Pada akhir 2013 lalu, PT Dirgantara Indonesia (Persero) memperoleh
kontrak dari pemerintah Filipina untuk pengadaan dua unit pesawat
NC212i. PT DI pun terus menyelesaikan pembuatan pesawat pesanan
pemerintah Filipina tersebut.
Para pekerja menyelesaikan pembuatan pesawat NC212i pesanan pemerintah
Filipina di hanggar milik PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat,
Rabu (4/11/2015).
Kedua pesawat generasi terbaru dari NC212-200 atau NC212-400 pesanan
Filipina ini nilai kontraknya sebesar 820 juta peso Filipina atau
sekitar Rp 225 miliar.
Pesawat ini untuk keperluan Philippines Air Force.
Pengerjaan pesawat ini memakan waktu sekitar 18-20 bulan.
Pengerjaan pesawat ini tinggal tahap akhir sebelum diserahkan.
Showing posts with label PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Show all posts
Showing posts with label PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Show all posts
Friday, 6 November 2015
Wednesday, 4 November 2015
[Foto] Jelang Peluncuran Pesawat N-219
Inilah tampilan pesawat PT.DI N-219 jelang peluncurannya beberapa hari lagi ke publik. PT.DI menargetkan pesawat produksi dalam negeri ini akan diperkenalkan kepada publik pada bulan November 2015. Pada body pesawat ini juga ada logo Lapan, yang menunjukkan Lapan turut serta dalam pembangunan pesawat ini.
jakartagreater
Monday, 2 November 2015
Parlemen Indonesia Setujui Budget Pesawat KF-X
KF-X IF-X Fighter
Parlemen Indonesia telah menyetujui batch pertama dana sebesar 89 miliar Won untuk diinvestasikan dalam pengembangan bersama (jointly developing) jet tempur baru Korea Selatan.
Seorang pejabat kedutaan Korea Selatan di Jakarta mengatakan Sabtu, bahwa parlemen Indonesia menyetujui dana untuk proyek, yang dijuluki KF-X.
Menyusul disetujuinya anggaran ini, maka pemerintah Korea Selatan dan Indonesia, serta perusahaan kedirgantaraan yang berpartisipasi, Korea Aerospace Industries (KAI) dan PT Dirgantara Indonesia, akan memulai negosiasi untuk menandatangani kesepakatan proyek pada awal November di Jakarta.
Indonesia berencana untuk menanggung biaya sebesar 1,7 triliun Won atau 20 persen dari biaya pengembangan pesawat KF-X.
Dengan munculnya lampu hijau di batch pertama ini, Lembaga Program Akuisisi Pertahanan, Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Seoul, meyakini Indonesia akan menyetujui anggaran yang tersisa di fase yang ditentukan.
Berdasarkan perjanjian dasar dari pengembangan bersama pesawat KF-X yang ditandatangani tahun lalu, Indonesia akan menerima satu jet tempur percobaan dan informasi yang berhubungan dengan desain pesawat. Insinyur Indonesia juga akan mengambil bagian dalam proyek ini.
Parlemen Indonesia telah menyetujui batch pertama dana sebesar 89 miliar Won untuk diinvestasikan dalam pengembangan bersama (jointly developing) jet tempur baru Korea Selatan.
Seorang pejabat kedutaan Korea Selatan di Jakarta mengatakan Sabtu, bahwa parlemen Indonesia menyetujui dana untuk proyek, yang dijuluki KF-X.
Menyusul disetujuinya anggaran ini, maka pemerintah Korea Selatan dan Indonesia, serta perusahaan kedirgantaraan yang berpartisipasi, Korea Aerospace Industries (KAI) dan PT Dirgantara Indonesia, akan memulai negosiasi untuk menandatangani kesepakatan proyek pada awal November di Jakarta.
Indonesia berencana untuk menanggung biaya sebesar 1,7 triliun Won atau 20 persen dari biaya pengembangan pesawat KF-X.
Dengan munculnya lampu hijau di batch pertama ini, Lembaga Program Akuisisi Pertahanan, Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Seoul, meyakini Indonesia akan menyetujui anggaran yang tersisa di fase yang ditentukan.
Berdasarkan perjanjian dasar dari pengembangan bersama pesawat KF-X yang ditandatangani tahun lalu, Indonesia akan menerima satu jet tempur percobaan dan informasi yang berhubungan dengan desain pesawat. Insinyur Indonesia juga akan mengambil bagian dalam proyek ini.
Sunday, 1 November 2015
Jonan Minta PTDI Urus Sertifikasi N219 Sebelum Terbang Perdana
Proses perakitan N219 di assembly line PTDI
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, menegaskan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus mengurus sertifikasi kelaikkan pesawat terbarunya N219 dari lembaga-lembaga berkompeten di tingkat nasional maupun internasional.
Sertifikasi harus diurus sebelum pesawat melakukan penerbangan perdana (first flight) dan menjalani pengujian.
"Kami belum menerima uji kelayakan dari pesawat tersebut. Sebelum dilaksanakan uji layak terbang, harus ada sertifikasi dulu dari lembaga nasional dan internasional. Pesawat tidak bisa melakukan uji terbang tanpa sertifikasi terlebih dahulu. Semua pesawat tidak bersertifikasi tidak boleh mengudara,” kata Jonan kepada wartawan di Solo, Sabtu (31/10/2015).
Sertifikasi penerbangan, kata Jonan, memerlukan proses dan tahapan yang cukup panjang. Semua tahapan itu harus ditempuh karena berkaitan aspek keselamatan penerbangan.
"Berkaitan dengan keselamatan tidak ada kemudahan sedikitpun, termasuk kepada PTDI. Kami akan memberi laporan kepada Bapak Presiden terkait pentingnya sertifikasi uji terbang sebelum dilaksanakan uji terbang oleh PTDI," lanjutnya.
Seperti diketahui, PTDI akan memunculkan wujud pesawat N219 secara perdana kepada publik (roll out) pada November 2015. Saat diluncurkan di hadapan Presiden Joko Widodo itu, pesawat belum bisa terbang.
Pesawat N219 yang merupakan 100% rancang-bangun putra putri Indonesia ini baru bisa terbang perdana, 6 bulan setelah diluncurkan ke publik. Sebelum proses first flight, N219 akan menjalani pengujian hingga perbaikan.
Setelah first flight, PTDI akan mengurus proses sertifikasi dalam negeri di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses ini memakan waktu 1-2 tahun. Sejalan dengan proses sertifikasi di dalam negeri, N219 juga akan didaftarkan oleh PTDI ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). (mbr/feb)
Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, menegaskan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus mengurus sertifikasi kelaikkan pesawat terbarunya N219 dari lembaga-lembaga berkompeten di tingkat nasional maupun internasional.
Sertifikasi harus diurus sebelum pesawat melakukan penerbangan perdana (first flight) dan menjalani pengujian.
"Kami belum menerima uji kelayakan dari pesawat tersebut. Sebelum dilaksanakan uji layak terbang, harus ada sertifikasi dulu dari lembaga nasional dan internasional. Pesawat tidak bisa melakukan uji terbang tanpa sertifikasi terlebih dahulu. Semua pesawat tidak bersertifikasi tidak boleh mengudara,” kata Jonan kepada wartawan di Solo, Sabtu (31/10/2015).
Sertifikasi penerbangan, kata Jonan, memerlukan proses dan tahapan yang cukup panjang. Semua tahapan itu harus ditempuh karena berkaitan aspek keselamatan penerbangan.
"Berkaitan dengan keselamatan tidak ada kemudahan sedikitpun, termasuk kepada PTDI. Kami akan memberi laporan kepada Bapak Presiden terkait pentingnya sertifikasi uji terbang sebelum dilaksanakan uji terbang oleh PTDI," lanjutnya.
Seperti diketahui, PTDI akan memunculkan wujud pesawat N219 secara perdana kepada publik (roll out) pada November 2015. Saat diluncurkan di hadapan Presiden Joko Widodo itu, pesawat belum bisa terbang.
Pesawat N219 yang merupakan 100% rancang-bangun putra putri Indonesia ini baru bisa terbang perdana, 6 bulan setelah diluncurkan ke publik. Sebelum proses first flight, N219 akan menjalani pengujian hingga perbaikan.
Setelah first flight, PTDI akan mengurus proses sertifikasi dalam negeri di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses ini memakan waktu 1-2 tahun. Sejalan dengan proses sertifikasi di dalam negeri, N219 juga akan didaftarkan oleh PTDI ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). (mbr/feb)
Thursday, 22 October 2015
Pesawat N219 Made In Bandung Diluncurkan Ke Publik November
PT Dirgantara Indonesia (PTDI) berencana meluncurkan pesawat terbang baling-baling N219 pada bulan November 2015. Wujud pesawat penumpang karya insinyur penerbangan di Bandung, Jawa Barat, ini bakal ditampilkan ke publik (roll out). ”N219 pada bulan depan akan roll out.
Dia dikeluarkan dari hanggar dengan desain sudah freeze," kata Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno kepada detikFinance, Rabu (21/10/2015).
Setelah ditampilkan ke publik, PTDI sebagai pengembang akan melakukan uji terbang hingga mengurus sertifikasi nasionall. Proses ini berlangsung 1 tahun. Selanjutnya, diikuti oleh produksi massal. "Saat uji terbang dibuat beberapa tipe," ujarnya. Selain mengurus sertifikasi di tanah air, N219 akan didaftarkan ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). "Kita langsung sertifikasi EASA juga. Ini nggak sertifikasi FAA karena kita nggak terbang (dijual) ke Amerika" ujarnya. Saat diperkenalkan pada November nanti, komponen lokal masih berkontribusi 35% terhadap produk N219.
Kontribusi komponen lokal akan ditingkatkan 60% sampai 70%, seiring selesainya pembuatan komponen aluminium yang dibuat oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero). "Kita rencanakan 60-70% komponen lokal. Engine dan landing gear, kita masih impor. Ada Inalum buat alumunium sehingga komponen lokal naik. Terus LEN (BUMN) buat avionic," ujarnya. Harry menyebut N219 akan membidik pasar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Untuk Indonesia saja, Harry memperkirakan kebutuhan N219 mencapai 500 unit. Pesawat yang mampu membawa 19 orang penumpang ini diperuntukan melayani penerbangan perintis dan daerah terpencil. "Ini belum kebutuhan ASEAN," jelasnya. (feb/ang)
Dia dikeluarkan dari hanggar dengan desain sudah freeze," kata Deputi BUMN Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Fajar Harry Sampurno kepada detikFinance, Rabu (21/10/2015).
Setelah ditampilkan ke publik, PTDI sebagai pengembang akan melakukan uji terbang hingga mengurus sertifikasi nasionall. Proses ini berlangsung 1 tahun. Selanjutnya, diikuti oleh produksi massal. "Saat uji terbang dibuat beberapa tipe," ujarnya. Selain mengurus sertifikasi di tanah air, N219 akan didaftarkan ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). "Kita langsung sertifikasi EASA juga. Ini nggak sertifikasi FAA karena kita nggak terbang (dijual) ke Amerika" ujarnya. Saat diperkenalkan pada November nanti, komponen lokal masih berkontribusi 35% terhadap produk N219.
Kontribusi komponen lokal akan ditingkatkan 60% sampai 70%, seiring selesainya pembuatan komponen aluminium yang dibuat oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero). "Kita rencanakan 60-70% komponen lokal. Engine dan landing gear, kita masih impor. Ada Inalum buat alumunium sehingga komponen lokal naik. Terus LEN (BUMN) buat avionic," ujarnya. Harry menyebut N219 akan membidik pasar di Indonesia dan Asia Tenggara.
Untuk Indonesia saja, Harry memperkirakan kebutuhan N219 mencapai 500 unit. Pesawat yang mampu membawa 19 orang penumpang ini diperuntukan melayani penerbangan perintis dan daerah terpencil. "Ini belum kebutuhan ASEAN," jelasnya. (feb/ang)
Subscribe to:
Posts (Atom)





