Enam Perusahaan Ajukan Konsep Fregat SEA 5000
Program SEA 5000 Departemen Pertahanan Australia (image : ASPI, photos : Navy Recognition)☆ Pada ajang pameran maritim internasional PACIFIC 2015 (6-8 Oktober 2015) di Sydney, Australia, yang baru lalu, Navy Recognition mencatat ada enam perusahaan yang mengajukan konsep untuk proyek SEA 5000 bagi Angkatan Laut Australia. Proyek SEA 5000 adalah penggantian fregat ANZAC class yang saat ini dioperasikan oleh Angkatan Laut Australia dan Angkatan Laut New Zealand. Setidaknya akan ada pembangunan delapan fregat baru yang fokus pada kemampuan peperangan anti-kapal selam (ASW) dan menggunakan radar CEA Active Phased Array yang dibuat oleh perusahaan Australia, CEA.
Navantia dari Spanyol mengajukan desain SEA 5000 yang didasarkan pada kapal perusak Hobart class AWD yang saat ini sedang dibuat di Australia sebanyak tiga buah. Kapal ini mempunyai bobot penuh 6.890 ton dan panjang 147,2 meter.
DCNS dari Prancis mengajukan desain SEA 5000 yang didasarkan pada desain fregat FREMM versi ASW Angkatan Laut Prancis (Aquitane class) yang mempunyai bobot penuh 6.000 ton dan panjang 142 meter.
Fincantieri dari Italia juga mengajukan desain SEA 5000 didasarkan pada desain fregat FREMM versi ASW Angkatan Laut Italia (Virginio Fasan class) yang mempunyai bobot penuh 6.700 ton dan panjang 144 meter.
BAE Systems dari Inggris mengajukan desain SEA 5000 didasarkan pada desain fregat Type 26 Angkatan Laut Inggris yang mempunyai bobot penuh 6.000 ton dan panjang 148,5 meter.
TKMS dari German mengajukan desain SEA 5000 didasarkan pada desain fregat F-125 Angkatan Laut German yang mempunyai bobot penuh 7.200 ton dan panjang 149,5 meter.
Mitsubishi Heavy Industries dari Jepang mengajukan desain SEA 5000 didasarkan pada desain fregat Proyek 30DEX Angkatan Laut Jepang yang mempunyai bobot penuh 3.000 ton dan panjang 120 meter. Desain dari Jepang ini adalah fregat dengan bobot paling ringan diantara lima perusahaan lainnya. Proyek SEA 5000 meskipun baru akan dibangun pada tahun 2022 namun seleksi pertama (first pass) akan dilakukan pada tahun 2016 dan seleksi kedua (second pass) akan dilakukan pada tahun 2018.
defense-studies
Saturday, 17 October 2015
[Dunia] "Blazing Sun", Senjata Mematikan Rusia untuk Perangi ISIS
Hulu ledak berteknologi thermobaric yang dimilikinya mampu menyebabkan kerusakan parah pada organ vital.
TOS-1A, pelontar roket berteknologi thermobaric milik Rusia. (Shutterstock)
Rusia dilaporkan menggunakan salah satu senjatanya yang paling mematikan dalam operasi militer melawan ISIS di Suriah. Senjata tersebut, peluncur roket bergerak TOS-1A, memiliki kemampuan menghancurkan delapan blok kota dalam satu tembakan.
TOS-1A merupakan sistem peluncur roket yang memiliki 24 sampai 30 barel rudal. Senjata jenis thermobaric (memanfaatkan oksigen untuk memperbesar daya rusak) ini dipasang di atas sasis tank T-72 buatan Rusia. Beberapa foto yang beredar di media sosial menampilkan sebuah TOS-1A yang diduga digunakan dalam perang di Suriah. Lansiran IBTimes, mengutip laporan surat kabar Rusia, TOS-1A Solntsepyok (bahasa Rusia untuk "Blazing Sun" atau "matahari yang membakar") tiba di Suriah awal bulan ini.
Sistem pelontar api TOS-1A yang dikenal dengan julukan Buratino, meminjam nama dari karakter di buku anak-anak Rusia, dapat menghancurkan beberapa blok di sebuah kota. Hulu ledak berteknologi thermobaric yang dimilikinya menyebarkan cairan mudah terbakar di sekitar target lalu memantiknya. Ledakan itu sendiri sudah mematikan, namun, kondisi vakum yang menyusul ledakan dapat menyebabkan kerusakan internal. Salah satunya adalah kebocoran pada organ vital seperti paru-paru.
Sebuah studi yang dilakukan Badan Intelijen AS (CIA) pada tahun 1993 menyebutkan, efek senjata thermobaric pada target seperti bangunan, bunker, dan terowongan, amatlah besar. "Mereka yang berada dekat ledakan akan terkena dampaknya, seperti cedera dalam yang tak terlihat, termasuk pecahnya gendang telinga, pendarahan, kebocoran paru-paru, dan pada beberapa kasus, kebutaan," sebut studi tersebut. TOS-1A kabarnya sudah digunakan militer Rusia sejak tahun 2001. Senjata ini juga sudah diekspor ke Azerbaijan, Kazakhstan, dan Irak.
Kementerian pertahanan Rusia melaporkan bahwa jet-jet tempur mereka telah berhasil menghantam 40 target ISIS di Suriah dalam waktu 24 jam. Beberapa target yang jadi sasaran antara lain gudang amunisi dan kamp pelatihan. "Dari pangkalan udara Hmeimim, kru pesawat Su-34, Su-24M, dan Su-25SM, melakukan 41 serangan terhadap 40 target ISIS di bangunan Aleppo, Idlib, Latakia, Hama, dan Deir Ezzor," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia.
Di sekitar kota Aleppo, pesawat-pesawat Rusia menghancurkan fasilitas yang digunakan ISIS untuk membuat bahan peledak, demikian disampaikan juru bicara kemenhan Igor Konashenkov. "Bahan-bahan peledak tersebut rencananya dipakai untuk melakukan teror di kota-kota Suriah, termasuk serangan ke kantung pertahanan pasukan pemerintah," pungkas Igor. (Dailymail)
suara
TOS-1A, pelontar roket berteknologi thermobaric milik Rusia. (Shutterstock)
Rusia dilaporkan menggunakan salah satu senjatanya yang paling mematikan dalam operasi militer melawan ISIS di Suriah. Senjata tersebut, peluncur roket bergerak TOS-1A, memiliki kemampuan menghancurkan delapan blok kota dalam satu tembakan.
TOS-1A merupakan sistem peluncur roket yang memiliki 24 sampai 30 barel rudal. Senjata jenis thermobaric (memanfaatkan oksigen untuk memperbesar daya rusak) ini dipasang di atas sasis tank T-72 buatan Rusia. Beberapa foto yang beredar di media sosial menampilkan sebuah TOS-1A yang diduga digunakan dalam perang di Suriah. Lansiran IBTimes, mengutip laporan surat kabar Rusia, TOS-1A Solntsepyok (bahasa Rusia untuk "Blazing Sun" atau "matahari yang membakar") tiba di Suriah awal bulan ini.
Sistem pelontar api TOS-1A yang dikenal dengan julukan Buratino, meminjam nama dari karakter di buku anak-anak Rusia, dapat menghancurkan beberapa blok di sebuah kota. Hulu ledak berteknologi thermobaric yang dimilikinya menyebarkan cairan mudah terbakar di sekitar target lalu memantiknya. Ledakan itu sendiri sudah mematikan, namun, kondisi vakum yang menyusul ledakan dapat menyebabkan kerusakan internal. Salah satunya adalah kebocoran pada organ vital seperti paru-paru.
Sebuah studi yang dilakukan Badan Intelijen AS (CIA) pada tahun 1993 menyebutkan, efek senjata thermobaric pada target seperti bangunan, bunker, dan terowongan, amatlah besar. "Mereka yang berada dekat ledakan akan terkena dampaknya, seperti cedera dalam yang tak terlihat, termasuk pecahnya gendang telinga, pendarahan, kebocoran paru-paru, dan pada beberapa kasus, kebutaan," sebut studi tersebut. TOS-1A kabarnya sudah digunakan militer Rusia sejak tahun 2001. Senjata ini juga sudah diekspor ke Azerbaijan, Kazakhstan, dan Irak.
Kementerian pertahanan Rusia melaporkan bahwa jet-jet tempur mereka telah berhasil menghantam 40 target ISIS di Suriah dalam waktu 24 jam. Beberapa target yang jadi sasaran antara lain gudang amunisi dan kamp pelatihan. "Dari pangkalan udara Hmeimim, kru pesawat Su-34, Su-24M, dan Su-25SM, melakukan 41 serangan terhadap 40 target ISIS di bangunan Aleppo, Idlib, Latakia, Hama, dan Deir Ezzor," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rusia.
Di sekitar kota Aleppo, pesawat-pesawat Rusia menghancurkan fasilitas yang digunakan ISIS untuk membuat bahan peledak, demikian disampaikan juru bicara kemenhan Igor Konashenkov. "Bahan-bahan peledak tersebut rencananya dipakai untuk melakukan teror di kota-kota Suriah, termasuk serangan ke kantung pertahanan pasukan pemerintah," pungkas Igor. (Dailymail)
suara
Friday, 16 October 2015
Militer AS Siapkan Seragam Mirip Iron Man
Salah satu baju militer masa depan tentara AS
Film Iron Man nampaknya menginspirasi para tentara Amerika Serikat untuk membuat baju tempur yang canggih. Militer AS kini tengah mengembangangkan teknologi baju baru dalam dunia peperangan. Yaitu, dengan mempersiapkan baju mirip Iron Man untuk digunakan para tentaranya di medan perang.
Baju perang dengan nama Tactical Assault Light Operator Suit (TALOS) ini bahkan dikabarkan sudah siap untuk masa tes dan uji coba di tahun 2017 mendatang.
Nantinya baju perang ini akan memberikan kemampuan lebih pada para tentara AS. Kemampuan ini antara lain pandangan malam, tambahan kekuatan, dan perlindungan dari tembakan senjata api.
Tiap-tiap baju ini nantinya akan dilengkapi dengan komputer yang mampu merespon berbagai situasi dan langsung memberikan penggunanya saran secara real-time. Dengan menggunakan komputer, maka memang bisa dibilang baju perang ini adalah yang paling modern untuk saat ini.
Sebagai bahan pembuatnya sendiri US Army menyatakan akan menggunakan bahan cair yang tengah dikembangkan MIT. Bahan ini dipilih karena mampu merubah wujudnya dari cair ke padat dalam waktu singkat dengan bantuan ladang magnetik atau arus listrik.
Namun, meskipun sudah akan masuk dalam tahap uji coba dalam empat tahun mendatang, akan tetapi diperkirakan jika baju perang TALOS ini akan benar-benar siap digunakan tentara AS di medan perang pada 2032 mendatang.
Menurut perwakilan militer, ide tersebut muncul setelah mereka kehilangan salah satu operatornya dalam sebuah perang. Mereka tidak bisa melindunginya hingga sang operator terbunuh. Jadi untuk menghindari hal itu, mereka berniat membuat baju tempur yang anti-peluru.
jakartagreater
Indonesia Beli Kapal Selam Amur Rusia
Kapal Selam Amur 950 Rusia
RBTH mencatat, ada sejumlah hal penting yang mencirikan peningkatan
hubungan bilateral Indonesia dan Rusia, selama 10 tahun terakhir :Pertahanan:
Pada bulan September 2015, pemerintah Indonesia mengatakan akan membeli satu skuadron Sukhoi Su–35 untuk menggantikan F–5 Tiger buatan AS yang sudah usang. Jakarta juga berencana untuk membeli 5 kapal selam Rusia. Awalnya Indonesia mengincar untuk membeli kapal selam diesel electric Kilo class, tetapi kemudian memilih yang lebih canggih yakni kapal selam Amur class, yang merupakan versi ekspor dari Lada–class.
Rusia siap meminjamkan Indonesia dana $ 3 miliar untuk pembelian tersebut. Menurut analis industri, Indonesia juga sedang mencari sistem rudal anti pesawat jarak menengah. Negara ini sudah memiliki sejumlah jet tempur Sukhoi, Helikopter Mi–17 dan Mi–35, kendaraan tempur amfibi BMP–3 , satu BTR–80 APC dan senapan Kalashnikov AK–101 dan AK–102.
Energi Nuklir
Pada bulan Juni 2015, negara Indonesia Rusia menandatangani Nota Kesepahaman tentang pembangunan reaktor nuklir besar dan stasiun tenaga nuklir mengambang.
Dalam sebuah wawancara dengan RBTH Indonesia, Duta Besar Indonesia untuk Rusia, Djauhari Oratmangun mengatakan pembangkit listrik tenaga nuklir bisa membantu memenuhi kebutuhan Indonesia untuk listrik.
Infrastruktur
Russian Railways memiliki 50 persen saham di Perusahaan Kereta Api Kalimantan, yang membangun jalur kereta api sepanjang 300 km untuk menghubungkan provinsi Kalimantan Tengah dan Timur.
Pada 2019, perusahaan berencana untuk menyelesaikan sekitar 190 km jalur kereta api dan membangun terminal pelabuhan di Kalimantan Timur untuk ekspor batubara. Selama kunjungannya ke Moskow pada bulan September 2015, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak mengatakan provinsinya juga ingin menggunakan kereta api untuk mengekspor minyak sawit, kayu dan sumber daya lainnya. Layanan penumpang untuk Kereta Api juga sedang dipertimbangkan.
jakartagreater
Kapuspen TNI dan 12 Pati Naik Pangkat
Kapuspen TNI Brigjen Tatang Sulaiman (kanan). (Puspen TNI)
Sebanyak 12 Perwira Tinggi (Pati) TNI di tiga matra baik Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU) menerima kenaikan pangkat. Salah satunya, Kapuspen TNI Brigjen Tatang Sulaiman yang kini menjadi Mayjen TNI.
Kenaikan pangkat para Pati TNI ini berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/2588/X/2015 tanggal 15 Oktober 2015, mengenai kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula.
Upacara Kenaikan Pangkat dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (14/10/2015).
Dalam amanatnya Panglima TNI mengatakan, kenaikan pangkat pada hakekatnya merupakan wujud penghargaan negara dan TNI kepada para prajuritnya, atas prestasi dan pengabdiannya kepada negara dan bangsa.
“Kenaikan pangkat seperti ini harus dapat dijadikan sumber motivasi sekaligus inspirasi untuk memantapkan kejuangan, idealisme, moralitas dan etika profesi keprajuritan serta terus berupaya meningkatkan profesionalisme keprajuritan yang berbasis pada jati diri TNI”, tegasnya dalam keterangan pers yang diterima wartawan.
Untuk matra darat Pati TNI yang menerima kenaikan pangkat yakni, Kapuspen TNI Mayjen Tatang Sulaiman; Pa Sahli Tk III Bidang Banusia Panglima TNI Mayjen TNI Emack Syadzily; Pa Sahli Tk III Ekku Sahli Bidang Ekkudag Panglima TNI Brigjen TNI Mas'ud Effendi Amien, Pa Sahli Tk II Bidang Poldagri Sahli Bidang Polkamnas Panglima TNI Brigjen TNI Sarum, Dirbinjemen Sesko TNI Brigjen TNI Suherman, dan Kasgartab I/Jakarta Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring.
Sedangkan, di TNI AL antara lain, Pa Sahli Tingkat III Bidang Wassus dan LH Panglima TNI Laksda TNI Djoko Harijanto dan Kasgartap III/Surabaya Brigjen TNI (Mar) Amiruddin Harun.
“Secara khusus saya ingin mengingatkan, bahwa kenaikan pangkat ini, selain membawa manfaat bagi diri sendiri, para perwira juga dituntut untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya peningkatan pembinaan satuan dengan tetap berpedoman kepada tugas pokok TNI yaitu, menegakkan kedaulatan negara, berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, sehingga kita harus melindungi Indonesia Indonesia dari ancaman apapun”, tutur Panglima TNI.
Sementara Pati TNI AU yang menerima kenaikan pangkat yakni, Pa Sahli Tingkat III Bidang Jahrit Panglima TNI Marsda TNI Azman Yunus, Pa Sahli Kasau Bidang Strahan Marsma TNI Ir Yan Ferry Arifin, Pa Sahli Tingkat II Indag Sahli Bidang Ekkudag Panglima TNI Marsma TNI Agus Yulianto dan Kadispsiau Marsma Sukmo Gunardi.
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa, satu hal yang patut diingat, semakin tinggi pangkat yang disandang seorang perwira, maka semakin tinggi pula tuntutan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas yang diembannya.
"Ini makna penting yang harus saya ingatkan dan tekankan, supaya seorang Perwira Tinggi tidak lagi duduk di menara gading, tetapi juga harus bekerja keras dalam rangka mencapai tugas pokok yang diembankan kepadanya," tandasnya.
Gatot Nurmantyo berharap, kenaikan pangkat saat ini dapat dipertanggungjawabkan baik secara profesional, moral dan etika, sehingga tumbuh suatu pemahaman bahwa kenaikan pangkat bukanlah suatu hadiah, maupun like and dislike, tetapi diberikan secara obyektif, hanya kepada prajurit yang benar-benar berprestasi dalam mengabdikan diri kepada negara dan bangsa.
“Para Perwira adalah pemimpin, yang tidak boleh lepas dari modal dasar yakni karakter yang dimilikinya. Sekali lagi, karakter pemimpin selalu mengambil tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan maupun apa yang tidak dilakukan. Pemimpin tidak boleh gemar melempar tanggung jawab. Oleh karena itu, tidak boleh main-main dengan pangkat bintang yang para Perwira sandang saat ini”, tandas Panglima TNI.
Turut hadir dalam upacara laporan Korp Kenaikan Pangkat antara lain KSAL Laksamana TNI Ade Supandi, KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna, Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, Irjen TNI Letjen TNI Syafril Mahyudin, Dansesko TNI Letjen TNI Sony Widjaya, Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya dan lain-lain.
sindonews
Sebanyak 12 Perwira Tinggi (Pati) TNI di tiga matra baik Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU) menerima kenaikan pangkat. Salah satunya, Kapuspen TNI Brigjen Tatang Sulaiman yang kini menjadi Mayjen TNI.
Kenaikan pangkat para Pati TNI ini berdasarkan Surat Perintah Panglima TNI Nomor Sprin/2588/X/2015 tanggal 15 Oktober 2015, mengenai kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula.
Upacara Kenaikan Pangkat dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (14/10/2015).
Dalam amanatnya Panglima TNI mengatakan, kenaikan pangkat pada hakekatnya merupakan wujud penghargaan negara dan TNI kepada para prajuritnya, atas prestasi dan pengabdiannya kepada negara dan bangsa.
“Kenaikan pangkat seperti ini harus dapat dijadikan sumber motivasi sekaligus inspirasi untuk memantapkan kejuangan, idealisme, moralitas dan etika profesi keprajuritan serta terus berupaya meningkatkan profesionalisme keprajuritan yang berbasis pada jati diri TNI”, tegasnya dalam keterangan pers yang diterima wartawan.
Untuk matra darat Pati TNI yang menerima kenaikan pangkat yakni, Kapuspen TNI Mayjen Tatang Sulaiman; Pa Sahli Tk III Bidang Banusia Panglima TNI Mayjen TNI Emack Syadzily; Pa Sahli Tk III Ekku Sahli Bidang Ekkudag Panglima TNI Brigjen TNI Mas'ud Effendi Amien, Pa Sahli Tk II Bidang Poldagri Sahli Bidang Polkamnas Panglima TNI Brigjen TNI Sarum, Dirbinjemen Sesko TNI Brigjen TNI Suherman, dan Kasgartab I/Jakarta Brigjen TNI Yosua Pandit Sembiring.
Sedangkan, di TNI AL antara lain, Pa Sahli Tingkat III Bidang Wassus dan LH Panglima TNI Laksda TNI Djoko Harijanto dan Kasgartap III/Surabaya Brigjen TNI (Mar) Amiruddin Harun.
“Secara khusus saya ingin mengingatkan, bahwa kenaikan pangkat ini, selain membawa manfaat bagi diri sendiri, para perwira juga dituntut untuk dapat memberikan kontribusi positif bagi upaya peningkatan pembinaan satuan dengan tetap berpedoman kepada tugas pokok TNI yaitu, menegakkan kedaulatan negara, berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945, sehingga kita harus melindungi Indonesia Indonesia dari ancaman apapun”, tutur Panglima TNI.
Sementara Pati TNI AU yang menerima kenaikan pangkat yakni, Pa Sahli Tingkat III Bidang Jahrit Panglima TNI Marsda TNI Azman Yunus, Pa Sahli Kasau Bidang Strahan Marsma TNI Ir Yan Ferry Arifin, Pa Sahli Tingkat II Indag Sahli Bidang Ekkudag Panglima TNI Marsma TNI Agus Yulianto dan Kadispsiau Marsma Sukmo Gunardi.
Lebih lanjut Panglima TNI menyampaikan bahwa, satu hal yang patut diingat, semakin tinggi pangkat yang disandang seorang perwira, maka semakin tinggi pula tuntutan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas yang diembannya.
"Ini makna penting yang harus saya ingatkan dan tekankan, supaya seorang Perwira Tinggi tidak lagi duduk di menara gading, tetapi juga harus bekerja keras dalam rangka mencapai tugas pokok yang diembankan kepadanya," tandasnya.
Gatot Nurmantyo berharap, kenaikan pangkat saat ini dapat dipertanggungjawabkan baik secara profesional, moral dan etika, sehingga tumbuh suatu pemahaman bahwa kenaikan pangkat bukanlah suatu hadiah, maupun like and dislike, tetapi diberikan secara obyektif, hanya kepada prajurit yang benar-benar berprestasi dalam mengabdikan diri kepada negara dan bangsa.
“Para Perwira adalah pemimpin, yang tidak boleh lepas dari modal dasar yakni karakter yang dimilikinya. Sekali lagi, karakter pemimpin selalu mengambil tanggung jawab terhadap apa yang dilakukan maupun apa yang tidak dilakukan. Pemimpin tidak boleh gemar melempar tanggung jawab. Oleh karena itu, tidak boleh main-main dengan pangkat bintang yang para Perwira sandang saat ini”, tandas Panglima TNI.
Turut hadir dalam upacara laporan Korp Kenaikan Pangkat antara lain KSAL Laksamana TNI Ade Supandi, KSAU Marsekal TNI Agus Supriatna, Kasum TNI Marsdya TNI Dede Rusamsi, Irjen TNI Letjen TNI Syafril Mahyudin, Dansesko TNI Letjen TNI Sony Widjaya, Koorsahli Panglima TNI Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya dan lain-lain.
sindonews
Peran Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno 1965-1967
Ilustrasi penggulingan kekuasaan Soekarno (foto:Istimewa/Hasan)
DISKUSI mengenai Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu)* yang diikuti dengan pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan berakhir dengan tumbangnya Soekarno dari kursi kepresidenan, tidak lengkap tanpa menyinggung peran Amerika Serikat (AS).
Demikian Cerita Pagi akan mengulas secara singkat, sejauh mana peran AS dalam peristiwa yang masih diselimuti kabut misteri hingga saat ini itu.
Jika ditarik mundur ke belakang, peristiwa penggulingan Soekarno dari kursi kekuasaan pada tahun 1965-1967 merupakan kelanjutan dari kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya. Hal ini berarti bahwa, peristiwa 1965-1967 tidak bisa dilihat secara terpisah apalagi berdiri sendiri.
Sebelum masuk kepada inti pembahasan, ada baiknya melihat sejarah masuknya hegemoni AS di Indonesia. Untuk mengungkap sejarah hegemoni AS, ada baiknya dikemukakan sedikit tulisan peneliti University of Maryland Bradley R Simpson.
Dalam penelitiannya itu, pengajar dan peneliti dari University of Maryland ini mengatakan, hegemoni AS di Indonesia dimulai tahun 1950-1964, sejak dikucurkannya dana segar bagi Indonesia yang jumlahnya mencapai USD20 juta.
Bantuan itu dikucurkan oleh dua lembaga kemanusiaan Ford Foundation dan Rockefeller Foundation untuk membiayai berbagai riset ilmu di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, dan bantuan teknis yang diselenggarakan di AS dan Indonesia.
Kedua lembaga ini juga mendanai berbagai kegiatan lainnya, seperti pertukaran pendidikan bagi para teknisi, ahli ekonomi, guru, ahli agraria, personel militer dan insinyur dalam pembangunan jangka panjang Indonesia.
Duta Besar AS untuk Indonesia tahun 1958-1965 Howard Jones menyebut bantuan pendidikan dan penelitian untuk Indonesia itu sebagai, "Perjuangan jangka panjang untuk otak Indonesia."
Selain kedua lembaga yang telah disebutkan, kucuran dana segar juga datang dari Komisi Penasehat Riset Ilmu Sosial tentang Perbandingan Politik (Social Science Research Councils Committee on Comparative Politics) AS. Melalui lembaga ini, AS mendanai berbagai kajian politik dan ekonomi tentang Indonesia.
Beberapa tahun setelah program bantuan itu dijalankan, rencana AS untuk mendorong terjadinya krisis di berbagai daerah membuahkan hasil. Pada 1957-1958, terjadi pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA).
Pemberontakan itu dilakukan oleh partai-partai sayap kanan yang mendapat dukungan dan bantuan dana dari AS, seperti Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Berbagai bantuan itu terungkap dalam dokumen rahasia Dewan Keamanan Nasional (National Security Council atau NSC) AS yang telah dibuka. Dalam dokumen itu disebutkan, Masyumi dan PSI telah mendapatkan bantuan jutaan dolar dari AS dan CIA.
Selain mendapat kucuran dana, para pemberontak juga mendapatkan bantuan senjata dan personel tambahan dari CIA. Operasi tertutup AS ini terbongkar setelah pesawat Amerika ditembak jatuh dan pilotnya J Popper tertangkap.
Belakangan diketahui bahwa J Popper merupakan agen CIA yang ditugaskan untuk membunuh Soekarno. Rencana pembunuhan Soekarno oleh agen CIA ini diungkap pada tahun 1957 oleh sebuah Komisi Pilihan Senat AS.
Mantan Diplomat Kanada Peter Dale Scott mengatakan, hubungan AS dengan sejumlah politikus sayap kanan dan perwira AD sejak PRRI/PERMESTA terus terjalin hingga tahun 1965-1967. Bahkan, makin bertambah kuat. Sejak peristiwa itu, AS mengucurkan dananya USD20 juta setahun untuk AD dan membina kelompok sipil dalam melawan PKI.
Rahasia ini terungkap dalam nota Kepala Staf Gabungan AS tahun 1958. Nota itu mengatakan, bantuan itu diberikan kepada AD sebagai dorongan kepada salah seorang perwira AD yakni Nasution untuk mengendalikan PKI/komunisme di Indonesia.
Nasution merupakan tentara yang sangat dikenal oleh AS, karena jasanya dalam menumpas PKI, di Madiun tahun 1948. Dalam peristiwa Madiun, ratusan anggota dan simpatisan PKI ditangkap dan dibunuh secara keji.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelum terjadinya pemberontakan PRRI/PERMESTA, sejak terjadinya peristiwa itu AS dan CIA makin agresif. Mereka tidak segan tampil secara terbuka dan terang-terangan, baik melalui sejumlah jurnal ilmiah dan pers, menyerukan kepada AD dan kelompok sipil untuk segera mengambil kekuasaan dari tangan Soekarno dan menghabisi PKI.
Hal ini tampak dari tulisan peneliti dan akademisi Universitas California-Barkeley Guy Pauker pada tahun 1958. Dalam bukunya Rand Corp, Pauker mendesak AD untuk, "melaksanaan suatu misi", "menyerang", dan "menyapu bersih rumahnya". Kata-kata itu sering digunakan militer kepada para mahasiswa Islam, pada awal Oktober 1965, agar melakukan pembunuhan.
Selain Nasution, salah seorang perwira AD yang menyambut seruan Pauker adalah Jenderal Soewarto. Dengan bantuan langsung Pentagon, CIA, Rand Corporation dan Yayasan Ford, Soewarto mendirikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
Dalam sebuah dokumen, Pauker mengatakan, bahwa SESKOAD telah mengembangkan doktrin perang teritorial yang sesuai dengan program civic mission, civic action, dan organisasi teritorial.
Atas usulan Pauker itulah, pada tahun 1962, Departemen Luar Negeri AS menempatkan Kelompok Penasehat Latihan Militer AS (Military Training Assistancy Group atau MILTAG) di Jakarta, khusus untuk membantu penerapan "civic mission" atau "civic action" atau "organisasi teritorial" yang mendukung doktrin perang teritorial AD.
Selain doktrin perang teritorial, SESKOAD juga membekali tentara dengan ilmu ekonomi dan administrasi pemerintahan, sebagai persiapan untuk menyelenggarakan pemerintahan atau negara yang terlepas dari pemerintahan sipil Soekarno.
Program latihan ini dimentori oleh para perwira AD dan sipil dari PSI. Di antara perwira AD yang aktif dan menonjol dalam SESKOAD adalah Soeharto yang kemudian menjadi Presiden Indonesia kedua menggantikan Soekarno.
Saat itu, Soeharto baru saja dipecat dari kedudukannya sebagai Panglima AD di Jawa Tengah, karena diduga terlibat korupsi. Namun, ternyata pemecatan itu tidak pernah diumumkan kepada masyarakat, karena operasi penyelundupannya di Pelabuhan Semarang tidak cukup berat untuk dilakukan penuntutan.
Tuduhan korupsi terhadap Soeharto akhirnya dipetieskan, dan dia dikirim ke SESKOAD, pada tahun 1959. Di sekolah ini, dia dibina langsung oleh Soewarto. Dari Soewarto inilah, Soeharto berkenalan secara langsung AS dan CIA dan mulai menyusun kembali karirnya militernya yang sempat tersandung kasus korupsi tersebut.
Sejarawan militer Indonesia Ulf Sundhaussen mengatakan, saat berada di SESKOAD Soeharto sangat mendalami doktrin perang teritorial dan civic mission yang dibawa oleh AS dan CIA.
Bintang Soeharto mulai bersinar saat Ahmad Yani dan stafnya merekrut Soeharto sebagai agen rahasia dalam menggembosi kampanye anti-Malaysia Soekarno. Pada awalnya, para jenderal AD ini tidak menolak rencana Soekarno mengonfrontasi Malaysia sejak September 1963. Tetapi belakangan, ketika pertempuran kecil menghebat pada 1964, mereka mulai berubah pikiran.
Salah satu alasan berubahnya pikiran para jenderal kanan dalam AD menolak kebijakan konfrontasi Soekarno adalah masalah dana. Namun begitu, para jenderal ini tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan Soekarno dan PKI.
Politik yang dimainkan AD saat itu adalah muka dua, yakni mendukung konfrontasi Malaysia dan menolaknya sekaligus. Dengan perlahan tetapi pasti, mereka juga memengaruhi Soekarno untuk memberi nama baru komando multifungsi ini menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga), pada September 1964, dan memintanya agar memasukkan Soeharto sebagai Wakil Panglima Kolaga.
Usul AD untuk memasukkan Soeharto sebagai Wakil Panglima Kolaga disetujui pada 1 Januari 1965. Dengan mulai pulihnya kekuasaan Soeharto dalam AD, bersama agen-agennya di Kostrad dia menyabot konfrontasi dengan Malaysia.
Soeharto mulai menghubungi wakil-wakil Malaysia dan Inggris secara diam-diam dan menyakinkan mereka, bahwa AD telah berubah haluan menentang pertempuran-pertempuran kecil dengan pasukan Malaysia dan Inggris dan akan membatasi diri.
Untuk memuluskan rencananya, Soeharto meminta bantuan perwira intelijennya di Kostrad, yakni Ali Moertopo dan orang-orang sipil yang pernah terlibat dalam peristiwa PRRI/PERMESTA dan hidup dalam pengasingan di Singapura dan Malaysia, agar kembali ke Indonesia dan turut menghentikan konfrontasi dengan Malaysia.
Soeharto juga meminta sahabatnya Kolonel Yoga Sugama dari Belgrado untuk kembali ke Indonesia dan menggantikan Ali Moertopo dalam memimpin operasi menghentikan konfrontasi dengan Malaysia, dan mengirim perwira Kostrad Benny Moerdani ke Bangkok untuk menghubungi para pejabat yang pro-Barat di sana dengan menyamar sebagai manajer penjualan Garuda.
Dalam analisanya, kelompok Soeharto berpendapat bahwa konfrontasi dengan Malaysia merugikan AD, karena akan menjauhkan misi AD yang didukung AS dan CIA dalam kampanye melawan PKI. Hal ini tertuang dalam laporan rahasia intelijen Kostrad, pada tahun 1964 yang menyatakan, konfrontasi mengacaukan upaya AD untuk mengendalikan PKI.
Setelah konfrontasi Malaysia bisa diselesaikan, AS dan CIA melihat kemampuan Soeharto dalam mengatasi "keadaan" dapat diandalkan dalam misi menggulingkan Soekarno dari kekuasaan dan menghancurkan PKI.
Ketika kondisi kesehatan Seokarno memburuk akibat ginjalnya yang harus dioperasi, kelompok Soeharto dari Kostrad mulai menghembuskan provokasi tentang ancaman PKI yang akan mengambil alih kekuasaan dan sangat membahayakan AD.
Menurut analisa CIA yang telah diterbitkan tentang G30S, sejak Januari 1965, Kelompok Pemikir Jenderal AD yang terdiri dari Jenderal Suprapto, Jenderal Harjono, Jenderal Parman, dan Jenderal Sukendro sering membuat pertemuan rutin dan rahasia untuk merundingkan situasi terburuk yang akan terjadi dan tugas AD. Pimpinan kelompok ini adalah A Yani.
Kelompok rahasia Yani ini bocor ke telinga Soekarno dan Yani dipanggil ke Istana Negara untuk dimintai keterangan, pada 22 Mei 1965. Kepada Soekarno, Yani memaparkan apa yang didengarnya sebagai Dewan Jenderal.
Menurut Yani, banyak orang telah salah kaprah dalam menyebut Dewan Jenderal yang sebenarnya adalah dewan kenaikan pangkat di kalangan perwira tinggi AD, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti).
Namun, Duta Besar AD Howard Jones menyebut bahwa diskusi Kelompok Yani yang dilangsungan antara tahun 1965 adalah untuk menyusun rencana khusus mengambil alih pemerintahan pada saat Soekarno turun panggung. Hal ini dilaporkan informan AS yang ikut dalam rapat dengan Jenderal Parman yang merupakan anggota dari kelompok rahasia Yani.
Untuk memastikan informasi yang didengarnya dan mengetahui sejauh mana kebenaran hubungan Indonesia-AS, pada April 1965, Diplomat AS Ellsworth Bunker diutus Pentagon ke Jakarta. Dalam pandangan Bunker yang menyeluruh, dilaporkan bahwa sangat sulit untuk menghadapi Soekarno secara terbuka dan terang-terangan, karena harapan rakyat yang besar terhadapnya.
"Tidak perlu disangsikan kesetiaan rakyat yang tidak bisa diserang itu. Bangsa Indonesia dalam sangat mengharapkan kepemimpinan darinya, mempercayai kepemimpinannya, dan bersedia mengikutinya," tulis Bunker kepada Presiden Johnson.
Dalam laporannya itu, dia melanjutkan bahwa tidak ada kekuatan di Tanah Air yang bisa menyerangnya, tidak pula ada bukti bahwa suatu kelompok penting ingin berbuat demikian.
Assistant Professor di Departemen Sejarah University of British Columbia, Vancouver, Kanada, John Roosa melihat, bahwa cukup beralasan ketika dibutuhkan dalih untuk menghancurkan PKI dengan cara hendak menyelamatkan Soekarno, dan AD harus tampil sebagai penyelamat itu, bukan sebagai penggali liang kubur bagi dirinya sendiri.
Saat terjadi Gerakan September Tiga Puluh atau Gestapu, skenario lama AS dan CIA, serta AD, akhirnya mendapatkan momennya yang tepat. Apalagi, dalam peristiwa itu AD jadi memiliki dalih untuk menghancurkan PKI dan menggulingkan Soekarno.
Skenario dibuat dalam beberapa tahapan sesuai dengan laporan Bunker, bahwa AD harus berperan seolah-olah menyelamatkan Soekarno dan menuding PKI melakukan kup, lalu melancarkan represi besar-besaran terhadap PKI diseluruh negeri, dan tetap mempertahankan Soekarno sebagai Presiden boneka, serta membangun pemerintahan baru yang dikuasai oleh AD.
Lima hari setelah terjadinya Gestapu, yakni 5 Oktober 1965, para jenderal sayap kanan AD telah berkumpul dan sepakat untuk menghancurkan PKI dan menjalankan skenario yang telah lama direncanakan.
Di Jawa Tengah, AD mempersenjatai sukarelawan pemuda Muslim untuk berhadap-hadapan dengan PKI. Untuk mempermudah jalinan komunikasi dalam pembunuhan terhadap anggota dan simpatisan PKI, AS mengirimkan perangkat radio lapangan (mobile radio) yang sangat canggih dari Pangkalan Udara Clark di Filipina ke markas besar Kostrad.
Melalui radio itulah, AS memantau gerakan AD dalam membasmi komunis di Indonesia. Hal ini diungkap wartawan Kathy Kadane yang mewawancarai para pejabat tinggi AS diakhir 1980 yang menyatakan AS memantau gerakan AD melalui radio itu.
AD dan CIA juga mengucurkan uang dalam jumlah besar untuk pendirian kelompok sipil oleh AD yang disebut dengan Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (Kap-Gestapu) dan mengerahkan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa. Pada awal Desember 1965, Dubes AS Green memerintahkan untuk mengucurkan dana Rp50 juta rupiah kepada Wakil Kap Gestapu Adam Malik.
Setelah menghancurkan PKI, dan mendemisionerkan kabinet Soekarno, pada pertengahan Maret 1966 dengan memenjarakan 15 menteri, serta menyiapkan pengganti mereka, dan mempertahankan Soekarno sebagai Presiden, AS menepati janjinya dalam memberikan bantuan kepada Pemerintahan AD yang baru lahir.
Dengan bantuan 50.000 ton beras pada April 1966, dan 75.000 ton kapas, serta USD60 juta kredit pertukaran mata uang asing secara cepat dari Jerman, Jepang, Inggris, dan AS pada Juni 1966, pemerintahan baru AD itu ingin menunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa AD mampu memimpin mereka dan memerbaiki keadaan perekonomian yang buruk di masa Soekarno.
Sampai di sini, ulasan singkat Cerita Pagi tentang Keterlibatan AS dalam Gestapu yang diikuti dengan pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan PKI dan berakhir dengan tumbangnya Soekarno dari kursi kepresidenan.
*Prof Benedict Anderson mempunyai kesan bahwa singkatan Gestapu itu sendiri merupakan satu alasan lain dengan menganggap bahwa Gestapu adalah buatan Amerika Serikat. Kata Gerakan September Tiga Puluh sendiri terdengar janggal dalam bahasa Indonesia. Hal ini sama dengan mengatakan Teenth Four (Mei Sepuluh Empat) sebagai ganti May Four Teenth (Empat Belas Mei).
Sumber Tulisan:
Bradley R Simpson, Economists with Guns, Amerika Serikat, CIA, dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010.
Pater Dale Scott, Ameri Serikat dan Penggulingan Soekarno 1965-1967, Vision 03, Cetakan Kedua September 2003.
John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, Hasta Mitra, Jakarta 2008.
(san)
sindonews
DISKUSI mengenai Gerakan September Tiga Puluh (Gestapu)* yang diikuti dengan pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan berakhir dengan tumbangnya Soekarno dari kursi kepresidenan, tidak lengkap tanpa menyinggung peran Amerika Serikat (AS).
Demikian Cerita Pagi akan mengulas secara singkat, sejauh mana peran AS dalam peristiwa yang masih diselimuti kabut misteri hingga saat ini itu.
Jika ditarik mundur ke belakang, peristiwa penggulingan Soekarno dari kursi kekuasaan pada tahun 1965-1967 merupakan kelanjutan dari kejadian-kejadian yang terjadi sebelumnya. Hal ini berarti bahwa, peristiwa 1965-1967 tidak bisa dilihat secara terpisah apalagi berdiri sendiri.
Sebelum masuk kepada inti pembahasan, ada baiknya melihat sejarah masuknya hegemoni AS di Indonesia. Untuk mengungkap sejarah hegemoni AS, ada baiknya dikemukakan sedikit tulisan peneliti University of Maryland Bradley R Simpson.
Dalam penelitiannya itu, pengajar dan peneliti dari University of Maryland ini mengatakan, hegemoni AS di Indonesia dimulai tahun 1950-1964, sejak dikucurkannya dana segar bagi Indonesia yang jumlahnya mencapai USD20 juta.
Bantuan itu dikucurkan oleh dua lembaga kemanusiaan Ford Foundation dan Rockefeller Foundation untuk membiayai berbagai riset ilmu di bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, dan bantuan teknis yang diselenggarakan di AS dan Indonesia.
Kedua lembaga ini juga mendanai berbagai kegiatan lainnya, seperti pertukaran pendidikan bagi para teknisi, ahli ekonomi, guru, ahli agraria, personel militer dan insinyur dalam pembangunan jangka panjang Indonesia.
Duta Besar AS untuk Indonesia tahun 1958-1965 Howard Jones menyebut bantuan pendidikan dan penelitian untuk Indonesia itu sebagai, "Perjuangan jangka panjang untuk otak Indonesia."
Selain kedua lembaga yang telah disebutkan, kucuran dana segar juga datang dari Komisi Penasehat Riset Ilmu Sosial tentang Perbandingan Politik (Social Science Research Councils Committee on Comparative Politics) AS. Melalui lembaga ini, AS mendanai berbagai kajian politik dan ekonomi tentang Indonesia.
Beberapa tahun setelah program bantuan itu dijalankan, rencana AS untuk mendorong terjadinya krisis di berbagai daerah membuahkan hasil. Pada 1957-1958, terjadi pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Piagam Perjuangan Rakyat Semesta (PERMESTA).
Pemberontakan itu dilakukan oleh partai-partai sayap kanan yang mendapat dukungan dan bantuan dana dari AS, seperti Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Berbagai bantuan itu terungkap dalam dokumen rahasia Dewan Keamanan Nasional (National Security Council atau NSC) AS yang telah dibuka. Dalam dokumen itu disebutkan, Masyumi dan PSI telah mendapatkan bantuan jutaan dolar dari AS dan CIA.
Selain mendapat kucuran dana, para pemberontak juga mendapatkan bantuan senjata dan personel tambahan dari CIA. Operasi tertutup AS ini terbongkar setelah pesawat Amerika ditembak jatuh dan pilotnya J Popper tertangkap.
Belakangan diketahui bahwa J Popper merupakan agen CIA yang ditugaskan untuk membunuh Soekarno. Rencana pembunuhan Soekarno oleh agen CIA ini diungkap pada tahun 1957 oleh sebuah Komisi Pilihan Senat AS.
Mantan Diplomat Kanada Peter Dale Scott mengatakan, hubungan AS dengan sejumlah politikus sayap kanan dan perwira AD sejak PRRI/PERMESTA terus terjalin hingga tahun 1965-1967. Bahkan, makin bertambah kuat. Sejak peristiwa itu, AS mengucurkan dananya USD20 juta setahun untuk AD dan membina kelompok sipil dalam melawan PKI.
Rahasia ini terungkap dalam nota Kepala Staf Gabungan AS tahun 1958. Nota itu mengatakan, bantuan itu diberikan kepada AD sebagai dorongan kepada salah seorang perwira AD yakni Nasution untuk mengendalikan PKI/komunisme di Indonesia.
Nasution merupakan tentara yang sangat dikenal oleh AS, karena jasanya dalam menumpas PKI, di Madiun tahun 1948. Dalam peristiwa Madiun, ratusan anggota dan simpatisan PKI ditangkap dan dibunuh secara keji.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelum terjadinya pemberontakan PRRI/PERMESTA, sejak terjadinya peristiwa itu AS dan CIA makin agresif. Mereka tidak segan tampil secara terbuka dan terang-terangan, baik melalui sejumlah jurnal ilmiah dan pers, menyerukan kepada AD dan kelompok sipil untuk segera mengambil kekuasaan dari tangan Soekarno dan menghabisi PKI.
Hal ini tampak dari tulisan peneliti dan akademisi Universitas California-Barkeley Guy Pauker pada tahun 1958. Dalam bukunya Rand Corp, Pauker mendesak AD untuk, "melaksanaan suatu misi", "menyerang", dan "menyapu bersih rumahnya". Kata-kata itu sering digunakan militer kepada para mahasiswa Islam, pada awal Oktober 1965, agar melakukan pembunuhan.
Selain Nasution, salah seorang perwira AD yang menyambut seruan Pauker adalah Jenderal Soewarto. Dengan bantuan langsung Pentagon, CIA, Rand Corporation dan Yayasan Ford, Soewarto mendirikan Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD).
Dalam sebuah dokumen, Pauker mengatakan, bahwa SESKOAD telah mengembangkan doktrin perang teritorial yang sesuai dengan program civic mission, civic action, dan organisasi teritorial.
Atas usulan Pauker itulah, pada tahun 1962, Departemen Luar Negeri AS menempatkan Kelompok Penasehat Latihan Militer AS (Military Training Assistancy Group atau MILTAG) di Jakarta, khusus untuk membantu penerapan "civic mission" atau "civic action" atau "organisasi teritorial" yang mendukung doktrin perang teritorial AD.
Selain doktrin perang teritorial, SESKOAD juga membekali tentara dengan ilmu ekonomi dan administrasi pemerintahan, sebagai persiapan untuk menyelenggarakan pemerintahan atau negara yang terlepas dari pemerintahan sipil Soekarno.
Program latihan ini dimentori oleh para perwira AD dan sipil dari PSI. Di antara perwira AD yang aktif dan menonjol dalam SESKOAD adalah Soeharto yang kemudian menjadi Presiden Indonesia kedua menggantikan Soekarno.
Saat itu, Soeharto baru saja dipecat dari kedudukannya sebagai Panglima AD di Jawa Tengah, karena diduga terlibat korupsi. Namun, ternyata pemecatan itu tidak pernah diumumkan kepada masyarakat, karena operasi penyelundupannya di Pelabuhan Semarang tidak cukup berat untuk dilakukan penuntutan.
Tuduhan korupsi terhadap Soeharto akhirnya dipetieskan, dan dia dikirim ke SESKOAD, pada tahun 1959. Di sekolah ini, dia dibina langsung oleh Soewarto. Dari Soewarto inilah, Soeharto berkenalan secara langsung AS dan CIA dan mulai menyusun kembali karirnya militernya yang sempat tersandung kasus korupsi tersebut.
Sejarawan militer Indonesia Ulf Sundhaussen mengatakan, saat berada di SESKOAD Soeharto sangat mendalami doktrin perang teritorial dan civic mission yang dibawa oleh AS dan CIA.
Bintang Soeharto mulai bersinar saat Ahmad Yani dan stafnya merekrut Soeharto sebagai agen rahasia dalam menggembosi kampanye anti-Malaysia Soekarno. Pada awalnya, para jenderal AD ini tidak menolak rencana Soekarno mengonfrontasi Malaysia sejak September 1963. Tetapi belakangan, ketika pertempuran kecil menghebat pada 1964, mereka mulai berubah pikiran.
Salah satu alasan berubahnya pikiran para jenderal kanan dalam AD menolak kebijakan konfrontasi Soekarno adalah masalah dana. Namun begitu, para jenderal ini tidak ingin berkonfrontasi langsung dengan Soekarno dan PKI.
Politik yang dimainkan AD saat itu adalah muka dua, yakni mendukung konfrontasi Malaysia dan menolaknya sekaligus. Dengan perlahan tetapi pasti, mereka juga memengaruhi Soekarno untuk memberi nama baru komando multifungsi ini menjadi Komando Mandala Siaga (Kolaga), pada September 1964, dan memintanya agar memasukkan Soeharto sebagai Wakil Panglima Kolaga.
Usul AD untuk memasukkan Soeharto sebagai Wakil Panglima Kolaga disetujui pada 1 Januari 1965. Dengan mulai pulihnya kekuasaan Soeharto dalam AD, bersama agen-agennya di Kostrad dia menyabot konfrontasi dengan Malaysia.
Soeharto mulai menghubungi wakil-wakil Malaysia dan Inggris secara diam-diam dan menyakinkan mereka, bahwa AD telah berubah haluan menentang pertempuran-pertempuran kecil dengan pasukan Malaysia dan Inggris dan akan membatasi diri.
Untuk memuluskan rencananya, Soeharto meminta bantuan perwira intelijennya di Kostrad, yakni Ali Moertopo dan orang-orang sipil yang pernah terlibat dalam peristiwa PRRI/PERMESTA dan hidup dalam pengasingan di Singapura dan Malaysia, agar kembali ke Indonesia dan turut menghentikan konfrontasi dengan Malaysia.
Soeharto juga meminta sahabatnya Kolonel Yoga Sugama dari Belgrado untuk kembali ke Indonesia dan menggantikan Ali Moertopo dalam memimpin operasi menghentikan konfrontasi dengan Malaysia, dan mengirim perwira Kostrad Benny Moerdani ke Bangkok untuk menghubungi para pejabat yang pro-Barat di sana dengan menyamar sebagai manajer penjualan Garuda.
Dalam analisanya, kelompok Soeharto berpendapat bahwa konfrontasi dengan Malaysia merugikan AD, karena akan menjauhkan misi AD yang didukung AS dan CIA dalam kampanye melawan PKI. Hal ini tertuang dalam laporan rahasia intelijen Kostrad, pada tahun 1964 yang menyatakan, konfrontasi mengacaukan upaya AD untuk mengendalikan PKI.
Setelah konfrontasi Malaysia bisa diselesaikan, AS dan CIA melihat kemampuan Soeharto dalam mengatasi "keadaan" dapat diandalkan dalam misi menggulingkan Soekarno dari kekuasaan dan menghancurkan PKI.
Ketika kondisi kesehatan Seokarno memburuk akibat ginjalnya yang harus dioperasi, kelompok Soeharto dari Kostrad mulai menghembuskan provokasi tentang ancaman PKI yang akan mengambil alih kekuasaan dan sangat membahayakan AD.
Menurut analisa CIA yang telah diterbitkan tentang G30S, sejak Januari 1965, Kelompok Pemikir Jenderal AD yang terdiri dari Jenderal Suprapto, Jenderal Harjono, Jenderal Parman, dan Jenderal Sukendro sering membuat pertemuan rutin dan rahasia untuk merundingkan situasi terburuk yang akan terjadi dan tugas AD. Pimpinan kelompok ini adalah A Yani.
Kelompok rahasia Yani ini bocor ke telinga Soekarno dan Yani dipanggil ke Istana Negara untuk dimintai keterangan, pada 22 Mei 1965. Kepada Soekarno, Yani memaparkan apa yang didengarnya sebagai Dewan Jenderal.
Menurut Yani, banyak orang telah salah kaprah dalam menyebut Dewan Jenderal yang sebenarnya adalah dewan kenaikan pangkat di kalangan perwira tinggi AD, Dewan Jabatan dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti).
Namun, Duta Besar AD Howard Jones menyebut bahwa diskusi Kelompok Yani yang dilangsungan antara tahun 1965 adalah untuk menyusun rencana khusus mengambil alih pemerintahan pada saat Soekarno turun panggung. Hal ini dilaporkan informan AS yang ikut dalam rapat dengan Jenderal Parman yang merupakan anggota dari kelompok rahasia Yani.
Untuk memastikan informasi yang didengarnya dan mengetahui sejauh mana kebenaran hubungan Indonesia-AS, pada April 1965, Diplomat AS Ellsworth Bunker diutus Pentagon ke Jakarta. Dalam pandangan Bunker yang menyeluruh, dilaporkan bahwa sangat sulit untuk menghadapi Soekarno secara terbuka dan terang-terangan, karena harapan rakyat yang besar terhadapnya.
"Tidak perlu disangsikan kesetiaan rakyat yang tidak bisa diserang itu. Bangsa Indonesia dalam sangat mengharapkan kepemimpinan darinya, mempercayai kepemimpinannya, dan bersedia mengikutinya," tulis Bunker kepada Presiden Johnson.
Dalam laporannya itu, dia melanjutkan bahwa tidak ada kekuatan di Tanah Air yang bisa menyerangnya, tidak pula ada bukti bahwa suatu kelompok penting ingin berbuat demikian.
Assistant Professor di Departemen Sejarah University of British Columbia, Vancouver, Kanada, John Roosa melihat, bahwa cukup beralasan ketika dibutuhkan dalih untuk menghancurkan PKI dengan cara hendak menyelamatkan Soekarno, dan AD harus tampil sebagai penyelamat itu, bukan sebagai penggali liang kubur bagi dirinya sendiri.
Saat terjadi Gerakan September Tiga Puluh atau Gestapu, skenario lama AS dan CIA, serta AD, akhirnya mendapatkan momennya yang tepat. Apalagi, dalam peristiwa itu AD jadi memiliki dalih untuk menghancurkan PKI dan menggulingkan Soekarno.
Skenario dibuat dalam beberapa tahapan sesuai dengan laporan Bunker, bahwa AD harus berperan seolah-olah menyelamatkan Soekarno dan menuding PKI melakukan kup, lalu melancarkan represi besar-besaran terhadap PKI diseluruh negeri, dan tetap mempertahankan Soekarno sebagai Presiden boneka, serta membangun pemerintahan baru yang dikuasai oleh AD.
Lima hari setelah terjadinya Gestapu, yakni 5 Oktober 1965, para jenderal sayap kanan AD telah berkumpul dan sepakat untuk menghancurkan PKI dan menjalankan skenario yang telah lama direncanakan.
Di Jawa Tengah, AD mempersenjatai sukarelawan pemuda Muslim untuk berhadap-hadapan dengan PKI. Untuk mempermudah jalinan komunikasi dalam pembunuhan terhadap anggota dan simpatisan PKI, AS mengirimkan perangkat radio lapangan (mobile radio) yang sangat canggih dari Pangkalan Udara Clark di Filipina ke markas besar Kostrad.
Melalui radio itulah, AS memantau gerakan AD dalam membasmi komunis di Indonesia. Hal ini diungkap wartawan Kathy Kadane yang mewawancarai para pejabat tinggi AS diakhir 1980 yang menyatakan AS memantau gerakan AD melalui radio itu.
AD dan CIA juga mengucurkan uang dalam jumlah besar untuk pendirian kelompok sipil oleh AD yang disebut dengan Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September (Kap-Gestapu) dan mengerahkan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa. Pada awal Desember 1965, Dubes AS Green memerintahkan untuk mengucurkan dana Rp50 juta rupiah kepada Wakil Kap Gestapu Adam Malik.
Setelah menghancurkan PKI, dan mendemisionerkan kabinet Soekarno, pada pertengahan Maret 1966 dengan memenjarakan 15 menteri, serta menyiapkan pengganti mereka, dan mempertahankan Soekarno sebagai Presiden, AS menepati janjinya dalam memberikan bantuan kepada Pemerintahan AD yang baru lahir.
Dengan bantuan 50.000 ton beras pada April 1966, dan 75.000 ton kapas, serta USD60 juta kredit pertukaran mata uang asing secara cepat dari Jerman, Jepang, Inggris, dan AS pada Juni 1966, pemerintahan baru AD itu ingin menunjukkan kepada rakyat Indonesia bahwa AD mampu memimpin mereka dan memerbaiki keadaan perekonomian yang buruk di masa Soekarno.
Sampai di sini, ulasan singkat Cerita Pagi tentang Keterlibatan AS dalam Gestapu yang diikuti dengan pembunuhan massal terhadap anggota dan simpatisan PKI dan berakhir dengan tumbangnya Soekarno dari kursi kepresidenan.
*Prof Benedict Anderson mempunyai kesan bahwa singkatan Gestapu itu sendiri merupakan satu alasan lain dengan menganggap bahwa Gestapu adalah buatan Amerika Serikat. Kata Gerakan September Tiga Puluh sendiri terdengar janggal dalam bahasa Indonesia. Hal ini sama dengan mengatakan Teenth Four (Mei Sepuluh Empat) sebagai ganti May Four Teenth (Empat Belas Mei).
Sumber Tulisan:
Bradley R Simpson, Economists with Guns, Amerika Serikat, CIA, dan Munculnya Pembangunan Otoriter Rezim Orde Baru, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010.
Pater Dale Scott, Ameri Serikat dan Penggulingan Soekarno 1965-1967, Vision 03, Cetakan Kedua September 2003.
John Roosa, Dalih Pembunuhan Massal, Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto, Hasta Mitra, Jakarta 2008.
(san)
sindonews
[Dunia] Akankah Rusia Kirim Kapal Induk ke Suriah?
Kapal Induk Rusia Kuznetsov akan meninggalkan Murmansk minggu ini dengan kesiapan perang penuh
Armada Utara Angkatan Laut Rusia
membantah laporan yang mengatakan bahwa armada kapal induk Admiral
Kuznetsov telah melakukan pelayaran ke Suriah, seperti dikutip dari
laman Xinhua, Kamis (15/10/2015).
Dalam pernyataannya, kapal induk Admiral Kutnetsov tengah menjalani
pemeliharaan di pelabuhan utara Murmansk, Rusia. Setelah menyelesaikan
pemeliharaan, kapal tersebut akan melakukan serangkaian tugas rutin di
Laut Barents selama beberadap minggu mendatang.
Media di Rusia sebelumnya mengabarkan jika pihak Kremlin akan
mengirimkan kapal induk Amiral Kuznetsov ke Suriah. Kabar itu didapatkan
dari sebuah sumber di dalam militer Rusia.
The Russian carrier Kuznetsov
Selain itu, Rusia juga menurunkan beberapa kapal Angkatan Lautnya guna mensukseskan operasi militer tersebut. Kapal yang ikut berpartisipasi adalah Caspian Flotilla. Rusia juga mempertahankan sebuah pangkalan Angkatan Laut kecil di Mediterania, namun strategis di pelabuhan Tartus, Suriah.
Subscribe to:
Posts (Atom)







