Saturday, 24 October 2015
Uji Roket Dinamis RHan-122 B dengan Desain Warhead Baru
Lima unit roket pertahanan RHan-122 B berhasil diluncurkan dalam uji dinamis yang dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 2015 di Lapangan Balai Produksi dan Pengujian Roket LAPAN Pameungpeuk, Garut. Pengujian ini dihadiri oleh instansi pemerintahan dan perusahaan BUMN yang tergabung dalam Konsorsium Roket Nasional yaitu Kementerian Pertahanan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), PT Pindad (Persero), PT Dahana (Persero), dan PT Dirgantara Indonesia (Persero). Menggunakan peluncur roket PL 112 B dengan laras tunggal GRAD RM-70, lima unit RHan-122 B berhasil diluncurkan dengan baik.
Uji dinamis dilakukan dengan tujuan untuk memvalidasi desain roket RHan-122 B setelah dilakukan perbaikan dengan melakukan pengamatan dan perekaman data performansi roket pada saat diterbangkan, juga untuk menguji integrasi desain dan robustness design roket. Uji dinamis yang dilakukan sebelumnya, 20 Agustus 2015, berhasil dengan baik dan menghasilkan desain motor roket yang dinyatakan sudah freeze. Namun, pengujian beberapa unit saja dirasa belum cukup untuk produk yang akan diproduksi secara massal. Selain itu, desain warhead yang digunakan saat itu dinilai belum dapat digunakan sebagai sistem alutsista. Oleh karena, itu dilakukan perbaikan untuk mendapatkan peningkatan performansi dan efektivitas warhead yang lebih baik. Desain warhead yang saat ini digunakan sudah diuji performanya lewat uji statis yang dilaksanakan pada 16-17 September 2015 lalu.
Kepala Kegiatan uji dinamis ini, yang juga menjabat sebagai Kapuslitbang Alpalhan Balitbang Kemhan, Laksmana Pertama TNI Budihardja Raden mengatakan bahwa pengujian hari itu telah berhasil dengan baik, namun masih banyak tugas yang menanti Konsorsium Roket Nasional di masa depan, untuk mewujudkan 7 program nasional yang salah satunya adalah roket. “Ini merupakan perjalanan panjang yang belum selesai, namun demikian hari ini kita telah menorehkan satu milestone, satu tanda dalam sejarah roket nasional. Roket Pertahanan 122 B merupakan produk yang akan terus kita kembangkan untuk mencapai kemandirian dalam produksi roket nasional,” tuturnya.
Lima unit RHan-122 B melalui pengujian yang bersifat ground to ocean, dengan menggunakan empat warhead berbeda. Satu unit dengan warhead inert atau dummy, 1 unit dengan warhead asap, 1 unit dengan warhead telemetry, dan 2 unit dengan warhead high explosive. Uji dinamis ini diharapkan akan menghasilkan data-data untuk mengetahui prestasi terbang roket, perilaku terbang roket, serta konsistensi performansi dan jarak jangkau.
Hasil pengujian ini akan dijadikan bahan evaluasi untuk uji dinamis berikutnya untuk melihat konsistensi performansi roket, sebelum melangkah ke tahap pembuatan tabel tembak dan produksi. (Anggia)
Evakuasi Warga Korban Asap, TNI AL Kerahkan Dua Kapal
KRI Banda Aceh milik TNI AL. (Reuters/Adek Berry/Pool)
Pemerintah pusat memastikan akan memulai proses evakuasi warga yang terdampak kabut asap di sembilan provinsi. Pemerintah, melalui TNI Angkatan Laut, akan mengerahkan dua kapal jenis landing dock platform.
Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Ade Supendi, mengatakan dua kapal tersebut adalah KRI Banda Aceh dan KRI Teluk Jakarta. Pada operasi selain perang, dua kapal tersebut biasa digunakan untuk misi kemanusiaan.
"Kami menyiapkan dua LPD, khusus untuk penanganan ISPA (penyakit infeksi pernfasan akut). Panglima TNI juga menyuruh kami mempersiapkan KRI Soeharso," ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Jumat (23/10).
Ade menuturkan, tak hanya mengerahkan kapal, TNI juga akan menerjunkan tim kesehatan yang lengkap.
Secara teknis, pasukan TNI AL akan menjemput warga dari dermaga-dermaga terdekat menggunakan kapal kecil yang mampu menampung 100 orang. Kapal itu akan membawa warga ke KRI yang berada di laut.
Warga yang sakit nantinya akan langsung mendapatkan penanganan medis setibanya di KRI. Ade mengatakan, ketika kondisi kesehatan warga tersebut mulai membaik, dia akan dikembalikan ke darat untuk bergantian dengan mereka yang terkena ISPA dan belum mendapatkan perawatan.
Ade memaparkan, satu KRI dapat menampung sekitar 600 hingga seribu orang. Sedangkan untuk tujuan pertama kapal kemanusiaan TNI AL tersebut adalah ibu kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
"Kami akan menyesuaikan, tergantung BNPB dan BMKG. Yang jelas ke daerah membutuhkan evakuasi dan menuju daerah udaranya cukup segar," ujar Ade.
Ade mengatakan, institusinya tidak dapat menentukan target waktu
pelaksanaan program evakuasi tersebut. Yang jelas, menurutnya, evakuasi
akan terus berlangsung sebelum kabut asap benar-benar berkurang dan
dapat dikendalikan.
Di tempat yang sama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, mengatakan kementeriannya telah berkoordinasi dengan para dekan fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi. Natsir mengambil langkah itu untuk mendukung proeses evakuasi.
"Hari ini mereka sudah action dan besok sudah harus langsung mengambil tindakan ke lapangan dengan menggunakan peralatan kesehatan yang ada di daerah," ucapnya.
Selain itu, Kemenristekdikti juga akan membagikan penjernih udara ke
tujuh provinsi, yakni Riau, Jambi, Palembang, Sumsel, Kalbar, Kalteng,
Kalsel dan Kaltim.
"ITB dan Undip sudah ada air purifier. Kami sudah suruh mereka memproduksi sebanyak-banyaknya," kata Nasir. (meg)
Pemerintah pusat memastikan akan memulai proses evakuasi warga yang terdampak kabut asap di sembilan provinsi. Pemerintah, melalui TNI Angkatan Laut, akan mengerahkan dua kapal jenis landing dock platform.
Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Ade Supendi, mengatakan dua kapal tersebut adalah KRI Banda Aceh dan KRI Teluk Jakarta. Pada operasi selain perang, dua kapal tersebut biasa digunakan untuk misi kemanusiaan.
"Kami menyiapkan dua LPD, khusus untuk penanganan ISPA (penyakit infeksi pernfasan akut). Panglima TNI juga menyuruh kami mempersiapkan KRI Soeharso," ujarnya di kantor Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, Jumat (23/10).
Secara teknis, pasukan TNI AL akan menjemput warga dari dermaga-dermaga terdekat menggunakan kapal kecil yang mampu menampung 100 orang. Kapal itu akan membawa warga ke KRI yang berada di laut.
Warga yang sakit nantinya akan langsung mendapatkan penanganan medis setibanya di KRI. Ade mengatakan, ketika kondisi kesehatan warga tersebut mulai membaik, dia akan dikembalikan ke darat untuk bergantian dengan mereka yang terkena ISPA dan belum mendapatkan perawatan.
Ade memaparkan, satu KRI dapat menampung sekitar 600 hingga seribu orang. Sedangkan untuk tujuan pertama kapal kemanusiaan TNI AL tersebut adalah ibu kota Kalimantan Selatan, Banjarmasin.
"Kami akan menyesuaikan, tergantung BNPB dan BMKG. Yang jelas ke daerah membutuhkan evakuasi dan menuju daerah udaranya cukup segar," ujar Ade.
Di tempat yang sama Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir, mengatakan kementeriannya telah berkoordinasi dengan para dekan fakultas kedokteran di sejumlah perguruan tinggi. Natsir mengambil langkah itu untuk mendukung proeses evakuasi.
"Hari ini mereka sudah action dan besok sudah harus langsung mengambil tindakan ke lapangan dengan menggunakan peralatan kesehatan yang ada di daerah," ucapnya.
"ITB dan Undip sudah ada air purifier. Kami sudah suruh mereka memproduksi sebanyak-banyaknya," kata Nasir. (meg)
TNI AL: Selat Malaka Tak Lagi Berstatus Paling Berbahaya
Pilot pesawat NC-212
Mayor Laut (P) Hardensi (kanan) dan Co Pilot Lettu Laut (P) Dymas A dari
Wing Udara 2 Skuadron 800 Puspenerbal TNI AL melakukan Patroli Maritim
ke Selat Malaka, Selasa (10/2). (ANTARA FOTO/Joko Sulistyo)
Panglima Komando Armada Kawasan Barat, Laksamana Pertama Achmad Taufiqoerrochman, menyatakan kinerja TNI Angkatan Laut telah menghapus status kawasan paling rawan tindak kejahatan dari kawasan perairan barat, termasuk Selat Malaka.
Ia berkata, Selat Malaka tidak lagi dapat disamakan dengan perairan Somalia di Afrika yang rawan perompakan. Ia juga mengklaim, tingkat kejahatan di kawasan tersebut menurun hingga 70 persen setelah triwulan pertama tahun 2015.
"Di Selat Malaka, tidak terjadi penyanderaan seperti yang menimpa kapal MV Sinar Kudus di perairan Somalia. Hanya ada pencurian, tidak ada pembajakan kapal," ujarnya di Jakarta, Jumat (23/10).
Menurut Taufiq, penurunan tingkat kejahatan di Selat Malaka tidak lepas dari kerja sama antara Angkatan Laut Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Keempat angkatan ini secara rutin menggelar operasi patroli di selat yang menjadi salah satu jembatan perdagangan global tersebut.
"Kami sadar, di laut kami mempunyai ancaman yang sama. Kami tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan itu sendiri," ucap Taufiq.
Ke depan, Komando Armada Barat akan menggiatkan operasi bersama antarnegara itu. Taufiq yang memimpin pembebasan kapal MV Sinar Kudus dalam Operasi Satgas Merah Putih berkata, operasi itu mencakup program Eyes In The Sky dan Intelligence Working Group.
"Kami akan membuka investigasi bersama. Setelah kami menangkap orang dan menginterogasinya, kami akan memberitahu negara lain," kata Taufiq. Ia berkata, hal serupa juga akan dilakukan Singapura, Malaysia dan Thailand.
Status perairan paling berbahaya sejak lama disematkan ke Selat Malaka. Pada buku berjudul Mengawal Perbatasan Negara Maritim, mantan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan sebelum tahun 2005 tingkat kejahatan di kawasan tersebut sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut menurut Tedjo sungguh miris, mengingat 80 persen lalu lintas ekonomi dan energi negara-negara Asia Timur melalui Selat Malaka. (obs)
Panglima Komando Armada Kawasan Barat, Laksamana Pertama Achmad Taufiqoerrochman, menyatakan kinerja TNI Angkatan Laut telah menghapus status kawasan paling rawan tindak kejahatan dari kawasan perairan barat, termasuk Selat Malaka.
Ia berkata, Selat Malaka tidak lagi dapat disamakan dengan perairan Somalia di Afrika yang rawan perompakan. Ia juga mengklaim, tingkat kejahatan di kawasan tersebut menurun hingga 70 persen setelah triwulan pertama tahun 2015.
"Di Selat Malaka, tidak terjadi penyanderaan seperti yang menimpa kapal MV Sinar Kudus di perairan Somalia. Hanya ada pencurian, tidak ada pembajakan kapal," ujarnya di Jakarta, Jumat (23/10).
Menurut Taufiq, penurunan tingkat kejahatan di Selat Malaka tidak lepas dari kerja sama antara Angkatan Laut Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand. Keempat angkatan ini secara rutin menggelar operasi patroli di selat yang menjadi salah satu jembatan perdagangan global tersebut.
"Kami sadar, di laut kami mempunyai ancaman yang sama. Kami tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan itu sendiri," ucap Taufiq.
Ke depan, Komando Armada Barat akan menggiatkan operasi bersama antarnegara itu. Taufiq yang memimpin pembebasan kapal MV Sinar Kudus dalam Operasi Satgas Merah Putih berkata, operasi itu mencakup program Eyes In The Sky dan Intelligence Working Group.
"Kami akan membuka investigasi bersama. Setelah kami menangkap orang dan menginterogasinya, kami akan memberitahu negara lain," kata Taufiq. Ia berkata, hal serupa juga akan dilakukan Singapura, Malaysia dan Thailand.
Status perairan paling berbahaya sejak lama disematkan ke Selat Malaka. Pada buku berjudul Mengawal Perbatasan Negara Maritim, mantan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan sebelum tahun 2005 tingkat kejahatan di kawasan tersebut sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut menurut Tedjo sungguh miris, mengingat 80 persen lalu lintas ekonomi dan energi negara-negara Asia Timur melalui Selat Malaka. (obs)
[Dunia] Hubungan AL China dan AS Masuk Fase Terbaik dalam Sejarah
Hubungan antara Angkatan Laut (AL) China dan AL Amerika Serikat (AS) memasuki fase terbaik dalam sejarah. Hal itu disampaikan Kepala AL China, Wu Shengli, Jumat (23/10/2015).
Indikasi membaiknya hubungan kekuatan maritim kedua negara itu ditandai dengan aksi saling berkunjung ke kapal perang masing-masing.
Komentar itu muncul setelah AS dan China bersitegang soal polemik klaim Laut China Selatan oleh Beijing.
Ketegangan sempat memanas ketika Washington ingin mengirim kapal perang ke dekat pulau-pulau buatan China di Laut China Selatan. AS menganggap rencana itu sebagai bagian dari kebebasan bernavigasi.
Langkah tersebut sempat membuat China tersinggung, karena kawasan Laut China Selatan dianggap sebagai wilayah kedaulatan mereka. Ketegangan diredam setelah China dan AS meningkatkan interaksi militer, termasuk melakukan latihan bersama di laut dan udara.
”Saat ini, hubungan antara Angkatan Laut China dan Angkatan Laut AS mengalami masa terbaik dalam sejarah,” kata Wu, seperti dikutip Reuters. ”Bursa dan komunikasi lebih percaya dan efektif. Ini tidak datang dengan mudah dan merupakan hasil dari kerja keras kedua belah pihak,” ujarnya.
”Di masa depan, pertukaran antara pasukan garis depan dari kedua negara akan secara bertahap menjadi lebih sistematis,” imbuh Wu. Pada awal pekan ini, puluhan perwira Angkatan Laut AS mengunjungi kapal induk China, Liaoning. Mereka juga mengunjungi sekolah kapal selam. (mas)
Indikasi membaiknya hubungan kekuatan maritim kedua negara itu ditandai dengan aksi saling berkunjung ke kapal perang masing-masing.
Komentar itu muncul setelah AS dan China bersitegang soal polemik klaim Laut China Selatan oleh Beijing.
Ketegangan sempat memanas ketika Washington ingin mengirim kapal perang ke dekat pulau-pulau buatan China di Laut China Selatan. AS menganggap rencana itu sebagai bagian dari kebebasan bernavigasi.
Langkah tersebut sempat membuat China tersinggung, karena kawasan Laut China Selatan dianggap sebagai wilayah kedaulatan mereka. Ketegangan diredam setelah China dan AS meningkatkan interaksi militer, termasuk melakukan latihan bersama di laut dan udara.
”Saat ini, hubungan antara Angkatan Laut China dan Angkatan Laut AS mengalami masa terbaik dalam sejarah,” kata Wu, seperti dikutip Reuters. ”Bursa dan komunikasi lebih percaya dan efektif. Ini tidak datang dengan mudah dan merupakan hasil dari kerja keras kedua belah pihak,” ujarnya.
”Di masa depan, pertukaran antara pasukan garis depan dari kedua negara akan secara bertahap menjadi lebih sistematis,” imbuh Wu. Pada awal pekan ini, puluhan perwira Angkatan Laut AS mengunjungi kapal induk China, Liaoning. Mereka juga mengunjungi sekolah kapal selam. (mas)
Ada Apa di Balik Perompakan di Selat Malaka?
Penangkapan perompak (Sindophoto/ilustrasi)
Maraknya aksi perompakan di Selat Malaka dinilai sebagai sesuatu yang sengaja diciptakan. Salah satunya untuk mendapatkan keuntungan terkait klaim asuransi.
"Ada grand design (disain besar) perairan ini tidak aman. 90% kejahatan di sana (Selat Malaka) karena by design. Bisa karena persaingan bisnis dan untuk mendapatkan asuransi," ujar Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI AL, Taufiq R di Mako Armabar, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2015).
Taufik menjelaskan, biasanya kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka membuat laporan palsu dengan menyatakan bahwa kapalnya telah mengalami perompakan.
Namun, setelah dilakukan investigasi, ternyata perompakan dilakukan oleh pihak-pihak yang masih erat kaitannya dengan kapal tersebut untuk mendapatkan klaim asuransi.
"Ini berdasarkan orang-orang yang kita tangkap, ada mastermind yang sudah kita tangkap. Ada yang di Batam yang sudah kita proses, keterlibatan yang lain tentu kita koordinasikan dengan negara lain, karena ini bukan di wilayah kita," tuturnya.
Sejak digelar operasi pengamanan di Selat Malaka sebagai tindaklanjut dari Western Fleet Quick Response (WFQR), Taufik menandaskan jumlah kasus perompakan di Selat Malaka menurun drastis.
"Kalau itu (penurunan) saya pikir di atas 70%. Sekarang Selat Malaka sudah tidak disebut lagi sebagai wilayah perairan yang berbahaya," ucapnya.
sindonews
Maraknya aksi perompakan di Selat Malaka dinilai sebagai sesuatu yang sengaja diciptakan. Salah satunya untuk mendapatkan keuntungan terkait klaim asuransi.
"Ada grand design (disain besar) perairan ini tidak aman. 90% kejahatan di sana (Selat Malaka) karena by design. Bisa karena persaingan bisnis dan untuk mendapatkan asuransi," ujar Panglima Komando Armada RI Kawasan Barat (Pangarmabar) Laksamana Muda TNI AL, Taufiq R di Mako Armabar, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2015).
Taufik menjelaskan, biasanya kapal-kapal yang melintas di Selat Malaka membuat laporan palsu dengan menyatakan bahwa kapalnya telah mengalami perompakan.
Namun, setelah dilakukan investigasi, ternyata perompakan dilakukan oleh pihak-pihak yang masih erat kaitannya dengan kapal tersebut untuk mendapatkan klaim asuransi.
"Ini berdasarkan orang-orang yang kita tangkap, ada mastermind yang sudah kita tangkap. Ada yang di Batam yang sudah kita proses, keterlibatan yang lain tentu kita koordinasikan dengan negara lain, karena ini bukan di wilayah kita," tuturnya.
Sejak digelar operasi pengamanan di Selat Malaka sebagai tindaklanjut dari Western Fleet Quick Response (WFQR), Taufik menandaskan jumlah kasus perompakan di Selat Malaka menurun drastis.
"Kalau itu (penurunan) saya pikir di atas 70%. Sekarang Selat Malaka sudah tidak disebut lagi sebagai wilayah perairan yang berbahaya," ucapnya.
sindonews
Rusia Bidik Kerja Sama Empat Industri Dengan Indonesia
Ilustrasi Helikopter Rusia di Indonesia
Rusia membidik kerja sama di empat bidang industri dengan Indonesia, yakni di sektor kemaritiman, kedirgantaraan, logam dan otomotif. "Untuk pengolahan logam, Rusia menawarkan kerja sama tambang bauksit di Kalimantan. Saya tidak ingat persis detail kerja samanya," kataDirektur Industri Alat Transportasi Darat Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Jumat.
Soerjono menyampaikan hal tersebut usai mendampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, bersama Delegasi Federasi Rusia, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Soerjono menambahkan, soal kerja sama maritim, pihak Rusia berencana untuk masuk ke industri pembangunan kapal baru dan reparasi kapal. Menurut dia, "nelayan Indonesia membutuhkan teknologi yang bisa memastikan ikan itu ditangkap.
Mereka yang sangat tertarik," ujar Soerjono. Diketahui, perusahaan yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu United Shipbuilding Corporation. Menurut Soerjono, pihak Rusia juga meminati dunia otomotif Indonesia, di mana mereka punya pabrikan bagus dan menguasai pasar dalam negeri Rusia.
Kerja sama dengan Rusia perkuat Indonesia di jaringan global
Kerja sama perusahaan Indonesia dan Rusia di industri manufaktur akan memperkuat peran nasional di jaringan suplai global, kata Menteri Perindustrian, Saleh Husin. "Kemitraan ini membuka akses lebih luas di pasar komoditas dan investasi dunia," kata Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Achmad Dwiwahjono, melalui siaran pers di Jakarta, Jumat.
Dijetahui, Direktur Industri Alat Transportasi Darat di Direktorat Jenderal ILMATE Kemenperin, Soerjono, menambahkan, delegasi Rusia juga ingin meramaikan bisnis otomotif khususnya kendaraan roda empat dan alat berat.
“Ini menarik karena akan memeriahkan bisnis otomotif karena selama ini konsumen kita akrab dengan merek Jepang, Eropa, dan belakangan China,” paparnya. Di sektor alat berat, produk Rusia telah dikenal kekuatan dan ketahanannya. Delegasi Rusia juga mengungkapkan rencana mereka menanamkan modal di proyek kereta api di Kalimantan. Mereka mengincar pula investasi di bidang kedirgantaraan dan perkapalan (shipbuilding).
Diperkirakan saat ini terdapat sekitar 15.000 kapal termasuk penangkap ikan, yang telah berusia 30 tahun ke atas. Separo dari populasi kapal tersebut atau lebih kurang 7.000 unit perlu diperbarui. “Rusia tertarik ke bisnis galangan untuk pergantian kapal tua, mereka juga menawarkan teknologi pemetaan posisi ikan berbasis satelit. Ini dapat menjawab keluhan rekan-rekan nelayan yang kesulitan melacak ikan dengan presisi,” kata Soerjono.
Pada pertemuan dengan Menperin, turut pula Dr Alexander Glubokov, pakar biologi dari All-Russia Research Institute of Fisheries and Oceanography serta perwakilan Irkut Corporation (industri pesawat terbang) dan United Shipbuilding Corporation (pembuatan, perbaikan dan pemeliharaan kapal).
Pihak Irkut mengaku berminat ikut mengembangkan pesawat penumpang N219 produksi PT Dirgantara Indonesia. “Mereka memiliki konsep untuk kerjasama, joint-operation produksi pesawat PT DI. Ini peluang kita untuk mendapat teknologi baru, menambah nilai produk dan meningkatkan hubungan dengan perusahaan multinasional," kata dia.
Rusia membidik kerja sama di empat bidang industri dengan Indonesia, yakni di sektor kemaritiman, kedirgantaraan, logam dan otomotif. "Untuk pengolahan logam, Rusia menawarkan kerja sama tambang bauksit di Kalimantan. Saya tidak ingat persis detail kerja samanya," kataDirektur Industri Alat Transportasi Darat Kementerian Perindustrian Soerjono di Jakarta, Jumat.
Soerjono menyampaikan hal tersebut usai mendampingi Menteri Perindustrian Saleh Husin bertemu dengan Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, bersama Delegasi Federasi Rusia, di Kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta.
Soerjono menambahkan, soal kerja sama maritim, pihak Rusia berencana untuk masuk ke industri pembangunan kapal baru dan reparasi kapal. Menurut dia, "nelayan Indonesia membutuhkan teknologi yang bisa memastikan ikan itu ditangkap.
Mereka yang sangat tertarik," ujar Soerjono. Diketahui, perusahaan yang hadir dalam pertemuan tersebut yaitu United Shipbuilding Corporation. Menurut Soerjono, pihak Rusia juga meminati dunia otomotif Indonesia, di mana mereka punya pabrikan bagus dan menguasai pasar dalam negeri Rusia.
Kerja sama dengan Rusia perkuat Indonesia di jaringan global
Kerja sama perusahaan Indonesia dan Rusia di industri manufaktur akan memperkuat peran nasional di jaringan suplai global, kata Menteri Perindustrian, Saleh Husin. "Kemitraan ini membuka akses lebih luas di pasar komoditas dan investasi dunia," kata Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin, Achmad Dwiwahjono, melalui siaran pers di Jakarta, Jumat.
Dijetahui, Direktur Industri Alat Transportasi Darat di Direktorat Jenderal ILMATE Kemenperin, Soerjono, menambahkan, delegasi Rusia juga ingin meramaikan bisnis otomotif khususnya kendaraan roda empat dan alat berat.
“Ini menarik karena akan memeriahkan bisnis otomotif karena selama ini konsumen kita akrab dengan merek Jepang, Eropa, dan belakangan China,” paparnya. Di sektor alat berat, produk Rusia telah dikenal kekuatan dan ketahanannya. Delegasi Rusia juga mengungkapkan rencana mereka menanamkan modal di proyek kereta api di Kalimantan. Mereka mengincar pula investasi di bidang kedirgantaraan dan perkapalan (shipbuilding).
Diperkirakan saat ini terdapat sekitar 15.000 kapal termasuk penangkap ikan, yang telah berusia 30 tahun ke atas. Separo dari populasi kapal tersebut atau lebih kurang 7.000 unit perlu diperbarui. “Rusia tertarik ke bisnis galangan untuk pergantian kapal tua, mereka juga menawarkan teknologi pemetaan posisi ikan berbasis satelit. Ini dapat menjawab keluhan rekan-rekan nelayan yang kesulitan melacak ikan dengan presisi,” kata Soerjono.
Pada pertemuan dengan Menperin, turut pula Dr Alexander Glubokov, pakar biologi dari All-Russia Research Institute of Fisheries and Oceanography serta perwakilan Irkut Corporation (industri pesawat terbang) dan United Shipbuilding Corporation (pembuatan, perbaikan dan pemeliharaan kapal).
Pihak Irkut mengaku berminat ikut mengembangkan pesawat penumpang N219 produksi PT Dirgantara Indonesia. “Mereka memiliki konsep untuk kerjasama, joint-operation produksi pesawat PT DI. Ini peluang kita untuk mendapat teknologi baru, menambah nilai produk dan meningkatkan hubungan dengan perusahaan multinasional," kata dia.
Yang Mengusulkan Merah Putih Menjadi Simbol Indonesia Seorang Jurnalis
Ahmad Subardjo (kanan) bersama Bung Karno dan Bung Hatta. Foto: Arsip Nasional Belanda
YANG tak boleh dilupakan
sejarah! Orang yang mengusulkan merah putih menjadi simbol bangsa
Indonesia itu seorang jurnalis. Namanya Ahmad Subardjo. Dia pula yang
mengatur pertemuan di rumah Laksamana Maeda untuk merumuskan proklamasi
kemerdekaan Indonesia.
Perhimpunan Indonesia--organisasi
mahasiswa rantau di negeri Belanda yang ketika itu dipimpin Herman
Karwisastro (1921-1922) menggelar rapat umum.
Dalam rapat tersebut, Ahmad Subardjo,
mengusulkan merah putih dijadikan lambang Perhimpunan Indonesia. Usul
itu disambut gembira. Tanpa banyak berdebat, seluruh hadirin sepakat.
Dalam buku Kesadaran Nasional
yang ditulisnya, Subardjo menceritakan, beberapa bulan sebelum
rapat umum itu berlangsung, Pangeran Yogyakarta, Hamengkubuwono VIII
diundang ke Belanda.
Subardjo diminta mendampingi sang
pangeran. Di dalam mobil, melihat panji kecil warna merah putih
yang dibawa serta pangeran, Subardjo bertanya, "itu perlambang apa?"
"Di Yogyakarta dikenal gula kelapa, bendera warisan Majapahit," jawab pangeran.
Bagi Subardjo, diskusi ringan dengan sang pangeran, merupakan “sesuatu yang memberi ilham,” tulisnya dalam buku Kesadaran Nasional.
“Sesungguhnya warna merah dan putih sudah
dikenal lama oleh orang-orang di Nusantara dari jaman dahulu kala.
Menurut penelitian beberapa ahli, penduduk daerah ini menghormati warna
ini sebagai lambang keberanian (merah) dan kesucian (putih),”
sambungnya.
Semenjak itu, jadilah merah putih simbol
bangsa Indonesia. Sekadar catatan, di muka bumi ini, PI adalah
organ pertama yang menggunakan nama Indonesia, kemudian diikuti Partai
Komunis Indonesia (PKI) dan lalu Partai Nasional Indonesia (PNI).
Jurnalis
Sewaktu mengusulkan merah putih menjadi lambang PI--kemudian simbol Indonesia--Subardjo merupakan jurnalis Indonesia Merdeka, koran yang diterbitkan oleh PI di Belanda.
Dunia jurnalistik sudah digelutinya
sebelum berangkat sekolah ke Belanda. Tahun 1917, ketika berusia
21, Subardjo sudah menjadi jurnalis koran Wederopbouw yang terbit di Jakarta.
Semasa menimba ilmu di Belanda, di samping aktif di koran Indonesia Merdeka 1922-1926, dia juga bekerja di Recht en Vrijheid, majalah Liga Anti Imprealis cabang Belanda, 1927-1928.
Sekembali ke tanah air, dia menjadi jurnalis majalah Timbul, yang terbit di Solo, 1930-1933.
Pada 1935-1936 Subardjo tinggal di Tokyo, Jepang. Selama itu pula dia menjadi koresponden untuk harian Matahari, yang terbit di Semarang.
Tahun 1937-1939, dia menetap di Bandung. Di kota kembang ini dia aktif menjadi jurnalis Kritiek & Opbouw, majalah Belanda yang terbit di Bandung.
Tahun 1939 Subardjo pindah ke Jakarta dan menjadi wartawan majalah mingguan Nationale Commentaren, pimpinan Dr. GJS Ratulangie hingga 1942.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945),
Subardjo bekerja di Kaigun Bukanfu, kantor penghubung Angkatan Laut
Jepang, pimpinan Laksamana Muda Tadashi Maeda sebagai Kepala Biro
Riset.
Sebagaimana diketahui, naskah proklamasi
kemerdekaan Indonesia dirumuskan di rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda.
Dan ini semua Subardjo yang baku atur.
Asrama Indonesia Merdeka
Di kantor Laksamana Maeda, Subardjo turut serta mendirikan sekolah Asrama Indonesia Merdeka.
"Nama Indonesia Merdeka untuk sekolah
asrama ini, diambil Subardjo dari nama koran yang pernah diterbitkan
Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda," tulis buku Jejak Intel Jepang.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah yang
beralamat di Jalan Defencielinie van den Bosch (kini Jalan Bungur Besar
No. 56, Senen, Jakarta Pusat) mulai dihelat bulan Oktober 1944.
Guru-guru yang mengajar di Asrama
Indonesia Merdeka; Sukarno (politik), Hatta (ekonomi), Sutan
Sjahrir (sosialisme di Asia), RP Singgih (nasionalisme dari segi
kebudayaan), Sanusi Pane (sejarah Indonesia), Suwondo (sejarah
pergerakan nasional Indonesia), Iwa Kusuma Sumantri (hukum kriminil),
Muhammad Said (pendidikan dan kebudayaan).
Subardjo sendiri mengajar hukum
internasional. Subardjo menunjuk Sunata sebagai kepala sekolah.
Sunata merupakan nama samaran Wikana, tokoh muda yang kemudian hari
memimpin aksi penculikan dan memaksa Soekarno-Hatta memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia.
Hampir seluruh siswa Asrama Indonesia Merdeka aktif juga di asrama pemuda Menteng 31.
Pada April 1945, sebanyak 30 orang
angkatan pertama lulus. Angkatan kedua sebanyak kurang lebih 80
orang mulai menguikuti kursus pada bulan Mei 1945.
Aktivitas di Asrama Indonesia Merdeka
berhenti ketika kemerdekaan Indonesia diproklamirkan. Sebagian besar
orang-orang yang terlibat di sekolah itu turut serta dalam kancah
perjuangan kemerdekaan. Mereka memainkan peran mendirikan Republik
Indonesia.
Menjamin Proklamasi
16 Agustus 1945, Soekarno-Hatta hilang
dari Jakarta. Semua literatur sejarah menulis mereka diculik kelompok
pemuda dan dipaksa segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Subardjo-lah yang “membebaskan” keduanya dari tangan pemuda.
Setelah merayu Wikana buka mulut, Subardjo
berangkat ke Rengasdengklok diantar Yusuf Kunto. Tidak semudah itu
melepaskan Soekarno Hatta. Kepada para pemuda yang menculik kedua tokoh
itu, Subardjo menjamin kemerdekaan Indonesia paling lambat
diproklamasikan pukul 12 siang, Jumat, 17 Agustus 1945.
Dia rela ditembak mati, bila sampai batas
waktu yang ditentukan, Indonesia belum diproklamasikan. Alhasil,
Subardjo sukses mengatur pertemuan di rumah Laksamana Maeda untuk
merumuskan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Subardjo lahir di Karawang, Jawa Barat, 23 Maret 1896 dengan nama Teuku Abdul Manaf. Dari namanya bisa ditebak dia orang Aceh.
Namanya diganti menjadi Ahmad Subardjo Djojoadisuryo demi keamanan karena saat itu Aceh sedang berlawan. (wow/jpnn)
Subscribe to:
Posts (Atom)





