Showing posts with label Pesawat N219. Show all posts
Showing posts with label Pesawat N219. Show all posts

Saturday, 14 November 2015

Pesawat N-219 Banyak Dipesan

Tidak Hanya untuk Sipil, tetapi Juga untuk Kepentingan Militer

Pesawat N-219 yang dikembangkan PT DI bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. (photos : Kaskus Militer)
 
Pesawat baru produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero), yakni N-219, diminati sejumlah perusahaan penerbangan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Pemesanan sudah mulai dilakukan meski saat ini PT DI sedang dalam tahap perakitan akhir untuk pembuatan prototipe pesawat tersebut.
Budi mengemukakan hal itu seusai acara syukuran atas Pencapaian Tahap Validasi Rekayasa Rancang Bangun Struktur N-219 Hasil Kerja Sama PT DI dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di hanggar N-219, Bandung.

PT Dirgantara Indonesia, Bandung,  membuat  pesawat N-219, seperti terlihat Kamis (12/11). Pesawat dengan desain, teknologi, serta interior yang seluruhnya dikerjakan oleh Indonesia ini memiliki banyak kelebihan, antara lain  mampu menjelajah ke daerah pelosok yang memiliki  landasan  pendek. Pesawat ini dikembangkan  PT DI bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Pesawat itu telah selesai dirancang dan dibangun strukturnya secara utuh berbentuk pesawat asli, dan direncanakan diresmikan Presiden Joko Widodo. Pesawat komuter berkapasitas 19 penumpang dengan dua mesin turboprop dan bernilai investasi sekitar 50 juta dollar AS itu direncanakan pula dapat terbang perdana pada tahun 2016.

Sejumlah perusahaan penerbangan yang berminat membeli N-219 di antaranya Aviastar dan Trigana Air. Perusahaan ini telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT DI. Selain itu, sejumlah negara juga telah menyatakan minatnya untuk membeli pesawat angkut ringan yang dapat beroperasi di daerah penerbangan perintis ini, yaitu Kroasia, Laos, dan Thailand. Thailand yang pernah membeli pesawat NC-212 dan CN 235 itu ingin membeli N-219 untuk kegiatan menurunkan hujan buatan guna mendukung pertaniannya. “Kanada juga menawarkan kerja sama untuk produksi N-219,” ujar Budi.

PT DI menargetkan produksi N-219 pada 2017 rata-rata 6 unit per tahun, lalu pada 2018 sebanyak 10 unit per tahun, dan pada 2019 ditingkatkan sebanyak 18 unit per tahun, dan maksimal adalah 20 unit per tahun dengan melihat pula kebutuhan pasar.


Budi mengemukakan, pihaknya optimistis pesawat N-219 mampu menguasai pasar pesawat terbang di kelasnya. Harga jual pesawat ini juga diupayakan berkisar 5 juta – 6 juta dollar AS per unit. Harga ini relatif lebih murah dibandingkan dengan kompetitor, yakni pesawat Twin Otter buatan Kanada yang dijual sekitar 7 juta dollar AS per unit.

Pesawat N-219 juga memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya dapat lepas landas dan mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter, dapat lepas landas dan mendarat di landasan yang tidak beraspal, mudah dioperasikan di beberapa daerah terpencil, kabin terluas di kelasnya, serta biaya operasional yang kompetitif.

“Pesawat N-219 juga unggul karena desainnya mengacu pada teknologi tahun 2000-an, sedangkan kompetitor desainnya adalah teknologi tahun 1960-an. Pesawat ini juga dapat dikendalikan dengan kecepatan rendah, yaitu 59 knot. Itu sebabnya pesawat ini dapat mendarat dalam jarak pendek di landasan sepanjang 600 meter. Dengan demikian, pesawat ini sangat cocok untuk melayani penerbangan perintis dengan kondisi bandara di daerah- daerah terpencil, yang umumnya kondisi landasan pendek dan tidak beraspal,” tutur Budi.

Budi juga menjelaskan, pesawat N-219 dapat digunakan untuk menjangkau seluruh daerah penerbangan perintis di Indonesia yang tersebar di 21 provinsi, meliputi 170 rute penerbangan. Rute penerbangan perintis terbanyak adalah di kawasan Sulawesi dan Papua. “Paling tidak dengan 100 unit pesawat N-219 sudah dapat melayani semua rute penerbangan perintis,” ujarnya.

Chief Engineering N-219 PT DI Palmana Bhanadhi mengatakan, pesawat N-219 juga dapat difungsikan untuk kegiatan militer, patroli maritim, ataupun evakuasi di daerah bencana. Palmana menyinggung pula, mesin N-219 menggunakan PT6-42A, 850 shaft horse power (shp) buatan Kanada, dan baling-baling Hartzell buatan AS.

“Untuk sistem avionik, kami menggunakan Garmin 1000 buatan AS. Dalam pemilihan mesin ini, kami tidak pilih satu perusahaan, tetapi melalui seleksi pada sejumlah perusahaan. Kami juga beraudiensi dengan customer, dan mereka lebih menyukai mesin dari Kanada ini yang reputasinya dikenal bagus. Mesin ini telah digunakan lebih dari 2.500 pesawat. Dengan begitu, harganya tidak mahal, pemeliharaan dan suku cadang juga mudah diperoleh,” katanya. 

kompas

Wednesday, 11 November 2015

Jokowi Tak Hadir, Pesawat N219 Buatan Indonesia Gagal Roll Out

Industri penerbangan Indonesia kembali membuat pesawat jenis komersil. Pesawat tersebut merupakan produksi anak negeri yang langsung dipimpin oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI). 

Menurut Ketua Serikat Pekerja PT Dirgantara Indonesia (DI) khaidir, proses pembuatan pesawat ini sudah dilakukan sejak 2011.

Meskipun sebagian besar komponen didatangkan dari luar negeri, namun keseluruhan pengerjaan dilakukan oleh anak bangsa.

"Itu 100 persen buatan Indonesia, tidak ada bule satu pun," ujar Khaidir di Jakarta, Selasa (10/11/2015).

Pesawat ini merupakan jenis pesawat komersil dengan kapasitas 19 orang penumpang. Saat ini pesawat tersebut telah selesai dirakit, namun belum bisa diperlihatkan ke publik.

"Saat ini berada di Bandung, tapi belum bisa diakses publik karena masih menunggu roll out dari Presiden" Pesawat yang diberi label n219 ini rencananya akan diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini sejalan dengan peringatan Hari Pahlawan Nasional. Namun, karena presiden berhalangan hadir, proses peluncuran gagal dilakukan hari ini dan ditunda hingga waktu yang belum ditentukan. 

"Kita masih belum tahu kapan akan roll out lagi, masih menunggu presiden," imbuh Khaidir. (rzk)
 

Friday, 6 November 2015

China Luncurkan Pesawat C919, Indonesia Punya N219

Perakitan Pesawat N219

Setelah China meluncurkan pesawat jet komersial pertamanya, C919, ke publik pada 2 November 2015 kemarin, PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menjadwalkan hal sama. Pada November ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut akan melakukan perayaan dan perkenalan wujud pesawat N219 kepada publik. Pada proses yang biasa disebut roll out ini, N219 akan ditarik dari hanggar dan diperkenalkan ke publik.

Para insinyur pesawat PTDI saat ini sedang sibuk merakit bagian-bagian pesawat pada hanggar assembly line di Bandung, Jawa Barat. "Bulan November siap," kata Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, kepada detikFinance, Selasa (3/11/2015).

Untuk mengejar target itu, para insinyur PTDI bekerja keroyokan selama 24 jam. Alasannya, PTDI berencana mengundang Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melihat wujud pesawat baling-baling yang mampu membawa 19 penumpang itu saat proses roll out.

"Persiapan launching, kita bekerja 24 jam. Seperti jadi Sangkuriang," jelasnya.

Pesawat komersial baling-baling dengan 2 mesin buatan Pratt & Whitney ini, nantinya dibanderol seharga US$ 5 juta per unit, atau lebih murah dari pesawat sejenis yang ada di pasaran. Hingga kini, PTDI telah mengantongi order atau minat terhadap N219 sebanyak 75 unit.

Untuk pengembangan, PTDI melibatkan sekitar 300 ahli pesawat lokal. Pengembangan murni memakai 100% jasa tenaga lokal. Berbeda dengan pengembangan pesawat pendahulu yakni N250, proses perancangan hingga perakitan melibatkan ratusan insinyur pesawat asing.

"Ini tenaga lokal semua. Ini campuran senior dan junior, totalnya hampir 300 insinyur," jelasnya.

Setelah roll out pada November ini, N219 akan melakukan uji struktur hingga uji sistem selama 6 bulan. Proses ini diperlukan untuk mengantongi flight permit dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPPU), Ditjen Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Flight permit dipakai sebagai syarat melakukan terbang perdana (first flight). Ditargetkan, N219 bisa terbang perdana pada Mei 2016.

"Target kami first flight pada bulan Mei 2016. Untuk proses first flight, kami harus dapatkan flight permit dari DKUPPU Kemenhub," kata Program Manager PTDI untuk N219, Budi Sampurno kepada detikFinance.

Setelah melakukan first flight, PTDI akan melakukan uji terbang (test flight) N219. Proses ini dilakukan selama 630 jam terbang. Syarat test flight diperlukan untung mengatongi sertifakasi tipe (type certificate) dari Kemenhub. PTDI sendiri telah mengajukan permohonan sertifikasi tipe N219 ke Kemehub sejak 4 Februari 2014.

"Sesuai regulasi CASR (Civil Aviation Safety Regulations) 23, waktu yang diberikan untuk sertifikasi 3 tahun. Jadi target kami tanggal 4 Februari 2017, N219 sudah dapat Type Certficate atau sertfikat laik terbang dari Kemenhub," jelas Budi.

Sejalan dengan permohonan sertifikasi ke Kemenhub, PTDI juga mengajukan uji sertifikasi kelaikan terbang N219 ke lembaga penerbangan internasional seperti, European Aviation Safety Agency (EASA).

Setelah mengantongi sertifikasi dari Kemenhub, PTDI akan mengurus production certificate sebagai syarat tambahan untuk melakukan produksi massal N219 di Bandung, Jawa Barat. Alhasil, produksi massal bisa dilakukan pada awal 2017.

"Produksi massal boleh dilakukan setelah mendapatkan type certificate," sebutnya.

N219 merupakan pesawat yang mulai dirancang sejak 2007 lalu. Pesawat ini dibuat dengan kapasitas 19 orang dan memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak pendek, sehingga cocok untuk daerah-daerah terpencil, termasuk di Indonesia.


RI Tak Berani Tiru China Saingi Boeing dan Airbus, Ini Alasannya

 

 
Hanggar PTDI

Indonesia pada era 1990-an pernah menggagas pengembangan pesawat jet komersial berkapasitas di atas 100 orang, yaitu N2130. Belum sampai ke tahap terbang perdana alias baru memasuki desain awal, proyek ini dihentikan.

Saat itu, produsen pesawat dunia Boeing dan Airbus sempat merasa 'terancam' dengan rencana Indonesia masuk ke kelas pesawat bermesin jet untuk membawa di atas 100 penumpang. 

Belajar dari kondisi itu, Indonesia akan fokus masuk ke pesawat penumpang baling-baling. Sementara China, baru-baru ini menerbitkan pesawat baru C919, yang menyaingi Airbus dan Boeing.

"Masuk ke jet, kita bisa diganyang Boeing, Airbus, terus produsen dari Jepang dan China. Indonesia jangan pesawat di atas 100 penumpang. Itu lahan mereka," kata Kepala Program Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Agus Aribowo kepada detikFinance, Selasa (3/11/2015).

Selain itu, landasan pesawat di Indonesia mayoritas di bawah 2.000 meter. Padahal, pesawat jet sekelas Boeing 737 memerlukan panjang landasan minimal di atas 2.000 meter agar pesawat bisa take off landing. Alhasil, pengembangan pesawat baling-baling dinilai tepat untuk memenuhi kebutuhan pasar pesawat dan kondisi bandara RI.

LAPAN juga memiliki ide untuk masuk ke pesawat di atas 100 orang, namun dengan penggerak baling-baling. LAPAN berencana dalam jangka panjang membuat pesawat baling-baling berkapasitas di atas 140 penumpang, N2140. Pasar pesawat baling-baling untuk angkutan komersial kelas ini belum digarap oleh produsen pesawat dunia seperti ATR.

"Kita tidak masuk di pasar yang dikuasai negara besar. Di kelas 145 penumpang dengan propeller (baling-baling), kita belum ada saingan," ujarnya.

Untuk menggerakkan pesawat itu, LAPAN menawarkan penggunaan mesin Europrop. mesin tipe terbaru ini, telah dipakai pada pesawat angkut militer raksasa keluaran Airbus, A-400.

Meski bisa membawa penumpang setara pesawat jet narrow body, N2140 usulan LAPAN bisa mendarat pada landasan di bawah 2.000 meter. "Baling-baling bisa mendarat pada landasan 1.500-1.800 meter," jelasnya.

LAPAN akan memasukkan rencana N2140 ke dalam master plan pengembangan kedirgantaraan jangka panjang. N2130 rencananya dikembangkan setelah LAPAN bersama PT Dirgantara Indonesia (Persero) mengembangkan pesawat baling-baling kelas N219 sampai N270. Untuk pengembangan pesawat baling-baling raksasa ini, LAPAN memproyeksi kebutuhan investasi di atas Rp 5 triliun.
(feb/dnl)

Detik 

Indonesia Gencar Bikin Pesawat

Setelah N219 Ada N245 dan N270

N245

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) bersama Pesawat Terbang Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN) berencana mengembangkan pesawat lanjutan pasca N219. Sebelum N219 terbang perdana (first flight) pada Mei 2016, PTDI dan LAPAN pada awal 2016 akan memulai mengembangkan pesawat berkapasitas antara 50 penumpang hingga 90 penumpang yakni N245 dan N270.

Tahap awal, PTDI dan LAPAN masuk pada pesawat baling-baling kelas 50-60 penumpang di 2016. Pesawat ini adalah N245, yang merupakan pesawat baling-baling pengembangan dari pesawat versi militer, CN235.

PTDI dan LAPAN memulai pengembangan N245, meskipun N219 belum terbang karena proses pengembangan pesawat dari desain konseptual dan feasibility study, hingga pesawat mengantongi sertfikasi dan siap produksi memakan waktu tidak sebentar.

"Proses pengembangan pesawat bukan langsung gambar maksudnya program ini dimulai, sambil N219 berjalan dan sudah mendekati selesai. Kita (untuk N219) melakukan studi pasar sama membuat desain konseptual terlebih dahulu," kata Kepala Program Pesawat Terbang LAPAN, Agus Aribowo, kepada detikFinance, Selasa (3/11/2015).

Setelah melakukan desain konseptual dan diketahui tentang potensi pasar, PTDI dan LAPAN melakukan pada tahapan uji terowongan angin fase 1. Selanjutnya, PTDI dan LAPAN melakukan verifikasi desain dan disusul preliminary design. Di sini bentuk pesawat sudah terlihat aerodinamiknya.

Proses kemudian berlanjut ke uji terowongan ke-2 dan ke-3, baru masuk ke fase detil desain. Di sini seluruh komponen pesawat digambar secara detil. Proses berikutnya ialah pembuatan prototype.

"Baru roll out dan terakhir test flight dalam rangka sertifikasi," jelasnya.

PTDI dan LAPAN menargetkan pesawat N245 bisa mengantongi sertifikasi dari regulator penerbangan nasional pada akhir 2019.


Hanggar PT DI

Agus menjelaskan, pengembangan N245 relatif tidak terlalu komplek daripada pengembangan N219, karena N245 merupakan pengembangan dan penyempurnaan dari CN235 yang telah lama dikembangkan oleh PTDI bersama Airbus Military. Dengan modifikasi, N245 bisa memiliki kapasitas 50 sampai 60 penumpang.

"Kebutuhan pasar dengan kemampuan basic CN235, itu kita akan modifikasi dari versi militer jadi versi sipil dengan ganti engine yang lebih efisien dan lebih irit. Kemudian avionic system pada cokpit diganti dengan varian terbaru yakni glass cockpit," tuturnya.

Untuk varian N270, PTDI dan LAPAN merencanakan pengembangan pesawat ini pada periode 2019-2024. N270 dirancang mampu membawa penumpang antara 70 sampai 90 orang.

"N270 itu memanjangkan yang N245 jadi 70-90 penumpang. Ini biaya development lebih irit karena hanya pengembangan," jelasnya.

Wednesday, 4 November 2015

[Foto] Jelang Peluncuran Pesawat N-219




Inilah tampilan pesawat PT.DI N-219 jelang peluncurannya beberapa hari lagi ke publik. PT.DI menargetkan pesawat produksi dalam negeri ini akan diperkenalkan kepada publik pada bulan November 2015. Pada body pesawat ini juga ada logo Lapan, yang menunjukkan Lapan turut serta dalam pembangunan pesawat ini. 


jakartagreater 

Sunday, 1 November 2015

Jonan Minta PTDI Urus Sertifikasi N219 Sebelum Terbang Perdana

Proses perakitan N219 di assembly line PTDI

Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan, menegaskan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) harus mengurus sertifikasi kelaikkan pesawat terbarunya N219 dari lembaga-lembaga berkompeten di tingkat nasional maupun internasional.

Sertifikasi harus diurus sebelum pesawat melakukan penerbangan perdana (first flight) dan menjalani pengujian.

"Kami belum menerima uji kelayakan dari pesawat tersebut. Sebelum dilaksanakan uji layak terbang, harus ada sertifikasi dulu dari lembaga nasional dan internasional. Pesawat tidak bisa melakukan uji terbang tanpa sertifikasi terlebih dahulu. Semua pesawat tidak bersertifikasi tidak boleh mengudara,” kata Jonan kepada wartawan di Solo, Sabtu (31/10/2015).

Sertifikasi penerbangan, kata Jonan, memerlukan proses dan tahapan yang cukup‎ panjang. Semua tahapan itu harus ditempuh karena berkaitan aspek keselamatan penerbangan.

"Berkaitan dengan keselamatan tidak ada kemudahan sedikitpun, termasuk kepada PTDI. Kami akan memberi laporan kepada Bapak Presiden terkait pentingnya sertifikasi uji terbang sebelum dilaksanakan uji terbang oleh PTDI," lanjutnya.

Seperti diketahui, PTDI akan memunculkan wujud pesawat N219 secara perdana kepada publik (roll out) pada November 2015. Saat diluncurkan di hadapan Presiden Joko Widodo itu, pesawat belum bisa terbang.

Pesawat N219 yang merupakan 100% rancang-bangun putra putri Indonesia ini baru bisa terbang perdana, 6 bulan setelah diluncurkan ke publik. Sebelum proses first flight, N219 akan menjalani pengujian hingga perbaikan.

Setelah first flight, PTDI akan mengurus proses sertifikasi dalam negeri di Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Proses ini memakan waktu 1-2 tahun. Sejalan dengan proses sertifikasi di dalam negeri, N219 juga akan didaftarkan oleh PTDI ke badan keselamatan penerbangan Uni Eropa (European Aviation Safety Agency/EASA). (mbr/feb)

Bikin Pesawat N219, Insinyur PTDI Kerja 24 Jam

Pesawat N219 merupakan pesawat berpenumpang 19 orang yang memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak yang pendek. N219 adalah proyek yang dikerjakan seluruhnya oleh anak bangsa yang mulai dirancang sejak 2007 lalu, oleh 300 insinyur Indonesia.

Pesawat karya anak bangsa N 219 rencananya diluncurkan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI) pada November 2015 mendatang. Saat November nanti, N219 akan ditarik ke luar hanggar (aseembly line) untuk memperkenalkan wujud asli kepada publik.

Rencananya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hadir dalama peluncuran wujud N219. Para insinyur PTDI harus bekerja 24 jam untuk menuntaskan proses perakitan pesawat berkapasitas 19 penumpang itu.

"Persiapan launching, kita bekerja 24 jam. Seperti jadi Sangkuriang," ujar Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso kepada wartawan di Kantor Pusat PTDI, Bandung, Sabtu (31/10/2015).

Budi menyebut ratusan insinyur lokal terlibat dalam proses perancangan, perakitan hingga pengujian N219.

"Sekarang ada 150 engineer di area design dan painting. Alhamdulillah semuanya orang Indonesia. Fresh enginer," ucap Budi.

Meski belum secara resmi diluncurkan, namun pesawat N-219 ini sudah banyak peminatnya. Sedikitnya, 75 unit N219 dilirik oleh calon pembeli. Rencananya, pesawat ini dipasarkan dengan harga sekitar US$ 5 juta.

"Peminat sudah ada 75 (unit). Kita nggak berani ngejar (promosi) terus sampai kita yakin pesawat kita seperti apa," ungkapnya.

Untuk pengembangan N219, PTDI menggandeng Lembaga Penerbangan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN ikut andil mengirimkan insinyur hingga mendukung pembiayaan dan sertfikasi N219.

"Jadi LAPAN ini mengerjakan litbangnya, mulai dari perencanaan hingga sertifikasi. Untuk pesawat N 219 ini mulai tahun 2016-2017 kita mendanai sebesar Rp 450 milia. Itu yang nyata dalam kontrak," ujar Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin.

Selain N219, LAPAN bersama PTDI akan mengembangkan pesawat penumpang terbaru lainnya, seperti N245 berkapasitas 50 orang dan N270 berkapasitas 70 orang. Pengembangan ini, rencananya dimulai tahun 2016.

"Pesawat N 245 ini juga akan kami siapkan anggaran mulai dari perencanaan sampai sertifikasi. Dananya belum bisa diperkirakan. Yang pasti lebih besar karena pesawatnya juga besar," jelas Thomas. (feb/)

Friday, 30 October 2015

[Foto] Penampakan N219 Yang Dibuat Oleh 300 Insinyur RI

Replika Pesawat N219

Pembuatan prototipe pesawat N219 hasil kerjasama antara PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sudah tahap final. PT DI melalui pabriknya di Bandung kini sedang persiapan roll out atau memunculkan pertama kali ke publik pesawat N219 pada November 2015.


Proyek pembangunan dan pengembangan pesawat N219 didukung pemerintah pusat melalui LAPAN dalam bentuk pemberian anggaran sekitar Rp 400 miliar. Alokasi tersebut diberikan untuk pembuatan dua prototipe N219.


Harga jual N219 belum resmi dirilis, namun diperkirakan harganya sekitar US$ 5 juta atau lebih murah dari kompetitor.

Pesawat N219 merupakan pesawat berpenumpang 19 orang yang memiliki kelebihan bisa lepas landas dalam jarak yang pendek. N219 adalah proyek yang dikerjakan seluruhnya oleh anak bangsa yang mulai dirancang sejak 2007 lalu, oleh 300 insinyur Indonesia.


Target awal proyek ini, prototipe atau purwarupa pesawat sudah selesai dan dipamerkan pada Agustus 2015, namun akhirnya mundur jadi November 2015. Setelah itu menjalani penerbangan pertamanya pada 2016. Targetnya N219 bisa masuk pasar pada 2017, setelah proses sertifikasi (hen/rrd)
Detik 

Pesawat N219 Dibuat 300 Insinyur Dalam Negeri

Perakitan Pesawat N219

PT Dirgantara Indonesia (Persero) melibatkan 300-an insinyur yang ahli di dunia penerbangan dalam pengembangan pesawat N219. Dalam pengembangan ini, BUMN produsen pesawat yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat ini tidak melibatkan ahli pesawat dari luar negeri.

"Ini tenaga lokal semua. Ini campuran senior dan junior, totalnya hampir 300 insinyur," kata Direktur Utama PTDI, Budi Santoso, kepada detikFinance, Jumat (30/10/2015).

PTDI ingin pengembangan dan produksi pesawat N219 memberdayakan tenaga kerja lokal. Apalagi, PTDI pernah berpengalaman mengembangkan N250 pada periode 1990-an. Para insinyur pesawat senior kemudian melatih para insinyur muda sebagai bagian dari regenerasi. Meskipun ada kesalahan-kesalahan, namun hal tersebut dipandang sebagai suatu proses pembelajaran.

"Ini tenaga lokal semua, karena kalau kita nggak percaya diri maka kita nggak bisa dan nggak bisa pinter," ujarnya.

Berbeda dengan pengembangan N250 pada era BJ Habibie. Kala itu, proses pengembangan melibatkan ratusan engineer pesawat dari luar negeri.

"Dalam proyek N250, melibatkan 300-400 orang asing. Sekarang ini (N219) harus nol," jelasnya.

Untuk melahirkan N219 hingga siap menjalani terbang perdana, proyek N219 memakan dana Rp 500 miliar-Rp 600 miliar. Dana ini didukung oleh internal PTDI dan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Rencananya, N219 bakal diperkenalkan pada publik pada November 2015. Wujud utuh N219 akan ditarik dari hanggar. Proses ini dikenal dengan istilah roll out. Setelah itu, dilakukan pengujian dan penyempurnaan selama 6 bulan. Bila dinilai layak, PTDI akan melakukan terbang perdana atau first flight N219. (feb/rrd)