudah terlalu lama mencengkeram proses pengadaan sistem persenjataan di lingkungan TNI.

Dia tegaskan, “Saya tidak suka itu, kita bukan monopoli. Semuanya akan diundang, tender tidak lagi diikuti yang itu-itu saja pihak dan orangnya. Pasti dibuka lagi. Kalau orangnya itu-itu saja gak usah ditender saja.” Terkait biaya operasi Sukhoi Su-35BM yang diketahui tinggi, sementara performansi ekonomi nasional sangat terpengaruh fluktuasi ekonomi global dan masa pemakaian pesawat tempur yang diharapkan bisa 25 tahun, dia berujar, “Kita harap nanti bisa membaik.”

Antara

Helikopter NATO Jatuh di Afghanistan

Lima Orang Tewas

Ilustrasi helikopter puma milik RAF. (Chris Jackson/Getty Images)

Lima personel Resolute Support Mission, pimpinan NATO, tewas setelah satu helikopter koalisi tersebut jatuh di Ibu Kota Afghanistan, Kabul, kata misi NATO itu pada Senin.

"Satu helikopter koalisi yang bertugas di Resolute Support Mission jatuh dalam kejadian yang tidak melibatkan permusuhan pada 11 Oktober, sekita pukul 16.15 waktu setempat di Camp Resolute Suppor, Kabul, Afghanistan," kata misi tersebut di dalam satu pernyataan.

Lima prajuris asing cedera dalam kejadian itu, kata pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Senin siang. Pernyataan tersebut tidak menyebutkan kewarganegaraan korban maupun perincian mengenai kecelakaan itu. "Peristiwa tersebut saat ini sedang diselidiki. Kami akan menyiarkan informasi tambahan ...," katanya.

Itu adalah kecelakaan udara kedua di negeri tersebut tahun ini. Pada 2 Oktober, satu pesawat angkut bermesin-empat C-130 miliki koalisi itu jatuh di Kota Jalalabad di bagian timur Afghanistan, menewaskan enam prajurit AS dan lima penumpang sipil. Kecelakaan helikopter tersebut telah membuat jumlah prajurit asing yang tewas di Afghanistan jadi 22 sepanjang tahun ini. Hampir 13.000 prajurit asing kini ditempatkan di negeri itu dan terlibat dalam Resolute Support Mission.

 Antara

Pameran Senjata, Siswa SD Berebut Naik Ranpur

Beberapa siswa sekolah dasar berebut naik kendaraan tempur milik TNI AD yang dihadirkan dalam pameran alutsista yang digelar di kampus Universitas Sriwijaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Senin (12/10;/2015).

Puluhan siswa sekolah dasar berebut naik ke kendaraan milik TNI yang dipamerkan dalam pameran alutista di lapangan Universitas Sriwijaya Indralaya, Ogan Ilir Sumatera Selatan, Senin (12/10/2015).

Anak-anak itu sangat gembira karena baru kali ini mereka melihat bahkan dapat menaiki kendaraan militer yang biasanya hanya bisa ditonton di televisi itu.  Tak hanya menaiki kendaraan tempur itu, para siswa SD hingga mahasiswa berebut berfoto di dekat kendaraan-kendaraan militer tersebut.

Kasdam II Sriwijaya Brigjen TNI Komarudin Simanjuntak yang membuka bersama Rektor Unsri Prof Badia Perizade, juga tak segan melayani pengunjung yang ingin berfoto bersama dilokasi pameran. “Beralatan militer ini dibeli dengan uang rakyat jadi rakyat boleh menikmatinya,” kata Komarudin.

Kasdam menambahkan, pameran ini dilaksanakan di dalam kampus Universitas Sriwijaya dengan tujuan untuk lebih mendekatkan TNI, khususnya TNI AD dengan mahasiswa yang merupakan calon pemimpin masa depan bangsa. Selain kendaraan tempur, pameran itu juga menampilkan persenjataan TNI mulai dari pistol hingga senapan sniper.

Pengunjungpun sangat antusias melihat senjata-senjata yang ditampilkan. Beberapa dari mereka bahkan mencoba memegangnya. Yuspita Rahayu, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Unsri mengaku senang dengan pameran tersebut. Dia mengatakan, pameran tersebut dapat membuka wawasannya tentang dunia milter yang selama ini asing bagi dirinya.

“Cukup baik ya, karena dapat menambahkan pengetahuan mahasiswa tentang peralatan tempur yang ada di angkatan darat, ini juga dapat menarik mahasisiwa yang ingin berkarier di dunia militer” katanya.

Sementara itu,  Gerry Yospalenti, siswa SDN 6 Indralaya Utara Ogan Ilir juga mengaku sangat senang bisa hadir di pameran itu terutama dengan kejadiran beberapa kendaraan militer yang menurutnya “keren” itu. “Senang karena bagus dan keren,” katanya.

Gerry  berharap dia kelak dapat jadi anggota TNI sesuai dengan cita-citanya. Dalam pameran itu juga digelar peragaan bongkar pasang senjata jenis senapan yang dilakukan anggota resimen mahasiswa (MENWA) Universitas Sriwijaya di hadapan Kasdam II Sriwijaya Brigjen TNI Komarudin Simanjuntak.

Pindad dan LEN Sepakati Kerjasama Alkom untuk Kendaraan Khusus

PT Pindad (Persero) sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang manufaktur alat utama sistem persenjataan dan industri komersial, memiliki keinginan untuk terus melakukan sinergi dengan perusahaan BUMN lain untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional. Oleh karena itu, pada 9 Oktober 2015, Pindad menyepakati kerjasama dengan salah satu perusahaan industri pertahanan yang bergerak di bidang rekayasa dan manufaktur dalam bidang elektronika pertahanan, navigasi, perkeretaapian, renewable energy, information technology, dan telekomunikasi, PT LEN Industri (Persero).

Kerjasama tersebut tertuang dalam sebuah Nota Kesepahaman antara PT Pindad (Persero) dan PT LEN Industri (Persero) dalam kerjasama dan sinergi alat komunikasi Ranpur Anoa dan Rantis Komodo. Silmy Karim, Direktur Utama PT Pindad (Persero) dan Abraham Mose selaku Direktur Utama PT LEN Industri (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman ini dari masing-masing pihak. Penandatanganan ini dilakukan di sela-sela perayaan Hari Ulang Tahun yang ke-24 PT LEN Industri (Persero) yang juga dihadiri oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, para Direktur BUMN, dan kepala dari beberapa institusi pemerintahan.

Silmy Karim mengatakan bahwa kerjasama ini merupakan salah satu usaha lain untuk mencapai cita-cita luhur industri pertahanan nasional. “Kerjasama ini adalah suatu bentuk lain dari sinergi antar perusahaan BUMN dengan harapan mampu menciptakan kemandirian industri pertahanan nasional. Selain itu, kami ingin produk kendaraan khusus produksi Pindad didominasi dengan komponen-komponen dalam negeri agar kandungan lokalnya bertambah, sesuai dengan arahan pemerintah,” tuturnya. 

 Semangat kemandirian tersebut disambut baik oleh Abraham Mose dalam kata sambutannya, yang menyatakan bahwa kemandirian teknologi sudah tertuang dalam nilai-nilai perusahaan yang dianut PT LEN. “Kompetensi kita adalah berinovasi dalam menciptakan sistem maupun produk yang inovatif. Semangat itu tertera dalam corporate value dari PT LEN yaitu inovasi yang menciptakan kemandirian teknologi yang berdaya saing,” ujarnya. 

Rini Soemarno juga menambahkan bahwa sinergi antar BUMN sangat diperlukan untuk membawa Indonesia selangkah lebih maju dari negara-negara lain. “BUMN harus berpikir besar. Saya harapkan BUMN bisa menjadi mesin penggerak dan Indonesia adalah bangsa besar dan bisa melakukan apa yang tidak bisa bangsa lain lakukan. Saya yakin BUMN bisa melebarkan sayapnya jika dapat terus berkembang serta dapat terus bersinergi secara mendalam dan terus-menerus dengan BUMN lainnya,” ujar Rini. 

Diharapkan sinergi yang dilakukan PT Pindad dan PT LEN Industri ini dapat membawa industri pertahanan selangkah lagi menuju kemandirian yang dicita-citakan bersama. (Anggia)

Kunjungan Thales, Membuka Jalan Kemitraan Strategis

Perusahaan multinasional asal Perancis, Thales Group, mengunjungi PT Pindad (Persero) pada 7 Oktober 2015. Kunjungan ini dipimpin oleh David Butler, selaku Director of the Leadership Practice Thales University dan bertujuan untuk mengetahui beberapa hal mengenai peluang kerjasama yang dapat dijallin bersama PT Pindad (Persero). Rombongan diterima oleh Kepala Divisi Pemasaran dan Pengembangan Bisnis PT Pindad, Widjajanto.

Dalam kata sambutannya, Widjajanto mengatakan bahwa visi Pindad untuk menjadi perusahaan pertahanan terkemuka di Asia dapat tercapai lewat beberapa hal, salah satunya adalah kemitraan strategis. “Saya ingin menekankan bahwa Pindad memiliki target untuk menjadi perusahaan terkemuka di Asia melalui kemitraan strategis. Saya yakin kunjungan Anda sekalian ke sini akan membawa kabar baik mengenai kemungkinan kerjasama. Kami juga sedang melakukan diskusi intensif mengenai beberapa portofolio produk dari Thales,” ujar Widjajanto.

David Butler mengungkapkan bahwa beberapa aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Pindad dinilainya sesuai dengan hal-hal yang ingin dilakukan oleh Thales. “Kami mengunjungi beberapa perusahaan minggu ini dan ini adalah pertama kalinya kami mendengar keinginan suatu perusahaan (Pindad) untuk mengekspor produk-produknya. Poin ini merupakan hal baik yang sejalan dengan apa yang Thales ingin lakukan,” ujar David.

Dalam sesi diskusi, Widjajanto mengatakan bahwa Pindad membutuhkan beberapa teknologi untuk menyempurnakan beberapa lini produk perusahaan, baik untuk produk pertahanan dan keamanan, produk industrial, maupun beberapa hal lain yang mendukung aktivitas bisnis perusahaan. Selain itu, ia menambahkan bahwa Pindad sebagai perusahaan BUMN memerlukan perencanaan yang solid dalam melakukan kemitraan strategis untuk terus membangun kapabilitas dan memperluas pasar, terutama ekspor. 

Para anggota delegasi Thales Group mengunjungi beberapa fasilitas produksi untuk meninjau secara langsung  proses produksi di Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata. Semoga kunjungan ini dapat membuka gerbang kemitraan strategis agar kapabilitas Pindad menjadi lebih baik dan dapat mencapai visi perusahaan. (Anggia)

 Pindad 

CDSS Australia Studi Lapangan di PT Pindad

Sebagai bagian dari kegiatan Field Research Visit di Indonesia, Centre for Defense and Strategic Studies (CDSS) Australia mengunjungi PT Pindad (Persero) pada tanggal 2 Oktober 2015. Dipimpin oleh Michelle Jones sebagai Senior Instructure CDSS Australia, rombongan diterima oleh Direktur Teknologi dan Perkembangan Ade Bagdja di Auditorium Gedung Direktorat Kantor Pusat Pindad, Bandung. Beberapa jajaran pimpinan dan staf terkait PT Pindad (Persero), turut hadir dalam acara ini.

Kunjungan CDSS Australia ini merupakan yang kesekian kalinya setelah beberapa tahun sebelumnya, PT Pindad (Persero) selalu menjadi salah satu perusahaan industri pertahanan yang dapat mewakili seluk beluk industri pertahanan Indonesia. “Kami datang tahun lalu dan mendapatkan banyak cerita baik mengenai apa yang dikerjakan Pindad di sini. Ini merupakan kesempatan yang baik bagi kami untuk dapat melihat secara langsung kapabilitas yang dimiliki PT Pindad (Persero),” tutur Jones dalam kata sambutannya.


Ade Bagdja menyambut dengan gembira kunjungan dari CDSS Australia ini. Ia menyebut kunjungan ini sebagai kehormatan bagi Pindad yang masih dipercaya sebagai representatif industri pertahanan nasional. Ia juga mengatakan bahwa Pindad sangat terbuka untuk memperlihatkan beberapa produk pertahanan dan keamanan, bahkan untuk diuji performanya secara langsung. “Rombongan CDSS nanti akan mengunjungi Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata. Di sana, Anda semua bisa mencoba performa beberapa produk pertahanan dan keamanan kami, baik kendaraan tempur Panser Anoa 6x6, kendaraan taktis 4x4 Komodo, maupun beberapa produk senjata dengan kaliber 5.56 mm, 7.62 mm, 9 mm, dan jika memungkinkan kaliber 12.7 mm,” tutur Ade.

Dua puluh tiga anggota rombongan CDSS yang terdiri dari anggota angkatan bersenjata dari berbagai negara tampak antusias ketika dibuka sesi diskusi yang meliputi berbagai macam topik seperti detail produk, proses penelitian dan pengembangan, serta strategi pengembangan produk yang dilakukan PT Pindad (Persero). Kunjungan hari itu ditutup dengan kunjungan ke beberapa fasilitas produksi untuk produk pertahanan dan keamanan dan mencoba performa produk secara langsung. (Anggia)