Ilustrasi (Sindonews)
Kasus penyadapan marak terjadi di hampir semua negara termasuk Indonesia. Korbannya bukan hanya pejabat publik, tapi juga warga negara biasa.
Salah satu kasus paling menghebohkan yang terjadi di Indonesia adalah, peristiwa penyadapan yang dilakukan Australia terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2014 lalu.
Guna mengantisipasi terulangnya peristiwa tersebut, PT Indoguardika Cipta Kreasi (ICK) sebuah perusahaan antisadap pertama di Indonesia yang merupakan hasil karya anak bangsa ini berhasil mengembangkan teknologi enkripsi.
"Kenapa Indonesia ingin punya ini (antisadap)? Karena kita ingin Indonesia berdaulat dan tidak bergantung pada asing terkait dengan keamanan data atau teknologi informasi (TI). Sebab kalau sistem keamanan data memakai punya luar, kita nggak bisa jamin 100% data akan aman," ujar President Director PT ICK Agung Setia Bakti kepada SINDO, Jumat 30 Oktober 2015.
Agung menjelaskan, pola kerja dari teknologi enkripsi ini adalah memproses informasi dan komunikasi dengan algoritma tertentu. Data kemudian diacak sehingga hanya bisa dibaca oleh pihak yang dituju dan memiliki kuncinya.
"Data yang dienkrip akan terlindungi dalam jutaan atau miliaran kode-kode acak yang sangat sulit dipecahkan," ucapnya.
Menurut Agung, teknologi enkripsi ini dapat diaplikasikan pada semua platform komunikasi. Hingga 2015, kata dia, ICK telah menghasilkan beberapa produk antisadap, seperti telepon antisadap, chat antisadap, radio antisadap dan sebagainya.
"Termasuk pengamanan pertukaran data melalui internet atau email antisadap. Teknologi ini dapat digunakan oleh institusi keamanan seperti, intelijen, TNI-Polri, termasuk perorangan yang menginginkan privacy lebih," jelasnya.
Agung mengakui, sejak diluncurkan pada 2013 teknologi ini telah diikutsertakan oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dalam beberapa ajang internasional seperti, pameran pertahanan Defence Service Asia (DSA) di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Rencananya pada 2-5 November mendatang, kami juga ditunjuk oleh Kemhan untuk memamerkan produk teknologi antisadap Indonesia dalam Defence and Security Bangkok 2015 bersama dengan PT DI, PT Pindad Persero," ujarnya.
Riset and Production Director Sujoko mengatakan, bila Indonesia ingin menjadi bangsa berdaulat, maka hal utama yang juga harus dilakukan adalah mengamankan informasi. "Kalau informasi penting sampai bocor, maka hal itu dapat membahayakan keamanan negara," ucapnya.
Meski teknologi antisadap ini dapat digunakan oleh siapapun, namun pihaknya tidak akan memberikan pelayanan bagi orang-orang yang masuk dalam daftar aparat penegak hukum. "Kami bahkan akan memutus pelayanan bila aparat keamanan memberitahukan bahwa yang bersangkutan terkait kasus hukum," tutupnya.
Monday, 2 November 2015
Parlemen Indonesia Setujui Budget Pesawat KF-X
KF-X IF-X Fighter
Parlemen Indonesia telah menyetujui batch pertama dana sebesar 89 miliar Won untuk diinvestasikan dalam pengembangan bersama (jointly developing) jet tempur baru Korea Selatan.
Seorang pejabat kedutaan Korea Selatan di Jakarta mengatakan Sabtu, bahwa parlemen Indonesia menyetujui dana untuk proyek, yang dijuluki KF-X.
Menyusul disetujuinya anggaran ini, maka pemerintah Korea Selatan dan Indonesia, serta perusahaan kedirgantaraan yang berpartisipasi, Korea Aerospace Industries (KAI) dan PT Dirgantara Indonesia, akan memulai negosiasi untuk menandatangani kesepakatan proyek pada awal November di Jakarta.
Indonesia berencana untuk menanggung biaya sebesar 1,7 triliun Won atau 20 persen dari biaya pengembangan pesawat KF-X.
Dengan munculnya lampu hijau di batch pertama ini, Lembaga Program Akuisisi Pertahanan, Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Seoul, meyakini Indonesia akan menyetujui anggaran yang tersisa di fase yang ditentukan.
Berdasarkan perjanjian dasar dari pengembangan bersama pesawat KF-X yang ditandatangani tahun lalu, Indonesia akan menerima satu jet tempur percobaan dan informasi yang berhubungan dengan desain pesawat. Insinyur Indonesia juga akan mengambil bagian dalam proyek ini.
Parlemen Indonesia telah menyetujui batch pertama dana sebesar 89 miliar Won untuk diinvestasikan dalam pengembangan bersama (jointly developing) jet tempur baru Korea Selatan.
Seorang pejabat kedutaan Korea Selatan di Jakarta mengatakan Sabtu, bahwa parlemen Indonesia menyetujui dana untuk proyek, yang dijuluki KF-X.
Menyusul disetujuinya anggaran ini, maka pemerintah Korea Selatan dan Indonesia, serta perusahaan kedirgantaraan yang berpartisipasi, Korea Aerospace Industries (KAI) dan PT Dirgantara Indonesia, akan memulai negosiasi untuk menandatangani kesepakatan proyek pada awal November di Jakarta.
Indonesia berencana untuk menanggung biaya sebesar 1,7 triliun Won atau 20 persen dari biaya pengembangan pesawat KF-X.
Dengan munculnya lampu hijau di batch pertama ini, Lembaga Program Akuisisi Pertahanan, Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Seoul, meyakini Indonesia akan menyetujui anggaran yang tersisa di fase yang ditentukan.
Berdasarkan perjanjian dasar dari pengembangan bersama pesawat KF-X yang ditandatangani tahun lalu, Indonesia akan menerima satu jet tempur percobaan dan informasi yang berhubungan dengan desain pesawat. Insinyur Indonesia juga akan mengambil bagian dalam proyek ini.
Kronologi Jatuhnya Pesawat Rusia di Mesir
Pesawat tipe Airbus A321 milik Maskapai Metrojet Kogalymavia yang
membawa 224 penumpang dipastikan jatuh di wilayah Sinai, Mesir, pada
Sabtu 31 Oktober. Otoritas keamanan Mesir sejauh ini telah menemukan 129
jenazah penumpang pesawat.
Namun, hingga kini belum diketahui pasti penyebab jatuhnya pesawat yang lepas landas dari Bandara Sharm el Sheikh, Mesir, menuju St. Petersburg, Rusia itu. Berikut kronologi peristiwa jatuhnya pesawat komersial Rusia dengan nomor penerbangan KGL9268, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (1/11/2015).
Pada Sabtu 21 Oktober 2015 pukul 05.51 waktu Mesir (sekira 11.00 WIB) pesawat milik Maskapai Metrojet dengan nomor penerbangan KGL9268 lepas landas dari Bandara Sharm el Sheikh, untuk menuju St. Petersburg, Rusia.
Sekira 23 menit setelah lepas landas, pesawat itu hilang dari pantauan radar petugas Air Traffic Control (ATC) Bandara Mesir. Berdasarkan pernyataan Kementerian Penerbangan Sipil Mesir, pesawat 7K-9268 hilang dari pantauan radar ketika mencapai ketinggian 31.000 kaki.
Namun, berdasarkan pantauan dari FlightRadar24, pesawat itu diketahui turun dari ketinggian 31.000 kaki sesaat setelah Kementerian Penerbangan Sipil Mesir menyatakan pesawat hilang dari radar. Pesawat itu turun dengan cepat sekira 6.000 kaki per menit. Beberapa menit setelah itu, pesawat maskapai Rusia itu juga hilang dari pantauan FlightRadar24.
Beberapa menit setelahnya, Pemerintah Mesir mengumumkan keadaan darurat, dan otoritas keamanan setempat memastikan bahwa pesawat yang mengangkut 224 penumpang itu telah jatuh, setelah tim penyelamat yang diperintahkan Pemerintah Mesir menemukan jasad utuh penumpang dan puing-puing pesawat.
“Saya kini telah melihat dengan mata kepala saya sendiri tragedi jatuhnya pesawat itu. Petugas keamanan kami telah menemukan 129 jasad yang diyakini merupakan penumpang pesawat,” ucap seorang petugas keamanan Mesir melalui sambungan telefon kepada media.
“Pesawat itu terbelah menjadi dua bagian. Bagian yang kecil pada ekor diketahui terbakar, sedangkan bagian yang lebih besar yakni badan pesawat menabrak sebuah batu besar. Kami yakin masih ada yang terjebak di bagian badan pesawat karena melihat penumpang yang masih terikat di kursinya, namun kemungkinan mereka masih selamat sangat kecil,” sambungnya.
Mendengar kabar tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin berduka dan menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya bagi keluarga korban. Berdasarkan keterangan Otoritas Rusia, setidaknya ada 214 warga Rusia dan tiga warga Ukraina yang berada dalam pesawat nahas tersebut.
Namun, hingga kini belum diketahui pasti penyebab jatuhnya pesawat yang lepas landas dari Bandara Sharm el Sheikh, Mesir, menuju St. Petersburg, Rusia itu. Berikut kronologi peristiwa jatuhnya pesawat komersial Rusia dengan nomor penerbangan KGL9268, sebagaimana dilansir Reuters, Minggu (1/11/2015).
Pada Sabtu 21 Oktober 2015 pukul 05.51 waktu Mesir (sekira 11.00 WIB) pesawat milik Maskapai Metrojet dengan nomor penerbangan KGL9268 lepas landas dari Bandara Sharm el Sheikh, untuk menuju St. Petersburg, Rusia.
Sekira 23 menit setelah lepas landas, pesawat itu hilang dari pantauan radar petugas Air Traffic Control (ATC) Bandara Mesir. Berdasarkan pernyataan Kementerian Penerbangan Sipil Mesir, pesawat 7K-9268 hilang dari pantauan radar ketika mencapai ketinggian 31.000 kaki.
Namun, berdasarkan pantauan dari FlightRadar24, pesawat itu diketahui turun dari ketinggian 31.000 kaki sesaat setelah Kementerian Penerbangan Sipil Mesir menyatakan pesawat hilang dari radar. Pesawat itu turun dengan cepat sekira 6.000 kaki per menit. Beberapa menit setelah itu, pesawat maskapai Rusia itu juga hilang dari pantauan FlightRadar24.
Beberapa menit setelahnya, Pemerintah Mesir mengumumkan keadaan darurat, dan otoritas keamanan setempat memastikan bahwa pesawat yang mengangkut 224 penumpang itu telah jatuh, setelah tim penyelamat yang diperintahkan Pemerintah Mesir menemukan jasad utuh penumpang dan puing-puing pesawat.
“Saya kini telah melihat dengan mata kepala saya sendiri tragedi jatuhnya pesawat itu. Petugas keamanan kami telah menemukan 129 jasad yang diyakini merupakan penumpang pesawat,” ucap seorang petugas keamanan Mesir melalui sambungan telefon kepada media.
“Pesawat itu terbelah menjadi dua bagian. Bagian yang kecil pada ekor diketahui terbakar, sedangkan bagian yang lebih besar yakni badan pesawat menabrak sebuah batu besar. Kami yakin masih ada yang terjebak di bagian badan pesawat karena melihat penumpang yang masih terikat di kursinya, namun kemungkinan mereka masih selamat sangat kecil,” sambungnya.
Mendengar kabar tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin berduka dan menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya bagi keluarga korban. Berdasarkan keterangan Otoritas Rusia, setidaknya ada 214 warga Rusia dan tiga warga Ukraina yang berada dalam pesawat nahas tersebut.
Mengenal Kendaraan Bear Militer Rusia yang Mampir ke Jakarta
Bear, kendaraan militer asal Rusia yang dikenal sebagai alat angkut
logistik pada pameran Jakarta Auto Show 2015 di JCC, Sabtu (31/10).
(Alviansyah Pasaribu)
Kendaraan militer asal Rusia bermerek Bear yang dikenal sebagai alat angkut logistik juga ikut meramaikan pameran Jakarta Auto Show 2015 di JCC, Jakarta.
Indra Baruna, koordinator pameran Bear, mengatakan pihaknya baru tiga bulan mendatangkan Bear yang tersedia dalam dua tipe yaitu 4x4 dan 6x6 yang juga bisa digunakan sebagai kendaraan komersial.
Bear 6x6
"Ini dari Rusia langsung. Ini baru perkenalan untuk konsumen tertentu
karena segmennya juga tidak banyak. Kalau di Rusia mobil ini digunakan
kalangan militer dan pengusaha," kata Indra di arena pameran outdoor JAS 2015, Senayan, Jakarta, Sabtu."Ini mobil tipe amphibi. Bisa di darat, air, hingga di salju untuk menyusuri pedalaman Siberia, Rusia," tambah Indra kemudian menunjukkan video mobil Bear melintasi gurun pasir di Dubai.
Indra menjelaskan saat ini baru dua orang yang memiliki Bear di Indonesia yaitu satu untuk tipe 4x4 dan tipe 6x6.
"Sebenarnya ada beberapa unit lagi tapi sedang diurus izinnya," kata Indra.
Bear 6x6
Adapun spesifikasinya, Indra menjelaskan bahwa Bear 4x4 berbobot
1.959kg, menggunakan mesin Hyundai Theta 2 4silinder. Sedangkan untuk
Bear 6x6 memiliki bobot 2.750kg dengan mesin turbo Hyundai D4BH
4silinder. Kendaraan dengan lima percepatan ini memiliki kecepatan maksimal 70km per jam di darat sementara 5km per jam di air. Indra mengatakan Bear 4x4 dijual seharga Rp4,65 miliar (on the road) sementara tipe 6x6 diatas Rp5 miliar.
Sunday, 1 November 2015
Ajudan Soekarno Kaget Melihat Bendera Merah Putih Berkibar di Wina
Soekarno. ©2012 Merdeka.com/dok
Di setiap negara yang dikunjungi, sambutan untuk Presiden Soekarno selalu meriah. Apalagi Soekarno biasanya bersahabat secara pribadi dengan para presiden dan perdana menteri dari berbagai negara.
Namun saat mendampingi Presiden Soekarno ke tahun 1963, Kolonel Bambang Widjanarko benar-benar kagum. Di Wina, hampir setiap rumah mengibarkan bendera merah putih. Bambang sampai terkesima, kenapa warga Kota Wina begitu menghormati Bung Karno.
"Sungguh saya sangat terharu. Rasa bangga berkobar di dalam dada. Bendera merah putih berkibar di mana-mana," kata Bambang dalam biografi 'Sewindu Dekat Bung Karno' terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.
Begitu sampai hotel, Bambang segera menemui Rusman, Konsul Jenderal Indonesia di Wina. Dia menyatakan kekagumannya.
"Wah, Pak Rusman hebat benar kota ini. Di mana-mana ada bendera merah putih berkibar menyambut Bung Karno."
Namun jawaban Rusman sungguh membuat Kolonel Bambang kaget. "Pak Bambang jangan salah paham. Di Austria ini setiap kota memiliki bendera sendiri-sendiri, dan untuk Kota Wina bendera kotanya merah putih. Kebetulan hari ini adalah hari besar bagi warga kota, karena itu mereka mengibarkan bendera merah putih," jawab Pak Rusman.
"Astaga! Saya kira mereka bergembira menyambut Presiden Republik Indonesia," kata Kolonel Bambang sambil tertawa.
Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan kekeliruan Bambang. Namun Kolonel Bambang mengaku Kota Wina tetap punya tempat di hatinya karena warna benderanya sama merah putih.
Di setiap negara yang dikunjungi, sambutan untuk Presiden Soekarno selalu meriah. Apalagi Soekarno biasanya bersahabat secara pribadi dengan para presiden dan perdana menteri dari berbagai negara.
Namun saat mendampingi Presiden Soekarno ke tahun 1963, Kolonel Bambang Widjanarko benar-benar kagum. Di Wina, hampir setiap rumah mengibarkan bendera merah putih. Bambang sampai terkesima, kenapa warga Kota Wina begitu menghormati Bung Karno.
"Sungguh saya sangat terharu. Rasa bangga berkobar di dalam dada. Bendera merah putih berkibar di mana-mana," kata Bambang dalam biografi 'Sewindu Dekat Bung Karno' terbitan Kepustakaan Populer Gramedia.
Begitu sampai hotel, Bambang segera menemui Rusman, Konsul Jenderal Indonesia di Wina. Dia menyatakan kekagumannya.
"Wah, Pak Rusman hebat benar kota ini. Di mana-mana ada bendera merah putih berkibar menyambut Bung Karno."
Namun jawaban Rusman sungguh membuat Kolonel Bambang kaget. "Pak Bambang jangan salah paham. Di Austria ini setiap kota memiliki bendera sendiri-sendiri, dan untuk Kota Wina bendera kotanya merah putih. Kebetulan hari ini adalah hari besar bagi warga kota, karena itu mereka mengibarkan bendera merah putih," jawab Pak Rusman.
"Astaga! Saya kira mereka bergembira menyambut Presiden Republik Indonesia," kata Kolonel Bambang sambil tertawa.
Keduanya lalu tertawa terbahak-bahak menertawakan kekeliruan Bambang. Namun Kolonel Bambang mengaku Kota Wina tetap punya tempat di hatinya karena warna benderanya sama merah putih.
Jonan Minta PTDI Urus Sertifikasi N219 Sebelum Terbang Perdana
Proses perakitan N219 di assembly line PTDI
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, menegaskan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus mengurus sertifikasi kelaikkan pesawat terbarunya N219 dari lembaga-lembaga berkompeten di tingkat nasional maupun internasional.
Sertifikasi harus diurus sebelum pesawat melakukan penerbangan perdana (first flight) dan menjalani pengujian.
"Kami belum menerima uji kelayakan dari pesawat tersebut. Sebelum dilaksanakan uji layak terbang, harus ada sertifikasi dulu dari lembaga nasional dan internasional. Pesawat tidak bisa melakukan uji terbang tanpa sertifikasi terlebih dahulu. Semua pesawat tidak bersertifikasi tidak boleh mengudara,” kata Jonan kepada wartawan di Solo, Sabtu (31/10/2015).
Sertifikasi penerbangan, kata Jonan, memerlukan proses dan tahapan yang cukup panjang. Semua tahapan itu harus ditempuh karena berkaitan aspek keselamatan penerbangan.
"Berkaitan dengan keselamatan tidak ada kemudahan sedikitpun, termasuk kepada PTDI. Kami akan memberi laporan kepada Bapak Presiden terkait pentingnya sertifikasi uji terbang sebelum dilaksanakan uji terbang oleh PTDI," lanjutnya.
Seperti diketahui, PTDI akan memunculkan wujud pesawat N219 secara perdana kepada publik (roll out) pada November 2015. Saat diluncurkan di hadapan Presiden Joko Widodo itu, pesawat belum bisa terbang.
Pesawat N219 yang merupakan 100% rancang-bangun putra putri Indonesia ini baru bisa terbang perdana, 6 bulan setelah diluncurkan ke publik. Sebelum proses first flight, N219 akan menjalani pengujian hingga perbaikan.
Setelah first flight, PTDI akan mengurus proses sertifikasi dalam negeri di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses ini memakan waktu 1-2 tahun. Sejalan dengan proses sertifikasi di dalam negeri, N219 juga akan didaftarkan oleh PTDI ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). (mbr/feb)
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, menegaskan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus mengurus sertifikasi kelaikkan pesawat terbarunya N219 dari lembaga-lembaga berkompeten di tingkat nasional maupun internasional.
Sertifikasi harus diurus sebelum pesawat melakukan penerbangan perdana (first flight) dan menjalani pengujian.
"Kami belum menerima uji kelayakan dari pesawat tersebut. Sebelum dilaksanakan uji layak terbang, harus ada sertifikasi dulu dari lembaga nasional dan internasional. Pesawat tidak bisa melakukan uji terbang tanpa sertifikasi terlebih dahulu. Semua pesawat tidak bersertifikasi tidak boleh mengudara,” kata Jonan kepada wartawan di Solo, Sabtu (31/10/2015).
Sertifikasi penerbangan, kata Jonan, memerlukan proses dan tahapan yang cukup panjang. Semua tahapan itu harus ditempuh karena berkaitan aspek keselamatan penerbangan.
"Berkaitan dengan keselamatan tidak ada kemudahan sedikitpun, termasuk kepada PTDI. Kami akan memberi laporan kepada Bapak Presiden terkait pentingnya sertifikasi uji terbang sebelum dilaksanakan uji terbang oleh PTDI," lanjutnya.
Seperti diketahui, PTDI akan memunculkan wujud pesawat N219 secara perdana kepada publik (roll out) pada November 2015. Saat diluncurkan di hadapan Presiden Joko Widodo itu, pesawat belum bisa terbang.
Pesawat N219 yang merupakan 100% rancang-bangun putra putri Indonesia ini baru bisa terbang perdana, 6 bulan setelah diluncurkan ke publik. Sebelum proses first flight, N219 akan menjalani pengujian hingga perbaikan.
Setelah first flight, PTDI akan mengurus proses sertifikasi dalam negeri di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses ini memakan waktu 1-2 tahun. Sejalan dengan proses sertifikasi di dalam negeri, N219 juga akan didaftarkan oleh PTDI ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). (mbr/feb)
Bikin Pesawat N219, Insinyur PTDI Kerja 24 Jam
Pesawat N219 merupakan pesawat berpenumpang 19 orang
yang memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak yang pendek. N219
adalah proyek yang dikerjakan seluruhnya oleh anak bangsa yang mulai
dirancang sejak 2007 lalu, oleh 300 insinyur Indonesia.
Pesawat karya anak bangsa N 219 rencananya diluncurkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada November 2015 mendatang. Saat November nanti, N219 akan ditarik ke luar hanggar (aseembly line) untuk memperkenalkan wujud asli kepada publik.
Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalama peluncuran wujud N219. Para insinyur PTDI harus bekerja 24 jam untuk menuntaskan proses perakitan pesawat berkapasitas 19 penumpang itu.
"Persiapan launching, kita bekerja 24 jam. Seperti jadi Sangkuriang," ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso kepada wartawan di Kantor Pusat PTDI, Bandung, Sabtu (31/10/2015).
Budi menyebut ratusan insinyur lokal terlibat dalam proses perancangan, perakitan hingga pengujian N219.
"Sekarang ada 150 engineer di area design dan painting. Alhamdulillah semuanya orang Indonesia. Fresh enginer," ucap Budi.
Meski belum secara resmi diluncurkan, namun pesawat N-219 ini sudah banyak peminatnya. Sedikitnya, 75 unit N219 dilirik oleh calon pembeli. Rencananya, pesawat ini dipasarkan dengan harga sekitar US$ 5 juta.
"Peminat sudah ada 75 (unit). Kita nggak berani ngejar (promosi) terus sampai kita yakin pesawat kita seperti apa," ungkapnya.
Untuk pengembangan N219, PTDI menggandeng Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN ikut andil mengirimkan insinyur hingga mendukung pembiayaan dan sertfikasi N219.
"Jadi LAPAN ini mengerjakan litbangnya, mulai dari perencanaan hingga sertifikasi. Untuk pesawat N 219 ini mulai tahun 2016-2017 kita mendanai sebesar Rp 450 milia. Itu yang nyata dalam kontrak," ujar Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin.
Selain N219, LAPAN bersama PTDI akan mengembangkan pesawat penumpang terbaru lainnya, seperti N245 berkapasitas 50 orang dan N270 berkapasitas 70 orang. Pengembangan ini, rencananya dimulai tahun 2016.
"Pesawat N 245 ini juga akan kami siapkan anggaran mulai dari perencanaan sampai sertifikasi. Dananya belum bisa diperkirakan. Yang pasti lebih besar karena pesawatnya juga besar," jelas Thomas. (feb/)
Pesawat karya anak bangsa N 219 rencananya diluncurkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada November 2015 mendatang. Saat November nanti, N219 akan ditarik ke luar hanggar (aseembly line) untuk memperkenalkan wujud asli kepada publik.
Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalama peluncuran wujud N219. Para insinyur PTDI harus bekerja 24 jam untuk menuntaskan proses perakitan pesawat berkapasitas 19 penumpang itu.
"Persiapan launching, kita bekerja 24 jam. Seperti jadi Sangkuriang," ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso kepada wartawan di Kantor Pusat PTDI, Bandung, Sabtu (31/10/2015).
Budi menyebut ratusan insinyur lokal terlibat dalam proses perancangan, perakitan hingga pengujian N219.
"Sekarang ada 150 engineer di area design dan painting. Alhamdulillah semuanya orang Indonesia. Fresh enginer," ucap Budi.
Meski belum secara resmi diluncurkan, namun pesawat N-219 ini sudah banyak peminatnya. Sedikitnya, 75 unit N219 dilirik oleh calon pembeli. Rencananya, pesawat ini dipasarkan dengan harga sekitar US$ 5 juta.
"Peminat sudah ada 75 (unit). Kita nggak berani ngejar (promosi) terus sampai kita yakin pesawat kita seperti apa," ungkapnya.
Untuk pengembangan N219, PTDI menggandeng Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN ikut andil mengirimkan insinyur hingga mendukung pembiayaan dan sertfikasi N219.
"Jadi LAPAN ini mengerjakan litbangnya, mulai dari perencanaan hingga sertifikasi. Untuk pesawat N 219 ini mulai tahun 2016-2017 kita mendanai sebesar Rp 450 milia. Itu yang nyata dalam kontrak," ujar Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin.
Selain N219, LAPAN bersama PTDI akan mengembangkan pesawat penumpang terbaru lainnya, seperti N245 berkapasitas 50 orang dan N270 berkapasitas 70 orang. Pengembangan ini, rencananya dimulai tahun 2016.
"Pesawat N 245 ini juga akan kami siapkan anggaran mulai dari perencanaan sampai sertifikasi. Dananya belum bisa diperkirakan. Yang pasti lebih besar karena pesawatnya juga besar," jelas Thomas. (feb/)
Subscribe to:
Posts (Atom)
