Friday, 16 October 2015

Menteri Susi Segera Tenggelamkan Dua Kapal Tanker

Kapal nelayan ilegal yang ditenggelamkan perairan Bitung, Sulawesi Utara, (20/5/2015)
 
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengidentifikasi dua kapal tanker berukuran besar yang diduga ilegal. Kedua kapal tersebut yaitu MT Galuh Pusaka dan MT Mascot II.
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiatuti bahkan siap menenggelamkan dua kapal tanker tersebut bersama 14 kapal pelaku illegal fishing yang ditangkap beberapa waktu lalu. “Rencana penenggelaman kapal pada19-20 Oktober 2015,” ujar Susi di Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis (15/10/2015).

MT Mascot II,Tanker Bermuatan 253 Ton Solar Kencing di Laut Ditangkap TNI AL (Tribun Batam/M Ikhsan)
Menurut menteri asal Pangandaran Jawa Barat itu, MT Galuh Pusaka ditemukan di perairan Tarempa, Anambas Kepulauan Riau pada 30 Juni 2014 lalu dalam keadaan tanpa awak dan ruang mesin tidak berfungsi.



Sementara MT Mascot II ditangkap karena membawa muatan 253 ton bahan bakar solar tanpa dilengkapi dokumen yang sah di Laut China Selatan. Di luar penenggelaman kapal itu, KKP terus melakukan analisis hukum terkait dua kapal tanker tersebut.

MT Galuh Pusaka dapat dikenakan pasal perbuatan curang sebagaimana diatur pasal 378 KUHP dengan penjara paling lama 4 tahun. Sanksi lain berupa pidana penjara paling lama 1 tahun atau denda paling banyak Rp 200 juta juga menanti pemilik Kapal MT Galuh lantaran izinnya diduga telah habis.

Pemilik Kapal MT Mascott II yang mengangkut BBM tanpa izin terancam sanksi pidana paling lama empat tahun dan denda paling banyak Rp 40 miliar sebagaimana ditentukan pada pasal 53 jo Pasal 23 UU No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. 

jakartagreater 

[Foto] Radar AESA: Absen di Sukhoi Su-35, Hadir di Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper


Pemerintah lewat Kementerian Pertahanan RI dan TNI AU telah memutuskan Sukhoi Su-35 Super Flanker sebagai pengganti jet tempur F-5 E/F Tiger II. Setelah pernyataan tersebut, lantas bagaimana dengan nasib dari Eurofighter Typhoon dan SAAB JAS Gripen NG yang terbilang gencar dipromosikan di Indonesia? Bahkan meski ada pengumuman atas ‘kemenangan’ Su-35, Lockheed Martin dengan F-16 Viper justru percaya diri menjajakan jet tempur generasi 4.5 tersebut ke Indonesia.



Yang unik, meski keputusan pengganti F-5 telah dimenangkan Su-35, namum sampai tulisan ini dibuat belum juga ada kontrak penandatanganan pembelian. Entah mungkin masih ada tarik ulur terkait detail pembelian, seperti nilai kontrak, jenis senjata, dukungan logistik sampai urusan ToT (transfer of technology), yang pastinya butuh waktu untuk mencari kata sepakat. Lain dari itu, para kompetitor Sukhoi masih melihat ada peluang untuk memasok jet tempur baru untuk Indonesia, toh sejatinya diluar pengganti F-5, TNI AU masih butuh beberapa skadron tempur.



Meski Sukhoi Su-35 terbilang superior dan punya banyak keunggulan komparatif, tapi ada satu yang terasa agak ketinggalan, yakni sistem radar yang menganut teknologi PESA (Passive Electronic Scanning Array), seperti yang digunakan pada Sukhoi Su-27. Padahal generasi Su-30MKI (hasil pengembangan Rusia dan India) telah dilengkapi radar Zhuk yang mengusung teknologi AESA (Active Electronically Scanned Array) yang lebih baru.


Radar CAPTOR-E

Nah, teknologi radar AESA ini sejatinya justru sudah hadir dalam paket sistem sensor Eurofighter Typhoon dan F-16 Viper. Typhoon versi awal dilengkapi mechanically scanned radar CAPTOR-M. Radar ini masih menganut sistem konvensional yaitu scanning dilakukan dengan mengarahkan fisik antena. Radar ini kemudian digantikan dengan Active Electronically Scanned Array (AESA) CAPTOR-E. Sementara F-16 Viper hadir dengan platform SABR (Scalable Agile Beam Radar) AESA yang mengusung antena radar APG-83 buatan Northrop Grumman.


Radar Sukhoi Su-35

Perbedaan mendasar dari kedua sistem radar terletak pada sumber tenaganya (Transmitter), dimana PESA masih menggunakan 1 sumber tenaga, seperti klystron atau Travelling Wave Tube yang dihubungkan ke antena melalui Kabel atau Waveguide (Pandu Gelombang) yang akan terhubung pada suatu “feed” (bisa Corporate Feed seperti pada N011M BARS atau Space Feed seperti pada N001 PERO) yang akan menyalurkan gelombang elektromagnetik dari Waveguide ke pemancar (Emitter). Sementara pada radar AESA, sumber tenaganya berasal dari banyak modul TR (Transmit-Receive)yang terdapat pada antena.



Radar AESA memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan sistem mekanik konvensional. Radar beam bisa diarahkan lebih cepat dan fleksibel (agile beam steering) secara elektronik. Hasilnya radar ini bisa mendeteksi dan tracking lebih banyak target. Selain itu radar AESA ini juga memiliki kemampuan LPI (Low Probability of Intercept). LPI berarti emisi radar lebih sulit dideteksi lawan. Typhoon bisa menggunakan radar aktif untuk mendeteksi lawan dengan kemungkinan kecil lawan bisa tahu bila sedang di deteksi.



Radar AESA biasanya dipasang mati ke rangka pesawat. Proses scanning bisa dilakukan dengan cepat secara elektronik. Akan tetapi cara seperti ini hanya bisa mengcover area 120 derajat di depan. Pada CAPTOR-E, array AESA dipasang dalam sebuah gimbal, sehingga bisa digerakkan untuk mengcover area 180 derajat di depan. Gimbal AESA ini adalah sebuah prestasi engineering tersendiri. Jika sistem mekanik konvensional hanya butuh kabel untuk satu antenna transmit/receive. AESA butuh jalur untuk puluhan bahkan ratusan modul transmit receive.

Pada simulasi radar APG-68 AESA di F-16 Viper yang punya kemampuan deteksi jarak jauh (160 nautical mile), pesawat dengan sudut hidung 60 derajat dapat men-track 20 target sekaligus, baik yang terbang rendah maupun terbang tinggi. Radar tentunya dapat di setting sesuai misi air to surface, air to air, dan air to sea. Selain telah digunakan AS, APG-68 AESA saat ini baru digunakan F-16 AU Korea Selatan.

Katakankan untuk dalam suatu kondisi penggunaan radar untuk penjejakan sudah tak maksimal, semisal dalam pertempuran jarak dekat (dog fight), maka yang akan mengambil peran adalah penjejak target berbasis elektro optik. Meski bukan istilah yang populer, penjejak canggih ini mudah dilihat, pasalnya punya bentuk desain bola kaca yang disematkan di sisi luar depan kokpit. Di Typhoon perangkat ini disebut PIRATE (Passive InfraRed Airborne Track Equipment) buatan Eurofirst yang merupakan konsorsium dari Sales EX, Thales Optronics, dan Tecnobit. Ketiganya adalah pemasok utama perangkat avionic Typhoon. Dari perannya, PIRATE di Typhoon sebagai pendukung sistem penjejak utama pada radar AESA. Dengan basis FLIR (Forward looking Infra Red), dalam suatu misi bisa saja pilot diharuskan harus melakukan radar silient, atau jaga-jaga bila radar mengalami error, maka PIRATE bakal menjadikan pilot percaya diri meladeni dog fight. Selain Typhoon, PIRATE juga digunakan pada JAS 39 Gripen.




Begitu pun di Sukhoi Su-27/Su-30 dan Su-35, hadir penjejak elektro optik model OEPS-27. Nah, disini minusnya F-16, jet tempur mesin tunggal ini tak dibekali penjejak elektro optik internal. (Gilang Perdana)

Indomiliter

[Foto] Rudal Stinger

Rudal Panggul Perisai Udara


Stinger rudal panggul pertahanan udara buatan Amerika ini terkenal akan kehandalannya. Diciptakan dari 3 jenis generasi Stinger basic, Stinger-passive optical seeker technique, Stinger-reprogrammable microprocessor. Sebagai senjata buatan Amerika, Stinger diciptakan dengan teknologi yang sangat tinggi. Stinger diciptakan untuk menggantikan rudal FIM-92A/B, yang dianggap kinerjanya kurang mumpuni. [Getty Images]


Stinger diciptakan dan dirancang oleh General Dynamics/Raytheon Missile System. Pertama kali digunakan oleh militer Amerika pada tahun 1978, dan dirancang dengan teknologi modular. Sistem ini memungkinkan Stinger untuk ditembakan dari beragam platform. Stinger tergolong ke dalam rudal MANPADS. [Getty Images]


Pada tahun 1992 militer Amerika meminta kemampuan Stinger ditingkatkan, sehingga lahirlah Stinger varian FIM-92 Block 1. Dimana teknologi penjejak dan perangkat lunak mampu memburu target seperti helikopter dan pesawat tempur melalui penjejakan infra merah atau IR Signature. [Getty Images]


Uni Soviet merupakan negara pertama yang merasakan betapa hebatnya rudal panggul Stinger. Lantaran Amerika menyuplai taliban dengan rudal Stinger untuk menundukan AU Soviet pada perang Afganistan-Soviet. Namun sayang dari sekian banyak rudal Stinger yang disuplai oleh Amerika, tidak sedikit yang digunakan kembali untuk menyerang mantan sekutunya pada perang Amerika-Afganistan. [Getty Images]


Rudal Stinger menggunakan sistem berpemandu passive IR Homing, yang sensornya terbuat dari indium antimon dengan sistem pendingin gas argon. Rudal ini dilengkapi dengan bahan bakar padat untuk mendorong rudal menuju sasaran. Memiliki bobot yang cukup ringan sekitar 15 Kg, sehingga dapat dioperasikan oleh 1 orang. [Getty Images]


Stinger dilengkapi dengan hulu ledak annular blast fragmentation, dengan mekanisme detonasi tipe delayed impact fuze dan penetrating fuze. Dengan kecepatan melesat mencapai mach 2,2 dengan jangkauan maksimal mencapai 3 Km. [Getty Images]

Tempo

Sang Penyelamat Korban Helikopter EC 130

Fransiskus korban selamat dari helikopter yang jatuh di Danau Toba, saat dibawa ke RSU Hadrianus Sinaga, Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Selasa (13/10/2015).

Serma Marinir Joko Santoso adalah salah seorang yang tergabung dalam tim SAR gabungan pencarian helikopter EC 130 yang hilang. Joko wajar disebut sang penyelamat karena anggota Satuan Angkatan Laut dari Lantamal I Belawan ini berhasil menyelamatkan Fransiskus (22), salah seorang penumpang helikopter yang jatuh pada Minggu (11/10/2015).

Diwawancarai di Pelabuhan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, sesaat setelah turun dari kapal SAR, Rabu (14/10/2015), Joko mengisahkan penyelamatan Fransiskus. Awalnya, Joko bersama tim gabungan yang berjumlah delapan orang melihat sebuah benda mencurigakan muncul dan tenggelam. Dalam hati, Joko meyakini benda tersebut merupakan barang bukti dari helikopter. Setelah jarak cukup dekat, Joko bersama timnya melihat sosok manusia yang mengapung.

Dia melihat Fransiskus masih sempat berenang beberapa kayuhan. "Saya salah satu korban helikopter," kata Fransiskus lemah. Melihat pria itu sudah terlihat sangat lemah, tim langsung melemparkan pelampung. Namun, saat itu, Fransiskus tak bisa meraih pelampung itu dan malah tenggelam. Tanpa berpikir panjang, Joko langsung terjun ke danau dan menarik tubuh Fransiskus yang mulai tenggelam itu

"Saya langsung terjun ke air dan menarik korban yang sudah mulai tenggelam," tutur pria berkulit legam dengan logat Jawanya yang kental itu. Saat ditanya soal imbalan yang diinginkannya setelah menyelamatkan nyawa Fransiskus, Joko mengatakan, dia tidak mengharapkan apa pun karena yang terpenting adalah dia bisa menyelamatkan nyawa seseorang. "Memang saya punya firasat bahwa saya akan menemukan sesuatu dalam pencarian," kata Joko.

Joko yang sudah berpengalaman dalam berbagai aksi penyelamatan di air itu menemukan korban tanpa pakaian dan hanya sebuah jam tangan yang melekat di tangan. Belajar dari pengalamannya, Joko langsung memberikan pertolongan pertama. Joko langsung menanggalkan pakaiannya dan memberikan pakaian itu kepada korban agar tubuhnya hangat. Saat melihat tubuh korban menggigil, saat itu juga Joko memeluk korban dan berbagai cara dilakukan untuk menolong korban.

"Bahkan, sewaktu saya melepas tangan dari genggaman korban, malah korban kembali menarik tangan saya. Mungkin karena menggigil dan ketakutan," kata dia. Joko lalu menghubungi posko pencarian agar menyiapkan ambulans untuk mengangkut korban yang langsung dilarikan ke Puskesmas Onan Runggu guna mendapat pertolongan. Setengah jam berada di puskesmas, korban kemudian sadar dan dapat memberikan keterangan singkat.

Selanjutnya, dia dirawat secara intensif di Rumah Sakit Umum Hadrianus Sinaga, Pangururan, Kabupaten Samosir. Menurut Joko, korban Fransiskus lolos dari maut merupakan keajaiban Tuhan, apalagi melihat kondisi air yang sangat dingin, diperkirakan korban tidak bisa bertahan selama tiga hari dua malam. "Saya sendiri sebagai anggota marinir mengakui air Danau Toba sangat dingin dan satu malam saja saya dalam air, terus terang tidak mampu bertahan," kata Joko.

"Tapi, inilah mukjizat Allah. Saya bangga bisa menyelamatkan nyawa manusia. Itu merupakan tugas saya dan saya bangga melakukan pekerjaan ini. Terlepas dari suku, ras, agama, saya tidak pernah membedakannya," kata sang marinir. Sepanjang pengalamannya sebagai anggota marinir, Joko Santoso juga pernah menyelamatkan seorang korban gempa Nias yang sudah lima hari terombang-ambing di laut tetapi bisa bertahan hidup.

"Ini pengalaman berharga bagi saya. Mudah-mudahan korban lainnya bisa ditemukan secepatnya dan berharap masih hidup," ujar Joko mengakhiri penjelasannya.

Kmpas

[Dunia] Iran Pamerkan Pangkalan Rudal Bawah Tanah

Iran untuk pertama kalinya memamerkan pangkalan rudal yang terletak 500 meter di bawah tanah. (Fars News Agency/FNA)

Iran untuk pertama kalinya memamerkan pangkalan rudal bawah tanah mereka melalui kantor berita Fars. Diberitakan CNN, Kamis (15/10), terowongan itu terletak sekitar 500 meter di bawah sebuah gunung.

Terowongan itu sangat besar, terdiri dari sekitar tiga jalur truk yang mampu membawa rudal besar. Dalam video yang diunggah Rabu itu, terlihat truk-truk pembawa rudal terparkir di sepanjang terowongan milik Kekuatan Angkasa Garda Revolusi Iran. Video itu dipublikasi selang beberapa hari setelah media Iran melaporkan uji coba rudal balistik jarak jauh.

Pejabat Amerika Serikat mengatakan, uji coba ini merupakan pelanggaran resolusi PBB terkait larangan aktivitas rudal balistik. Namun pejabat AS melanjutkan, uji coba ini bukan pelanggaran kesepakatan nuklir antara AS, Iran dan lima negara peserta perundingan.

Iran saat ini memang tengah memperbarui teknologi rudal mereka untuk mengganti pasokan yang sudah tua. "Per tahun depan, generasi baru dan lebih canggih dari rudal jarak jauh berbahan bakar padat dan cair akan menggantikan produk yang ada saat ini," kata juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh.

Hajizadeh mengatakan, pangkalan rudal bawah tanah yang ditampilkan di situs Fars hanya satu dari banyak fasilitas serupa di seluruh Iran. Berbicara dalam sebuah kuliah umum di universitas Teheran awal bulan ini, Hajizadeh mengatakan semua pangkalan militer AS di Timur Tengah masuk dalam jangkauan rudal Iran.

CNN

[Dunia] A-330 Pertama Angkatan Udara Singapura Siap Menjalani Konversi ke MRTT

Pesawat A-330 yang akan dijadikan sebagai pesawat tanker AU Singapura (photo : Ramon J)

Pada situs penerbangan plane mad beberapa waktu lalu telah diunggah gambar yang diambil pada 10 September 2015 di Toulouse Blagnac, Prancis.

Gambar yang diposting oleh Ramon J ini merupakan penerbangan pertama dari pesawat Airbus A-330 Angkatan Udara Singapura sebelum dikonversi menjadi pesawat dengan kemampuan Multi Role Tanker Transport (MRTT). Pesawat ini menggunakan registrasi EC-333.

Singapura telah memesan sejumlah pesawat tanker berbasis pesawat sipil Airbus A-330, tidak disebutkan jumlah pesawat yang dipesan namun diperkirakan pesanan berjumlah enam unit. Saat ini Angkatan Udara Singapura telah mengoperasikan empat pesawat tanker jenis KC-135R dengan jumlah pesawat empat unit.

Kesatuan yang menaunginya adalah Skuadron 112 Aerial Refuelling yang bermarkas di Changi. Pesawat ini selanjutnya akan menjalani konversi sebagai pesawat tanker-transport yang akan memakan waktu 10 hingga 12 bulan.

Kemampuan pesawat tanker ini adalah mempunyai daya jelajah ferry range hingga 14.800 km, dan dapat mengangkut bahan bakar maksimal 111.000 kg, lebih besar 20% dibandingkan tipe pesawat KC-135R yang dipunyai saat ini.

defense studies

[Dunia] Arab Saudi Borong Ratusan Rudal Patriot AS

Pembelian lebih dari 300 rudal Patriot buatan AS dirasa mendesak oleh Saudi, menyusul ancaman yang semakin nyata dari pemberontak Yaman dan Iran. (Dok. U.S. Department of Defense)

Arab Saudi memborong 320 rudal Patriot PAC-3 buatan Lockheed Martin Corp yang disepakati dengan Amerika Serikat pekan lalu. Saudi juga akan membeli sistem anti-rudal jarak jauh buatan Lockheed dalam waktu dekat.

Menurut staf senior Lockheed kepada Reuters, Rabu (14/10), kesepakatan pekan lalu itu adalah bagian dari rencana pembelian 600 rudal Patriot AS oleh Saudi senilai US$ 5,4 miliar atau lebih dari Rp 72,8 triliun yang disetujui dalam pembicaraan kedua negara Juli lalu. Arab Saudi, sekutu dekat AS di Timur Tengah, saat ini berpartisipasi dalam upaya koalisi pembasmi ISIS di Suriah serta memerangi pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman.

Rudal Patriot PAC-3 yang ampuh menghadang pesawat tempur dan rudal musuh saat ini digunakan oleh AS, Belanda, Jerman, Jepang, Taiwan dan Uni Emirat Arab. Joe Garland, wakil presiden divisi pengembangan rudal dan senjata api Lockheed mengatakan Saudi akan membeli 280 rudal Patriot lainnya pada tahun depan.

Dia mengatakan Saudi juga tertarik membli sistem anti-rudal balistik Lockheed yaitu Terminal High Altitude Area Defence atau THAAD. Rencananya kesepakatan pembelian akan dilakukan pada 2017 mendatang. Sebelumnya Lockheed telah mengatakan Saudi berpotensi membeli THAAD, namun kesepakatan pembelian akan memakan waktu tiga hingga lima tahun ke depan. Kementerian Luar Negeri AS menolak mengomentari pembelian ini.

Menurut Garland, Saudi meningkatkan pertahanannya menyusul meningkatnya ancaman di kawasan. Riki Ellison, pendiri lembaga non-profit Missile Defense Advocacy Alliance, mengatakan pengembangan alat pertahanan bagi Saudi sangat mendesak karena militan di Yaman mulai menembakkan rudal Scud ke wilayah Saudi dan pertahanan Iran juga semakin meningkat.

Terpisah, pemerintah AS pada Rabu kemarin mengatakan telah menyetujui rencana penjualan sembilan helikopter Black Hawk UH-60M buatan Sikorsky Aircraft, bagian dari perusahaan United Technologies Corp, seharga US$ 495 juta. (den)

CNN