Tuesday, 13 October 2015

Rusia Sorot Pembelian SU-35, Indonesia Bukan Tandingan AU Australia

Upaya perusahaan penerbangan asal Amerika Serikat (AS), Lockheed Martin jauh-jauh datang ke tanah air untuk merayu pemerintah Indonesia membeli varian terbaru F-16 sirna sudah. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) menyatakan menolak dan tetap melanjutkan rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia.
Padahal, Lockheed Martin menawarkan serangkaian keunggulan dan sangat menggiurkan. Mulai dari negara pertama yang mengoperasikan F-16 Viper, hingga biaya operasional terjangkau serta penggunaan teknologi terkini.


Meski tawaran menarik tersebut tak membuat TNI AU bergeming dari rencana semula. Korps dengan semboyan 'Swa Bhuwana Paksa' tetap menjalankan rencana awal, yakni membeli Sukhoi Su-35 buatan Rusia untuk menggantikan F-5 Tiger II yang mulai termakan usia.

Sikap Indonesia itu menarik perhatian media-media di Rusia. Mereka sampai mengulas alasan Indonesia yang memilih merapat ke Blok Timur dari pada kembali ke pelukan AS dan sekutunya.

Terpilihnya Su-35 sebagai armada pengganti F-5 Tiger II ini langsung menjadi pusat perhatian. Bahkan, Rusia sampai menganalisa sejumlah alasan yang membuat TNI AU memilih merapat ke Rusia dibandingkan kembali melirik jet tempur buatan AS.

Sejak 2013, lima jet tempur Su-27 dan 11 Su-30 telah memperkuat TNI AU, upaya untuk mendatangkannya dimulai sejak pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Padahal, di saat bersamaan, Indonesia juga masih mengoperasikan 12 pesawat F-16 Fighting Falcon yang dibeli pada 1990-an.

"Indonesia melirik pesawat Rusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sebab, 12 F-16A/B dan 16 F-5E/F tak bisa dirawat akibat aksi embargo AS," tulis majalah Rusia, Russia Beyond The Headlines (RBTH).

Embargo ini dilakukan atas desakan Australia akibat bentrokan di Timor Timur pascajajak pendapat yang akhirnya melepas provinsi tersebut menjadi negara yang merdeka. Pemerintah AS mengamini permintaan tersebut dan menuding Indonesia telah melakukan pelanggaran HAM.

Untuk mengatasi embargo itu, Indonesia mendekat ke Rusia dan menandatangani kontrak kerja sama sebesar USD 192 juta lewat Rosoboronexport. Rencana pembelian makin dikuatkan lewat penandatangan perjanjian senilai USD 300 juta empat tahun setelahnya.

Di tahun yang sama, hubungan Jakarta dan Washington mulai membaik. Namun, kondisi ini tak membuat Indonesia mengalihkan perhatiannya untuk kembali mendatangkan jet tempur buatan AS.

"Tentunya itu bukan merefleksikan orientasi politik Indonesia. Pembelian itu benar-benar terjadi karena Indonesia tertarik dengan pesawat Sukhoi," ujar seorang pengamat hubungan internasional Martin Sieff.

Keuntungan lainnya, komponen yang dimiliki Su-35 juga bisa digunakan varian sebelumnya, yakni Su-27 dan Su-30 yang sudah dimiliki Indonesia sebelumnya. Apalagi secara performa, pesawat tersebut dapat bersaing ketat dengan F-22A Raptor buatan AS.

"Dengan kemampuan itu, ditambah kebijakan Rusia untuk menghindari kondisi politik yang mempengaruhi penjualan senjata, membuat Indonesia berpaling ke Rusia sebagai menyuplai senjata."

Kehadiran Su-35 ke Indonesia ini bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Asia pasifik. Bahkan, diyakini mampu menandingi para penerbang F-18 Hornets Australia ketika berhadapan di udara.

"Kedatangan seri terbaru dari Su-27SK dan Su-30MK dari negara terbesar telah mengubah wajah, di mana F/A-18A/B/F sudah kalah kelas dari seluruh parameter performanya telah melebar," tulis Air Power Australia.


Merdeka 

[Dunia] Rusia Klaim Hancurkan 63 Target dalam 64 Sorti di Suriah dalam 24 Jam

Rusia menggencarkan serangan udara ke wilayah Suriah dengan dalih menghantam daerah kekuasaan ISIS. (Reuters/Ministry of Defence of the Russian Federation)

Jet tempur-jet tempur Rusia menghantam 63 sasaran di Suriah dalam 24 jam terakhir, kata kementerian pertahanan Rusia seperti dikutip AFP.

"Pesawat-pesawat Su-34, Su-24M dan Su-25SM melancarkan 64 sorti penerbangan dari pangkalan udara Hmeimim terhadap 63 target di Provinsi Hama, Latakia, Idlib dan Raqa," kata kementerian itu.

Militer Rusia mengklaim bahwa serangan udara itu telah menghancurkan 53 posisi yang digunakan "teroris", selain sebuah pos komando, empat kamp pelatihan dan tujuh gudang senjata. Rusia mengatakan kampanyenya di Rusia adalah telah melumpuhkan ISIS dengan menunjukkan rekaman komunikasi radio yang menunjukkan ISIS semakin panik.

Sabtu, kementerian pertahanan mengklaim bahwa para petempur kekurangan senjata, amunisi dan bahan bakar, sehingga mendorong mereka meninggalkan posisi-posisi tempurnya ke wilayah timur dan timur laut.

Juru bicara kementerian pertahanan Rusia Igor Konashenkov mengatakan bahwa Rusia mencapai kemajuan dalam perundingannya dengan Pentagon dalam mencegah insiden di dalam ruang udara Suriah di mana koalisi pimpinan AS juga melancarkan bombardemen terpisah di Suriah.

Antara

Malaysia Minati F-18 Hornet

Mengincar Boeing F/A-18E/F untuk menggantikan F-5E Tiger II dan MiG-29
Latma LIMA 2011 [AusDoD]

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah mengumumkan secara resmi rencana pembelian Sukhoi Su-35 dari Rusia. Pembelian tersebut dilakukan untuk menggantikan pesawat F-5 Tiger II yang mulai uzur termakan usia, sehingga tak bisa lagi ditingkatkan kemampuannya sesuai perkembangan zaman.

Selain Indonesia, rencana pergantian pesawat juga dilakukan pemerintah Malaysia. Bedanya, mereka kini mengincar Boeing F/A-18E/F untuk menggantikan F-5E Tiger II dan MiG-29. Apalagi kini Malaysia sudah mengoperasikan delapan pesawat F/A-18D Hornet sehingga diyakini sudah saatnya pilot mereka naik kelas ke F/A18E/F.

Jika pembelian itu dilaksanakan, maka bakal terjadi perubahan besar dalam penguasaan udara atau air superiority di kawasan Asia Tenggara. Tapi, mana yang lebih hebat, F-18 Super Hornet atau Su-35 Flanker-E? Pesawat F/A-18E/F dan Su-35 merupakan jet tempur multiperan yang bisa dipakai untuk pertempuran udara, penguasaan udara, pengintaian hingga pemboman. Meski begitu, harga per unit untuk Su-35 lebih mahal USD 9,8 juta jika dibandingkan produk buatan perusahaan penerbangan asal AS, Boeing seharga USD 55,2 juta.

Meski harganya cukup mahal, namun biaya operasional yang digunakan untuk menerbangkan satu Su-35 lebih murah dibandingkan dengan Super Hornet. Di mana, Su-35 hanya menghabiskan Rp 183 ribu setiap mil laut yang dilalui. Angka itu lebih murah Rp 24 ribu untuk setiap mil laut. Untuk performa, Su-35 lebih unggul dibandingkan Super Hornet. Pesawat yang dirakit perusahaan penerbangan asal Rusia, Sukhoi ini bisa menjangkau 3.600 km dengan kecepatan penuh Mach 2.25 atau 2.390 km per jam serta mencapai ketinggian maksimal 59.100 kaki.

Sedangkan, kecepatan yang dimiliki Super Hornet hanya mencapai Mach 1.8 atau 1,915 km per jam. Pesawat ini hanya mampu menempuh jarak sejauh 2.346 km dan ketinggian maksimal yang dicapai tak lebih tinggi dari 50 ribu kaki. Salah satu keunggulan yang dimiliki Su-35 adalah terpasangnya radar Irbis-E yang bisa mengendus keberadaan Hornet atau 30 pesawat tak dikenal lainnya, dengan tembakan radar mencapai 120 derajat dalam jarak 400 km lebih. Keberadaan sistem pencari dan pendeteksi infra-merah (IRST) memiliki jarak jangkau hingga 80 km.

Peralatan ini membuat jet tempur ini dapat mendeteksi, memilih dan mengintai empat target di darat serta dua target bergerak. Sementara itu, Boeing membangun Super Hornet untuk memberikan keunggulan di udara. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan sistem avionik dengan kemampuan senjata. Salah satu elemen yang mengalami perubahan mendasar adalah sistem radar yang dimilikinya, yakni Raytheon's AN/APG-79 AESA.

Mereka mengklaim sistem radar ini menjadi yang terbaik di dunia. Secara umum, sistem radar ini membuat pesawat ini mampu lebih cepat mendeteksi jet tempur lawan. Tanpa menyebutkan jarak deteksi, APG-79 telah mengalami peningkatan pengawasan dan dukungan terhadap pertef-mpuran udara dan serangan ke darat. Dengan desain yang dimilikinya, radar ini bisa mengakomodasi berbagai teknologi terbaru.

Radar ini juga dilengkapi Radar Penerima Peringatan (RWR) yang bisa mendeteksi bahaya dari jarak yang cukup jauh. Dengan adanya peringatan yang diberikan, RWR ini membuat pilot Super Hornet mempersiapkan diri untuk menghindari tembakan musuh. Dengan teknologi tersebut, membuat kemampuan Super Hornet sejajar dengan pesawat siluman F-22 dan F-35. Sejak diproduksi, Super Hornet sudah digunakan Angkatan Laut AS atau US Navy dan sudah beroperasi sejak sekitar tujuh tahun.

Pesawat ini sempat melakukan pengamanan udara di zona larangan terbang dalam perang Irak, dan merupakan bagian dari Kapal Induk USS Abraham Lincoln. Meski memiliki banyak keunggulan, banyak pengamat melihat Super Hornet kalah kelas dengan Su-35. Hanya saja, Super Hornet sudah teruji di medan pertempuran, sedangkan Su-35 belum diproduksi secara massal dan belum teruji. Bagaimana dengan anda? [tyo]

Merdeka

[Dunia] Rusia Persenjatai Iran dengan Rudal Anti Jet Tempur

Ilustrasi S-300 (WIkipedia)

Rusia dilaporkan akan mempersenjatai Iran dengan rudal anti jet tempur yang akan dikirim akhir tahun ini. Rudal dari darat-ke-udara S-300 akan menjadi yang sistem pertahanan yang paling canggih yang pernah dimiliki oleh Iran.

Diberitakan Wall Street Journal, WSJ, Minggu (11/10), S-300 termasuk dalam kategori senjata "pertahanan" dan tidak masuk dalam materi sanksi PBB terhadap Iran. Sistem S-300 dilengkapi radar yang mampu mendeteksi serangan hingga radius 290 kilometer dan melacak lebih dari 100 pesawat.

Semua komponen S-300 bisa diletakkan di atas truk dan bergerak dalam hitungan menit. Sistem ini dilengkapi enam unit yang terdiri dari radar pemandu dan lebih dari delapan peluncur yang bisa menampung empat rudal yang mampu melesat hingga jarak 144 kilometer. Setiap unitnya bisa menembak enam target dalam waktu bersamaan atau satu batalion yang terdiri dari 36 pesawat dalam satu waktu. Berdasarkan laporan Rusia, Iran akan menerima sedikitnya empat batalion S-300.

S-300 tidak akan ampuh membendung serangan dari Amerika Serikat yang memiliki 20 pesawat siluman pengebom, 22 pesawat siluman F-22 dan F-35 yang sulit terdeteksi radar. Selain itu, AS juga memiliki lebih dari 100 pesawat pengacau radar dan rudal yang bisa menembak dari luar jarak tangkapan sinyal S-300.

Bagi Israel yang merupakan musuh bebuyutan Iran, S-300 juga bukan merupakan ancaman. Israel memang tidak memiliki pesawat siluman dan baru akan menerima F-35 AS pada tahun 2017. Namun Israel terkenal piawai dalam perang elektronik dan militer mereka telah mengklaim mampu mengatasi sistem S-300.

Namun menurut WSJ, S-300 Iran bisa jadi ancaman besar bagi negara-negara sekutu Amerika Serikat yang berada di bawah bendera Dewan Kerja Sama Teluk, seperti Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab. Negara Arab memang hanya memiliki angkatan udara dalam jumlah kecil, namun armada mereka sangat canggih dan efektif dalam menghancurkan target, terbukti dalam berbagai pertempuran di Libya, Irak dan Yaman. Tapi Arab tidak memiliki pesawat siluman serta tidak pernah melucuti jaringan pertahanan-udara yang modern. (stu)

CNN

Moeldoko: Daripada TNI "Nganggur", Dikasih Operasi Militer Selain Perang, Itu "Ngaco"!

Pengajar Ilmu Hubungan Internasional UI Edy Prasetyono, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko, pengamat militer Jaleswari Pramodhawardani dan anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) Salim Mengga saat diskusi bertajuk 'Operasi Militer Selain Perang: Sumber atau Solusi Masalah?' di Kompleks Parlemen, Senin (12/10/2015).

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Moeldoko mengatakan, selama ini ada pandangan yang salah terkait kinerja TNI pada masa damai, terutama soal penugasan anggota TNI dalam operasi militer selain perang (OMSP).

"Saya sedikit tergelitik ada pemikiran sesat. Daripada TNI nganggur, lebih baik diberi OMSP. Itu ngaco," kata Moeldoko saat diskusi bertajuk "Operasi Militer Selain Perang: Sumber atau Solusi Masalah?", di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (12/10/2015).

Diskusi yang diselenggarakan Fraksi Demokrat di DPR itu turut dihadiri oleh anggota Komisi I DPR Mayjen TNI (Purn) Salim Mengga, pengamat militer Jaleswari Pramodhawardani, dan pengajar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Edy Prasetyono.

Ia menjelaskan, OMSP merupakan bagian dari penguatan doktrin sistem pertahanan semesta (sishanta) yang selama ini sudah ada di dalam UUD 1945. Dalam menjalankannya, ada instrumen yang harus dipenuhi TNI, yakni kemanunggalan TNI dengan rakyat.

"Sebenarnya ada kekuatan yang luar biasa apabila TNI dan masyarakat bergabung. Oleh karena itu, saat saya menjadi Panglima TNI, saya doktrinkan itu," ujarnya.

Moeldoko menambahkan, TNI perlu melakukan inovasi sosial jika ingin pelaksanaan OMSP berhasil. Inovasi sosial yang selama ini sering dilakukan yaitu dengan menandatangani nota kesepahaman dengan pemda untuk penguatan daerah.

Sebagai negara kepulauan, maka sistem pertahanan yang seharusnya diterapkan Indonesia yakni dengan menguatkan peran serta masyarakat di dalam menjaga pertahanan. Untuk mewujudkan itu, ia mengatakan, TNI perlu terjun ke lapangan untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat.

Sejumlah upaya yang telah dilaksanakan yakni melakukan misi kemanusiaan dengan membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan, bencana gempa dan tsunami di Aceh dan Nias, atau mencari pesawat AirAsia yang hilang beberapa waktu lalu.

"Dengan kompartemenisasi negara kepulauan, maka diharapkan masing-masing pulau dapat mempertahankan diri dengan baik jika menghadapi ancaman," kata dia.

Sementara itu, Salim Mengga menilai, sistem pertahanan dengan penguatan masing-masing pulau yang ada merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi pemerintah. Namun, sebelumnya, pemerintah perlu mengetahui keunggulan dan kelemahan setiap pulau. Dengan demikian, pemerintah dapat melakukan langkah yang tepat untuk menyusun strategi keamanan.

"Jadi pulau-pulau itu harus tahu keunggulan masing-masing," ujarnya.

Untuk diketahui, Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI secara tegas telah mengatur mengenai tugas pokok TNI. Di dalam Pasal 7 ayat (2) disebutkan, selain operasi militer perang (OMP), diatur pula tugas TNI dalam OMSP.

Setidaknya, ada 14 OMSP TNI yang diatur dalam UU itu, yakni mengatasi gerakan separatisme bersenjata, pemberontakan bersenjata, terorisme, mengamankan wilayah perbatasan, obyek vital nasional yang bersifat strategis, dan melaksanakan tugas perdamaian dunia sesuai dengan kebijakan politik luar negeri.

Kemudian, mengamankan presiden dan wakil presiden beserta keluarganya; memberdayakan wilayah pertahanan dan kekuatan pendukungnya secara dini sesuai sishanta; membantu tugas pemda dan kepolisian dalam rangka keamanan dan ketertiban; mengamankan tamu negara setingkat kepala dan perwakilan pemerintah asing yang berada di Indonesia; membantu menanggulangi akibat bencana alam; SAR; serta membantu mengamankan pelayaran dan penerbangan terhadap aksi pembajakan, perompakan, dan penyelundupan.

[Dunia] Tokoh Kunci di Balik Operasi Militer Rusia di Suriah

Mayor Jenderal Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Khusus Iran. [tasnimnews]

Pada tanggal 24 Juli 2015, sebuah pesawat komersil Iran mendarat di Bandara Udara Moskow, Rusia. Tidak ada yang istimewa terkait hal tersebut, semua berjalan seperti biasanya.

Namun belakangan, pihak intelijen negara barat baru mengetahui bahwa pesawat itu mengangkut seseorang yang “istimewa”. Sosok itu adalah Mayor Jenderal Qassem Soleimani.

Soleimani merupakan Komandan pasukan Satuan elite Garda Revolusi Iran, Qods Force. Soleimani juga kerap dijuluki Komandan pasukan bayangan (Shadow Commander) oleh media-media Barat. Pria ini diyakini sebagai otak operasi intelijen Iran di hampir semua palagan di Timur Tengah. Sebut saja Irak, Afghanistan, Lebanon, Suriah, bahkan Yaman.

Sejumlah kalangan meyakini tanpa kehadiran Soleimani di Suriah, rezim Bashar al Assad saat ini tinggalah kenangan. Nah, apa maksud dan tujuan perwira tinggi Iran ke Moskow kala itu? Belakangan terkuak kunjungan Soleimani saat itu untuk menemui Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu dan Presiden Vladimir Putin.

Dalam tulisannya, Tom Perry, Kepala Biro Reuters di Timur Tengah mengungkapkan, dalam pertemuan tersebut, Soleimani meyakinkan Rusia bahwa Suriah sangat membutuhkan kehadiran militer negara itu. Menurut Soleimani, posisi Assad yang terjepit kelompok pemberontak bisa berbalik di atas angin jika Rusia hadir dengan pasukan dan persenjataannya. Soleimani menawarkan aliansi operasi militer Iran dan Rusia di Suriah: Rusia di udara dan Iran di darat.

Kapal perang Rusia menembakkan rudal dari Laut Kaspia ke basis ISIS di Suriah. (indiaexpress) 

Artinya, Rusia cukup dengan menggelar operasi serangan udara, dan biarkanlah Iran dan Suriah yang “menyelesaikan” bagian yang di darat. Dalam pertemuan tersebut, Soleimani membentangkan peta pertempuran antara tentara pemerintah Suriah dan pemberontak, yang sudah mulai bergeser mendekati Tartus, kawasan pesisir Suriah.

Di sinilah, Soleimani memainkan kartu trufnya untuk mendesak Rusia. Jenderal Iran ini sangat menyadari pentingnya Tartus bagi Rusia. Tartus merupakan satu-satunya pangkalan militer Rusia di Timur Tengah. Tanpa Tartus, Rusia tak lagi punya pijakan di kawasan tersebut. “Soleimani menempatkan peta Suriah di atas meja.

Petinggi Rusia sangat khawatir dan mencemaskan aset mereka di Suriah. Jenderal Iran itu meyakinkan mereka, masih ada peluang untuk membalikkan situasi,” sebuah kata sumber Reuters. Lobi Soleimani akhirnya berhasil. Hari-hari ini, dunia melihat pesawat dan rudal-rudal Rusia wara-wiri di langit Suriah. Arti Suriah bagi Iran Apa pentingnya Suriah bagi Iran? Banyak pihak yang hingga kini masih bertanya-tanya, alasan Teheran mati-matian mempertahankan Assad dari serangan pemberontak.

Ada dua alasan. Pertama, saat Perang Teluk 1, Suriah merupakan satu-satunya negara Timur Tengah yang mendukung Iran, ketika seluruh negara lain berada di belakang Irak. Kedua, Keberlangsungan rezim Assad diperlukan Teheran untuk menjamin jalur pasokan senjata dan logistik yang mereka kirim kepada kelompok Hizbullah di Lebanon. Hizbullah merupakan “tangan” Teheran untuk memukul Israel, seperti yang terjadi pada tahun 2006.

Selain Hizbullah, Iran juga dicap negara Barat sebagai pendukung utama kelompok “radikal” di Palestina, seperti Hamas dan Jihad Islam. Namun, suka atau tidak, hari ini negara-negara Barat harus mengakui stabilitas di Timur Tengah tak mungkin tercapai bila mereka mengabaikan Iran! [Reuters]

Tribunnews

33 Prajurit TNI Naik Pangkat di Afrika


Misi TNI Kontingen Garuda ke Kongo. (Antara)

Sebanyak 33 orang Prajurit TNI yang tergabung dalam Satuan Tugas Kompi Zeni (Satgas Kizi) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXXVII-B/Minusca (Multi-Dimensional Integrated Stabilization Mission in Central African Republic) Central Africa Republik (CAR) di Afrika mendapat kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula, terhitung mulai 1 Oktober 2015.

Upacara kenaikan pangkat dipimpin Komandan Satgas Kizi TNI Letkol Czi Denden Sumarlin di Mpoko Bangui, Central Afrika Republik, pekan lalu. Dalam keterangan pers yang diterima SP, Senin (12/10) malam, Denden mengemukakan kenaikan pangkat merupakan penghargaan yang telah diberikan oleh negara dan TNI kepada personel TNI atas dedikasi yang baik dalam melaksanakan tugasnya selama ini.

Kenaikan pangkat tersebut diharapkan dapat menjadi pendorong semangat, untuk menghadapi tugas-tugas yang semakin berat dan kompleks yang akan sangat menentukan eksistensi TNI khususnya Satgas Kizi TNI Konga XXXVII-B/Minusca di Central Afrika.

Kegiatan kenaikan pangkat dilaksanakan secara sederhana, namun demikian tidak mengurangi hikmah dari acara itu sendiri, dilanjutkan dengan upacara dan penyiraman air bunga kepada 33 personel yang naik pangkat serta ucapan selamat oleh Komandan Satgas, seluruh Perwira Satgas dan diikuti seluruh peserta upacara.

Turut hadir dalam kegiatan ini beberapa Perwira Millstaf dan Millobs Indonesia yang sedang bertugas di Minusca.

Beritasatu