Pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov menyindir negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim, termasuk di dalamnya Indonesia soal usaha perlawanan terhadap ISIS. (Sputnik)
Pemimpin Chechnya, Ramzan Kadyrov menyindir negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim, termasuk di dalamnya Indonesia soal usaha perlawanan terhadap ISIS. Dirinya menilai, negara-negara Muslim tersebut tidak terlalu banyak bertindak untuk mengalahkan ISIS.
"Saya menganggap ini adalah tugas saya untuk menyerukan langsung kepada para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, Oman, Uni Emirat Arab, Yordania, Maroko, Aljazair, Turki, Iran, Malaysia, Indonesia dan Pakistan," ucap Kadyrov. seperti dilansir Sputnik pada Rabu (11/11).
"Berapa lama Anda akan duduk dan menonton umat Nabi Muhammad Hancur? Mengapa Anda tidak bersatu dan mendiskusikan masalah ini? Mengapa Anda tidak membuat langkah-langkah untuk melawan ISIS? Mengapa Anda tidak mengatakan kepada Amerika Serikat (AS) dan sekutunya: "Sudah cukup!?" tanya Kadyrov.
Dirinya menuturkan, persatuan negara-negara Muslim adalah kunci untuk memecahkan semua masalah yang ada di dunia, termasuk di dalamnya ISIS. Sedangkan, menurutnya keterlibatan AS dan sekutunya dalam semua konflik, hanya semakin memperburuk situasi.
"Ada 1,5 miliar dari kita (Muslim) yang tinggal di luar sana! Kami muda, sehat dan berani dan jika kita bertindak bersama-sama kita tak terkalahkan! Dalam nama Allah SWT, saya meminta Anda untuk berpikir tentang apa yang terjadi, menemukan cara untuk rekonsiliasi dan bekerja di luar mekanisme untuk melawan musuh bersama," tambahnya. (esn)
Friday, 13 November 2015
Tingkatkan Kemampuan Dukung Pemenuhan ALUTSISTA
Pembangunan Kapal Tunda 2400 HP
Mementum hari Pahlawan tahun ini, terasa sangat istimewa bagi PT PAL INDONESIA (Persero). Terdapat pemenuhan kebutuhan Kapal baru untuk TNI Angkatan Laut menjalankan tugas operasional. Melalui pemotongan plat pertama kapal tunda 2400 HP yang dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pengadaan Angkatan Laut (SEKDISADAL), Kolonel Laut (T) Udyatmoko, turut mendampingi Direktur Produksi PT PAL INDONESIA, dan Kepala Perwakilan Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) di Bengkel Fabrikasi Kapal Perang.
Direktur Produksi PT PAL INDONESIA (Persero), Edy Widarto menuturkan rasa terima kasih atas kembali dipercaya untuk mengerjakan pembangunan kapal dalam pemenuhan kebutuhan TNI Angkatan Laut. Pembangunan 1 unit Kapal Tunda 2400 HP ini berdasar pada Kontrak 3 Agustus 2015 dengan nomor KTR/106/02-51/VIII/2015/DISADAL. Kapal ini akan melengkapi TNI Angkatan Laut dalam menjalankan tugas oprasional sehari-hari. Pembangunan kapal tunda pertama pesanan TNI Angkatan Laut di tahun ini dikerjakan sebagai salah satu bentuk penugasan sebagai kapal bantĂș pemenuhan Alat Utama Sistem Senjata (ALUTSISTA)
Kapal Tunda ini berkemampuan layaknya kapal tunda yang telah diserahkan 2013 lalu, KRI Galunggung dan KRI Anjasmoro. Dengan kekuatan mesin 2x1200 HP dan berbeban tarikan 30 Ton, kapal ini memiliki kecepatan hingga 12 knots. Kapal dengan panjang 29 Meter dan lebar 9 meter ini mampu menampung hingga 8 ABK dan 2 Penumpang. Berkapasitas 7 tangki penampung, mampu berlayar selama 7 hari.
Pembangunan kapal tunda baru ini akan difungsikan untuk membantu dan mendukung tugas operasional TNI Angkatan laut dalam menjaga dan mengamankan NKRI. Sekaligus memperingati Hari Pahlawan, Insan PAL INDONESIA siap dan sedia dalam mendukung dan membantu untuk pemenuhan kebutuhan Perjuangan TNI Angkatan Laut.
Spesifikasi Kapal Tunda 2400 HP :
- Panjang = 29 m
- Lebar = 9 m
- Draft = 3,5 m
- Ketahanan = 7 hari
- Mesin = 2 x 1200 HP
- Beban tarikan = 30 Ton
- Kapasitas Penumpang = 8 ABK + 2 Penumpang
Thursday, 12 November 2015
[Foto] Inilah Senjata Penangkis Serangan Udara Milik TNI AU
Senjata penangkis serangan udara Oerlikon Sky Shield MK-2 milik Detasemen Hanud 473 Paskhas Pontianak akhirnya tiba di Pelabuhan Dwikora Pontianak, Jl Pak Kasih, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (10/11/2015) pukul 10.40 WIB. Senjata ini diklaim sebagai senjata tercanggih di dunia, bahkan Indonesia merupakan negara pertama yang membeli langsung dari pabrik Rheinmetall Air Defance dari Swiss. TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
[Dunia] Israel Ketir-ketir Rusia Hendak Pasok S-300 ke Iran
Pemerintah Israel mulai ketir-ketir dengan rencana Rusia memasok sistem rudal pertahanan udara S-300 ke Iran. Israel tidak berharap kesepakatan pengiriman sistem rudal itu akan memicu perlombaan senjata di kawasan regional.
Israel sebelumnya cemas dengan kesepakatan nuklir antara Iran dan enam negara kekuatan dunia (Amerika Serikat, Rusia, China, Inggris, Prancis dan Jerman). Kesepakatan itu dianggap Israel tidak akan mencegah Teheran untuk memiliki senjata nuklir.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, telah mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mencegah penjualan sistem rudal pertahanan udara S-300 sejak 2013. Namun, Putin resmi mencabut larangan penjualan S-300 ke Iran beberapa bulan lalu.
Arieh Herzog, mantan ketua program pertahanan rudal Israel mengatakan kepada Associated Press, bahwa dia berharap kesepakatan penjualan sistem pertahanan rudal S-300 antara Moskow dan Teheran itu tidak akan memicu perlombaan senjata di wilayah Timur Tengah.
”Sifat penyebarannya di Iran akan defensif dan mencoba untuk mencegah kemampuan angkatan udara untuk beroperasi di sana, karena mungkin hari ini masih mampu beroperasi,” kata Herzog. ”Akan ada perubahan dramatis dalam kemampuan mereka (Iran), dan tidak akan menciptakan lingkungan yang wajar untuk setiap operasi angkatan udara kami,” lanjut dia, yang dilansir Senin (10/11/2015).
Pejabat Rusia pada hari Senin kemarin menyatakan, Rusia dan Iran telah menandatangani kontrak untuk memulai pengiriman sistem rudal S-300 dari Moskow ke Teheran. ”Berbicara tentang sistem pertahanan udara S-300, kontrak telah ditandatangani," kata Sergei Chemezov, Kepala Russian Technologies Rosoboronexport, perushaan senjata negara Rusia, seperti dikutip kantor berita Rusia, RIA Novosti. (Baca: Kontrak Diteken, Rusia Siap Kirim S-300 ke Iran)
Menurut laporan Financial Times, Rusia diperkirakan akan mulai mengirimkan sistem rudal ke Iran pada akhir 2016. S-300 adalah sistem pertahanan rudal anti-pesawat.
Kesepakatan penjualan sistem rudal dengan nilai kontrak USD800 juta itu awalnya ditandatangani pada tahun 2007, tetapi diblokir pada 2010 di bawah kepemimpinan Presiden Dmitry Medvedev (pemimpin Rusia kala itu) ketika Teheran terkena sanksi internasional karena mengembangkan program nuklir.
Lantaran dibataIkan, Iran kemudian mengajukan gugatan ke Rusia sebesar USD4 miliar pada 2011. Sejumlah laporan menyebut persoalan gugatan itu sudah selesai. (mas)
Posisi Resmi Indonesia Soal Konflik Laut China Selatan
Indonesia jadi penengah negara-negara yang terlibat konflik Laut China Selatan. | (Reuters)
Pemerintah Indonesia menegaskan posisi resminya dalam menyikapi konflik Laut China Selatan. Indonesia akan tetap pada posisi sebagai penengah negara-negara yang berkonflik atau bersengketa atas kawasan kaya energi itu.
Indonesia akan mendorong tercapainya Code of Conduct (CoC) antara ASEAN dan China soal wilayah tersebut. Menurut Direktur Mitra Wicara dan Antar-Kawasan Kementerian Luar Negeri Indonesia, Derry Aman, saat ini adalah waktu yang tepat untuk membahas CoC.
"Posisi indonesia tetapa berada dalam bagaimana menjaga kestabilan dan perdamaian di wilayah tersebut. Implementasikan penuh CoC. Pencapaian COC saat ini sudah masuk tahap negosiasi. Indonesia menyampaikan tegas, ini saatnya dibahas soal elemen yang ada dalam CoC," ucap Derry.
"Indonesia mendorong negara-negara yang terkait konflik menyelesaikannya secara damai. CoC ada dalam rangka menjaga wilayah itu tetap stabil, aman, damai, dan terjamin arus perdagangan di sana. Penyelesaian sengketa tetap di tangan negara-negara yang bersangkutan," sambung dia pada Kamis (12/11/2015).
Menurutnya, masalah Laut China Selatan akan turut dibahas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN yang akan digerlar di Malaysia pada pekan depan, meski sebenarnya hal itu tidak ada dalam agenda inti ASEAN. Masalah itu kemungkinan juga akan diangkat dalam pertemuan KTT Asia Timur- ASEAN. (mas)
9 Titik Imajiner China Tak Sesuai Hukum Internasional
Indonesia menyatakan sembilan titik imajiner China di Laut China Selatan tak sesuai hukum internasional. (Reuters)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanatha Nassir, mengatakan bahwa, sikap Pemerintah Indonesia soal sembilan titik imajiner atau “nine dash line” China di Luar China Selatan sudah sangat jelas. Indonesia menganggap sembilan titik itu tidak sesuai hukum internasional.
"Nine dash line adalah sebuah klaim. Bagi Indonesia kita sudah menyampaikan beberapa kali kepada Pemerintah China, bahwa klaim tersebut tidak berdasarkan hukum internasional. Kita juga sudah sampaikan pada UNCLOS, jadi posisi Indonesia sudah jelas," ucap Arrmanatha.
Nine dash line merupakan garis putus-putus yang menunjukkan klaim China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan, termasuk didalamnya Kepulauan Spratly dan Paracel. (Baca juga: Inilah Posisi Resmi Indonesia soal Konflik Laut China Selatan)
Sembilan garis imajiner inilah yang menjadi salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah tersebut. Klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu.
Seperti diketahui, selain China, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Brunei, dan Filipinan adalah negara lain yang turut mengklaim wilayah Laut China Selatan. Filipina bahkan sudah mengajukan gugatan atas klaim China itu ke pengadilan internasional. (mas)
Indonesia Minta Klarifikasi China
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanantha Nassir mengatakan, Indonesia terus meminta klarifikasi China soal nine dash line di kawasan Laut China Selatan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Indonesia Arrmanantha Nassir mengatakan, Indonesia terus meminta klarifikasi China soal nine dash line di kawasan Laut China Selatan. Nine dash line adalah sembilan titik imaginer yang menunjukkan klaim China atas sebagian besar wilayah di Laut China Selatan
"Kami telah meminta klarifikasi dari China mengenai apa yang dimaksud dengan nine dash line. Sejauh ini, belum ada klarifikasi mengenai hal itu," kata Arrmanantha saat briefing mingguan pada Kamis (12/11).
Sebelumnya, diplomat Indonesia yang kerap disapa Tata tersebut juga mengatakan, Indoensia tidak mengakui sembilan garis imaginer tersebut. Ini dikarenakan, hal tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional.
"Nine dash line adalah sebuah klaim. Bagi Indonesia. Kita sudah menyampaikan beberapa kali kepada Pemerintah China, bahwa klaim tersebut tidak berdasarkan hukum internasional. Kita juga sudah sampaikan pada UNCLOS, jadi posisi Indonesia sudah jelas," ucapnya.
Sembilan titik imaginer itu sendiri merupakan salah satu penyebab munculnya konflik di wilayah Laut China Selatan. Klaim ini memancing emosi sejumlah negara yang turut mengklaim memiliki hak di wilayah yang jadi jalur perdagangan dunia itu. (esn)
Di Negeri Ini kalau Tidak Diributkan, Enggak Dibereskan....
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti
Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti menyesalkan masih maraknya ikan-ikan dari perairan luar yang merembes ke pasar Indonesia.
Salah satunya adalah ikan patin asal Vietnam yang banyak masuk ke Indonesia, pun dengan label ikan dori. Menurut Susi, rembesan yang terjadi itu jelas-jelas merupakan pemalsuan dokumen.
Ikan illegal yang masuk pasar Indonesia ini telah memukul para nelayan lokal. “Banyak petambak ikan mati di Riau, tidak bisa jualan ikan patin filetnya,” ucap Susi di Jakarta, Rabu (11/11/2015).
Susi menyadari hal ini sudah terjadi sejak lama. Dia pun terang-terangan meminta media untuk terus mengangkat isu rembesan impor ikan ini.
Harapannya, Presiden Joko Widodo juga menaruh perhatian pada massifnya pemberitaan. Kemudian kasus ini pun dibahas dalam rapat kabinet terbatas.
Di sisi lain, Susi berharap, dengan pemberitaan yang masif, aparat bea dan cukai serta polisi air bisa langsung menindaklanjuti.
Dia menegaskan, hal-hal seperti ini sudah seharusnya menjadi keresahan masyarakat. “(Sebab) Di negeri ini kalau tidak diributin, enggak diberesin. Persoalannya, ini kan bukan cuma pekerjaan ibu, ada departemen lain,” sindir Susi.
Sritex Produksi Seragam Militer Kamboja
Ilustrasi pasukan TNI
PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex tidak hanya dikenal sebagai produsen di bidang tekstil dan garmen dengan kualitas ekspor.
Emiten berkode SRIL ini juga dikenal karena memproduksi seragam
militer Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun militer berbagai negara
di dunia.
Guna melebarkan sayap bisnisnya di mancanegara, Sritex kini akan segera memproduksi dan menjual seragam militer Kamboja.
Menurut Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino, Sritex akan bekerjasama dengan perusahaan lokal untuk mendirikan sebuah perusahaan baru di Kamboja. Kemudian, seragam militer akan dijual kepada pemerintah Kamboja.
Allan memaparkan, saat ini Sritex sedang mematangkan perjanjian kerjasama ini, baik dengan perusahaan lokal maupun pemerintah Kamboja.
Dia memprediksi, perjanjian tersebut akan selesai pada akhir tahun 2015 ini. "MoU (perjanjian kerjasama) selesai akhir tahun ini. Tahun depan mulai produksi dan trading," sebut Allan di Jakarta, Rabu (11/11/2015).
Allan mengaku, perseroan belum dapat memastikan jangka waktu kontrak perjanjian produksi dan pengadaan seragam militer Kamboja tersebut.
Meskipun demikian, dia menuturkan bahwa nilai transaksi seragam militer Kamboja itu cukup besar, yakni mencapai kisaran 50 juta dollar AS per tahun.
"Maunya pemerintah Kamboja produknya dijual ke perusahaan Kamboja. Kemudian perusahaan ini yang jual ke pemerintahnya. Nilai kontraknya belum tahu, tapi bisa puluhan juta dollar AS. Mungkin kalau kita bisa bikin seragam buat tentara dan militer di sana, ke pemerintahannya di sana itu bisa sampai 50 juta dollar AS per tahun," tutur Allan.
Sekedar informasi, Sritex kini memproduksi seragam militer untuk setidaknya untuk 30 negara di dunia.
Adapun delapan dari negara-negara tersebut adalah negara di kawasan Eropa. Sritex pun memproduksi seragam militer untuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.
Tidak hanya itu, Sritex juga merupakan satu-satunya pemegang lisensi di Asia yang berhak memproduksi seragam militer Jerman.
Guna melebarkan sayap bisnisnya di mancanegara, Sritex kini akan segera memproduksi dan menjual seragam militer Kamboja.
Menurut Direktur Keuangan Sritex Allan Moran Severino, Sritex akan bekerjasama dengan perusahaan lokal untuk mendirikan sebuah perusahaan baru di Kamboja. Kemudian, seragam militer akan dijual kepada pemerintah Kamboja.
Allan memaparkan, saat ini Sritex sedang mematangkan perjanjian kerjasama ini, baik dengan perusahaan lokal maupun pemerintah Kamboja.
Dia memprediksi, perjanjian tersebut akan selesai pada akhir tahun 2015 ini. "MoU (perjanjian kerjasama) selesai akhir tahun ini. Tahun depan mulai produksi dan trading," sebut Allan di Jakarta, Rabu (11/11/2015).
Allan mengaku, perseroan belum dapat memastikan jangka waktu kontrak perjanjian produksi dan pengadaan seragam militer Kamboja tersebut.
Meskipun demikian, dia menuturkan bahwa nilai transaksi seragam militer Kamboja itu cukup besar, yakni mencapai kisaran 50 juta dollar AS per tahun.
"Maunya pemerintah Kamboja produknya dijual ke perusahaan Kamboja. Kemudian perusahaan ini yang jual ke pemerintahnya. Nilai kontraknya belum tahu, tapi bisa puluhan juta dollar AS. Mungkin kalau kita bisa bikin seragam buat tentara dan militer di sana, ke pemerintahannya di sana itu bisa sampai 50 juta dollar AS per tahun," tutur Allan.
Sekedar informasi, Sritex kini memproduksi seragam militer untuk setidaknya untuk 30 negara di dunia.
Adapun delapan dari negara-negara tersebut adalah negara di kawasan Eropa. Sritex pun memproduksi seragam militer untuk Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO.
Tidak hanya itu, Sritex juga merupakan satu-satunya pemegang lisensi di Asia yang berhak memproduksi seragam militer Jerman.
Subscribe to:
Posts (Atom)
