Kekuatan TNI di Riau
Konflik di pulau Natuna, kian memanas dalam beberapa pekan belakangan. China mengklaim kalau pulau strategis tersebut merupakan bagian dari negara mereka, dan menurunkan pasukan tempurnya untuk berjaga-jaga. Jika seandainya tiba-tiba ada pergerakan, apa yang bisa dilakukan Indonesia?
Terkait ini, dua orang pemimpin TNI di Provinsi Riau, yakni Danrem 031 Wirabima Brigjen TNI Nurendi, dan Danlanud Marsma TNI Henri Alfiandi, sudah mempersiapkan berbagai skenario. Dua Jenderal bintang satu tersebut mengklaim telah punya pergerakan taktis, kalau-kalau ada serangan mendadak.
"Kita sudah mempersiapkan Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC), dan mereka masih latihan hingga sekarang. Jika ada kemungkinan terburuk, semua siap diturunkan dengan cepat, tidak butuh waktu lama," jawab Danrem 031 Wirabima, Brigjen TNI Nurendi, Selasa (10/11/2015) pagi.
Ia meyakinkan, kalau Riau, siap ambil bagian, mengingat Negeri Lancang Kuning ini berada sangat dekat dengan wilayah Kepulauan Natuna, yang kini diklaim China merupakan wilayah teritorial mereka. "Dari sekarang kita antisipasi, kalau terjadi perang, kita lebih dari satu Matra yang siap mempertahankan NKRI," tegasnya.
Sementara itu, Jenderal Bintang Satu penguasa Matra udara, Danlanud Marsma TNI Henri Alfiandi, punya strategi lain. Di Pangkalan Udara (Lanud) Roesmin Nurjadin, pihaknya sudah mensiagakan pesawat andalan, yakni F-16, yang jadi tonggak Matra udara.
"Kita sudah Siaga I. Ada dua skadron kita persiapkan kalau-kalau ada pergerakan tiba-tiba. Jarak tempuh udara dari Lanud ke sana (Natuna,red), butuh tempuh dua jam. Itu cukup cepat untuk memukul mundur," ujar Henri, usai menghadiri acara tabur bunga di Taman Makam Pahlawan, Pekanbaru, Riau.
Skadron ini, tegas dia, siap di delfoy kemana saja, sesuai intruksi pusat, termasuk ke Natuna, jika disana situasi semakin memanas. "Kita juga sudah meningkatkan patroli udara di wilayah perbatasan yang dirasa sangat vital. Kalau kita tarik garis lurus, ZEE memang jadi sembilan titik yang dikomplain China di wilayah Utara Natuna. Ini yang jadi fokus kita," tukasnya.
goriau
Gusti Nurul
Gusti Raden Ajeng Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani atau
biasa disapa Gusti Noeroel meninggal dunia setelah sempat menjalani
perawatan di rumah sakit. Perempuan cantik itu menghembuskan nafas
terakhir sekitar pukul 08.00 WIB.
"Ibu mertua Gusti Nurul jam 8 pagi telah dipanggil ke Rohmatulah dan
akan disemayamkan ke Astana Mandadeg di Surakarta," tulis Hariono,
menantu Gusti Noeroel dalam akun facebooknya Hari Ono Soeharyo, Selasa
(10/11).
Menurut Hariono, keluarga besar Matah Ati kehilangan
sosok yang menjadi perpaduan sempurna kecerdasan, kecantikan, dan
kebijaksanaan. Hariono akan selalu mengenang energi baik yang selalu
Gusti Nurul berikan bagi kemanusiaan.
"Seorang perempuan jawa yang memegang kuat akar tradisi budaya namun tetap mengasah dirinya menjadi visioner modern," tuturnya.
Putri
cantik itu lahir pada tanggal 17 September 1920 dengan nama Gusti Raden
Ajeng Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani atau biasa disebut
Gusti Noeroel.
Kecantikan Gusti Noeroel ini ternyata sangat
terkenal di zamannya. Soekarno, Sultan Sjahrir hingga Sultan HB IX, dan
Pangeran Djatikusumo pun bertekuk lutut atas kecantikan sang Putri.
Namun mereka semua harus rela patah hati. Gusti Noeroel menolak mereka
semua dengan pertimbangan. Dia tidak ingin dimadu. [did]
Stadion Kanjuruhan (c) Bola
Pekatnya malam dan tebalnya mendung langit Kanjuruhan tak membuat hati
para peterjun pasukan Tentara Nasional Indonesia dan Polri gentar.
Mereka tetap melakukan aksi terjun free-fall membawa bendera klub-klub
peserta Piala Jenderal Sudirman.
Para penerjun ini menumpang pesawat CN-235 dari Pangkalan Udara Abdulrahman Saleh Malang. Karena cuaca sekitar lokasi pendaratan berawan pekat, penerjunan ini harus dilakukan dari ketinggian di atas 5000 kaki.
Tepat
pukul 19.10, peterjun pertama mendarat di tengah lapangan Stadion
Kanjuruhan Kabupaten Malang. Prajurit pertama yang mendarat adalah
Sersan Satu Sutrisna. Prajurit TNI Angkatan Udara ini membawa bendera
klub Pusamania Borneo FC.
Usai Sertu Sutrisna, berturut-turut
mendarat belasan penerjun dari berbagai kesatuan, termasuk kesatuan elit
Intai Amfibi Marinir dan Komando Pasukan Katak TNI Angkatan Laut.
Tepat
pukul 19.38, penerjun terakhir mendarat di Stadion Kanjuruhan. Prajurit
Intai Amfibi ini membawa bendera Merah Putih. Begitu mendarat, bendera
disambut beberapa prajurit Pasukan Khas Angkatan Udara.
Dari
informasi yang didapat, tim peterjun beranggotakan 26 peterjun ini
dikomandani Mayor Marinir Hafid. Mereka dipilih dari peterjun-peterjun
terbaik dari tiap korps. Mereka disebut memiliki minimal 500 kali
pengalaman terjun. (den/asa)
Pemeriksaan Pilot Asing di Lanud Tarakan
TNI Angkatan Udara berhasil menyergap dan memaksa pesawat asing yang
terbang tanpa izin di wilayah Indonesia. Pesawat itu dikendalikan oleh
pilot bernama Letkol James Patrick Murphy yang merupakan prajurit US
Navy (resauorch). Bagaimana kronologinya?
Danlanud Tarakan Letkol
Pnb Tiopan Hutapea menjelaskan, pesawat asing dengan nomor N-90676 itu
sudah terdeteksi melintasi langit Kalimantan Utara pada Senin
(9/11/2015) sekitar pukul 12.17 WIB. Penerbangan itu tidak tercatat
rencana penerbangan Flight Cleareance Information System (FCIS) sehingga
dikategorikan penerbangan gelap dan melanggar keamanan nasional
Indonesia.
"Melalui komunikasi radio, TNI Angkatan Udara sudah
berupaya meminta agar pesawat mendarat di Tarakan, tetapi pilot pesawat
Cirrus Fixed Wing Single masih tetap membandel dan tidak mau
mendaratkan pesawat di Lanud Tarakan," kata Tiopan dalam keterangan
tertulisnya yang diterima detikcom Senin (9/11/2015).
Karena itu,
lanjut Tiopan, dua pesawat buru sergap Sukhoi yang selalu siaga di
Lanud Hasanudin, Makassar, langsung diberi komando untuk melakukan
pencegatan. Pesawat asing tersebut dipaksa turun (forced down) di Lanud
Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara), pada pukul 14.25 Wita.
"Pesawat
Pilatus N-90676 yang diawaki seorang penerbang berkebangsaan AS
seharusnya hanya boleh melintasi wilayah udara flight information region
(FIR) Filipina dan Malaysia, tetapi dalam kenyataannya melakukan
pelanggaran dengan memotong jalan melintasi wilayah udara FIR
Indonesia," ujarnya.
Menurut keterangan pilot pesawat Cirrus
Fixed Wing Single, kata Tiopan, misi penerbangan itu adalah Private
Flight Charter. Pesawat tersebut berkapasitas maksimal 1 penumpang.
"Pesawat
berangkat tanggal 08 November dari Honolulu (Hawai)-Tarawah (Kiribara
Island), selanjutnya pada tanggal 09 November melanjutkan perjalanan
dari Tarawah (Kiribata Island)-YAT (Micronesia Island) dan mendarat di
Bandara Changi Singapura lewat wilayah udara Filipina Mindanao dan
Serawak Malaysia," jelasnya.
Namun selepas Wilayah Udara Mindanao
Filipina, pilot pesawat memotong wilayah udara Ambalat Kalimantan Utara
dan hendak melintasi Kalimantan menuju Serawak dan Singapura. Pilot
mengaku memasuki wilayah udara Indonesia untuk menghindari cuaca buruk.
Sementara agen dari Honolulu Jet Company yang memberikan nomor perizinan
ternyata tidak termasuk melintasi wilayah udara FIR Indonesia, tetapi
hanya izin melintasi FIR Filipina, Singapura, dan Malaysia.
"Perintah
penyergapan diinstruksikan langsung oleh Panglima Kohanudnas Marsekal
Muda Abdul Muis berdasarkan laporan bahwa pesawat asing ini tidak
mematuhi perintah mendarat lewat komunikasi dengan air traffic
controller (ATC).
Tiopan menegaskan, dua pesawat Sukhoi yang
dikerahkan berhasil menyergap dan memaksa pesawat tersebut mendarat
tanpa perlawanan di Bandara Juwata Tarakan. Setelah mendarat, anggota
Lanud Tarakan dengan bersenjatakan senapan segera membawa pilot untuk
diperiksa.
(idh/rvk)
TNI AU Masih Periksa Pilot Militer AS yang Masuki Kawasan Udara RI
TNI Angkatan Udara masih melakukan pemeriksaan terhadap pilot pesawat
kecil jenis Propeler First Engine Cessna nomor lambung N96706, dengan
pilot Letkol James Patrick Murphy (US Navy-penerbang AL Amerika
Serikat).
"Pilot diamankan di Pangkalan Udara Tarakan, dan tetap diperlakukan
dengan baik, serta hari ini pemeriksaan masih dilanjutkan," kata Kepala
Penerangan Komando Daerah Militer (Kapendam) VI/Mulawarman, Kolonel Inf
Andi Gunawan, di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (10/11).
Pihak perusahaan penerbangan penyewaan Aircraft Guarantee yang
memiliki pesawat itu, enggan mengkonfirmasi terkait izin rute
penerbangan dari Filipina ke Singapura dengan menggunakan rute darurat.
"Pilot menghindari cuaca buruk sebagaimana yang diakui oleh pilot tersebut saat pemeriksaan tadi sore," kata Andi.
Pihak Kedutaan Besar Amerika Serikat dan perusahaan penerbangan
Aircraft Guarantee belum bisa mengkonfirmasi masalah pelanggaran rute
penerbangan dari Filipina ke Bandara Selectar Singapura, sehingga
pesawat itu keluar dari rute yang seharusnya.
Terkait status pilot sebagai anggota militer Amerika Serikat masih menunggu proses pemeriksaan security clearance yang ditangani Mabes TNI. Hasilnya akan disampaikan ke Mabes TNI AU diteruskan kepada Pangkalan TNI AU Tarakan. Proses izin exit permit masih diurus oleh Kedubes AS ke Kementerian Luar Negeri RI, dan hasilnya masih menunggu.
"Semalam pilot Murphy, setelah menjalani pemeriksaan BO Air Nav
Bandara Juwata Tarakan sampai pukul 19.45 WITA dikawal oleh pihak
provost TNI AU ke tempat istirahat sementara di mess TNI AU Tarakan
dengan pengawasan ketat oleh TNI," ujar Andi.
Baca juga : MPR Apresiasi Kesigapan TNI Halau Pesawat Asing
Anoa produksi Pindad akan digunakan oleh Korpaskhas [paskhas]
Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu menyatakan akan mengajukan
penambahan alat utama persenjataan (alutsista). Penambahan itu untuk
menunjang sistem pertahanan negara.
"Ada yang perlu ditambah,
yang sudah ketinggalan akan kita perbarui, segera, ya tahun depan," kata
Ryamizard saat berkunjung ke Lanud Sulaiman di Kecamatan Margahayu
Kabupaten Bandung, Senin (9/11) kemarin.
Saat ini diperlukan
penambahan anggaran untuk alutsista di TNI AD, AU dan AL. Tetapi semua
itu menurut Ryamizard, tergantung dalam pembahasan anggaran nanti dengan
DPR.
Sebenarnya, ia menuturkan, anggaran untuk alutsista sudah
ada. Namun, jumlahnya tidak terlalu besar. "Karena pasukan-pasukan kita
di pasukan khusus, seperti di Kopassus, Marinir, dan di Korpaskhas ini
dananya tidak besar," ujar dia.
Untuk keberadaan alutsista di
Korpaskhas TNI AU ini, menurut dia sudah ideal. Namun, perlu ada
pembahasan lagi terkait jumlahnya. Sedangkan untuk alutsista pesawat
tempur yang bisa digunakan di atas 30 tahun itu tergantung dari
perawatan.
Namun, kalau sudah tidak layak, tidak bisa untuk
diterbangkan. Kata dia, jika jam terbang banyak dan perawatannya bagus,
maka alutsista tersebut pun masih bisa digunakan. Terlebih, ia mengakui,
sebetulnya jam terbang pasukan khusus negara ini memang tergolong
banyak.
"Jam terbang kita ini masih banyak," kata dia. "Itu
tergantung dari perawatan. Di negara lain, seperti Singapura, alutsista
yang lama pun masih dipakai karena perawatannya juga bagus."
Baca juga : Pengangkatan Warga Kehormatan Korpaskhas
Ketika Sukhoi mengawal pesawat Ilegal mendarat di Tarakan [defense.pk]
Wakil ketua MPR Mahyudin mengapresiasi kesigapan TNI AU dalam
melakukan penindakan terhadap pesawat asing yang masuk wilayah udara
Indonesia tanpa izin.
Sebab, dalam dua hari terakhir, sudah ada dua pesawat asing yang dipaksa mendarat karena melanggar wilayah udara NKRI.
''Saya
apresiasi TNI AU yang sigap dalam mengahalau pesawat-pesawat asing yang
melanggar wilayah udara NKRI,'' kata Mahyudin kepada Republika, Selasa (10/11).
Menurut
Mahyudin, dengan masuknya dua pesawat asing dalam dua hari ini,
menandakan bahwa kawasan perbatasan rawan disusupi. Sehingga, perlu
pengawalan khusus wilayah perbatasan, agar tidak terjadi hal-hal yang
diinginkan.
''Saya berharap, jika keuangan kita mampu, TNI membuat Skuadron khusus TNI di tarakan,'' ujar dia.
Sebab,
jika ada pihak-pihak yang berniat tidak baik terhadap NKRI, Indonesia
bisa kelimpungan menghadapi musuh, karena lokasi skuadron yang jauh dari
perbatasan. Padahal, kata politisi Golkar tersebut, Indonesia menganut
sistem defensif aktif. Sehingga, pengawasan terhadap wilayah-wilayah
perbatasan dipandang perlu. Apalagi wilayah seperti Papua dengan
kalimantan, serta Riau dan Kep. Riau berbatasan langsung dengan negara
tetangga.
''Saya pikir apa yang dilakukan TNI sudah tepat,'' tegas dia.
Sebelumnya,
pada Senin (9/11) pukul 19.04 Wita, telah Divert (Pengalihan Landing)
di Baseops Lanud Sultan Hasanuddin dari Subang (Malaysia), pesawat milik
Air Tahiti type ATR/72-600/ F ORVN. Capt. Pilot: Bill Johnston, dengan
crew 5 org. Pesawat tersebut rute awal: Subang
(Malaysia)-Denpasar(Bali)-Asutralia.
Adapun alasan terjadi
Divert (Pengalihan Landing) dikarenakan Cuaca Denpasar Buruk (Diselimuti
kabut asap) keterangan dri Capt. Pilot. Lalu pada Jam 14.25 dilakukan
pendaratan paksa pesawat cessna callsign: N-96706 type : fixed wing
single engine SR-20 di Tarakan, dengan Crew 1 orang berkebangsaan
Amerika, yang kemudian dilakukan pemeriksaan kepada crew.
Baca juga : Pesawat Penyusup di Tarakan Diterbangkan Pilot AS
Lulusan pendidikan Taifib disegani sekaligus ditakuti. Mereka adalah
pasukan inti di Kesatuan Marinir yang mempunyai kemampuan di atas
rata-rata. Kemampuan tersebut diraih setelah ditempa melalui pendidikan
yang sangat ketat serta melewati ujian yang sangat berat selama sepuluh
bulan.
Tidak heran, di antara ratusan prajurit yang mengikuti seleksi
pendidikan Taifib, hanya puluhan bahkan belasan orang yang diterima.
Mereka itulah yang kemudian digodok di kawah candradimuka di Situbondo.
Mereka yang tak lulus dikembalikan ke kesatuannya semula di Marinir.
Selain fisik prima, calon Taifib juga dituntut memiliki IQ tinggi.
Sebab, pasukan elite yang sering digunakan untuk penyusupan di daerah
operasi itu harus mampu menghadapi berbagai masalah, baik secara
individu maupun kelompok.
Selama pendidikan, teori di kelas hanya 20 persen. Selebihnya di
lapangan, seperti hutan, laut, bahkan udara. Mereka harus mempunyai
kemampuan terbaik di darat, laut, dan udara. Mereka dituntut mampu
melaksanakan tugas rahasia secara sempurna di ketiga medan tersebut.
Untuk mencapai semua itu, diperlukan pendidikan yang sangat keras dan
ketat. Mereka harus mampu menyusup dengan terjun payung, bergerak
lincah di laut dengan daya tahan tinggi, serta survive di darat.
Mereka ditempa di tengah ombak ganas di Laut Banyuwangi, yang
biasanya menghanyutkan perahu nelayan. Dengan tangan dan kaki diikat,
para prajurit tersebut dibuang ke laut ganas itu. Mereka harus mampu
bertahan sekaligus menyelamatkan diri.
Kenapa sampai demikian? Bila sewaktu-waktu prajurit trimedia
(menguasai medan darat, laut, dan udara) itu dibuang ke laut dalam
keadaan tangan dan kaki terikat oleh musuh, mereka akan mampu
menyelamatkan diri.
Setelah melawan ombak besar di laut, mereka juga dituntut bertahan
hidup di hutan tanpa perbekalan sedikit pun. Untuk menguji daya tahannya
itu, para prajurit terpilih tersebut dilepas di tengah hutan dengan
hanya bermodalkan garam. Air minum pun tidak diperkenankan dibawa.
Selebihnya, cari sendiri di hutan. Latihan itu dilakukan di Alas Purwo.
Di sana, mereka dilepas untuk melatih ketahanan fisik dan kemampuan
perorangan.
Di tengah hutan, mereka harus bertahan berhari-hari. Mereka tak
jarang hanya makan binatang buas, seperti ular. Bila mampu menangkap
monyet, hewan itu pulalah yang disantap. Selama tiga hari tiga malam,
mereka tidur di tengah hutan rimba tersebut. Kadang-kadang, juga lebih, “Saya pernah minum air untuk tambal ban di pinggir jalan Alas Purwo,”
cerita mantan Direktur Sekolah Khusus (Dirsus) Marinir Kol (Mar) Buyung
Lalana. “Meski air itu siang harinya digunakan untuk mengetes ban mobil
dan sepeda motor yang pecah, rasanya nikmat sekali karena begitu haus,”
kenang Buyung lagi.
Itu semua belum cukup. Soal pukul-memukul oleh instruktur untuk
melatih mental bukanlah hal aneh di kalangan mereka. Wartawan koran ini
pernah menyaksikan betapa kerasnya pelonco dari kakak angkatan untuk
prajurit yang mengawali pendidikan. Mereka benar-benar harus siap mental
dan fisik. Begitu kerasnya, tidaklah heran kalau di awal pendidikan
itu, ada yang mengundurkan diri.
Untuk latihan udara, mereka bukan lagi dilatih terjun tempur seperti
prajurit biasa. Kalau terjun tempur, begitu keluar dari pintu pesawat,
payung sudah terbuka. Tapi, Taifib dilatih terjun bebas.
Yang menarik, terjun bebas itu tidak saja dilakukan siang, tapi juga
tengah malam. Dengan begitu, bila sewaktu-waktu masuk ke sasaran musuh,
mereka tidak harus lewat darat atau laut yang mudah dideteksi lawan.
Para Taifib juga bisa diturunkan dari pesawat dengan ketinggian yang
sulit terdeteksi musuh.
Untuk menghindari pendeteksian musuh, mereka harus piawai menyelam.
Dengan menggunakan kompas, sambil menghitung derajat daerah sasaran,
para Taifib harus bisa muncul di titik yang tepat.
Itu baru tahap latihan. Bila pelantikan atau dikenal dengan
pembaretan, mereka harus jalan kaki siang malam. Itu sering dilakukan
Banyuwangi-Surabaya. Mereka dilepas di Banyuwangi dan diperintahkan
kumpul di Surabaya dalam waktu yang ditentukan. Bila naik kendaraan dan
ketahuan instruktur, hukuman berat bakal dirasakan. Baretnya pun bakal
tak hinggap di kepala.