Showing posts with label F-16 Fighting Falcon. Show all posts
Showing posts with label F-16 Fighting Falcon. Show all posts

Friday, 13 November 2015

4 Pesawat Tempur Andalan TNI AU Saat ini


Setelah sempat menjadi kekuatan yang ditakuti di Asia, kekuatan udara Indonesia tergerus secara signifikan. Pemberontakan PKI yang menjadikan Indonesia akhirnya menjauh dari Soviet menjadikan banyak pesawat yang akhirnya tidak bisa lagi digunakan. Ketika hendak bangkit dengan beralih ke Amerika, Indonesia kemudian diganjal dengan embargo.

Setelah melalui beberapa masa kelam, krisis moneter hingga embargo militer yang dilancarkan AS sempat melemahkan kekuatan udara yang dimiliki Indonesia. Setelah perekonomian mulai membaik, Indonesia lantas menjajaki sejumlah pembelian alutsista baru.

Dengan tetap mempertahankan F-16, Indonesia kembali melirik ke Rusia dengan sejumlah pesawat tempur. Berikut 4 jet tempur yang jadi andalan TNI AU saat ini:
1. F-16 Fighting Falcon
TNI AU memiliki 12 unit jet tempur F-16 Fighting Falcon Block 15 A/B OCU. Jumlah ini bertambah dengan datangnya tiga dari 24 pesawat F-16 varian C/D 52ID yang dibeli dalam program Peace Bima Sena pada 2015 lalu. Secara kasat mata, fisik dan berat kotor maksimum hingga mesin kedua varian pesawat ini tidak jauh berbeda.
Perbedaan itu nampak ketika kedua pesawat ini beradu kecepatan, di mana F-16 C/D Blok 52 memiliki daya dorong yang lebih besar, mampu senjata lebih berat dan terbang lebih jauh. Namun dalam close combat atau pertempuran udara jarak pendek maka pesawat F-16 Block 15 A/B OCU memiliki kelincahan yang lebih baik dari F-16 Blok 52.

Untuk urusan pertempuran udara dengan rudal jarak pendek AIM-9 Sidewinder P-4/L/M dan IRIS-T (NATO) serta rudal jarak sedang AIM-120 AMRAAM-C jelas pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU tidak kalah dengan pesawat F-16 C/D Block 50/52. Sedangkan serangan darat dan perairan, F-16 ID mampu menggotong persenjataan kanon 20 mm, bomb standar MK 81/82/83/84, Laser Guided Bomb, JDAM (GPS Bomb), rudal AGM-65 Maverick, rudal AGM-84 Harpoon (anti kapal), rudal AGM-88 HARM (anti radar).

Pesawat ini juga mampu menggunakan navigation dan targeting pod untuk operasi malam hari serta misi Supression Of Enemy Air Defence (SEAD) menghancurkan pertahanan udara musuh. Improved Data Modem memungkinkan penerbang melakukan komunikasi tanpa suara hanya menggunakan komunikasi data dengan pesawat lain dan radar darat, radar laut atau radar terbang.

TNI AU mengklaim upgrade Pesawat F-16 C/D 52ID tidak main-main karena mengejar kemampuan setara dengan Block 52. Semua pesawat F-16 C/D 52ID TNI AU juga menjalani modifikasi struktur rangka pesawat dengan program Falcon STAR (Structural Augmentation Roadmap) sehingga umur rangka pesawat menjadi lebih dari 10.000 jam.

Hal ini memungkinkan pesawat dipakai selama 10 tahun lagi sebelum menjalani Dervice Life Extension Program (SLEP) yang mampu menambah umur rangka pesawat sekitar 2000 jam atau 10 tahun masa pakai.
2. Sukhoi Su-27 Flanker
Selain F-16, TNI AU diperkuat 2 unit Su-27 SK dan 3 unit Su-27 SKM. Su-27 SK merupakan varian yang dibuat ketika Uni Soviet masih berdiri. Pesawat berkursi satu ini memiliki peningkatan mesin berupa AL-31F turbofans yang terpasang di kedua sisinya. Dengan demikian, jet ini mampu melesat dengan kecepatan maksimal 2.500 km per jam.
Sementara, Su-27 SKM merupakan varian teranyar yang merupakan perbaikan dari Su-27 SK, dengan beberapa peningkatan di dalam kokpit, serta self-defense electronic countermeasures (ECM) dan bisa melakukan pengisian ulang di udara.

Dibanding pendahulunya, Su-27 SKM tidak lagi hanya berkemampuan air to air, tetapi juga air to ground. Sejumlah panel kuno di dalam kokpit juga digantikan dengan avionik layar kaca berupa tiga MLD (Multifunction Liquid-crystal Displays) serta HUD (Head-Up Displays).

Sistem navigasi mengalami peningkatan dan diintegrasi dengan sistem satelit GLONASS dan NAVSTAR. Varian ini juga menggunakan Sistem Peringatan Radar untuk memandu rudal antiradiasi KH31P.

Peningkatan IRST (Infrared Search and Track Devise) dengan penjejak laser untuk melepaskan rudal laser-beam riding juga dilakukan. Su-27 SKM ini dapat membawa rudal air to air RVV-AE active radar homing, rudal air to ground Kh-29T(TE), Kh-29L, Kh-31P, Kh-31A, serta bom berpemandu KAB-500Kr dan KAB-1500Kr.
3. Sukhoi Su-30MK/MK2 Super Flanker
Sukhoi Su-30 merupakan pesawat tempur yang dikembangkan oleh Rusia sejak 1996. Sejumlah pengamat penerbangan menyebut pesawat ini bisa dibandingkan dengan F/A-18E/F Super Hornet and F-15E Strike Eagle buatan Amerika Serikat.
Secara fisik, pesawat ini merupakan pengembangan dari Su-27UB di antaranya seri Su-30K dan Su-30MK. Konsep awal pembuatan pesawat ini tak lepas dari upaya Uni Soviet untuk menyaingi F-14 Tomcat, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon, dan F/A-18 Hornet.

Saat ini, TNI AU telah memiliki dua unit Su-30MK dan sembilan unit Su-30MK2. Su-30MK2 memiliki peran multifungsi dan dirancang untuk mendapatkan keunggulan udara, termasuk dalam pertempuran jarak menengah dan dogfights, dan menghancurkan target dengan semua jenis senjata.
Untuk sistem senjata, dua varian ini dilengkapi built-in GSH-301 30-mm automatic single-barrel dengan beban amunisi dari 150 putaran. Termasuk membawa 12 jenis persenjataan yang terdiri dari rudal, roket dan bom yang dipasang secara eksternal di bawah sayap dan bodi pesawat. Pesawat ini bisa memuat rudal jarak menengah, rudal permukaan, bom udara, hingga bom nuklir.
 4. KAI T-50 Golden Eagle
KAI-50 Golden Eagle sebelumnya dipakai sebagai pesawat latih supersonik canggih, kini ditingkatkan menjadi jet tempur multiperan. Di Indonesia, pesawat ini diberi nama resmi T-50i, di mana fungsinya adalah untuk pesawat latih tempur. TNI AU saat ini memiliki 16 unit KAI T-50.
Di sisi persenjataan, pesawat ini bisa dilengkapi kanon 20 mm General Electric M61 Vulcan dengan 205 peluru. Kemudian rudal udara ke udara pencari panas AIM-9 Sidewinder yang dipasangkan pada setiap rel di ujung sayap, serta rudal-rudal yang lain bisa dipasang di bawah sayap.
Merdeka

Friday, 23 October 2015

Mengenal Teknologi Pesawat F-16 Super Canggih

Pesawat tempur F16 Viper. [Manilalivewire]

Perkembangan teknologi pesawat tempur saat ini sudah semakin canggih. Salah satunya produsen perusahaan industri pertahanan Amerika Serikat yang memproduksi pesawat F-16 Fighting Falcon.

Dari generasi ke generasi kecanggihan fitur maupun teknologi terus ditingkatkan. Namun intinya pesawat ini mempunyai ketepatan perbandingan antara berat pesawat dan tenaga yang dihasilkannya. 

Diantaranya adalah kemampuan menanjak dan radius putarnya serta ditambah sistem kontrol kemudi fly-by wire. Bentuk canopy yang menggelembung memungkinkan sang pilot mendapatkan ruang pandang luas dan baik. Sebagai informasi generasi pertama (blok 15) pesawat ini mempunyai panjang mencapai 15 meter dan lebar sayap 9 meter ini mampu membawa rudal AIM-9 Sidewinder. Sedangkan untuk F-16 generasi terakhir (blok 50) hampir semua rudal anti pesawat dapat dibawa termasuk AIM-120 AMRAAM.

Keunggulan F-16 dibanding pesawat tempur yang lainnya diantaranya pertama adalah bentuknya yang tak terlalu besar. Bentuknya yang mungil membuatnya sulit terlacak radar dan pesawat musuh kesulitan untuk menembaknya. Pada air intake dan sirip tegaknya yang besar serta banyaknya pengait persenjataan (pylon) pada sayap membuatnya tidak stealth. Tapi kekurangan ini sedikit teratasi dengan bentuk punggung dan sayap utama yang melengkung menyatu.

Bentuk hidung F-16 mengecil ini memperkecil ruang radar namun General Dinamic berhasil mensiasati dengan menempatkan radar ukuran kecil berkekuatan dasyat, yakni APG-66 buatan Westinghouse. Radar yang memanfaatkan prosesor sinyal digital ini mampu menyapu sasaran dibawah radius 35 mil laut dan sasaran di depan hingga sejauh 84,1 kilometer. Sedangkan keunggulan lainnya yang merupakan ciri khasnya adalah kaca kokpit yang menggelembung hingga belakang kursi pilot.

Desain seperti ini agar pilot leluasa melihat sasaran, termasuk ke arah belakang dan ke bawah. Beberapa negara yang menggunakan F-16 generasi C/D yang telah memperkenalkan kemajuan dalam hal avionik, radar kokpit dan mesin pesawat adalah Amerika Serikat, Bahrain, Indonesia, Korea Selatan, Turki, Israel, Mesir dan Yunani. Bahkan belum lama ini telah muncul generasi F-16 Viper yang mempunyai kemampuan dedicated untuk misi intai maritim. Keunggulan dari jet tempur generasi keempat ini, seperti hadirnya radar AESA (active electronically scanned array) dan digital flight control & auto GCAS (Ground Collision Avoidance System).

Radar dapat mempertahankan lebih dari 20 target musuh. Radar ini setipe dengan radar yang digunakan di pesawar siluman F-35 hanya saja beda versi. Jenis radar Viper sedikit lebih canggih dan memiliki kemampuan untuk membidik 3 sasaran baik di darat, udara, dan laut. Untuk menunjang misi tempur, F-16 V yang dilengkapi conformal fuel tanks ini juga punya payload senjata lebih besar dibanding seri sebelumnya, bahkan weapon carriage lebih banyak. (Berbagai sumber/dol) 

Wednesday, 21 October 2015

Satu Kesempatan Terakhir Indonesia Membeli F-16 Viper, Sekarang Atau Tidak Selamanya

Selama beberapa dekade, F-16 Fighting Falcon “Viper” telah mendominasi pasar pesawat tempur di seluruh dunia. Meski F-16 masih salah satu pesawat tempur generasi empat yang terbaik, jalur produksi pesawat ini mulai melambat dan akan terhenti. Ironisnya, F-16 tetap tidak kehilangan pangsa pasarnya, walaupun akan digantikan oleh pesawat siluman F-35.

F-16 masih memiliki waktu beberapa tahun produksi sampai akhir 2017. Uni Emirat Arab dilaporkan akan membeli 30 pesawat F-16E/F Block 61. Selain UEA, Lockheed masih memiliki kesempatan untuk menjual jet tempur legendaris ini ke beberapa negara lainnya. Prospek paling cepat dan mungkin adalah Indonesia, yang sudah mengoperasikan F-16 seri lawas.

Namun, F-16 menghadapi persaingan yang ketat di Indonesia, yang ingin mengganti segera pesawat F-5E/F Tiger II. Rusia saat ini menawarkan Sukhoi Su-35 Flanker-E, yang dalam banyak hal adalah pesawat yang lebih mampu. Pesaing potensial lainnya termasuk Saab JAS-39 Gripen, Eurofighter Typhoon dan Dassault Rafale.

Rusia tampaknya memiliki track yang lebih baik dengan Jakarta, yang kemungkinan lebih memilih Su-35, ungkap media Indonesia mengutip menteri pertahanan Ryamizad Ryacudu. Namun, pihak Rusia belum mengkonfirmasi kesepakatan akhir.

Mengapa Lockheed memamerkan jet versi baru F-16V untuk Indonesia selama minggu pertama Oktober? Ternyata Pemerintahan Obama dan raksasa pertahanan AS terus berharap bahwa hal itu dapat membujuk Indonesia untuk membeli F-16V, varian yang paling canggih dan terbaik di Asia Tenggara itu.

Viper varian baru adalah pesawat tempur yang sangat kuat. Di jantung F-16V tersemat Radar Active Electronically Scanned Array APG-83. Jet tempur Taiwan dan Air National Guard Angkatan Udara AS telah secara khusus meminta radar ini untuk kebutuhan operasional mereka yang mendesak. Pesawat siluman F-22 saat ini menggunakan radar AESA APG-77 dan F-35 menggunakan radar APG-81.

F-16 Viper juga menggabungkan sejumlah perbaikan lainnya. Diantaranya avionik modern, layar display lebar beresolusi tinggi dan high-speed data bus.

Tetapi jika Indonesia tidak membeli F-16V, Viper masih akan tetap bertugas selama beberapa dekade yang akan datang. Angkatan Udara AS masih mempertahankan armada besar F-16 selama bertahun-tahun dan pesawat hanya perlu melakukan beberapa upgrade. Selain itu, tidak semua negara yang mengoperasikan F-16 akan mampu membeli F-35 atau bahkan diperbolehkan untuk membelinya. Israel misalnya, sudah melobi AS untuk memastikan tetangga Arabnya yang juga banyak mengoperasikan F-16 agar tidak diijinkan untuk membeli jet siluman F-35.
Tetapi walau jalur produksi F-16 akhirnya ditutup, itu bukan akhir dari cerita Viper. Tahap berikutnya banyak pesawat yang akan diupgrade dan mempertahankan ribuan jet legendaris yang masih mengudara.

Kesimpulannya adalah, ini kesempatan terakhir Indonesia untuk memiliki pesawat F-16 versi mutakhir sebelum jalur produksinya benar-benar tertutup. Jika beberapa tahun kedepan Indonesia akhirnya memilih Su-35 dan saat jalur produksi F-16V sudah habis, maka Indonesia tidak akan pernah bisa memiliki lagi pesawat F-16 Viper, selamanya.

jakartagreater 

Sunday, 11 October 2015

Rusia Sorot Pembelian SU-35

Rusia menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata

Super Flanker Rusia [sputnik]

Upaya perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin jauh-jauh datang ke tanah air untuk merayu pemerintah Indonesia membeli varian terbaru F-16 sirna sudah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan menolak dan tetap melanjutkan rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia.

Padahal, Lockheed Martin menawarkan serangkaian keunggulan dan sangat menggiurkan. Mulai dari negara pertama yang mengoperasikan F-16 Viper, hingga biaya operasional terjangkau serta penggunaan teknologi terkini. Meski tawaran menarik tersebut tak membuat TNI AU bergeming dari rencana semula.

Korps dengan semboyan 'Swa Bhuwana Paksa' tetap menjalankan rencana awal, yakni membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger II yang mulai termakan usia. Sikap Indonesia itu menarik perhatian media-media di Rusia. Mereka sampai mengulas alasan Indonesia yang memilih merapat ke Blok Timur dari pada kembali ke pelukan AS dan sekutunya.

Terpilihnya Su-35 sebagai armada pengganti F-5 Tiger II ini langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan, Rusia sampai menganalisa sejumlah alasan yang membuat TNI AU memilih merapat ke Rusia dibandingkan kembali melirik jet tempur buatan AS.

Falcon n Flanker Indonesia [Ani Yudhoyono]
 
Sejak 2013, lima jet tempur Su-27 dan 11 Su-30 telah memperkuat TNI AU, upaya untuk mendatangkannya dimulai sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, di saat bersamaan, Indonesia juga masih mengoperasikan 10 pesawat F-16 Fighting Falcon yang dibeli pada 1990-an.

"Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS," tulis majalah Rusia, Russia Beyond The Headlines (RBTH). Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka.

Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM. Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.

Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS. "Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi," ujar seorang pengamat hubungan internasional Martin Sieff.

Keuntungan lainnya, komponen yang dimiliki Su-35 juga bisa digunakan varian sebelumnya, yakni Su-27 dan Su-30 yang sudah dimiliki Indonesia sebelumnya. Apalagi secara performa, pesawat tersebut dapat bersaing ketat dengan F-22A Raptor buatan AS. "Dengan kemampuan itu, ditambah kebijakan Rusia untuk menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata, membuat Indonesia berpaling ke Rusia sebagai penyuplai senjata."

Kehadiran Su-35 ke Indonesia ini bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Asia pasifik. Bahkan, diyakini mampu menandingi para penerbang F-18 Hornets Australia ketika berhadapan di udara. "Kedatangan seri terbaru dari Su-27SK dan Su-30MK dari negara terbesar telah mengubah wajah, di mana F/A-18A/B/F sudah kalah kelas dari seluruh parameter performanya telah melebar," tulis Air Power Australia.