Showing posts with label PT Pindad (Persero). Show all posts
Showing posts with label PT Pindad (Persero). Show all posts

Saturday, 19 December 2015

Pindad dan Badak, Sukses Curi Perhatian Presiden di Rapim TNI


Presiden RI, Joko Widodo mengunjungi booth Pindad di sela-sela acara Rapat Pimpinan (Rapim) TNI TA 2016 yang diselenggarakan pada 16-18 Desember 2015 di Markas Besar (Mabes) TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Pada acara ini, PT Pindad (Persero) menampilkan beberapa produk pertahanan dan keamanan andalannya seperti senapan serbu SS1 berbagai varian, SS2 berbagai varian, senapan penembak runduk SPR 2 dan SPR 3, senapan mesin SM1 dan SM2, senjata genggam G2 Elite dan Combat, Mortar Mo-1, Mo-2, dan Mo-3. Selain itu, dipamerkan juga beberapa produk kendaraan khusus seperti Panser Anoa Amphibi dan Panser Kanon 90mm yang sedang mengalami proses sertifikasi Dislitbang AD, Badak. 

Dalam acara yang mengangkat tema “Meningkatkan loyalitas, moralitas, dan integritas sebagai landasan dalam mewujudkan TNI yang kuat, hebat, professional, dan dicintai rakyat” ini, Presiden memberikan apresiasi dan dukungan untuk kehadiran Badak dalam jajaran alutsista TNI yang dipamerkan hari itu. "Panglima TNI dan Kasad tentu akan dukung kehadiran alutsista buatan anak-anak negeri," ujar Jokowi. Rapim TNI TA 2016 dihadiri pula oleh Menko Polhukam Luhut B. Panjaitan, Menlu Retno Marsudi, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki,  Mentan RI Andi Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kasad Jenderal TNI Mulyono, Kasal Laksamana TNI Ade Supandi, Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna dan 182 Perwira Tinggi (Pati) TNI yang terdiri atas 4 pimpinan TNI, 52 pejabat Mabes TNI, 49 pejabat Mabes TNI AD, 39  pejabat TNI AL, 25 pejabat TNI AU, serta 13 orang peninjau. 


Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kasad Jenderal TNI Mulyono yang turut mendampingi kunjungan Presiden Jokowi menyambut baik dukungan Kepala Negara untuk kehadiran panser Badak di jajaran alutsista TNI Angkatan Darat. "Kami ada rencana menggantikan jajaran tank Saladin yang sudah tua dengan Badak buatan Pindad," ujar Kasad. Direktur Komersial Pindad, Widjajanto, mengamini Pernyataan Kasad dan menjelaskan sosok Badak kepada Kepala Negara dan para petinggi TNI yang hadir di booth Pindad. "Pekan lalu Badak dengan dukungan Dislitbang TNI AD telah sukses jalani uji tembak di Cipatat. Akurasi tinggi dan kondisi kendaraan tercatat stabil dalam berbagai posisi penembakan sebagaimana bisa dilihat dalam video presentasi kami," ujar Widjajanto yang mengakhiri paparannya dengan menyerahkan souvenir Badak kepada Kepala Negara disaksikan Panglima TNI dan Kasad.


Badak merupakan produk kendaraan tempur terbaru buatan PINDAD. Panser 6x6 ini memiliki turret 90mm hasil kerjasama Pindad dengan CMI Defense dari Belgia. Dalam paparannya Widjajanto menjelaskan kini staf Pindad telah menyelesaikan program Transfer of Technology dan mampu melakukan proses manufaktur turret 90mm. "Tinggal laras senjata 90mm yang kami import dari Belgia selebihnya dikerjakan oleh anak-anak negeri di pabrik kendaraan tempur Pindad di Bandung," tambahnya. Direncanakan, Pindad siap memroduksi Badak untuk tahun anggaran 2016. (Ryan)

Pindad

Pindad Mulai Produksi Panser Badak Awal 2016

Panser varian terbaru buatan PT Pindad (Persero), Badak, saat ini sedang tahap sertifikasi dari Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Darat. Bila lolos sertifikasi, Panser Badak akan mulai diproduksi massal pada triwulan I-2016.

"Mulai 2016 akan diproduksi massal," kata Kepala Humas Pindad, Herdantono kepada detikFinance, Selasa (15/12/2015).

Dari data Pindad, Panser Badak yang memiliki senjata berat jenis canon 90 mm ini akan diproduksi sebanyak 25 unit sampai 30 unit per tahun. Mulai dari proses pengembangan hingga produksi dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

"Konten lokalnya tinggi kayak Panser Anoa," tambahnya.

Tahap awal, Panser Badak akan diproduksi dan dijual untuk memenuhi Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) TNI.

"Pesan dirut untuk penuhi kemandirian Alutsista. Kalau ke depannya, nanti ada peluang ekspor," jelasnya.

Untuk harga, Hardantono belum bisa menyebutkan karena Panser Badak masih dalam tahap sertifikasi.

"Harga perlu konfirmasi karena panser masih proses sertifikasi," sebutnya.

Detik

Thursday, 19 November 2015

Australia Minati Produk Pindad

CEO Defence Teaming Centre (DTC) Australia Chris Burns mencoba senjata buatan Pindad di lokasi display senjata kantor pusat Pindad

Pemerintah Australia menunjukkan minat terhadap produk-produk alat utama sistem pertahanan (alutsista) buatan PT Pindad.
Memang se jauh ini belum ada detail produk apa saja yang diminati negeri kangguru itu. Direktur Teknologi dan Pengem bangan PT Pindad Ade Bagdja mengatakan, sejauh ini belum ada komitmen yang mengikat selepas penandatanganan kerja sama. Pihaknya bersama pemerintah Australia Selatan masih mengelaborasi detail kebutuhan yang dimungkinkan melalui kerja sama ini. “Yang jelas basisnya harus saling menguntungkan satu sama lain. Tidak hanya Pindad yang jadi pasar mereka, tapi apa yang belum ada di merekapun Pindad supply,” ungkap dia.

Perlu diketahui, PT Pindad dan Defence Teaming Centre (DTC) Australia telah mela kukan penandatanganan kesepakatan kerja di kantor pusat Pindad, kemarin. Disinggung mengenai kemungkinan produk Pindad yang diminati Australia, Ade menyebutkan, pihaknya sangat mengandalkan senapan laras panjang SS2 yang me menangkan berbagai kejuaraan menembak dan diminati banyak negara.

“Kita bisa belajar banyak pengembangan teknologi di Australia yang lebih leading. Propelan untuk sebagian amunisi kita juga merupakan produksi Australia,” kata dia. Dia menerangkan, kerja sama ini merupakan implementasi strategi kebijakan negara bagian Australia Selatan untuk meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan dengan Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

“Semoga kerja sama ini baik Pindad maupun DTC dapat saling bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman, khususnya dalam hal penelitian, pro duksi, dan pemasaran produk kendaraan tempur,” harap Ade. Pada kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan dan Industri Pertahanan Australia Selatan Hon. Martin Hamilton Smith menyatakan, PT Pindad merupakan salah satu perusahaan industri strategis di bidang pertahanan yang patut dipertimbangkan.

“Ada beberapa produk yang membuat kami tertarik. Diantaranya, kendaraan tempur seperti Anoa,” kata dia. Namun begitu, ketika mendapat ditanya kemungkinan Australia membeli Anoa, Smith mengutarakan, pihaknya masih harus mendiskusikan nya. Dia beralasan, terlalu dini untuk memutuskan hal tersebut kendati dalam hal pertahanan, pihaknya memiliki sejumlah program dengan anggaran besar.

“Anggaran industri pertahanan kami nilainya mencapai miliaran dolar Australia,” sebut Martin. Sementara itu, CEO DTC Chris Burns mengatakan, pihaknya siap melakukan berbagai kerjasama bidang pertahanan dengan mana pun termasuk PT Pindad. “Kami siap bekerja sama dengan PT Pindad, baik dalam hal sistem pertahanan maupun sistem dan teknologi. Untuk itu, kami menjajaki kemungkinan-kemungkinan kerjasama ini,” tuturnya.

Ke depannya, dia berharap kerja sama ini dapat meningkatkan hubungan bilateral ke dua negara khususnya di bidang pertahanan dan alutsista. Hadir dalam kunjungan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang sempat mencoba pistol Combat dan senapan SS2 P4. Dia mengapresiasi akurasi tembakan dari kedua senjata ini.

“Dipakai oleh saya yang tidak terlatih saja bisa akurat, apalagi yang sudah terlatih. Produk senjata Pindad memang bagus,” ucap Wagub.

koran-sindo

Sunday, 8 November 2015

Pindad Meraih Penghargaan Top IT 2015

Produk Pindad di masa depan, Anoa Amfibi & Badak [defence.pk]

PT Pindad (Persero) meraih pengharhaan Top IT & Telco 2015 untuk kategori implementasi IT di sektor industri pertahanan. "Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus mengimplementasikan dan memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan performa dan daya saing perusahaan," kata Direktur Utama PT Pindad (Persero), Silmy Karim di Bandung, Ahad (8/11).

Penghargaan diberikan kepada PT Pindad (Persero) karena perusahaan telah berhasil melakukan peningkatan performance dan implementasi teknologi informasi untuk mendukung kelancaran operasional perusahaan. Top IT & Telco 2015 merupakan ajang penghargaan bagi perusahaan yang telah berhasil mengaplikasikan dan memanfaatkan Information and Communications Technology (ICT) untuk meningkatkan performa, daya saing, dan pelayanan bisnis perusahaan.

Pengelolaan teknologi informasi itu, tercantum dalam Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) perusahaan yang menyatakan bahwa dalam salah satu poin strategi fungsional, bidang teknologi informasi diharapkan dapat menyediakan suatu sistem aplikasi yang mendukung strategi korporasi dan strategi usaha setiap lini usaha.

Selain itu menyediakan atau menyajikan informasi buat manajemen, dan mendukung pengelolaan knowledge management. "Divisi Teknologi Informasi berhasil menerapkan Enterprise Resources Planning (ERP) secara menyeluruh di setiap lini bisnis perusahaan," katanya.

Lebih lanjut Simly mennyataan hal itu merupakan hal yang baik dan diharapkan implementasi ERP merupakan salah satu faktor yang dapat berujung kepada operational excellence perusahaan. Peningkatan daya saing perusahaan dianggap penting untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dimulai akhir tahun 2015.

Untuk implementasi teknologi informasi selanjutnya Pindad telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan perusahaan asal Inggris, BAE System untuk memproteksi kepentingan strategis Indonesia dari cyber attack.

"Pindad perlu hadir di sektor cyber karena sektor ini merupakan kebutuhan penting di tanah air dalam melindungi asset strategis nasional lainnya, khususnya di masa depan," kata Silmy.



Saturday, 24 October 2015

Pindad Kebanggaan Angkatan Darat dan Kebanggaan Indonesia


Komandan Komando Pembina Doktrin, Pendidikan dan Latihan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (Dankodiklat TNI AD) , Letnan Jenderal TNI Agus Sutomo beserta rombongan, mengunjungi PT Pindad (Persero) pada 23 Oktober 2015. Didampingi oleh para Komandan Pusat Kesenjataan dan Komandan Pusat Pendidikan yang berada di bawah naungan Kodiklat TNI AD, rombongan diterima oleh Direktur Utama PT Pindad (Persero), Silmy Karim, di Auditorium Gedung Direktorat PT Pindad, Bandung. “Kehadiran kami kali ini secara emosional adalah untuk lebih merasa memiliki, karena Pindad adalah bagian penting bagi Angkatan Darat. Kami berharap Pindad ke depan semakin maju karena modalnya sudah ada, tinggal mendapatkan peluang, ada kemauan, dan akan menuai prestasi,” tutur Agus Sutomo pada kata sambutannya.

Dankodiklat menambahkan bahwa Pindad merupakan bagian dari aset Angkatan Darat yang patut diberi perhatian lebih karena industri pertahanan merupakan bagian dari bagaimana kita memahami postur pertahanan nasional dalam menghadapi ancaman di masa depan. “Pindad adalah industri pertahanan yang merupakan kebanggaan Angkatan Darat dan kebanggaan Bangsa Indonesia. Karena kalau kita bicara tentang ancaman ke depan, kita harus kenali diri sendiri dan kenali musuh. Kalau kenali diri sendiri, berarti kita bicara postur, bicara kemampuan, dan gelar kekuatan. Kemampuan itu artinya alutsista yang modern, canggih, dan juga sumber daya manusia yang mumpuni untuk menghadapi ancaman musuh,” tambah Agus. Ia juga menekankan kepada jajaran TNI AD untuk terus memberikan sumbangsih pemikirannya agar Pindad dapat maju, sehingga di masa depan tidak ada ketergantungan ke luar negeri untuk pengadaan alutsista. 


Direktur Utama PT Pindad (Persero), Silmy Karim mengatakan bahwa Pindad terus melakukan transformasi guna memberikan produk-produk pertahanan dan keamanan yang berkualitas, untuk bersinergi dengan pengguna untuk mengurangi ketergantungan pada impor. “Tugas kita sebenarnya sama, yaitu sama-sama membangun. Yang satu, membangun dalam konteks penggunaan dan operasi sementara yang lain membangun dengan menyiapkan senjatanya. Ketika masih bergantung kepada impor, bagaimana mensiasatinya? Pelaku-pelaku industri pertahanan dalam negeri harus menjaga kontinuitas dari penggunaan, pemeliharaan, dan layanan purna jual untuk terus terintegrasi,” tuturnya. Ia juga menambahkan jika membeli pada industri dalam negeri, maka akan banyak nilai tambah yang akan didapatkan, antara lain teknologi, lapangan pekerjaan tambahan, dan pajak. Paradigma ini yang terus ia tekankan.


Silmy juga menekankan bahwa kunjungan para pengguna ke PT Pindad (Persero) merupakan cara yang baik untuk terus menjalin komunikasi yang baik antara industri dan pengguna untuk kembali pada tujuan awal, yaitu sama-sama membangun. “Saya ingin pengguna dan industri menjadi dekat dalam hal membangun kekuatan pertahanan yang riil, yaitu membangun dengan memproduksi sendiri,” ujarnya. 

Rombongan Dankodiklat TNI AD melanjutkan agenda hari itu dengan mengunjungi fasilitas produksi untuk produk-produk persenjataan PT Pindad (Persero), yaitu Divisi Senjata. Rombongan juga mendapatkan kesempatan untuk mencoba performa produk secara langsung, antara lain Panser Anoa 6x6, Panser Komando Badak, serta beberapa produk senjata seperti senapan serbu SS2-V4, PM2 gas operated, dan pistol G2 seri Combat dan Elite. (Anggia)

Pindad 

Uji Roket Dinamis RHan-122 B dengan Desain Warhead Baru


Lima unit roket pertahanan RHan-122 B berhasil diluncurkan dalam uji dinamis yang dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2015 di Lapangan Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Pameungpeuk, Garut. Pengujian ini dihadiri oleh instansi pemerintahan dan perusahaan BUMN yang tergabung dalam Konsorsium Roket Nasional yaitu Kementerian Pertahanan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Pindad (Persero), PT Dahana (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero). Menggunakan peluncur roket PL 112 B dengan laras tunggal GRAD RM-70, lima unit RHan-122 B berhasil diluncurkan dengan baik.


Uji dinamis dilakukan dengan tujuan untuk memvalidasi desain roket RHan-122 B setelah dilakukan perbaikan dengan melakukan pengamatan dan perekaman data performansi roket pada saat diterbangkan, juga untuk menguji integrasi desain dan robustness design roket. Uji dinamis yang dilakukan sebelumnya, 20 Agustus 2015, berhasil dengan baik dan menghasilkan desain motor roket yang dinyatakan sudah freeze. Namun, pengujian beberapa unit saja dirasa belum cukup untuk produk yang akan diproduksi secara massal. Selain itu, desain warhead yang digunakan saat itu dinilai belum dapat digunakan sebagai sistem alutsista. Oleh karena, itu dilakukan perbaikan untuk mendapatkan peningkatan performansi dan efektivitas warhead yang lebih baik. Desain warhead yang saat ini digunakan sudah diuji performanya lewat uji statis yang dilaksanakan pada 16-17 September 2015 lalu.


Kepala Kegiatan uji dinamis ini, yang juga menjabat sebagai Kapuslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan, Laksmana Pertama TNI Budihardja Raden mengatakan bahwa pengujian hari itu telah berhasil dengan baik, namun masih banyak tugas yang menanti Konsorsium Roket Nasional di masa depan, untuk mewujudkan 7 program nasional yang salah satunya adalah roket. “Ini merupakan perjalanan panjang yang belum selesai, namun demikian hari ini kita telah menorehkan satu milestone, satu tanda dalam sejarah roket nasional. Roket Pertahanan 122 B merupakan produk yang akan terus kita kembangkan untuk mencapai kemandirian dalam produksi roket nasional,” tuturnya.


Lima unit RHan-122 B melalui pengujian yang bersifat ground to ocean, dengan menggunakan empat warhead berbeda. Satu unit dengan warhead inert atau dummy, 1 unit dengan warhead asap, 1 unit dengan warhead telemetry, dan 2 unit dengan warhead high explosive. Uji dinamis ini diharapkan akan menghasilkan data-data untuk mengetahui prestasi terbang roket, perilaku terbang roket, serta konsistensi performansi dan jarak jangkau.


Hasil pengujian ini akan dijadikan bahan evaluasi untuk uji dinamis berikutnya untuk melihat konsistensi performansi roket, sebelum melangkah ke tahap pembuatan tabel tembak dan produksi. (Anggia) 

Thursday, 15 October 2015

Pindad Siapkan Dana Untuk Pengembangan Produksi

Dengan Dana Sekitar Rp 5 Triliun

Komodo TNI AD produksi Pindad [Fallenpx]

Produsen peralatan militer milik negara Indonesia PT Pindad berencana untuk menghabiskan sekitar Rp 5 triliun ($ 367.650.000) untuk lebih mengembangkan produk yang ada serta memulai lini bisnis baru dalam tiga tahun ke depan. 

Langkah ini telah dilakukan dalam menanggapi permintaan untuk produk-produknya baik dari pasar domestik dan luar negeri. CEO Pindad, Silmy Karim mengatakan dana akan berasal dari kas internal serta pinjaman bank.

Pindad memproduksi senapan otomatis, pistol, peluncur granat, amunisi dan kendaraan perang. Polisi dan TNI adalah pembeli utama. Silmy mengatakan perseroan memproyeksikan penjualan senjata mesin, kendaraan lapis baja dan peralatan militer lainnya untuk meningkatkan rata-rata 30 persen per tahun dalam beberapa tahun mendatang.

Pindad baru-baru ini bekerja sama dengan negara-negara lain untuk mengembangkan sistem pertahanan senjata Indonesia, yang dikenal sebagai Alutsista. Hal ini juga berencana untuk mengembangkan tank medium dengan FNSS Defense Systems Turki. Sebagai bagian dari kerja sama itu, Turki akan melatih karyawan Pindad untuk merancang dan memproduksi tank. Prototipe tank pertama akan diproduksi di Turki dengan partisipasi insinyur Pindad dan prototipe kedua akan diproduksi di Indonesia.

Silmy mengatakan, kontrak terbaru perusahaan itu ditandatangani di Uni Emirat Arab (UEA) pada bulan September ketika Presiden Joko "Jokowi" Widodo mengunjungi Abu Dhabi. Berdasarkan kontrak, Pindad akan mentransfer teknologi ke UEA pertahanan logistik dan perusahaan dukungan Kontinental Aviation Services (CAS), dengan tujuan memungkinkan produsen lokal dan pemasaran produk Indonesia.

Produk termasuk senapan serbu SS2 dan amunisi. "Rencana untuk membangun pabrik senjata SS2 di UEA akan dimulai pada 2017," kata Silmy. Dalam perkembangan terkait, Pindad dan BUMN perusahaan elektronik pertahanan PT LEN Industri baru saja menandatangani nota kesepahaman untuk bersama-sama mengembangkan sistem komunikasi untuk kendaraan militer, termasuk dua jenis kendaraan utama Pindad ini: 4 × 4 Komodo dan 6 × 6 Anoa.

Spesifikasi dari sistem komunikasi yang diperlukan tidak terungkap tetapi kemungkinan akan didasarkan pada LEN ada desain untuk kendaraan darat yang menampilkan teknologi yang berkaitan dengan Voice-over IP (VoIP) dan pemrosesan sinyal digital. Saat ini, LEN memiliki perintah, untuk mengembangkan 700 unit peralatan komunikasi bagi tentara Indonesia. LEN Industri, didirikan pada tahun 1965, menghasilkan produk pertahanan listrik, sinyal kereta api, traksi, peralatan navigasi dan telekomunikasi, sel surya dan lain-lain. [dealstreetasia]

Garudamiliter

Tuesday, 13 October 2015

Pindad dan LEN Sepakati Kerjasama Alkom untuk Kendaraan Khusus

PT Pindad (Persero) sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang manufaktur alat utama sistem persenjataan dan industri komersial, memiliki keinginan untuk terus melakukan sinergi dengan perusahaan BUMN lain untuk mewujudkan kemandirian industri pertahanan nasional. Oleh karena itu, pada 9 Oktober 2015, Pindad menyepakati kerjasama dengan salah satu perusahaan industri pertahanan yang bergerak di bidang rekayasa dan manufaktur dalam bidang elektronika pertahanan, navigasi, perkeretaapian, renewable energy, information technology, dan telekomunikasi, PT LEN Industri (Persero).

Kerjasama tersebut tertuang dalam sebuah Nota Kesepahaman antara PT Pindad (Persero) dan PT LEN Industri (Persero) dalam kerjasama dan sinergi alat komunikasi Ranpur Anoa dan Rantis Komodo. Silmy Karim, Direktur Utama PT Pindad (Persero) dan Abraham Mose selaku Direktur Utama PT LEN Industri (Persero) menandatangani Nota Kesepahaman ini dari masing-masing pihak. Penandatanganan ini dilakukan di sela-sela perayaan Hari Ulang Tahun yang ke-24 PT LEN Industri (Persero) yang juga dihadiri oleh Menteri BUMN Rini Soemarno, para Direktur BUMN, dan kepala dari beberapa institusi pemerintahan.

Silmy Karim mengatakan bahwa kerjasama ini merupakan salah satu usaha lain untuk mencapai cita-cita luhur industri pertahanan nasional. “Kerjasama ini adalah suatu bentuk lain dari sinergi antar perusahaan BUMN dengan harapan mampu menciptakan kemandirian industri pertahanan nasional. Selain itu, kami ingin produk kendaraan khusus produksi Pindad didominasi dengan komponen-komponen dalam negeri agar kandungan lokalnya bertambah, sesuai dengan arahan pemerintah,” tuturnya. 

 Semangat kemandirian tersebut disambut baik oleh Abraham Mose dalam kata sambutannya, yang menyatakan bahwa kemandirian teknologi sudah tertuang dalam nilai-nilai perusahaan yang dianut PT LEN. “Kompetensi kita adalah berinovasi dalam menciptakan sistem maupun produk yang inovatif. Semangat itu tertera dalam corporate value dari PT LEN yaitu inovasi yang menciptakan kemandirian teknologi yang berdaya saing,” ujarnya. 

Rini Soemarno juga menambahkan bahwa sinergi antar BUMN sangat diperlukan untuk membawa Indonesia selangkah lebih maju dari negara-negara lain. “BUMN harus berpikir besar. Saya harapkan BUMN bisa menjadi mesin penggerak dan Indonesia adalah bangsa besar dan bisa melakukan apa yang tidak bisa bangsa lain lakukan. Saya yakin BUMN bisa melebarkan sayapnya jika dapat terus berkembang serta dapat terus bersinergi secara mendalam dan terus-menerus dengan BUMN lainnya,” ujar Rini. 

Diharapkan sinergi yang dilakukan PT Pindad dan PT LEN Industri ini dapat membawa industri pertahanan selangkah lagi menuju kemandirian yang dicita-citakan bersama. (Anggia)

Kunjungan Thales, Membuka Jalan Kemitraan Strategis

Perusahaan multinasional asal Perancis, Thales Group, mengunjungi PT Pindad (Persero) pada 7 Oktober 2015. Kunjungan ini dipimpin oleh David Butler, selaku Director of the Leadership Practice Thales University dan bertujuan untuk mengetahui beberapa hal mengenai peluang kerjasama yang dapat dijallin bersama PT Pindad (Persero). Rombongan diterima oleh Kepala Divisi Pemasaran dan Pengembangan Bisnis PT Pindad, Widjajanto.

Dalam kata sambutannya, Widjajanto mengatakan bahwa visi Pindad untuk menjadi perusahaan pertahanan terkemuka di Asia dapat tercapai lewat beberapa hal, salah satunya adalah kemitraan strategis. “Saya ingin menekankan bahwa Pindad memiliki target untuk menjadi perusahaan terkemuka di Asia melalui kemitraan strategis. Saya yakin kunjungan Anda sekalian ke sini akan membawa kabar baik mengenai kemungkinan kerjasama. Kami juga sedang melakukan diskusi intensif mengenai beberapa portofolio produk dari Thales,” ujar Widjajanto.

David Butler mengungkapkan bahwa beberapa aktivitas bisnis yang dilakukan oleh Pindad dinilainya sesuai dengan hal-hal yang ingin dilakukan oleh Thales. “Kami mengunjungi beberapa perusahaan minggu ini dan ini adalah pertama kalinya kami mendengar keinginan suatu perusahaan (Pindad) untuk mengekspor produk-produknya. Poin ini merupakan hal baik yang sejalan dengan apa yang Thales ingin lakukan,” ujar David.

Dalam sesi diskusi, Widjajanto mengatakan bahwa Pindad membutuhkan beberapa teknologi untuk menyempurnakan beberapa lini produk perusahaan, baik untuk produk pertahanan dan keamanan, produk industrial, maupun beberapa hal lain yang mendukung aktivitas bisnis perusahaan. Selain itu, ia menambahkan bahwa Pindad sebagai perusahaan BUMN memerlukan perencanaan yang solid dalam melakukan kemitraan strategis untuk terus membangun kapabilitas dan memperluas pasar, terutama ekspor. 

Para anggota delegasi Thales Group mengunjungi beberapa fasilitas produksi untuk meninjau secara langsung  proses produksi di Divisi Kendaraan Khusus dan Divisi Senjata. Semoga kunjungan ini dapat membuka gerbang kemitraan strategis agar kapabilitas Pindad menjadi lebih baik dan dapat mencapai visi perusahaan. (Anggia)

 Pindad