Tuesday, 20 October 2015

Ketika Menhan-Panglima TNI Beda Pernyataan soal Latihan Perang

Cina mengusulkan latihan militer bersama dengan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan pada tahun 2016.

Ketika Bung Tomo class mengasuh KCR 60 di perairan Sulawesi

Cina mengusulkan latihan militer bersama dengan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan pada tahun 2016. Termasuk dengan Indonesia. Dua petinggi, Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ditanyai soal ajakan ini. Hasilnya, mereka beda pernyataan yang sangat jauh kepada wartawan. 

Ryamizard mengatakan, tidak ada ajakan latihan militer bersama dari Menteri Pertahanan Cina untuk penyelamatan laut dan penanganan bencana di Laut Cina Selatan. Namun yang digagas Menhan Cina, Chang Wanquan‎ adalah mengajak negara-negara ASEAN untuk patroli bersama di laut Cina Selatan. "‎Bukan latihan bersama tapi patroli bersama. Kan mau mengamankan laut Cina Selatan, jangan dibiarkan doang dong, harus ada upaya," kata Ryamizard di Gedung DPR Jakarta, Senin (19/10/2015).

Menurutnya, patroli bersama antar negara-negara ASEAN yang digagas Cina pada 2016 itu perlu persiapan. Hal itu sudah dikoordinasikan beberapa bulan lalu. "‎Patroli bersama kan tidak ujuk-ujuk (tiba-tiba), perlu ada persiapan dulu. Kami sudah berkoordinasi sudah beberapa bulan," terangnya. Sementara, Pernyataan Menhan ini bertolak belakang dengan Gatot Nurmantyo. Padahal mereka ditemui di tempat yang sama. Gatot mengatakan dengan tegas menolak ajakan latihan bersama Cina dengan negar-negara ASEAN di Laut Cina Selatan.

Terkait hal itu, dia menjelaskan, latihan bersama berbeda dengan patroli bersama yang bertujuan untuk perdamaian negara-negara yang bertikai di laut Cina Selatan. Menurutnya berbeda dengan latihan militer bersama yang cenderung latihan perang. "Patroli bersama ini untuk perdamaian, kalau latihan perang untuk perang. Jadi perdamaian, dalam pembukaan UUD 45', kita ikut menjaga ketertiban perdamaian dunia. Kenapa tidak boleh (patroli bersama). Tidak ada perang kedepan, dan Cina tidak akan mengklaim (laut Cina Selatan," tandasnya.

Mantan Kepala Staf Angkatan Darat ini menambahkan, hubungan Indonesia dengan Tiongkok ‎cukup baik. Ia menilai, persoalan tersebut sengaja ada yang membesar-besarkan isunya. "Pertemuan dengan Cina sangat baik. Cina membuka Asean, ini rumah kita bersama. Sudahlah, kita damai saja," katanya. ‎Sebelumnya, Cina mengusulkan latihan militer bersama dengan negara-negara Asia Tenggara di Laut Cina Selatan pada tahun 2016. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Cina, Chang Wanquan, dalam pertemuan informal menteri pertahanan negara-negara Asean.

Wanquan mengatakan, latihan bersama itu nantinya akan dipusatkan pada penyelamatan di laut dan bantuan bencana. "Latihan akan menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan bersama memecahkan perselisihan dan mengendalikan risiko," kata Kementerian Pertahanan China, Jumat (16/10/2015). Usulan ini datang sepekan setelah Amerika Serikat (AS) mengumumkan tengah mempertimbangkan untuk mengirimkan kapal lautnya ke wilayah Laut China Selatan yang diklaim oleh Cina. Langkah AS itu dinilai untuk menegur China atas klaimnya terhadap wilayah perairan internasional tersebut.

Suara

[Foto] Bomber Canggih

Andalan Amerika Serikat dan Rusia
 

Pesawat B-1 Lancer pesawat pembom supersonic yang bertugas untuk meluncurkan rudal nuklir. Pesawat ini dibangun oleh Boeing pada 23 Desember 1974, dioperasikan oleh USAF. Kecepatan pesawat ini mencapai mach 1,25 dengan jarak radius terbang 11.997 km di ketinggian terbang 18 km. Pesawat ini mampu membawa 15 jenis tipe bom, salah satunya adalah bom nukir B83. [USAF/Getty Images]



B-52 Stratofortress atau biasa disebut BUFF, merupakan pembom strategis super berat yang bertugas meluncurkan bom nuklir. Dirancang oleh Boeing pada 15 April 1952, dan digunakan oleh USAF. Pesawat ini diawaki oleh 5 orang kru yang terdiri dari pilot, copilot, weapon system officer, navigator, electronic warfare officer. Kecepatan terbang dari BUFF mencapai 1.047 km/perjam, dengan radius terbang 16.232 km, di ketinggian 15 km. Seluruh jenis bom yang dimiliki oleh Amerika sanggup diangkut oleh BUFF. [Ethan Miller/Getty Images]


B-2 Spirit pesawat pembom paling sulit dilacak dan ditangkap oleh radar, pesawat ini terbang sangat senyap. Dirancang oleh Northrop Grumman, pada 17 Juli 1989, digunakan oleh USAF dan diawaki oleh 2 orang pilot dan co pilot. B2 terbang dengan kecepatan mach 0.95, jarak jangkau operasi mencapai 11.100 km, di ketinggian 15 km. Misi yang diemban oleh B2 sangatlah berat, pesawat ini harus menembus garis pertahanan lawan untuk meluncurkan serangan bom nuklir ke arah jantung pertahanan lawan. [Ethan Miller/Getty Images]



Tu-95 Bear pesawat pembom nuklir jarak jauh buatan Rusia, yang paling terkenal membuat armada tempur NORAD kerepotan. TU-95 paling rajin melakukan operasi patroli jarak jauh, sehingga negara yang wilayah udaranya yang dilewati TU-95 harus mengerahkan pesawat tempur untuk mengawal. Pesawat ini dirancang oleh Tupolev pada 12 November 1952, dan diawaki 7 orang terdiri dari pilot, co-pilot, flight engineer, communication system operator, navigator, dan tail gunner. TU-95 sanggup melaju hingga kecepatan 920 km/perjam, dengan radius tempur mencapai 15.000 km, di ketinggian terbang 13 km. [U.S. Navy via Getty Images]



Tempo

[Dunia] Pelabuhan Darwin Disewakan ke Perusahaan China

Pejabat Militer Australia Prihatin

Pelabuhan Darwin, Australia 

Pemerintah Northern Territory (NT) Australia telah menyewakan operasional Pelabuhan Darwin kepada Landbridge Group, perusahaan milik pengusaha China Ye Cheng. Sewa senilai 506 juta dolar selama 99 tahun itu memicu keprihatinan pejabat militer Australia. Perjanjian sewa ini mencakup operasional pelabuhan dan fasilitas yang ada di East Arm Wharf, termasuk pangkalan Angkatan Laut Darwin Marine Supply Base, dan Fort Hill.

Kesepakatan yang disebut oleh Menteri Utama NT Adam Giles sebagai "hasil luar biasa bagi NT" antara lain menyebutkan bahwa Landbridge akan menguasai 80 persen saham dan sisanya 20 persen akan dimiliki Australia. Menanggapi hal ini, seorang pejabat tinggi Australian Defence Force (ADF) mengatakan adanya kekhawatiran mengenai implikasi dari penguasaan pelabuhan ini oleh perusahaan China. Menurut website AL Australia, Darwin "merupakan pelabuhan penting AL, dan pusat operasi dalam menjaga perbatasan negara".

"Darwin menjadi pangkalan latihan AL dan latihan gabungan multi-nasional serta operasi yang melibatkan sekitar 100 kapal perang Australia dari negara lain setiap tahunnya," demikian disebutkan website AL. Landbridge Group mengoperasikan pelabuhan di Shandong, China, dan bisnisnya mencakup logistik, petrokimia, perdagangan internasional, dan real estate.

Menurut keterangan AusTrade, perusahaan ini mempekerjakan lebih dari 7 ribu pegawai. Keputusan Pemerintah NT menyewakan Pelabuhan Darwin dikecam keras pihak oposisi yang menyebutnya dipenuhi kerahasiaan dan "tidak lebih dari upaya mendapatkan uang kontan secara cepat". Landbridge sendiri menjanjikan akan menanamkan investasi 35 juta dolar dalam 5 tahun. 

"Landbridge bertujuan menumbuhkan perdagangan dua arah antara Australia dan Asia, dan menempatkan Darwin dalam peta bisnis China," kata Mike Hughes dari Landbridge.

Jpnn

Anggaran Pertahanan 1,5 Persen dari PDB

Anggaran 1,5 % dari PDB, akan mengarah Rp 160 triliun setiap tahunnya.

Anggaran Pertahanan Indonesia [supermarine]

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan akan membuat roadmap agar besar anggaran pertahanan menjadi 1,5 persen dari Produk Domestik Bruto. 

Anggaran tersebut, menurut Bambang, tak hanya untuk alat utama sistem pertahanan (alutsista). Selain untuk alutsista, anggaran pertahanan juga akan digunakan untuk kesejahteraan prajurit dan anggaran perumahannya.

Bambang menambahkan, dengan besaran 1,5 persen dari PDB, anggaran pertahanan akan mengarah ke nilai Rp 160 triliun setiap tahunnya. “Sumbernya penerimaan negara dan prioritas ke alokasi anggaran,” kata dia di Kompleks Parlemen Senayan, Senin, 19 Oktober 2015. Saat ini, menurut dia, anggaran pertahanan masih menjadi prioritas pemerintah.

Buktinya, Kementerian Pertahanan selalu menjadi pemilik anggaran terbesar. Hanya tahun ini, Kementerian Pertahanan menjadi peringkat kedua anggaran terbesar. “Tahun ini, yang pertama, Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat karena dapat anggaran infrastruktur yang besar,” kata dia. Penundaan anggaran Kementerian Pertahanan sebesar Rp 13,2 triliun, kata Bambang, disesuaikan dengan penerimaan pajak tahun ini. Berikut grafik perbandingan anggaran pertahanan di Asean : 

Tempo

Keputusan TNI Tolak Tawaran Latihan Militer dengan Tiongkok Dinilai Tepat

Ketika KRI John Lie latihan bersama US Navy [US Navy/supermarine]

Indonesia menolak ajakan latihan militer bersama Republik Rakyat Tiongkok di Laut China Selatan. Langkah ini didukung oleh akademisi bidang pertahanan Andi Widjajanto. 

"Sangat tepat, karena salah satu masalah sensitif itu adalah Laut China Selatan," ujar Andi usai menjadi pembicara dalam diskusi CSIS di Gedung Pakarti Center, Jl Tanah Abang III, Jakarta, Senin (19/10/2015).

Jika Indonesia, dalam hal ini TNI, mengamini undangan Tiongkok maka posisi pemerintah disebut Andi akan kesulitan. Pasalnya Tiongkok sudah mengklaim ranah teritori di Laut China Selatan sendiri yang tidak diakui negara-negara lainnya. "Mereka definisikan teritorial mereka di Laut China Selatan karena Tiongkok mendasari peta-peta yang belum diakui banyak negara di kawasan. Itu bisa menjadi masalah," kata Andi.

Menurut Andi, permasalahan yang sensitif perlu dihindari. Hubungan bilateral pun disebutnya harus dipertimbangkan dengan seksama. "Jadi sebisa mungkin sensitivitas itu dihindari dan tidak melakukan interaksi-interkasi bilateral terutama yang sifatnya keras seperti latihan militer," ucapnya. Undangan latihan militer ini sendiri berbeda dengan patroli bersama di kawasan, termasuk Tiongkok, di wilayah Laut China Selatan.

Ide tersebut pernah dilontarkan oleh Menhan Ryamizard Ryacudu. "Oh iya kalau tidak salah itu diungkap Menhan di forum Shangrila dialog ya. Kalau itu kan tujuannya untuk meningkatkan rasa saling percaya, diplomasi," tutur pengamat pertahanan dari UI ini. Namun dalam menghadapi permasalahan Laut China Selatan, Andi menilai lebih baik semua dikembalikan pada strategi diplomasi Indonesia terkait konflik yang belum berkesudahan itu.

Pertama bagaimana Indonesia harus memposisikan diri sebagai negara yang tidak ikut berkonflik. "Lalu Indonesia bersedia menjadi host broker, di situ kalau ada negara-negara yang membutuhkan Indonesia sebagai fasilitator atau bahkan mediator dan ketiga Indonesia mengandalkan proses-proses yang sudah dilakukan di ASEAN," jelas Andi. Dalam hal ini adalah declaration of conduct (DoC) dan code of conduct (CoC) atau etika berhubungan di Laut China Selatan.

Semua kementerian dan atau lembaga pun diminta kembali pada strategi dasar diplomasi Indonesia tersebut jika berhadapan tentang hal-hal yang berkaitan dengan Laut China Selatan. "Dan setahu saya Presiden Jokowi juga menggunakan ketiga strategi dasar itu sebagai rujukan bagaimana kita bersikap tentang apapun tawaran. Tidak hanya dari Tiongkok tapi dari negara-negara lain tentang Laut China Selatan," tukas Andi yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Kabinet Kerja itu.

Sebelumnya Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengungkapkan bahwa TNI menolak tawaran latihan militer Tiongkok di Laut China Selatan. Sebabnya Presiden Jokowi melarang. "TNI itu harus segaris mematuhi apa yang jadi kebijakan politik luar negeri pemerintah. Pemerintah mengimbau agar semua menahan diri tak melaksanakan kegiatan di Laut China Selatan yang dapat meningkatkan tensi instabilitas di Laut China Selatan," ungkap Gatot di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (19/10).

Detik

Presiden Indonesia butuh helikopter tahan peluru

Disebut-sebut helikopter anti kapal selam buatan AgustaWestland (Inggris-Italia)


Helikopter NAS-332 Super Puma yang dioperasikan Skuadron Udara 45 VIP TNI AU. (ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf)

Panglima TNI, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, mengatakan, presiden dan wakil presiden memerlukan helikopter antipeluru untuk memastikan keamanan kepala negara dalam mobilisasi.

"Pesawat (helikopter) untuk presiden itu pesawat militer Puma tahun 2002, sebenarnya tidak untuk VVIP karena tidak antipeluru, maka perlu yang untuk VVIP," kata Nurmantyo, saat rapat kerja dengan Komisi I DPR, di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin.

Helikopter kepresidenan sempat dioperasikan Skuadron 17 VIP TNI AU yang berpangkalan di Pangkalan Udara Utama TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sejak beberapa tahun lalu, organisasi yang memelihara dan mengoperasikan helikopter VIP kepresidenan ini adalah Skudron Udara 45 VIP, yang juga berpangkalan di sana. Sampai saat ini, skuadron udara sayap putar itu mengoperasikan AS-332 Super Puma, yang aslinya dibuat di hanggar produksi Aerospatiale, Prancis, dan lalu diproduksi di PT Dirgantara Indonesia. Dia lalu diberi designasi baru: NAS-332 Super Puma. Belakangan, TNI AU akan diberi Eurocopter AS-532 Cougar yang lebih besar dimensi dan performansinya.

Disebut-sebut helikopter anti kapal selam buatan AgustaWestland (Inggris-Italia) AW101/EH101 Merlin juga akan dibeli TNI. Namun proses pengadaan, tender, dan lain sebagainya terkait tidak pernah diungkap kepada publik Indonesia. AW101/EH101 Merlin juga digadang-gadang akan dipakai Gedung Putih sebagai Marine One, helikopter kepresidenan Amerika Serikat, yang lalu diberi designasi baru, VH-71 Kestrel.

Dia diimbuhi banyak peralatan dan sistem pertahanan pasif dan aktif, walau ProgramVXX tentang pengadaan helikopter ini ditinjau lagi dan publik diberitahu secara transparan. India pada 2008 juga sempat akan membeli 12 helikopter AW101/EH101 Merlin ini walau juga akhirnya dihentikan pada 2013, karena Finmecannica (induk perusahaan AgustaWestland), terlibat suap untuk memenangi kontrak. Sekali lagi, publik melalui pers diberitahu secara transparan tentang proses pengadaan dan tender hingga keputusan akhir.

Dari kasus India dan Amerika Serikat itu, penunjukan secara tidak transparan beresiko pada korupsi. Pada kesempatan itu, Nurmantyo menyampaikan arsenal yang secara umum dibutuhkan TNI untuk memastikan keamanan negara. 

TNI AL Akan Tenggelamkan Kapal Nelayan Malaysia di Langsa

Ilustrasi penghacuran kapal ilegal asing [harianaceh] 

TNI AL pada Selasa (20/10/2015), akan menenggelamkan sebuah kapal ikan asing berbendera Malaysia di perairan Kuala Langsa, Kota Langsa, Provinsi Aceh. Danlanal Lhokseumawe, Kolonel Marinir Nasruddin kepada Kompas.com, Senin (19/10/2015), menyebutkan kapal dengan nomor KHFI 1780 KP Zaitun itu telah melewati proses hukum di PN Langsa beberapa waktu lalu.

PN Langsa memutuskan kapal itu terbukti mencuri ikan di perairan Indonesia dan memerintahkan kapal itu disita untuk dimusnahkan. “Kapal itu ditangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan RI. Kita menenggelamkan kapal itu setelah menerima putusan pengadilan dan tidak ada banding dari pemilik kapal itu. Artinya putusan itu sudah berkekuatan hukum tetap,” ujar Kolonel Nasruddin. Dia menambahkan, TNI AL akan menggelamkan kapal itu dengan cara diledakkan pada jarak 12 mil dari Kuala Langsa dengan kedalaman 45 meter.

Disinggung soal perairan Aceh, Nasriddin menyebutkan pihaknya terus melakukan patroli laut secara teratur. Dia juga mengajak seluruh masyarakat memberikan laporan ke pos TNI AL terdekat jika melihat kapal asing melintas di perairan Aceh. “Kapal asing itu harus kita tangkap, pertama mereka melanggar batas wilayah kita, kedua mereka melakukan penangkapan ikan ilegal. Apalagi menggunakan trawl. Itu sangat merugikan masyarakat nelayan kita,” ujarnya.

103 Kapal Illegal Fishing Dimusnahkan, Terbanyak Vietnam

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di bawah pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti hingga saat ini sudah berhasil menenggelamkan 103 kapal pelaku penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing).

Filipina dan Vietnam menjadi negara terbanyak yang kapalnya ditenggelamkan. Dari data Kementerian KKP, sebelum Senin (19/10/2015), sudah 91 kapal yang ditenggelamkam. Jumlah ini ditambah 12 unit kapal yang ditenggelamkan selama dua hari yaitu Senin (19/10) dan Selasa (20/10). "Jadi, jumlah 91 itu ditambah 12 dari Senin sampai Selasa besok. Besok kan itu di Batam dan Aceh semuanya ada 4," kata Sekretaris Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) kementerian KKP, Abdur Rouf Sam di Pelabuhan Sungai Rengas, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (19/10/2015).

Dia merincikan dari 103 kapal yang ditenggelamkan, Vietnam merupakan negara terbanyak dengan 35 unit kapal. Kemudian, disusul Filipina sebanyak 34 kapal. Lalu, ada Thailand dengan 21 kapal. Berikutnya, Malaysia 6 kapal, Papua Nugini 2 kapal, Tiongkok 1 kapal, Indonesia 4 kapal. "TNI AL tangkap dan sudah tenggelamkan 49 kapal, 54 kapal ditangkap Kementerian KKP bekerjasama dengan Polri," sebut Abdur.

Terkait pengawasan, pihak Kementerian KKP akan memaksimalkan jumlah kapal patroli. Saat ini, kapal patroli pengawas yang dimiliki baru berjumlah 27 unit. Idealnya untuk memenuhi luas wilayah Indonesia dibutuhkan minimal 90 kapal pengawas. "Itu idealnya 90 kapal patroli pengawas untuk mengimbangi luas wilayah negara kita," tuturnya. Meski demikian, 27 unit kapal yang akan ditambah empat kapal baru Sistem Kapal Inspeksi Perikanan Indonesia (SKIPI).

Empat kapal ini memiliki desain Marite System Service (MSS) dan ditargetkan selesai akhir tahun ini. "Kapal-kapal yang ada lebih ditingkatkan pengawasannya karena ada beberapa daerah rawan seperti Natuna, Arafura, Laut Cina Selatan," tuturnya.

Berikut data 12 kapal ilegal yang ditenggelamkan 19 dan 20 Oktober 2015 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan dan TNI AL:

- Di Pulau Datuk, Perairan Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (19/10/2015).
★ KG 90512 TS (asal Vietnam)
★ KM KG 91751 (Vietnam)
★ KM Tan Vinh KG 1365B TS (Vietnam)
★ KM Tan Vinh KG 91089 TS (Vietnam)

- Di Perairan Batam, Kepulauan Riau, Selasa (20/10/2015).
 ★ KM Sudita 15 (Thailand)
★ KG 92728 TS (Vietnam)
★ KG 90540 TS (Vietnam)

- Di Perairan Langsa, Aceh.
★ KM KHF 1780 (Thailand). Ditenggelamkan oleh TNI Angkatan Laut: Di Perairan Tarakan, Kalimantan Timur, Senin (19/10/2015).
★ F/B RELL RENN 8 (Filipina)
★ F/B RELL RENN 6 (Filipina)
★ F/B LB C-N-C (Filipina)
★ F/B RR-SA (Filipina) (hat/slm) 

Kompas