Showing posts with label kapal selam. Show all posts
Showing posts with label kapal selam. Show all posts
Monday, 9 November 2015
Mengenal Kapal Selam Jerman, U-212A dan U-214
Kapal selam Jerman dari kelas U-212A di Laut Baltik, Jerman. Kapal selam kelas ini merupakan pengembangan dari kelas U-209 yang sangat terkenal, ditambah dengan penggunaan air-independent propulsion atau AIP, sehingga dapat menyelam hingga tiga minggu. Fuel Cell atau sel bahan bakar Polymer Electrolite Membrane (PEM) dibuat oleh Siemens. Martin Rose/Getty Images
Kapal selam U-212A Jerman merupakan kapal selam yang dapat beroperasi di laut dangkal dan juga laut dalam. Lambung kapal atau hull dibuat dari baja non-magnetic yang dilapis dengan penyerap gelombang akustik sehingga U-212A hampir tidak mengeluarkan suara dan juga tidak mengeluarkan radiasi panas. Teknologi tersebut membuat U-212 sulit terdeteksi. wikipedia.org
Kapal selam U-212A (atas) dan U-214 (bawah) di galangan HDW Kiel, Jerman. U-214 merupakan versi ekport dari U-212 dengan beberapa perbedaan. U-212A 56 m dan 57,2 m sedangkan U-214 panjangnya 65m. Sirip kemudi U-212 berbentuk silang atau X agar dapat menyelam di perairan dangkal, sedangkan U-214 berbentuk vertikal horisontal atau +. Diving plane U-212A terletak di menara komando, sedangkan U-214 terletak di lambung kapal. Lambung kapal terbuat dari bahan berbeda agar dapat menyelam lebih dalam. Peralatan elketronik juga berbeda. shipspotting.com
Kapal selam kelas U-214 Papanikolis yang batal dibeli Yunani di galangan Kiel, Jerman. Kapal selam kelas U-214 dilengkapi dengan delapan tabung terpedo 533 mm dan mampu meluncurkan rudal Harpoon, sedangkan kelas U-212A dilengkapi dengan enam tabung terpedo 533 mm untuk meluncurkan terpedo kelas berat DM2A4, terpedo Black Shark, dan rudal IDAS. wikipedia.org
Saat test menyelam, U-214 mampu menyelam hingga 400 meter lebih sedangkan U-212 menyelam hingga 230 meter. U-212A dilengkapi dengan komando dan kontrol senjata sistem yang sangat terintegrasi, antara sensor, senjata, dan sistem navigasi. Sistem kontrol komado dan senjata (CWCS) menggunakan MSI-90U buatan Kongsberg Defence & Aerospace dari Norwegia. empordef.pt
Kapal selam kelas U-212A digunakan oleh Angkatan Laut Jerman dan Italia. U-214 digunakan oleh Angkatan Laut Portugal, Yunani, Turki, dan Korea Selatan. Kapal Selam U-212 A dan U-214 sangat cocok untuk Angkatan Laut Indonesia, karena Indonesia memiliki perairan dangkal dan dalam, juga TNI-AL sudah terbiasa dengan kapal selam buatan Jerman, yaitu U-209. military-today.com
Baca juga : Indonesia Beli Kapal Selam Amur Rusia
Monday, 12 October 2015
Indonesia dan Perancis Bicarakan Pengadaan Kapal Selam Littoral Scorpene Class 1000
Mungkin karena tahu anggaran pertahanan TNI dalam RAPBN 2016
ditambahkan Rp120 triliun, plus Kementerian Pertahanan dan TNI AL yang
masih maju mundur menggolkan pengadaan kapal selam tambahan diluar
Changbogo Class, mendorong manufaktur kapal selam asal Perancis, DCNS
mulai melobi pemerintah RI untuk membeli Scorpene 1000 SSK, yakni salah
satu varian baru dari keluarga kapal selam diesel listrik Scorpene
Class.
Terjadinya pembicaraan terkait penawaran dan pengadaan kapal selam diungkapkan oleh pihak DCNS kepada Janes.com (7/10/2015) dalam ajang Pacific 2015 international maritime exhibition and conference di Sydney, Australia. “Pembicaraan terjadi di level government to government untuk kebutuhan AL Indonesia. Sejauh ini pihak Indonesia telah mengidentifikasi kebutuhan untuk armada kapal selam pelengkap yang dapat mengisi kekosongan dalam proses pengadaan kapal selam baru mereka, dan pihak Indonesia saat ini tengah mempertimbangkan Scorpene 100,” ujar sumber dari DCNS.
Seperti diketahui TNI AL saat ini hanya mengoperasikan dua unit kapal selam Type 209/1300, yakni KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Kini sedang dalam proses kedatangan, tiga unit kapal selam Changbogo Class (Type 209/1400) buatan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Bila tak ada kendala, unit perdana Changbogo Class akan diterima TNI AL pada awal tahun 2017. Bila dijumlahkan, nantinya TNI AL akan mempunyai lima unit kapal selam, sementara bila berkaca pada kebutuhan, minimal Indonesia setiknya punya 12 unit kapal selam.
Atas dorongan beberapa pihak, tengah diusulkan pengadaan Kilo Class dari Rusia, meski prosesnya telah berjalan maju mundur, dan belum ada tanda-tanda penandatanganan kontrak. Sementara kubu DCNS, menyatakan Scorpene 1000 adalah kapal selam yang idel untuk Indonesia, dirancang untuk beroperasi di perairan dangkal dan pesisir (littoral).
Scorpene 1000 merupakan kebalikan dari Scorpene 2000 (CM-2000) yang dirancang untuk beroperasi di laut dalam (samudera). Sebelumnya Scorpene 1000 disebut sebagai Andrasta Class, yakni konsep kapal selam yang digadang DCNS pada tahun 2008. Dari informasi yang didapat, Scorpene 1000 punya bobot 855 ton (di permukaan), panjang 48,8 meter dan diawaki 19 personel.
Scorpene 1000 dibekali enam tabung peluncur torpedo 533 mm. Selain torpedo, juga dapat diluncurkan rudal anti kapal SM-39 Exocet. Dengan kecepatan 15 knots, Scorpene 1000 dapat menjelajah sejauh 5.600 km. Untuk endurance penyelaman bisa sampai lima hari. Bicara kedalaman menyelam, Scorpene Class bisa tahan hingga kedalaman 200 meter. Dengan spesifikasi diatas, Scorpene 1000 bisa disebut sebagai verian ‘mini’ dari Scorpene Class.
Bila kelak Indonesia mengamini tawaran kapal selam yang masih sebatas konsep ini, maka TNI AL bakal menjadi pengguna Scorpene Class kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia. AL Malaysia (TLDM) diketahui mengoperasikan dua unit Scorpene CM-2000 (varian dasar) tanpa dukungan teknologi (Air Independent Propulsion), yakni KD Tunku Abdul Rahman dan KD Tun Razak.
RBTH
Terjadinya pembicaraan terkait penawaran dan pengadaan kapal selam diungkapkan oleh pihak DCNS kepada Janes.com (7/10/2015) dalam ajang Pacific 2015 international maritime exhibition and conference di Sydney, Australia. “Pembicaraan terjadi di level government to government untuk kebutuhan AL Indonesia. Sejauh ini pihak Indonesia telah mengidentifikasi kebutuhan untuk armada kapal selam pelengkap yang dapat mengisi kekosongan dalam proses pengadaan kapal selam baru mereka, dan pihak Indonesia saat ini tengah mempertimbangkan Scorpene 100,” ujar sumber dari DCNS.
Seperti diketahui TNI AL saat ini hanya mengoperasikan dua unit kapal selam Type 209/1300, yakni KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402. Kini sedang dalam proses kedatangan, tiga unit kapal selam Changbogo Class (Type 209/1400) buatan Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korea Selatan. Bila tak ada kendala, unit perdana Changbogo Class akan diterima TNI AL pada awal tahun 2017. Bila dijumlahkan, nantinya TNI AL akan mempunyai lima unit kapal selam, sementara bila berkaca pada kebutuhan, minimal Indonesia setiknya punya 12 unit kapal selam.
Atas dorongan beberapa pihak, tengah diusulkan pengadaan Kilo Class dari Rusia, meski prosesnya telah berjalan maju mundur, dan belum ada tanda-tanda penandatanganan kontrak. Sementara kubu DCNS, menyatakan Scorpene 1000 adalah kapal selam yang idel untuk Indonesia, dirancang untuk beroperasi di perairan dangkal dan pesisir (littoral).
Scorpene 1000 merupakan kebalikan dari Scorpene 2000 (CM-2000) yang dirancang untuk beroperasi di laut dalam (samudera). Sebelumnya Scorpene 1000 disebut sebagai Andrasta Class, yakni konsep kapal selam yang digadang DCNS pada tahun 2008. Dari informasi yang didapat, Scorpene 1000 punya bobot 855 ton (di permukaan), panjang 48,8 meter dan diawaki 19 personel.
Scorpene 1000 dibekali enam tabung peluncur torpedo 533 mm. Selain torpedo, juga dapat diluncurkan rudal anti kapal SM-39 Exocet. Dengan kecepatan 15 knots, Scorpene 1000 dapat menjelajah sejauh 5.600 km. Untuk endurance penyelaman bisa sampai lima hari. Bicara kedalaman menyelam, Scorpene Class bisa tahan hingga kedalaman 200 meter. Dengan spesifikasi diatas, Scorpene 1000 bisa disebut sebagai verian ‘mini’ dari Scorpene Class.
Bila kelak Indonesia mengamini tawaran kapal selam yang masih sebatas konsep ini, maka TNI AL bakal menjadi pengguna Scorpene Class kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia. AL Malaysia (TLDM) diketahui mengoperasikan dua unit Scorpene CM-2000 (varian dasar) tanpa dukungan teknologi (Air Independent Propulsion), yakni KD Tunku Abdul Rahman dan KD Tun Razak.
RBTH
Subscribe to:
Posts (Atom)
